Bab 1

Pagi itu, sinar matahari menyelinap lembut ke dalam kamar tidur utama rumah bergaya minimalis di kawasan elit Jakarta Selatan. Tirai tipis bergoyang pelan tertiup angin dari jendela yang terbuka sedikit. Aroma kopi baru diseduh samar-samar menyeruak dari dapur, bersatu dengan wangi bunga segar yang selalu diletakkan Nayla di vas kristal dekat ranjang.

 membuka mata perlahan. Ia menatap langit-langit putih bersih sambil menarik napas dalam, mencoba mengumpulkan semangat yang berserakan seperti serpihan kaca. Dari luar, hidupnya tampak sempurna-istri dari seorang pengusaha muda yang sukses, tinggal di rumah besar, dan punya reputasi sosial yang mengilap. Namun, hanya Nayla yang tahu bahwa kesempurnaan itu hanyalah dekorasi panggung; di baliknya, ada kebohongan yang membusuk perlahan.

"Selamat pagi, Sayang," suara terdengar dari ambang pintu. Pria itu melangkah masuk, rapi dengan setelan kerja berwarna abu muda, dasi biru laut, dan senyum yang nyaris terlalu sempurna untuk bisa dipercaya. Ia membawa nampan kecil berisi secangkir kopi hitam dan roti panggang.

Nayla memaksakan diri tersenyum. "Pagi juga."

"Bangun jam segini, tumben. Biasanya kamu sudah keliling rumah sebelum aku mandi," goda Rafka ringan sambil meletakkan nampan di meja kecil samping tempat tidur. "Aku pikir istri cantikku ini mulai malas."

Nayla terkekeh pelan, walau tawanya hambar. "Sesekali boleh, kan."

Rafka mencium keningnya singkat, lalu melirik jam tangan. "Aku harus berangkat sekarang. Ada meeting penting jam delapan." Ia berdiri, merapikan jasnya di depan cermin, lalu menoleh sekali lagi. "Malam ini aku mungkin pulang agak larut. Jangan tunggu, ya."

"Seperti biasa," Nayla menjawab datar.

Pria itu tidak menyadari nada dingin dalam suaranya-atau pura-pura tidak peduli. Ia hanya tersenyum, lalu berjalan keluar dengan langkah tegap penuh percaya diri. Beberapa detik kemudian, suara mesin mobil sport kesayangannya meraung di garasi, lalu melesat menjauh.

Nayla menatap cangkir kopi itu lama. Wangi kopi favoritnya-Arabica dari Ethiopia-menyengat indra penciuman, tapi tidak membangkitkan selera. Tangannya gemetar halus ketika ia meraih ponsel di meja. Layar ponselnya menyala, menampilkan pesan yang sudah ia simpan selama seminggu terakhir, pesan yang mematahkan hatinya dan sekaligus membakar semangatnya.

**"Terima kasih untuk weekend yang indah. Aku sudah merindukanmu lagi. -R."**

Bersama pesan itu ada foto: Rafka sedang duduk di balkon sebuah vila pinggir pantai, bersandar santai dengan kemeja putih setengah terbuka, dan di belakang kamera, sebuah tangan perempuan terlihat menyodorkan segelas wine merah. Tangan dengan kuku dicat merah menyala.

Nayla menutup mata erat-erat. Masih ada bagian dari dirinya yang berharap pesan itu hanyalah kesalahan, bahwa mungkin itu editan atau jebakan. Tapi ia tahu itu bukan. Ia tahu persis vila itu-Rafka pernah menyebutkannya sebagai tempat "retret kerja" milik kolega. Ia juga tahu jam tangan hitam yang dikenakan pria itu dalam foto, jam hadiah ulang tahun dari dirinya tahun lalu. Tidak ada keraguan.

Suaminya berselingkuh.

Dan anehnya, setelah semua air mata yang ia keluarkan diam-diam di kamar mandi malam-malam, setelah dadanya nyeri dan kepalanya berdenyut karena menahan amarah, yang tersisa sekarang justru... ketenangan. Dingin. Seperti es yang membungkus nadi.

---

Hari itu, Nayla memilih tidak pergi ke butik desain interiornya. Ia duduk di ruang kerja pribadinya di lantai dua, menatap papan moodboard yang biasanya penuh potongan kain dan foto furnitur, kini berganti dengan peta kecil, catatan, dan beberapa nama yang ia tulis dengan spidol merah.

Di tengah papan itu: nama "Rafka Dirgantara" dengan lingkaran hitam pekat, dan di sampingnya, sebuah tanda tanya besar: "Dia."

Perempuan itu. Si istri simpanan.

Nayla belum tahu namanya. Belum tahu siapa dia, dari mana asalnya, atau bagaimana ia bisa menyusup ke hidup mereka. Tapi ia tahu satu hal: perempuan itu ada, dan ia harus ditemukan.

Pintu ruang kerja diketuk pelan. Seorang perempuan muda berkacamata muncul dari balik pintu. "Mbak Nayla, saya bawakan jusnya," ucapnya. Ini ****, asisten pribadi sekaligus tangan kanan Nayla di butik.

"Taruh saja di meja, Sinta. Terima kasih."

Sinta menatap papan moodboard itu sekilas, alisnya terangkat. "Lagi bikin konsep baru ya, Mbak?"

"Semacam itu," jawab Nayla singkat, lalu menambahkan, "Oh ya, nanti tolong atur supaya aku tidak ada janji temu sampai minggu depan. Aku butuh waktu sendiri."

Sinta mengangguk tanpa bertanya lebih jauh, lalu keluar lagi. Pintu tertutup, dan Nayla kembali menatap nama suaminya di papan. Bibirnya melengkung tipis, bukan senyum, lebih seperti tarikan benang yang nyaris putus.

Kalau Rafka pikir ia bisa menghancurkannya diam-diam, ia keliru besar.

---

Malamnya, rumah mereka diterangi cahaya hangat lampu gantung kristal. Meja makan sudah tertata sempurna, dengan lilin-lilin ramping dan vas mawar putih. Rafka baru pulang, menanggalkan jasnya di sandaran kursi, lalu duduk santai. Ia tampak lelah, tapi matanya berbinar saat melihat steak wagyu di hadapannya.

"Kamu memang istri terbaik di dunia," katanya sambil mengangkat gelas anggur.

Nayla ikut mengangkat gelasnya, meneguk sedikit anggur merah, lalu menatap suaminya dalam diam.

"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Rafka dengan tawa kecil.

"Tidak apa-apa," jawab Nayla, suaranya lembut. "Aku cuma... bersyukur masih punya kamu."

Kalimat itu meluncur begitu saja, mulus, manis-dan sepenuhnya bohong. Dalam hati, Nayla membayangkan melempar gelas itu ke wajahnya. Tapi tidak, belum. Masih terlalu dini. Permainan ini butuh kesabaran. Ia harus membuat Rafka merasa aman, sangat aman... sampai akhirnya ia menarik karpet dari bawah kakinya.

Setelah makan malam, Rafka langsung masuk ke ruang kerja, seperti biasa. Nayla naik ke kamarnya sendiri. Ia duduk di depan meja rias, menatap pantulan dirinya di cermin.

Seorang perempuan cantik, elegan, tampak sempurna. Tapi matanya-mata itu penuh luka. Ia mendekatkan wajahnya ke cermin, lalu tersenyum tipis. "Kamu tidak akan menang, Rafka," bisiknya pada bayangan dirinya sendiri. "Aku akan membuatmu menyesal."

---

Hari-hari berikutnya, Nayla menjalankan hidup seperti biasa, seolah tak terjadi apa-apa. Ia masih memimpin rapat di butik, masih menghadiri acara sosial, masih tersenyum dalam setiap foto yang diunggah media gaya hidup. Tapi diam-diam, ia mulai menyusun "Operasi Pembalasan".

Langkah pertamanya: memata-matai.

Nayla menyewa jasa penyelidik swasta, seorang pria paruh baya bernama ****, yang dulu pernah membantu salah satu klien butik menangani kasus penipuan properti. Damar bukan detektif bersertifikat, tapi ia punya jaringan luas dan kemampuan membongkar rahasia orang lebih cepat daripada algoritma mesin pencari.

"Target saya suami saya sendiri," kata Nayla saat bertemu Damar di sebuah kafe tersembunyi di Kemang. Ia mengenakan kacamata hitam besar dan topi lebar, menyamarkan wajahnya. "Saya ingin tahu dengan siapa dia berselingkuh. Semua detail. Nama, alamat, pekerjaan, kebiasaan. Semuanya."

Damar mengangkat alis, tapi tidak bertanya. "Berapa lama saya punya waktu?"

"Secepat mungkin."

"Dan kalau sudah ketahuan?"

Nayla tersenyum dingin. "Itu urusan saya."

---

Sementara Damar bekerja di balik bayangan, Nayla mulai menjalankan bagian kedua dari rencananya: membangun "persona baru." Ia tahu, untuk membuat Rafka lengah, ia harus berubah-bukan menjadi istri yang curiga atau marah, tapi justru menjadi versi Nayla yang lebih memikat, lebih percaya diri, lebih tak terduga. Seolah hidupnya terlalu menyenangkan untuk sempat curiga.

Ia memotong rambutnya menjadi bob elegan, mengganti lemari pakaiannya dengan gaun-gaun bernuansa merah dan hitam yang lebih berani. Ia mulai menghadiri kelas tinju dan yoga panas, sesuatu yang selalu ia tunda. Ia bahkan mendaftar kursus melukis malam hari-bukan karena ingin menjadi pelukis, tapi karena di sanalah ia berencana menanam "umpan."

Karena di antara murid-murid di studio itu, ada seorang pria muda dengan tatapan tajam dan senyum nakal-****. Seorang fotografer seni kontemporer yang baru pulang dari Berlin, terkenal karena pameran fotonya yang provokatif. Dan yang lebih penting: ia tipe pria yang Rafka benci-bebas, bohemian, dan sangat menggoda.

Nayla memperhatikan Radya dari jauh selama beberapa pertemuan pertama. Pria itu selalu datang terlambat lima menit, membawa tas kamera lusuh, dan duduk di pojok ruangan sambil mencoret-coret sketsa sembarangan. Tapi setiap kali ia tersenyum, ada sesuatu yang liar di balik matanya. Seperti api kecil yang menari di udara tenang.

Suatu malam, saat kelas hampir usai, Nayla sengaja mendekat ke meja cat Radya. Ia menjatuhkan kuasnya, pura-pura tidak sengaja, dan kuas itu terguling ke arahnya.

"Oh-maaf," katanya sambil membungkuk mengambilnya.

"Tidak masalah," jawab Radya, suaranya serak ringan. "Kamu Nayla, kan?"

Nayla mengangkat alis. "Kok tahu?"

"Kamu satu-satunya yang selalu datang dengan heels ke kelas melukis." Senyumnya miring, nakal.

Nayla tertawa pelan. "Mungkin aku suka membuat kanvasku merasa inferior."

Itu pertama kalinya dalam berbulan-bulan ia tertawa bukan karena pura-pura. Dan di balik tawanya, terselip ide berbahaya: mungkin Radya bisa menjadi bagian dari rencana ini-atau setidaknya, alat untuk memercikkan api cemburu di dada Rafka.

---

Beberapa hari kemudian, Damar menghubunginya lewat pesan terenkripsi.

**"Target teridentifikasi. Kirimkan lokasi aman untuk bertemu."**

Jantung Nayla berdebar saat membaca itu. Ia membalas cepat, lalu duduk di kursi kerja menunggu detik-detik terasa seperti jam.

Satu jam kemudian, di sebuah ruang privat di hotel kecil yang biasa dipakai Nayla untuk rapat rahasia, Damar membuka map coklat di atas meja.

"Namanya ," kata Damar, menyodorkan beberapa foto. Seorang perempuan muda, mungkin awal dua puluhan, rambut panjang bergelombang, senyum menawan, dan mata tajam. "Model freelance, kadang jadi influencer. Mereka sudah bertemu hampir setahun. Rafka sewa apartemen untuknya di kawasan SCBD, bayar semua kebutuhannya."

Nayla menatap foto itu tanpa ekspresi. Perutnya terasa seperti dicekik tangan dingin, tapi wajahnya tetap tenang. "Ada hal lain?"

"Dia juga ikut ke Bali dua minggu lalu. Ini fotonya di vila yang sama dengan Tuan Rafka." Damar menyodorkan foto lain-foto yang nyaris identik dengan yang ada di ponsel Nayla, hanya kali ini wajah perempuan itu tampak jelas.

Nayla menarik napas pelan. Matanya menelusuri setiap detail wajah Laras-garis rahang, bibir, mata-seolah ingin mengukirnya dalam ingatan. "Terima kasih, Damar. Ini sangat membantu."

"Kalau saya boleh tanya..." Damar menatapnya hati-hati. "Ibu mau melaporkannya?"

Nayla tersenyum samar, dingin. "Tidak. Saya mau menghancurkannya."

---

Malam itu, Nayla duduk di balkon rumahnya seorang diri. Kota Jakarta berkilauan di bawah langit gelap, lampu-lampu gedung menciptakan ilusi bintang. Angin malam menyibakkan rambut pendek barunya. Ia memegang segelas wine, menatap kosong ke kejauhan.

Di dalam rumah, Rafka tertawa kecil di telepon-suara yang hanya ia keluarkan saat bicara dengan orang yang membuatnya bahagia. Nayla tidak perlu mendengar kata-katanya untuk tahu kepada siapa tawa itu ditujukan.

Ia meneguk wine-nya perlahan, lalu meletakkannya. Matanya berkilat.

Ini baru permulaan.

Ia akan membuat Rafka mencintainya kembali, tergila-gila lagi seperti dulu-dan tepat saat pria itu merasa Nayla sepenuhnya miliknya, ia akan mencabut semuanya, menghancurkan egonya, membuatnya kehilangan segalanya. Dan mungkin... hanya mungkin... ia akan membuat Laras saling mencakar dengan Rafka, sampai keduanya saling menghancurkan.

Untuk sekarang, Nayla hanya tersenyum.

Permainan telah dimulai.

Bab 2

Langit Jakarta sore itu mendung keperakan, seolah ikut menahan napas atas rencana gila yang baru saja disusun Nayla. Ia berdiri di depan kaca besar ruang kerja pribadinya-ruangan yang selama ini menjadi tempatnya menulis artikel untuk media gaya hidup, menyusun proposal proyek sosial, atau sekadar melamun menatap lalu lintas padat di bawah sana. Kini, ruangan itu menjadi markas rahasia dari sebuah misi yang ia beri nama dalam hati: Operasi Pembalasan.

Beberapa hari terakhir, Nayla telah menelaah setiap potongan informasi tentang perselingkuhan Rafka. Ia menelusuri jejak transaksi kartu kredit, riwayat hotel, bahkan menyusup ke email kerja suaminya-semua dengan ketelitian seorang detektif. Di balik air mata yang diam-diam ia tangisi dalam kamar mandi, perlahan tumbuh tekad dingin yang menakutkan bahkan untuk dirinya sendiri.

Dan hari ini, tahap pertama dimulai: umpan.

Namanya . Seorang creative director di sebuah agensi iklan ternama yang beberapa kali sempat bekerja sama dengan Nayla untuk kampanye CSR perusahaannya. Nayla ingat, setiap kali rapat, Radya selalu datang dengan kemeja lengan digulung, senyum separuh sinis, dan tatapan mata yang seperti bisa membedah seseorang sampai ke tulang. Bukan tipe pria yang langsung tampak "berbahaya", tapi jelas bukan tipe yang bisa disepelekan.

Rafka tidak pernah suka Nayla terlalu dekat dengan Radya, dulu. Ironis, mengingat kini Nayla justru akan mendekat... sengaja.

Ruang pamer galeri seni modern di bilangan Menteng itu dipenuhi lampu sorot hangat dan suara tawa pelan. Pameran lukisan kontemporer sedang berlangsung, dan Nayla berdiri anggun di antara kerumunan, mengenakan gaun hitam sederhana yang menonjolkan siluet tubuhnya dengan elegan. Rambutnya disanggul longgar, menyisakan beberapa helai yang membingkai wajahnya, memberi kesan lembut tapi tak terjangkau.

Dia tahu Radya akan datang ke acara ini-ia memastikan dengan pura-pura bertanya santai pada kurator yang juga temannya. Ia menunggu dengan gelas champagne di tangan, jantung berdetak pelan tapi mantap, seperti drum perang yang diselimuti beludru.

"Wah... kalau bukan Nayla Azzura."

Suara bariton itu terdengar tepat di belakangnya, dan bibir Nayla secara otomatis membentuk senyum. Ia berbalik, menemukan sosok Radya berdiri di sana dengan jas navy tanpa dasi, rambut hitam sedikit acak, dan tatapan mata yang-seperti dulu-menelanjangi pikirannya.

"Radya." Nayla menyapanya tenang. "Sudah lama."

"Terakhir kali kita ketemu... dua tahun lalu? Saat kampanye #HijaukanJakarta, ya?" Radya tersenyum, memperlihatkan lesung pipi samar yang dulu membuat banyak staf perempuan di ruangan rapat mendadak gagap. "Kamu masih terlihat sama. Elegan dan... terlalu rapi untuk dunia yang berantakan ini."

"Dan kamu masih suka bicara seperti kutipan dari novel eksistensialis," balas Nayla ringan.

Radya terkekeh. "Terserah kamu mau sebut apa."

Percakapan itu mengalir lebih mudah dari yang Nayla bayangkan. Mereka berbicara tentang karya seni di sekitar, tentang keadaan industri kreatif, bahkan tentang kemacetan Jakarta yang seolah tak pernah berubah. Nayla memainkan peran "diri lama"-nya dengan lihai-yang cerdas, sedikit sinis, dan tampak tak tergoyahkan oleh drama hidup. Tak ada yang boleh menebak bahwa di balik eyeliner sempurna dan tawa sopannya, ada bara dendam yang membara.

Setelah satu jam berkeliling bersama, mereka berdiri di balkon galeri, memandang jalanan yang mulai diselimuti lampu malam.

"Kamu kelihatan... beda," ujar Radya tiba-tiba.

Nayla mengangkat alis. "Beda bagaimana?"

"Dulu kamu seperti kaca bening. Sekarang seperti cermin retak-masih indah, tapi menyimpan cerita," katanya pelan, menatapnya lama.

Ucapan itu membuat dada Nayla berdebar, bukan karena baper, tapi karena Radya berhasil membaca sesuatu yang bahkan ia sembunyikan rapat-rapat. Ia harus hati-hati-pria ini bukan sekadar umpan; dia juga berbahaya jika sampai menembus tamengnya.

"Aku rasa... semua orang berubah," jawab Nayla tenang.

Radya hanya mengangguk, lalu menawarkan: "Mau lanjut minum di tempatku? Masih banyak hal yang ingin aku obrolin sama kamu. Tentang proyek, tentu saja."

Nada "tentu saja" itu terdengar seperti lelucon. Nayla menimbang sejenak. Ini terlalu cepat? Mungkin. Tapi kesempatan seperti ini tidak datang dua kali, dan Operasi Pembalasan tidak memberi ruang untuk keraguan.

"Aku ikut," katanya akhirnya.

Apartemen Radya berada di lantai tinggi sebuah gedung modern, dengan dinding kaca dari lantai ke langit-langit yang menampilkan panorama malam Jakarta bagaikan lautan cahaya. Interiornya minimalis, maskulin, dengan dominasi hitam, baja, dan kayu gelap. Sebuah rak besar penuh buku seni dan novel klasik mendominasi satu sisi ruangan, sementara sisi lain dipenuhi lukisan-lukisan abstrak yang tampak mahal.

"Wow," Nayla berkata sambil melangkah masuk, melepas stiletto-nya. "Tempatmu... sangat 'Radya'."

"Berantakan tapi terkonsep?" sahut Radya sambil menuangkan anggur merah ke dua gelas.

"Chaotic but curated," Nayla mengoreksi sambil duduk di sofa kulit hitam yang dingin saat disentuh.

Radya menyodorkan segelas padanya, lalu duduk di seberang, satu kaki terlipat santai di atas sofa. "Jadi... kenapa kamu tiba-tiba muncul lagi di radar? Bosan jadi istri sosialita?"

Nayla menahan napas sepersekian detik. "Mungkin," jawabnya ringan. "Atau mungkin aku cuma ingin merasa hidup."

"Mendefinisikan hidup lewat bahaya kecil?" Radya menatapnya tajam. "Karena itu kamu datang ke sini?"

Nayla meneguk anggurnya, membiarkan cairan asam manis itu menuruni tenggorokan. "Mungkin aku hanya butuh... teman bicara yang tidak menuntut kesempurnaan."

Keheningan jatuh di antara mereka, tapi bukan keheningan canggung-lebih seperti jeda yang sarat listrik. Mata Radya tidak pernah lepas dari wajahnya, dan Nayla tahu, dalam hitungan hari, ia bisa membuat pria ini jatuh. Itulah tujuannya. Membuat Rafka cemburu, merasa kehilangan, merasakan rasa sakit yang sama seperti yang ia rasakan saat membaca pesan mesra itu.

Namun ada sesuatu yang aneh-ia menemukan dirinya menikmati permainan ini. Bukan hanya karena dendam, tapi juga karena Radya berbicara padanya seolah ia bukan sekadar "istri seseorang." Sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan.

"Kalau begitu, biar aku jadi pengecualian," ujar Radya akhirnya. "Di sini, kamu tidak harus sempurna."

Ucapan itu menancap seperti paku di dada Nayla. Ia memalingkan wajah, pura-pura tertarik pada lampu-lampu kota di bawah sana. "Itu berbahaya, tahu," katanya pelan.

"Aku suka bahaya," Radya menjawab lebih pelan lagi.

Hari-hari berikutnya, pertemuan mereka menjadi lebih sering-ngopi sepulang kerja, makan siang mendadak, atau sekadar bertukar pesan larut malam tentang film dan buku. Nayla memainkan perannya dengan hati-hati: cukup menggoda untuk memancing, tapi tidak cukup terbuka untuk dimiliki. Ia menjaga batasnya, karena ini hanya permainan... seharusnya.

Namun batas itu mulai kabur ketika suatu malam, mereka menghadiri konser musik jazz di sebuah lounge eksklusif. Radya duduk di sampingnya, sangat dekat, bahunya menyentuh bahu Nayla setiap kali ia bergerak. Musik mengalun lembut, lampu remang, dan dunia luar terasa jauh.

"Kamu tahu nggak, Nay," bisik Radya di telinganya, "setiap kali kamu tertawa, kelihatannya kamu ingin meyakinkan dunia bahwa kamu baik-baik saja."

Nayla terdiam.

"Tapi aku rasa kamu tidak," lanjut Radya. "Dan itu... entah kenapa, membuatmu makin menarik."

Hati Nayla berdebar keras. Ia tahu seharusnya menertawakannya, mengganti topik, menjaga jarak. Tapi malam itu, dengan nada saksofon yang melankolis dan gelas wine ketiganya yang hampir kosong, Nayla hanya berkata, "Mungkin kamu benar."

Radya menoleh, dan tatapan mata mereka bertaut terlalu lama. Untuk sesaat, Nayla hampir lupa kenapa ia melakukan semua ini. Lupa bahwa setiap detik bersama Radya hanyalah alat untuk menusuk hati Rafka. Lupa bahwa ini bukan cinta... ini perang.

Dan perang, pikirnya, tidak mengenal perasaan.

Beberapa hari kemudian, ia mendapat kabar bahwa Rafka akan menghadiri gala dinner perusahaan-acara penuh media dan pengusaha papan atas. Nayla memutuskan malam itu sebagai panggung pertama.

Ia mengirim pesan ke Radya:

"Mau jadi partner in crime-ku malam ini?"

Radya membalas dalam hitungan menit.

"Selalu. Jam berapa aku jemput?"

Hotel bintang lima itu berkilau seperti istana dari kaca. Para tamu berdatangan dengan mobil mewah, fotografer sibuk memotret, wartawan TV berseliweran. Nayla turun dari mobil Radya dalam balutan gaun merah tua backless yang membungkus tubuhnya seperti cairan api. Semua kepala menoleh. Radya berjalan di sampingnya, gagah dalam tuksedo hitam, dan menatapnya seperti ia satu-satunya wanita di ruangan.

Tatapan itu bukan akting. Nayla tahu.

Mereka masuk ballroom, dan mata Rafka langsung menemukannya dari seberang ruangan-mata yang melebar, kaku, lalu menyipit dingin. Nayla merasakan gelombang kepuasan mengalir dalam dirinya. Itu dia. Retakan pertama.

Radya membisikkan sesuatu yang membuat Nayla tertawa kecil, lalu menyentuh punggungnya ringan saat mereka berjalan. Kamera-kamera langsung membidik mereka seperti hiu mencium darah.

Malam itu, Nayla menari di tepi jurang. Ia menari dengan anggun, dengan senyum beracun, dan dengan rasa nyaris bebas-untuk pertama kalinya sejak mengetahui pengkhianatan itu.

Ini baru permulaan.

Operasi Pembalasan telah dimulai... dan ia tidak akan berhenti sampai Rafka tahu rasanya kehilangan segalanya.

Bab 3

Hari itu hujan turun tipis, seperti tirai transparan yang menggantung di atas langit Jakarta. Tetes-tetes air menampar pelan kaca jendela ruang kerja Rafka di lantai 35 gedung perkantoran pusat kota. Dari tempatnya duduk, ia bisa melihat mobil-mobil merayap lambat di bawah sana, lampu merah mereka berpendar buram oleh kaca yang basah.

Namun pikirannya sama sekali tidak berada di sana. Bukan pada tumpukan dokumen yang menunggu tanda tangan, bukan pula pada presentasi investor yang harus ia siapkan. Pikirannya sibuk memutar ulang potongan gambar: Nayla tertawa kecil dalam sebuah foto, rambutnya digelung longgar, bibirnya menyentuh tepi gelas champagne. Dan di sampingnya, berdiri Radya Mahendra, menatapnya seperti seseorang yang baru menemukan bintang jatuh.

Foto itu muncul di salah satu akun media sosial sahabat Nayla dua malam lalu, hasil candid di acara pameran seni. Rafka menemukannya secara tidak sengaja ketika sedang scrolling di tengah malam-dan sejak itu, dadanya terasa seperti diperas tangan tak kasatmata.

Ada sesuatu di mata Nayla pada foto itu. Sesuatu yang sudah lama tidak ia lihat. Kilau hidup. Kilau yang dulu selalu menyala untuknya... sebelum ia memadamkannya sendiri dengan kebodohannya.

"Pak, tanda tangan untuk kontrak merger sudah ditunggu," suara sekretarisnya memecah lamunan.

Rafka mengangguk singkat tanpa menoleh. "Letakkan di meja."

Begitu pintu tertutup kembali, ia mendengus, menekan pelipis. Perasaan aneh itu-campuran cemas, cemburu, dan ketakutan-menggelitik bagian dirinya yang paling rapuh. Ia pernah merasa punya Nayla seutuhnya, seperti seseorang yang merasa memiliki matahari hanya karena terbiasa merasakan hangatnya setiap pagi. Dan kini, untuk pertama kalinya, ia merasa matahari itu sedang terbit ke arah lain.

---

Di rumah, Nayla duduk di sofa ruang keluarga, membolak-balik halaman majalah tanpa sungguh membaca. Televisi menyala tanpa suara, hanya menjadi cahaya latar di ruang yang sepi. Di meja, ada laptop terbuka menampilkan draf artikel yang seharusnya ia kirim dua hari lalu. Tapi pikirannya justru melayang pada pesan singkat terakhir dari Radya:

**"Pameran malam ini luar biasa, tapi kamu lebih menarik daripada semua lukisan di sana."**

Ia tidak membalasnya, hanya membacanya berulang-ulang dengan senyum tipis yang bahkan ia sendiri benci. Ini seharusnya hanya misi, hanya strategi-umpan untuk membuat Rafka merasakan sedikit dari racun yang selama ini ia telan. Tapi kenapa dada ini terasa ringan setiap kali Radya menoleh padanya? Kenapa tatapan pria itu menimbulkan debar yang nyaris ia lupakan rasanya?

Suara mesin mobil membuyarkan lamunannya. Beberapa detik kemudian, pintu utama terbuka, dan Rafka masuk-lebih awal dari biasanya. Setelan kerjanya masih rapi, tapi wajahnya tegang.

"Kamu di rumah," katanya, seperti lega sekaligus waswas.

"Memangnya aku harus di mana?" Nayla menoleh singkat.

Rafka mendekat, lalu duduk di sofa seberangnya, menatap Nayla seolah sedang memeriksa sesuatu yang hilang. "Belakangan ini kamu... berbeda."

"Berbeda?" Nayla menaikkan alis.

"Kamu jarang ada di rumah. Banyak acara. Banyak... pameran, gala, makan malam. Kamu bahkan hampir tidak pernah menungguku pulang." Nada suaranya terdengar seperti seseorang yang mencoba terdengar tenang, tapi pecah di ujung.

Nayla mengangkat bahu. "Dulu kamu juga begitu, ingat?"

Rafka terdiam. Serangan kecil itu tepat sasaran, dan kedipan matanya membocorkan rasa bersalah yang berusaha ia sembunyikan.

"Aku cuma... aku cuma khawatir," katanya akhirnya, suara melembut. "Aku takut kehilangan kamu."

Nayla menutup majalah di pangkuannya, menatapnya lurus-lurus untuk pertama kali malam itu. Ada begitu banyak hal yang ingin ia lemparkan-foto perselingkuhan, pesan-pesan mesra itu, semua luka yang ia pendam. Tapi ia tidak melakukannya. Belum. Belum waktunya.

"Kamu nggak akan kehilangan aku," katanya pelan, nyaris seperti bisikan. "Selama kamu masih bisa membuatku ingin bertahan."

Rafka menatapnya, seolah mencoba menerjemahkan kalimat itu. Lalu ia berdiri, berjalan ke samping Nayla, dan meraih tangannya. "Kalau begitu... beri aku kesempatan membuatmu ingin bertahan."

Nayla memandang tangan mereka yang bertaut. Untuk sesaat, kenangan tentang mereka berdua dulu-saat cinta masih jernih dan hangat-menyeruak begitu kuat, membuat dadanya nyeri. Tapi lalu ia mengingat tangan lain: tangan perempuan dengan kuku merah menyala, menyodorkan wine pada Rafka di balkon vila. Dan rasa nyeri itu membeku menjadi baja.

"Baiklah," katanya, menarik sudut bibir membentuk senyum samar. "Buat aku ingin bertahan."

Rafka tampak lega, seolah baru saja diberi satu nyawa tambahan. Ia menunduk, mencium tangan Nayla, lalu memeluknya dari samping. Pelukan yang hangat, familiar... dan hampa.

---

Hari-hari berikutnya, Rafka berubah. Ia pulang lebih awal, membatalkan beberapa agenda bisnis, bahkan mulai menjemput Nayla ketika tahu ada acara sosial. Ia mengirimkan bunga ke ruang kerjanya, mengajaknya makan malam mendadak di restoran yang dulu mereka datangi saat masih pacaran. Ia tertawa lebih sering, menggenggam tangan Nayla lebih erat, menatapnya seolah mencoba mengingat kembali setiap detail wajah yang dulu ia abaikan.

Dari luar, tampak seperti kebangkitan romantika rumah tangga yang mulai redup. Namun Nayla tahu lebih baik: ini bukan cinta, ini **ketakutan.** Rafka merasakan posisinya terancam, dan seperti semua pria yang terbiasa memiliki segalanya, ia bereaksi dengan berusaha merebut kembali yang ia anggap "miliknya."

Ironisnya, ada bagian kecil dari Nayla yang hampir luluh. Hampir. Tapi setiap kali Rafka menatapnya dengan mata penuh cinta palsu, ia membayangkan pria itu memeluk perempuan lain di ranjang hotel, membisikkan kalimat yang sama. Dan keinginan untuk memaafkan langsung padam.

---

Suatu malam, mereka makan malam di restoran rooftop dengan pemandangan lampu kota yang berkelip. Angin malam meniup rambut Nayla pelan saat ia menatap kota yang tak pernah tidur itu. Rafka menyesap wine-nya, lalu berkata tiba-tiba, "Aku pikir kita perlu liburan. Hanya kita berdua. Seperti dulu."

"Liburan?" Nayla menoleh.

"Ya. Tempat apa pun yang kamu mau. Paris, Tokyo, atau bahkan Ubud. Aku akan atur semua. Aku cuma ingin... kita bisa bicara. Tanpa gangguan."

Nayla menatapnya lama, lalu tersenyum manis. "Kedengarannya bagus."

Rafka terlihat lega lagi. Ia mengulurkan tangan, menyentuh jemari Nayla di atas meja. Tapi Nayla hanya membiarkannya, senyum itu tetap terpaku seperti topeng porselen-indah, tapi dingin.

Dalam hatinya, Nayla tahu Rafka tidak sedang mencoba membangun kembali cinta mereka. Ia hanya sedang mencoba **mengunci** Nayla, memastikan perempuan itu tetap di orbitnya, tetap menjadi satelit yang mengelilingi matahari bernama Rafka Dirgantara. Tapi Nayla bukan satelit lagi. Ia adalah komet yang sedang bersiap keluar dari orbit, melesat ke ruang kosong-ke tempat Radya menunggunya dengan tatapan yang membakar.

Dan saat Rafka bicara tentang tiket pesawat, Nayla diam-diam membuka ponselnya di bawah meja, membaca pesan terbaru dari Radya yang muncul di layar:

"Aku tahu kamu sibuk. Tapi kalau sempat, ada pertunjukan teater Jumat malam. Kursi di sampingku masih kosong."

Senyum Nayla merekah tipis, nyaris tak terlihat.

"Baiklah," katanya pada Rafka. "Kita liburan."

Tapi dalam pikirannya, satu suara bergema pelan:

Liburanmu akan menjadi akhirmu.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED