Bab 1

“Hey bangun! Buatkan saya sarapan! Tidur saja kerjaan kamu! Tidak berguna!”

Perkataan pedas seperti itu bagi Pelita adalah hal biasa, ibarat kata itu sudah menjadi makanannya hari-hari. Telinganya sudah terbiasa mendengar perkataan pedas yang keluar dari mulut seorang lelaki yang tak lain dan tak bukan adalah suaminya sendiri.

Dia adalah Bramasta Prayoga , lelaki yang seharusnya menjadi Kakak iparnya.

“Hey bangun! Apa kau tuli Pelita Abadisyara!” bentakan itu kembali masuk ke gendang telinga Pelita. Dengan perlahan wanita cantik berbadan mungil itu membangunkan tubuhnya yang pagi ini terasa berat, entah mengapa sedari semalam badannya serasa pegal dan berat sekali, biasanya jika seperti itu pertanda ia akan terserang demam.

“Sebentar Bang, beri aku waktu lima menit saja, aku lagi gak enak badan.” Jawab Pelita suara serak dan  pandangan mata yang sayu serta wajah yang pucat. Kepalanya benar-benar berat saat ini, jangankan untuk berjalan, untuk sekedar bangkit dari baringnya saja sangat berat sekali rasanya, searasa tubuhnya di tindih beban ratusan kilo.

“Alasan! Kamu lupa sama tugas kamu! Cepat bangun! Saya harus menjenguk Anggun sekarang!”

Pelita memejamkan matanya sejenak. Angun lagi Anggun lagi, di mata Bram memang hanya Anggun yang ada, tidak ada Pelita.Dan itu sudah hal yang biasa, Bram memang selalu bersama Anggun. Semenjak kecelakaan yang menimpa Anggun satu tahun yang lalu, wanita itu mengalami kelumpuhan, dan selama ini ia hanya berdiam diri di rumah saja.

Dengan perlahan Pelita bangkit dan brjalan keluar dari kamarnya. Iya, hanya kamarnya karena dia dan Bram selama ini tidur di kamar yang terpisah. Sudah satu tahun lamanya mereka menikah tidak pernah Bram menyentuhnya barang sedikitpun, jangankan memberikan nafkah batin, sekedar bertukar saliva saja mereka tidak pernah. Jangankan itu, berbicara dengan Pelita saja Bram bawaannya selalu marah, meski sebenarnya tidak ada yang seharusnya membuatnya marah.

Di rumah cukup bsear itu, Pelita mengurusnya sendirian, Bram sengaja tidak menyewa sasisten rumah tangga, karena bagi dia Pelita adalah asiten rumah tangga, jika dia menyewa asisten rumah tangga, lantas apa tugas wanita itu? Begitu pikirnya.

Pelita memutuskan untuk memasak nasi goreng saja pagi ini, rasanya dia tidak sanggup jika harus memasak yang lain, karena tubuhnya yang kurang sehat hari ini.

Suara langkah kaki mendekat, siapa lagi jika bukan langkah kaki Bram, karena di rumah itu hanya ada mereka berdua saja.

“Kopi saya mana?”

“Sebentar Bang, ini Pelita lagi goreng sosis, takutnya kalau di tinggal malah gosong.”Sahut Pelita masih sibuk dengan kegiatannya. Sementara Bram sudah duduk manis di salah satu kursi meja makan , yang selama ini selalu ia duduki.

“Cepatlah!Anggun sudah menunggu saya!”

Pelita hanya bisa menarik nafas dalam. Sebenarnya dia sudah cukup jengah dengan pernikahannya, yang seperti in. Dia merasa dirinya tidak di anggap, dan hanya di jadikan pembantu oleh lelaki itu.Karena yang ada di mata dan di hati Bram hanyalah sang Kakak tiri saja. Anggun, Anggun dan Anggun.

Lima menit berlalu, Pelita datang dengan nasi goreng di tangannya, lalu meletakkannya di atas meja makan, setelahnya kembali untuk membuatkan kopi untuk sang suami.

“Silahkan Bang ,” ujar Pelita sembari meletakkan secangkir kopi hitam di depan sang suami.

Setelah meletakkan kopi, Pelita menjauh, ia ingin kembali ke kamarnya dan beristirahat karena tubuhnya benar-benar serasa tidak enak sekali. Nmaun baru dua langkah ia melangkah pekikkan dari sang uami menghentikan langkahnya.

“Apa-apaan ini! kenapa panas sekali!”

Pelita menutup matanya sejenak, lalu memutar badannya ke arah sang suami. “Itu baru di bikin, jadi sudah pasti panas Bang.” Sahut Pelita dengan malas. Ia sudah terlalu muak dengan drama aneh sang suami, yang selalu mencari-cari kesalahnnya yang sebenarnya tidak harus di permasalahkan.

Bram berdehem sebentar, lalu  kembali meletakkan koipinya. Ia menatap Pelita yang kembali  berbalik badan hendak melangkah pergi.

“Mau kemana kamu!!?” tanyanya.

“Pelita mau ke kamar Bang.” Jawab Pelita kembali menoleh .

“Siapa yang mengijinkan kamu ke kamar? Temani saya sarapan! Kamu sudah tau jika saya tidak bisa makan sendiri!”

Pelita mengepalkan tangannya kuat, ingin sekali ia menerjang wajah tampan sang suami yang sialanya hanya bisa ia bayangkan saja. Dengan gontai Pelita kembali bejalan menuju meja makan, duduk di kursi seberang Bram , kursi yang sama juga setiap hari ia duduki saat makan.

“Makan! Saya tidak mau kena getahnya, nanti dikira Ayah kamu saya tidak memberikan kamu makan!” titah Bram.

Plelita melirik tidak minat ke nasi goreng yang tadi ia buat. “Pelita nanti saja, masih tidak selera.” Jawab Pelita sembari bersandar di kursi.

“Kamu itu kalau di kasih tau apa susahnya menurut! Oh saya tau! Kamu pasti sengaja ‘kan? Supaya saya kena marah, dan di katain suami yang tidak becus?”

Pelita berdecih di dalam hati. ‘Faktanya ‘kan emang seperti itu, dasar lelaki aneh.’Batin Pelita.

“Apa kamu tuli! saya bilang makan!”

Malas mendnegar ocehan dari lelaki di hadapanmya itu, akhirnya Pelita lun mengambil piring dan mengisinya sdikit nasi goreng. Melihat Pelita yang hanya mengabil sedikit, mata Bram melotot.

“Kamu sengaja  makan dikit! biar apa? Biar kurus? Dan biar saya di kira gak kasih makan kamu yang banyak!”

Pelita memutar kedua bola mataya malas, tidak bisakah lelaki di hadapannya itu berfikiraan positif tentangnya? “Pelita  lagi gak nafsu makan Bang.” Sahut Pelita.

“Saya tidak mau tau! Kamu harus makan yang banyak!” Bram berucap sembari mengambilkan nasi goreng lagi dan menaruhnya  di atas piring Pelita.

“Bang udah  Bang.” Cegah Pelita  saat melihat Bram kembali hendak mengambilkan lagi.

“Habiskan!” titah Bram  tegas.

Lagi-lagi Pelita hanya bisa menggerutu di dalam hati.

Usai dengan sarapannya, Bram bangkit tanpa berpamitan ia langsung pergi begitu saja meninggaakan Pelita yang sibuk menghabiskan sarapannya.

‘Cih! Resiko punya suami ghoib emang gini.’ Batin Pelita, kembali meneruskan makannya, dia tidak berniat untuk mengantarkan sang suami pergi. Toh buat apa? Suamianya itu akan pergi kerumahnya, ralat. Rumah Ayahnya, di mana Anggun sang Kakak tiri tinggal. Angun dan Pelita bukanlah saudara kandung, Ibu Angun_Anatasya dulu menikah dengan Abdi_Ayah Pelita masing-masing mebawa anak satu. Abdi mebawa Pelita, sedangkan Anatasya membawa Anggun.

**

Seperti biasa, Bram akan singgah sebentar ke sebuah rumah yang manjadi tempat tinggal sang wanita pujaan, yaitu Anggun.

Ting! Tong!

Bram menekan bel rumah, sedangkan satu tangannya membawa sebuah buket bunga kesukaan Anggun, yaitu bunga mawar.

“Eh Den Bram,” sapa Mbok Yan, asisten rumah tangga di kediaman Abdi.

“Pagi Mbok, saya ingin menemui Anggun.” Ucap Bram seperti biasa.

“Oh iya Den silahkan masuk, Non Anggun masih di dalam kamarnya.” Persilahkan Mbok Yan dengan ramah. Dia sudah biasa dengan Bram lantaran Bram yang hampir setiap hari datang ke sana. Mbok Yan sendiri merasa kasihan pada Nonanya yang satu, yaitu Pelita. Nonanya itu hanya menjadi figuran saja bagi Bram, jika saja Mbok Yan adalah orang tua Pelita, mungkin sudah sedari dulu ia menyruh anaknya berpisah saja. Sayagnaya Mbok Yan tidak bisa berbuat apa-apa untuk Nonanya itu.

‘Kasihan Non Pelita, dia di sana sendiri, sedangkan di sini suaminya malah mendatangi Kakak tirinya.’ Batin Mbok Yan.

“Papa Abdi dan Mama  Ana kemana Mbok? Tumben gak ada?” tanya Bram sembari berjalan masuk ke dalam rumah.

“Oh itu Den, tadi malam Tuan dan Nyonya  pergi ke Bandung, ada urusan bisnis katanya” Jawab Mbok Yan seadanya.

“Jadi Anggun sendiri?”

“Ya engga, kan ada Embok.”

“Saya langsung ke kamar Anggun saja Mbok.” Ucap Bram dan langsung berjalan menuju kamar sang pujaan hati. Mbok Yan lagi-lagi hanya bisa membatin. Ingin sekali dia meneriaki lelaki tamapan itu seperti ini. ‘Den! Aden itu suamianya Non Pelita bukan suaminya Non Anggun.’ Namun apa daya, Mbok Yan tidak seberani  itu untuk berucap.

“Kuat sekali Non Pelita menghadapi cobaannya.” Lirih Mbok Yan mentap punggung Bram yang berjalan menjauh pergi ke arah kamar Anggun.

Tok! Tok! Tok!

Bram mengetuk pintu pelan, lalu membukanya perlahan.

“Mbok Anggun sudah bilang Anggun gak mau sarapan!” Ucap seorang wanita yang kini tengah bergelung di dalam selimut.

Bram tersnyum mendengar itu, pasti Anggun mengira dia adalah Mbok Yan.

Perlahan  Bram  berjalan mendekat ke arah ranjang .

“Kenapa gak mau sarapan hm?” tayanya lembut.

Hal itu sontak saja membuat Anggun membuka selimut tebalnya.

“Sayang!” pekiknya girang.

Bab 2

Bram tersenyum, senyum yang tidak pernah ia tunjukan pada istrinya sendiri tapi selalu ia tunjukan pada wanita lain yang notabenenya Kakak iparnya sendiri.

Bram dengan sigap membantu  Anggun untuk duduk dan bersandar di dashboard ranjangnya.

“Kenapa gak mau makan hm?” tanya Bram lembut.

“Malas, aku mau makan tapi kamu yang suapin Mas.”Manja Anggun seperti biasa.

“Tapi aku harus ke kantor sebentar lagi, kamu makannya di suap sama Mbok aja ya?” bujuk Bram, memang benar jika sebentar lagi dia harus menghadiri sebuah  rapat  penting yang tidak bisa ia tinggal atau di wakilkan. Andai saja tidak ada urusan pekerjaan , maka dengan senang hati dia akan melakukannya. Bahkan tanpa Anggun harus meminta sekalipun.

“Jadi kamu gak mau suapin aku Mas?” tanya Anggun dengan wajah merajukanya.

“ Bukan gak mau, tapi aku harus ke kantor.” Jawab Bram selembut mungkin dengan tangan membelai sayang surai hitam Anggun.

“Kamu udah gak sayang sama kau Mas? Kamu udah sayang sama istri kamu itu? Iya?!”

Selalu seperti itu, Bram memutar bola matanya jengah. “Sayang bukan seperti itu, tapi aku harus ke kantor karena ada pertemuan penting yang harus aku temuin.”

Anggun diam dengan tangan berlipat di dada. Sedetik  kemudain ia  melirik ke arah Bram. “Tapi janji nanti pulang dari kantor harus ke sini, temenin aku, Ayah sama Mama lagi ke Bandung, aku gak mau sendirian. Terus kalau bisa makan siangnya sama aku ya?” Rengeknya manja.

Bram diam, namun setelahnya dia langsung mengangguk megiyakan permintaan dari Anggun. “Yaudah aku pergi dulu,ini bunganya buat kamu, sarapannya jangan lupa.”

Cup!

Bram mengecup sayang kening Anggun, lalu setelahnya pergi.

***

Sementara Pelita saat ini tengah mengigil di atas kasur, badannya benar-benar panas bak bara api. Setelah beberes rumah, tubuhnya tiba-tiba saja lesu tak bertenaga. Gigi atas dan bawahnya saat ini sampai bergemerutuk akibat getaran mulutnya.

‘Bunda Pelita dingin.’ Racaunya dalam hati.

Andai saja Bundanya masih ada, sudah pasti saat ini dia di perhatikan, saat dia sakit seperti ini pasti Bundanya yang paling khawatir dan berusaha melakukan apapun  untuk mengobatinya.Namun sekarang apa? Tidak ada yang peduli akan dirinya sakit atau tidak.

Air bening mulai menetes menuruni pipinya yang mulus,  jika sedang sakit seperti ini Pelita memang akan lebih sensitive, dia akan menjadi wanita lemah yang selalu berteman denga air mata.

“Pelita kangen sama Bunda, Bunda kenapa perginya cepat sekali, padahal Pelita masih ingin sama Bunda. Bunda tau tidak, sekarang Pelita sakit dan tidak ada yang peduli sama Pelita, suami Pelita pergi menemui Kak Anggun, Pelita cape Bunda.Bunda bisa tidak jemput saja Pelita di sini, rasaya Pelita sudah tidak kuat.” Lirihnya dengan mata yang sayu yang perlahan mulai menutup.

***

Drrrt! Drrrt!

Tepat jam dua  belas siang, Pelita terbangun lantaran suara getaran ponselnya yang berada di meja nakas. Dengan sedikit susah payah ia mebangunkan dirinya, berusaha untuk duduk meski di rasa kepalanya seakan ingin pecah saat itu juga.

Di raihnya benda pipih yang masih setia bergetar.

“Halo,” sahut Pelita dengan suara lemah.

“Sedang apa kamu! Antarkan berkas saya yang tertnggal di kamar saya.” Ucap seseorang di seberang sana, yang sudah pasti adalah suamianya sendiri.

Pelita memijat keningnya yang terasa pusing. “Bang maaf, tapi Pelita lagi sakit sekarang, bergerak saja rasanya Pelita ga-“

“Alasan! Bilang saja kamu memng tidak mau!” potong Bram dengan nada tinggi di seberang telpon sana.

“Bukan gitu Bang, tapi Pelita benaran lagi sakit, ini aja Pelita pusing banget.”

“Jangan banyak alasan Pelita! Cepat antarkan sekarang juga!”

Tut!

Pelita menghela nafas pasarah. Dengan menarik nafas dalam Pelita bangkit perlahan untuk bersiap, ia harus menuruti semua perkataan suaminya itu jika iangin permasalahan tidak panjang.

Pelita memoles ajahnya dengan make-up agar wajahnya tidak terlihat pucat, beruntung rasa peningnya sedikit menghilang meski tidak sepenuhnya hilang, tapi setidaknya berkurang.

Setelah selesai bersiap, Pelita keluar dari kamarnya beralih menuju kamar sang suami yang berada tepat di samping kamarnya. Dengan perlahan ia masuk ke dalam kamar Bram, saat masuk ke dalam kamar lelaki itu bau wangi maskulin menyeruak masuk ke indra penciuman Pelita. Meski sudah sering masuk ke dalam kamar itu tetap saja rasanya sangat asing bagi Pelita, dia memang sering masuk ke dalam kamar itu, namun hanya sekedar untuk membersihkan saja.

Lagi-lagi pandangan Pelita tertuju pada seuah figura foto yang tertempel di dinding, foto itu adalah foto Anggun. Foto yang tidak pernah di lepas oleh Bram dari dinding kamarnya. Setiap kali Pelita masuk ke dalam kamar sang suami, pandangannya pasti langsung tertuju pada figura foto tersebut, pasalnya figura foto tersebut berukuran besar.

‘Bunda, emangnya boleh seperti ini? Bunda coba tanyain samaTuhan, emangnya boleh ya, seperti ini, nikahnya sama siapa tapi foto siapa yang di pajang.’ Lirih Pelita di dalam hati.

Jujur saja, hatimya selalu perih jika mengingat dirinya  hanya lah istri pengganti saja. Ingin berontak, tapi rasanya sudah sangat telat sekali, toh semuanya sudah berjalan selama setahun.

Pelita selalu berandai. Andai saja dulu dia mempunyai keberanian untuk membantah semua perkataan sang Ayah dan Mama tirinya. Andai saja dulu dia punya keberanian untuk berkata tidak, andai saja dulu dia tidak penah merasa kasihan pada sang Ayah yang terdesak, harus memilih antara dirinya atau perusahaan akan bangkkrut yang artinya kehidupan mereka semua akan hancur. Andai saja dulu dia memiliki keberanian untuk kabur dari pernikahn konyol yang  menjadikan hidupnya seperti sekarag ini. Tapi lagi-lagi semuanya hanya lah perandaian yang tidak pernah akan terjadi. Nyatanya sudah satu tahun lamanya dia menjadi seorang istri dari lelaki tampan bernama Bramasta Prayoga. Padahal umurnya masih sangat belia, bahkan dia sendiri masih duduk di bangku universitas. Pelita merasa kehidupannya di renggut paksa, tapi dia bisa apa? Dia tidak bisa apa-apa selain menerima. Entah sampai kapan ia bisa bertahan seperti itu.

Setelah mengambil sebuah berkas dari meja kerja Bram, dengan cepat Pelita melangkahkan kakinya keluar, rasanya sangat tidak nyaman sekali berada di dalam kamar tersebut.

Baru Pelita hendak mengambil ponsel dari dalam tas untuk memesan taxi online, sebuah mobil tiba-tiba masuk ke halaman rumah.

Tin! Tin!

Mobil itu membunyikan klaksonnya. Lalu stop tepat di hadapan teras rumah di mana Pelita tengah berdiri.

“Bang Rafli,” sapa Pelita tersnyum melihat Rafli keluar dari mobilnya. Rafli adalah sahabat sekaligus asisten pribadi Bram.

“Kamu mau kemana Ta?” tanya Rafli melihat Pelita dengan penampilan rapinya.

Kening Pelita berkerut, tadinya dia berfikir jika Rafli datang karena di suruh Bram untuk mengambil berkas, ternyata dugaannya salah.  “Pelita di suruh anterin berkas ini ke Bang Bram. “Sahut Pelita apa adaya.

“Oh gitu yaudah ayo bareng aja  kita kantor. “

“Bang gak bisa Pelita titip ke Bang Rafli saja ini berkasanya?” tanya Pelita.

“Aku sih gak masalah Ta, tapi yang jadi masalah itu suami kamu, kamu mau di terkam harimau gila itu?”

Pelita berfikir sejenak, benar juga apa kata Rafli barusan. “Ya udah Pelita bareng Bang Rafli saja ya ke kantornya Bang Bram.”

“Iya Ayo!” Rafli membukakan pintu mobil untuk Pelita. Sesautu yang tidak  perah di lakukan suaminya sendiri, tapi malah di lakukan oleh lelaki lain.

**

“Giaman dengan hbungan kamu sama Bram  Ta?” tanya Rafli tiba-tiba.

Pelita tersnyum kecil. “Tidak gimana-gimana Bang, masih sama. Jalan di tempat.” Jawabnya.

Rafli menengok sekilas kearah Plita yang duduk di sampingnya. Ada rasa iba pada wanita muda dan cantik itu. Rafli tahu benar bagaimana  kehidupan rumah tangga Pelita dan Bram.

‘Kasihan sekali kamu Ta.’ Batinnya mengiba.

“Bang Rafli tadi mau kemana dan dari mana?” tanya Pelita mengalihkan pembicaraan.

“Aku tadi dari nemui  client di luar, niatnya mau singgah numpang makan siang dulu rumah kalian ehehe.” Jawab Rafli dengan cengiran manisnya.

Pelita ikut tertawa. “Tapi maaf banget loh Bang hari ini sebenarnya Pelita gak masak.”

Kening Rafli berkerut, pasalnya tumben sekali Pelita tidak masak. Setahu dia, Pelita tidak perah absen memasak. “Kok tumben Ta?”

Pelita tersnyum malu. “Soalnya Pelita lagi gak enak badan Bang.”

Sontak leher Rafli menoleh ke arah Pelita. “Kamu sakit?!”  tanyanya dengan wajah panik.

Bab 3

Di perusahaan, Bram berkali-kali menengok jam yang melingkar indah di pergelangan tangannya. Sudah hampir setengah jam dari ia menelpon Pelita, seharusnya Pelita sudah sampai di perusahaan saat ini, namun sampai detik ini ia tak juga melihat batang hidung sang istri.

“Cih! Kemana dia!” Dengan perasaan dongkol, Bram merih jasnya yang tersampir di kursi kebesarannya lalu memakainya dengan sedikit kasar, tak lupa meraih kunci mobilnya dan kaluar dari ruangan. Wajahnya terlihat begitu datar, lelaki itu berjalan melewati banyak karyawan yang bersiap untuk makan siang, karena saat ini sudah waktunya istirahat makan siang.

Langkahnya yang lebar terlihat begitu tegap di mata setiap yang melihat.Bahkan tak sedikit para karyawan ketakutan saat melihat sang majikan berjalan di hadapan mereka.

Nmaun langkah Bram seketika terhenti tepat di loby saat matanya menangkap  sosok yang di tunggu-tunggu tengah keluar dari mbbil Rafli.

Semakin memerah saja wajah Bram saat melihat keduanya, dengan langkah lebar ia berjalan mendekat.

“Dari mana saja?!” tanyanya sarkas pada Pelita.

Pelita terlonjak kaget mendapati Bram tepat di hadapannya saat ini. “Ini Bang berkasnya.” Alih-alih menjawab Pelita memilih untuk menyerahkan berkas yang di minta oleh Bram.

“Saya tanya! Kamu dari mana?! Kenapa lama sekali.” Tanya Bram pelan namun dengan penuh penekanan tanpa menyambut uluran berkas yang di berikan oleh Pelita.

“Dari rumah Bang, jalan sedikit macet soalnya bertepatan jam makan siang.” Sahut Pelita.

“Iya Bram, jalan macet.” Sahut Rafli menimpali.

Pandangan Bram beralih kearah asisten sekaligus sahabtanya itu. “Dani kau dari mana? Kenapa bisa sama dia?”

“Aku tadinya mau singgah numpag makan gratis, eh taunya dia ,mau pergi ke perusahaan, yaudah sekalian aja bareng.” Sahut Rafli santai.

“Bang ini berkasnya.” Pelita lagi-lagi menyodorkan berkas yang di bawa.

Bram meraih sedikit kasar berkas tersebut. “Ikut saya!” ajaknya datar.

Kening Pelita mengkerut. “Kemana Bang, Pelita mau langsung pulang saja.” Tolak Pelita lemah.

Mata Bram memicing tajam.  “Saya bilang ikut saya Pelita!”

Pelita akhirnya hanya bisa mengangguk sembari menghembsukan nafas pasrah. Sedangkan Rafli diam-diam memperhatikan sepasang suami istri itu. Terbesit rasa kasihan melihat Pelita yang di perlakukan seperti itu oleh sang sahabat, Rafli jadi teringat mendiang adiknya yang telah meninggal karena penyakit kanker.

“Bang Rafli, terimakasih ya.” Ucap Pelita sebelum melangkah  mengiringi sang suami yang sudah berjalan lebih dulu masuk ke dalam gedung besar.

“Oke Ta, santai aja.”

Pelita mengiringi Bram yang berjalan di hadapannya, seisi kantor memang sudah tau jika Pelita adalah istri dari Bram, karena dulu waktu pernikahan di adakan sangat meriah dan besar-besaran.

Hingga tiba di ruangan Bram, kepala Pelita kembali terasa pening. Namun masih ia coba untuk bertahan meski rasanya sangat berat sekali.

“Sampai kapan kau akan berdiri di situ?!” Suara tegas Bram mengalihkan perhatian Pelita.

Dengan ribuan bintang di kepalanya Pelita mengangkat pelan hingga matanya bersitubruk degan mata Bram yang mentapnya dengan tatapan tajam. Pelita dengan cepat berjalan masuk ke dalam ruangan Bram, tak lupa menutup rapat kembali pintu. Pelita dengan cepat duduk di sofa, lalu memijat keningnya sendiri, persetan dia di anggap tidak sopan, saat ini kepalanya benar-benar berat, jika lama-lama berdiri khawatir dia akan pingsan.

Melihat Pelita yang seperti itu kening Bram berkerut heran. ‘Ada apa dengannya?’ tanyanya membatin.

Bram terus menatap Pelita yang sibuk memijat keningnya sendiri. “Ada apa?” akhirnya dua kata itu keluar dar mulut lelaki itu.

Pelita menoleh sebentar. “Kepala Pelita pusing sekali Bang.” Sahut Pelita apa adanya.

Bram menelisik keadaan Pelita. ‘Sepertinya dia sungguh sakit, tidak mungkin dia berbohong, wajahnya saja pucat sekali.’ Lagi-lagi Bram membatin, tadinya dia berfikir jika Pelita haya bersandiwara, namun setelah melihat wajah pucat pasi Pelita, pikirannya itu menghilang, dia percaya jika Pelita memang benar-benar sakit.

Bram keluar dari ruangannya tanpa berpamitan pada Pelita.

Tak lama ia kembali lagi dengan segelas air hangat di tangannya.

“Minumlah, saya tidak ingin karyawan saya tau punya istri lemah dan penyakitan.” Perkataan menusuk itu menjatuhkan segala ekspetasi Pelita, tadinya dia berfikir jika sang suami sudah mulai membaik dengan membawakannya air Minum sendiri, padahal dia bisa saja menyuruh office Boy/girl mengambilkan air minum. Namun, semua pikiran Pelita seketika terjun bebas setelah mendengar ucapan Bram barusan. Dia sadar jika semua yang di lakukan Bram pasti untuk nama baiknya, lelaki itu tidak mau di cap sebagai suami buruk oleh karyawannya.

Sakit? Tantu saja, hati wanita mana yang tidak sakit? Tapi sepertinya hati Pelita sudah mulai kebal akan semua perkataan tajam dan manyakitkan dari sosok suaminya itu.

Setelah meletakan segelas air hangat itu, Bram berajak menuju kursi kebesarannya.

Tok! Tok! Tok!

Suara pintu diketuk.

“Masuk!” suruh Bram  yang telah duduk nyaman di kursinya. Dan masuklah Rafli dengan senyuman manis di wajahnya.

“Sudah makan siang?” tanya Rafli  yang masuk.

“Belum.” Sahut Bram.

Rafli menatap Pelita yang duduk di sofa. “Ada apa Ta? Kamu baik-baik saja?” tanya Rafli mendekat, dan langsung meletakan punggung tanganya di kening Pelita.  “Astaga badan kamu panas Ta.” Panik Rafli saat merasa panas di punggung tangannya.

Pelita tersnyum kecil, sembari menjauhkan tangan Rafli dari keningnya.“Nanti juga bakal hilang kok Bang.”

“Enggak, kamu harus ke rumah sakit, ayo Abang anterin.” Ajak Rafli menarik tangan Pelita untuk berdiri.

“Gak usah Bang Rafli, Pelita gak papa, ini nanti dia bakal reda sendiri kok.”

“Ta tap-“

“Kau tidak dengar? Dia bilang tidak apa-apa, tidak usah terlalu berlebihan, lebih baik kau keluar.” Sergah Bram dari kursinya, sedari tadi dia memperhatikan keduanya.

“Bro, istrimu lagi sakit ini, seharusnya kamu bawa dia ke rumah sakit, bagaimana kalau dia  kenapa-napa.” Ucap Rafli pada Bram.

Bram memutar kedua bola matanya mlaas, sembari bersandar di kursinya. “Apa kau tidak dengar apa yang dia katakan? Dia tidak apa-apa.”

“Tapi ini badannya panas Bram.”

“Dia tidak akan mati hanya karena demam biasa.”

“Bram –“

“Udah Bang Rafli , Pelita gak apa-apa, tidak usah di perpanjang, nanti Pelita beli obat di apotek, jadi tidak perlu ke rumah sakit.” Potong Pelita, ia merasa semakin pusing mendengar perdebatan antara dua lelaki itu.

“Apa kau sudah makan siang?” tanya Rafli dengan suara lemah. Pelita menggelengkan kealanya pelan.

“Tunggu sebentar, aku pesan ‘kan makanan, kamu mau apa Ta?” tanya Rafli sembari mengeluarkan gawainya dari saku jas.

“Emm terserah saja Bang.”

“Mana ada makanan terserah Ta.”

Pelita terkekeh pelan, “Samain aja sama Bang Rafli.” Rafli menganggukkan kepalanya, lalu menoleh ke arah Bram. “Kamu mau sekalian?” tanya Rafli.

“Hm, samakan saja.”

Rafli mengangguk lalu memesan dari gawainya.

“Tunggu sebentar.” Ujar Rafli pada Pelita lalu setelahnya lelaki itu beranjak pergi dari ruangan Bram. Hingga kini hanya tersisa Pelita  dan Bram saja di ruangan tersebut. Dan suasana pun menjadi canggung, Pelita sampai heran sendiri. Sebenarnya suamianya itu Rafli apa Bram? Mengapa rasanya lebih canggung saat bersama dengan Bram, berbeda halnya bila bersama Rafli, Pelita akan merasa lebih santai jika bersama Rafli, mugkin karena Rafli yanh selalu baik padanya.

Pelita diam sembari memijat kembali pelipisnya yang sudah jauh lebih baik rasanya dari seblumnya.

“Jangan terlalu dekat dengan Rafli!!!”

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED