Pagi di rumah bergaya modern Korean itu selalu bermandikan cahaya, tetapi bagi Elsa, cahaya itu tak pernah terasa menghangatkan. Rumah ini adalah milik Ika, rumah yang Mas Delon belikan untuk cinta pertamanya, tempat di mana panggilan 'Sayang' kini berlabuh. Elsa sendiri hanya menginap di sana malam ini, atas permintaan Ika yang sedang rewel karena morning sickness-sebuah kebaikan yang justru memaksa Elsa mengenakan topengnya lebih tebal.
Elsa berdiri di depan meja island marmer, memotong buah stroberi untuk dimasukkan ke dalam smoothie yang ia siapkan khusus untuk Ika, madunya yang sedang hamil muda. Jemarinya yang ramping bergerak cepat, efisien, terlatih sempurna. Sejak dipoligami lima tahun lalu, perannya bergeser dari istri yang dicintai menjadi manajer rumah tangga yang efisien, dan kini, asisten pengurus calon anak madunya.
Ia mengenakan tunik dan hijab berwarna sage green, serasi dengan nuansa tenang di dapur. Namun, di balik lipatan hijab yang rapi itu, ada kepala yang pusing dan kening yang berkeringat dingin. Tadi malam, rasa sakit di perutnya kembali datang, lebih tajam dan memaksa.
Ini bukan lagi maag biasa, batinnya, getir. Ia menekan perutnya sejenak, mengambil napas dalam-dalam.
"Kak Elsa!"
Suara Ika terdengar ceria, memecah kesunyian yang dibangun Elsa. Ika masuk ke dapur, mengenakan gamis longgar dan hijab berwarna dusty pink, memancarkan aura glow khas ibu hamil.
"Kenapa, Sayang? Ada yang kamu butuhkan?" Elsa berbalik, dan topeng senyumnya langsung terpasang. Senyum yang mencapai matanya, namun tidak pernah benar-benar menjangkau hatinya.
"Aku cuma mau bilang terima kasih. Susah sekali bangun pagi karena mual, tapi Kak Elsa sudah menyiapkan segalanya. Smoothie ini pasti enak," kata Ika tulus, mendekat dan memeluk pinggang Elsa sekilas.
Elsa membalas pelukan itu dengan kaku. Di saat ia membalas kebaikan Ika, ia merasakan kehangatan di perut Ika-kehangatan yang menandakan adanya kehidupan yang sudah lama ia dambakan. Di saat yang sama, perutnya sendiri terasa dingin, hampa, dan sakit.
"Sama-sama, Ika. Sudah tugasku. Sekarang kamu duduk di meja makan, aku siapkan bekalmu untuk di mobil. Hari ini kan kita mau dengar detak jantungnya," ujar Elsa, suaranya dipenuhi intonasi kebahagiaan yang dipaksakan.
Air mata keterpurukannya sudah menunggu di ambang, siap tumpah, tetapi Elsa menelannya, sekeras ia menelan ludah. Ia tidak boleh lemah.
Beberapa menit kemudian, mereka semua sudah siap untuk ke rumah sakit dan juga ada Ibu nya Delon yang datang yang tidak lain adalah mertua Elsa dan Ika. Delon sudah berdiri siap di samping mobul SUV mewah milik Delon.
Pria itu terlihat tampan dan berseri-seri dalam kemeja kasualnya.
"Sudah siap, Sayang?" tanya Mas Delon pada Ika, tangannya langsung terulur memegang pinggang Ika. Panggilan 'Sayang' itu terdengar begitu alami, begitu milik Ika, membuat nama 'Elsa' yang dulu Delon sematkan panggilan itu seolah tak pernah ada.
Mas Delon menoleh pada Elsa yang berdiri diam di samping ibu mertuanya. "Elsa, kamu sudah siap? Ayo kita berangkat." Hanya Elsa. Tidak ada intonasi kasih sayang. Hanya sapaan biasa.
Elsa mengangguk, "Siap, Mas."
Mereka langsung masuk kedalam mobil dan duduk di mobil: Delon menyetir, Ika di sebelahnya. Elsa duduk di belakang, diapit oleh Ibu Delon, Mertua yang selalu memperlakukannya dengan sangat baik.
Mobil jalan meniggalkan rumah mewah yang di tempati oleh Delon dan Ika, Delon bilang rumah ini hasil tangan dingin Ika yang mendekor
Sepanjang perjalanan, Mas Delon dan Ika membahas nama bayi, nursery room, dan masa depan. Delon tertawa lepas, tawa yang tidak pernah Elsa dengar sebahagia ini selama lima tahun terakhir.
Elsa menelan ludah dengan kasar. Ia memandang pantulan wajah Delon dari kaca spion, wajah yang kelihatan senang dan bahagia akan mendapatkan momongan momongan yang diberikan oleh wanita lain. Hatinya tersayat. Luka ini jauh lebih perih daripada nyeri Kankernya tadi pagi.
Ibu Delon merasakan ketegangan itu, meskipun ia salah menafsirkannya. Ia mengusap tangan Elsa.
"Elsa-ku sayang, kamu adalah menantu terbaik. Ibu tahu, kamu sudah mengorbankan banyak hal, termasuk perasaanmu," ujar Ibu Delon tulus. "Ibu memanggilmu ke rumah Ika ini juga karena Ika benar-benar butuh dukungan. Dan kamu begitu tulus membantunya."
Elsa tersenyum. "Elsa sayang Ika, Bu. Dan Elsa selalu berdoa untuk Mas Delon."
"Itu dia. Karena kamu sangat berlapang dada, Ibu ingin kamu benar-benar nyaman, Nak. Ibu sudah bicarakan ini dengan Mas Delon.
Karena Ika sedang hamil muda dan butuh perhatian penuh dari Mas Delon, Ibu rasa, kamu harus mengalah dulu."
Lagi-lagi kata mengalah.
"Kamu bisa kembali fokus ke rumahmu yang di Cibubur. Atau kalau kamu bosan, kamu bisa tinggal di rumah Ibu. Dengan kamu tidak sering berada di rumah Delon dan Ika. Delon bisa fokus 100% pada Ika dan calon cucu Ibu tanpa merasa terbagi. Kamu kan sudah terbiasa mandiri, Elsa."
Elsa menegang ucapan ibu mertuanya bener-bener seperti ingin memulangkan Elsa ke keluarga nya
Ini adalah puncak penderitaan yang disamarkan sebagai kebaikan. Ibu Delon menyarankannya pindah, bukan karena benci, melainkan karena yakin Elsa tidak diperlukan lagi dalam inti kebahagiaan rumah tangga ini. Saran tulus ini seolah memberitahu Elsa bahwa ia adalah penghalang.
Elsa merasakan tenggorokannya tercekat, air mata keterpurukan itu sudah berada di batasnya, mendesak ingin keluar. Namun, ia tak boleh membiarkannya.
Elsa memegang tangan Ibu Delon. Ia menoleh ke depan, ke arah Mas Delon, yang sedang menatap cemas di spion.
Elsa: "Terima kasih banyak, Bu. Saran Ibu sangat bijaksana dan tulus, Elsa tahu." Ia berhenti sejenak, mengumpulkan semua kekuatan yang tersisa. "Tapi... Elsa rasa, untuk sekarang, Elsa bisa tetap tinggal di rumah Elsa yang di berikan oleh mas Delon saja, Elsa bisa tinggal di sana sendiri kok Bu."
Delon terlihat terkejut dan lega secara bersamaan.
Delon: "Kamu serius, Elsa? Kamu yakin kamu tidak apa-apa? Kamu tidak akan kesepian kalau aku fokus ke Ika?"
Air mata keterpurukan Elsa mengkristal di sudut matanya, air mata yang harus ia tahan karena Delon dan Ika menatapnya. Ia tidak boleh goyah.
Elsa: "Sungguh, Mas. Elsa baik-baik saja. Justru, kalau Elsa kembali ke rumah di Cibubur, nanti kalau ada apa-apa di sini, Elsa harus bolak-balik. Lebih baik Elsa di sini. Mas Delon tidak perlu khawatirkan Elsa. Fokus saja pada Ika dan bayinya. Ini adalah momen terpenting kalian, Mas. Elsa sudah terbiasa."
Elsa memberikan senyum palsu paling menawan dan ikhlas yang ia miliki, senyum yang disempurnakan oleh keputusasaan dan pengorbanannya. Senyum yang membuat Ibu Delon terharu dan Mas Delon merasa sangat tenang.
Aku adalah Istri Pertama yang menjaga benteng pertahanan terakhir. Aku harus tetap di sini. Jika aku pergi, adik-adikku kehilangan penopang, dan aku akan mati sendirian.
Delon memarkir mobilnya di area drop-off khusus klinik kandungan, sebuah bagian dari rumah sakit elit yang terasa lebih seperti butik kesehatan. Arsitektur bangunannya yang serba kaca dan marmer mencerminkan kesuksesan Delon, tetapi bagi Elsa, setiap kaca itu terasa seperti jendela yang memisahkannya dari kebahagiaan.
"Mas Delon, hati-hati," ujar Ika manja sambil memegang lengan suaminya.
"Iya, Sayang. Pelan-pelan ya," jawab Delon, perhatiannya terfokus penuh pada Ika. Pria itu membuka pintu Ika, menahan pinggang istrinya saat mereka berjalan masuk.
Elsa dan Ibu Delon berjalan di belakang. Langkah Elsa terasa berat, bukan hanya karena beban emosi, tetapi juga karena rasa sakit di perutnya yang terasa semakin memberat.
"Semoga calon cucu Ibu sehat ya, Sa," bisik Ibu Delon, merangkul bahu Elsa.
"Amin, Bu," jawab Elsa, tersenyum tulus kali ini, karena ia benar-benar berharap bayi itu sehat. Kebahagiaan bayi itu adalah satu-satunya jaminan bahwa Delon akan tetap bahagia dan terus membantu adik-adiknya.
Di ruang tunggu, Ika dan Delon duduk berdekatan, tangan mereka saling menggenggam. Mereka sesekali berbisik mesra tentang nama yang sudah mereka siapkan-nama yang terasa asing dan jauh di telinga Elsa. Ibu Delon menyempatkan diri mengobrol dengan pasien lain tentang tips kehamilan, meninggalkan Elsa sendirian di kursinya.
Aku adalah figuran di kisah ini, pikir Elsa.
Tiba-tiba, mata Elsa menangkap sesuatu. Di seberang lorong, ada pintu bertuliskan "Onkologi: Konsultasi Rawat Jalan." Jantung Elsa mencelos. Dua hari yang lalu, ia duduk di lorong itu.
Ia segera memalingkan wajah, tetapi memori aroma desinfektan dan suara lirih dokter kembali terngiang di benaknya. Rasa takut itu menyeruak, beradu dengan rasa sakit di hatinya. Ia harus pergi, pergi menjauh dari area itu sebelum Delon atau Ika melihatnya.
"Bu, Mas, Ika, aku permisi ke toilet sebentar ya," ujar Elsa.
"Jangan lama-lama, Elsa. Setelah ini giliran Ika," sahut Delon tanpa menoleh.
Elsa bangkit. Ia berjalan cepat menuju toilet umum, tetapi tidak masuk. Ia justru berbelok menuju lorong yang agak sepi, tempat cermin besar terpasang di dinding.
Ia berdiri di depan cermin itu, melihat pantulan dirinya. Wanita berhijab sage green dengan wajah teduh, kontras dengan wanita yang ia rasakan di dalamnya-wanita yang hancur, dikhianati takdir, dan menanggung vonis mati.
Ia menekan perutnya yang sakit. Air mata kepedihan, yang sejak tadi ia kunci rapat di mobil, akhirnya tumpah.
Air mata itu bukan karena cemburu. Air mata itu adalah luapan dari:
Keterpurukan karena ia tahu ia tidak bisa melawan Kanker ini sendirian.
Keputusasaan karena ia tidak berani berobat maksimal (kemoterapi) karena takut rahasianya terbongkar dan Delon berhenti membiayai adik-adiknya.
Elsa mengeluarkan ponselnya. Bukan untuk menghubungi Delon, melainkan membuka sebuah folder tersembunyi. Di sana ada foto hasil scan medis dan catatan dokter.
"Stadium II, memerlukan penanganan cepat."
Ia mematikan layar ponsel, air mata terus mengalir. Aku harus hidup. Aku harus bertahan. Bukan untuk Mas Delon, tapi untuk Risa dan Dani. Dua adiknya adalah satu-satunya alasan ia masih bernapas dan berakting.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Ika: Kak Elsa, sudah dipanggil. Cepat ya, Mas Delon terlihat gugup.
Elsa segera menyeka air matanya dengan tisu. Ia menarik napas dalam-dalam, memaksakan oksigen masuk ke paru-parunya. Ia menatap cermin itu sekali lagi, memasang senyum palsunya, memastikan mata sembabnya tidak terlihat.
Kembali ke peranmu, Elsa. Tuan rumah yang bahagia.
Elsa kembali dan Delon serta Ika baru saja masuk ke ruangan USG.
Elsa duduk bersama Ibu Delon, yang kini sibuk membicarakan tentang furniture bayi. Tiba-tiba, suara tawa riang Delon terdengar dari dalam ruangan.
Beberapa menit yang terasa seperti jam, pintu terbuka. Delon dan Ika keluar dengan wajah berseri-seri, wajah yang tidak pernah lagi Delon tunjukkan sepenuhnya pada Elsa.
"Alhamdulillah, Bu! Sehat!" seru Delon dengan suara bangga. "Dan... Delon junior boy! Jenis kelaminnya laki-laki!"
Delon memeluk Ika dengan erat, mencium keningnya. Ika tertawa bahagia, membalas pelukan suaminya.
Elsa menelan ludah dengan kasar. Ia melihat Delon dengan penuh kebahagiaan yang dipenuhi cinta. Semua yang ia inginkan, ia saksikan ada di depan matanya, tetapi bersama wanita lain.
Elsa segera maju. Ia memeluk Ibu Delon, "Selamat, Bu. Selamat atas calon cucu laki-laki."
Lalu ia beralih ke Ika. Ia memeluk madunya itu, memaksakan senyum tulus yang tersisa di hatinya. "Selamat, Sayang. Sehat-sehat ya, jangan nakal."
Ika membalas pelukan itu, tetapi ia segera merasakan ada yang aneh.
Ika: "Kak Elsa... kamu dingin sekali. Dan tubuhmu sedikit bergetar." Ika menarik diri, menatap mata Elsa. "Kakak benar-benar tidak apa-apa? Wajahmu agak pucat."
Elsa memalingkan wajahnya dari tatapan khawatir Ika. Tatapan tulus Ika adalah kelemahan terbesarnya. Jika Ika curiga, semua topengnya akan runtuh.
Elsa: "Aku baik-baik saja, Ika. Mungkin aku hanya terlalu terharu. Apalagi tahu jenis kelaminnya laki-laki. Sudah lama aku mengharapkan anak laki-laki di keluarga ini."
Elsa tersenyum tipis, tapi segera berbalik ke arah Delon.
Elsa: "Selamat, Mas Delon. Sekarang Mas harus benar-benar menjaga Ika ya. Elsa akan bantu sebisa mungkin."
Delon menepuk bahu Elsa dengan nada lega. "Terima kasih, Elsa. Aku tahu aku bisa mengandalkanmu."
Elsa hanya mengangguk. Perkataan Delon, "Aku bisa mengandalkanmu," terasa seperti penghargaan terakhir sebelum ia mati penghargaan karena telah berhasil menjadi istri yang penurut, ikhlas, dan kini menjadi babysitter bagi calon anak suaminya dan cinta pertamanya.
Saat mereka berjalan menuju mobil, Elsa melihat Delon dan Ika berjalan bergandengan di depan. Mereka adalah masa depan. Elsa adalah masa lalu yang harus berpura-pura baik-baik saja di masa kini.
Ia merogoh tas tangannya sekali lagi. Kali ini ia mengeluarkan pil pereda nyeri dan menelannya tanpa ragu. Penyakitnya harus tetap menjadi rahasia, terkunci rapat di balik Jendela Kaca.
Di area parkir, Delon membuka pintu mobil untuk Ika. Ibu Delon sudah masuk ke mobilnya sendiri yang dikemudikan sopirnya.
"ibu langsung pulang ya, Mas Delon. Jaga Ika baik-baik," ujar Ibu Delon sambil menutup pintu mobilnya.
Delon mengangguk. Ia menoleh pada Elsa yang masih berdiri di samping mobil, memandang kosong ke arah mobil Ibu Delon yang menjauh.
"Elsa," panggil Delon.
Elsa tersentak. Ia menoleh dan memasang senyumnya.
"Kamu langsung ikut kami pulang, kan?" tanya Delon, suaranya sedikit cemas.
"Mas Delon, sebentar," sela Ika, wajahnya menunjukkan rasa bersalah. "Kak Elsa, aku minta maaf. Tadi Ibu [Delon] bicara seperti itu, pasti Kakak merasa tidak nyaman ya?"
Elsa menggeleng pelan, meyakinkan. "Tidak, Sayang. Ucapan Ibu itu tulus. Aku mengerti, ini demi kebaikan kalian."
"Tapi aku tidak enak. Seharusnya Kakak tidak perlu repot-repot kembali ke rumah kakak. Kenapa Kakak tidak menginap lagi saja di rumah kami malam ini? Temani aku, Mas Delon pasti lebih tenang," bujuk Ika, memohon.
Elsa tahu, inilah saatnya ia harus melepaskan diri dari Delon dan Ika, dan kembali ke dunianya yang sunyi. Ia harus segera pergi sebelum efek pil pereda nyerinya hilang atau sebelum rasa sakit emosionalnya terbaca.
Elsa melirik ke arah mobil, lalu ke arah Delon.
Elsa: "Terima kasih banyak, Ika. Tapi, Mas Delon, aku rasa aku tidak bisa ikut ke rumah Ika malam ini."
Delon menaikkan alis, sedikit heran. "Kenapa, Elsa? Kan kamu bilang kamu akan tinggal di rumahmu sendiri yang kuberikan. Kenapa tidak sekalian saja pulang bersamaku?"
Elsa tersenyum, senyum yang disematkannya khusus untuk menenangkan kecurigaan Delon.
Elsa: "Mas, kan rumah kita itu [rumah yang diberikan Delon] ditinggal semalam. Mas tahu sendiri, aku tidak punya pembantu. Jika ditinggal semalam, debunya sudah pasti menumpuk. Belum lagi halaman rumahku itu harus disapu dan dibersihkan."
Ia berhenti sejenak, menoleh ke Ika. "Kalau aku tidak bersihkan hari ini, besok sudah pasti aku tidak sempat. Apalagi, rumahku kan jauh lebih sederhana dari rumah Ika, jadi harus rajin dibersihkan sendiri."
Rumahku jauh lebih sederhana. Kalimat itu ia ucapkan bukan untuk merendahkan diri, melainkan untuk mempertahankan benteng pertahanannya. Ia harus menunjukkan pada Delon bahwa ia mandiri dan sibuk mengurus diri sendiri, sehingga Delon tidak perlu khawatir dan akan terus mengirimkan biaya untuk adik-adiknya. Di balik semua itu, ia merasa cukup tahu diri dengan beban keluarga yang ia dan Delon tanggung bersama.
Ika terlihat tidak enak. "Ya ampun, Kak. Harusnya Mas Delon carikan Kakak pembantu saja. Agar Kakak tidak repot," ujar Ika, menatap Delon penuh harap.
Delon menghela napas, terlihat sedikit tidak nyaman karena Ika menyinggung masalah finansial Elsa yang ia anggap sudah beres.
Delon: "Ya sudah, Elsa. Nanti aku transfer uang lebih untukmu ya.
Ambil taksi online saja, jangan naik angkutan umum."
"Tidak perlu repot, Mas," tolak Elsa halus, menjaga harga dirinya. "Aku sudah panggil taksi. Taksi online-ku sudah datang, aku harus cepat. Kalian hati-hati ya. Sampai jumpa. Love you both!"
Elsa mengedipkan mata, melambaikan tangan yang dihiasi senyum palsu terakhirnya. Ia berbalik cepat, melangkah tegas menuju taksi yang sudah menunggu.
Saat pintu taksi tertutup, Elsa memejamkan mata. Ia bisa merasakan air mata kepedihan itu mulai merembes keluar. Ia melihat pantulan wajahnya di kaca jendela taksi jauh dari pandangan Delon dan Ika.
Mereka berjalan menuju masa depan yang cerah. Aku... aku hanya pulang ke rumahku yang sunyi, tempat Jendela Kaca yang sebenarnya berada, menungguku dengan tumpukan debu dan rahasia.
Ia membiarkan kepalanya bersandar di kaca jendela. Taksi itu membawanya menjauh dari Delon, dari Ika, dari kebahagiaan, dan menuju keheningan yang ia pertahankan dengan harga yang sangat mahal.
Rumah Elsa di Cibubur bukanlah bangunan megah yang menjulang seperti rumah Ika, melainkan rumah minimalis berlantai satu dengan nuansa putih tulang dan atap genteng. Kesan pertama: sederhana tapi hangat. Tepat di balik pagar kayu pendek, terpampang nyata hasil hobi Elsa: taman mini yang dipenuhi aneka sayuran hijau bayam, sawi, cabai dan beberapa pot bunga Anggrek dan Mawar yang mekar.
Ketika taksi online berhenti, Elsa menatap rumah itu. Rasanya seperti membuang kostum panggung setelah pertunjukan panjang. Di sinilah Jendela Kaca itu berada, memisahkan dirinya dari dunia luar.
Ia membuka gerbang sendiri. Garasi kecil di samping rumah itu terisi oleh dua aset berharga Elsa: mobil sedan berwarna merah marun yang usianya sudah lebih dari enam tahun, dan motor matik berwarna putih.
Mobil sedan itu adalah mobil pertama yang Delon berikan padanya saat Delon baru menapaki puncak kesuksesan, sebelum Delon menikahi Ika. Mobil itu berharga mati bagi Elsa; ia adalah penanda masa lalu ketika Delon masih memanggilnya 'Sayang' dan Delon hanya miliknya. Di sisi lain, motor matik itu adalah hadiah yang sarat makna pahit-hadiah ulang tahun setahun lalu, diberikan setelah tanggal lahirnya tidak lagi tercatat sebagai hari spesial di kalender Delon, yang kini lebih sibuk merayakan hari jadi dengan Ika.
Elsa membuka pintu rumah yang senyap. Keheningan langsung menyergap, seolah rumah itu menunggunya untuk kembali menanggalkan kepalsuan.
Elsa tidak langsung membersihkan rumah. Ia berjalan ke dapur.
Perutnya terasa mual hebat-efek samping obat yang ia telan di rumah sakit tadi. Ia segera menuju wastafel, memuntahkan isinya.
Selesai membersihkan diri, Elsa berjalan ke kamar mandi, mengambil botol obat Kankernya yang ia sembunyikan di kotak P3K paling atas. Ia menelan dosis berikutnya. Matanya terpejam, menahan rasa pahit dan kesadaran pahit.
Aku tidak boleh sakit. Siapa yang akan mengirimkan uang kuliah dan uang saku Risa dan Dani jika aku di rawat intensif?
Dari pada berkutat dengan keputusasaan di dalam rumah, Elsa memutuskan untuk melakukan hal yang paling membuatnya tenang: berkebun.
Ia mengambil topi lebar dan sarung tangan, lalu keluar ke taman kecilnya. Aroma tanah basah, daun mint, dan bunga-bunga segera memeluknya. Berkebun adalah terapinya, cara ia menemukan harapan yang tidak ia dapatkan di dalam pernikahan.
Ia menyiram bayam, memeriksa daun kemangi, dan memetik beberapa buah cabai. Hobi ini bukan sekadar hobi; itu adalah simbol kemandirian yang ia pertahankan. Ia jarang membeli sayuran, karena ia bisa memanennya sendiri sebuah kontras dengan Ika yang mungkin hanya perlu menggesek kartu untuk mengisi kulkas di rumah mewahnya.
Saat mencabut gulma, Elsa tiba-tiba merasa pusing dan harus berpegangan pada dinding rumah. Ia memaksa dirinya duduk di kursi kayu di teras.
Aku harus menyirami bunga Anggrek itu.
Ia menatap Anggrek yang sedang mekar indah. Anggrek ini rapuh, tapi ia tahu kapan harus mekar. Aku juga harus seperti itu. Anggrek itu membutuhkan perawatan intensif, persis seperti tubuhnya yang kini melawan Kanker, penyakit yang dirahasiakannya dari Delon.
Sore menjelang, saat Elsa sedang menyapu halaman depan, ponselnya berdering. Tertulis nama 'Delon'.
Elsa menarik napas. Pasti Delon menelepon untuk memastikan ia sudah tiba dengan selamat dan untuk mengurangi rasa bersalahnya.
Elsa: "Ya, Mas?"
Delon: "Elsa, kamu sudah sampai rumah? Sudah bersih-bersih?
Jangan terlalu capek ya. Tadi aku sudah transfer uang. Belikan makanan yang enak untukmu."
Uang lagi. Selalu uang sebagai pengganti perhatian dan kasih sayang.
Elsa: "Sudah, Mas. Terima kasih. Aku sudah menyapu dan sedang bersantai di teras. Jangan khawatirkan aku. Fokus saja pada Ika, dia pasti butuh Mas."
Delon: "Iya, Sayang... eh, Elsa. Maaf. Aku yakin Ika akan senang besok aku ajak periksa lagi, ya sudah. Kamu istirahat ya. Jangan lupa kunci pintu. Sampai jumpa."
Delon segera menutup telepon, menyadari kesalahan kecil dalam panggilannya.
Elsa meletakkan ponselnya, bibirnya membentuk senyum pahit. Panggilan 'Sayang' itu, yang sesaat hampir ditujukan padanya, kini menjadi luka lama yang digaruk kembali. Delon bahkan tidak menyadari bahwa ia baru saja menyiram luka Kanker Elsa dengan garam.
Ia memandang mobil sedan merah marun yang usang dan motor matik putihnya. Mereka adalah bukti nyata: mobil itu adalah warisan cinta, motor itu adalah hadiah tanggung jawab.
Elsa kembali menatap taman sayurnya. Hanya di sini, di antara daun-daun hijau dan bunga-bunga yang ia tanam sendiri, ia bisa merasa jujur. Ia adalah wanita yang sedang sekarat, berjuang sendirian demi masa depan orang lain.
Ia mencabut sehelai daun bayam, mengunyahnya perlahan. Ia harus bertahan. Ia harus mekar, seperti Anggreknya, bahkan di tengah kerapuhan. Karena Jendela Kaca itu harus tetap terlihat utuh dari luar.
Malam di rumah Elsa kembali diselimuti keheningan yang familiar. Ia baru saja selesai menyantap sayuran hasil kebunnya bayam dan kemangi diolah sederhana. Ia duduk di ruang tamu, laptop Delon yang ia gunakan sejak awal pernikahan berada di pangkuannya. Di layar, spreadsheet keuangan adik-adiknya terpampang jelas.
Risa, tahun terakhir SMA. Dani, tahun pertama SMP.
Kebutuhan mereka, terutama Risa yang akan masuk kuliah, membengkak. Elsa menghitung ulang nominal transfer bulanan dari Delon. Transfer itu besar, cukup untuk biaya hidup mereka di kampung dan uang sekolah. Namun, ia juga menghitung biaya pengobatannya.
Obat pereda nyeri dan suplemen yang ia beli secara tunai sudah menguras tabungan pribadinya yang tersisa. Jika ia harus menjalani kemoterapi atau operasi besar, dana Delon untuk adik-adiknya pasti tidak akan cukup.
Mas Delon akan punya anak laki-laki. Pikiran itu terasa seperti palu yang memukul kepalanya. Tentu saja, fokus finansial Delon akan bergeser ke Ika dan Delon Junior. Elsa tidak ingin memberatkan Delon dengan penyakitnya, apalagi memohon tambahan dana.
Elsa: Aku harus mandiri. Aku harus punya dana darurat sendiri.
Pencarian di Depan Laptop
Elsa menggerakkan kursornya, mencari di internet: "Pekerjaan Work From Home Fleksibel", "Lowongan Virtual Assistant Tanpa Tatap Muka", "Pekerjaan Rahasia Ibu Rumah Tangga".
Ia memutuskan bahwa peran sebagai Virtual Assistant (VA) adalah yang paling masuk akal. Pekerjaan ini memerlukan manajemen waktu yang baik, keahlian komunikasi, dan kemampuan mengatur jadwal semua yang ia lakukan secara alami selama bertahun-tahun sebagai istri Delon.
Ia menemukan sebuah situs agensi Virtual Assistant yang melayani pebisnis high-end. Elsa menyusun resume online dengan hati-hati. Ia tidak bisa mencantumkan statusnya sebagai Istri Delon, jadi ia hanya mencantumkan pengalaman mengatur keuangan rumah tangga skala besar dan event organizing (merujuk pada acara sosial Delon).
Saat Elsa akan mengirim resume itu, ia merasa cemas dan ragu.
Apakah aku bisa melakukannya di tengah rasa sakit ini? Bagaimana jika efek Kanker membuatku tidak bisa fokus?
Ia menutup laptop, berjalan ke teras depan. Ia menyentuh mobil sedan merah marunnya, lalu motor matik putihnya.
Mobil ini adalah cinta yang pudar. Motor ini adalah kompensasi.
Ia memikirkan ucapan Ibu Delon yang menyuruhnya mengalah.
Ucapan itu memberinya motivasi baru. Ia harus menyiapkan diri untuk skenario terburuk: Jika suatu hari Delon memutuskan hubungan dengannya demi fokus pada Ika, ia harus punya bekal untuk merawat dirinya sendiri hingga akhir.
Elsa masuk kembali kedalam dan kembali ke laptop. Ia membuka kembali agensi VA itu. Ada tawaran pekerjaan dari seorang CEO start-up teknologi yang sering bepergian dan butuh asisten untuk mengatur jadwal, korespondensi, dan penelitian.
Monolog Batin: Ini sempurna. Tidak ada tatap muka. Bayarannya besar. Aku harus ambil ini.
Ia segera mengirimkan aplikasi lamaran, menutup laptopnya, dan menyembunyikannya di laci meja belajar. Kepalsuan Elsa kini meluas: ia bukan hanya memalsukan kebahagiaan, tetapi juga memalsukan dirinya sebagai wanita karir yang sehat dan siap bekerja.
Malam itu, Elsa tidur dengan harapan baru. Bukan harapan untuk sembuh, melainkan harapan untuk bertahan hidup dengan martabat dan memastikan adik-adiknya tidak terbebani oleh kematiannya.