"Bodoh! Apa saja yang kau lakukan hingga saham kita anjlok begini, hah! Harusnya kau kukirim ke kota Han untuk menangani cabang kita di sana! Percuma kau di sini! Mataku sakit melihat dirimu tak becus kerja!"
Suara lantang dan keras datang dari dalam ruangan bertulis 'CEO OU GANG GRUP', Jackson Liu. Seorang pria berumur 28 tahun, flamboyan, pemimpin yang tak becus dalam bekerja dan selalu bermain mata dengan para pegawai cantik nan seksi di kantornya.
"A-Ayah, ini bukan salahku. Sungguh, aku telah berusaha semampuku untuk menaikkan saham kita lagi. Tapi-tapi ...,"
"Tapi karena kebodohanmu yang terus membuat ulah karena wanita-wanita malam itu membuat Ou Gang Grup yang harus menerima dampaknya! Apa kau tak berpikir sampai sana, hah! Apa kau punya otak, hah? Tak bisakah otakmu kau gunakan untuk sekali saja bertindak lurus dan benar!?" Suara lantang itu lagi-lagi keluar dari dalam ruangan Jackson.
"Lalu Ayah mau aku bagaimana?" tanya Jackson lirih.
"Aku yang akan mengambil kembali kepemimpinan Ou Gang Grup! Dan kau ...," Pria tua yang ada di hadapan Jackson melirik tajam dan menyipit, "kau akan kukirim untuk mengurus cabang kita di Kota Han. Tapi bukan sebagai CEO, melainkan manager lapangan!"
"A-APA? APA AYAH GILA? BA-BAGAIMANA MUNGKIN AKU-AKU ..," Jackson langsung terkejut mendengar ucapan sang ayah.
"Kenapa tak mungkin? Perusahaan ini aku yang mendirikan, aku yang tahu seluk beluk tempat ini! Apa hakmu mengaturku, hah!" kesal pria tua bernama Hendrik Ou Gang itu menguarkan emosinya terhadap putra semata wayangnya. "Jika kau tak mau terima, bisa saja, tapi kau tak akan dapat warisan sepeser pun jika aku telah mati nanti!"
Jackson, sang putra pengusaha taipan itu tak lagi dapat menyembunyikan kekesalan dan keterkejutannya. Dia mengepalkan tangannya dan menatap sang ayah dengan tajam. "Kau tak suka? Kenapa melihatku begitu, hah? Dasar bocah tengik!" umpat sang Ayah.
"Lalu, jika aku menikah, apa Ayah akan memberiku warisan?" tanya Jackson tanpa basa-basi.
PLAK!!!
Sebuah tamparan keras dan kencang mendarat di wajah mulus pria tampan itu. Dengan napas tersengal menahan emosi dan amarah, Hendrik sang ayah berkata, "APA SALAHKU HINGGA PUNYA ANAK BODOH SEPERTIMU!? KAU HIDUP TAK ADA GUNANYA, JIKA MATI PUN APA JUGA MASIH AKAN MENYUSAHKAN AYAHMU, HAH!!?"
"Hah ... hah ... hah ... hahahha," Jackson melepaskan tawanya dengan kencang hingga terdengar ke pintu luar ruangannya.
"Apa yang sedang kau tertawakan?" Hendrik menatap putranya sinis dan menyipit.
"Apa Ayah merasa menyesal memiliki putra sepertiku, hah? Apa Ayah kini baru menyadari kesalahan wanita yang kupanggil dengan 'Mama'? Jika Ayah menyesal memiliki putra sepertiku, kenapa Ayah tak menyuruhnya menggugurkan diriku sewaktu di dalam kandungan? Kenapa Ayah biarkan wanita itu melahirkanku? Kenapa baru sekarang Ayah menyesali keberadaanku?
PLAK ... PLAK ... PLAK!
Tamparan demi tamparan Jackson terima dari tangan sang ayah hingga dia tersungkur ke tanah dan mengeluarkan darah segar dari hidungnya.
"Dasar anak durhaka! Apa kau tak tahu apa itu ucapan terima kasih, hah! Aku telah memberimu tempat tinggal, memberimu makan, memberimu pendidikan yang baik hingga jabatan di perusahaan ini! Dan kau masih berani memperolok ibumu? Yah, seharusnya aku menyuruhnya untuk menggugurkanmu saja ketika aku tahu dia hamil akan dirimu, tapi apa kau tahu bagaimana mamamu mengorbankan nyawanya, hah!? Apa kau tahu apa yang ia pertaruhkan demi melindungi dan mempertahankanmu!? Jackson Liu, kau tak pantas menyandang marga Ou Gang! Aku--aku pastikan kau tak akan mendapatkan sepeser pun warisan dari keluarga Ou Gang! Tidak hingga kau bisa merubah sifatmu dan kelakuan busukmu!" Sang Ayah betul-betul telah kehilangan kesabarannya.
"Samanta ... Samanta!" panggil Hendrik sambil berteriak dari dalam ruangan CEO.
"I-iya, Tuan Hendrik. Ada yang bisa saya bantu?" tanya sang asisten pribadi Jackson sambil menunduk.
"Cepat buatkan surat rekomendasi pengantar bagi Tuan Jackson Liu ke kantor cabang kita di Kota Han. Hari ini juga transfer dia ke sana dan segera kabarkan pada direktur cabang di sana!" perintah Hendrik.
"Baik, Tuan. Akan segera saya laksanakan."
"Jadi Ayah benar-benar membuangku?" Jackson melihat sang ayah yang membelakanginya.
"Aku hanya 'membersihkan' sampah yang seharusnya sudah kubersihkan sejak dulu."
"Aku pasti akan selalu mengingat ini, Ayah! Aku tak akan pernah melupakan hari ini! Ayah yang telah membuangku dan merendahkan harga diriku, aku pasti tak akan melupakannya!"
Suara bantingan pintu begitu menggema ke seluruh ruangan. Hendrik hanya menghela napas dan menundukkan kepala, "Emily, apa kau marah padaku? Apa kau akan menyalahkanku karena sikapku pada anak kita? Maafkan aku karena tak bisa membesarkan dan mendidiknya dengan benar ... maafkan aku karena dulu aku terlalu larut akan pekerjaanku hingga menelantarkanmu, maafkan aku, Emily ... sungguh, maafkan aku." Diam-diam, Hendrik menangis mendudukkan tubuhnya di atas karpet coklat gelap ruangan yang dulu ditempati oleh Jackson. Dia kemudian mengambil kalung bertalikan perak dan liontin berisi sebuah foto wanita cantik nan anggun dengan alis mata tebal menyatu serta hidung mancung.
"Emily ... Emily ... Emily, bawa aku bersamamu, Emily ...," ucap Hendrik terus memegang liontin itu dengan erat.
****
Tok ... tok ... tok
Hendrik cepat-cepat menghapus air matanya dan berdiri merapikan jasnya.
"Masuk!" perintahnya.
"Pak, ini surat rekomendasi yang Bapak minta." Samanta memberikan sepucuk surat ber-amplop warna putih dan ber-stempel Ou Gang Grup.
"Apa kau sudah memberitahukan pada Direktur Choi tentang hal ini?"
"Sudah, Pak. Saya sudah mengirim email pada sekretarisnya dan langsung dibalas oleh Direktur Choi sendiri, Pak."
"Hmmm, bagus. Berikan ini pada anak bodoh itu! Dan Samanta, JANGAN SEKALI PUN DIREKTUR CHOI MEMBERIKAN FASILITAS KANTOR ATAU MEMPERLAKUKANNYA ISTIMEWA, JIKA HAL ITU SAMPAI TERJADI MAKA AKU SENDIRI YANG AKAN TURUN TANGAN! Katakan itu pada Direktur Choi." Perintah Hendrik sembari memberikan surat rekomendasi kepindahan bagi sang putra, Jackson Liu.
"Baik, Pak. Akan saya email kembali Direktur Choi, permisi Pak."
"Kita lihat bagaimana kau bisa akan menghadapi dunia yang sebenarnya, Jackson Liu!" ucap Hendrik sembari melihat foto sang putra yang tengah digendong oleh mendiang sang istri.
"Dasar tua bangka! Apa dia pikir aku akan kehabisan akal jika dia mendepakku dari Ou Gang Grup? Jangan remehkan Jackson Liu!" pongah Jackson sambil mengeluarkan ponsel dari balik jasnya dan menelepon seseorang.
"Tuan Jackson," panggil Samanta dari belakang.
"Nanti kuhubungi lagi. Ada apa?" tanya Jackson dingin dan sinis.
"I-ini, Tuan Hendrik menyuruh saya memberikan ini pada Anda." Samanta memberikan amplop putih ber-stempel Ou Gang Grup.
"Heh, jadi rupanya dia sungguh-sungguh ingin mendepakku, hah? Tunggu dan lihat saja pembalasanku, tua bangka!" Jackson mengambil amplop itu dengan kasar dari tangan Samanta dan pergi meninggalkan Ou Gang Grup.
'Hari ini kau boleh memandangku rendah, tapi besok ... kau akan berlutut di depanku dan memohon agar aku kembali padamu, Hendrik Ou!'
"Silakan, Kak ...," Jackson menuangkan secangkir teh ke dalam gelas seorang laki-laki berpakaian jas serba hitam tinggi tegap dengan ditemani beberapa orang wanita serta beberapa pria bertato naga di sekitar lehernya.
"Jadi, apa yang kau inginkan?" tanya pria yang bernama Edison, seorang mafia dan juga pemimpin perusahaan konstruksi di Kota Luo, EC, Company menyunggingkan senyumnya.
"Kakak, bisakah kau membantuku melenyapkan Hendrik Ou Gang?" tanyanya serius.
"Kenapa aku harus meletakkan tanganku pada orang itu?" tanya balik Edison santai.
"Orang tua bangka itu telah mengusirku dari perusahaan karena laporan yang ia terima hingga menyebabkan saham Ou Gang Grup jatuh dan mengalami kerugian!"
"Heh, itu kan salahmu! Kenapa kau limpahkan padaku dan lagipula apa untungnya bagiku?" tanya Edison menyeringai.
"Jika aku berhasil kembali ke Ou gang Grup, aku akan memberikan tanah merah di Kota Chin. Kau tahu apa maksudku, bukan?" kali ini Jackson yang menyunggingkan senyumnya dan menatap Edison percaya diri.
"Benarkah? Kau tidak sedang menipuku bukan?"
"Mana berani aku menipu Kakak? Aku akan langsung berikan wilayah itu pada Kakak, gratis! Karena aku tahu Kakak sudah sejak lama menginginkannya bukan? Aku bisa mendapatkannya untukmu asal Kakak membantuku, bagaimana?"
Berpikir sejenak, Edison tiba-tiba merangkul Jackson dan mendekatkan wajahnya, "Kau tahu apa yang kusuka darimu? Wajah tampan bagai malaikat namun hati gelap bagai iblis! Itulah yang kusuka darimu, bedebah keparat pintar!" kelakar Edison dengan lebar.
Jackson hanya tersenyum tipis sembari melihat ekspresi puas dari wajah Edison, seorang pria yang ditakuti akan kekejaman dan kebengisannya, tak peduli pria atau wanita, dia tak segan menghabisi lawannya demi kepuasannya membunuh dan ekspansi besar-besaran untuk membangun komplek permukiman elit serta rumah lotus di wilayah tanah merah yang merupakan wilayah sengketa antara Ou Gang Grup dan perusahaan milik saingan EC, Company, GOC, Company.
"Jadi, bagaimana, Kak? Kakak bersedia membantuku bukan?"Jackson menunjukkan kepiawaiannya bermain drama.
"Hmmm, katakan saja apa yang harus anak buahku lakukan?" tanya Edison sambil menunjuk ke arah anak buahnya.
"Mudah saja!"
****
"Selamat jalan, Pak. Hati-hati." Ucap Samanta sambil membungkukkan badannya ketika Hendrik akan masuk ke mobilnya.
"Jalan!" perintah Hendrik pada supirnya.
Hendrik, pria dengan wajah klimis serta rambut yang selalu tercium wangi gel khas laki-laki itu membuka sedikit kaca jendela mobilnya.
"Angin sore hari memang yang paling menenangkan." Ucapnya sambil memandangi langit yang mulai menjingga.
Ckitttttt!!! Brak!!!
"Apa itu?!" seru Hendrik terkejut.
"S-sepertinya kita baru saja menabrak seseorang, Tuan," ucap sang sopir panik dan gugup.
"Cepat periksa!" perintah Hendrik.
"Baik, Tuan."
Sang sopir akhirnya keluar dan memeriksa suara layaknya tabrakan tadi. Namun ternyata tak ada apa pun di depan mobil yang mereka tumpangi.
"Jangan bergerak atau pisau ini akan langsung menusuk ginjalmu!" ancam seorang pria mengenakan topeng yang menutupi seluruh wajahnya.
"Siapa kamu?!"
"Jangan banyak tanya! Suruh bosmu keluar dari mobil!" perintah pria itu membalikkan badannya ke arah Hendrik.
Hendrik melihat sang supir pribadinya terlihat aneh seraya memberi tanda dengan menggerak-gerakkan nola matanya seakan memberi tahu sedang terjadi sesuatu. Dengan sigap, Hendrik langsung mengunci pintu mobilnya dan pindah ke tempat kemudi. Di saat dia akan menyalakan mesin mobilnya, tiba-tiba dari sisi kanannya, kaca mobil mewah miliknya langsung dipecahkan oleh pria bertopeng dengan cukup kencang hingga pecahannya mengenai wajah Hendrik.
"Siapa kalian!?" seru Hendrik sembari melawan pria bertopeng itu dari dalam mobilnya.
"Keluar! Cepat keluar tua bangka keparat!" ucap pria bertopeng itu sambil menarik kerah jas yang dikenakannya.
"Lepaskan Tuanku kalian bedebah jahanam!" Sang supir kemudian berusaha melawan pria yang menahannya, namun sayang tubuh sang pria bertopeng itu lebih besar dan kuat darinya, dan akhirnya sebuah tusukan pisau mengarah tepat di ginjalnya hingga membuat supir pribadi Hendrik menghembuskan napas terakhirnya di tempat kejadian.
Hendrik yang melihat sang supir setianya meninggal sia-sia langsung keluar dari mobil dan menatap kedua pria bertopeng di hadapannya dengan tatapan tajam.
"Siapa kalian? Katakan!" seru Hendrik.
"Angkat tanganmu jika kau masih ingin hidup!" ucap salah satu dari mereka.
"Well ... welll ... well, lihat siapa ini."
Suara bariton dan tepuk tangan terdengar telat di hadapan Hendrik.
"Kau, Edison?" Hendrik terkejut melihat Edison berjalan ke arahnya sambil diapit lima orang pria bertubuh tinggi-tegap.
"Jadi ini ulahmu, hah Edison? Apa yang kau inginkan?" tanya Hendrik masih dengan kedua tangan terangkat ke atas.
"Kalian ini bagaimana, sih!"
Plak! Plak!
Tamparan cukup keras dan kencang tepat mendarat di pipi kedua pria yang tengah menahan Hendrik.
"Apa kalian tak pernah diajarkan oleh orang tua kalian jika kita harus menghormati orang TUA. Kenapa malah kalian siksa? Dasar bodoh! Tak berguna!" Ucap Edison menampar kembali dua pria itu.
"Anda, baik-baik saja, Tuan Hendrik? Maafkan perilaku anak buah saya." Ucap Edison tersenyum lebar.
Hendrik hanya menatap tajam dan sinis ke arah Edison. "Apa maumu?" tanyanya dengan bariton dalam.
"Apa maksudmu, Tuan Hendrik? Bukankah aku sudah menyelamatkan nyawa Anda? Apakah tak ada ucapan terima kasih atau setidaknya menerima uluran tanganku, Tuan Hendrik?" tanya Edison sedikit memiringkan kepalanya.
"Bedebah keparat kau, Edison! Kau pikir aku akan mengucapkan terima kasih padamu setelah apa yang kau lakukan padaku dan supirku?"
"Supir Anda, Tuan Hendrik?" Edison langsung melirik ke arah sang supir Hendrik tergeletak bersimbah darah.
"Oh, ya ampun! Siapa yang tega melakukan hal ini? Malang sekali nasibnya. Apa kau ... kau ... kau ... atau ... pasti kau yang melakukannya!" tunjuk Edison pada semua anak buahnya.
"Cukup Edison! Hentikan basa-basimu! Aku muak dengan wajah iblismu! Cepat katakan apa maumu!" seru Hendrik sambil berteriak.
Edison yang mulai hilang kesabaran langsung mencekik leher Hendrik dan memojokkan tubuhnya ke mobil miliknya.
"Keparat tua! Dasar tua bangka tak tahu terima kasih! Aku sudah menolongmu! Kenapa kau tak berterima kasih padaku, hah! Kenapa! Kenapa!" Edison semakin lama semakin kuat mencekik Hendrik hingga wajahnya memerah dan hampir kehabisan oksigen. Tangannya dengan kuat memegang tangan Edison namun apa daya, semakin lama dia semakin tak kuat hingga ....
"Lepaskan ayahku!"
Jackson dengan langkah tegapnya berjalan menghampiri Edison beserta anak buahnya yang tengah menyandera sang ayah.
"J-Jackson? A-apa yang k--kau lakukan di si-sini?" tanya Hendrik sembari melirik ke arah sang putra.
"Tenanglah Ayah, aku akan menyelamatkanmu. Bersabarlah," ucap Jackson menenangkan.
"Heh, jadi kau putra tua bangka ini? Baguslah kau datang tepat pada waktunya! Terlambat dikit saja, nyawa tua bangka ini akan segera kukirim bertemu dengan Hades!" Tawa Edison lebar.
"Siapa kau? Kenapa kau menyerang ayahku?" tanya Jackson pelan-pelan bicara pada Edison.
"Jika kau pernah mendengar nama Black Dragon, kau pasti tahu tentangku! Bukan begitu, Pak Tua?" Lirik Edison.
"Cih, grup mafia yang sering berbuat onar dan--dan kerusuhan, juga ...,"
Buagh!!
Pukulan keras dan telak mengarah tepat di wajah Hendrik. Jackson yang melihat sang ayah kena pukul tersenyum tipis dan berpura-pura simpati dengan berteriak.
"He-hentikan! Jangan kau pukul lagi ayahku! Hentikan! Hentikan?" Jackson maju dan mendorong Edison kencang hingga dia tersungkur.
"Bos, Anda tak apa-apa?" tanya salah satu anak buahnya.
"Bedebah, bajingan! Akan kuhajar kau!" Anak buah Edison lainnya tengah bersiap akan menyerang Jackson yang tengah menolong Hendrik.
"Hentikan! Kalian semua, MUNDUR! Jangan ikut campur!" seru Edison bangun dan langsung balas menghajar Jackson bertubi-tubi.
"Hentikan! Hentikan! Jangan pukul anakku lagi! Hentikan!" Hendrik menelungkupkan tubuhnya dan menjadi tameng bagi Jackson.
Tanpa sadar, darah segar menetes dari mulut Hendrik. "A-Ayah!" pekik Jackson memegangi sang ayah.
"K-kau, b-b-bagaimana k-kau, Jackson?" tanya Hendrik terbatuk sambil mengeluarkan darah.
"Ayah, jangan bicara lagi! Kenapa Ayah lakukan hal ini? Kenapa Ayah ...,"
"Kar-karena Ayah t-tetaplah seorang Ayah. Biarpun Ayah berkata benci padamu, tapi sebenarnya ti-ti ...,'
"Sudah, Ayah. Jangan bicara lagi!" ucap Jackson memeluk sang ayah.
"Kalian semua mengaku laki-laki, tapi kenapa beraninya main keroyokan, hah!"
Suara lantang dari seseorang yang tak diketahui fisiknya mengejutkan Edison serta anak buahnya.
"Siapa kau?!"
"Heh, beraninya kalian para lelaki main keroyokan! Apa kalian pikir aku tak lihat semuanya, hah!"
Suara lantang seorang wanita mengalihkan perhatian Edison beserta anak buahnya.
"Siapa kau? Tunjukkan dirimu!" tantang Edison.
Suara sepatu dengan bunyi nyaring memecah keheningan di tempat itu. Seorang wanita dengan sepatu boots hitam semata kaki, celana jeans hitam ketat serta kaos putih yang diikat hingga memperlihatkan pusar sang wanita membuat Edison dan anak buahnya tak bisa mengedipkan mata mereka, tak terkecuali Jackson yang melihat sekilas wanita itu dari balik tubuh sang ayah yang tengah terkapar.
"Nona cantik, siapa namamu? Kenapa kau bisa ada di tempat seperti ini?" tanya Edison dengan senyum mengembang.
"Tak perlu senyum padaku! Jijik aku melihat senyum laki-laki berumur seperti Anda!" seloroh wanita nerambut coklat dan kuncir kuda itu.
"Wanita sialan! Apa maumu?" tanya Edison mulai kesal.
"Lepaskan mereka berdua atau ...,"
"Atau apa? Kau akan melawan kami? Ckckckck, apa kau tak sayang dengan tubuhmu yang indah juga wajah cantikmu?" Edison mengumbar senyum iblisnya.
"Cih, persetan dengan semua omong kosongmu!" Wanita itu melirik ke arah Jackson dan Hendrik yang mulai terkulai.
"Cepat bebaskan mereka atau nasib sang Ketua Black Dragon yang akan jadi taruhannya."
"Kau sedang mengancamku? Hahahaha ...," Tawa Edison seketika menguar. "Nona cantik, apa kau tahu siapa aku, hah? Apa kau sadar sedang berhadapan dengan siapa?"
"Apa peduliku? Aku tak peduli siapa kau! Jika kau berbuat ulah di wilayahku, maka aku tak akan segan akan menghabisimu!" Ancam wanita itu dengan delikkan tajam matanya.
"Tuan, sepertinya wanita itu penguasa tempat ini. Apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya salah satu anak buahnya.
"Bodoh! Apa kau percaya hanya dengan sekali gertak! Jika dia penguasa tempat ini, maka ia pasti akan membawa anak buahnya. Tapi dia hanya seorang diri! Pakai otakmu!" kesal Edison.
"M-maaf, Tuan."
"Nona, daripada membicarakan sesuatu yang tak jelas, lebih baik kau berikan namamu dan dengan senang hati akan kulepaskan mereka asal ...," Edison mulai menyeringai.
"Asal? Asal apa?" tanya wanita itu menatap datar namun dingin.
"Temani aku semalam saja"
Ucapan Edison pun langsung disambut gelak tawa riuh.
"Hmm, boleh saja. Tapi dengan satu syarat."
"Syarat? Kau berani mengajukan syarat padaku?" tanya Edison agak kesal.
"Kenapa? Apa pimpinan Black Dragon takut akan satu syarat dari seorang wanita lemah macam aku?" selorohnya.
"Brengsek! Jangan pandang remeh aku, kau wanita sialan! Katakan, apa syaratmu!" Edison mulai panas
Wanita itu lagi-lagi melihat ke arah Jackson dan Hendrik. Dia melihat jam tangan di tangannya pukul 12.30.
'Aku harus cepat-cepat, jika tidak nyawa orang tua itu pasti tak akan terselamatkan.'
"Hei, wanita! Apa syaratmu?" teriak Edison.
Wanita itu kemudian mengambil dua buah pil dari dalam tasnya. Keduanya sama-sama warna putih dengan bentuk yang sama. "Salah satu pil yang ada di tanganku ini adalah obat jenis valium. Tentu Ketua Black Dragon tahu apa itu valium, bukan?"
"Aku tahu, lalu?"
"Dan di tanganku yang lain adalah obat untuk membawamu merasakan kenikmatan layaknya surga dunia."
"Mak-sudmu ...,"
"Aphrodisiac!" tegas wanita itu.
Edison mulai menunjukkan ketertarikan akan syarat yang diberikan wanita itu.
"Bagaimana caramu bermain, wahai Nona cantik?"
"Tuan, apa Anda yakin ini bukan jebakan? Apa tidak apa-apa?" tanya salah anak buah Edison.
"Diam kau, bodoh! Tahu apa kau! Aku suka permainannya, wanita ini beda dari wanita lainnya!" tegas Edison.
'Apa yang ingin dilakukan wanita itu? Ah, si tua bangka keparat Hendrik ini menghalangi penglihatanku!' keluh Jackson ingin menyingkirkan tubuh sang ayah yang masih mengeluarkan darah dari mulutnya.
"Ketua pilihlah salah satu dari kedua pil ini! Apa yang Ketua pilih aku akan ... meminumnya!" tegas wanita itu.
"Apa kau yakin, Nona cantik?" tanya Edison sambil tertawa lebar.
"Kurasa Ketua yang sekarang tak yakin. Atau Ketua ta ... kut?" sindir wanita itu.
"Aku paling tak suka dibilang PEMBOHONG! BAIK, MARI KITA MULAI DENGAN PERMAINAN KONYOLMU ITU!" Edison berjalan menghampiri wanita tersebut dan langsung memegang kedua tangannya.
Dengan teliti, Edison memeriksa masing-masing pil yang memiliki bentuk dan warna sama persis. Selama Edison memeriksa pil-pil itu, selama itu pula sang wanita melihat ke arah Jackson beserta ayahnya. Tak banyak waktu lagi! Aku harus segera cepat!' gumamnya.
"Bagaimana, Ketua? Apa Anda sudah yakin mana yang akan Anda berikan pada saya?" tanya wanita itu mengurai senyum.
'Sial! Kedua pil ini sama saja! Aku berharap aku bisa menikmati tiap lekuk tubuh indahnya!' gumam Edison, tak lama kemudian ia mengambil pil dari tangan kanan sang wanita dan memberikan padanya.
"Ini."
"Anda yakin?"
"Apa kau meragukan kemampuan dan instingku, cantik?"
"Baiklah, aku akan meminum pil yang Anda berikan padaku di depan Anda sebagai bukti atas ucapanku!"
Tak lama, wanita cantik itu pun meminum pil yang diberikan oleh Edison. Beberapa menit telah berlalu, tak ada reaksi yang ditunjukkan oleh pil yang dipilih oleh Ketua Black Dragon.
"Bagaimana, Ketua? Ternyata pil yang Anda berikan adalah pil dengan jenis valium. Berarti Anda harus melupakan fantasi dan imajinasi liar Anda tentang saya." Senyum wanita itu dan berjalan melewati Edison.
"Tak bisa!"
"Lepas! Lepaskan aku!" Ucap wanita itu menarik paksa tangannya yang dipegang oleh Edison secara paksa.
"Aku, Edison Wu, Ketua Black Dragon selalu mendapatkan apa yang aku mau! Aku tak peduli dengan pil itu! Aku sudah memegang ekormu, bagaimana mungkin kau akan lepas dariku, hah?" kelakar Edison.
Tiba-tiba kilatan blitz menerpa mata Edison hingga ia melepaskan tangannya dari sang wanita.
"Apa itu?" kejut Edison.
"Hah, bukankah sudah kukatakan tadi, Tuan Edison Wu. Jika Anda berani macam-macam denganku, maka aku akan menghancurkan hidup Anda." Ucap wanita itu melipat tangannya ke depan.
"Wanita sialan! Kalian, cari sampai dapat orang yang memotret wajahku! Jangan harap kalian bisa kembali jika belum berhasil menemukannya! Dan kau wanita gila sialan! Pergi dan bawa dua orang tak berguna itu! Sungguh sial membantu mereka!" Edison beserta beberapa anak buahnya segera meninggalkan tempat itu dan menyisakan hanya beberapa anak buahnya.
"Misi selesai! Kau boleh pergi sekarang."
Wanita itu mematikan ponselnya dan berjalan menghampiri Jackson serta Hendrik. Namun tiba-tiba ....
'Tubuhku ... pa-nas? Apa jangan-jangan pria itu memberiku aphrodisiac?' gumam wanita itu mulai merasakan hawa panas di sekitar tubuhnya.
Kaos putih transparan yang melekat di tubuhnya mulai mengeluarkan keringat banyak hingga menampakkan pakaian dalamnya. "Kalian tak apa-apa?" tanya wanita itu dengan napas dan suara tersengal.
"Aku tak apa-apa. Tapi ayahku ...,"
Wanita itu kemudian berusaha membaringkan tubuh Hendrik yang tertelungkup di atas tanah yang sedikit basah dan memberikan ruang pada Jackson untuk bernapas. Dengan napas tersengal, wanita itu mengambil ponsel yang ia letakkan di dalam kantong celana jeans ketatnya, namun sayang, pengaruh aphrodisiac menyebar begitu cepat hingga ia tak memiliki tenaga untuk mengambilnya.
"T-Tuan, cepat panggil ambulan," tukas wanita itu memasang wajah penuh gairah.
Jackson yang mengetahui keadaan sang wanita mendekati dan dengan sengaja menyentuh sedikit tubuhnya, seketika wanita itu tak lagi dapat menahan keinginannya untuk berbuat hal yang tak seharusnya dilakukan.
Jackson yang memang seorang playboy dan penggila wanita cantik tentu saja tak melewatkan kesempatan ini! Mengacuhkan tubuh sang ayah yang tergeletak di tanah dengan napas yang mulai tak teratur, sementara dia melampiaskan nafsunya pada wanita yang akan menolongnya. Sang wanita yang terlanjur termakan oleh permainannya sendiri tak sadar harus merelakan tubuhnya digerayangi dan dinikmati oleh pria yang seharusnya ia tolong. Dengan penuh gairah keduanya pun melampiaskan nafsunya tak jauh dari tubuh sang ayah tergeletak.
"Haruskah aku berkeluh atau malah bersyukur atas kebodohan yang dimiliki oleh Edison Wu, si Ketua Black Dragon itu? Tapi wanita ini, dia benar-benar tipeku! Aku tak akan mungkin melepasnya. Mungkin dia akan berguna." Ucap Jackson mulai melucuti pakaian yang dikenakan wanita itu dan menikmati jengkal demi jengkal tubuh sang wanita tanpa rasa bersalah.
Sementara itu, tubuh Hendrik yang masih tergeletak di tanah, tiba-tiba sudah tak ada lagi. Seorang pria dengan topi bertuliskan huruf 'M' membawanya ke sebuah mobil sedan warna hitam dan netranya menyelasar sekitar mencari sang wanita hingga ia melihat semak-semak yang bergerak padahal hari itu sedang tak berangin. Penasaran, pria itu berjalan menghampiri dan seketika matanya terbelalak melihat apa yang sedang terjadi.
"KAU!!"