"Bangun!!" Suara laki-laki itu menggema di telinga Fyorin menembus alam bawah sadarnya membuat kesadarannya yang sempat hilang dalam beberapa saat kembali pulih.
Kelopak matanya ia buka perlahan, dengan sisa-sisa tenaganya ia berusaha keras untuk membuka kelopak matanya yang entah sudah berapa lama terkatup. Oh, kepalaku sakit sekali. Rintihnya seraya memegangi kepalanya yang terasa berat.
Samar-samar ia melihat seorang laki-laki tampan berbadan tinggi, berkulit putih berdiri di sampingnya. Oh, tampan sekali laki-laki ini? Apa aku sudah ada di surga? Racaunya. Matanya memicing, memindai laki-laki itu dengan kesadarannya yang belum sepenuhnya kembali.
Kilasan-kilasan kejadian tiba-tiba bermunculan di otaknya. Kejadian yang dia alami dalam batas antara sadar dan tidak sadar. Ah, Aku baru saja tidur bersama seorang laki-laki yang sangat tampan. Tubvhnya wangi sekali. Bahkan aku masih bisa merasakan pelvkannya yang begitu hangat. Dia pasti laki-laki penghuni surga yang semalaman menemani aku tidur. Orang-orang jahat itu pasti sudah berhasil membun-uhku dan mengirimku ke surga. Otaknya meracau tidak karuan di tengah pandangannya yang kabur yang sedikit demi sedikit semakin jelas.
"Hey, wanita bo-doh! Bangun!!"
Fyorin mengerjap, apakah di surga ada orang sekasar itu? Batinnya.
"Coba sebut nominal yang kamu butuhkan! Saya akan memberikannya secara cuma-cuma, tanpa harus kamu menjual diri kamu seperti ini!"
Fyorin terlonjak. "Menjual diri?!" Ia bangkit dari tidurnya. Termenung sejenak sambil memegangi kepalanya yang terasa berdenyut.
"Kamu dengar Saya?!"
Fyorin menatap ke arah laki-laki itu, "Apa ini di surga? Terus apakah di surga boleh berkata-kata kasar seperti itu?" Tanya Fyorin dengan polosnya. Entah apa yang terjadi kepadanya sehingga membuat kesadarannya sedikit terganggu seperti itu. Yang pasti ada seseorang yang sudah berniat jahat kepadanya.
"Surga? Surga mana yang kamu maksud? Kalau yang kamu maksud adalah surga dunia tentu saja kata-kata kasar diperbolehkan," sahutnya.
"Surga dunia?" Tanya Fyorin seraya terus berusaha menormalkan kesadarannya.
"Iya, di sini salah satunya, kamar hotel!"
Kamar hotel? Kenapa aku bisa ada di kamar hotel?
Fyorin terus berusaha mengembalikan kewarasannya. Apa aku belum m4ti? Apa mereka tidak membvnuhku? Tapi justru mengirimku ke tempat ini? Fyorin membelalakkan matanya.
"Sebenarnya kamu butuh uang berapa sampai kamu nekat menjual tubvh kamu seperti ini?!"
Seketika ia menoleh ke arah di mana laki-laki itu berdiri, ia terhenyak lantas melompat dari tempatnya berbaring, kepalanya yang terasa pusing membuatnya sedikit terhuyung, namun dengan cepat ia kembali mengatur keseimbangannya.
"Tuan! Saya tahu uang anda banyak! Dan mungkin memang Tuan bisa memberi saya banyak uang. Tapi bukan berarti Tuan bisa seenaknya menghina saya dan merendahkan saya seperti ini!" Protesnya tak terima.
Laki-laki itu melipat kedua lengannya di depan dada, dagunya ia angkat, sangat terlihat angkuh di mata Fyorin.
"Jadi, Kamu lebih suka mendapatkan uang dari hasil menju4l diri daripada diberi secara cuma-cuma?"
Fyorin mengernyitkan alisnya, "Apa maksud anda berbicara seperti itu? Saya tidak pernah merendahkan diri saya sendiri dengan cara menju4l diri, Tuan! Anda jangan kurang ajar!" Tukasnya.
Laki-laki itu mengangkat sebelah sudut bibirnya, "lalu kamu pikir kamu berada di tempat ini untuk apa?"
Fyorin tertegun. Oh, iya... Ini aku di mana? Fyorin mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan tempatnya berada sekarang. Ruangan Itu tampak seperti sebuah kamar, kamar hotel pastinya. Iya, tidak salah lagi, Aku sedang berada di dalam kamar hotel. Tapi kenapa aku bisa berada di tempat ini? Lalu kenapa laki-laki ini juga ada di dalam kamar ini? Batinnya.
Laki-laki yang sedang berdiri di hadapannya saat ini sepertinya bukan orang biasa-biasa. Dari penampilannya sepertinya dia orang kaya. Baju dan celana serta jam tangan yang dikenakannya pasti tidak dibeli dari emper pasar atau toko-toko yang berderet di pinggir jalan. Harganya pun pasti sangat mahal lebih mahal dari harga sepeda motornya.
"Ah! Sepeda motorku!" Fyorin menepuk dahinya. Sekarang ia ingat, terakhir kali ia bertemu dengan dua orang Dept Collector yang selama ini mengejar-ngejarnya untuk menagih hutang-hutang ayahnya. Mereka berhasil membawanya kepada seseorang. Seorang bandot tua berperut buncit yang sudah meminjamkan sejumlah uang yang tidak sedikit kepada ayahnya untuk berju-di. Yang dilipat gandakan dengan bunga yang tentunya tidak sedikit pula. Membuat ayahnya harus mendekam di penjara karena mencuri untuk membayar hutang-hutangnya itu. Kakak laki-lakinya terpaksa harus menjadi ABK di sebuah kapal yang pulangnya bisa sampai bertahun-tahun demi untuk membayar hutang-hutang ayahnya yang sangat banyak. Dan sialnya, Fyorin juga ikut terkena imbasnya.
"Pasti sepeda motorku diambil oleh mereka," Fyorin benar-benar frustasi. Padahal itu adalah modal satu-satunya untuk Fyorin bekerja mengantar makanan. Sepertinya sekarang dia harus kehilangan pekerjaannya itu.
"Mereka? Siapa yang mengambil sepeda motor kamu?" Tanya laki-laki itu.
Fyorin kembali menatap laki-laki yang sedang berdiri di hadapannya. Hampir saja dia lupa kalau saat ini ada orang itu di sana.
"Bukan urusan anda!" Dengusnya.
Laki-laki itu tidak menanggapi, sekarang ia duduk di sofa yang memang berada tak jauh dari tempatnya berdiri tadi. Kaki kanannya ia angkat lalu ia tumpang kan di atas kakinya yang lain cara yang memperhatikan Apa yang dilakukan oleh Fyorin.
"Sebenarnya anda siapa? Kenapa tiba-tiba anda ada di ruangan ini? Terus kenapa saya juga ada di sini?!" Serang Fyorin.
"Oh, jangan-jangan anda culik saya?!" Imbuhnya dengan jari telunjuk yang ia arahkan kepada laki-laki bertubuh tinggi, berkulit putih, dengan rambut yang disemir dengan warna putih keunguan, dan ciri khas yang paling menonjol adalah ada tahi lalat di hidungnya yang mancung.
Laki-laki yang tampannya nyaris sempurna, namun sayang terlihat angkuh dan sombong di mata Fyorin.
"Saya melakukan permainan dengan teman saya dan saya menang, lalu saya dihadiahi menginap di hotel ini oleh teman saya. Dia pemilik hotel ini. Saya juga sebenarnya tidak tahu kalau ternyata dia juga menghadiahi teman tidur untuk saya," ucapnya seraya menyeringai.
Fyorin membelalakkan matanya, dengan mulut yang terngnga, "Te-teman tidur?! Ma-maksudnya?!
"Kamu," ujar laki-laki itu seraya menunjuk ke arah Fyorin.
Seketika Fyorin membekap mulutnya sendiri. Sejak kapan Aku beralih profesi menjadi p3l-4cur? Terakhir yang aku tahu, Aku ini seorang kurir pengantar makanan, Ah! Dunia jahat sekali! Umpatnya dalam hati.
"Maaf, tapi saya bukan wanita seperti itu! Semiskin-miskinnya saya, Saya tidak akan mungkin menjual harga diri saya semurah itu!" Sanggahnya.
Laki-laki itu menyeringai. Sebelah sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman yang miring, "Munafik sekali," gumamnya.
"Munafik?? Saya nggak munafik, Saya memang bukan p3l-4cur!!" Teriaknya.
"Kamu tidak perlu menjelaskan apapun, karena saya tidak peduli. Hanya saja saya sangat menyayangkan, perempuan secantik kamu harus menjual kecantikan kamu yang sebenarnya bisa bernilai sangat mahal di tangan laki-laki yang tepat. Kamu malah menyerahkannya dengan harga yang sangat murah kepada para laki-laki hidung belang,"
"Tapi kamu tenang saja, saya bukan laki-laki seperti itu. Seberapa besar pun keinginan saya untuk men!km4ti kamu, Saya tidak akan melakukannya. Karena saya tidak suka merendahkan seorang perempuan meskipun perempuan itu sudah merendahkan dirinya sendiri,"
Fyorin meradang. Perkataan yang diucapkan oleh laki-laki itu sangat beragam. Ada pujian, tapi ada juga hinaan. Tapi jika diambil keseluruhan, isi pembicaraannya sangat menyakitkan. Laki-laki itu seolah menganggap Fyorin benar-benar seorang p3l-4cur. Fyorin tidak terima itu.
"Kurang ajar sekali mulut anda! Saya sudah bilang kalau saya bukan perempuan seperti itu!" Hardiknya.
Laki-laki itu hanya mengedikkan bahunya. Seolah tidak peduli dengan segala bentuk pembelaan yang dikatakan oleh Fyorin.
"Jam berapa sekarang?!" Fyorin mencari tasnya, ia pikir kalau dia akan memeriksa jam melalui ponselnya. Tapi sialnya, lagi-lagi Fyorin tidak menemukan barang yang dia cari itu. Dia pun termenung. Ah! Siallll!!! Pasti mereka juga mengambilnya! Fyorin mengacak kasar rambutnya lalu menjatuhkan bokongnya di atas kasur empuk di dalam kamar hotel itu.
"Kamu cari apa?"
"Handphone!!" Ketus Fyorin.
"Tadi Saya dengar kamu tanya jam berapa, Kenapa harus repot-repot mencari handphone kamu. Kamu tinggal lihat di sebelah sana ada jam dinding besar, kamu bisa tahu sekarang jam berapa dari jam dinding itu. Jadi tidak perlu repot-repot mencari handphone kamu dulu, menyusahkan diri sendiri saja," ujar laki-laki itu dengan nada yang datar namun terdengar seperti sebuah ejekan.
Fyorin melirikan matanya dengan tajam. "Ini bukan hanya masalah jam, tapi saya memang butuh semua barang-barang yang ada di dalam tas saya, handphone, dompet, dan semua yang ada di dalam tas itu!" Ujar Fyorin.
Laki-laki itu merogoh kantong celananya, mengeluarkan dompet kulit berwarna hitam yang pastinya dibeli dengan harga dengan digit angka yang tidak sedikit. Lalu mengeluarkan sebuah kartu berwarna hitam dari dalam sana lantas melemparkannya ke atas tempat tidur di mana Fyorin duduk.
Fyorin yang sejak tadi memperhatikan apa-apa saja yang dilakukan oleh laki-laki itu pun mengernyitkan alisnya tatkala melihat sebuah kartu berwarna hitam mendarat cantik tepat di sampingnya, "apa ini?" Tanyanya.
"Kamu bisa membeli semua barang-barang kamu yang hilang dengan kartu itu, jadi kamu sudah tidak perlu berisik lagi meratapi barang-barang kamu yang hilang itu dengan terus mengumpat, Saya tidak suka orang yang berisik," ujarnya.
"Nggak! Saya nggak mau menerima apapun dari anda, nanti bisa-bisa hutang saya semakin banyak. Saya sudah cukup pusing memikirkan bagaimana caranya saya membayar hutang-hutang ayah saya, Saya tidak mau menambah deretan panjang angka-angka yang harus saya bayar, apalagi dari rentenir seperti anda," ujar Fyorin.
"Saya bukan rentenir, bo-doh!" Umpatnya.
"Lho, terus untuk apa Anda menawarkan uang kepada saya untuk membeli semua barang-barang saya yang hilang kalau tidak untuk dipinjamkan dengan bunga yang bisa membuat anda lebih kaya, saya sudah sangat hafal dengan modus-modus para l!nt4h darat," Fyorin berbicara dengan sangat yakin.
"Terserah! Tapi saya memang bukan l!ntah D4rat seperti yang ada di pikiran kamu. Saya memang murni berniat untuk menolong kamu, tapi kalau kamu tidak mau, ya sudah... Saya tidak akan memaksa," ujar laki-laki itu dengan santainya.
"Saya tidak akan mudah percaya, di zaman seperti ini mana ada orang yang berbaik hati memberikan uang secara cuma-cuma tanpa ada embel-embel maksud lain di belakangnya,"
"Ok, kalau kamu tidak mau tidak masalah. Saya akan ambil lagi kartunya, tapi apa kamu tahu sekarang kamu ada di mana? Apa kamu pernah berpikir bagaimana cara kamu pulang ke rumah kamu, sementara kamu tidak punya kendaraan bahkan tidak punya uang sepeserpun, coba kamu pikirkan itu!"
Fyorin terdiam, benar apa yang dikatakan oleh laki-laki itu. Bahkan ia sendiri tidak tahu posisinya di mana, karena saat terakhir dia bertemu dengan laki-laki buncit berhati busuk ia lantas sudah tidak ingat apa-apa lagi. Entah apa yang sudah mereka lakukan kepadanya yang jelas tengkuknya terasa sakit saat ia sadar tadi. Sekarang sepeda motor dan tas berisi semua barang-barang penting entah ada di mana. Mungkin diambil oleh para manusia-manusia s!alan itu, pikirnya. Lalu sekarang aku harus bagaimana? Apakah menerima bantuan dari laki-laki ini bukan ide buruk? Gimana kalau ternyata ini akan menambah daftar panjang penderitaanku kedepannya?
Laki-laki itu mengambil sehelai kertas dan juga bolpoin dari sebuah laci yang terletak tak jauh dari tempatnya duduk. Lalu tampak menuliskan sesuatu di sana. Lagi-lagi ia melemparnya ke arah Fyorin.
"Itu nomor PIN kartu kredit saya, kamu bisa menggunakan kartu itu untuk memenuhi semua kebutuhan kamu. Tapi tolong ingat kata-kata saya, tolong berhenti dari kerjaan kotor ini, hargai diri kamu," Ujarnya.
"Ck, apaan sih! Saya sudah bilang kalau saya bukan p3l-4cur, Tuan yang terhormat! Saya ini seorang kurir makanan, Saya sendiri juga tidak tahu kenapa tiba-tiba saya bisa terdampar di sini, sepertinya ada orang yang sengaja menjual saya!" Sanggahnya. Ia benar-benar tidak terima dianggap melakukan pekerjaan yang kotor oleh laki-laki itu. Ini tentang harga diri, pikirnya.
Dering ponsel menyela pembicaraan mereka, laki-laki itu tidak menanggapi lagi perkataan Fyorin karena teralihkan oleh dering ponselnya.
Benda pipih yang menjerit-jerit dari balik jasnya yang tergeletak di atas sofa diraihnya. Beberapa saat ia mengamati layar ponselnya yang menyala, dan menampakan sebuah nama yang sekilas tertangkap oleh mata Fyorin.
'Raina' nama itulah yang tertulis di layar ponsel laki-laki itu. Pasti itu ceweknya! Pikir Fyorin.
"Hallo, ada apa?" Tanya laki-laki itu datar.
Fyorin yang sedang menguping mengernyit heran. Datar banget ngobrolnya, aku ralat deh pasti bukan pacarnya. Mana mungkin ngobrol sama pacar sedatar itu. Fyorin kembali menguping.
"Ok, sebentar lagi aku jemput kamu, Kamu sekarang di mana?" Tanya laki-laki itu.
Fyorin kembali mengernyit. Hah? Mau jemput? Oh, berarti emang pacarnya... Aarrghh!! Kenapa aku jadi mikirin hal nggak penting kayak gitu, terserah mau itu pacarnya atau itu pembantunya, bukan urusanku juga. Gumam Fyorin dalam hati seraya menggelengkan kepalanya pelan.
Tiba-tiba saja laki-laki itu beranjak, bahkan tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Fyorin yang masih
Terduduk di atas kasur empuk di dalam kamar hotel itu pun seketika melompat seraya berteriak memanggil laki-laki yang belum ia tahu namanya siapa, "Eh, Tuan!! Tunggu!" Teriaknya seraya berlari beberapa langkah untuk mengejar laki-laki itu.
"Tuan!! Ini kartu anda ketinggalan!" Teriaknya lagi seraya mengacung-acungkan kartu berwarna hitam ke arah laki-laki yang berjalan cepat ke arah pintu lift di ujung lorong dengan deretan pintu kamar di sisi kiri dan kanannya.
"Kamu pakai saja!" Singkatnya.
"Nggak! Saya nggak mau berhutang sama siapapun! Saya tidak mau menerima pemberian seseorang secara cuma-cuma! Saya tidak tahu siapa Anda, bisa jadi ini hanya jebakan, kan? Saya tidak mau sembarangan menerima bantuan dari orang lain, apalagi orang itu tidak saya kenal. Saya hanya akan menerima pemberian seseorang jika saya juga memberikan keuntungan kepada orang itu!"
Laki-laki bertubuh tinggi itu membalikkan badannya, berjalan cepat menghampiri Fyorin. Tiba-tiba,
Cup,
Ia mengecvp permukaan b!b!r Fyorin dengan lembut. Oh, apa ini? Fyorin mengerjapkan matanya. Sial, dia tidak bisa menolak perlakuan laki-laki tampan itu. Kejadiannya terlalu cepat. Bahkan lebih cepat dari desiran darahnya yang seketika naik ke kepalanya. Fyorin memejamkan matanya, merasakan benda lembut itu menyentuh permukaan b!b!rnya. Oh, Tuan...
---
Kecvpan lembut laki-laki itu telah berhasil melambungkan dirinya ke angkasa. Berguling-guling di antara gumpalan awan nan lembut yang seketika menghilangkan akal sehatnya.
Itu adalah pengalaman pertamanya. Jadi seperti ini rasanya?! Laki-laki itu telah mengambil c!vman pertamanya. Bahkan kekasihnya sekalipun tidak pernah ia izinkan untuk melakukan itu. Sialnya, laki-laki itu mengambilnya secara tiba-tiba, tidak ada kesempatan untuk Fyorin menolak, meskipun sebenarnya masih bisa. Tapi bodohnya, Fyorin malah men!kmatinya. Bodoh sekali, bukan?
Sihir macam apa yang membuatnya jadi sebodoh itu? Fyorin terlambat menyadarinya. Bahkan ketika Fyorin membuka matanya dan menyadari laki-laki itu sudah menghilang di balik pintu lift, ia masih saja terpaku di tempatnya.
Ia sentuh permukaan b!birnya yang tadi dik3cup oleh laki-laki tampan itu. Tubvhnya masih mematung. Seolah enggan beranjak dari kejadian yang baru saja terjadi.
Fyorin... Kamu ini apa-apaan?! Kamu lihat, laki-laki itu adalah laki-laki yang tidak kamu kenal, tahu namanya saja tidak! Bangun Fyo!! Lupakan! Rutuknya seraya memukul-mukul kepalanya pelan. Berharap semua tentang kejadian singkat yang baru saja ia alami akan hilang dari ingatannya.
Ok, fokus lagi... gumamnya. Sekarang aku harus ke mana? Dia bertanya pada dirinya sendiri.
Aku pasti berada jauh dari kampung halamanku. Di kampungku mana ada hotel semewah ini! Orang-orang s!alan itu benar-benar selalu menyusahkan hidupku! Batin Fyorin.
Ia melangkah gontai, masuk ke dalam pintu lift. Termenung sejenak, memikirkan langkah yang akan diambil selanjutnya.
Ia hempas nafasnya dengan kasar, lalu menekan salah satu dari deretan angka yang ada di samping pintu lift itu. Tujuannya adalah lantai dasar. Ia harus segera keluar dari sana meskipun dia sendiri belum tahu kemana tujuan setelah keluar dari hotel itu.
Udara terasa begitu panas saat Fyorin keluar dari pintu berbahan kaca tebal yang menjadi salah satu akses keluar masuk hotel mewah itu.
Aku harus ke mana? Pertanyaan itu terus saja diputar berulang-ulang di otaknya. Fyorin benar-benar bingung sekarang. Saking bingungnya dia hanya berdiri mematung di bawah pohon rindang yang sengaja ditanam di sepanjang trotoar jalan yang melintang di depan hotel yang baru saja ditinggalkannya.
Fyorin menghela nafasnya, meratapi nasibnya yang benar-benar sial. Kesialan yang ia rasa sudah ia bawa sejak masih berada dalam kandungan bahkan sampai di usianya yang menginjak dewasa seperti sekarang ini kesialan itu terus mengikutinya. Kesialan yang dibuat oleh laki-laki yang seharusnya menjadi Cinta pertamanya, menjadi tempatnya berlindung, menjadi alasan dia merasa aman hidup di dunia yang terkadang sangat kejam.
Ayah... Lihat aku sekarang! Aku sampai terdampar di kota besar yang jauh dari kampung halamanku gara-gara kelakuan ayah. Aku dijual oleh orang-orang itu kepada orang kaya. Entahlah, jangan-jangan orang kaya itu sudah berhasil mengambil mahkotaku yang sangat berharga. Tapi di hidupku yang sesial ini apakah aku masih harus menghiraukan hal-hal seperti itu? Rasanya itu sudah tidak ada artinya lagi. Hidupku sudah terlanjur hancur, ya sudah, hancur saja sekalian.
Rasanya Fyorin sudah berada di titik paling rendah di hidupnya. Pasrah... Itulah satu-satunya yang bisa ia lakukan sekarang. Terkadang ingin rasanya ia bvnuh d!ri saja, melompat dari puncak gedung tertinggi, atau berdiri di tengah jalan agar ada pengemudi yang sama sialnya dengannya menabrak tubvhnya. Tapi ia masih punya ibu. Ibu yang sangat menyayanginya, satu-satunya orang yang mungkin nasibnya lebih sial dari dirinya karena memiliki suami yang sangat tidak bertanggung jawab. Yang tidak pernah memberi kesempatan istrinya bahagia.
"Ibu! pasti ibu khawatir sama aku. Ah, aku harus segera pulang!" Ujarnya.
Saatnya berhenti meratap. Dan kembali menjadi Fyorin yang kuat.
Ia merogoh kantong celananya. Satu-satunya benda yang ada di sana adalah kartu kredit berwarna hitam yang laki-laki itu berikan kepadanya tadi.
Fyorin menggigit bibir bawahnya seraya termenung, "Apa aku gunakan saja kartu ini, ya? Aku butuh uang untuk ongkos pulang ke kampungku," gumamnya seraya menatapi kartu berwarna hitam yang ada dalam genggamannya.
"Ok, aku pakai saja, anggaplah aku pinjam uang kepada laki-laki itu, nanti suatu hari akan aku bayar,"
Fyorin mengangguk-anggukan kepalanya, seolah sedang berkomitmen dengan dirinya sendiri tentang keputusan yang baru saja ia ambil.
Ia masukkan kembali kartu itu ke dalam saku celananya. Kepalanya celingukan mencari ATM terdekat. Ia harus mengambil uang di sana, tidak akan banyak-banyak, secukupnya saja asal bisa membawanya kembali ke kampung halamannya.
Kepalanya menoleh ke belakang, di samping gedung hotel ternyata ada bilik ATM. Ah, aku bisa mengambil uang di sana. Pikirnya.
Gegas ia berjalan menuju mesin penarik uang itu yang ketika Fyorin hendak membuka pintu ATM itu tak sengaja berbarengan dengan seorang wanita paruh baya yang juga sepertinya hendak masuk ke sana.
Fyorin seketika kembali menarik tangannya lalu menoleh ke arah wanita paruh baya dengan pakaiannya yang sangat elegan. Tas yang ditentengnya juga tas import yang jumlah produksinya terbatas. Yang tentunya dibandrol dengan harga yang mungkin lebih mahal dari harga rumahnya di kampung.
"Maaf, silakan Anda saja duluan," Fyorin mempersilahkan.
Wanita itu tersenyum, "Terima kasih," ucapnya.
Fyorin membalas senyum wanita itu seraya mengangguk.
Namun bukannya langsung masuk, wanita itu justru tampak mengamati Fyorin dari ujung kaki sampai ke ujung kepala. Entah apa yang ada dalam pikirannya, Fyorin tidak bisa menebak.
Merasa ditatap seperti itu, Fyorin merasa tidak nyaman. Ia memalingkan wajahnya, memilih menatap ke arah lain dan berpura-pura tidak tahu kalau dia sedang diperhatikan.
Ibu-ibu ini kenapa? Ngeliatin aku sampai segitunya. Apa gara-gara penampilan aku yang Kumal? Atau karena aku pakai baju murah, yang mungkin hanya seharga tusuk giginya? Batin Fyorin.
"Kamu sedang ada masalah?" Tanya wanita itu.
Seketika Fyorin menoleh, "Maksudnya?" Tanyanya.
"Saya lihat dari ekspresi wajah kamu sepertinya kamu sedang banyak masalah. Atau jangan-jangan kamu habis kecopetan?"
"Kenapa nyonya bisa punya kesimpulan seperti itu?" Fyorin mengernyitkan alisnya.
"Soalnya saya tidak melihat kamu membawa tas, kamu bahkan tidak membawa apa-apa. Penampilan kamu juga sangat berantakan, seperti orang yang sudah beberapa hari tidak mandi,"
Fyorin mengerjapkan matanya.
What the hell?! Maksud ibu-ibu ini apa? Dia lagi menghina aku? Dia mau mengata-ngatai aku jelek dan bau karena belum mandi? Walaupun memang benar aku sudah tidak mandi dari kemarin. Batinnya menggerutu.
"Em, sebenarnya saya...--"
"Kamu butuh pekerjaan?!" Potongnya.
"Pe-pekerjaan?"
"Iya, pekerjaan. Saya lihat sepertinya kamu pengangguran, benar begitu?"
Fyorin menghela nafasnya, bisa-bisanya dia bicara sefrontal itu, ibu-ibu ini menyebalkan sekali. Pikirnya.
Ok, sabar Fyo... Sepertinya kamu memang membutuhkan pekerjaan, Bukankah kamu sudah tidak bisa menjadi kurir pengantar makanan? Sepeda motor kamu saja sudah diambil sama orang-orang penagih hutang itu. Fyorin berbicara dengan hatinya sendiri.
"Em, sebenarnya saya punya pekerjaan, Saya seorang kurir pengantar makanan. Tapi sepertinya sekarang saya harus kehilangan pekerjaan saya. Soalnya sepeda motor saya yang biasa saya pakai untuk mengantar makanan diambil sama orang," tuturnya.
"Kasihan sekali, sepertinya hidup kamu benar-benar sedang tidak beruntung," ujar wanita itu.
"Iya, mungkin memang begitu," Fyorin akui saja.
Wanita itu tampak tersenyum lalu mengangguk-anggukkan kepalanya. "Ok, itu artinya sekarang kamu pengangguran,"
"Kalau saya tawari kamu pekerjaan bagaimana?" Tanya wanita itu.
"Sa-saya mau!" Sahut Fyorin spontan.
Jujur saja, ia memang sangat membutuhkan sekali pekerjaan. Apapun itu akan dia kerjakan yang penting menghasilkan uang. Dan satu lagi, pekerjaan itu bukan pekerjaan yang kotor.
"Tapi, Maaf sebelumnya. Kira-kira pekerjaan yang Anda tawarkan itu pekerjaan apa, ya?"
"Kamu jangan khawatir, pekerjaan yang Saya tawarkan halal. Sebenarnya saya sedang membutuhkan orang untuk merawat Putra saya yang sedang sakit, apa kamu bisa??" Tanyanya.
Merawat orang sakit? Sepertinya itu bukan pekerjaan yang buruk. Aku biasa merawat ibuku kalau sakit. Sepertinya itu tidak sulit. Gumamnya dalam hati.
"Iya, saya mau. Saya bisa kok kalau hanya merawat orang sakit," ujar Fyorin tanpa berpikir panjang lagi.
Entah ini keputusan yang benar atau salah. Mungkin keputusan yang diambil ini terlalu ceroboh dan terburu-buru. Tapi apa salahnya jika mencoba. Yang paling penting sekarang dia harus bekerja untuk menghasilkan uang. Untuk membayar hutang-hutang ayahnya dan untuk keberlangsungan hidupnya dan juga ibunya.
"Ok, Jadi kapan kamu bisa mulai bekerja?" Tanyanya.
"Kalau lusa gimana? Soalnya saya harus pulang dulu ke rumah orang tua saya di luar kota, Saya takut beliau khawatir, Jadi saya harus izin dulu kepada beliau," ujar Fyorin.
"Tapi kan kamu bisa meminta izin lewat telepon,"
"Iya, harusnya memang begitu. Tapi handphone saya hilang, beserta dompet dan juga tas saya, Jadi sekarang saya tidak bisa menghubungi siapapun," kata Fyorin.
"Kamu ingat nomor yang bisa kamu hubungi?"
Fyorin menganggukan kepalanya. "Iya, saya ingat nomor bibi saya, biasanya saya menghubungi beliau kalau ingin berkomunikasi dengan ibu," jawab Fyorin.
"Bagus, kalau begitu kamu hubungi saja orang tua kamu pakai handphone saya, jadi kamu tidak perlu repot-repot pulang dulu ke kampung halaman kamu. Karena saya sedang butuh cepat, orang yang bisa merawat Putra saya," ujarnya seraya mengeluarkan ponsel keluaran terbaru yang tampak begitu mewah yang tidak pernah bisa Fyorin sentuh sebelumnya.
"Ini, kamu telepon orang tua kamu sekarang! Bilang kalau kamu sekarang bekerja sama saya," ujarnya caranya menyodorkan ponsel berwarna silver kepada Fyorin.
Tidak ada pilihan lain selain menurut, Fyorin Sudah malas berpikir. Yang paling penting dia harus mendapat pekerjaan dan mendapatkan uang. Itu saja. Terkesan terburu-buru memang, dan sempat terlintas dalam pikirannya perasaan khawatir, takut jika ternyata wanita itu adalah orang jahat yang menjebaknya. Tapi apa yang harus Fyorin takutkan? Takut wanita itu seorang muc!kari? Untuk apa takut? Bahkan dia baru saja dianggap seorang p3l-4cur beberapa saat lalu oleh seorang laki-laki yang sepertinya sudah t!dur dengannya semalaman. Meskipun ia sendiri tidak tahu apakah laki-laki itu menyentuhnya atau tidak.
Fyorin sudah tidak takut apapun, sungguh. Bahkan hal paling buruk seperti itu saja sudah dilewatinya, jadi apa lagi yang perlu di takutkan? Jadi hal buruk apa lagi yang akan melengkapi kesialannya? Fyorin sama sekali tidak peduli.
"Sekarang kamu ikut saya," ujar Wanita itu setelah Fyorin selesai menelpon ibunya.
"Ke mana, nyonya?" Tanya Fyorin.
"Ke rumah saya, kamu mau bekerja sama saya, kan?"
"Oh, iya, maaf, nyonya!" Ucap Fyorin seraya menundukkan kepalanya.
"Ya sudah, kamu masuk ke mobil saya sekarang!" Perintah wanita itu.
Fyorin mengangguk lantas membuntuti wanita itu dari belakang. Beberapa saat ia sempat ragu untuk masuk ke dalam mobil mewah yang sekarang sudah ada di hadapannya.
Ia menghela nafasnya dalam-dalam. Semoga keputusanku ini tidak membuat hidupku semakin susah, batinnya.
"Kenapa kamu masih berdiri di situ? Ayok masuk!" Tegur wanita itu.
Fyorin terperanjat, "Ah, i-iya, nyonya!" Ujarnya lantas bergegas masuk ke dalam mobil.
Ia duduk tepat di samping Bapak sopir yang diperkirakan berusia lima puluh tahunan. Sementara wanita itu duduk di kursi penumpang bagian belakang.
"Oh iya, nama kamu siapa?" Tanya wanita itu.
"Nama saya Fyorin nyonya," sahutnya.
"Ok, Fyorin. Mulai hari ini kamu akan bekerja untuk menemani dan merawat Putra saya yang sedang sakit, Saya harap kamu bisa merawatnya dengan baik," ujar wanita itu.
"Maaf, nyonya kalau boleh saya tahu, tuan muda sakit apa?"
"Dia mengalami kecelakaan dan akibat dari kecelakaan itu membuatna lumpuh. Jadi tugas kamu adalah membantu dia dalam beraktivitas, Kamu paham?!"
"Iya, nyonya saya paham!"
"Bagus!"
Fyorin terdiam, pekerjaan yang ia terima sepertinya bukan pekerjaan yang buruk. Merawat orang yang sedang sakit bukanlah pekerjaan kotor.
Tapi yang membuat Fyorin heran sekarang adalah cara nyonya itu mencari perawat untuk putranya. Kenapa sembarangan sekali? Padahal kalau dilihat dari penampilannya serta dari mobil yang dimilikinya sepertinya nyonya itu bukan orang biasa-biasa. Orang kaya pastinya. Tapi kenapa mencari orang untuk merawat putranya seperti memungut anak kucing di pinggir jalan. Bahkan nyonya itu tidak menanyai latar belakang Fyorin sama sekali.
Tapi itu bukan urusannya. Yang terpenting sekarang adalah Dia mendapat pekerjaan titik.
"Ayok, turun!"
Pikiran Fyorin yang terus melayang ke sana kemari selama di perjalanan membuatnya tidak sadar kalau ternyata mobil yang ditumpanginya sudah berhenti di depan sebuah rumah. Oh, bukan rumah lebih tepatnya mansion.
Fyorin sampai takjub melihat bangunan megah yang berdiri di hadapannya itu, yang mungkin luasnya bisa mencapai lebih dari lima ratus meter persegi.
Luar biasa sekali. Bangunan ini bisa dihuni oleh warga satu RT di kampungku. Batinnya.
"Ayok ikut saya! Saya akan mempertemukan kamu dengan Putra saya," ujar wanita itu.
"Baik, Nyonya!" Sahut Fyorin lantas mengikuti ke mana wanita itu berjalan.
Fyorin mengedarkan pandangannya, memindai setiap sudut mansion mewah itu yang tampak mengkilat di mana-mana seolah tidak ada satupun debu yang berani menempel pada permukaan benda-benda di sana.
Wah... Baru kali ini aku melihat rumah yang sangat megah seperti ini, ini lebih cocok disebut istana, sih! Gumamnya dalam hati dengan pandangannya yang terus berputar.
Setelah melewati beberapa ruangan yang sangat luas, akhirnya dia tiba di sebuah pintu yang tampak masih tertutup. Fyorin sempat mengira kalau itu adalah pintu kamar tuan muda yang akan dirawatnya. Tapi ternyata ia salah, karena saat pintu itu dibuka ternyata yang terlihat adalah hamparan rumput dan ruang terbuka hijau. Mungkin itu halaman belakang, atau apalah Fyorin sendiri kurang paham, yang jelas pintu itu tidak mengantarnya ke sebuah ruangan kamar, melainkan ruangan outdoor.
Tanpa berniat memprotes, Fyorin terus mengikuti langkah wanita yang sekarang sudah menjadi majikannya itu yang ternyata mengarah pada sebuah bangunan lain yang letaknya tak jauh dari rumah utama. Rumah itu tak kalah mewah, hanya saja ukurannya lebih kecil.
"Putra Saya tinggal di sini, dia sendiri yang memilih untuk tinggal di tempat ini padahal rumah utama juga masih tersedia kamar yang bisa dia tempati tapi dia tidak mau. Satu hal yang harus kamu tahu, Putra saya yang satu ini memang sedikit keras kepala. Jadi kamu jangan kaget dan harus siap menghadapi sikapnya yang keras," ungkap Wanita itu.
Fyorin menelan salivanya. Oh, apakah ini akan menjadi tantangan baru untukku? Mudah-mudahan saja tuan muda bukan orang yang galak. Batinnya.
"Maaf, nyonya, nama Tuan Muda siapa?"
"Namanya Sooya Bagas Bramantha, kamu bisa memanggilnya tuan muda Sooya!"
Fyorin menganggukkan kepalanya.
Sekarang mereka sudah tiba di depan sebuah pintu kamar yang terdapat di dalam rumah itu. Pintu berbahan kayu jati yang di plitur dengan ukiran berbentuk seekor naga yang tingginya hampir tiga meter itu di dorong oleh majikannya.
BRAK!!
Pintu itu terbuka, di dalamnya tampak ada seorang laki-laki yang tengah duduk di atas kursi roda sedang menghadap ke arah jendela kamarnya.
"Hallo, sayang... Bagaimana kabar kamu hari ini?" Ujar nyonya itu seraya menghampiri putranya.
Namun laki-laki itu tampak tak bergeming. Tidak ada respon apapun yang diberikan olehnya.
Wanita itu hanya tersenyum.
"Mami membawa seseorang untuk merawat kamu,"
"Saya tidak butuh dirawat oleh siapapun!" Suaranya terdengar angkuh.
Ya ampun! Serius aku harus merawat dia? Belum apa-apa Fyorin sudah ngeri sendiri. Kepada ibunya saja dia bersikap seperti itu, apalagi kepadaku yang hanya seorang pekerja, pikirnya.
Eh, tapi tunggu sebentar. Sepertinya aku tidak asing dengan suara laki-laki itu. Fyorin mengernyitkan alisnya. Ia mengamati laki-laki berambut putih keunguan yang dalam posisi memunggunginya itu dengan lekat. Suaranya seperti...--
Fyorin menggeser kakinya beberapa langkah ke samping, ia ingin melihat wajah laki-laki itu dengan jelas. Untuk memastikan kalau dugaannya salah.
Dan saat Fyorin berhasil melihat wajahnya, seketika matanya melebar. "Tuan muda?"
---
Laki-laki itu menoleh, menatap lekat seorang gadis yang masih berdiri tak jauh dari pintu kamarnya.
"Tuan...--"
Kalimat Fyorin terhenti tatkala Tuan Muda Sooya mengacungkan telapak tangan ke arahnya. Mulutnya seketika kembali terkatup. Ia hanya bisa bergumam dalam hatinya. Kenapa aku merasa tidak asing dengan laki-laki ini? Aku memang tidak begitu ingat dengan wajah laki-laki yang tadi berada di hotel bersamaku. Tapi aku yakin Tuan muda Sooya adalah orang yang sama dengan laki-laki yang di hotel tadi, kalau tidak salah laki-laki itu juga punya tahi lalat di hidungnya persis seperti tahi lalat yang dimiliki oleh Tuan muda Sooya. Iya, aku yakin...
Eh, tapi laki-laki yang tadi berada di hotel bersamaku tidak lumpuh. Dia bahkan bisa berjalan dengan normal. Sedangkan Tuan Muda Sooya pakai kursi roda? Aduuuhhh... Ini membingungkan sekali. Batin Fyorin sibuk berdebat, perdebatan yang membuatnya bingung sendiri.
"Tinggalkan kami berdua! Saya mau bicara empat mata dengan perempuan ini!" Ucapnya datar. Tentu saja kalimatnya itu ditujukan untuk ibunya.
Wanita paruh baya itu mengedikkan bahunya, "Ok!" Sahutnya. Ia menghela nafas panjang lalu membalikan badannya, lalu meninggalkan Fyorin yang sekarang hanya tinggal berdua saja dengan laki-laki itu.
Bingung, sekarang Fyorin bingung harus melakukan apa. Bahkan wanita yang mempekerjakannya sekarang pergi begitu saja tanpa memberikan arahan apapun.
BRAKK!!
Daun pintu di tutup sedikit kasar. Menghasilkan dentuman keras dari daun pintu yang membentur bingkainya. Membuat Fyorin terlonjak kaget setengah mati. Jantungnya seketika berdebar dengan kencang, jari jemari tangannya sampai gemetar. Oh, kaget sekali. Fyorin mengusap-ngusap dadanya. Sungguh keluarga yang aneh, Mereka ibu dan anak tapi dari cara mereka berinteraksi lebih seperti dua orang yang sedang bermusuhan. Batin Fyorin.
"Kemarilah!" Suara Tuan Muda Sooya kembali mengagetkannya. Laki-laki itu ternyata sedang menatap ke arahnya. Entah sejak kapan kursi roda yang didudukinya itu berbalik arah jadi menghadap ke arah Fyorin. Mungkin saat Fyorin sibuk dengan rasa kagetnya saat mendengar suara pintu dibanting.
Dengan langkah yang perlahan, Fyorin berjalan menghampiri laki-laki yang tengah duduk di atas kursi rodanya itu untuk memenuhi panggilannya. Namun Baru beberapa langkah,
"Stop! Diam di situ!" Fyorin mengangkat wajahnya. Laki-laki itu mengangkat telapak tangannya yang ia hadapkan ke arah Fyorin dan membuat langkah Fyorin seketika berhenti dengan jaraknya sekarang yang kurang dari dua meter lagi.
"Siapa nama kamu?" Tanyanya dengan nada yang datar dan dingin.
"Na-nama saya Fyorin, Tuan Muda..." Sahut Fyorin hati-hati.
Laki-laki itu kembali memutar kursi rodanya. Kembali menghadapkannya ke arah jendela.
"Ok! Kamu boleh keluar sekarang!" Perintahnya.
"Ke-keluar? Keluar ke mana, Tuan Muda?" Tanya Fyorin bingung.
"Di sebelah kamar ini ada satu kamar lagi. Kamu boleh gunakan kamar itu, di sana juga ada lemari, dan di dalamnya ada baju yang bisa kamu pakai untuk sementara sampai kamu membeli baju yang baru,," jawabnya.
Fyorin tertegun. Sikap Tuan mudanya itu memang masih dingin. Tapi kali ini wajahnya sudah tidak semenyeramkan tadi ketika ada ibunya. Malahan dia terlihat sangat peduli kepada Fyorin sampai-sampai ia berfikir meminjami baju untuk ia pakai. Seolah tahu kalau Fyorin memang tidak membawa baju satu helai pun kecuali yang melekat di badannya.
"Saya boleh istirahat dulu, Tuan?" Tanya Fyorin.
"Iya, barusan saya memang menyuruh kamu istirahat. Dan sebaiknya kamu mandi, Saya tidak tahan dengan bau tubvh kamu yang sudah tidak mandi dari kemarin,"
Fyorin membelalakkan matanya. "Tuan tahu saya belum mandi dari kemarin? Atau jangan-jangan dugaan saya benar kalau ternyata Tuan adalah orang yang sama dengan orang yang tadi pagi bersama saya di...--"
"Kamu jangan mengarang cerita! Saya tidak pernah pergi dengan siapapun apalagi bersama kamu!" Potong Tuan muda Sooya dengan nada suara yang ia naikkan satu oktaf sebagai penegasan.
"Maaf, Tuan muda..." Sahut Fyorin seraya menundukkan kepalanya. Sepertinya mulai sekarang ia harus lebih berhati-hati ketika berbicara dengan Tuan muda Sooya. Pikirnya.
"Keluar sekarang!" Tegasnya.
Fyorin terperanjat, "Se-sekarang, Tuan?"
"Iya, sekarang! Kapan lagi? Atau kamu berfikir mau tidur bersama saya di kamar ini?!"
Fyorin kembali membelalakkan matanya. "Nggak Tuan muda! Ba-baik, sa-saya keluar sekarang!" Ujar Fyorin dengan cepat lantas bergegas keluar dari kamar itu. Oh, apa ini? Bisa-bisanya Tuan mudanya itu berbicara seperti itu kepadanya. Laki-laki itu benar-benar sulit ditebak.
Fyorin berjalan cepat menjauhi pintu kamar berbahan jati bermotif naga itu sambil terburu-buru. Kepalanya celingukan ke sana kemari. Mencari kamar yang tadi ditunjukkan oleh Tuan mudanya itu. "Ah, kayaknya itu kamar yang tuan muda maksud," gumam Fyorin ketika melihat pintu ruangan yang berada tepat di sebelah kamar tuan mudanya tadi. Buru-buru ia masuk ke dalam kamar itu yang ternyata memang tidak dikunci.
Kamarnya sangat besar dan luas, sama saja dengan kamar yang ditempati oleh Tuan mudanya sekarang. "Ini nggak salah? Masa kamar pembantu semewah ini?" Gumam Fyorin seraya memindai setiap sudut ruangan kamar itu. Di salah satu dinding kamar itu terpajang sebuah foto seorang wanita dengan ukuran yang sangat besar. Cantik sekali wajah wanita dalam foto itu. Gaya berpakaiannya terlihat sangat elegan. "Itu foto siapa, ya?" Gumam Fyorin. Ah, itu bukan urusanku.
Ia pun berjalan menuju ke arah lemari kayu besar yang juga terdapat banyak ukiran di daun pintunya. Kunci lemari itu tergantung di sana sehingga Fyorin bisa membuka lemari itu.
BRAK!!
Pintu lemari ia buka. Dan isinya penuh dengan baju-baju perempuan. Mungkin ini juga yang dimaksud oleh Tuan muda Sooya.
Mata Fyorin membulat, tatkala melihat tumpukan baju yang tertata rapi. Bajunya sangat cantik-cantik sekali. Sepertinya baju itu memang baju-baju mahal. Tapi kemudian muncul pertanyaan dalam hati Fyorin, Siapa pemilik baju-baju ini? Kenapa bisa ada di rumah Tuan muda Sooya? Dan Tuan mudanya itu memperbolehkannya memakai baju dari lemari itu.
Belum satu hari bekerja di rumah itu tapi sudah banyak sekali pertanyaan yang bertumpuk di kepalanya. "Ah, sudahlah... Tebak-tebakannya dipikirkan nanti saja. Badanku sudah terasa sangat lengket, lebih baik aku cepat-cepat mandi sekarang. Siapa tahu nanti Tuan muda tiba-tiba butuh bantuanku," gumamnya lantas bergegas mengambil satu set pakaian dari dalam lemari itu dan membawanya masuk ke kamar mandi yang juga ada di dalam kamar itu.
Hari ini benar-benar hari yang ajaib. Semua kejadian berlangsung dengan sangat cepat. Mulai dari Fyorin yang tiba-tiba bangun di dalam sebuah kamar hotel bersama seorang laki-laki tampan yang tidak ia kenal, kemudian dituduh sebagai seorang p3l-4cur. Lalu beberapa saat kemudian ia beralih profesi menjadi asisten rumah tangga yang bertugas merawat Tuan muda anak konglomerat yang lumpuh. Yang wajahnya mirip sekali dengan laki-laki yang ia temui di hotel pagi tadi.
Dan keajaiban itu tidak hanya berhenti sampai di situ. Pagi-pagi sekali Fyorin sudah dibangunkan oleh seorang asisten rumah tangga lain yang memang sudah bekerja di rumah itu lebih dulu darinya. Matahari masih lama terbitnya, bahkan jarum jam masih menunjukkan pukul tiga dini hari. Tapi Fyorin sudah harus membuka matanya.
"Apa jam kerja di rumah ini memang harus sepagi ini? Ck, Ya ampun... Emang asisten rumah tangga di sini digaji berapa sih?" Fyorin menggerutu. Kelopak matanya masih sangat terasa lengket. Tapi dia sudah diminta untuk mandi dan berpakaian rapi karena menurut asisten rumah tangga yang membangunkannya tadi, Nyonya besar menunggunya dan meminta Fyorin menemuinya dua jam lagi.
"Hah? Masih dua jam lagi tapi aku sudah disuruh siap-siap dari sekarang?" Fyorin terus menggerutu. Ia benar-benar tidak paham dengan cara kerja orang-orang kaya terkhusus yang ada di rumah itu. Namun dia tetap harus melaksanakannya.
Fyorin bergegas mandi dan memilih baju yang pantas untuk menemui sang Nyonya besar.
Ia mengambil dress polos berbahan stretch yang mengembang di bagian roknya yang hanya sebatas lutut Fyorin. Lalu kemudian mengikat semua helaian rambutnya ke atas agar tidak mengganggunya saat bekerja nanti, selain itu juga agar terlihat lebih rapi. Lalu bergegas menemui majikannya yang katanya harus is temui di ruang tamu rumah itu.
"Selamat pagi, Nyonya!" Ucap Fyorin sambil menundukkan kepalanya hormat sesaat setelah ia tiba di ruang tamu.
Wanita itu tidak menjawab, ia tampak mengenyitkan alisnya seraya memindai penampilan Fyorin dari atas hingga ke bawah. Tentu saja hal itu membuat Fyorin jadi salah tingkah.
Kenapa nyonya besar melihatku seperti itu? Apa jangan-jangan baju ini miliknya? Mati aku! Pasti aku kena marah! Batinnya.
"Dari mana kamu mendapatkan baju itu?!" Tanyanya.
Deg!
Pertanyaan yang dilontarkan oleh majikannya itu memang sebuah kalimat yang sederhana, tapi terdengar seperti sebuah kalimat pembukaan yang mungkin akan diikuti oleh kalimat-kalimat menyakitkan lainnya.
Tidak salah lagi, ini pasti baju punya nyonya besar. Tapi bisa-bisanya tuan muda menyuruhku memakai baju ini. Fyorin bergumam dalam hatinya dan menyalahkan Tuan mudanya.
"Sa-saya, saya ambil dari lemari yang ada di kamar itu," ucap Fyorin jujur dengan jari telunjuk yang acungkan ke arah pintu yang menghubungkan antara ruang tamu dengan ruangan yang di belakangnya. Karena di sanalah kamar yang ia tempati berada.
"Kenapa kamu berani sekali mengambil barang yang bukan milik kamu? Kamu di sini bekerja baru satu hari, Fyorin!" Bentaknya.
"Saya yang menyuruhnya!" Suara yang lain terdengar dari arah belakang Fyorin berdiri. Membuatnya seketika menoleh.
"Tuan muda," melihat Tuan mudanya datang memutar kursi rodanya sendiri, Fyorin pun bergegas menghampirinya.
"Ah, Sooya," Wajah wanita itu tiba-tiba berubah ramah. Tidak lupa dihiasi senyum di bibirnya, padahal Tuan muda Sooya tidak pernah menunjukkan keramahan sama sekali kepadanya. Aneh sekali. Fyorin semakin merasa heran dengan hubungan ibu dan anak itu.
"Apa ada masalah kalau Fyorin memakai baju-baju itu? Anda tidak berhak melarang sama sekali!" Ujarnya.
Alis Fyorin mengernyit. Anda? Tuan muda memanggil ibunya dengan sebutan anda? Apa-apaan ini? Tidak sopan sekali! Batinnya.
"Oh, tidak, tidak ada masalah sama sekali kalau memang kamu yang menyuruhnya, Mami cuma khawatir kalau dia yang kurang ajar," sahut wanita itu.
"Saya minta maaf, Nyonya, kalau saya lancang,"
"Kamu tidak perlu meminta maaf kepada dia!" Tukas Sooya.
"Tidak apa-apa, Fyorin! Kalau memang Tuan muda Sooya yang menyuruh kamu, itu tidak masalah,"
Fyorin mengangguk lantas menundukkan kepalanya.
"Maaf, tadi Nyonya minta saya menemui nyonya di sini. Apa nyonya mau meminta saya melakukan sesuatu?" Tanya Fyorin.
"Oh, iya. Begini Fyorin... Hari ini kita akan pergi ke sebuah acara pernikahan. Jadi saya harap kamu juga bersiap-siap, karena kamu juga harus ikut!"
Fyorin mengangguk, dia diminta untuk ikut pasti untuk menemani Tuan mudanya. Dan mengurusi semua kebutuhan Tuan mudanya itu. Fyorin tak menaruh curiga sedikitpun.
"Ah, iya. Kamu sudah siap, kan?" kali ini ia berbicara kepada Tuan muda Sooya.
"Apa jawaban dari saya masih dibutuhkan? Bukankah seandainya saya tidak siap pun tidak akan merubah keputusan kalian?!" Jawabnya.
"Ini demi kebaikan kamu...--"
"Cih!! Munafik sekali!" Tukas Sooya.
"Sudahlah, kamu sekarang siap-siap, kita akan berangkat sebentar lagi. Nanti biar Fyorin yang bantu kamu, ya, nak!" Ucapnya,
Namun laki-laki itu sama sekali tidak menjawab. Terlihat sekali kalau dia sangat enggan berbicara dengan wanita itu. Wanita yang setahu Fyorin adalah ibunya. Hubungan antara Nyonya besar dengan Tuan muda Sooya sepertinya memang tidak baik. Terka Fyorin.
"Bantu saya siap-siap!" Kata Sooya kepada Fyorin.
"Baik, Tuan muda!" Sahut Fyorin lantas mendorong kursi roda yang diduduki oleh Tuan mudanya itu menuju ke ruangan kamarnya.
"Saya permisi, Nyonya!" Ucap Fyorin sambil menganggukkan kepalanya kepada Nyonya besar yang masih berdiri di sana. Dan wanita itu hanya menyahuti Fyorin dengan anggukan kepala.
"Tutup pintunya!" Perintah Tuan muda Sooya, "Baik, Tuan muda," sahut Fyorin lantas mendorong pintu kamar itu hingga tertutup. Kemudian berlari kecil menghampiri Tuan mudanya lagi.
"Saya mau mandi, tolong bantu saya melepas pakaian!" Fyorin mengerjapkan matanya beberapa kali. "Me-melepas pakaian? Ta-tapi Tuan muda...--"
"Kamu tidak mau? Kamu tidak ingat tugas kamu di sini apa? Kamu dipekerjakan di sini untuk membantu saya!" Tegasnya.
"Iya, saya tahu, tapi...--" Fyorin menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Ini serius? Aku harus bukain bajunya Tuan Muda? Jangan-jangan bentar lagi aku disuruh bantu dia mandi juga! Oh, pekerjaan macam apa ini? Kalau gini terus lama-lama bisa muncul berita yang judulnya 'Seorang Tuan Muda di P3r-k0s4 perawatnya', kan nggak lucu, batin Fyorin, berkelakar sendiri dalam hati. Namun setelahnya ia justru malah bergidik sendiri. Amit-amit, gumamnya seraya memukul-mukul kepalanya pelan.
"Ayok, cepat! Sebentar lagi kita sudah harus berangkat, kalau tidak nanti si nenek lampir itu akan mengomel," Ujarnya. Fyorin tahu Siapa orang yang disebut nenek Lampir oleh Tuan mudanya itu. Pasti yang dimaksud adalah ibunya. Apa tuan muda ini definisi anak durhaka? Masa ibunya sendiri dibilang nenek Lampir. Batin Fyorin.
Namun Fyorin tidak punya hak sama sekali untuk membantah, apalagi memprotes. Terpaksa ia lakukan apa yang diperintahkan oleh Tuan mudanya itu.
Satu persatu kancing piyama yang melekat pada tubuh Tuan muda Sooya ia lepaskan tautannya. Lalu ia turunkan bagian kerah piyama itu dari bahunya. Tampaklah sudah bahu dan lengan kekar Tuan muda Sooya bahkan dadanya yang mirip seperti dada ayam pedaging. Yang tentu saja membuat Fyorin menelan salivanya berkali-kali. Apalagi ketika tangannya menyentuh tipis-tipis permukaan kulitnya. Darahnya tiba-tiba berdesir.
Aroma maskulin yang menyeruak masuk ke dalam rongga hidungnya seketika mengingatkan Fyorin pada sosok laki-laki yang berada di kamar hotel bersamanya pagi tadi. Bahkan saat Fyorin dalam keadaan setengah sadar ia seperti merasakan kalau ia tidur dalam pe-lvkan laki-laki itu, yang wangi tub-uhnya persis seperti wangi tubvh Tuan muda Sooya saat ini. Membuat Fyorin yakin kalau laki-laki itu dan Tuan Muda Sooya adalah orang yang sama, meskipun Tuan muda Sooya membantah kebenarannya.
Ah, tapi yang pakai parfum seperti ini kan banyak! Dan katanya manusia itu memang ada yang mirip meskipun tidak ada ikatan darah. Lagi pula laki-laki yang tadi pagi itu keadaannya sangat sehat. Tidak sakit seperti Tuan Muda Sooya. Lagi-lagi Fyorin menepisnya dengan logika.
Piyama yang dikenakan oleh Tuan Muda Sooya yang sudah berhasil dia lepaskan ia taruh di bahunya sendiri. Setelah itu ia mengulurkan tangannya meraih karet pinggang bawahan piyama Tuan muda Sooya untuk ia lepaskan juga. Tapi Apa yang terjadi? Tiba-tiba saja Tuan Muda Sooya menepis tangannya.
"Kamu mau apa?!" Serganya.
Seketika Fyorin terperanjat dan kembali menarik tangannya. "Maaf, Tuan Muda, Saya mau bantu Tuan Muda melepas...--"
"Tidak perlu! Kamu mau modus lihat junior saya?!"
Fyorin terhenyak, "Oh, ng-nggak Tuan muda! Sa-saya tidak bermaksud seperti itu!" Sanggah Fyorin seraya mengibas-ngibaskan kedua telapak tangannya.
"Maaf kalau saya lancang..." Imbuhnya lantas menunduk.
"Ya sudah, sekarang antar saya ke kamar mandi dan tinggalkan saya sendirian di sana. Dan jangan berharap saya meminta kamu untuk membantu saya mandi juga, Saya tidak mau kamu menodai saya!" Ujarnya.
Fyorin terperangah. Bisa-bisanya Tuan muda Sooya berbicara seperti itu dengan entengnya, memangnya aku ada tampang c4-bvl apa?! Fyorin mengumpat, meskipun ia hanya berani mengumpat di dalam hati.
Ia menghempaskan nafasnya dengan kasar lalu mendorong kursi roda Tuan mudanya itu dan mengantarkannya masuk ke dalam kamar mandi. Lalu meninggalkannya sendirian di sana sesuai dengan permintaannya.
Setelah pintu kamar mandi Fyorin tutup, ia lantas menyandarkan punggungnya di sana. Wajahnya merengut kesal. Ia tidak habis pikir dengan Tuan mudanya itu. Sungguh dia adalah laki-laki yang sulit di tebak. Sikapnya sangat dingin, bahkan sampai saat ini Fyorin belum pernah melihat sedikitpun senyum tergaris di bibirnya. Terkesan berbicara seperlunya. Tapi saat dia membuka mulut, kata-kata yang keluar terdengar sangat menjengkelkan.
Sepertinya Fyorin harus menyetok kesabaran lebih banyak lagi untuk menghadapi Tuan mudanya itu.
---