Dentuman music DJ dan kepulan asap rokok menjadi teman Jessica malam ini.
Wanita cantik itu merasa sakit hati akibat suaminya yang dengan terang-terangan berselingkuh di belakangnya.
Niat hati, Jessica ingin memberikan kejutan pada suaminya pada malam ulang tahun pernikahannya yang kedua. Tapi siapa sangka, justru dirinya yang diberikan kejutan oleh Denis—suami brengsek Jessica.
Jessica menenggak minuman beralkohol yang sudah dipesannya. Wajahnya terlihat kusut dan kedua pipinya pun basah akibat buliran air mata crystal yang terus membasahinya.
Bayang-bayang Denis menikmati tubuh selingkuhannya terlihat dengan jelas. Bagimana wanita itu mengeluarkan desahan seksi yang membuat Jessica jadi semakin merasa muak.
Jessica menangis, ia tidak pernah menyangka jika suaminya rela berhianat seperti ini.
“Dasar bajingan! Aku tidak akan membiarkan kau mendapatkan satu persen pun harta milik kedua orang tuaku,” ucap Jessica lirih.
“Hai Baby, mau minum bersama?” tawar salah satu pria sambil menunjukkan gelas di tangannya.
“Tidak, terima kasih,” tolak Jessica datar.
“Sepertinya kau sedang bersedih. Pasti kau membutuhkan sosok untuk menghiburmu bukan?” ucap pria itu, sepertinya ia masih berusaha mendekati Jessica.
“Pergilah, aku datang bersama dengan suamiku!” ucap Jessica tapi setelahnya ia merasa hatinya sungguh tersayat.
Jessica merasa muak dengan semua ini, ia pun beranjak dari kursi itu lalu pergi menuju kamar mandi. Rasa takut mulai menghantui dirinya saat ia melihat pria itu mengikutinya.
Jessica sedikit mempercepat jalannya. Ia tidak ingin dibawa oleh pria yang tidak dikenalinya. Hingga akhirnya tanpa sengaja Jessica menabrak seorang pria asing yang tidak dikenalnya.
Jessica memeluk pria asing itu. “Maaf, bisa kau menolongku? Aku mohon, di belakangku ada pria yang mengejarku. Aku bilang aku datang dengan suamiku, tolong bantu aku,” pinta Jessica lirih.
Pria itu mendekati Jessica. Ia jelas tidak percaya jika Jessica datang dengan suaminya. Sejak ia masuk ke club ini. Pria itu melihat Jessica masuk ke dalam club ini seorang diri.
“Mau apa kau?” tanya pria yang sedang dipeluk Jessica.
“Kau siapa? Biarkan wanita itu bersama denganku!” ucap pria yang sejak tadi mengejar Jessica.
“Dia istriku, bukankah tadi dia sudah mengatakan kalau dia datang dengan suaminya? Memangnya salah kalau saya lebih dulu tiba di sini?” ucap pria itu dengan nada yang begitu dingin.
“Apa buktinya jika kau suaminya?” ucap pria itu.
Jessica yang mulai kehilangan kesadarannya masih bisa mendengar samar-samar apa yang diucapkan oleh pria yang ada di belakangnya.
Tanpa pikir panjang, Jessica langsung mencium bibir pria yang sedang dipeluknya. Membuat kedua tangan Jessica mulai mengalung ke belakang leher pria asing itu sambil memberikan remasan-remasan kecil di belakang kepala pria itu.
Tanpa melepaskan tautan bibir itu, pria yang sudah dicium Jessica mulai menggendongnya dan membawanya pergi dari tempat itu tanpa melepaskan tautan bibir yang semakin lama semakin memanas.
Pria yang tadi mengejar Jessica pun tidak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya melihat kepergian mereka berdua dengan rasa kecewa di hatinya.
Sedangkan Jessica sendiri masih belum sadar, wanita itu masih terpengaruh dengan minuman beralkohol yang sudah diminumnya tadi.
Jessica sangat menikmati permainan ini. Ia sedang membayangkan suaminya datang dan menyentuh tubuhnya.
Pria itu membawa Jessica masuk ke dalam mobil. Mereka masih berlanjut hingga mobil yang ditumpangi Jessica dan pria asing itu pergi meninggalkan club.
Pria itu menutup pembatas antara sopir dan penumpang. Ia merasa tertarik dengan ciuman panas ini. Entah kenapa berciuman dengan wanitu itu membuat dirinya seperti mengingat kenangan masa lalu.
Jessica semakin terbuai. Bahkan bagian dadanya sudah terekspose. Tangan pria itu mulai menyentuhnya, memberikan pijatan lembut hingga membuat Jessica meloloskan rintihan dari balik tautan bibir yang masih menyatu itu.
“Baby …,” desah Jessica saat William—pria yang sejak tadi diciumnya melapaskan sentuhan bibirnya.
William mengabaikan rancauan yang keluar dari bibir manis Jessica. Ia tidak peduli, saat ini yang terpenting adalah salah wanita itu yang sudah membuat hasrat William naik.
Sesampainya di hotel. William melepaskan jas yang dikenakannya. Ia menutub bagian depan tubuh Jessica lalu membawanya ke kamar hotel yang ia sewa untuk beberapa hari ke depan.
Jessica terlihat sangat liar, tidak peduli dengan pandangan orang sekitar karena wanita itu sedang mabuk.
Jessica menciumi rahang William, membuat pria yang sedang menggendongnya semakin tak bisa menahannya lagi.
William menatap wajah cantik wanita itu. Sangat manis, cantik dan mirip dengan seseorang di masa lalunya.
Entah apa yang ada di pikiran William saat ini.
Sesampainya di kamar hotel, dengan hati-hati William menidurkan tubuh Jessica lalu membuka jas yang menutupi tubuh indah wanita itu.
William memandang wajah Jessica lagi. Kedua sudut bibirnya terukir sangat indah. William menciumnya lalu memulai kembali apa yang sempat tertunda.
“Ahhhh …,” desah Jessica saat kedua tangan William menyentuh bagian dadanya.
Suhu udara dingin di ruang kamar ini tidak lagi terasa, sejak tadi hanya terdengar suara pertukaran saliva di antara mereka berdua. Rintihan-rintihan lembut juga lolos begitu saja dari balik bibir mungil Jessica. William sangat menyukainya.
Entah sejak kapan pakaian yang mereka kenakan sudah terlepas, William menyatukan tubuhnya ke tubuh indah Jessica yang ikut menikmati permainan ini. Tidak peduli setelah ini akan ada badai di antara mereka. Yang William lakukan saat ini adalah atas dasar sama-sama mabuk.
Mungkin William bisa dibilang pria bajingan, tapi siapa yang tahu bagaimana isi hatinya saat ini? Seekor kucing dikasih makanan lezat jelas ia akan memakannya. Begitu juga dengan William, ia adalah pria normal dan wanita ini sudah membuat Adik kecilnya terbangun dari tidurnya. Ditambah aroma tubuh Jessica sangat menenangkan hatinya. Membuat William jadi ingin lebih dekat lagi dengan wanitanya saat ini.
William bisa mendengar dengan jelas beberapa kali ia mendengar nama pria lain disebut oleh Jessica dalam percintaan mereka. William jadi bertanya-tanya, sebenarnya siapa pria itu? Apa mungkin kekasihnya? Atau suaminya?
William merasa terpuaskan saat akhirnya suara erangannya terdengar dengan jelas. Menandakan jika pria tersebut sudah menuntuaskan hasratnya di dalam tubuh wanita yang tidak dikenalinya.
William langsung menjatuhkan tubuhnya di samping tubuh polos Jessica. Ia menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua. Sebelah tangan William terulur untuk memeluk wanita yang sudah membuat malamnya begitu berwarna.
William merasakan tenang dan nyaman setelah selama ini ia selalu tidur dalam kegelisahan. Mimpi buruk selalu datang menghantuinya. Membuat William terus terbangun dan tidak ingin memejamkan kedua matanya lagi.
Entah ada magnet apa yang membuat William tidak ingin melepaskan dekapan ini. Setelah malam ini terjadi, yang ada di bayangan William adalah ia harus memiliki wanita ini. Dia begitu cantik dan bisa membuat tidur William sangat nyenyak sekali.
Mentari pagi mulai bersinar menerangi bumi ini. Dua insan yang tadi malam habis memadu kasih itu pun masih terlelap dalam tidurnya. Sepertinya, mereka begitu nyenyak. Sampai-sampai tidak menyadari jika matahari sudah terbit dari balik awan gelap yang tadi malam sempat menutupinya.
Jessica mulai bergeliat, merasakan sakit kepala yang begitu hebat. Ia pun menyentuh kepalanya yang terasa sakit.
Kedua mata indahnya perlahan-lahan mulai terbuka, mengedarkan pandangan sekitarnya. Memerhatikan jika tempat ini begitu asing baginya.
‘Di mana aku?’ Jessica merasakan sesuatu yang berat di pinggangnya. Ia dengan hati-hati menundukkan wajahnya lalu membelalakan kedua matanya.
“Ta-tangan siapa itu?” ucap Jessica di dalam hatinya. Ia mencoba menyingkirkan tangan pria yang tidak dikenalinya. Entah siapa orang asing ini. Dan Jessica sangat yakin jika seseorang yang sedang mendekapnya bukanlah suaminya.
‘Tunggu! Suami?’ Jessica mencoba mengingat apa yang terjadi. Kemarin ia pergi ke sebuah hotel di mana suaminya bermalam. Tapi, ia mendapati suaminya dengan wanita lain.
Jessica ingat dia pergi ke club lalu seseorang menyelamatkannya. Setelahnya, Jessica samar-samar mengingat jika ia telah mencium seorang pria.
Jessica memijat dahinya yang terasa sakit. Entah kenapa ia bisa melakukan hal bodoh seperti ini. Bahkan yang dilakukannya saat ini, sama seperti dengan suaminya.
Rasanya ingin sekali tertawa. Selama ini ia baru mengetahui jika suaminya bermain di belakangnya. Dan sekarang ia terjebak dengan pria asing di sini.
Jessica mulai menyingkirkan tangan pria yang telah mendekapnya. Ia sangat hati-hati sekali. Tidak ingin pria yang ada di sampingnya terbangun. Jessica berpikir jika ia harus cepat pergi dari tempat ini sebelum pria asing ini terbangun.
Baru saja Jessica ingin menyingkirkan tangan kekar itu, pria itu sudah menggerakkan tangannya. Menarik tubuh Jessica hingga menyentuh tubuhnya. Jessica bisa merasakan hangatnya tubuh pria yang ada di belakangnya. Hembusan napas sosok lelaki yang tidak diketahuinya itu juga sangat hangat, membuat sekujur tubuh Jessica merinding hebat.
‘Sial, kenapa dia malah menarikku!’ Jessica merutuki pria itu di dalam hatinya, ia sungguh kesal. Bisa-bisanya ia terjebak di tempat seperti ini.
Tapi, untuk apa menyesalinya? Bukankah suaminya juga berhianat? Bagaimana jika sekalian balas dendam saja?
Jessica mencoba membalikkan tubuhnya, niat ingin melarikan diri sirna sudah. Sepertinya, ia memiliki ide gila yang bisa membuatnya terlepas dari suami brengseknya itu.
Deg!
Jantung Jessica berpacu dengan sangat cepat. Ia tidak menyangka jika pria yang tadi malam sudah menghiburnya ini justru seorang pria yang sangat tampan, siapa sebenarnya pria ini?
“Selamat pagi,” ucap pria itu dengan suara khas bangun tidur.
Wajah Jessica langsung merona sudah. Ia tidak menyangka akan tertangkap basah seperti ini. Sudah terlanjur juga, jadi untuk apa malu lagi.
“Siapa kamu? Kenapa aku bisa di sini?”
‘Menarik.’ Pria itu membuka matanya. Menatap lekat wanita cantik yang sudah membuat tidurnya sangat nyenyak.
“Kau tidak berteriak?”
“Hah? Untuk apa aku berteriak?”
“Karena melihat aku ada di sampingmu. Dan … kita sama-sama tidak memakai baju.”
‘Sial, pria ini kenapa tidak tahu malu sekali. Tapi menarik!’
“Karena aku ingat semua yang sudah kita lakukan tadi malam. Dan aku mohon, lupakan saja.”
William mengangguk. Ia menarik belakang pinggang Jessica hingga membuat wanita itu tersentak kaget. William semakin tertarik dengan wanita yang tidak menuntut tanggung jawab padanya.
‘Sial. Jantungku tidak bisa diajak kerjasama!’ umpat Jessica di dalam hatinya.
“Siapa nama kamu?”
“A-aku Jessica. Kamu?”
“William.”
Kedua manik mata mereka kembali bertemu. Entah kenapa, William merasa hangat saat berada di sisi wanita yang baru saja dikenalnya. Begitu juga dengan Jessica, ia sendiri seperti merasakan sebuah desiran yang tidak bisa diartikan.
“Senang berkenalan dengan Anda. Kalau begitu saya mandi dulu, saya harus segera pergi!”
“Bisa kau tinggalkan nomor ponselmu? Apa aku boleh menghubungi kamu lagi?”
Jessica mengangguk. Ia melihat William yang sedang mengambil ponselnya lalu memberikannya ke Jessica. Dan wanita itu langsung memasukan nomor ponselnya di sana.
“Sudah.” Jessica memberikan ponselnya. Lalu ia menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya. Beruntung di kamar hotel ini memiliki dua selimut. Jadi Jessica tidak perlu melihat tubuh polos pria yang sudah menjadi tempat pelampiasan kekesalannya tadi malam.
‘Ah, mungkin aku sudah gila, melampiaskan kekesalan dengan cara tidur dengan pria lain.’
Jessica menggelengkan kepalanya. Ia akan mengurus semuanya hari ini, tidak akan ada lagi yang perlu ia tunda. Jessica akan menceraikan suaminya. Dan ia akan mengambil hak yang sudah menjadi miliknya sejak dulu. Beruntung, asset milik Jessica tidak jatuh ke tangan pria brengsek itu!
“Dasar suami enggak tahu diuntung! Bagus aku tahu lebih awal. Sekretaris sialan, tidak tahu diri! Beraninya dia bersikap manis di hadapanku,” gerutu Jessica di bawah air shower hangat yang membasahi tubuhnya.
Usai membersihkan diri. Jessica keluar dari dalam kamar mandi dengan pakaian yang ia pakai tadi malam. Yah, setelah ini Jessica akan pergi ke hotel di mana ia menaruh koper yang ia bawa.
Jessica melihat William sedang mendorong trolly makanan. Wanita itu mengernyitkan dahinya.
‘Dia ingin menahanku di sini gitu?’ pikir Jessica.
“Makan dulu baru pergi. Mau aku antar?”
Jessica menggelengkan kepalanya. “Tidak perlu. Aku bisa pergi dengan menggunakan taksi.”
“Kau yakin? Sepertinya kau bukan orang sini? Apa ada masalah? Maaf jika aku lancang.”
“Tidak ada. Aku langsung pergi saja.”
“Ta—” ucapan William terpotong saat mendengar suara perut Jessica mengeluarkan suara. Jessica merutuki dirinya sendiri. Ia jadi malu sendiri karena perutnya itu tidak bisa diajak Kerjasama.
“Ayo jangan menolaknya. Tidak baik menahan rasa lapar. Jika kamu tidak ingin aku antar tidak apa-apa. Setidaknya, kamu makan dulu.”
Jessica tidak menolaknya lagi. Ia jadi tidak enak hati. Sepertinya, pria ini cukup baik.
‘Dasar perut sialan! Mau taruh di mana wajah aku ini?’
Jessica tersenyum canggung. Ia duduk di sebuah bangku yang ada di dekat jendela. Jessica menatap sejenak keluar jendela, memerhatikan beberapa burung kecil yang singgah di dinding balkon kamar hotel ini.
William memerhatikan arah pandang wanita itu lalu tersenyum.
“Makanlah dulu, aku mandi sebentar. Nanti kita turun bersama.”
Jessica hanya mengangguk, lebih cepat akan lebih baik. Ia sudah sangat malu bertemu dengan pria asing ini. Bahkan kelakuannya tadi malam sudah membuat nama baiknya jadi buruk di mata pria itu.
Jessica menghela napasnya panjang. “Kenapa aku bisa sebodoh ini. Ya Tuhan, apa tidak bisa waktu aku putar? Aku malu sekali, tapi aku tidak bisa melarikan diri dari tempat ini,” ucap Jessica di dalam hatinya.
Usai menikmati sarapannya. Sesuai janji William. Pria itu mengizinkan Jessica untuk pulang. Mereka menuju lobby hotel bersama. Lalu Jessica mengernyitkan dahinya.
“Tunggu! Sepertinya ini hotel yang aku tempati.”
William mengernyitkan dahinya. “Benarkah? Kamar nomor berapa?” tanya William.
Jessica mencoba mengambil card miliknya. Di sana tertera nomor kamarnya.
William yang melihatnya langsung tertawa. “Astaga, ini suatu kebetulan yang mungkin memang aslinya kita itu berjodoh ya?”
Jessica mengernyitkan dahinya. “Maksudnya?”
“Kamar kamu ada di samping kamar yang kita tempati tadi malam.”
Kedua mata Jessica langsung membelalak. Kedua tangannya bahkan langsung menutup mulutnya. Benar-benar suatu kebetulan yang tidak pernah ia pikirkan. Jessica sengaja memilih hotel yang berbeda dari suaminya agar ia tidak melihat pria yang sudah menghianatinya itu. Dan kenapa ia bisa sebodoh ini, sejak tadi malam berada di hotel yang sama tapi ia tidak menyadarinya jika berada di hotel tempat ia sewa sebelumnya.
“Well, bagaimana kalau aku antar kamu ke kamar?”
Wajah Jessica merona sudah. Ia sangat malu, tapi mau bagaimana lagi. Karena pikirannya yang sedang sempit membuat Jessica tak bisa berpikir dengan jernih.
Jessica mengangguk. “Tapi aku harus segera pergi. Ada hal yang harus aku selesaikan.”
“Maaf jika aku lancang. Tadi malam kamu terus merancau memanggil nama pria lain. Apa dia suami kamu?”
Deg!
‘Hal bodoh apa lagi yang sudah aku lakukan? Bahkan di saat aku ingin melupakan segalanya. Aku justru memanggil nama laki-laki yang sudah mengingkari janjinya.’
Jessica menundukkan wajahnya. Mencoba menahan buliran crystal yang sudah menumpuk di kedua kelopak matanya.
Tidak ingin mengingat hal gila itu lagi. Tapi lagi dan lagi bayang-bayang suaminya bercinta dengan wanita lain kembali terlintas. Istri mana saja yang melihat kenyataan pahit itu, sudah pasti mereka akan sama merasakan sakit yang luar biasa.
Jessica melangkahkan kakinya lagi. Ia baru ingat jika lorong ini memang sama saat ia mendatanginya untuk pertama kalinya.
Jessica jadi merasa berdebar saat jalan bersama dengan pria yang sudah membuat malamnya menjadi indah. Jessica sendiri tak pernah membayangkan kenapa ia bisa melakukan hal gila seperti ini. Sampai detik ini, ia tidak percaya jika dirinya sudah tidur dengan pria lain.
Padahal, sudah pasti suaminya lebih dari satu kali melakukan hal menjijikan ini. Tapi sepertinya pria itu tidak pernah merasa puas. Apa karena mereka belum memiliki seorang anak?
William terus memerhatikan wanita yang ada di sampingnya. Mengikuti setiap langkah ke mana pun wanita itu pergi. Ia tahu pasti telah terjadi sesuatu. Apa lagi ucapannya tidak di jawab wanita itu. William sendiri tidak mengerti kenapa hatinya tergerak saat melihat Jessica sedih seperti ini.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun. William langsung memeluk Jessica.
Jessica diam, ia tidak membalas dekapan William. Hanya saja, ia merasa aman dan nyaman. Buliran crystal yang sejak tadi ia tahan. Akhirnya mengalir sudah. Jessica meluapkan semua kesedihannya. Ia mulai menangis dengan tubuh yang bergetar.
William mengusap punggung kecil Jessica. Ia ikut merasa sakit atas apa yang dirasakan Jessica saat ini.
“Jika tidak keberatan. Kamu boleh menceritakannya padaku. Siapa tahu, aku bisa membantu memecahkan permasalahan kamu. Tapi jika tidak ingin mengatakannya juga tidak apa-apa. Tapi berjanjilah untuk tidak pergi ke club malam lagi. Aku takut nanti ada orang lain yang akan menyakiti kamu.”
Usapan di punggungnya membuat Jessica merasa sangat nyaman. Perlahan-lahan ia merasa sangat tenang. Sebelumnya Jessica tidak pernah merasakan senyaman ini saat dipeluk seseorang. Bahkan saat ia didekap oleh suaminya sendiri. Jessica merasa biasa saja. Tapi dengan William, ia seperti menemukan tempat untuk meluapkan segalanya. Seolah pria ini akan selalu melindunginya.
William mengambil card pintu kamar hotel milik Jessica. Ia membukanya dan mengajak Jessica untuk masuk ke dalam. Tidak enak jika ada yang melihat mereka di luar nanti.
William mengurai dekapannya. Ia mengajak Jessica untuk duduk di sofa. Lalu pria itu mengambil minum untuk wanita cantik yang sedang bersedih itu.
Jessica mengambilnya lalu meminumnya sedikit. Ia menatap William yang sedang menatapnya juga.
“Aku baik-baik saja. Hanya masalah kecil.” Jessica mencoba untuk tetap tenang. Biar bagaimana pun, tidak mungkin ia menceritakan masalah rumah tangganya pada orang lain.
“Baiklah, kalau gitu aku tidak akan bertanya lagi.”
Jessica tersenyum. “Terima kasih.”
“Kalau gitu aku permisi dulu. Aku akan menghubungi kamu lagi. Tidak masalah bukan?”
“Tidak, kamu jangan khawatir. Aku akan baik-baik saja. Terima kasih sudah mengantar.”
William mengangguk. Ia pun langsung pergi meninggalkan kamar Jessica.
William mengeluarkan ponselnya. Ia langsung menghubungi seseorang yang sangat dipercayainya.
“Cari tahu soal wanita yang sudah saya kirim fotonya.”
William tersenyum senang. Ia akan berusaha untuk mendapatkan wanita itu. Bersama dengan Jessica, tidur malamnya menjadi sangat nyenyak. William akan mencobanya malam ini, tanpa ada Jessica di sampingnya. Apa akan terasa sama seperti malam-malam sebelumnya?
William memasuki lift. Sebenarnya ia tidak ingin berpisah dari wanita rapuh itu. Tapi sepertinya, William harus memberikan waktu untuk Jessica menenangkan dirinya. Lagi pula, William tidak ingin dicap sebagai pria yang tidak sabaran seperti ini.
Di kamar Jessica.
Setelah puas dengan tangisan yang hanya membuang waktu saja. Jessica mengeluarkan ponselnya. Ia menghubungi pengacaranya. Sudah tidak ada yang perlu dipertahankan lagi bukan? Untuk apa mempertahankan rumah tangga yang memang sudah tidak harmonis lagi?
Setelah menceritakan semuanya yang terjadi. Jessica segera berkemas. Ia akan segera kembali ke London. Tidak mungkin ia berlama-lama di tempat ini. Kehidupannya bukan di negara ini. Apa lagi tempat yang ia kunjungi ini sudah menjadi saksi di mana suaminya pergi menghianatinya.
Begitu juga Jessica sendiri, ia juga sudah berhianat pada suaminya sendiri dengan melakukan one night stand dengan pria asing. Jadi lebih baik, sudahi saja semua ini dengan begitu, mereka bisa memiliki kehidupan yang bebas.
Jessica mengambil kopernya. Ia menariknya keluar dari dalam kamar hotel. Meninggalkan semua lukanya di sini. Karena sesampainya di London. Jessica tidak ingin lagi mengingat semua yang sudah terjadi di negara ini.
Di sisi lain.
“Baby, kamu mau ke mana?”
“Mandi, ini sudah pagi.”
Menarik pinggang wanitanya hingga tubuh polos mereka saling bersentuhan.
“Hari ini tidak ada meeting. Untuk apa buru-buru?”
“Tidak, aku merasa sangat lapar. Jadi aku ingin bangun.”
“Aku juga lapar, tapi maunya makan kamu,” goda pria itu.
Pria itu meraup bibir manis wanita yang ada di hadapannya. Mencecapnya setiap inci, merasakan betapa manisnya bibir yang sudah menjadi candu baginya.
“Mmmm, sudah. Kau nyalakan ponselmu, sejak kemarin kau sudah mematikannya. Apa nanti istrimu tidak curiga?”
“Ayolah Baby. Kita sudah melakukan ini lebih dari satu tahun, masa kamu masih harus mencemaskannya? Dia itu istri patuh dan penurut, tidak pernah mencurigai aku juga.”
“Iya tapi, aahhh. Kamu nakal ya,” ucap wanita itu sambil meremas lengan pria yang sudah ada di atas tubuhnya.
Wanita itu mulai mengerang, bergeliat tak karuan saat merasakan bibir pria itu mulai menikmati bagian tubuhnya yang sensitive.
Denis … dia adalah suami Jessica. Saat ini, ia sedang menikmati pagi yang panas dengan sekretarisnya. Diam-diam mereka sudah merajut kasih tanpa sepengetahuan Jessica.
Entah apa yang membuat Denis berubah menjadi pria brengsek seperti ini. Bahkan wanita selingkuhannya itu tidak memiliki apa-apa. Sedangkan Perusahaan yang di pimpin oleh Denis merupakan usaha milik Jessica. Delapan puluh persen saham yang ada di Perusahaan itu adalah milik Jessica. Kedua orang tuanya menaruh saham di Perusahaan Denis karena saat itu kedua orang tua Denis hampir bangkrut.
Tapi sayangnya pria yang sudah ditolongnya itu tidak tahu terima kasih, tidak tahu diri dan sangat egois. Tidak memikirkan wanita yang selama ini selalu menjadi penyemanagatnya. Menjadi sosok yang selalu mendoakan kesuksesan suaminya.
Dan kini tanpa Denis tahu jika istrinya sudah mengetahui semuanya. Wanita itu akan segera mengambil haknya. Dan pria itu akan kembali terjatuh ke dalam jurang yang sama.