“Saya terima nikah dan kawinnya Andara Prameswari binti Matheo Prameswari dengan mas kawin tersebut Tunai!”
“Bagaimana para saksi? Sah?”
“Sah ....”
Terdengar suara gemuruh, untuk kedua kalinya diluar kamarku, yang menyatakan keberhasilan Kak Sean mengucapkan ijab kabul hari ini.
Ya. Hari ini, adalah hari pernikahan Kak Audy dan Kak Sean, juga pernikahanku dengan pria yang sama.
Lalu, tadi itu adalah suara gemuruh para saksi, yang secara serentak menyatakan kalo sekarang aku dan Kak Audy sudah sah menjadi istri Kak Sean.
Miris, ya?
Setelah Kak Sean mengucapkan ijab qobul untuk Kak Audy. Tak berselang lama setelahnya, Kak Sean pun melakukan ijab qobul atas namaku.
Entah bagaimana pandangan orang tentang pernikahan kami ini? Aku sudah tidak bisa membayangkan apapun lagi saat ini. Perasaanku terlalu kacau memikirkan semuanya.
Seharusnya hari ini aku merasa senang karena bisa menunaikan salah satu perintah Agama. Tetapi sungguh, aku juga tak pernah membayangkan, akan jadi istri kedua seperti ini.
Apalagi, aku harus jadi orang ketiga di antara orang-orang yang sudah kuanggap kakakku sendiri. Ini konyol sekali.
Tok ... tok ... tok ....
Terdengar sebuah ketukan di pintu kamarku. Lalu tak lama kemudian, pintu itupun di buka dan memperlihatkan seorang wanita paruh baya, yang tersenyum menatapku. Dia adalah Tante Sulis. Ibunya Kak Sean. Aka ibu mertuaku sekarang.
“Ayo, Sayang. Suami kamu sudah menunggu,” ajaknya dengan lembut, seraya mengusap bahuku dengan pelan
“Tante, aku—”
“Ssttt ... jangan panggil Tante lagi, dong. Panggil Mama. Kan, sekarang kamu udah jadi menantu Mama,” selanya lembut. Namun aku hanya bisa menunduk bingung menanggapinya.
Jujur, aku belum bisa menerima pernikahan ini sebenarnya. Karena ... memang bukan seperti ini pernikahan yang kuinginkan. Aku memang mengenal keluarga Kak Sean dari kecil. Kami bertetangga, dan Tante Sulis sudah kuanggap seperti ibuku sendiri dari dulu. Apalagi, aku kehilangan Ibu kandungku sejak sekolah dasar. Karena itulah, sosok Tante Sulis sudah melengkapi hidupku selama ini.
Walaupun begitu. Tetap saja, aku tak pernah bermimpi akan menjadi menantunya seperti ini. Bukan tak mau. Hanya saja ... apa, ya? Aku cuma masih merasa canggung dengan keadaan ini. Karena memang tidak pernah bermimpi akan menikahi anaknya.
Sudah kubilang, kan? Kak Sean itu sudah kuanggap seperti Kakakku sendiri. Namun kini, saat aku malah di haruskan menikah dengannya. Aku jadi seperti ... Aneh aja gitu rasanya. Aku merasa seperti menikahi Kakak sendiri.
“Sayang, Mama tau ini berat buat kamu. Mama bisa mengerti perasaanmu itu. Tapi, Mama juga tidak bisa apa-apa. Karena permintaan Papimu memang di luar dugaan kami.” Mama Sulis menatap aku dengan lekat.
“Entah apa yang dipikirkan Papimu waktu itu. Tidak ada yang tahu selain dirinya sendiri. Tapi, percayalah. Apapun yang dia inginkan. Itu semata-mata hanya untuk kebaikanmu.”
Aku tau itu. Tapi, sampai saat ini aku masih belum paham. Kebaikan macam apa yang bisa aku dapat, dari menjadi orang ketiga seperti ini? Aku benar-benar tak habis pikir.
Namun, Aku tidak berkomentar apapun. Hanya bisa mengangguk saja dan mencoba menerima semuanya dengan ikhlas. Karena untuk mundur pun, aku sudah tidak bisa, iya kan? Nyatanya, sekarang aku sah menjadi Nyonya Abdilla.
Tante— ralat, Mama Sulis lalu membimbingku menuju mimbar, tempat dilaksanakannya ijab kabul, dengan patuh.
Waktu aku sampai di tempat itu. Kak Audy sudah duduk manis di sebelah Kak Sean. Memakai pakaian yang serupa denganku, juga make up yang tak beda jauh.
Bukan dia mau menyamakan diri dengan aku. Justru di sini aku yang mengutip tampilannya. Karena aku memang hanya bisa menyesuaikan apa yang sudah mereka siapkan sebelumnya, tanpa bisa menyuarakan sedikit pun keinginanku. Aku tak punya hak suara dalam pernikahan ini.
Ketika aku hampir sampai mimbar, Kak Audy langsung menyambutku dengan senyum yang merekah. Cantik sekali. Berbanding terbalik dengan Kak Sean, yang hanya melirikku sekilas, kemudian langsung memalingkan wajahnya ke arah lain dengan raut wajah dingin.
Aku tau, kok. Dia juga masih tak bisa menerima pernikahan ini. Dan sebenarnya, itulah yang membuat bebanku semakin terasa berat sekali. Tolong Maafkan aku, Kak. Aku benar-benar tidak bermaksud jadi orang ketiga di keluarga kecilmu.”
***”
Selepas acara sungkeman yang sangat singkat. Aku memilih kembali ke kamarku. Mama Sulis bilang, nanti siang akan diadakan acara resepsi di kebun belakang rumah ini. Akan tetapi, aku sama sekali tak berminat menghadiri acara resepsi itu. Buat apa? kehadiranku ‘kan, tidak diinginkan semua orang. Aku cukup tahu diri untuk tak makin merusak momen bahagia Kak Audy dan Kak Sean. Jadi biarkanlah mereka menikmati momen spesial mereka hari ini.
“Tapi, Sayang. Ini juga kan acara resepsi pernikahan kamu. Kamu berhak hadir di sana,” rayu Mama Sulis, atau sebut saja Mama mertuaku sekarang.
Mama Sulis memang menolak mentah-mentah ideku, yang tak ingin hadir di acara resepsi nanti. Karena baginya. Aku berhak mendapat kebahagiaan yang sama seperti menantunya yang lain. Yaitu kak Audy.
Bagaimana mungkin bisa sama, kalau arti kehadiran kami saja berbeda. Kak Audy istri yang diinginkan. Sementara aku? ... sudahlah. Aku cukup tahu diri.
“Nggak, Mah. Rara gak mau. Cukup sampai sini aja, Rara terlihat jadi orang ketiga di antara mereka. Rara gak mau makin merusak kebahagiaan Kak Sean dan Kak Audy lagi.” Aku bersikukuh dengan keputusanku.
“Tapi, Ra—”
“Lagi pula, permintaan Alm Papi cuma supaya Rara menikah dengan Kak Sean aja, kan? Nah, sekarang Rara udah nikah dengan Kak Sean. Rara udah jadi istrinya seperti permintaan Papi. Jadi, Rara rasa, Rara udah gak punya hutang lagi, Mah.”
Mama Sulis terlihat membuka dan menutup mulut. Seperti ingin menyampaikan sesuatu, tapi ragu.
“Mah, tolong ngertiin posisi Rara, ya? Rara bener-bener gak mau makin bersalah sama Kak Sean dan Kak Audy. Rara ... benar-benar gak nyaman sama posisi ini, Mah,” hibaku Akhirnya.
Mama Sulis pun menatapku dengan intens. Membuatku ingin sekali menangis melihatnya. Kalau saja tak ingat, dia sekarang adalah Mama mertuaku. Aku ingin sekali mengadu seperti dulu.
Aku ingin merajuk, dan curhat seperti yang biasa aku lakukan selama ini. Tapi ... bisakah aku menganggap Mama Sulis seperti dulu? Karena kini statusnya sudah berganti dalam hidupku.
Bukannya aku ingin menutup diriku sekarang. Hanya saja ... apa pantas, aku mengeluh tentang pernikahan, yang juga milik anaknya.
Karenanya, mulai sekarang, aku akan belajar memendam perasaanku saja.
“Tapi, kalau Sean atau Audy nanyain kamu, gimana?” tanya Mama Sulis lagi. Membuat aku menghela napas berat mendengarnya.
Karena sejujurnya, aku bahkan tak yakin mereka akan menyadari keberadaanku di sana nanti.
Oke. mungkin Kak Audy akan menanyakan keberadaanku. Tapi kurasa untuk Kak sean? Justru inilah yang dia inginkan. Karena ... dia pasti tak suka dibilang, sebagai pria yang suka poligami. Sekalipun dia memang tampan. Tapi, aku mengenal Kak Sean dengan Baik.
Pria itu sangat membenci poligami. Karena ayahnya dulu meninggalkan dia dan ibunya, karena ayahnya ternyata punya istri yang lain selain Mama Sulis.
Lagi pula, melihat raut wajahnya tadi pagi saja, aku sudah yakin. Justru dia akan bersyukur dengan ketidakhadiranku nanti. Karena aku hanya pengganggu hari bahagianya.
“Mama bilang aja aku capek. Mama tau kan, aku baru landing subuh tadi. Sejujurnya aku memang masih jetlag, Mah. Jadi ... please ya, Mah. Bantu Rara jelasin ke mereka.”
Aku mencoba memberikan alasan logis untuk ketidakhadiranku Nanti. Namun, aku tak sepenuhnya bohong, kok. Karena memang itulah kenyataanya.
Seusai pemakaman Papi. Aku memang kembali ke Ausy. Untuk mengurus surat ijin pada kampusku. Setelah itu, baru pulang kembali untuk menikah.
Aku memang masih kuliah saat ini. Mahasiswa tengah semester tepatnya. Karena itulah, kematian Papi benar-benar menjadi pukulan hebat untukku. Yang pastinya akan merubah alur hidupku mulai saat ini. Sekali lagi, Mama Sulis menatapku dengan lekat. Seperti mencari kebenaran dalam netraku.
Pandangan matanya masih seperti biasa, selalu bisa menenangkan. Membuatku selalu ketagihan untuk melihat sinar mata itu setiap hari. Bahkan, rasanya aku rela menukar apapun untuk sinar mata itu agar tak meredup. Aku menyayangi wanita ini seperti ibuku sendiri.
Setelah cukup lama menatapku lekat, akhirnya Mama Sulis pun mendesah berat, sebelum kemudian mengangguk setuju. Mama Sulis pun memelukku erat dan mencium keningku cukup lama. Sebelum pergi meninggalkanku setelahnya.
Selepas Mama Sulis pergi. Aku langsung mengunci pintu kamarku dengan cepat, kemudian berlari ke kamar mandi dan langsung menyalakan shower di sana. Agar tak ada yang bisa mendengar isak tangis yang sangat ingin aku luapkan saat ini.
Tuhan ... kuatkah aku? Bisakah aku bertahan dengan pernikahan ini? Mampukah aku hidup menjadi nomor dua seperti ini?
Sejujurnya aku seperti wanita biasa lainnya. Ingin menjadi hanya satu-satunya untuk suamiku, dan ingin memiliki momen indah pernikahanku sendiri. Agar kelak bisa kubagi pada anak-anakku. Bahkan pada cucuku. Akan tetapi, kalau kenyataannya seperti ini? Apa yang bisa kubanggakan?
Langkahku sontak terhenti, kala melihat pemandangan pagi itu di dapur. Pasalnya, aku sudah berusaha pergi sepagi mungkin dari rumah ini. Siapa sangka, aku akan melihat pemandangan ini? Belum cukupkah air mataku semalam, yang hanya bisa melihat kebahagiaan mereka di resepsi lewat jendela kamar.
Seperti apa yang kubilang dari awal? Mereka memang tak akan mencariku. Bahkan semalam mereka kelihatan sangat bahagia sekali. Seakan dunia hanya milik mereka berdua.
Ah, ya. Seharusnya memang itulah yang terjadi. Seharusnya memang kisah ini hanya milik mereka berdua. Karena aku memang hanya pemeran figuran saja di sini.
Namun, Seakan belum cukup kenyataan menamparku semalam akan posisiku sebenarnya. Kini aku harus kembali menerima rasa sakit itu, kala melihat Kak Sean sedang mencumbu Kak Audy dengan sangat panas di sana. Rasanya seperti diremas ribuan tangan tak kasat mata. Sakit sekali!
Kak Audy terlihat duduk di meja bar, dengan kemeja putih kebesaran di tubuhnya, yang kuyakin pasti milik Kak Sean. Sementara Kak Sean sendiri ada di hadapannya, menumpukan satu tangannya di belakang tubuh Kak Audy, sedang tangan yang satunya lagi menekan tengkuk Kak Audy untuk memperdalam ciuman mereka.
Bibir mereka saling bertautan dan saling mencecap dengan panas. Membuat aku ingin sekali berbalik kembali ke dalam kamar saking tidak sanggupnya melihat semua itu. Mereka benar-benar melupakan keberadaanku di Rumah itu.
Ah, lupakan saja. Aku tak ingin menangisi diriku lagi. Sudah kubilang kan, aku harus tau diri di sini. Karena aku memang hanya orang ketiga di antara mereka.
Sebenarnya, aku bukannya tak suka atau benci melihat pemandangan itu. Aku juga bukan gak mau melihat kebahagiaan mereka. Kalau boleh jujur, justru aku malah sangat bahagia melihat kebahagiaan mereka. Setidaknya dalam situasi ini, ada yang bisa berbahagia di antara kami bertiga.
Tak usah pikirkan, bagaimana perasaanku di sini? Karena aku memang tak punya hak apapun, sekalipun untuk cemburu sekalipun. Ingat. Aku cuma pemeran figuran saja di sini. Mereka yang punya kisah.
“Eh, Astaga! Rara!” seru Kak Audy, orang yang pertama menyadari kehadiranku. “Sorry, sorry, kami gak bermaksud—”
“It’s oke, Kak. I’m Fine,” selaku cepat. Mencoba bersikap sesantai mungkin, demi membuat kami tidak canggung.
Sekalipun hatiku saat ini bergemuruh hebat dan mataku sangat panas. Aku tetap memaksakan senyum selebar mungkin, saat menghampiri mereka. Kak Audy menyambutku dengan senyum tak kalah lebar. Sementara Kak Sean? Jangan tanya bagaimana dinginnya dia padaku?
Pria itu bahkan langsung memalingkan wajah dengan kesal. Kala Kak Audy memanggil namaku. Seakan memang kehadiranku hanyalah sebuah benalu di hidup mereka. Ah, aku memang benalu.
“Maaf kalo aku ganggu kalian. Aku gak tau kalau kalian ... udah bangun,” kataku tak enak hati, sambil mencuri lirik ke arah Kak Sean yang masih tak mau menatapku sedikit pun. Sebenci itukah dia padaku?
“Ih, apaan sih kamu, Ra. Kita kan udah jadi keluarga sekarang. Kamu udah jadi adikku sejak kemarin. Jadi gak usah gak enak gitu,” jawab Kak Audy dengan riang.
Terlihat sekali kalau dia memang benar-benar bahagia dengan pernikahan ini. Dia bahkan sampai memelukku erat sekali pagi ini.
“Oh, ya. Aku dengar kamu semalam gak enak badan ya, kata Mama? Sorry, ya, Belum sempat nengokin. Abis tamu banyak banget semalam. Btw ... Kamu sakit apa? Kok, gak kasih tau aku sama Sean?” tanya Kak Audy lagi. Membuatku menautkan alis dengan bingung
Sakit? Aku gak pernah bilang gitu? Ah, apa itu alasan yang Mama buat biar mereka tak menanyakanku?
“Ah, iya. Semalam aku memang kurang enak badan. Biasa lah, Kak. Jetlag,” bohongku memaksa senyum tulusku. Sepertinya, mulai sekarang aku akan sering berbohong di depan mereka.
“Oh, gitu. Terus sekarang, gimana keadaan kamu? Sudah sehat, kan? Aku bener-bener minta maaf ya, kalau semalam aku gak bisa nengok kamu. Soalnya tamunya gak ada hentinya. Aku aja sampe migrain kemaren karena kebanyakan berdiri. Untung ada Sean yang mau mijitin semalem. Ya ... walaupun pijitannya jadi plus-plus. Eh!”
Kak Audi berceloteh dengan riang sepanjang cerita. lalu menutup mulutnya di akhir kalimat. Karena menyadari sudah keceplosan.
Entah itu beneran keceplosan atau sengaja. Tapi dari rona wajahnya, sepertinya tak benar-benar menyesal atas ucapannya. Wajahnya merona merah, khas sekali seperti orang yang sedang jatuh cinta.
“Eh, maaf ya, Ra. Aku gak maksud apa-apa, kok. Aku beneran cuma—”
“Gak papa, Kak. Aku ngerti, kok,” selaku cepat. Dengan senyum yang sekuat tenaga masih coba ku pertahankan.
“Beneran?” goda Kak Audi.
“Iya.”
“Ah, kamu memang adikku yang paling baik, Rara!” Kak Audy memelukku sekali lagi dengan riang.
“Kamu tenang aja. Nanti malam Sean bakal jadi milik kamu seutuhnya, kok. Karena sudah seharusnya kita bergantian memilikinya. Dan Aku janji, aku gak bakal ganggu kalian,” lanjut Kak Audi, seraya melepaskan pelukannya. Membuat aku langsung membeku seketika di tempatku.
Aku bukannya gak ngerti akan maksud Kak Audy barusan. Tapi ... jika melihat bagaimana sikap acuh Kak Sean. Aku tau pasti kalau dia sebenarnya gak setuju ide itu. Terlebih, aku belum siap dia makin dibenci lebih lanjut oleh pria itu.
“Wah, sayang banget kalau gitu. Kayaknya malam ini Kak Sean masih harus tetap jadi milik Kakak, Deh,” balasku seriang mungkin.
“Loh, kenapa?” tanya Kak Audi bingung.
Entah sadar atau tidak. Aku melihat Kak Sean menoleh cepat ke arahku, dengan tatapan sama bingungnya dengan istri pertamanya.
“Aku baru aja di telpon Selly. Katanya cabang yang ada di Bandung sedang ada masalah. Jadi ... mungkin aku akan—”
“Selly tidak menelpon saya?” sela Kak Sean dengan cepat.
Akhirnya, setelah beberapa hari ini dia seakan bungkam terhadapku. Tepatnya sejak di Rumah sakit saat kematian Papi. Hari ini Kak Sean mau membuka mulutnya dan melihat aku.
Thanks, God! Aku pun tak dapat menahan senyumku sambil menjawabnya.
“Mungkin Selly tau kalau Kakak sedang tak bisa diganggu,” jawabku singkat. Bahkan hanya segini saja, hatiku sudah sangat bahagia.
“Loh, gak bisa kaya gitulah! Sean kan Wakil Dirut di sana. Sean berhak tau apa yang terjadi sama perusahaan. Sayang, pokoknya kamu nanti harus tegur Selly. Apa-apaan itu sikapnya. Kaya gak hargai kamu aja!” protes Kak Audy menggebu-gebu.
Aku hanya terdiam mendengarnya. Bukannya aku bohong soal pernyataanku tadi. Tapi, aku cuma gak mau memperparah keadaan dengan jawabanku nanti.
“Selly gak salah. Kenapa harus ditegur?”
Entah sejak kapan, Mama Sulis sudah berada di sampingku.
“Loh, tapi kan, Mah—”
“Selly memberi tahu orang yang tepat. Langsung ke Dirutnya, bahkan pemilik sah perusahaan. Jadi, salahnya di mana?” sela Mama cepat. Membungkam Kak Audy dengan telak.
“Oh, iya. Aku lupa kalo kamu udah menggantikan paman Theo,” lirih Kak Audy kemudian.
Sudah kubilang kan, ini tak akan bagus jika dilanjutkan. Aku melirik Kak Sean sebentar. Karena Ingin tau bagaimana reaksinya mendengar ucapan Mamanya?
Benar saja. Kak Sean terlihat mengalihkan pandangan lagi, dengan rahang mengeras kesal. Lalu tak lama setelahnya, pria itu pun beranjak pergi tanpa kata. Aku salah lagi, ya?