Laki-laki yang tengah duduk tenang di depan kelas itu adalah Alvin—dosen umur tiga puluhan dengan wajah tirus dan bibir sensual. Tingginya seratus delapan puluh lebih, berambut hitam legam dengan hidung mancung yang menyangga kaca mata hitam. Sudah setengah jam berlalu sejak ia memberi tugas, tapi sosoknya tidak juga bergeming—masih sibuk dengan isi laptopnya sendiri. kebiasaannya memang begitu, suka membuang waktu di kelas sebelum mahasiswanya bertanya lebih dulu.
Aku Kayra, mahasiswi tahun pertama sekaligus penganggum rahasianya. Bisa dibilang tidak ada yang tahu tentang perasaanku. Selain tertutup, aku introvent. Tidak nyaman bergaul dengan siapapun. Keseharianku hanya berangkat ke kampus lalu pulang. Jangankan ikut organisasi, kadang kalau ada tugas berkelompok, aku lebih suka mengerjakan bagianku sendiri lalu dikumpulkan setelahnya. Semua itu untuk menghindari diskusi langsung dengan orang lain.
“Kayra, temui saya setelah kelas terakhir.”
Dosen Alvin mendekati mejaku sebelum keluar kelas siang itu. Sosok tingginya berlalu sembari mengucapkan salam pada yang lain.
Aku cukup terkejut mengingat kami hampir tidak pernah bicara satu sama lain. hal itu tentu saja memancing perhatian. Terutama dari anggota kelompokku.
“Pasti ada masalah di tugasmu,” celetuk Bintang, menatapku penuh tuduhan.
“Bisa jadi bagianmu keliru. Kami kan sudah bilang harusnya kamu ikut diskusi langsung walau hanya satu kali.” Yang lain ikut menimpali. Saling tatap sebelum mengangguk lagi.
Mereka terkesan menyalahkan, tapi aku enggan menimpali. Jika benar, wajar saja kalau mereka kesal. Satu anggota membuat salah, semua akan kena imbasnya.
Tiga jam setelah kelas terakhirku, aku menemui dosen Alvin di ruangannya. Waktu itu jam empat sore, mata kuliah sebagian mahasiswa sudah selesai. Lorong menuju kantor dosen cukup sepi. Aku hanya melihat petugas kebersihan juga beberapa mahasiswa yang sibuk dengan organisasi dalam kampus. Kalau dipikir-pikir, ini adalah pertama kalinya aku ke sana seorang diri.
“Masuk.”
Suara berat dosen Alvin terdengar dari luar saat aku mengetuk pintu. Di kantor itu benar-benar hanya dia. Semua sudah pulang karena ini memang akhir pekan. Aku merasa canggung karena tidak ada orang selain kami. Apalagi suasana cukup remang dengan lampu kecil di tiap meter atap. Ditambah cahaya sore tidak bisa masuk karea terhalang dedaunan pohon.
“Duduk, sudah lama saya ingin bicara denganmu,” katanya melepas kaca mata yang sejak tadi bertengger di hidung.
Diam-diam aku menelan ludah, membayangkan bagaimana rasanya menyentuh tulang hidung yang mirip perosotan itu. Sudah menjadi rahasia umum kalau dosen Alvin menjadi role model mahasiswinya. Andai sikapnya tidak terlalu kaku, sudah bisa dipastikan ia akan jauh lebih populer. Sayangnya dosen Alvin mirip denganku. Ia terlihat dingin, jarang tersenyum dan suka menyendiri. Terbukti saat ada acara kampus, duduknya selalu paling belakang.
“Maaf pak, apa ada kesalahan di tugas saya?” tanyaku khawatir. Sebagai penerima bea siswa, aku tidak bisa mengabaikan nilai akademik.
“Begini Kayra, ini bukan tentang kuliah.” Ia bergumam lalu tiba-tiba saja menatapku lurus.
Dipandang begitu, jantungku langsung berdegup kencang, antara khawatir juga malu.
“Lalu tentang apa, pak?” tanyaku penasaran.
Apa aku membuat kesalahan? Tapi dibanding mahasiswa lain, nilai juga sikapku cukup baik. Bahkan jauh di atas mereka.
“Kay, kamu punya pacar?”
“Ha?” ucapku tak sengaja.
Omong kosong. Kenapa seorang Alvin bertanya hal pribadi pada gadis muram sepertiku? Batinku bingung. Kubalas tatapannya, mencari apa aku tengah dikerjai atau bagaimana.
“Tidak, pak. Saya tidak punya,” jawabku buru-buru memperbaiki ucapanku. Sebisa mungkin aku mencoba berpikir positif.
Mungkin pertanyaan itu ada hubungannya dengan program bea siswa. Bisa jadi, pihak kampus lebih menyukai mahasiswa yang fokus kuliah. Tapi rupanya tebakanku salah.
“Ini kamu bukan?”
Saat sebuah foto dilempar ke atas meja, barulah wajahku langsung pucat pasi.
“Ini kamu?” dosen Alvin tidak lagi bertanya, tapi suaranya kini terdengar setengah menggertak. Belum pernah aku melihatnya menampakkan emosi yang begitu nyata. Sekalipun marah, ia selalu memberikan hukuman, bukan teriakan. Itulah kenapaa ia dijuluki dosen es.
“Bukan.”
Kutatap foto gadis berpakaian minim yang tengah melakukan pole dance. Bagian atas terbuka dan bagian bawah hanya memakai dalaman saja.
Itu aku. Memang aku. Tapi pertanyaannya, bagaimana dia tahu? Pekerjaan sampingan di klub malam sudah tiga tahun kugeluti dan tidak pernah ketahuan. Aku bukan kekurangan uang, tapi memang menyukainya. Daripada bicara dan bergaul, aku lebih suka menari di atas panggung. Selain memakai riasan tebal, aku juga tidak pernah melupakan topeng. Harusnya di sini akulah yang curiga, bukan dia.
“Ini kamu. Saya tahu ini kamu.”
Dosen Alvin menunjuk fotoku lagi sambil mengetuk meja, penuh emosi.
“Dia memakai topeng, wajahnya tidak terlihat.” Aku yang tadinya takut-takut, memutuskan untuk menegakkan wajah. Selagi hanya tebakan, citraku sebagai mahasiswi introvent yang kuper tidak akan bisa digoyahkan. Aku butuh pekerjaan itu juga butuh pendidikan. Lagipula selama ini tugasku hanya menari pole, bukan striptis dance.
“Baiklah, sejak awal saya memang salah bicara soal ini di kampus. Tapi status kita berbeda saat di luar, apalagi di klub.”
Jujur saja, itu sangat menganggu. Dosen yang tadinya adalah pemanis kekosonganku, kini berubah menjadi pengancam. Apapun alasannya, ia tidak berhak mendikteku.
“Saya pamit dulu. Semoga anda bisa meluruskan kesalahpahaman ini,” ucapku buru-buru berdiri.
Hari sudah mulai sore dan tidak ada alasan untuk tetap tinggal karena pembicaraan kami mulai berantakan. Untung saja, dosen Alvin tidak mencegahku. Ia hanya diam dan menatapku dari tempatnya duduk.
Sialan. Di saat seperti ini aku masih bisa membayangkan hal gila. Kaki panjangnya itu akan sangat cocok untuk diduduki. Entahlah, mungkin karena terlalu lama mempertahankan keperawanan, aku jadi tidak bisa mengendalikan pemikiran liarku soal laki-laki. Tapi anehnya tidak semua, hanya Alvin saja yang menarik di mata.
Padahal harusnya aku panik, bukan malah bergairah sendiri. Jujur saja, Alvin tahu tentang pekerjaan sampinganku saja sudah aneh, apalagi bisa mengenaliku menggunakan topeng. Ada dua kemungkinan. Dia memergokiku keluar klub malam atau memang mengunjungi klub dewasa itu diam-diam.
Tidak kusangka, dia punya sisi gelap juga, batinku mengambil permen karet dari dalam tas. Apapun itu aku harus segera membereskannya. Bos di klub pasti akan membantuku dengan melarangnya masuk. Ya, semua bisa dibereskan hanya dengan itu. Popularitasku di sana sangat stabil dan membuat pemasukan besar. Kehilangan satu pelanggan pasti bisa dilakukan demi kelangsungan karirku.
Aku Kayra, mahasiswi dengan penampilan paling membosankan. Rambut panjang diikat tinggi, hodie besar berwarna senada dan sepatu kets putih. Tapi itu hanya berlaku di kampus. Di malam hari, aku menjelma menjadi Sally, pole dancer yang memanjakan mata lapar puluhan laki-laki. Aku hanya perlu tiga jam kerja untuk mendapat nominal satu bulan gaji pegawai pabrik.
Alasan kenapa aku ingin kuliah adalah pole dancer bukan pekerjaan terhormat. Begitu berumur, tubuhku tidak akan seindah dulu dan tentu saja pemilik klub akan membuangku. Jadi sebelum itu terjadi, aku harus membangun latar belakang agar nantinya bisa diterima bekerja kantoran.
Namun sialnya, rencanaku terhalang oleh Alvin. Dosen tampan itu harusnya menjadi patung pualam yang hidup untuk dikagumi saja, bukan malah menganggu kehidupan pribadi mahasiswanya. Selama tidak ketahuan, menjadi pole dancer atau ayam kampus, itu tidak akan merusak nama baik universitas.
Suara teriakan tante Olla terdengar dari ruang tungguku. Wanita itu tidak pernah membiarkan satu penarinya telat barang semenit saja. Umurnya sudah hampir lima puluh, tapi masih punya banyak energi untuk mengumpat dan mengancam pekerjanya sendiri. Sebagai bos klub dewasa, ia cukup keras sekaligus tegas. Kadang kalau perlu perasaannya dibuang hanya untuk profesionalitas.
Dulu kami berkenalan di halte bus. Tadinya kupikir ia menawariku bermain di film dewasa, tapi ternyata tidak. Kebetulan ia pelatih pole dance yang membutuhkan anggota baru untuk sebuah pertunjukan biasa. Katanya proposional tubuhku pas dan masih muda. Begitu tahu bayarannya, waktu itu aku langsung setuju saja. Selepas SMA, aku memang sudah harus keluar dari panti asuhan dan dipaksa mencari uang sendirian. Itulah kenapa begitu melihat pekerjaan, pikiranku tidak lagi panjang. Pada dasarnya sebelum bergabung, aku memang pesenam di tingkat SMP dan SMA. Jadi tidak butuh waktu lama untuk mempelajari pole dance.
--
“Dari siapa?” tanyaku pada seorang asisten yang membawakan seikat bunga ke atas meja riasku. Beberapa menit lalu pertunjukanku selesai dan aku sedang bersiap untuk ganti baju. Selain pekerja bar, tidak ada yang tahu wajahku.
“Ada postcard di sana. Baca saja,” sahutnya sambil berlalu.
Total ada lima penari pole dance dan dua penari striptis. Di banding yang lain, aku adalah satu-satunya pemakai topeng. Itulah kenapa jarang ada kiriman bunga, apalagi saweran. Semua adalah imbas karena aku selalu menolak kencan berbayar.
Dear Sally.
Atau aku harus memanggilmu Kayra? Dengar, ini bukan basa basi. Pilih salah satu. Mau jadi mahasiswa atau penari bar? Kamu tidak bisa memilih keduanya.
Dari A.
Selesai membaca, aku langsung mendengkus keras. Jelas itu Alvin, dosen menyebalkan yang sempat memperingatiku tadi sore. Ada urusan apa ia sampai bertindak sejauh ini? Kalau dilihat dari sikapnya, heran saja. Kenapa tidak langsung dilaporkan?
“Siapa?” tanya tante Olla merebut postcard itu dari tanganku.
“Dosen di kampus. Entah bagaimana ia tahu,” gerutuku melempar bunga itu ke tempat sampah. Sepertinya selama ini aku hanya tertarik pada fisiknya. Secara sifat, aku menganggapnya penganggu besar.
“Aku kan sudah bilang, tidak usah kuliah. Buang-buang waktu dan uang. Lagipula umurmu sudah dua puluh tahun, tapi masih semester pertama.” Wanita itu melempar postcard itu kasar.
“Apa boleh buat? Selepas SMA, aku bekerja begitu keras. Butuh tiga tahun untuk memikirkan masa depan. Memangnya tante mau merawatku kalau aku pensiun?” gumamku mengambil tissu untuk membersihkan sisa make up di bibir juga pipi.
“Kamu bisa pensiun dengan limpahan uang kalau mau menerima kencan berbayar. Atau gaet saja salah satu dari pelanggan untuk dijadikan suami. Itu hal mudah, tapi kamu malah memilih yang sulit.”
Tante Olla terus mengomel di saat aku bersiap untuk pulang. Aku lupa kalau wanita itu tidak bisa diharapkan. Sebesar apapun pemasukanku untuk klub, ia selalu kesal dengan keputusanku untuk tidak menerima kencan.
Ya mau bagaimana lagi, ini adalah satu-satunya hartaku. Paling tidak meski miskin dan yatim piatu, aku masih perawan.
“Kamu dengar?” tante Olla masih mengajakku bicara.
“Tentang apa? Aku mau pulang, besok hari libur kan?” ucapku melirik jam di pergelangan tangan. Masih ada satu jam sebelum bis terakhir datang.
“Dosen itu mungkin menaksirmu. Temui saja dan berikan apa yang dia mau.”
Bisikannya membuat tengkukku langsung merinding hebat. Bahkan meski bodoh, aku masih tahu diri. Wajahku tidak seberapa, bahkan di bawah rata-rata. Anggaplah tubuhku memang bagus dan proposional, tapi selama ini image Alvin tidak begini. Wajar kalau aku menolak mentah-mentah anggapan tante Olla.
Pembicaraan kami akhirnya tidak berlanjut. Aku memilih tetap berlalu tanpa menimpali ucapan konyol wanita itu. Satu-satunya hal yang aku yakini adalah Alvin benci dengan mahasiswa tidak bermoral. Itulah kenapa ia mengancamku agar mengaku. Mungkin setelahnya aku akan didepak dari kelas bahkan dari kampus.
Tapi keyakinan itu buyar saat sebuah mobil hitam sengaja mencegatku di tempat parkiran. Harusnya tidak ada yang mengangguku mengingat tampilanku sudah kubuat tertutup. Tapi misal adapun, aku bisa sedikit bela diri. Tahun ini aku lulus karate dasar untuk pemula.
“Pada akhirnya kamu memaksaku untuk melakukan ini,” kata si pengemudi menurunkan kaca mobilnya.
Tak butuh waktu lama untuk mengenali Alvin. Meski sekarang tampilannya berbeda, tapi aku terlalu familiar dengan wajahnya. Rambutnya yang biasa disisir rapi kini dibiarkan berjuntai menutupi dahi. Kemeja biru langit favoritnya berganti kaus putih kasual. Tanpa sadar aku mundur untuk menutupi kegugupan.
“Masuk, ayo bicara.”
Alvin tiba-tiba keluar lalu menarikku kencang-kencang. Tangannya serasa dingin, besar dan kuat. Untuk lepas saja susah. Ternyata ilmu bela diri yang aku kuasai, susah dilakukan. Tidak ada waktu untuk kebingungan atau panik. Di depanku adalah dosen, bukan pria penganggu. Sekarang daripada membuat keributan, lebih baik aku menurut. Benar kata tante Olla, lebih baik aku bertanya apa maunya. Kalau memang tentang kehormatan kampus, kenapa tidak dilaporkan saja?
“Setelah kepergok begini, kamu masih tidak mau mengaku?” ujarnya sesaat setelah aku duduk di mobil. Kendaraan itu akhirnya pergi keluar halaman klub. Menyusuri jalanan kecil sebelum masuk ke ruas jalan yang lebih besar.
Di saat begini, aku masih sempat-sempatnya mencuri pandang. Kapan lagi aku bisa semobil dengannya? Saat ditarik tadi, rasa-rasanya ada sisa genggamannya di lipatan tangan. Sakit dan kebasnya tidak seberapa dibanding desiran hati yang tidak berkesudahan.
“Bagaimana bapak tahu kalau itu saya?”
Aku menyerah dan memilih untuk jujur. Sepertinya benar, ia tidak sengaja melihatku keluar dengan tampilan begini.
“Mudah saja, semua bisa dilakukan asal ada uang. Ngomong-ngomong kapan rencana mau berhenti? Seperti yang sudah saya katakan, pilih salah satu saja.”
Aku tidak segera menyahut. Tatapanku kualihkan ke luar, melihat cahaya lampu dari gedung-gedung yang menjulang. Terkadang kota itu terlihat egois. Aku selalu mengibaratkan kalau bangunan Jakarta seperti sebuah kesenjangan. Yang tinggi akan menenggelamkan yang rendah. Menghalangi cahaya matahari untuk dimiliki sendiri.
Begitu juga dengan nasibku sekarang. Aku dipaksa pergi karena moralku dipertanyakan oleh pria bertitel dosen yang tidak tahu apa-apa.
“Lalu bagaimana dengan bapak? Kenapa seorang dosen terhormat bisa masuk ke klub malam? Karir bapak juga bisa tamat kalau saya buka mulut. Jujur saja, kita memegang rahasia masing-masing. Kalau sampai saya dikeluarkan, saya tidak mau jatuh sendirian.”
Ini adalah pilihan terakhir yang kumiliki. Aku hanya sedang membalikkan omongannya saja. Cukup adil kalau aku membalas ancamannya dengan ancaman juga.
Alvin membisu tapi helaan napasnya tiba-tiba keras dan berat. Seperti tengah menahan emosi besar. Aku heran sejak kapan ia memberi mahasiswanya perhatian? Kesannya di mata semua orang adalah cuek dingin dan kasar. Bukan seperti serigala berbulu domba begini. Domba di luar, tapi ternyata serigala di dalam.
“Ke mana kita? Turunkan saja saya di sini. Atau kita bisa bicara di tempat lain,” ucapku tiba-tiba sadar kalau mobil itu mengarah ke jalanan asing. Kami sudah keluar dari jalan besar dan sekarang berbelok ke tempat sepi.
“Seperti katamu tadi, reputasiku penting. Jadi kita tidak boleh terlihat bersama di tempat umum.” Ia dengan tenang memutar kemudi. Raut wajah Alvin yang semula kesal tiba-tiba sedingin es.
Tenggorokanku seketika kering. Bukan soal gugup atau grogi, masalahnya situasi berubah horor. Lupakan soal fisik juga wajahnya yang tampan. Bisa jadi ia berbuat jahat. Banyak psikopat gila di luaran sana. Mungkin Alvin salah satunya.
“Ke mana tepatnya?” tanyaku pura-pura tenang.
“Ke tempatku. Kita bisa bicara apapun dan melakukan apapun. Kenapa? Takut? Bukannya kamu sudah terbiasa dengan laki-laki?”
Damn! Alvin yang kukenal seperti patung pahatan Tuhan, tibaa-tiba menyeringai lebar. Saat itu juga ucapan tante Olla tergiang di telinga.
Kay? Jangan-jangan dosen itu tertarik padamu? Berikan saja apa yang dia mau.
Tapi, segila apapun aku tidak pernah ingin memberikan kesucianku pada siapapun. Sekalipun itu Alvin, aku akan memberontak hingga titik darah terakhir.
Mobil yang kami naiki berhenti di depan sebuah rumah minimalis. Sebuah garasi kecil dan teras dipenuhi tanaman adalah pemandangan pertama saat aku menginjakkan kaki ke sana.
“Kenapa berdiri begitu? Ayo masuk.”
Alvin memecah hening, tapi meski tidak sabar ia tidak menarikku. Sosok tingginya menunggu di depan pintu rumah sambil bergumam akan sesuatu.
Aku ingin melarikan diri. Sayangnya keputusanku bisa jadi bumerang bagi diriku sendiri. Kami sama-sama tidak mau terlibat masalah.
“Jangan membuatku memaksamu lagi.” Suara stabil Alvin kembali meninggi. Kalau dipikir-pikir ngeri juga mengingat tinggi badanku hanya seratus enam puluh. Pasti mudah sekali mengangkatku dengan tubuh besarnya itu.
“Kita mau apa?” bisikku melirik sekitar. Tetangga kanan kiri pastinya sudah tidur mengingat ini sudah jam satu malam.
“Bicara, apa lagi?” gumamnya membuka pintu lalu mendorongnya sedikit.
Di mataku, itu adalah sebuah kandang di mana aku tidak bisa keluar lagi. Kini semua keputusan ada di tanganku. Mau berteriak menghabiskan malam dengan keributan atau masuk dan pasrah saja.
Anggap saja aku bodoh karena memilih yang kedua.
Blam.
Alvin segera menutup pintu sesaat setelah kami masuk. Tapi anehnya sengaja tidak dikunci. Seakan mengisyaratkan padaku kalau tidak pernah ada paksaan di antara kami.
“Anda tinggal sendiri?” tanyaku berusaha tidak gemetar.
Seperti rumah minimalis pada umumnya. Ada ruang tamu kecil yang dihiasi televisi, vas juga air pompa disudutnya. Ini jelas berbeda dengan pikiran semua orang yang mengira Alvin hidup dengan glamour. Semua nampak sederhana untuk ukuran dosen dengan latar belakang anak orang kaya.
“Aku lajang jadi tidak mungkin hidup dengan orang lain. Ngomong-ngomong, kamu bisa bicara santai. Aku sudah bilang status kita bukan lagi dosen dan mahasiswa kalau di luar,” kata Alvin menghidupkan lampu lalu duduk santai di pinggiran sofa.
Aku mulai terintimidasi lagi. Padahal tadi kami sudah berdebat, tapi begitu masih ruang tanpa sekat jiwa pemberontakku jadi setipis tissu.
“Duduk. Mau sampai kapan kamu berdiri begitu?” ucapnya menatapku dengan mata yang sedikit monoloid. Aku baru sadar tentang hal itu karena ia lebih sering memakai kaca matanya di kelas.
Aku menurut lalu memilih sofa yang agak jauh. Situasi macam apa ini? Hatiku menolak tapi tubuhku bergerak sendiri. Harusnya aku berlari keluar saja daripada menghadapi pria yang kutaksir sejak lama. Takutnya sikapku malah jadi murahan nanti. Baru juga bicara, suara bassnya sudah membuatku merinding.
“Jadi kapan kamu mau berhenti?”
Pertanyaan sama lagi-lagi membuat telingaku sakit.
“Itu mata pencaharian saya. Saya bukan melacur, tapi menghibur selama empat puluh lima menit.”
Dari sekian ucapan menyebalkan Alvin, aku paling tidak tahan dengan caranya merendahkan. Tidak ada hak sama sekali ia mempertanyakan kapan aku berhenti. Tugas dosen adalah melaporkan ke badan kehormatan kampus, bukan malah begini.
Alvin menghembuskan napas panjang. Ia kemudian mengusap-usapi wajahnya gusar.
“Kamu pasti bertanya-tanya kenapa aku ikut campur, kan?” ujarnya serius.
“Tentu saja, bapak aneh. Kita tidak dekat dan tidak punya hubungan apapun. Saya hanya mahasiswi tingkat pertama yang baru beberapa bulan lalu masuk. Asal bapak tahu saya kuliah karena ingin keluar dari tempat itu. Kalau disuruh berhenti, saya bukannya tidak mau, tapi tidak bisa.”
Begitu mendengar ucapanku, suasana mendadak hening. Alvin menggigit bibir lalu menyandar ke sofa. Tatapannya masih melekat padaku saat mengeluarkan ponsel dari saku celana.
“Ini alasannya.”
Ia bergumam, menaruhnya ke atas meja agar aku melihat isi albumnya. Kupikir itu mungkin kumpulan fotoku saat tengah ada di atas panggung pole dance. Dengan bra tipis dan celana dalam kecil. Tapi nyatanya dugaanku salah besar. Itu terlihat seperti diriku, tapi bukan aku.
“Siapa?” bisikku tak percaya. Aku langsung mengambil ponsel itu untuk menggeser isi album satu demi satu.
Wanita dengan sweater juga rok bunga itu sangat mirip denganku. Rambut panjangnya menjuntai hingga punggung dan tawanya begitu lepas tanpa beban. Di beberapa foto lain terlihat wanita itu bersama Alvin. Saling memandang mesra satu sama lain.
“Dia Gisel, calon istriku yang meninggal tiga tahun lalu. Kalian mirip kan? Itulah kenapa aku tidak bisa tinggal diam dan ingin ikut campur. Andai aku tidak melihatmu masuk kelas hari itu, mungkin sekarang kita tidak akan duduk dan bicara di sini. Aku masih sakit dan berencana pergi ke luar negri. Tapi kamulah yang menahanku.”
Alvin tiba-tiba berdiri untuk merebut ponselnya lagi. Sikap kasar itu langsung melemparku ke kenyataan di mana aku bukanlah apa-apa. Semacam bayangan dari seseorang yang sudah meninggal. Padahal kalau dilihat-lihat kami tidak begitu mirip. Bukan hanya style, tapi Gisel adalah langit dan aku bumi. Bagaimana bisa wanita yang terlihat seperti perempuan baik-baik sama dengan seorang pole dancer?
“Anda sakit kan? Mungkin itu efek depresi karena kehilangan pasangan. Tapi jangan melampiaskannya padaku. Itu mengerikan,” ucapku emosional.
Entah kesal karena apa yang jelas aku merasa tengah menghadapi pria sakit jiwa. Pantas selama ini ia begitu kaku dan dingin. Rupanya ada luka yang belum terobati. Dilihat dari setiap foto Gisel, nampak rasa cinta yang begitu besar.
Alvin membisu tapi wajahnya terlihat tegang seakan menahan perasaan.
“Saya pergi dulu. Keputusan saya masih sama. Pekerjaan tetap akan menjadi pekerjaan dan pendidikan tetap pendidikan. Kalau keberatan, laporkan saja ke pihak kampus tapi perlu anda ingat, saya tidak akan jatuh sendiri.”
Tidak ada tanggapan dari mulut Alvin. Ia hanya berdiri seperti patung saat aku beranjak pergi. Tadinya aku was-was takut dikasari. Bagaimanapun kini ia terlihat seperti pria yang bisa melakukan apa saja. Tapi ia benar-benar membiarkanku pergi.
“Tunggulah di luar, aku akan memesankan taksi.”
Untuk terakhir kalinya aku lagi-lagi menurut. Entah bagaimana menjelaskan, walau dipaksa Alvin berhasil membuatku merasa aman.
“Tadinya kupikir aku bisa membujukmu. Tapi aku salah besar, rupanya kamu keras kepala juga.”
Ia menyusulku ke depan teras kemudian duduk di salah satu kursi untuk merokok.
Aku sedikit terkejut mendapati nikotin ada di selipan bibirnya. Di kampus ia benar-benar berbeda. Tidak pernah kepergok merokok atau bicara seenaknya. Itulah kenapa aku sempat menjulukinya batu pualam yang tampan. Tapi hanya dalam semalam anggapanku itu dihancurkan. Bukan lagi dosen dingin, Alvin berubah seperti pria metropolis di klub malam. Dengan memicingkan sedikit mata, aku bisa membayangkan betapa hangat rengkuhan lengannya. Mungkin rasa bibirnya sedikit pahit karena rokok juga alkohol.
“Kenapa? Kamu mau rokok juga?” gumam Alvin memergokiku tengah menatapinya.
“Saya tidak merokok.”
“Gadis malam tidak mungkin tidak merokok.”
“Sekedar informasi, saya juga tidak minum atau melayani kencan berbayar. Jadi jangan menatapku kasihan atau meremehkan.”
Meski remang, aku melihat mata sipitnya melebar sedikit. Oke, tidak masalah kalau ia tidak percaya. Atau haruskah kubilang kalau aku masih perawan juga?
Obrolan kami ditutup dengan saling tatap. Jujur saja, hatiku seperti melompat-lompat. Desiran di dadaku tidak kunjung berhenti meski sudah semenit. Bibir tipis Alvin adalah alasan dari kegelisahanku. Padahal gaya merokok setiap orang selalu sama, tapi di otakku yang kosong, semua terkesan mengundang.
Tak lama terdengar suara kendaraan dari kejauhan. Benar saja, taksi warna biru berhenti tak jauh dari teras rumah.
“Taksinya datang. Ini, bawa saja.”
Alvin merogoh beberapa lembar uang dari sakunya, entah berapa. Buat apa ditolak? Waktuku memang terbuang hanya karena datang ke rumahnya.
“Kayra? Kamu tertarik padaku?” tiba-tiba ia menahan pintu taksi yang mau kututup. Tatapan matanya tiba-tiba sayu dan sedikit menggodaku.
Pertanyaan gila macam apa itu? Batinku mengumpat kesal. Jelas ia penasaran akan sesuatu.
“Tidak,” sahutku meringis.
“Kalau iya juga tidak masalah. Hubungi aku kapan saja dan kita bicara soal ini lebih jauh,” ucapnya menghisap rokoknya lagi lalu memberi isyarat agar aku segera masuk. Jangan-jangan kebohonganku terbaca?
Rupanya memang tidak ada yang namanya pria pualam atau pahatan Tuhan. Semua akan brengsek pada waktunya. Alvin adalah contoh kalau wajah malaikat kadang hatinya buruk rupa.