"Ayahmu adalah seorang koruptor, sekarang semua orang di seluruh penjuru negeri ini juga menbencinya. Walaupun kau tidak tahu apa-apa tapi mereka semua mengenalmu sebagai putri Herlambang dan tidak akan mudah untukmu mendapatkan pekerjaan di manapun, Alea."
Bibi Rosita masih terus bicara sambil mengajak duduk keponakannya baik-baik.
"Sekarang juga sudah tidak ada yang membiayai kuliahmu. Bibi serta paman-pamanmu hanya bisa bantu mengurus ibumu sebisa kami dan tidak mungkin selamanya kami bisa mengurus kalian."
Alea sudah tidak bisa menangis lagi, air matanya sudah kering sejak dua bulan yang lalu ketika ayahnya tersangkut masalah korupsi dan tertangkap tangan di sebuah hotel bersama teman wanitanya. Karena berita itu ibu Alea juga langsung terkena serangan struk dan sekarang dirawat oleh keluarga paman serta bibinya.
Kekayaan keluarga Alea dibekukan oleh negara. Sekarang Alea bukan hanya tidak bisa melanjutkan kuliah lagi tapi dia benar-benar sudah ikut tidak memiliki masa depan. Semua orang membencinya dan benar apa yang dikatakan bibi Rosita 'dia juga tidak akan diterima bekerja di manapun!'
Walaupun seorang anak tidak tahu apa-apa mengenai perbuatan orang tuanya tapi nyatanya dia tetap ikut dihakimi atas dosa mereka.
"Jika kau mau mendengarkan saran pamanmu, menikahlah saja dan terima lamaran tuan Anmar kemarin. Toh, sebentar lagi umurmu juga sudah dua puluh tahun tidak apa-apa menikah agar ada yang mengurus kalian."
Alea masih diam belum bicara apa-apa. Meskipun bibinya bicara pelan-pelan dan tidak ingin memaksa tapi dengan sama sekali tidak diberi pilihan maka artinya akan sama saja. Alea yakin bibi Rosita juga disuruh oleh paman-pamannya untuk membujuk Alea supaya mau menerima lamaran tuan Anmar, seorang duda beranak satu yang anak laki-lakinya juga merupakan teman Alea di kampus.
Alea merasa masih sangat muda, belum mau menikah, Alea masih sanggup bekerja untuk membiayai ibunya, 'tapi siapa yang mau menerima anak seorang koruptor seperti dirinya?' Semua penduduk negeri ini sedang mengutuk keluarganya. Bahkan keluarga paman dan bibinya juga ikut malu dengan kasus korupsi ayahnya. Andai saja Alea tidak ingat masih memiliki ibu pasti dia sudah kabur sejauh mungkin entah ke mana agar tidak merepotkan mereka semua, tapi Alea sedang tidak memiliki banyak pilihan.
"Menurutku tuan Anmar juga tidak buruk. Dia masih bisa memberimu seorang anak, dan ingat Alea!" bibi Rose kembali mengingatkan, "tidak banyak pria yang mau menikahi anak seorang koruptor. Tuan Anmar mau menikahimu karena dia masih ingin memiliki keturunan dari wanita yang lebih muda."
Tanpa kenal putus asa bibi Rosita terus membujuk keponakannya. Pada kenyataannya keluarga mereka bukan keluarga kaya, mustahil mereka bisa terus menanggung biaya hidup Alea serta ibunya.
"Aku masih belum bisa berpikir Bibi tolong beri aku waktu," hanya itu yang bisa diucapkan Alea.
Sang bibi meraih tangan Alea dan mengenggamnya layaknya seorang ibu.
"Bibi mengerti, Alea. Bibi mengerti perasaanmu. Tapi seperti yang Bibi katakan tadi, tuan Anmar orang yang baik. Bibi yakin nanti kau akan mengerti jika di dalam rumah tangga wanita tidak cuma membutuhkan cinta yang menggebu-gebu, kita perlu seseorang yang lebih tenang sebagai sandaran."
Akhirnya Alea mengangguk. "Aku ingin bertemu dengannya dulu."
Bibi Rosita langsung tersenyum meskipun sambil menahan isakan haru. "Percayalah Alea tuan Anmar bukan pria yang buruk dia juga masih tampan andai saja kau mengerti nantinya."
Tentu Alea sudah pernah melihat tuan Anmar, dia pengusaha kaya raya, duda dengan satu anak. Walaupun masih terlihat gagah dan berkarisma tapi tetap saja pria empat puluh tahun akan lebih cocok sebagai ayah Alea. Tuan Anmar sudah dua puluhan tahun menduda sejak kepergian istrinya, dan tiba-tiba mau kembali menikah karena ingin memiliki keturunan lagi.
Dari beberapa pilihan antara dijemput di rumah, diantar ke rumah tuan Anmar, atau datang ke kantornya, ternyata Alea pilih datang sendiri ke kantornya.
Entah apa alsan Alea, tapi dalam bayangannya bertemu dengan seseorang dalam suasana kantor sepertinya tidak akan terlalu menakutkan walau ternyata anggapannya tidak selalu benar.
Alea sudah menjadi pusat perhatian sejak dirinya mulai masuk dari pintu lobi. Alea baru sadar jika dirinya sudah salah kostum karena datang ke gedung perkantoran semewah itu hanya dengan memakai celana jeans dan sweater rajut. Alea terus berjalan mengabaikan pandangan sebagian orang, dia langsung masuk ke dalam lift menuju lantai yang tadi sudah diberitahukan oleh resepsionis.
Selama di dalam lift Alea terus berusaha mengabaikan semua ketakutannya dan berpura-pura seolah dirinya cuma datang untuk sebuah wawancara kerja, karena setiap kali teringat kembali apa tujuannya datang ke tempat tersebut seluruh konsentrasinya akan segera kembali buyar. Alea harus kembali membangun tekat dan keberaniannya. Jemari tangannya gelisah, berpegang pada tali srempang tas kecilnya yang melintasi punggung, ujung sol sepatunya mengetuk-ngetuk di atas lantai lift agar tidak panik.
Begitu keluar dari pintu lift di lantai dua puluh lima, ternyata di sana sudah ada seorang wanita bersetelan rapi yang sudah menunggunya. Alea langsung diantar sampai di depan pintu ruangan tuan Anmar dan dipersilahkan masuk.
Alea masuk sendiri karena wanita yang mengantarkannya tadi langsung berpamitan pergi.
Ini adalah kali pertama Alea bertemu langsung dengan tuan Anmar. Meskipun sudah pernah beberapa kali melihatnya di media tapi memang sangat berbeda ketika berhadapan dengan orangnya langsung. Dari penampilan dan postur tubuhnya tuan Anmar memang bisa dibilang terlihat lebih muda dari pria berumur empat puluh tahun pada umumnya. Orang kaya wajar jika lebih terawat dan sangat menjaga penampilan.
Tuan Anmar yang tadinya sedang duduk segera berdiri menyambut Alea, dan tersenyum untuk menyapa.
Pria tinggi tegap itu juga langsung berjalan menghampiri Alea yang masih berdiri kikuk di depan pintu. Gadis muda itu benar-benar seperti anak ayam yang kehilangan induknya ketika dihadapkan pada pria seperti tuan Anmar.
Alea bukan tipe anak penakut dan tidak terlalu pendiam, tapi jika dibandingkan tuan Anmar, Alea benar-benar merasa kecil. Bukan hanya secara fisik tapi juga karisma dari pria itu yang bisa membuat nyali siapapun yang berada di hadapannya seketika menyusut. Selain masih sangat fashionable, tuan Anmar juga memiliki tubuh yang terlihat sekali sangat terjaga staminanya. Semuanya sangat rapi dan berkelas, menunjukkan jika pria itu memang bukan orang sembarangan.
"Terima kasih sudah datang." Suaranya terdengar berat layaknya pria dewasa yang tegas dan berwibawa.
Alea langsung diajak duduk karena dari tadi ternyata dia hanya berdiri canggung seperti anak tersesat.
Ruangan itu sangat Luas bernuansa biru gelap dan hitam. Pencahayaannya agak remang meskipun di siang hari. Ada sofa abu-abu di dekat dinding kaca berbingkai baja, Alea duduk di sana dan tuan Anmar ikut menyusul duduk di depannya.
Sofa tersebut sebenarnya cukup besar dan nyaman tapi tetap saja Alea merasa sangat canggung dan tidak tenang dengan posisi duduknya. Alea berusaha merapatkan pahanya karena tidak biasa duduk begitu dekat dengan seorang pria dewasa di sebuah ruangan yang agak remang dan hanya berdua.
Tuan Anmar justru malah beringsut lebih dekat sehingga kedua ujung lutut Alea berada di antara kedua pahanya. Tuan Anmar memang duduk dengan posisi paha agak terbuka layaknya cara duduk seorang pria. Tuan Anmar sebenarnya hampir sama seperti rata-rata dosennya di kampus dan Alea coba memposisikan konsentrasinya seperti itu agar tidak terlalu panik. Cuma bedanya, pria yang kali ini sedang memperhatikannya itu terlihat jauh lebih mahal dan tidak ada dosen di kampusnya yang bisa membuat jantung Alea berdegup sekencang ini.
Berulang kali, sebenarnya Alea bukan anak yang terlalu pendiam atau pemalu tapi pria yang sedang dihadapinya kali ini memang jauh melampaui kapasitas mentalnya.
Karena Alea belum juga bicara akhirnya tuan Anmar yang yang bicara lebih dulu.
"Kudengar usiamu sudah sembilan belas tahun?"
"Ya," jawab Alea dengan sangat singkat.
"Jangan takut padaku."
Bahkan ketika sedang menuduh seperti itu pun tuan Anmar tetap terlihat sangat tenang. Benar-benar mencerminkan sikap dari seorang pria yang sudah sangat berpengalaman menangani berbagai situasi, termasuk ketika harus menghadapi gadis muda yang sedang merasa seperti terhimpit di celah dinding.
Untuk lebih santai pria itu sengaja meletakkan lengannya di atas punggung sofa, menjulur sampai ke sisi tubuh Alea karena posisi mereka memang sedang duduk saling berhadapan dan sangat dekat.
Alea mulai memberanikan diri untuk menatap pria di depannya, walaupun masih belum berani memikirkan apa-apa. Otaknya kosong sepeti loading jaringan internet yang terjeda.
"Kau cantik Alea," tuan Anmar malah bicara seperti itu.
Sontak dada Alea jadi berdentam-dentam menjijikkan, dia takut luar biasa tapi tidak mau ketahuan dengan ketakutannya.
Tuan Anmar juga membelai surai lembut di sisi wajah Alea mengunakan tangannya yang lain, menyelipkannya kebelakang telinga kemudian kembali memperhatikan gadis muda itu baik-baik.
"Paman dan bibimu pasti sudah menceritakan semuanya."
Alea cuma mengangguk karena entah pita suaranya sedang hilang ke mana. Alea masih kesulitan untuk sekedar berkonsentrasi, tapi dia tetap memperhatikan bagai mana bibir pria itu ketika bergerak untuk bicara. Setiap ucapannya selalu diselingi dengan sedikit kombinasi senyum yang seharusnya membuat siapapun yang menatapnya merasa nyaman.
"Aku ingin memiliki seorang anak, satu orang anak saja sudah cukup." Tuan Amar kembali menghela napas sebelum kemudian kembali bicara. "Kau tidak perlu selalu melayaniku jika kau tidak mau."
Alea masih tidak sanggup bicara tapi udara yang dia hirup rasanya jadi lebih sesak dan menghimpit hingga ke pangkal paru-paru. Alea sedang membahas tentang anak dengan seorang pria dewasa yang akan membuatnya hamil. Entah caranya bagaimana Alea belum berani membayangkan.
"Aku tahu sudah terlalu tua untukmu. Tapi kembali lagi kukatakan, aku ingin menikah dengan wanita yang lebih muda karena aku benar-benar hanya ingin istriku masih bisa memberiku keturunan."
"Paman dan bibi sudah menjelaskannya," ucap Alea ketika mulai mau ikut bicara.
"Kau juga tidak harus memberitahu semua orang jika kau tidak mau, aku bisa merahasiakannya. Jika nanti kau sudah memberiku seorang keturunan aku juga berserah padamu dan aku akan melepaskanmu jika itu yang kau inginkan."
Tuan Anmar sengaja mengambil jeda sejenak untuk melihat reaksi Alea sampai kemudian gadis itu mengangguk pelan. Entah artinya cuma sekedar mengerti atau sudah setuju.
"Aku tetap akan menjamin semua kehidupanmu dan memberikan semua hakmu," lanjut tuan Anmar. " Aku hanya ingin menikahimu dulu secara hukum agar anak itu nanti ikut memiliki hak atas semua milikku."
Alea kembali mengangguk dan tuan Anmar merasa lega.
"Apa aku akan tinggal bersama Anda?" tanya Alea dengan sangat canggung bahkan untuk sekedar memilih kata ganti yang tepat untuk pria di depannya.
"Aku akan meberikan rumah untukmu, kau bisa membawa ibumu dan akan kusiapkan perawat untuknya."
"Terimakasih."
"Kau tidak perlu berterima kasih."
Tapi menurut Alea dirinya tetap perlu mengucapkan terima kasih atas keperdulian tuan Anmar terhadap ibunya.
"Alea, bolehkah aku bertanya sesuatu?"
Dari tadi Alea lebih banyak mengangguk dan kali ini gadis itu juga cuma kembali mengangguk.
"Apa kau masih perawan?"
Alea masih terkejut dan lidahnya seketika kelu untuk dapat ia gunakan menjawab pertanyaan macam itu.
"Maaf jika kau merasa tidak nyaman dengan pertanyaanku, aku hanya ingin tahu dan aku juga tidak menuntutmu harus perawan."
"Aku belum pernah," jujur Alea.
Tuan Anmar langsung berhenti untuk bertanya dan memperhatikan gadis itu lagi sampai beberapa lama.
"Kudengar kau juga teman putraku?"
Alea kembali mengangguk.
"Apa kau tidak apa-apa?"
Alea menatap pria di depannya mengenai pertanyaan itu.
"Kami tidak kenal terlalu dekat."
Napas tuan Anmar sedikit bergetar karena tiba-tiba teringat putranya. "Aku tahu wanita-wanita seperti apa yang bergaul dengan putraku."
Alea kurang paham dengan apa yang membuat seorang orangtua seolah bisa memaklumi kelakuan putranya layaknya lelucon. Memang sudah bukan rahasia jika putra tuan Amar yang terkenal tampan itu paling banyak dikelilingi wanita-wanita cantik. Tapi jika diperhatikan menurut Alea mereka sebenarnya mirip tapi dalam rentan usia berbeda dan 'mungkinkah saat masih muda tuan Amar juga memiliki kelakuan seperti putranya?' Alea buru-buru mengerjapkan pikirannya, dia tidak mau berpikir macam-macam dan tidak pantas.
"Apa tadi kau kesini sendiri?" tuan Anmar kembali bertanya.
Alea mengangguk lagi.
"Nanti akan kuantar kau pulang."
"Tidak usah, aku tidak mau merepotkan Anda," jawab Alea yang masih kaget dan belum sempat berpikir.
"Tidak apa-apa, kau tidak perlu merasa seperti itu padaku, karena nanti kau juga harus terbiasa."
"Sebenarnya aku masih ingin mampir ke rumah teman," bohong Alea ketika buru-buru mencari alasan.
"Oh, baiklah mungkin lain kali."
Untung tuan Anmar masih cukup santai menanggapinya dan Alea merasa lega. Alea segera beranjak berdiri untuk berpamitan dengan sopan.
"Terima kasih atas waktu Anda Tuan."
Tuan Amar yang kebetulan masih duduk langsung mendongak dan mengerutkan dahi.
"Jangan memangilku seperti itu." Tuan Anmar mengatakannya sambil sudah kembali tersenyum karena ternyata dia sendiri juga bingung bagaimana nanti gadis semuda Alea harus memangilnya.
"Mungkin kita bisa membahas perkara ini di pertemuan selanjutnya."
Alea mengangguk setuju seolah cuma menyetujui janji interview.
"Bilang kepada paman dan bibimu aku akan datang ke rumah kalian segera."
Berulang-ulang kali Alea cuma kembali mengangguk layaknya anak gadis yang patuh.
"Akan saya sampaikan."
Paman Alea juga bekerja di salah satu perusahan milik tuan Anmar dan karena itu lah kemarin tuan Anmar mendengar tentang Alea dan langsung menawarkan pernikahan pada pamannya.
"Hati-hatilah di jalan."
Alea mengangguk tapi kali ini sambil tersenyum karena ingat bahkan ayahnya sendiri pun tidak pernah berpesan seperti itu ketika Alea keluar rumah. Dulu biasanya cuma ibunya yang mengingatkan agar Alea pulang tepat waktu supaya ayahnya tidak marah.
Alea baru mau keluar dari pintu Lobi ketika mendengar suara seseorang memanggilnya.
"Alea!"
Gadis itu langsung berpaling ke asal suara yang memanggilnya dengan sangat familiar meskipun dari nadanya kelihatan sekali jika Troy terkejut melihatnya Alea di tempat itu.
"Kau dari mana?" tanya Troy ketika menghampiri Alea.
"Aku mau pulang," jawab Alea buru-buru.
Padahal Troy bertanya Alea 'dari mana' bukan dia 'mau ke mana'.
Troy jadi meneliti penampilan Alea yang terlihat santai hanya dengan celana Jeans dan sama sekali tidak terlihat seperti seseorang yang sedang baru melakukan wawancara kerja.
"Aku sedang mencari informasi pekerjaan."
"Ini perusahaan keluargaku, kenapa kau tidak tanya padaku?"
"Oh, aku tidak tahu." Alea pura-pura terkejut dengan manik mata kecoklatannya yang membulat.
"Aku bisa membantumu."
"Oh, tidak sepertinya aku akan mencari yang lebih sesuai dengan dasar pendidikanku."
Troy juga mendengar jika Alea sekarang sudah berhenti kuliah setelah kasus korupsi yang menimpa ayahnya.
"Aku bisa meminta papaku membuat pengecualian, dia akan mendengarkan semua kemauanku."
"Aku tidak mau curang dengan memanfaatkanmu."
"Kau boleh mengambil manfaat dariku, ingat aku juga sering curang dengan minta bantuanmu di kelas."
Troy mengingatkan Alea, karena dulu Troy memang sering mencontek pekerjaan kelas pada Alea. Mereka memang sudah kenal cukup lama sejak mereka masih sama-sama duduk di bangku SMU. Kenal dalam arti berteman karena Alea tipe anak rajin yang paling suka di kerumuni anak-anak malas saat ada tugas kelas. Alea sendiri tidak terlalu suka bergaul dengan teman-teman Troy yang terkenal badung.
"Kau cerdas Alea, kau layak mendapatkan pekerjaan apapun," dukung Troy yang masih belum menyerah untuk membujuk Alea tapi gadis itu tetap menggeleng pelan.
Mungkin saja jika ada yang menawarinya pertolongan seperti itu beberapa saat lalu sebelum dirinya bertemu tuan Anmar pasti Alea akan menerimanya.
"Terimakasih atas maksud baikmu, Kak Troy. Tapi sebaiknya jangan."
Alea memanggil 'kak' karena Troy memang beberapa tahu lebih tua dari Alea. Troy sempat mengulang kelas karena dulu murid pindahan baru. Jadi selain paling tampan dulu Troy juga paling tinggi besar di kelasnya.
"Sungguh aku tidak apa-apa."
Alea tetap menggeleng tapi kali ini sambil tersenyum karena dia juga tidak menyangka pemuda itu tidak jijik pada anak koruptor seperti dirinya, bahkan Troy masih mau membantunya.
Alea memang tidak pernah tahu jika selama ini Troy sering memperhatikannya. Walaupun setelah mereka kuliah sudah jarang saling bertegur sapa tapi Troy tetap sering diam-diam memperhatikan gadis cerdas itu dan prestasinya di kampus. Mereka sama-sama kuliah di kampus swasta elit yang super mahal karena itu sekarang Alea sudah tidak bisa melanjutkan kuliahnya lagi.
"Terima kasih, Kak Troy, tapi aku harus segera pulang ibuku di rumah sendirian."
"Biar kuantar."
"Tidak usah." Alea tidak Enak.
"Kau mau naik taksi?" tanya Troy buru-buru.
"Aku bisa naik apa saja."
"Naik saja ke mobilku jika kau bilang apa saja tidak masalah, berikan ongkos taksimu padaku!"
Alea jadi kembali membulatkan matanya karena merasa dijebak oleh pertanyaan barusan.
Troy justru tersenyum dan Alea tidak suka. Walaupun dulu Alea diam-diam menyukai senyum pemuda itu, tapi sekarang senyum Troy mengingatkan Alea pada tuan Anmar. Troy memang sangat mirip dengan ayahnya.
"Meskipun aku bajingan aku bersumpah tidak akan menculikmu atau memperkosamu di tengah jalan."
Akhirnya Alea tidak bisa menolak dan setuju diantarkan pulang oleh Troy.
"Ayo, Alea." Troy mengedikkan kepalanya agar Alea ikut.
Alea benar-benar merasa tidak enak dan agak kikuk, apa lagi ketika kemudian Troy juga menyapa beberapa staf di kantor ayahnya dengan cukup akrap. Troy terus saja menarik lengan Alea melewati lorong pintu Khusus untuk langsung menuju basemen. Dari ujung lorong itu juga tadi Alea melihat Troy ketika baru muncul memanggilnya. Artinya Troy juga baru tiba ketika bertemu dengan Alea di lobi dan sekarang sudah kembali pergi untuk mengantarnya. Alea benar-benar merasa tidak enak karena jadi merepotkan.
Sebagai anak konglomerat tidak mengherankan jika kemana-mana Troy mengendarai lamborghini.
"Kak, sekarang aku tinggal di rumah paman dan bibiku rumahnya agak masuk gang."
"Apa mobil tidak bisa masuk?" tanya Troy sambil mulai menjalankan mesin mobilnya yang memiliki tarikan sigap tapi halus.
"Bisa tapi tidak apa-apa aku turun di depan gang saja."
troy tidak bicara lagi sampai kemudian mengajak Alea membahas perkara yang lain.
"Aku ikut sedih mendengar pemberitaan di media." Troy menoleh sebentar pada Alea.
"Tidak apa-apa, semua yang bersalah pantas mendapatkan hukuman."
Troy menghela napas sejenak karena jujur saja tadi hal itu pula yang membuatnya langsung bersimpati pada Alea.
"Bagaimana dengan ibumu?"
"Sementara paman dan bibi yang membantuku."
"Karena itu kau mau mencari pekerjaan?"
Alea cuma mengangguk karena tidak mau menggunakan mulutnya untuk berbohong terlalu banyak karena Alea takut jika akan menjadi kebiasaan.
Setelah itu Troy yang lebih banyak bercerita. Troy bercerita mengenai papanya yang ingin dirinya melanjutkan kuliah di luar negeri karena Troy dianggap terlalu banyak bermain-main di sini.
"Semua pasti juga untuk kebaikan, Kak Troy."
"Kau tidak tahu papaku bahkan tega mengancam akan memasukkanku ke asrama Universitas sepanjang tahun jika aku sampai membuat masalah."
Alea tersenyum setengah menertawakannya. "Berhentilah mengacaukan hidupmu, lihat lah aku bahkan tidak bisa melanjutkan kuliah lagi meskipun sangat ingin."
"Kau benar, aku memang tidak berguna."
"Dengarkan apapun nasehat orang tua," saran Alea. " Meskipun yang dilakukan ayahku bukan contoh yang baik, tapi semua nasehatnya padaku selalu benar."
Troy cuma kembali menghela napas menyadari bertapa gadis muda itu jauh lebih dewasa daripada dirinya. Alea memang cerdas dalam arti yang sebenarnya, bukan hanya dalam intelektualitasnya, tapi juga cerdas dalam membawa diri sehingga membuat siapapun nyaman berada di sekitarnya. Benar sekali pendapat yang mengatakan jika orang cerdas itu menyenangkan karena mereka juga memiliki kecerdasan untuk mengendalikan dan menstabilkan atmosfernya sendiri yang menular ke sekelilingnya.
"Berhenti di sini saja, Kak."
"Tidak apa-apa."
Alea sudah hendak turun tapi Troy melarangnya.
"Gangnya sempit takut nanti mobilnya tergores."
"Ah, tidak masalah. Nanti jika aku sudah pindah untuk kuliah ke luar negeri juga tidak akan ada lagi yang mengendarai benda-benda seperti ini."
Tentu Troy punya banyak mobil sport di garasinya yang bakal nganggur karena tiba-tiba dia yakin untuk pergi mengikuti nasehat ayahnya.
"Di mana, Alea? apa masih jauh?"Troy menengok ke kanan kiri.
"Tidak, Kak. Satu blok lagi."
Alea minta berhenti didepan rumah berpagar putih yang merupakan rumah paman dan bibinya.
"Terima kasih, Kak."
Troy mengangguk sambil tersenyum dan berulang kali senyum pemuda itu memang sangat mirip dengan ayahnya. Seketika jantung Alea langsung ikut berdegup kencang tanpa memberi aba-aba.
"Apa Kak Troy tidak mau mampir?" Alea sengaja menawarkannya untuk sekedar batas sopan santun karena sudah diantarkan pulang.
"Ya, tentu. Aku mau." Ternyata Troy benar-benar ikut turun.
Walau agak canggung tapi Alea tetap mengajaknya masuk ke dalam rumah.
"Maaf ya Kak rumahnya kecil."
Troy sama sekali tidak masalah bahkan ketika Alea memperkenalkannya kepada bibi serta ibu Alea yang cuma bisa duduk di kursi roda.
Ibu Alea juga kesulitan bicara. Sebenarnya ibu Alea masih belum terlalu tua, tapi sepertinya serangan struk yang membuatnya terlihat jauh lebih tua dan menyedihkan. Bibir ibu Alea terlihat agak miring dan tangan kanannya seperti terpelintir dengan posisi jari-jari yang aneh karena otaknya sudah tidak bisa memerintah syaraf motoriknya dengan benar.
"Siang, Bu," Troy menyapa dan mencium punggung tangannya yang kaku seperti mengejang.
Napas ibu Alea agak bergetar mungkin maksudnya ingin balas menyapa, atau untuk sekedar memuji pemuda tampan yang sedang setengah merunduk di depannya dengan sangat sopan.
Nampaknya sikap Troy juga tidak luput dari perhatian bibi Rosita. Terutama ketiak diam-diam pemuda itu memperhatikan Alea.
Mereka memang ngobrol bersama di ruang tamu cukup lama sampai Troy menghabiskan teh yang di buatkan bibi Rosita dan berpamitan pulang.
Selepas pemuda itu pergi barulah bibi Rosita kembali mendekati keponakanya, dan menodongnya dengan pertanyaan.
"Jadi kau pergi kemana hari ini?"
Walaupun agak kaget tapi Alea tetap memaklumi kekhawatiran bibinya.
"Aku sudah bertemu tuan Anmar, Bi."
"Tapi bagai mana kau malah bersama putranya?"
"Aku sudah bertemu dengan tuan Anmar dan membicarakan semuanya. Tadi aku hanya tidak sengaja bertemu putranya di lobi dan mengantarkanku pulang."
"Bibi juga pernah muda dan tidak terlalu bodoh utuk sekedar melihat kalian!" tekan bibi Rosita. "Ingat Alea jangan bermain api! Kau akan menjadi istri ayahnya. Anak muda bisa sangat menggebu-gebu tapi itu tidak akan bertahan lama, percayalah dengan yang bibimu katakan!"
"Tidak Bibi kami hanya berteman."
"Kau juga harus ingat, jika bukan cuma kau saja yang bisa terbakar dengan permainan api. Ingat juga pamanmu dan masa depan sepupu-sepupumu jika ayahnya kehilangan pekerjaan."
Alea cuma mengangguk tanpa ingin menyangkal apapun karena bibinya memang benar. Ketiga sepupu-sepupunya masih perlu banyak biaya dan Alea sendir sudah merasakan seperti apa ketika seorang anak kehilangan peran ayah dan terlontang lantung.
"Tuan Anmar mengatakan akan segera kemari dan mengabari paman dan bibi."
Setelah menghela napas sejenak untuk meredam kecemasannya, bibi Rosita kembali menyentuh punggung Alea dengan lembut. Bagaimanapun dia juga menyayangi Alea dan tidak ingin terlalau keras terhadap gadis itu tapi kali ini mereka benar-benar sedang tidak memiliki pilihan. Dan pria sebaik tuan Anmar juga tidak akan datang sewaktu-waktu, Alea tetap harus merasa beruntung seandainya saja gadis itu sudah paham.
"Kau harus mengerti Alea, semua keputusan yang sudah kau ambil apapun itu ada tanggung jawabnya, apalagi pernikahan, tidak ada yang main-main!"
"Aku sudah menerimanya Bibi, katakan saja pada paman aku berserah padanya kapanpun mereka bisa menikahkanku."