Bab 1

"Maafkan Ibu, Nak. Ibu sebenarnya tak ingin memaksamu melakukan ini. Tapi waktu itu Ibu terpaksa berhutang pada Tuan Thakur agar bisa membayar biaya rumah sakit bapakmu," kata Ibu padaku.

Lila, begitu nama panggilanku menatap hampa pada barang- barang yang dihambur oleh anak buah Tuan Thakur itu. Mereka telah datang ke sini beberapa kali dan telah beberapa kali pula melakukan hal ini setiap kali mereka gagal dalam mengemban misi menagih hutang sebanyak Rp. 178.000.000 pada kami.

Keluarga kami bukan keluarga yang sugih nan kaya. Semenjak aku lahir, yang kuingat ya kami selalu hidup miskin. Terlahir bungsu dari tiga bersaudara, bisa tamat SMA saja adalah suatu keajaiban buatku. Sementara dua orang kakaku yakni Wina dan Aldi masing- masing telah berkeluarga dengan tingkat kesulitan ekonomi yang sama sulitnya dengan kami. Dan mereka takkan mungkin sanggup membantu membayar hutang itu.

"Tuan Thakur itu, belum terlalu tua kok, Nak. Ibu dengar dia adalah lelaki yang gagah dan tampan. Tak mengapa kalau kita mencoba menawarkan dirimu untuk jadi istrinya. Siapa tahu beliau berminat, kau mungkin bisa hidup senang tak kekurangan suatu apa pun," kata Ibu.

"Siapa bilang, Tuan Thakur itu tidak tua? Waktu Lila masih kecil aja dia di ingatan Lila adalah orang dewasa, Bu! Apalagi sekarang, dia pasti sudah tua. Mana yang Lila dengar dia itu tukang kawin, dan ibuuu ... Ibu kok sampai hati mau menikahkan Lila dengan orang itu? Jadi istri keempat pula. Teganya Ibu ..." ratapku.

Kata- kata menawarkan itu terasa menyakiti harga diriku.

"Kita tak punya pilihan lain, Nak. Andai ibu punya pilihan lain, mana mungkin ibu tega menikahkan kamu dengan Tuan Takur? Meski kita sekeluarga banting tulang, tetap tak akan bisa membayar hutang- hutang itu kecuali kita sudah tak keluar biaya hidup lagi," keluh wanita tua bergelar ibu itu.

***

"Lila, bagaimana atuh urusan keluargamu dengan Tuan Thakur?" tanya Yenni, sahabatku.

Siang ini kami sama- sama berjanji mencuci pakaian di sungai. Ini kegiatan mengasyikkan anak gadis di perkampungan seperti kampung kami ini. Sambil mencuci baju, kami bisa juga sambil merumpi.

Aku menggeleng sedih.

"Aku tak tahu, Yen. Hutang ibuku banyak. Mustahil bagi kami bisa membayarnya. Dan masa ibu nawarin ke Tuan Thakur untuk menjadikan aku sebagai pembayar hutang? Ya Allah, Yen, tolong aku. Udah dijadikan pembayar hutang, ibu pula yang nawarin. Bayangkan! Untuk jadi istri keempat pula. Bayangkan sesial apa hidupku coba?" keluhku meluapkan segala uneg- unegku sambil aku membanting baju yang telah kusikat ke bebatuan.

"Ya Tuhan, memangnya istri keempat Tuan Thakur meninggal lagi?" celutuk Yenno.

Itu membuatku kaget.

"Meninggal gimana maksudnya?" tanyaku.

Aku sampai menghentikan kegiatanku mencuci untuk mendapat informasi dari Yenni.

Yenni meletakkan sikat bajunya dan turun dari batu besar tempatnya mencuci. Dia berjalan di air yang tidak terlalu deras itu dan mendekatiku.

"Hati- hati, Lil. Yang aku dengar posisi istri keempat Tuan Thakur itu terkutuk!"

"Apaaaaa?" teriakku kencang. Sadar suaraku terlalu kencang, aku pun langsung menutup mulutku.

"Terkutuk gimana?" tanyaku penasaran.

"Aku pernah mendengar, keluarganya Tuan Thakur itu sangat mementingkan anak laki- laki sebagai penerus keturunan. Tetapi keturunan Tuan Thakur terakhir laki- laki kayaknya hanya akan berhenti di Tuan Thakur ke VI, Tuan Thakur yang berjaya saat ini, calon suamimu," kata Yenni.

Oh my God! Bahkan gela mereka saja ada angka romawinya, batinku.

"Tolong ya, dia bukan calon suamiku," bantahku.

"Ketika itu yang kudengar bapaknya Tuan Thakur yang sekarang, membeli lahan pemakaman di kota sebelah. Lalu di sana dibangun mall, dan kau tahu banyak dari keluarga pemilik kuburan itu nggak terima. Salah satu dari mereka ada yang sampai bersiteru dan terjadilah pertumpahan darah yang menyebabkan ada yang meninggal. Dan aku dengar- dengar, keluarga mereka nggak terima dan bersumpah kalau di keluarga Tuan Thakur itu tidak akan pernah terlahir lagi anak laki- laki," kata Yenni.

"Ya ampun, seram banget ...." kataku. "Tapi hubungannya sama istri keempat apaan?" tanyaku lagi.

"Nah, kan. Habis Tuan Thakur ke VI menikah terbukti dia tak memiliki anak laki- laki. Dari bapaknya dia disuruh menikah lagi. Istri yang kedua malah tak punya keturunan alias mandul. Nah istri ke tiga pernah melahirkan anak laki- laki, tapi masih bayi berapa bulan udah meninggal. Nah istri yang keempat sudah dua kali setelah habis 100 hari pernikahan pasti akan meninggal," bisik Yenni.

"Apaaaa???!!!" teriakku lagi.

"Karena itu aku memperingatkanmu, Lil. Hati- hati," kata Yenni lirih.

Hingga kami pulang dari cucian, kata- kata Yenni selalu menghantuiku. Beberapa kali aku mengatakan pada Ibu untuk membatalkan keinginannya itu. Tapi Ibu tidak menghiraukan. Hingga di suatu malam, ibu datang ke kamarku. Masih menggenggam telepon genggam model lama yang ada senter di atasnya, sang Ibu membangunkanku yang hampir terlelap.

"Lil, Tuan Thakur bersedia membebaskan kita dari hutang. Sebagaimana tawaran ibu semua hutang kita akan lunas kalau kau menikah dengannya."

***

"Jadi kamu Delilah? Dengan panggilan apa biasanya kamu dipanggil?" tanya pria itu.

Aku menatapnya sedikit takut- takut. Pria yang dijuluki Tuan Thakur itu kini ada di hadapanku. Dia sebenarnya tidak setua yang ada di pikiranku. Meskipun memang dia tak semuda sosok pria yang pernah kuingat saat aku masih anak- anak.

"Lila, aku biasa dipanggil Lila, Pak!" jawabku sesopan yang aku bisa.

Tuan Thakur itu sedikit mengernyitkan keningnya mendengar aku memanggilnya dengan panggilan "Pak". Namun dia juga tidak protes.

"Umurmu 19 tahun?" tanyanya lagi.

Aku mengangguk.

Terlihat dia menghela napas berat.

"Sebenarnya kau masih terlalu muda untuk kunikahi, tapi istri pertamaku menyukaimu," katanya lagi.

Kali ini aku yang mengernyitkan kening.

Hahaha ... apa ini? Jadi sekarang seolah- olah dia yang terpaksa menikahiku. Dengan alasan istri pertamanya menyukaiku. Alasan tidak masuk akal apa itu? Mana ada seorang istri yang menyukai calon istri baru suaminya?

"Jadi, Lila ...." Tuan Thakur menyebut namaku. "Ibumu menawarkan padaku dirimu sebagai pelunas hutang- hutang yang pernah dia pinjam pada kami. Di sini, aku tidak mau menjadi orang jahat. Kau cukup beri tahu aku apakah kau bersedia atau tidak menikah denganku."

Aku terdiam. Kalau ditanya jujur pada hati nuraniku yang paling dalam tentu saja aku tidak bersedia. Hanya orang gila harta saja yang dengan sukarela menikahi seseorang yang memiliki banyak istri.

Aku menatapnya. Entah mengapa aku kali ini ingin menilainya secara pribadi dalam hatiku. Mencari kelayakan apa yang pantas jika ditukar dengan kebersediaanku sebagai istrinya.

Pria yang tidak kutahu siapa nama aslinya itu sepertinya berusia sekitar 40 tahunan, atau mungkin lebih muda sedikit dari itu? Sekilas yang kunilai dia adalah pria kharismatik, tampan, manly, rapi dan dia tidak seperti dibayanganku sebelumnya. Dalam raut wajahnya tidak ada sedikitpun ekspresi genit atau pun nakal seperti halnya pria yang suka gonta- ganti istri.

"Jadi setelah memperhatikanku secara seksama begitu, sudahkah kau memutuskan?" tanyanya membuyarkan semua perhatianku yang terpusat padanya.

Aku merasa wajahku memerah mendapat teguran seperti itu. Astaga, ini memalukan! Apakah aku sedang tersipu?

"Ehmmm!" dehemnya.

Entah apa aku yang salah lihat, aku sepertinya melihat dia sedang berusaha menahan senyumnya melihat kecanggunganku.

"Baiklah, Lila. Mari kita persingkat ini. Kau belum menjawab pertanyaanku. Tapi sebelumnya akan menjelaskan padamu point- point penting tentang pernikahan kita. Jadi dengarkan aku baik- baik, hmmm?"

Aku tanpa sadar mengangguk.

Dia memberiku sejenak jeda sebelum akhirnya dia mulai menjelaskan padaku, point- point apa yang dimaksudnya. Dengan menautkan tangannya di meja, dia menatapku.

"Yang pertama, kujelaskan di sini. Kita menikah adalah atas dasar kesukarelaan satu sama lain, bukan karena keterpaksaan. Aku tidak suka dianggap memaksa seseorang untuk kunikahi," katanya.

Tanpa sadar aku mengangguk seolah aku paham apa yang dia maksud. Padahal jelas- jelas bagiku tetap saja ini keterpaksaan.

"Yang kedua, ini bukan pernikahan kontrak seperti yang sering kau tonton pada drama- drama di televisi. Jadi dalam pernikahan ini, jangan harap akan ada perceraian. Jadi jika kau ingin terbebas dari pernikahan ini. Cuma ada dua kemungkinan. Salah satu dari kita mati. Atau jika pun memang harus ada perceraian, itu karena aku yang menginginkannya," katanya dengan nada yang tiba- tiba berubah mengintimidasi.

Mataku seketika berkunang-kunang mendengarnya.Tidak ada perceraian, tidak ada perceraian. Kata-kata itu menggema di dalam gendang telingaku berulang-ulang.

*bersambung*

Bab 2

"Untuk yang berikutnya, kukatakan sejujurnya. Aku menginginkan seorang putra. Karena itulah aku menikahimu. Dan itu berarti aku berhak menyentuhmu seperti layaknya apa yang dilakukan suami istri pada umumnya. Mengupayakan tujuan utama agar kau segera mengandung, termasuk membawamu ke dokter. Bagaimana? Kamu keberatan dengan itu?"

Glekkk!!! Aku menelan liur, terasa pahit rasanya. Mendengar tujuan utamanya menikahiku membuatku seakan meriang. Benar kata Yenni. Ini hanya untuk mendapatkan penerus keluarga mereka. Lalu bagaimana dengan desas desus kematian istri keempat itu?

"Bagaimana, hmm? Kalau kau bersedia, tak cuma hutang keluargamu yang lunas. Dan jika kau berhasil memberiku seorang putra tak cuma hutang yang lunas. Hidup keluargamu juga akan sejahtera. Dan tentu saja kau dan putramu juga. Dan mungkin kau juga akan jadi istri kesayanganku, hmmm?"

Aku menghela napas berat. Siapa juga yang mau jadi istri kesayanganmu? batinku dalam hati dengan sangat frustasi.

"Bagaimana? Kau boleh pikirkan selama beberapa hari dulu," kata pria itu.

Aku mengangguk lemas. Lalu bak selesai interview, aku pun meninggalkan ruangan tempat aku bicara dengan Tuan Thakur. Kembali menemui Ibu yang telah menunggu di luar.

Namun saat aku ingin meninggalkan ruangan itu, aku merasa ada bayangan seseorang yang terlihat berlari menjauh ke arah belakang rumah mewah itu. Apakah tadi ada orang yang menguping? pikirku.

Namun kemudian aku mengangkat bahuku pasrah. Terserahlah.

***

"Ibu, aku nggak mau menikah dengan Tuan Thakur ituuuu," rengekku.

Setelah pertemuanku dengan Tuan Thakur itu, hatiku rasanya lebih mantap untuk menolak. Lelaki itu sama sekali bukan tipeku. Lelaki idamanku adalah seperti sosok Mas Firman, Ketua Karang Taruna di kampungku. Berusia lebih tua dariku 2 atau 3 tahun, bukannya sampai hampir 20 tahun di atasku.

Nelangsa, sial, entah harus dengan cara apa aku mengungkapkan segala perasaan yang kurasakan saat ini. Tapi sungguh aku tidak ikhlas harus menjalani seluruh hidupku bersamanya. Apalagi katanya tidak akan ada perceraian dalam pernikahan ini nantinya.

Ibu mengelus kepalaku dengan sayang.

"Lil, kalau kamu tak mau ibu tak akan memaksamu, Nak. Ibu juga tidak mau kau mengingat ibu sebagai orang tua yang jahat," kata ibu padaku.

Setelah mengatakan itu Ibu pun pergi. Berhari- hari sejak saat itu, Ibu tak lagi berusaha membujukku. Rutinitas ibu sebagai asisten rumah tangga di desa tetangga pun berlanjut seperti biasa.

***

Pov Author

Wanita tua itu dengan raut wajah gelisah menunggu Tuan Thakur untuk menemuinya. Meski dalam resahnya, dia menyempatkan diri mengagumi interior rumah megah ini. Andai Delilah putrinya tak menolak menikah dengan Tuan tanah yang dijuluki Tuan Thakur ini tentulah hidup Lila nanti agar bergelimangan harta. Tetapi kalau putri bungsunya itu tidak mau, apa yang bisa dilakukan dengan itu? Bahkan sekarang pun dia terpaksa melakukan ini.

"Sudah lama menunggu?" tanya pria itu.

Ibu Mirna tersentak.

"Anu ... be- belum lama, Tuan," jawab Bu Mirna canggung.

Canggung karena lelaki itu tadinya akan menjadi menantunya. Dan usia mereka mungkin hanya terpaut 15 tahunan, yang artinya sebenarnya mereka kuranglah cocok terlihat sebagai menantu dan mertua. Tetapi sekarang penolakan Lila pun membuatnya merasa tidak enak. Lelaki paling tersohor di kota ini hingga ke pelosok desa seperti tempat tinggal mereka itu, mungkin akan merasa terhina jika mendapat penolakan dari mereka.

"Jadi Ibu ada keperluan apa datang ke sini? Apa Lila sudah memutuskan?" tanya Tuan Thakur to the point.

Ibu Mirna meletakkan sebuah amplop coklat berisi uang di atas meja.

"Apa ini?" tanya Tuan Thakur.

"Ini ada sejumlah uang Tuan. Jumlahnya baru 50 juta. Saya tahu ini bahkan belum ada setengahnya dari hutang kami. Tapi ini menunjukkan ketulusan dan niat saya untuk membayar hutang tersebut. Dan saya berjanji akan segera membayar sisanya. Dan ...." Bu Mirna ragu melanjutkan kata- katanya selanjutnya.

"Dan?"

"Dan .... soal permintaan bodoh saya untuk menyerahkan Lila sebagai penebus hutang .... mohon Tuan ampuni dan lupakan, Tuan ..." kata Bu Mirna meminta.

Tuan Thakur mengernyitkan keningnya.

"Menurut pendapat Lila sendiri bagaimana? Apa dia sudah memutuskan?"

Bu Mirna mengangguk ragu, khawatir pria di depannya ini tersinggung.

"Ya, dia tidak bisa menjalani pernikahan dengan Tuan," jawab Bu Mirna.

"Tidak bisa, atau tidak mau?"

"Emm .... saya rasa bukan karena dia tidak mau menikah dengan Tuan. Mungkin hanya karena dia belum siap menikah di usia semuda itu. Dia masih punya keinginan kuliah. Tahun lalu dia sudah menganggur 1 tahun karena kami belum punya biaya, Tuan. Tapi tahun ini dia masih ingin melanjutkan pendidikannya," kata Mirna.

Tuan Thakur mengangguk- angguk.

"Padahal kalau dia bersedia menikah denganku, aku bisa saja membiayai pendidikannya setinggi yang dia mau," pancing pria itu.

"Ma- maaf, Tuan."

Tuan Thakur mengambil amplop di atas meja itu dan membukanya sekilas. Hanya menggesek ujung lembaran uang itu, dia sudah tahu kalau uang itu jumlahnya pas 50 juta sesuai dengan yang disebutkan Bu Mirna.

"Baiklah, 50 juta. Berarti kurang 128 juta lagi. Dan bisnis tetaplah bisnis, kalau Ibu tidak bisa membayar hutang, rumah Ibu mungkin akan kami sita. Jika rumah itu laku untuk dijual kembali jika ada sisanya akan kami kembalikan pada Ibu. Jika harga jualnya nominalnya tidak sampai dengan hutang Ibu, siap- siap berurusan dengan hukum," kata Tuan Thakur. "Ada lagi?"

"Ti- tidak, Tuan,"

****

"Lila! Lila!" teriak seseorang memanggil- manggil namaku.

Dengan tak sabaran orang itu menggedor- gedor pintu rumah kayu kami ini. Membuatku juga jadi bergegas membuka pintu.

"Kenapa Bu lik?" tanyaku pada Bu Lik tetangga teman ibu bekerja sebagai ART di desa sebelah.

"Ibumu, Lil! Ibumu ...!" katanya dengan napas tersengal- sengal.

"Ibu kenapa?" tanyaku panik.

"Ibumu ditahan di kantor polisi. Ibumu terbukti mencuri uang Pak Wijaya sebanyak 50 juta, ada CCTV tetangga juga yang menangkap kejadian itu. Kau harus ikut Bu Lik kesana," desak Bu Lik menarik tanganku.

Tak bisa berkata- kata sesampainya di sana, aku melihat Ibu berada di kantor polisi dengan wajah babak belur.

"Ibu, kenapa ibu lakukan ini?" tanyaku frustasi.

Ibu menarik napas pasrah.

"Ibu terpaksa Lil, kita tak bisa membayar hutang kita pada Tuan Thakur, dan kau pun tak bersedia menikah dengannya, ibu bisa apa?" kata Ibu lesu.

"Masih ada rumah itu, kan Bu? Kita bisa menjualnya! Biar aja kita hidup mengontrak, Lila nggak usah kuliah nggak apa- apa. Lila akan bantu ibu kerja," kataku sedih.

"Rumah kita cuma gubuk reyot, Lil. Di pelosok pula, harganya paling berapa? Paling cuma dihitung tanahnya aja,dan harganya ga akan sampai 75 juta. Ibu bisa apa? Ibu terpaksa ngambil uang pak Wijaya," katanya sedih.

Aku menatapnya putus asa.

"Tapi gini pun sama aja, kan Bu? Hutang kita juga ga lunas juga, dan Ibu malah terkena kasus begini. Sekarang Lila harus ngapain, Buuuu?" ratapku bercampur tangis. Tak cuma memikirkan nasib Ibu yang akan dipenjara bahkan aku tidak tahu apa masih bisa melihat wajah orang lain setelah ini.

Ibu terdiam sejenak. Lalu beliau meraih tanganku.

"Kabur aja, Nak. Pergilah yang jauh. Kau bisa ke rumah Paman di kota A. Kau bisa meminta pertolongan padanya," kata Ibu.

Aku tercengang mendengar saran itu. Paman yang dimaksud ibu adalah satu- satunya saudara ibu. Bahkan jika pun aku harus minta tolong padanya, apa bedanya dengan menikah dengan Tuan Thakur? Itu bahkan lebih buruk. Dia bahkan pernah bermaksud menjualku pada seorang relasinya. Paman Indra, adalah mucikari dengan modus agen penyalur asisten rumah tangga.

Bagaimana ini? Meminta tolong pada kedua kakakku itu tidak akan membantu apa pun.

Bagaimana ini? Aku juga harus membebaskan ibu dari sini. Tapi bagaimana caranya?

Sebersit ide dalam keputusasaan muncul di benakku. Hanya ada satu orang yang bisa menolongku. Ini berawal dari dia, dan akhirnya aku juga akan berakhir di dia.

Tuan Thakur ....

****

Bab 3

Kedatanganku ke rumah besar Tuan Thakur itu disambut dengan wajah tak suka seorang anak remaja yang mungkin usianya sekitar 14 tahunan. Mungkinkah anak perempuan cantik itu adalah anak dari Tuan Thakur?

"Mau bertemu dengan siapa?" tanya anak perempuan itu.

"Aku mau bertemu dengan ...."

Sampai di situ aku bingung, apakah aku harus menyebut Tuan Thakur? Atau Bapak Thakur? Arghhhh!!! Siapa sih nama aslinya?? gerutuku dalam hati.

"Dengan siapa?" tanya gadis itu dengan nada frontal.

Terlihat benci di matanya seolah aku datang ingin merebut sesuatu miliknya yang berharga.

"Dengan bapak, bapak ada?" tanyaku.

"Bapak? Bapak siapa?" tanyanya dengan nada mengejek.

"Bapak Tuan Thakur," jawabku akhirnya.

Ah, masa bodolah. Hanya jawaban itu yang terbersit di otakku.

"Bapak Tuan Thakur? Hahaha .... Bapaknya Tuan Thakur itu, kakekku. Kamu mau bertemu kakek?"

Aku merasa tak perlu menjawab. Karena rasanya itu lebih mirip olokan, ejekan atau pun sejenisnya. Itu bahkan tidak mirip pertanyaan.

"Cindy ...." panggilan lembut nan bersahaja itu terdengar memanggil nama anak itu.

Jadi anak ini namanya Cindy? pikirku.

"Iya, Bun ...." sahut anak itu cepat.

Seorang wanita dengan kursi roda datang menghampiri kami. Wanita itu terlihat tidak begitu sehat.

"Kamu Delilah?" tanyanya lembut padaku.

Aku mengangguk.

"Ingin bertemu dengan Mas Salman?"

"Nggg ...."

Sungguh sekarang aku pun jadi ikut bingung. Mas Salman siapa?

"Anu Bu .... aku ingin bertemu Bapak Thakur ...." kataku dengan suara semakin lirih. Aku takut salah lagi.

"Ayah lagi tidur!" sahut anak perempuan itu jutek.

"Cindy ..." tegur sang bunda. "Kamu masuk ke kamar dulu sana!"

Gadis itu menghentakkan kakinya tanda protes, namun akhirnya tak punya pilihan lain selain menuruti kemauan sang Bunda.

"Kamu jangan mengambil hati kata- kata Cindy ya. Dia masih kecil," kata wanita itu.

Aku hanya mengangguk meski aku tak setuju. Gadis itu terlihat hanya beberapa tahun usianya di bawahku, apanya yang kecil?

"Jadi Bapaknya ada, Bu?" tanyaku sekali lagi ingin memastikan.

"Mas Salman ada. Ayo masuk!" ajaknya ramah.

Lalu wanita itu pun membawaku masuk ke dalam rumah besar semi modern itu. Dengan menjalankan sendiri kursi rodanya beliau membawaku masuk melewati ruang tamu, lebih kedalam lagi melewati ruang- ruang dan kamar- kamar yang aku tidak tahu ruangan apa itu. Satu yang kusimpulkan pemilik rumah ini pastilah memiliki kekayaan yang tidak main- main jumlahnya. Itu semua bahkan bisa dilihat dari interior dan perabotan yang berada di rumah ini.

"Nama saya Lastri. Kamu bisa memanggil saya mbak Lastri," katanya.

Sebenarnya walaupun wanita ini cantk, tidakkah aku terlalu muda jika menjadi adiknya. Aku bahkan cocok menjadi kakak dari anaknya yang bernama Cindy tadi.

"Hmmm ... baiklah, Mbak," jawabku meski canggung.

Setelah menyusuri lorong dan melewati beberapa ruangan di rumah itu, akhirnya kami tiba di suatu ruangan. Ini seperti ruangan baca yang tenang.

"Kamu tunggu di sini, aku panggilkan Mas Salman dulu," katanya.

Aku mengangguk. Dalam hatiku aku membatin, ternyata nama asli Tuan Thakur itu Salman? Hahahaha bahkan namanya aslinya terdengar seperti nama aktor Bollywood.

Rasanya telah lebih dari 10 menit aku menunggu, saat aku mendengar suara langkah kaki Tuan Thakur di koridor semakin mendekat, mendekat, dan akhirnya berada di ambang pintu.

"Lila?" sapanya terdengar akrab dengan suara barithon itu.

Deg!!! Jantungku berdebar kencang menghadapinya. Ini pastinya bukan debaran jatuh cinta, melainkan debaran karena takut. Apa yang aku katakan? Apa yang harus ucapkan padanya? Seketika otakku terasa blank begitu saja. Kata- kata yang telah kupersiapkan tadi seakan hilang menguap entah kemana.

"Pak, eh Mas ... bukan maksudku Tuan ...."

Tolong aku Tuhan, aku bahkan tidak tau bagaimana cara memanggilnya dengan benar.

"Langsung saja, katakan maksud kedatanganmu kemari!" perintahnya seakan mengerti kesulitanku.

Kami kini duduk berhadapan. Dan aku rasanya tidak sanggup menatap wajahnya itu.

"Aku ... saya ... eh ...."

Aku menunduk dan menggigit bibirku takut. Tanganku juga rasanya gemetar.

"Hmmm ....?"

Aku memberanikan mengangkat wajahku, menatap wajah kharismatik itu.

"Pak! Tolong aku .... tolong bantu ibuku! Tolong keluarkan ibu dari kantor polisi, Pak! Ibu mencuri uang bossnya demi bisa membayar hutang kami pada bapak. Saya tidak tahu harus meminta tolong pada siapa pun lagi," kataku memohon.

Kini air mataku jatuh tanpa kuminta.

"Atas dasar apa aku harus menolongmu?Hutang kalian saja masih cukup banyak dan baru dibayar 50 juta oleh ibumu? Sekarang kamu ingin aku mengembalikan uang 50 juta ini agar ibumu bisa dibebaskan oleh bosnya?" tanyanya sinis.

"Pak Tolong! Bantu aku keluarkan ibu dari sana, dia sudah cukup tua untuk berada di sana. Kalau mau biar saya aja yang menggantikan dia disana nggak apa- apa, pak!" kataku sedih.

"Saya bingung harus menjawab apa. Walaupun uang 50 juta ini dikembalikan, anggaplah ibumu keluar. Lalu hutang dengan pihak saya bagaimana? Kami pun ada perjanjian hukum sebelumnya. Toh, kalau beliau tak bisa bayar, pihak kami juga akan menuntutnya juga. Saya rasa kamu datang pada orang yang salah," kataya.

Tak punya senjata apa pun membujuknya akhirnya aku beringsut, turun dari kursiku dan bersimpuh di hadapannya.

"Tolong kami, Pak! Aku akan menikah dengan bapak. Tapi tolong, keluarkan Ibuku dulu dari sana, Pak! Aku nggak mau ibu di penjara, Paaaak....!" ratapku.

"178 juta, hutang ibumu sebanyak itu. Kau menganggap dirimu semahal itu? Sampai kau berani menolakku?" Nada suaranya terdengar mengintimidasi sekarang.

Tersirat rasa tersinggung dan harga diri yang terluka berada pada kata- kata itu.

"Ma- maafkan a- aku, Pak. Itu tidak akan terjadi lagi ...." janjiku. "A- aku bersedia jadi istri Bapak."

Pandangan pria itu meragukanku, seakan tak percaya pada omongan bocah labil sepertiku.

"Ada banyak wanita yang bisa kunikahi dan sukarela menjadi istriku, kenapa aku harus memilihmu?" tanyanya menyepelekan.

"Karena istri pertama bapak menyukaiku. Begitu kan, Bapak bilang?" jawabku polos.

Lelaki itu menghela napas panjang.

"Aku sangat mencintai istri pertamaku, Lastri. Dan aku akan menuruti apa pun yang dia mau. Tetapi pernikahan ini tetap saja yang menjalaninya adalah aku bukan dia. Jadi menurutmu kenapa aku harus menikahi remaja labil sepertimu? Yang hari ini akan berkata A, besok bisa saja B?"

Masih dalam posisi duduk bersimpuh, aku menggeleng putus asa.

"Tidak. Aku tidak akan berubah. Aku akan menikah dengan Bapak, setia dengan Bapak. Sampai salah satu dari kita akan mati. Tidak ada perceraian. Dan ... dan aku .... akan memberikan bapak seorang putra. Aku janji Pak! Percaya padaku. Huuuuuuu huuuu ...." Air mataku berderai lagi.

Tuan Thakur atau Salman itu melihatku agak lama. Menimbang- nimbang baik dan buruknya jika menikahiku mungkin. Lalu kedua tangan itu mengangkat daguku dan menghapus air mata di pipiku.

"Baiklah, berdiri dan hapus air matamu itu. Aku tidak suka dianggap sebagai seorang pemaksa."

Aku mengangguk dan sambil berdiri aku menghapus air mataku.

"Aku harap kau memegang janjimu," tuntutnya.

Dan aku hanya bisa mengangguk dalam derasnya rinai hujan di dalam hatiku.

***

Biasakan tinggalin jejak setelah baca ya ....

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED