Suara teriakan tante Olla terdengar dari ruang tungguku. Wanita itu tidak pernah membiarkan satu penarinya telat barang semenit saja. Umurnya sudah hampir lima puluh, tapi masih punya banyak energi untuk mengumpat dan mengancam pekerjanya sendiri. Sebagai bos klub dewasa, ia cukup keras sekaligus tegas. Kadang kalau perlu perasaannya dibuang hanya untuk profesionalitas.
Dulu kami berkenalan di halte bus. Tadinya kupikir ia menawariku bermain di film dewasa, tapi ternyata tidak. Kebetulan ia pelatih pole dance yang membutuhkan anggota baru untuk sebuah pertunjukan biasa. Katanya proposional tubuhku pas dan masih muda. Begitu tahu bayarannya, waktu itu aku langsung setuju saja. Selepas SMA, aku memang sudah harus keluar dari panti asuhan dan dipaksa mencari uang sendirian. Itulah kenapa begitu melihat pekerjaan, pikiranku tidak lagi panjang. Pada dasarnya sebelum bergabung, aku memang pesenam di tingkat SMP dan SMA. Jadi tidak butuh waktu lama untuk mempelajari pole dance.
--
“Dari siapa?” tanyaku pada seorang asisten yang membawakan seikat bunga ke atas meja riasku. Beberapa menit lalu pertunjukanku selesai dan aku sedang bersiap untuk ganti baju. Selain pekerja bar, tidak ada yang tahu wajahku.
“Ada postcard di sana. Baca saja,” sahutnya sambil berlalu.
Total ada lima penari pole dance dan dua penari striptis. Di banding yang lain, aku adalah satu-satunya pemakai topeng. Itulah kenapa jarang ada kiriman bunga, apalagi saweran. Semua adalah imbas karena aku selalu menolak kencan berbayar.
Dear Sally.
Atau aku harus memanggilmu Kayra? Dengar, ini bukan basa basi. Pilih salah satu. Mau jadi mahasiswa atau penari bar? Kamu tidak bisa memilih keduanya.
Dari A.
Selesai membaca, aku langsung mendengkus keras. Jelas itu Alvin, dosen menyebalkan yang sempat memperingatiku tadi sore. Ada urusan apa ia sampai bertindak sejauh ini? Kalau dilihat dari sikapnya, heran saja. Kenapa tidak langsung dilaporkan?
“Siapa?” tanya tante Olla merebut postcard itu dari tanganku.
“Dosen di kampus. Entah bagaimana ia tahu,” gerutuku melempar bunga itu ke tempat sampah. Sepertinya selama ini aku hanya tertarik pada fisiknya. Secara sifat, aku menganggapnya penganggu besar.
“Aku kan sudah bilang, tidak usah kuliah. Buang-buang waktu dan uang. Lagipula umurmu sudah dua puluh tahun, tapi masih semester pertama.” Wanita itu melempar postcard itu kasar.
“Apa boleh buat? Selepas SMA, aku bekerja begitu keras. Butuh tiga tahun untuk memikirkan masa depan. Memangnya tante mau merawatku kalau aku pensiun?” gumamku mengambil tissu untuk membersihkan sisa make up di bibir juga pipi.
“Kamu bisa pensiun dengan limpahan uang kalau mau menerima kencan berbayar. Atau gaet saja salah satu dari pelanggan untuk dijadikan suami. Itu hal mudah, tapi kamu malah memilih yang sulit.”
Tante Olla terus mengomel di saat aku bersiap untuk pulang. Aku lupa kalau wanita itu tidak bisa diharapkan. Sebesar apapun pemasukanku untuk klub, ia selalu kesal dengan keputusanku untuk tidak menerima kencan.
Ya mau bagaimana lagi, ini adalah satu-satunya hartaku. Paling tidak meski miskin dan yatim piatu, aku masih perawan.
“Kamu dengar?” tante Olla masih mengajakku bicara.
“Tentang apa? Aku mau pulang, besok hari libur kan?” ucapku melirik jam di pergelangan tangan. Masih ada satu jam sebelum bis terakhir datang.
“Dosen itu mungkin menaksirmu. Temui saja dan berikan apa yang dia mau.”
Bisikannya membuat tengkukku langsung merinding hebat. Bahkan meski bodoh, aku masih tahu diri. Wajahku tidak seberapa, bahkan di bawah rata-rata. Anggaplah tubuhku memang bagus dan proposional, tapi selama ini image Alvin tidak begini. Wajar kalau aku menolak mentah-mentah anggapan tante Olla.
Pembicaraan kami akhirnya tidak berlanjut. Aku memilih tetap berlalu tanpa menimpali ucapan konyol wanita itu. Satu-satunya hal yang aku yakini adalah Alvin benci dengan mahasiswa tidak bermoral. Itulah kenapa ia mengancamku agar mengaku. Mungkin setelahnya aku akan didepak dari kelas bahkan dari kampus.
Tapi keyakinan itu buyar saat sebuah mobil hitam sengaja mencegatku di tempat parkiran. Harusnya tidak ada yang mengangguku mengingat tampilanku sudah kubuat tertutup. Tapi misal adapun, aku bisa sedikit bela diri. Tahun ini aku lulus karate dasar untuk pemula.
“Pada akhirnya kamu memaksaku untuk melakukan ini,” kata si pengemudi menurunkan kaca mobilnya.
Tak butuh waktu lama untuk mengenali Alvin. Meski sekarang tampilannya berbeda, tapi aku terlalu familiar dengan wajahnya. Rambutnya yang biasa disisir rapi kini dibiarkan berjuntai menutupi dahi. Kemeja biru langit favoritnya berganti kaus putih kasual. Tanpa sadar aku mundur untuk menutupi kegugupan.
“Masuk, ayo bicara.”
Alvin tiba-tiba keluar lalu menarikku kencang-kencang. Tangannya serasa dingin, besar dan kuat. Untuk lepas saja susah. Ternyata ilmu bela diri yang aku kuasai, susah dilakukan. Tidak ada waktu untuk kebingungan atau panik. Di depanku adalah dosen, bukan pria penganggu. Sekarang daripada membuat keributan, lebih baik aku menurut. Benar kata tante Olla, lebih baik aku bertanya apa maunya. Kalau memang tentang kehormatan kampus, kenapa tidak dilaporkan saja?
“Setelah kepergok begini, kamu masih tidak mau mengaku?” ujarnya sesaat setelah aku duduk di mobil. Kendaraan itu akhirnya pergi keluar halaman klub. Menyusuri jalanan kecil sebelum masuk ke ruas jalan yang lebih besar.
Di saat begini, aku masih sempat-sempatnya mencuri pandang. Kapan lagi aku bisa semobil dengannya? Saat ditarik tadi, rasa-rasanya ada sisa genggamannya di lipatan tangan. Sakit dan kebasnya tidak seberapa dibanding desiran hati yang tidak berkesudahan.
“Bagaimana bapak tahu kalau itu saya?”
Aku menyerah dan memilih untuk jujur. Sepertinya benar, ia tidak sengaja melihatku keluar dengan tampilan begini.
“Mudah saja, semua bisa dilakukan asal ada uang. Ngomong-ngomong kapan rencana mau berhenti? Seperti yang sudah saya katakan, pilih salah satu saja.”
Aku tidak segera menyahut. Tatapanku kualihkan ke luar, melihat cahaya lampu dari gedung-gedung yang menjulang. Terkadang kota itu terlihat egois. Aku selalu mengibaratkan kalau bangunan Jakarta seperti sebuah kesenjangan. Yang tinggi akan menenggelamkan yang rendah. Menghalangi cahaya matahari untuk dimiliki sendiri.
Begitu juga dengan nasibku sekarang. Aku dipaksa pergi karena moralku dipertanyakan oleh pria bertitel dosen yang tidak tahu apa-apa.
“Lalu bagaimana dengan bapak? Kenapa seorang dosen terhormat bisa masuk ke klub malam? Karir bapak juga bisa tamat kalau saya buka mulut. Jujur saja, kita memegang rahasia masing-masing. Kalau sampai saya dikeluarkan, saya tidak mau jatuh sendirian.”
Ini adalah pilihan terakhir yang kumiliki. Aku hanya sedang membalikkan omongannya saja. Cukup adil kalau aku membalas ancamannya dengan ancaman juga.
Alvin membisu tapi helaan napasnya tiba-tiba keras dan berat. Seperti tengah menahan emosi besar. Aku heran sejak kapan ia memberi mahasiswanya perhatian? Kesannya di mata semua orang adalah cuek dingin dan kasar. Bukan seperti serigala berbulu domba begini. Domba di luar, tapi ternyata serigala di dalam.
“Ke mana kita? Turunkan saja saya di sini. Atau kita bisa bicara di tempat lain,” ucapku tiba-tiba sadar kalau mobil itu mengarah ke jalanan asing. Kami sudah keluar dari jalan besar dan sekarang berbelok ke tempat sepi.
“Seperti katamu tadi, reputasiku penting. Jadi kita tidak boleh terlihat bersama di tempat umum.” Ia dengan tenang memutar kemudi. Raut wajah Alvin yang semula kesal tiba-tiba sedingin es.
Tenggorokanku seketika kering. Bukan soal gugup atau grogi, masalahnya situasi berubah horor. Lupakan soal fisik juga wajahnya yang tampan. Bisa jadi ia berbuat jahat. Banyak psikopat gila di luaran sana. Mungkin Alvin salah satunya.
“Ke mana tepatnya?” tanyaku pura-pura tenang.
“Ke tempatku. Kita bisa bicara apapun dan melakukan apapun. Kenapa? Takut? Bukannya kamu sudah terbiasa dengan laki-laki?”
Damn! Alvin yang kukenal seperti patung pahatan Tuhan, tibaa-tiba menyeringai lebar. Saat itu juga ucapan tante Olla tergiang di telinga.
Kay? Jangan-jangan dosen itu tertarik padamu? Berikan saja apa yang dia mau.
Tapi, segila apapun aku tidak pernah ingin memberikan kesucianku pada siapapun. Sekalipun itu Alvin, aku akan memberontak hingga titik darah terakhir.
Mobil yang kami naiki berhenti di depan sebuah rumah minimalis. Sebuah garasi kecil dan teras dipenuhi tanaman adalah pemandangan pertama saat aku menginjakkan kaki ke sana.
“Kenapa berdiri begitu? Ayo masuk.”
Alvin memecah hening, tapi meski tidak sabar ia tidak menarikku. Sosok tingginya menunggu di depan pintu rumah sambil bergumam akan sesuatu.
Aku ingin melarikan diri. Sayangnya keputusanku bisa jadi bumerang bagi diriku sendiri. Kami sama-sama tidak mau terlibat masalah.
“Jangan membuatku memaksamu lagi.” Suara stabil Alvin kembali meninggi. Kalau dipikir-pikir ngeri juga mengingat tinggi badanku hanya seratus enam puluh. Pasti mudah sekali mengangkatku dengan tubuh besarnya itu.
“Kita mau apa?” bisikku melirik sekitar. Tetangga kanan kiri pastinya sudah tidur mengingat ini sudah jam satu malam.
“Bicara, apa lagi?” gumamnya membuka pintu lalu mendorongnya sedikit.
Di mataku, itu adalah sebuah kandang di mana aku tidak bisa keluar lagi. Kini semua keputusan ada di tanganku. Mau berteriak menghabiskan malam dengan keributan atau masuk dan pasrah saja.
Anggap saja aku bodoh karena memilih yang kedua.
Blam.
Alvin segera menutup pintu sesaat setelah kami masuk. Tapi anehnya sengaja tidak dikunci. Seakan mengisyaratkan padaku kalau tidak pernah ada paksaan di antara kami.
“Anda tinggal sendiri?” tanyaku berusaha tidak gemetar.
Seperti rumah minimalis pada umumnya. Ada ruang tamu kecil yang dihiasi televisi, vas juga air pompa disudutnya. Ini jelas berbeda dengan pikiran semua orang yang mengira Alvin hidup dengan glamour. Semua nampak sederhana untuk ukuran dosen dengan latar belakang anak orang kaya.
“Aku lajang jadi tidak mungkin hidup dengan orang lain. Ngomong-ngomong, kamu bisa bicara santai. Aku sudah bilang status kita bukan lagi dosen dan mahasiswa kalau di luar,” kata Alvin menghidupkan lampu lalu duduk santai di pinggiran sofa.
Aku mulai terintimidasi lagi. Padahal tadi kami sudah berdebat, tapi begitu masih ruang tanpa sekat jiwa pemberontakku jadi setipis tissu.
“Duduk. Mau sampai kapan kamu berdiri begitu?” ucapnya menatapku dengan mata yang sedikit monoloid. Aku baru sadar tentang hal itu karena ia lebih sering memakai kaca matanya di kelas.
Aku menurut lalu memilih sofa yang agak jauh. Situasi macam apa ini? Hatiku menolak tapi tubuhku bergerak sendiri. Harusnya aku berlari keluar saja daripada menghadapi pria yang kutaksir sejak lama. Takutnya sikapku malah jadi murahan nanti. Baru juga bicara, suara bassnya sudah membuatku merinding.
“Jadi kapan kamu mau berhenti?”
Pertanyaan sama lagi-lagi membuat telingaku sakit.
“Itu mata pencaharian saya. Saya bukan melacur, tapi menghibur selama empat puluh lima menit.”
Dari sekian ucapan menyebalkan Alvin, aku paling tidak tahan dengan caranya merendahkan. Tidak ada hak sama sekali ia mempertanyakan kapan aku berhenti. Tugas dosen adalah melaporkan ke badan kehormatan kampus, bukan malah begini.
Alvin menghembuskan napas panjang. Ia kemudian mengusap-usapi wajahnya gusar.
“Kamu pasti bertanya-tanya kenapa aku ikut campur, kan?” ujarnya serius.
“Tentu saja, bapak aneh. Kita tidak dekat dan tidak punya hubungan apapun. Saya hanya mahasiswi tingkat pertama yang baru beberapa bulan lalu masuk. Asal bapak tahu saya kuliah karena ingin keluar dari tempat itu. Kalau disuruh berhenti, saya bukannya tidak mau, tapi tidak bisa.”
Begitu mendengar ucapanku, suasana mendadak hening. Alvin menggigit bibir lalu menyandar ke sofa. Tatapannya masih melekat padaku saat mengeluarkan ponsel dari saku celana.
“Ini alasannya.”
Ia bergumam, menaruhnya ke atas meja agar aku melihat isi albumnya. Kupikir itu mungkin kumpulan fotoku saat tengah ada di atas panggung pole dance. Dengan bra tipis dan celana dalam kecil. Tapi nyatanya dugaanku salah besar. Itu terlihat seperti diriku, tapi bukan aku.
“Siapa?” bisikku tak percaya. Aku langsung mengambil ponsel itu untuk menggeser isi album satu demi satu.
Wanita dengan sweater juga rok bunga itu sangat mirip denganku. Rambut panjangnya menjuntai hingga punggung dan tawanya begitu lepas tanpa beban. Di beberapa foto lain terlihat wanita itu bersama Alvin. Saling memandang mesra satu sama lain.
“Dia Gisel, calon istriku yang meninggal tiga tahun lalu. Kalian mirip kan? Itulah kenapa aku tidak bisa tinggal diam dan ingin ikut campur. Andai aku tidak melihatmu masuk kelas hari itu, mungkin sekarang kita tidak akan duduk dan bicara di sini. Aku masih sakit dan berencana pergi ke luar negri. Tapi kamulah yang menahanku.”
Alvin tiba-tiba berdiri untuk merebut ponselnya lagi. Sikap kasar itu langsung melemparku ke kenyataan di mana aku bukanlah apa-apa. Semacam bayangan dari seseorang yang sudah meninggal. Padahal kalau dilihat-lihat kami tidak begitu mirip. Bukan hanya style, tapi Gisel adalah langit dan aku bumi. Bagaimana bisa wanita yang terlihat seperti perempuan baik-baik sama dengan seorang pole dancer?
“Anda sakit kan? Mungkin itu efek depresi karena kehilangan pasangan. Tapi jangan melampiaskannya padaku. Itu mengerikan,” ucapku emosional.
Entah kesal karena apa yang jelas aku merasa tengah menghadapi pria sakit jiwa. Pantas selama ini ia begitu kaku dan dingin. Rupanya ada luka yang belum terobati. Dilihat dari setiap foto Gisel, nampak rasa cinta yang begitu besar.
Alvin membisu tapi wajahnya terlihat tegang seakan menahan perasaan.
“Saya pergi dulu. Keputusan saya masih sama. Pekerjaan tetap akan menjadi pekerjaan dan pendidikan tetap pendidikan. Kalau keberatan, laporkan saja ke pihak kampus tapi perlu anda ingat, saya tidak akan jatuh sendiri.”
Tidak ada tanggapan dari mulut Alvin. Ia hanya berdiri seperti patung saat aku beranjak pergi. Tadinya aku was-was takut dikasari. Bagaimanapun kini ia terlihat seperti pria yang bisa melakukan apa saja. Tapi ia benar-benar membiarkanku pergi.
“Tunggulah di luar, aku akan memesankan taksi.”
Untuk terakhir kalinya aku lagi-lagi menurut. Entah bagaimana menjelaskan, walau dipaksa Alvin berhasil membuatku merasa aman.
“Tadinya kupikir aku bisa membujukmu. Tapi aku salah besar, rupanya kamu keras kepala juga.”
Ia menyusulku ke depan teras kemudian duduk di salah satu kursi untuk merokok.
Aku sedikit terkejut mendapati nikotin ada di selipan bibirnya. Di kampus ia benar-benar berbeda. Tidak pernah kepergok merokok atau bicara seenaknya. Itulah kenapa aku sempat menjulukinya batu pualam yang tampan. Tapi hanya dalam semalam anggapanku itu dihancurkan. Bukan lagi dosen dingin, Alvin berubah seperti pria metropolis di klub malam. Dengan memicingkan sedikit mata, aku bisa membayangkan betapa hangat rengkuhan lengannya. Mungkin rasa bibirnya sedikit pahit karena rokok juga alkohol.
“Kenapa? Kamu mau rokok juga?” gumam Alvin memergokiku tengah menatapinya.
“Saya tidak merokok.”
“Gadis malam tidak mungkin tidak merokok.”
“Sekedar informasi, saya juga tidak minum atau melayani kencan berbayar. Jadi jangan menatapku kasihan atau meremehkan.”
Meski remang, aku melihat mata sipitnya melebar sedikit. Oke, tidak masalah kalau ia tidak percaya. Atau haruskah kubilang kalau aku masih perawan juga?
Obrolan kami ditutup dengan saling tatap. Jujur saja, hatiku seperti melompat-lompat. Desiran di dadaku tidak kunjung berhenti meski sudah semenit. Bibir tipis Alvin adalah alasan dari kegelisahanku. Padahal gaya merokok setiap orang selalu sama, tapi di otakku yang kosong, semua terkesan mengundang.
Tak lama terdengar suara kendaraan dari kejauhan. Benar saja, taksi warna biru berhenti tak jauh dari teras rumah.
“Taksinya datang. Ini, bawa saja.”
Alvin merogoh beberapa lembar uang dari sakunya, entah berapa. Buat apa ditolak? Waktuku memang terbuang hanya karena datang ke rumahnya.
“Kayra? Kamu tertarik padaku?” tiba-tiba ia menahan pintu taksi yang mau kututup. Tatapan matanya tiba-tiba sayu dan sedikit menggodaku.
Pertanyaan gila macam apa itu? Batinku mengumpat kesal. Jelas ia penasaran akan sesuatu.
“Tidak,” sahutku meringis.
“Kalau iya juga tidak masalah. Hubungi aku kapan saja dan kita bicara soal ini lebih jauh,” ucapnya menghisap rokoknya lagi lalu memberi isyarat agar aku segera masuk. Jangan-jangan kebohonganku terbaca?
Rupanya memang tidak ada yang namanya pria pualam atau pahatan Tuhan. Semua akan brengsek pada waktunya. Alvin adalah contoh kalau wajah malaikat kadang hatinya buruk rupa.