“Saya terima nikah dan kawinnya Bella Ariyanti binti alm. Muhammad Nuh dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.” Dalam satu tarikan nafas Burhan berhasil menghalalkan gadis muda disampingnya.
Gadis belia yang mengenakan gamis dan khimar putih, wajahnya ditutupi niqab menunjukkan betapa dirinya gadis sholehah. Sedang Burhan mengenakan setelan kemeja senada menambah kesan serasi.
Semua didominasi warna putih yang melambangkan kesucian. Menunjukkan acara ini sangat sakral serta lambang sebuah ketulusan dan kemurnian.
“Bagaimana saksi, sah.” Penghulu bertanya pada wanita yang duduk tepat belakang mempelai pria. Wanita itu pun mengangguk dan disambut tepuk tangan meriah dari para undangan.
“Sah.”
“Sah.”
“Sah.”
Kata itu menggema di seluruh penjuru ruangan. Semua yang hadir turut merasa bahagia atas momen paling berharga ini. Namun, tidak bagi wanita yang menjadi saksi.
Semburat kesedihan terpancar jelas di wajah tirusnya. Ia tetap memaksakan untuk tersenyum pada siapa saja yang menatapnya. Menyembunyikan kesedihan yang membuncah karena ini semua terjadi atas kehendaknya.
Berdiam diri mematung menatap punggung pengantin pria, yang tengah sibuk menandatangani berkas. Pertanda bahwa pernikahan itu sah dimata hukum dan agama.
Ia terus meremas ujung kebaya jingga yang melekat pada tubuh langsingnya, dipadukan dengan rok batik khas Jambi. Rambut lurus sebahu dibiarkan tergerai hanya dijepit bagian samping membuatnya semakin mempesona.
Wanita itu bernama Nayla Rahmawati, merupakan istri pertama pria yang baru saja mengikrarkan janji suci pada wanita bercadar di sampingnya.
Remasan di ujung kebayanya kian erat lalu mendadak berdiri hingga kursi plastik yang didudukinya terjatuh kebelakang. Setengah berlari keluar dari gedung untuk pergi sejauh-jauhnya.
Ia sudah tidak sanggup lagi menyaksikan rentetan acara yang akan merubah dunianya setelah ini. Entah berapa kali menabrak tamu undangan hingga tersungkur. Terdengar cacian dan makian untuknya.
Ia kembali berlari dan terus berlari keluar dari tempat itu dan pergi menjauh. Keadaanya benar-benar kacau saat ini. Entah berapa kali dia jatuh bangun tetapi, tetap tidak menyerah untuk menjauh dari sana.
Hatinya hancur tak beraturan, luluh lantak dan takkan pernah bisa pulih sekalipun ia yang menginginkannya. Apalagi saat menyaksikan suami yang teramat dicintai mengecup dahi wanita yang beberapa menit lalu resmi menjadi madunya.
Selama ini ialah yang selalu berada di posisi wanita itu. Mendapatkan ribuan kecupan dari si pria setiap harinya kala mereka bersama. Dan kini? Ah, membayangkannya saja tak sanggup. Sungguh tak mampu membayangkan harus berbagi kasih sayang dan juga ranjang dengan wanita lain.
Berlari dan terus berlari tanpa tujuan. Air matanya tak henti mengalir deras. Jika itu sungai mungkin akan terjadi banjir bandang. Memang pernikahan ini ia yang menginginkannya, tetapi tidak terbayang akan sesakit ini.
Ternyata kenyataan jauh lebih menyakitkan dari yang dikhayalkan. Hidup berdampingan bersama adik madu tanpa cemburu. Bersama mengarungi lautan dengan satu kapal dan nahkoda yang sama.
Dari jauh hari ia telah menyiapkan mental untuk hari ini sayangnya tetap tergores perih dan berdarah. Teringat seminggu yang lalu Burhan memohon untuk membatalkan pernikahan yang sama sekali tidak harus terjadi.
“Tidak bisakah dibatalkan saja, dik. Abang tidak bisa, abang tidak bisa melihatmu sakit hati,” ujar Burhan memelas berharap Nana merubah keinginan gilanya.
Mereka duduk di balkon menunggu waktu magrib. Ditemani secangkir teh hangat dan nastar buatan Nana sebagai cemilan.
“Tidak Bang, Abang harus menikahi Bella,” balas Nana penuh penekanan diikuti tatapan tajam yang kerap membuat Burhan tak mampu membantah lagi
.
“Lupakan Abang yang tidak menyukai Bella. Abang takut kau terluka, Dik,” bujuk Burhan mengusap pucuk kepala wanita yang telah mendampinginya hampir sewindu. Jantungnya berdegup sangat kencang.
“Tidak,” bentak Nana menepis tangan Burhan yang terus mengusap rambut hitam tebalnya.
“Sayang … Kamu berani meninggikan suara pada suamimu ini, Dik. Atas ambisi gilamu itu.” Burhan sedikit menaikan nada suaranya.
“Aku ingin anak, Bang." Nana menundukan wajahnya netranya menatap lantai. Matanya mulai berembun, tidak pernah mendengar nada suara Burhan meninggi membuat hatinya iba.
“Tapi tidak seperti ini caranya, Dik," ujar Burhan pelan tahu istrinya tengah ketakutan karna bentakannya.
“Tidak ada jalan lain. Aku tidak bisa hamil, Bang. Aku tak memiliki rahim dan sampai kapan pun tak akan pernah ada janin yang tumbuh dalam diri ini.” Nana mulai terisak.
“Tapi Abang tidak butuh anak. Kita bisa terus bersama itu sudah cukup, Dik." kedua tangannya mengusap bahu sang istri.
“Aku selalu memimpikan tangis bayi di rumah ini, Bang. Rumah ini terlalu sunyi" Nana berhambur dalam dekapan Burhan tangisnya semakin terdengar.
“Kita adopsi anak saja." Burhan mengusap punggung nana. Ia juga bersedih tetapi, tidak bisa untuk meneteskan air mata.
“Aku mau anak itu dari benihmu. Dia akan jadi anak yang paling beruntung karena memiliki dua orang ibu." Nana mendongakan wajahnya menatap tajam mata elang milik sang suami.
“Kamu wanita, ini sangat tidak mudah. Abang takut menjadi bumerang untuk rumah tangga kita." Burhan mengalihkan pandangan sungguh dia tidak sanggup terlalu lama beradu pandang dengan wanita yang rela menerimanya yang miskin.
Wanita yang mengangkatnya dari kubangan lumpur lalu menjadikannya permata. Burhan tidak lupa siapa dirinya dulu, walau kini bergelimangan harga. Ia tetaplah Burhan yang hanya buruh panen di kebun milik mendiang orang tua Nana.
“Kita sudah membahas hal ini jauh hari. Dan, Abang setuju. Lalu sekarang mengapa berubah pikiran. Lakukan demi cintamu padaku, Bang,” tukas Nana berlalu masuk ke kamar melemparkan tubuh langsingnya keranjang.
“Aku laki-laki, Dik. Cepat atau lambat meski tanpa cinta pasti akan terbiasa dengan hadirnya wanita lain diantara kita. Tapi Aku tidak yakin dengan hatimu. Selama ini saja kau selalu cemburu melihat aku dekat dengan wanita lain. Padahal hanya sebatas teman,” batin Burhan menggelengkan kepala.
Bagi Burhan permintaan Nana sangat konyol. Saat wanita diluar sana membenci poligami, Nana justru menginginkan.
Setahun terakhir Nana terus menodong untuk menikah lagi, tetapi selalu ditolaknya dengan berbagai alasan, mengulur waktu dan secara halus menghindar. Rasa cinta yang begitu besar sama sekali tidak mempermasalahkan kondisi Nana yang tak memiliki rahim.
Sengaja mendirikan panti asuhan sebagai pelarian saat Nana kesepian. Berharap dengan berada diantara anak panti akan melupakan keinginan memiliki anak. Sayangnya Nana tetaplah Nana, yang keras kepala, setiap kehendaknya harus terwujud.
Berbagai upaya Burhan menggagalkan ambisi Nana sia-sia belaka dan hari ini puncaknya. Keinginan Nana menjadi kenyataan.
Ck, Nana berdecak lalu mengusap kasar wajahnya. Duduk di halte menjadi pilihan karena lelah berlari. Ia tidak dapat lagi menangis meski masih ingin menangis untuk mengurangi beban yang menghimpit.
Jemari lentiknya meraih gawai dalam tas selempang kesayangan. yang dibeli seharga seratus lima puluh ribu. Meski kaya raya ia bukanlah pecinta barang-barang branded.
Baginya sangat tidak bermanfaat, lebih baik uangnya disedekahkan kepada orang yang membutuhkan. Menjadi bermanfaat untuk orang lain adalah kebiasaannya.
Diusapnya layar lima koma lima inci itu yang bagian belakangnya terpampang tulisan yang seperti orang Jawa bertanya. Jam menunjukan pukul setengah dua artinya sudah dua jam meninggalkan tempat itu.
Hatinya bertanya-tanya apakah suaminya menyadari keberadaannya atau justru sibuk dengan Bella sang istri muda. Nana memukul kepala yang berpikir bodoh. Sudah pasti suaminya sangat mengkhawatir terbukti ada puluhan chat dan panggilan dari nomor sang suami.
Dengan menekan tombol off, sementara gawainya dipensiunkan. Masih belum siap untuk berbicara dengan siapapun.
“Aku hanya butuh waktu untuk mengobati luka hati ini dan saat luka ini sembuh dan mengering maka aku akan kembali ke tengah-tengah kalian.” Monolognya.
“Ini selendang kesayangan ibu Bang Burhan, Bel. Dulu beliau sendiri yang mengenakan padaku. Hari ini dia lagi datang bulan bawaannya ingin mengomeli ku saja.” Nana mengeluarkan selendang dari dalam tasnya dengan senyum manis yang membuat buat Burhan bertekuk lutut tak lepas menghiasi wajahnya cantiknya.
Nana tidak berkedip melihat polesan wajah ayu Bella begitu teduh dan menyejukan. Kali pertama Nana melihat wajah gadis itu secara langsung.
Bella tidak pernah melepaskan cadarnya meski mereka tinggal serumah. Kecuali didalam kamar saat sendirian. Bella yang taat agama sangat menjaga auratnya.
“Kamu cantik sekali, Bel. Sayangnya kamu tutupi dengan itu.” tunjuk Nana pada kain cadar yang di genggaman Bella.
“Ah, sudahlah kamu memang lebih baik dariku,” lanjut Nana mengibaskan tangannya di udara tanpa memberikan kesempatan untuk Bella berkata.
“Apa kakak bahagia?” Nana mendelik mendengar ucapan Bella.
Bella pun tak menyangka pertanyaan itu lolos begitu saja dari bibir tipisnya.
“Aku bahagia, aku sudah tidak sabar menjadikanmu saudaraku.” Nana mengalihkan pandangan keluar jendela.
“Kakak boleh batalkan pernikahan ini kalau memang berubah pikiran, toh selama ini aku juga sudah menjadi bagian dari kalian.” Bella meraih tangan Nana.
“Aku ini tidak sempurna, Bel. Aku ingin seperti wanita lain. Memiliki banyak anak.” Nana menatap mata gadis yang berbalut pakaian pengantin yang beberapa menit lagi gadis itu akan resmi menjadi adik madunya.
“Apa kakak sudah pernah periksa, benarkah kakak tidak memiliki rahim," tanya Bella.
Nana menggeleng, selama ini hanya tahu tidak memiliki rahim dari ibu tirinya. Ia sangat sayang pada ibu tirinya sehingga apapun yang dikatakan akan dipercayai sepenuh hati.
“Aku percaya pada Mama, bahwa saat usia lima tahun Aku terjatuh dari sepeda. Karena benturan keras rahimku rusak, harus segera diangkat demi menyelamatkan nyawaku.” cerita Nana bersemangat.
Bella merasa cerita Nana sedikit tidak masuk akal. Namun, itu bukan ranahnya mencampuri terlalu jauh. Cepat atau lambat kebenaran akan terungkap.
“Jika ternyata Aku juga tidak bisa hamil, apa Kakak akan kembali memaksa Bang Burhan menikah untuk ketiga kalinya.” senyum Bella mengembang kala melihat Nana kebingungan menjawab pertanyaannya.
“Entahlah, semoga saja kau cepat hamil.” Nana berdiri dari tempat duduknya meraih minuman dan camilan yang telah disiapkan.
Nana menggelengkan kepalanya mengingat pertanyaan bella. Terbayang olehnya Burhan memiliki banyak istri.
“Apa yang Aku pikirkan, satu ini saja susah payah aku wujudkan,” batin Nana.
Bella terbahak melihatnya sikap Nana yang ngedumel sendiri.
“Lupakan ucapanku barusan, Kak.” Bella menghampiri Nana.
Nana sedikit terlonjak saat Bella menepuk pundaknya. Lamunan yang terlalu dalam membuat lupa saat ini berada dimana.
“Ayo kita kedepan acara akan dimulai,” ajak Nana.
“Kakak jangan terlalu jauh dariku. Aku takut kak,” rengek Bella berfirasat Nana akan meninggalkannya.
“Aku akan duduk dibelakang pria yang sebentar lagi akan menjadi suami kita.” Mendengar itu Bella sedikit tenang, minimal dia masih bisa mengawasi Nana.
Bella begitu menyayangi Nana baginya Nana adalah peri pelindungnya. Setelah kedua orang tuanya berpulang menghadap sang khalik setahun yang lalu.Orang tuanya meninggal akibat ditabrak orang yang tidak bertanggung jawab.
Bella tidak dendam pada si pelaku hanya dia ingin tahu saja siapa orang yang telah membuatnya menjadi yatim piatu dalam waktu bersamaan.
Nana dan Burhan yang kebetulan dikenalnya bersedia menampungnya saat semua sanak saudara kompak mengacuhkannya.
Waktu itu Nana dan Burhan menemukannya tengah duduk menekan perutnya. Uang ongkos untuk kembali ke pesantren telah berikan pada anak pemulung sehari sebelumnya.
Bella sangat peduli pada kesusahan dan penderitaan orang lain sampai lupa jika ia juga butuh bantuan. Bermodal yakin bahwa Allah akan selalu memberi pertolongan dan tidak akan membiarkannya kesusahan seorang diri.
Dengan terpaksa memilih ikut bersama Nana dan Burhan demi sebungkus nasi kucing mengisi lambungnya sudah sangat perih. Hingga Nana menawarkannya untuk tinggal bersama mereka.
Nana butuh partner dalam mengelola panti asuhan miliknya yang belakang jumlah anak-anak panti meningkat setiap bulannya.
Hingga setahun berlalu, tiba-tiba Nana menginginkan dirinya menjadi adik madu, ibu untuk anak-anak suaminya.
Ambisi Nana yang menginginkan anak dari benih Burhan mengharuskan Bella menerima permintaan Nana sebagai tanda balas Budi.
Nana memberikan kasih sayang seperti seorang kakak pada adiknya. Juga membebaskan menggunakan semua fasilitas yang ada.
Bella yang merupakan anak tunggal begitu bahagia atas sikap Nana padanya. Bagai menemukan oase ditengah padang pasir.
“Kau dimana Kak, mengapa kau tinggalkan aku sendiri. Bukannya kau sudah berjanji padaku untuk tetap bersamaku. Kembalilah kak, aku tidak ingin pernikahan ini. Tapi demi kau aku rela. Demi kebahagiaanmu, aku kuburkan harapan untuk hidup bersama pria yang selalu kusebut dalam doa," lirih Bella tengah terisak dalam toilet.
Bella keluar dari toilet menuju Burhan yang sibuk menyalami tamu undangan yang memberi selamat atas pernikahan keduanya.
“Hei, kau ini kenapa mirip miss kunti,” ucap Burhan saat Bella telah duduk mematung di sampingnya.
“Kau punya telinga ‘kan? Aku bertanya padamu. Tampilanmu sangat memalukan. Oh, Tuhan mengapa Nana memberi kan aku istri sepertimu,” lanjut Burhan kesal, pertanyaan diabaikan oleh Bella.
Bukannya menjawab justru Bella semakin menangis karena tidak dapat membendung sesak. Ia begitu ketakutan kehilangan Nana. Terdengar bisik-bisik dari tamu undangan.
“Kasian pelakor, paling habis dihajar istri pertama.”
“Tau, udah tau suami orang masih saja mau.”
“Dasar tidak tahu malu.”
“Tampilan alim, tapi akhlak nol.”
“Asal banyak uang, suami orang pun di sikat.”
“Hu hu ...”
“Yang lakinya juga punya istri cantik masih ngembat yang model gituan.
“.....”
“.....”
“.....”
Telinga Burhan memanas mendengar hujatan mereka.
Burhan meraih microphon “Kalian tidak berhak menghakimi kami. Kalian semua tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Bijaklah berkomentar agar tidak melukai siapapun.”
Lalu menarik tangan bella, menyeretnya hingga di parkiran. Membuka pintu mobil, dan melemparkan tubuh Bella kebangku belakang.
“Hallo, Kau urus semua. Aku harus pulang. Ada urusan mendadak.” Burhan menelpon asistennya untuk mengurus kekacauan yang ditimbulkannya oleh tingkah Bella.
“Astaga, Nana dimana?”
“Bukan sudah abang ingatkan berkali-kali, pernikahan ini pada akhirnya akan menyakitimu. Kenapa kau sangat keras kepala dan tidak mau mendengar ucapan suamimu ini.” Burhan bermonolog menyesali sikap keras kepala dan egois Nana dan pada akhirnya menyusahkan semua orang
Burhan memutar balik mobil yang sudah separuh jalan meninggalkan tempat itu. Dengan kecepatan penuh melajukan kendaraan keluaran terbaru yang seharga dua koma lima milyar itu.
Yang dibelinya sebagai kado pernikahan mereka yang ke tujuh tahun. Dan juga membuatnya mengalami kejadian waktu itu.
“Kak Nana, tolong aku. Selamatkan aku dari lelaki ini. Dia sepertinya sangat membenciku. Kak, kenapa kakak jahat meninggalkan aku, kakak usah berjanji untuk terus bersamaku. Kak pulang lah, aku sangat membutuhkanmu saat ini.” Bella membatin dengan mata yang terpejam.
“Katakan padaku apa yang kau lakukan,” pekik Burhan.
“Ti- tidakk tahu,” isak Bella.
“Jujur,” suara Burhan semakin menggelegar.
“A- aku tidak, ta-tahu,” jawab Bella ketakutan.
“Ck, tidak tahu tapi kau menangis." Burhan semakin geram pada tingkah Bella.
Bella hanya menggeleng tubuh tersungkur tepat dihadapan Burhan.
“Hei, kau tak perlu drama. Aku tidak akan peduli padamu.” Burhan berbalik memunggungi Bella.
“Maaf, ada apa Pak. Sebaiknya jika ada masalah selesaikan di rumah saja. Kasian istri Bapak,” tegur satpam yang bertugas.
Melihat sikap Burhan yang mengacuhkan wanita yang ada di hadapannya padahal tadi baru saja dinikahi.
“Dia, dia ah-“ Burhan tidak melanjutkan ucapannya. Berbalik menatap Bella masih dalam posisi semula.
Burhan menarik tangan bella masuk ke dalam mobil “Puas, puas kau permalukan aku. Sebenarnya apa yang kau mau!! Dari tadi aku tanya jawaban kau tidak jelas, justru semakin menangis.” Burhan mengepal tangan jika saja yang di hadapannya ini bukan wanita, sudah dihadiahinya bogem mentah.
Aaarrrrggggg .... Teriak Burhan memukul setir mobil. Sengaja putar balik dengan harapan Nana Masih berada di tempat itu sebab Bella yang tak kunjung bersuara di tanya sepanjang perjalanan.
“Bukan kau saja, Bang. Aku juga sangat sedih. Kak Nana menghilang begitu saja,” desah Bella tengah mengumpulkan tenaga untuk menghadapi Burhan yang terus menyalahkannya.
“Apa,” bentak Burhan menyadari tatapan tajam Bella seakan ingin menelannya hidup-hidup.
“Kau." tunjuk Burhan tepat diwajah Bella.
Burhan kehabisan cara untuk membuat Bella membuka mulut.
“Baiklah jika kau tidak akan bicara, mari kita pulang. Kau harus layani aku sekarang,” ancam Burhan, tiba-tiba dia punya ide yang akan membuat Bella bicara.
Burhan tau Bella adalah gadis yang Sholehah dan sangat menyayangi Nana. Tentu Bella tidak akan menyerahkan dirinya begitu saja saat Nana tidak ada.
Burhan melajukan kendaraan dengan kecepatan penuh. Supaya cepat sampai di rumah, tidak sabar untuk membuat Bella ketakutan.
“A-apa, apa Abang sudah tidak waras,” ujar Bella gelagapan kedua tangannya sibuk menutupi dua area sensitif miliknya.
Burhan yang melihat tingkah konyol Bella dari spion tengah, menyeringai jahat.
“Siapa suruh kau bermain-main denganku. Kau bukan Nana yang sangat aku cintai. Kau hanya orang asing yang terpaksa aku nikahi demi cintaku pada Nana,” batin Burhan.
Pria itu menekan klakson berkali-kali saat tiba depan gerbang rumahnya.
“Lama sekali, apa yang kalian kerjakan. Mau makan gaji buta, hah,” bentak Burhan pada kedua satpam yang bertugas menjaga rumah besarnya saat pintu pagar terbuka dengan sendirinya.
“Maaf pak, tadi saya lagi makan,” jawab salah satu satpam gugup sedang yang satunya hanya menunduk.
Buru-buru Burhan turun membuka pintu bagian belakang. Mencekal tangan Bella, jaga-jaga siapa tau gadis itu akan kabur.
Burhan melempar tubuh langsing Bella pada sofa ruang tamu. Setelah pintu rumah dibuka oleh Bi Siti.
Wanita paruh baya itu ternganga melihat pemandangan depan matanya.
“Nana dimana Burhan,” tanyanya yang tidak menemukan sosok Nana.
“Nana menghilang, Bik,” jawab Burhan pelan.
Bagi Nana dan Burhan, Bi Siti bukan sekedar pembantu. Mereka sangat menghormatinya yang sudah seperti orang tua mereka sendiri.
“Kok bisa?” tanya Bi Siti khawatir.
“Itu lah sebabnya aku akan menghukum wanita ini. Aku yakin dia tau sesuatu tentang menghilangnya Nana,” tunjuk Burhan pada Bella yang masih tersedu.
“Tidak mungkin Burhan. Bibi tau bagaimana mana Bella. Dia tidak sejahat itu," sanggah Bi Siti mendengar tuduhan sarkas Burhan.
“Tapi dia hanya diam saat aku tanya. Kalau tidak salah tidak akan dia diam. Wajah memelasnya membuat aku semakin muak. Bicaralah atau kau layani aku sekarang juga.” Burhan melangkah mendekati Bella.
“Su-sudah aku katakan. Aku tidak tahu, aarrggggg,” pekik Bella yang berusaha menjaga jarak dengan Burhan.
“A-abang gangguan jiwa,” lanjutnya lagi yang terus bergeser.
“Apa kau yang katakan. Aku tidak waras. Apa ada yang salah jika aku minta dilayani bukannya kau sudah menjadi milikku.” Burhan bertepuk tangan berjalan pelan kearah Bella.
“Hentikan, itu akan membuat dia ketakutan. Dia gadis baik-baik. Apa kamu tidak bisa melihat dia juga shock Nana pergi,” sela Bi Siti yang melihat Bella semakin terpojok.
“Urus dia bi.” pria tu naik ke lantai atas menuju kamarnya dan Nana.
Brakk ....
Bi Siti dan Bella terlonjak mendengar pintu yang ditutup kasar oleh Burhan.
“Sabarlah nak, bibik tahu kau juga tertekan. Tidak perlu bicara bila memang belum siap. Tenangkan pikiranmu percayalah Nana akan baik-baik saja. Bibi sangat mengenalnya, dia akan kembali bersama kita. Percayalah,” Bi Siti menenangkan Bella.
Mendengar kata-kata Bi Siti, Bella menghambur ke dalam pelukan wanita yang sudah seperti ibunya.
“A-aku sudah berusaha mencari Kak Nana disana Bi. Tapi, Kak Nana sudah pergi. Andai aku tahu bakal seperti ini biar Aku saja yang pergi bi,” isak Bella.
“Ini semua sudah menjadi ketentuan Tuhan nak. Jangan salahkan dirimu. Bibi sangat tahu kau gadis yang baik,” Bi Siti mengusap punggung Bella penuh kasih.
“Terima kasih Bi, sudah percaya padaku. Aku tahu diri, tidak mungkin Aku menyakiti Kak Nana. Walau hanya seujung kuku. Dia telah memberikan Aku semuanya, Bi. Tidak ada yang Aku inginkan selain, selalu bersamanya. Kak Nana pulang lah. Aku takut kak,” racau Bella.
“Bersihkan dirimu, jangan berpikir untuk pergi jika kamu menyayangi Nana. Bibi yakin Nana akan kembali." Bi Siti menuntun Bella ke kamarnya. Kamar yang terletak di lantai satu bersebelahan dengan kamarnya.
Rumah besar itu tidak memiliki kamar pembantu. Semua kamar berukuran sama seperti kamar utama dengan fasilitas yang sama.
Nana tidak ingin membedakan antara pembantu dan dirinya. Baginya siapapun yang bekerja di rumahnya layak dihargai dan dihormati.
Bukankah Dimata Tuhan semua orang sama yang membedakan hanya amal ibadah masing-masing.
***
Burhan mengitari bagian kamarnya yang masih mencium aroma tubuh Nana. Ruangan nuansa pink itu ditata sesuai keinginan sang istri. Nana sangat menyukai tokoh kartun hello Kitty. Hampir semua pernak pernik menyerupai tokoh kucing pink dari Jepang itu.
Burhan merebahkan tubuhnya di bantal milik sang istri. Diusapnya lembut barang yang selalu membuat Nana marah jika dia menggunakannya. Seandainya waktu yang akan datang bisa diterawangnya. Ingin waktu berhenti saja pagi tadi.
Saat masih sempat meraih surga dunia bersama belahan jiwanya. Meneguk madu cinta mencapai puncak tertinggi sebelum berangkat ke tempat pernikahan itu. Tempat yang menjadi alasan atas menghilangnya wanita yang sangat dia kasihi. Kehilangan Nana, bagai raga tanpa jiwa.
“Kau dimana Dik, Abang rindu. Mengapa kau tinggalkan Abang. Padahal pernikahan ini yang kau inginkan. Abang sudah ingatkan padamu, pada akhirnya kau yang akan terluka. Tapi kau keras kepala,” gumam Burhan.