Langit sore itu berwarna kelabu, seakan menandai awal dari kehancuran besar yang segera terjadi. Di dalam kediaman megah keluarga Blackwood, suara dentingan kaca dan langkah kaki terdengar menggema di aula yang luas. Soren Blackwood, CEO perusahaan ternama yang terkenal dengan reputasi dinginnya, duduk di ruang kerja sambil menatap tajam layar laptopnya. Laporan keuangan terpampang jelas di depan mata, tetapi pikirannya melayang jauh. Ada sesuatu yang mengusik-sesuatu yang membuat rahangnya mengeras dan matanya semakin tajam.
"Vivienne," gumamnya pelan, nama itu terasa seperti racun di lidahnya.
Ia baru saja menerima pesan anonim berisi foto-foto istrinya bersama pria lain. Tidak sembarang pria, tapi saudaranya sendiri, Damian Blackwood. Foto-foto itu terlalu jelas untuk disangkal. Senyuman Vivienne, tatapan intens Damian-semuanya berbicara tentang sesuatu yang lebih dari sekadar hubungan keluarga.
Pintu ruang kerja terbuka perlahan. "Tuan Blackwood, nyonya Vivienne menunggu di ruang makan," kata salah satu pelayan dengan nada hati-hati.
Soren mengangguk, menyembunyikan kemarahan di balik wajah datarnya. "Aku akan segera ke sana," jawabnya dingin. Begitu pintu tertutup, ia mengepalkan tangannya. Tangannya gemetar, bukan karena takut, tapi karena amarah yang hampir tak terbendung.
Di ruang makan, Vivienne duduk dengan anggun, mengenakan gaun berwarna merah marun yang menonjolkan kecantikannya. Senyumnya lebar, seperti tidak ada yang salah.
"Kau terlambat, sayang," katanya manis saat Soren akhirnya masuk.
Soren hanya menatapnya tajam tanpa berkata apa-apa. Ia menarik kursi dan duduk di hadapannya, menatap wanita yang dulu ia pikir adalah segalanya. Tapi sekarang, setiap senyuman Vivienne terlihat seperti penghinaan.
"Ada yang ingin kubahas," kata Soren akhirnya, suaranya rendah namun tajam.
"Oh? Apa itu?" Vivienne memiringkan kepalanya, berpura-pura tidak tahu.
Soren menyandarkan tubuhnya ke kursi, matanya menembus langsung ke dalam jiwa wanita itu. "Aku menerima pesan hari ini. Foto-foto yang sangat... menarik," katanya sambil membuka ponselnya dan menunjukkan salah satu gambar ke wajah Vivienne.
Wajah Vivienne pucat seketika. "Soren... ini tidak seperti yang kau pikirkan," katanya tergagap, suaranya goyah.
"Tidak seperti yang kupikirkan?" Soren menyeringai dingin. "Lalu apa ini, Vivienne? Pertemuan bisnis? Diskusi keluarga?"
Vivienne mencoba meraih ponsel itu, tapi Soren menariknya menjauh. "Jangan berpikir untuk berbohong lagi," katanya dengan nada penuh ancaman. "Aku tahu semuanya."
"Soren, kumohon, biarkan aku menjelaskan!" Suara Vivienne kini terdengar panik. Tapi Soren sudah memutuskan. Ia berdiri, menatap wanita itu dengan rasa jijik.
"Kau menghancurkan kepercayaan, Vivienne. Mulai sekarang, aku yang akan bermain," katanya dingin sebelum pergi meninggalkan ruangan.
Vivienne duduk membeku di kursinya. Ia tahu Soren bukan tipe pria yang mudah dikhianati tanpa balas dendam. Bibirnya gemetar saat ia memikirkan apa yang akan terjadi. Tetapi di balik ketakutannya, ada pikiran lain yang mulai tumbuh-sebuah rencana untuk menyelamatkan dirinya sendiri dari kehancuran yang ia buat.
Sementara itu, di tempat lain, Kira sedang sibuk dengan pekerjaannya di sebuah toko kecil di pinggir kota. Dia tidak pernah tahu bahwa hidupnya akan berubah sepenuhnya dalam hitungan hari-bahwa ia akan menjadi bagian dari permainan dendam yang tidak pernah ia bayangkan.
Kira menggulung lengan bajunya dengan terburu-buru, matanya terfokus pada mesin kasir yang menunggu untuk diselesaikan. Hidupnya sederhana-penuh rutinitas tanpa drama, jauh dari kemewahan yang hanya dapat dilihatnya di televisi. Ia lebih suka seperti itu, lebih nyaman dengan dunia kecilnya yang tenang. Tetapi, hari itu, sesuatu yang tidak terduga akan menghancurkan kedamaian yang ia kenal.
Di luar, suara mobil yang melaju kencang memasuki area parkir toko. Kira hanya melirik sekilas, mengira itu adalah pelanggan biasa. Namun, langkah kaki yang cepat dan berat yang terdengar segera diikuti oleh suara pintu yang terbuka dan tertutup dengan keras membuatnya menoleh.
Seorang pria mengenakan jas gelap dan dasi hitam, tampak seperti sosok yang tidak akan pernah singgah di tempat seperti ini. Wajahnya tegas dan dingin, hampir tidak ada ekspresi di sana. Namun, matanya-matanya yang tajam-terpaku pada Kira seolah ia adalah target yang jelas.
"Anda Kira, bukan?" Suaranya seperti es, dingin dan tanpa perasaan.
Kira berdiri, merasa sedikit cemas dengan sikap pria itu. "Ya, saya Kira. Ada yang bisa saya bantu?"
Pria itu memperhatikannya sebentar, matanya menganalisis setiap detail tubuhnya, setiap gerakannya. Seperti sedang menilai sesuatu. "Aku datang untuk mencari seseorang," jawabnya datar.
"Siapa?" Kira bertanya dengan hati-hati.
"Seseorang yang sangat mirip denganmu. Namanya Vivienne," jawabnya, suaranya masih tanpa emosi.
Kira merasakan darahnya berhenti sejenak. "Vivienne? Saya-saya tidak tahu siapa itu."
Pria itu tidak langsung merespons. Sebaliknya, ia mendekat, menatapnya dengan intensitas yang mengganggu. "Mungkin kau tidak tahu siapa dia. Tapi dia tahu siapa kau. Kamu berdua... sangat mirip."
Kira bisa merasakan jantungnya berdebar lebih cepat. "Apa yang kamu maksud?" suaranya mulai gemetar, berusaha untuk tetap tenang.
Pria itu mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan gambar. Gambar seorang wanita dengan rambut pirang dan wajah sempurna-itu adalah Vivienne, tapi juga bisa jadi Kira. Keduanya memiliki ciri-ciri yang hampir sama. Tidak hanya wajah, tetapi cara mereka bergerak, cara mereka berdiri.
"Apakah kamu tahu apa yang sedang terjadi, Kira?" Pria itu melangkah lebih dekat. "Vivienne telah mengkhianati orang yang sangat berbahaya. Dan kamu, tanpa sadar, terjebak dalam permainan ini."
Kira mundur selangkah, tidak tahu harus berkata apa. "Apa yang kamu inginkan dari saya?"
"Aku ingin kau membantu kami menemukan Vivienne. Dia mengkhianati pria yang sangat berkuasa, dan sekarang dia bersembunyi. Tapi kau, Kira... kau mungkin bisa membantu kami menemukannya." Pria itu menjelaskan dengan penuh determinasi.
Kira merasa dunia seakan berputar. Kehidupannya yang damai dan sederhana kini terancam. "Saya tidak tahu apa yang terjadi di antara kalian," jawabnya dengan gemetar. "Saya hanya-saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan."
Pria itu menatapnya lebih lama lagi, seolah mencoba membaca pikirannya. Lalu, ia menghela napas dan merubah sikapnya menjadi lebih lembut. "Kira, kau tidak mengerti. Kami membutuhkanmu. Vivienne ada di luar sana, dan dia akan melibatkan banyak orang dalam permainannya. Jangan sampai kamu menjadi korban berikutnya."
Kira menggigit bibir bawahnya, matanya penuh kebingungan. Dia hanya seorang wanita biasa, terjebak dalam jaringan yang jauh lebih besar dari yang pernah dia bayangkan. Namun, di matanya, pria itu melihat keteguhan yang tidak bisa diabaikan.
Beberapa hari kemudian, peristiwa yang mengubah segalanya terjadi. Sebuah kecelakaan tragis menghantam Soren Blackwood, CEO yang selama ini terkenal dengan kekuatannya yang hampir tak terbendung. Mobil yang dikendarainya terguling dalam sebuah insiden yang sangat mencurigakan. Berita mengenai kecelakaan itu menyebar dengan cepat-dan, seperti yang diharapkan, Soren selamat, namun terluka parah. Kakinya lumpuh.
Namun, apa yang tidak diketahui oleh banyak orang adalah bahwa Soren tidak hanya selamat-ia juga memiliki rencana. Rencana untuk membalas pengkhianatan yang telah diterimanya. Dan yang lebih mengejutkan, Soren kini memiliki alasan baru untuk mengincar Kira, karena dalam kecelakaan itu, Kira yang kini mengambil alih peran yang semula ditujukan untuk Vivienne.
Soren tidak pernah tertipu begitu saja. Ia tahu ada lebih banyak lagi yang tersembunyi di balik semua ini. Tapi yang membuatnya semakin bingung-mungkin, justru ia mulai terperangkap dalam perasaan yang tidak ia duga. Apakah ia jatuh cinta pada Kira? Atau adakah sesuatu yang lebih gelap yang menariknya?
Kira menatap kaca mobil yang berkilau di depan matanya, namun bayangan yang tampak di sana bukanlah dirinya, melainkan gambaran hidup yang begitu jauh dari kenyamanan yang ia kenal. Dalam beberapa hari terakhir, hidupnya terbalik, dan setiap langkah yang diambilnya kini dipenuhi rasa cemas yang tidak pernah ia alami sebelumnya.
Soren Blackwood-nama itu sudah menjadi mimpi buruk yang tak bisa ia lepaskan. Tidak hanya karena kekuasaannya yang menakutkan, tetapi juga karena cara pandangnya yang tajam, seolah bisa menembus ke dalam jiwa seseorang. Kira merasa dirinya berada di tengah permainan yang jauh lebih besar dari yang ia kira, terjebak antara pengkhianatan, kecelakaan yang mengubah nasib, dan rahasia yang masih terpendam di dalam kegelapan.
Hari itu, ia dipanggil ke mansion milik Soren, tempat yang mewah namun terasa dingin dan penuh ancaman. Kira merasa gugup, meskipun ia sudah mencoba meyakinkan dirinya bahwa ia tidak memiliki pilihan lain. Saat ia melangkah masuk ke ruang tamu yang luas itu, pandangannya langsung terfokus pada sosok pria yang duduk di kursi roda, wajahnya tetap tampak seperti batu, namun matanya menyimpan api yang sulit untuk diabaikan.
"Soren," Kira memulai, berusaha untuk tidak menunjukkan kegelisahannya. "Apa yang kamu inginkan dariku?"
Soren mengangkat alisnya, seakan memperhatikan setiap kata yang keluar dari mulutnya. "Kira, kamu harus tahu bahwa aku tidak sedang bermain-main. Aku tahu bahwa kamu bukan Vivienne, tapi kamu sangat mirip dengannya. Dan aku tidak akan berhenti sampai aku mendapatkan jawaban yang aku cari."
Kira menelan ludah, perasaan terjepit antara rasa takut dan rasa ingin tahu. "Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi. Aku hanya-hanya wanita biasa yang tidak ingin terlibat dalam semua ini."
Soren memandangi Kira lebih dalam lagi, seolah berusaha membaca setiap kata yang ia katakan. "Aku tidak percaya kamu begitu saja terlibat tanpa alasan. Kamu pasti tahu lebih banyak daripada yang kamu katakan."
Kira menggigit bibir bawahnya, merasa terpojok. "Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Saya hanya ingin hidup saya kembali seperti dulu."
Soren mendekat, suaranya berubah lebih lembut meskipun tatapannya tetap tajam. "Kira, kau mungkin tidak sadar, tapi hidupmu sudah berubah selamanya. Kamu tidak bisa kembali ke kehidupan lamamu. Sekarang, kau harus memilih-apakah kau akan bekerja sama denganku untuk menemukan Vivienne, atau aku akan menganggapmu sebagai ancaman."
Kira merasa nafasnya tercekat. "Ancaman?" ucapnya perlahan, matanya terbelalak. "Apa yang akan kamu lakukan?"
Soren tidak langsung menjawab, melainkan berdiri dengan perlahan dari kursi rodanya. "Aku tidak pernah mempercayai orang begitu saja, Kira. Tapi aku rasa, kali ini, aku bisa memberimu kesempatan. Tapi kamu harus bermain di aturanku. Jika tidak... aku tidak akan ragu untuk menghapusmu."
Kira merasa dunia di sekelilingnya semakin sempit. "Kamu mengancamku?"
Soren mendekat, menatapnya dengan penuh intensitas. "Aku memberimu pilihan. Kamu hanya punya satu jalan untuk keluar dari situasi ini, dan itu adalah bekerja sama denganku. Tapi jika kamu mencoba menipu atau mengkhianatiku, aku tidak akan segan-segan menghancurkan hidupmu seperti yang aku lakukan pada Vivienne."
Kira menggigit bibir bawahnya, merasakan beratnya keputusan yang harus ia ambil. Ia tahu bahwa hidupnya kini ada di tangan pria ini. Setiap gerakan, setiap kata, bisa berakhir buruk jika ia tidak hati-hati.
"Saya... saya akan membantu," jawabnya dengan suara yang hampir tidak terdengar.
Soren tersenyum tipis, senyum yang tidak menyentuh mata. "Bagus. Itu keputusan yang tepat."
Namun, di dalam hatinya, Kira merasa sebuah ketakutan yang semakin dalam. Ia tidak tahu apakah ia telah membuat pilihan yang benar. Setiap detik yang berlalu, ia semakin merasa terperangkap dalam jerat yang tidak bisa ia lepaskan.
Di luar mansion, hujan mulai turun, membasahi tanah yang dingin. Kira berdiri di depan jendela besar, menatap keluar, memikirkan semua yang telah terjadi. Ia tahu bahwa ia tidak bisa mundur lagi. Kehidupannya kini tergantung pada keputusan yang telah ia buat. Namun, dalam hatinya, ada sesuatu yang lebih gelap yang mulai tumbuh-perasaan aneh yang tidak bisa ia jelaskan.
Apakah ia jatuh ke dalam perangkap yang lebih besar? Atau mungkin, Soren Blackwood-CEO yang penuh kekuasaan dan kejam itu-hanya memainkan sebuah permainan yang lebih rumit daripada yang ia bayangkan?
Namun, satu hal yang pasti-permainan ini baru saja dimulai, dan Kira merasa dirinya semakin terseret ke dalamnya.