Deg
Air mata Reina jatuh tak dapat dia bendung lagi, hatinya sakit melihat sang suami tengah bercinta dengan wanita lain. Tubuh Reina mematung, dia sendiri bingung hendak melakukan apa.
Reina memegangi dadanya yang tiba tiba terasa sesak, hingga dia kesulitan untuk bernafas. Hingga akhirnya dia jatuh tak sadarkan diri.
************
Satu jam sebelumnya. Siang itu, Reina mendatangi kantor Adi suaminya. Dia ingin memberi tahu, kalau hari ini, dia diterima sebagai pengajar di salah satu sekolah kebutuhan khusus. Ya, Reina adalah seorang guru freelance, meski dia sangat pintar, tapi banyak sekolah yang tidak mau menerimanya karena bentuk tubuhnya.
Reina memiliki tubuh yang tambun dan wajah yang jelek menurut Adi. Karena suaminya itu kerap kali membandingkan istrinya dengan sang selingkuhan yang cantik dan seksi.
Saat sampai di depan ruangan Adi, tubuh Reina menegang saat mendengar suara desahan dari dalam. Berbagai pikiran buruk sudah berseliweran di kepalanya. Namun Reina segera mengusirnya. Reina menguatkan hatinya untuk membuka pintu itu. Hingga akhirnya, tubuh Reina pun ambruk.
Adi melihat ke arah pintu, setelah tahu yang datang istrinya, Adi langsung menghentikan kegiatannya. Dia pun membawa sang istri ke rumah sakit. Dia tidak ingin dicap jelek oleh karyawannya.
Sampai di UGD, Dokter memberitahukan kalau saat ini istrinya tengah hamil.
"Dok, apa tidak berbahaya jika istri saya hamil dengan kondisi seperti sekarang ini?" tanya Adi.
Dokter itu pun menjelaskan, "ibu hamil mengalami perubahan pada jantung dan pembuluh darah, hal itu merupakan hal yang normal dan terjadi pada setiap ibu hamil. Namun, akibat perubahan tersebut, beberapa wanita dengan riwayat penyakit jantung atau kelainan jantung bawaan lebih berisiko pada komplikasi kehamilan seperti preeklamsia dan kelahiran prematur." (sumber : google)
"Kalau begitu, lebih baik, gugurkan saja Dok, saya tidak ingin terjadi apa apa pada istri saya," alasannya.Dokter itu pun mengangguk.
"Kalau begitu, Bapak tanda tangan disini," ujarnya.
Adi segera menandatangani berkas persetujuan operasi. Dia tidak ingin perceraiannya nanti dengan sang istri mengalami kesulitan karena sang istri sedang hamil.
Dan Adi akan menutup rapat berita kehamilan istrinya. Setelah menandatangani semua berkas, operasi akhirnya dilakukan. Adi menunggu operasi istrinya sampai selesai. Dia terlihat seperti seorang suami yang sangat menyayangi istrinya padahal dia mempunyai rencana yang kejam pada istrinya itu.
"Tunggu saja Reina, setelah ini, aku akan segera menceraikanmu. Cuih, jangan harap aku mau memiliki anak darimu," batin Adi.
Setelah operasi selesai, Reina langsung dibawa ke ruang perawatan. Dia masih harus menginap di rumah sakit selama beberapa hari untuk melihat perkembangan jantungnya pasca operasi.Hampir satu jam menunggu, Reina baru membuka matanya. Dia melengos ke samping saat melihat suaminya.
"Tandatangani ini, dan jangan ada drama air mata, aku sudah bosan menunggumu disini," titah Adi.
Reina membuka map itu, dia berusaha sekuat tenaga untuk tidak mengeluarkan air matanya. Dia tidak ingin dikasihani apalagi oleh lelaki seperti Adi.
"Kenapa Kakak tidak menceraikanku sejak dulu?" tanya Reina berusaha menahan air matanya.
"Heh! Kalau bukan karena paksaan dari Papaku, aku tidak akan sudi menikahi wanita gendut seperti gorilla macam kau" hardik Adi.
"Baiklah. Dimana aku tanda tangan?" tanyanya.
"Disini," tunjuknya dibagian bawah kertas itu.
Setelah menandatangani surat itu, Reina langsung mengembalikan berkas itu kepada Adi.
"Bagus, mulai saat ini, aku talak kamu, dan aku akan membawa kesini semua barang barangmu besok pagi," ujarnya lalu pergi meninggalkan ruang perawatan istrinya.
Air mata Reina kembali pecah saat sang suami keluar dari kamarnya. Kepalanya dia miringkan ke kanan menghadap tembok supaya tidak ada orang yang mendengarnya.
"Kenapa Kakak tega melakukan ini padaku, kalau Kakak tidak menyukaiku, kenapa tidak menceraikanku sejak dulu," batin Reina.
Entah berapa lama Reina menangis, yang jelas, Dokter mendapati wanita itu tengah tertidur saat dia datang memeriksa.
"Kenapa dia menangis, apa dia sedih karena kehilangan bayinya," gumam Dokter itu.
Setelah memeriksa Reina, Dokter itu pun meninggalkan ruangan itu. Reina langsung membuka matanya, dia bingung mendengar ucapan Dokter tadi.
"Kenapa Dokter itu bilang aku kehilangan bayi, apa aku keguguran? Aku akan menanyakan kembali kebenarannya," batin Reina.
Wanita itu pun gelisah menunggu perawat yang tak kunjung datang. Pucuk dicita ulam pun tiba, perawat akhirnya datang membawakan makan malam untuknya.
"Bu, ini makanannya saya taruh sini ya," ujar perawat itu ramah.
"Sus, boleh saya tanya sesuatu?" tanya Reina.
"Silahkan Bu," jawab perawat itu.
"Apa saya habis keguguran?" tanya Reina to the point.
"Maaf Bu, saya tidak berhak untuk menjawabnya. Ibu bisa bertanya pada Dokter saat beliau berkunjung," jawab perawat itu.
"Jam berapa biasanya Dokter visit?" tanya Reina.
"Jam 3 sore Bu," jawab perawat itu kembali.
Reina masih harus bersabar hingga esok hari guna mencari kebenaran tentang dirinya.
Di Sebuah Rumah Mewah.
"Sayang, bagaimana? Apa kamu sudah menceraikannya?" tanya sang wanita.
"Tentu saja, sekarang kita bisa bersama selamanya," jawab Adi.
"Lalu, kapan kamu menikahi aku?" tanya Anya, selingkuhan Adi.
"Sabar, aku harus meyakinkan Papa dulu kalau memang Reina yang menginginkan perceraian ini, supaya aku tidak dianggap sebagai suami yang durhaka pada istrinya," terang Adi.
"Baiklah, tapi jangan lama lama," ujar Anya yang mulai memainkan jemarinya didada sang kekasih.
Kegiatan mereka pun berakhir di ranjang kamar Adi. Kamar yang biasa Reina tempati bersama Adi. Mereka sudah seperti sepasang suami istri saja .Keesokan paginya, Anya bangun terlebih dahulu. Dia ingin berpura pura menjadi calon istri yang baik untuk Adi.
"Bibiii," teriaknya.
"Ya Mbak," jawab Bibi.
"Panggil saya Nyonya, karena sebentar lagi, saya akan menjadi istri Tuan kamu, jadi jangan macam macam, sekarang, cepat buatkan sarapan untuk Tuan," titahnya.
"Baik Nyonya," sahut Bibi.
Bibi mulai memasak sarapan untuk majikannya, padahal, biasanya, dia tidak pernah memasak. Reinalah yang memasak semuanya.
Adi sudah bangun, dia tersenyum melihat Anya sedang ada di dapur. Lelaki itu pun memeluk kekasihnya dari belakang.
"Sayang, kamu terlihat seksi memakai apron itu," goda Adi.
"Sayang, jangan ganggu aku, biar cepat selesai," elak Anya.
Padahal, dia hanya berpura pura saja saat ini. Adi pun duduk dimeja makan. Anya menyiapkan makanan itu di piring. Adi mulai menyendokkan makanan itu tadi ke dalam mulutnya.
Baru juga sesuap, Adi sudah ingin muntah. Bagaimana tidak, rasa masakan Anya asin sekali. Namun Adi tidak berani menghina masakan Anya, takut kalau wanita itu marah padanya.
Adi pun berpura pura menerima telepon dari asistennya. "Ya, saya akan segera berangkat."
"Sayang, aku ke kantor dulu, ada rapat mendadak," pamit Adi.
"Hati hati sayang, nanti siang aku akan ke kantor membawakan kamu makanan," sahut Anya.
"Jangan, nanti siang aku akan ke rumah sakit mengantarkan barang barang wanita itu," kata Adi.
"Ohh begitu, baiklah, aku akan menunggu kamu saja disini," ujar Anya.
"Bye sayang," teriaknya.
Sampai di parkiran, Adi langsung memuntahkan sisa makanan yang ada di mulutnya.
"Makanan apa ini? Reina saja yang jelek pandai memasak, kenapa dia yang cantik, tidak bisa?" gerutu Adi.
Anya menahan amarah di balik pintu, dia tidak terima dibandingkan dengan gadis buluk itu.
"Awas kamu gadis jelek, akan aku balas nanti!"
"Dok, katakan dengan jujur, apa yang terjadi padaku?" tanya Reina saat Dokter memeriksanya.
"Apa suami Ibu tidak memberi tahu yang sebenarnya?" Dokter itu balik bertanya.
"Tidak Dok, katakan saja yang sebenarnya. Saya baik baik saja kok," bohong Reina.
Dokter itu menghela nafas kasar, sesungguhnya, dia sendiri tidak tega mengatakan hal yang sebenarnya, tapi mau bagaimana lagi, pasiennya sendiri yang meminta.
"Begini Bu, sebelumnya, kami mohon maaf, kami terpaksa mengambil janin yang ada dalam rahim Ibu, demi keselamatan jiwa Ibu," terang Dokter itu.
"Apa suami saya mengetahuinya Dok?" tanya Reina.
"Justru suami Ibulah, yang menyuruh kami untuk melakukannya. Kalau Ibu tidak percaya, Ibu boleh melihat surat pernyataan dari suami Ibu," jawab Dokter itu.
"Tidak perlu Dok, suami saya benar, semua demi kebaikan saya," ujar Reina dengan tatapan kosong.
Sepeninggal Dokter dan juga perawat, Reina pun menutupi wajahnya dengan bantal. Bahunya bergetar hebat, menandakan dia sedang menangis.
"Kamu jahat Mas, setelah berselingkuh dariku, kamu juga menggugurkan bayiku. Ingat Mas, akan aku balas perbuatan kamu, hiks hiks," racaunya.
Tiga hari berada di rumah sakit, keadaan Reina sudah lebih baik. Semua barang barangnya yang ada di rumah Adi sudah dikirim oleh lelaki itu melalui kurir.
Tiga bulan kemudian, setelah akta cerainya keluar, Reina sudah memantapkan hatinya. Dia akan pergi mencari pekerjaan di Korea, dia tidak ingin lagi menginjakkan kakinya di negara yang telah membuatnya sakit hati ini. Reina sudah berada di atas pesawat. Tiba tiba datang seorang lelaki yang setengah berlari mencari kursinya.
"Maaf Nona, permisi, itu tempat saya," ujarnya.
Reina tidak menoleh. Dia hanya bilang, "kita tukeran tempat duduk, aku lagi ingin melihat langit."
Lelaki itu pun mengalah, dia paham, sepertinya wanita di sebelahnya ini sedang galau. Dia pun duduk dengan santai. Lelaki itu membuka buku yang dia bawa. Reina yang tidak pernah naik pesawat merasa takut saat pesawat take off.
"Ya Tuhan, kenapa seperti gempa bumi begini? Apa pesawat ini akan jatuh," gumamnya seraya mengeratkan pegangannya pada kursi penumpang.
Lelaki yang duduk di sebelah Reina itu tersenyum tipis mendengar ocehan wanita itu.
"Dasar wanita udik," batinnya.
Setelah pesawat berada di atas awan, pesawat sudah kembali normal. Reina bisa bernafas lega karena akhirnya selamat.
"Tuan, apakah Anda tidak takut tadi?" tanyanya seraya menyenggol lengan lelaki di sebelahnya.
Lelaki itu tampaknya tidak suka dengan Reina yang sok akrab dengannya. Dia lalu memandang Reina berniat memarahinya. Tapi apa yang terjadi? Lelaki itu hanya memandangi wajah Reina. Tatapannya mengisyaratkan kerinduan yang amat dalam.
"Reina," lirihnya.
"Tuan, tahu nama saya?" tanya Reina pada lelaki di hadapannya.
"Kamu tidak ingat aku?" Lelaki itu balik bertanya.
Reina menamatkan wajah tampan di hadapannya. "Tampan," gumamnya.
"Bukan itu Rere, coba lihat wajahku lebih dalam lagi," ujar lelaki itu.
"Rere, tunggu, hanya satu orang yang memanggilku dengan nama itu dan dia adalah ...."Belum sempat Reina meneruskan kalimatnya, pesawat kembali berguncang membuat Reina ketakutan dan langsung refleks memeluk lelaki di hadapannya ini.
Sang lelaki pun menyambutnya dengan mendekap wanita itu erat. Senyum selalu menghiasi wajah tampan itu.
"Akhirnya, aku menemukanmu," batinnya.
Di sudut kota Jakarta.
Skandal perselingkuhan Adi telah ramai dibicarakan di kantor. Hal ini membuat Adi harus berurusan dengan sang atasan saat ini.
"Tolong Anda jelaskan, apa semua ini benar?" tanya Iman, atasan Adi.
Adi hanya bisa menundukkan kepalanya. Karena membantah pun tak ada guna. Bukti yang ditunjukkan sang atasan itu nyata.
"Saya minta maaf Tuan," sesal Adi.
"Kamu tahu konsekuensinya?" sang atasan bertanya kembali.
"Tahu Tuan," jawab Adi.
Di kantor Adi, tidak boleh berpacaran apalagi menikah dengan rekan kerja. Dan jika ketahuan, maka salah satu dari mereka harus mengundurkan diri.
"Jadi, sekarang, Anda tentukan sendiri hukumannya, Anda, atau wanita itu yang keluar," tegas Iman.
"Biar Anya yang keluar Tuan, karena sebentar lagi, dia akan menjadi istri saya, tentunya saya tidak memperbolehkannya bekerja," terang Adi.
"Itu urusan Anda, dan tolong Anda pastikan tidak akan terjadi acara labrak melabrak di kantor ini," tekan Iman.
"Saya pastikan itu tidak akan terjadi Tuan, karena saya sudah menceraikan istri pertama saya," terang Adi.
"Baik, kalau begitu, nanti pihak HRD akan memberikan SP3 pada saudara Anya," ujar Iman.
"Baik Tuan, kalau sudah tidak ada lagi, saya permisi," kata Adi.
Iman hanya mengangguk sebagai jawaban. Adi sudah kembali keruangannya, baru saja dia mendudukkan bokongnya, HRD sudah datang membawakan surat SP3 untuk Anya.
"Gila, Bos kalau marah tidak main main, baru juga ngomong, udah keluar aja suratnya," gumam Adi.
Hari ini, Anya tidak masuk karena mengeluh tidak enak badan, jadi dia tidak tahu kalau dia sudah dipecat hari ini. Entah bagaimana reaksinya kalau dia tahu berita ini.
Sesampainya di rumah, Adi melihat kekasihnya yang terbaring lemah di ranjang.
"Kamu masih sakit sayang?" tanyanya seraya mencium pucuk kepala kekasihnya.
Wanita itu mengangguk lemah. Adi lalu masuk ke kamar mandi. Setelah membersihkan tubuhnya, dia berbaring di samping sang kekasih.
"Kita ke Dokter ya," bujuk Adi.
"Aku nggak apa apa sayang, mungkin kecapekan aja," ujar Anya.
Lelaki itu pun memeluk sang kekasih dari belakang, namun, baru saja dia akan mencu*bunya, Anya tiba tiba merasakan mual yang hebat di perutnya.
Wanita itu pun berlari ke kamar mandi dan memuntahkan semua yang ada di perutnya. Adi mengikuti sang kekasih kemudian memijat tengkuknya berharap rasa mualnya mereda.
"Jangan membantah lagi, kita ke Dokter sekarang juga," titah Adi.
Mereka pun pergi ke rumah sakit, sampai disana, Adi langsung membawa Anya ke UGD. Namun Dokter jaga mengarahkan Adi untuk membawa Anya ke Dokter Kandungan.
Adi dan Anya masih harus mengantri karena mereka tidak membuat janji terlebih dahulu. Hingga satu jam kemudian barulah nama Anya dipanggil.
Mendengar keluhan Anya, Dokter itu pun tersenyum kemudian menyuruh Anya berbaring.
"Kita lihat dulu ya," ujar Dokter itu.
Dokter itu mulai melenggak lenggokkan alat transducernya di perut Anya, sekilas dahinya mengeryit kemudian datar kembali.
"Apa ada yang salah Dok?" tanya Adi yang bingung melihat ekspresi sang Dokter.
Dokter itu pun meletakkan alatnya kembali. Dia lalu memandang Anya dan juga Adi bergantian.
"Begini Tuan, Nyonya memang sedang hamil saat ini. Namun, sangat disayangkan, bayi berada di luar kandungan. Jadi, mau tidak mau, kami terpaksa harus mengambilnya. Anda bisa memesan ruang perawatan karena besok akan saya lakukan operasi pengambilannya," terang Dokter itu.
Adi shock mendengar ucapan Dokter itu, dia sangat menginginkan anak dari Anya, tapi kenapa harus diambil? Adi tidak sadar bahwa karma itu ada. Apa yang kita tanam, itulah yang kita tuai.
"Didi, kenapa sekarang kamu jadi ganteng dan seksi seperti ini? Dimana kamu operasi plastik, aku ingin mengikuti jejakmu," kata Reina.
"Kenapa kamu harus operasi plastik Rei, aku menerima kamu apa adanya kok," goda Rendy.
"Didi, ini bukan soal kamu, tidak tahukah kamu, kalau mantan suamiku itu berselingkuh dariku karena aku gendut dan jelek bahkan dia menyuruh Dokter untuk menggugurkan bayiku hanya karena tidak ingin aku mengandung keturunan darinya," cerita Reina diiringi isak tangis.
"Bisakah kamu bayangkan bagaimana hancurnya aku saat itu, aku tidak peduli meski dia selingkuh atau menceraikan aku, tapi tidak dengan membunuh anakku. Hatiku sakit Didi, seandainya bayiku masih ada, aku masih memiliki seseorang yang akan menemaniku nanti," tangisnya.
Rendy memeluk tubuh Reina erat, dia mengusap punggung wanita itu yang terus bergetar.
"Sabar, jangan menangisi lelaki yang tidak pantas untukmu. Apa kamu ingin operasi plastik untuk balas dendam?" tanya Rendy.
Reina mengangguk. Rendy lalu menghapus air mata Reina.
"Aku akan membantumu balas dendam, tapi, kamu harus menjadi istriku supaya aku bisa mempunyai kekuatan untuk melindungimu," usul Rendy.
Reina tampak berpikir. Kebiasaan Reina sejak SMA, kalau gadis itu sedang berpikir, dia akan memutar mutar bola matanya.
"Apa kamu mau Didi menikah denganku yang jelek dan gendut ini?" tanya Reina dengan mata berkaca kaca.
"Kan aku sudah bilang dari tadi, kalau aku menerima kamu apa adanya," ujar Rendy.
"Itu juga yang diucapkan oleh suamiku dulu saat belum menikah denganku, tapi nyatanya apa, dia bahkan berselingkuh saat usia pernikahan kami belum genap 6 bulan. Aku bahkan tak tahu berapa usia kandunganku saat bayi itu digugurkan," ujar Reina tertunduk.
Rendy kembali memeluk tubuh Reina. "Tidak semua laki laki sama seperti dia Reina. Seandainya kamu tidak berniat balas dendam, kamu bisa tahu kalau aku tulus menyayangimu," bisik Rendy.
Reina mendongakkan wajahnya, dia memang tak melihat kebohongan di mata Rendy, yang ada hanya ketulusan, tapi untuk membuka hati kembali, dia masih belum bisa.
"Baiklah aku mau, tapi kamu harus janji untuk membantuku balas dendam untuk mereka," ujar Reina.
"Pasti, aku pasti akan bantu kamu," janji Rendy.
Sesampainya mereka di Korea, Rendy langsung menghubungi asistennya untuk mengatur pernikahan dia dan Reina.
Reina lalu dibawa ke salon sementara gaun pengantinnya, akan dia datangkan dari butik langganannya. Dua jam kemudian, Reina sudah cantik bak cinderella. Reina sendiri bahkan tidak percaya kalau itu dia.
"Didi, kenapa aku jadi cantik begini?" tanyanya pada Rendy yang juga termangu melihat kecantikan Reina.
"Karena kamu memang cantik Rei, orang yang bilang dirimu jelek hanyalah orang buta," gumam Rendy yang membuat Reina tersipu malu.
Mereka melakukan akad nikah di salah satu masjid Korea didampingi oleh seorang ustad. Begitu kata "Sah" terdengar, tangis Reina pecah saat itu juga, dia tidak menyangka akan menikah dalam waktu yang begitu singkat.
Rendy mencium pucuk kepala Reina setelah wanita itu mencium tangannya. Mereka pun berfoto sembari memamerkan cincin di tangan mereka.Hari ini, adalah hari pertama Reina menjadi istri Rendy, sahabatnya waktu SMA yang juga cinta pertamanya. Mereka dulu berpisah karena Rendy yang harus menempuh pendidikan di Luar Negeri.
Tak disangka, takdir kini mempertemukan mereka kembali, dengan status baru, yakni sebagai suami istri. Mereka tidak melakukan malam pertama karena Rendy ingin Reina memberikan hati dan juga tubuhnya dengan cinta, bukan semata karena kewajiban suami istri saja.
"Rere, ayo kita lari pagi, katanya kamu mau cantik," ujar Rendy membangunkan istrinya.
Reina pun bangun, dia mengikuti langkah suaminya yang mengajaknya ke tempat olah raga yang ada di apartemen itu.
Reina didampingi oleh instruktur untuk membantu menurunkan berat badannya secara alami.
"Sudah Di, besok lagi, aku sudah tidak tahan, hah hah hah," ujarnya dengan nafas terengah engah.
"Oke, latihan hari ini cukup," kata instruktur itu.
Rendy lalu membawa sang istri kembali ke apartemennya. Disana sudah tersedia segelas susu dan juga sandwich sebagai sarapan mereka.
"Didi, apakah tidak ada nasi, aku lapaar Di," rengek Reina pada sang suami.
"Pagi hari tidak boleh ada carbo yang masuk sayang, siang baru boleh makan," ujar Rendy.
"Bagaimana kalau aku mati kelaparan?" tanya Reina.
"Tidak akan ada orang yang mati karena tidak sarapan Rere," jawab Rendy.
"Aku bukan kambing Didi, kenapa mesti makan sayuran hijau begini," omel Reina.
Rendy hanya tersenyum mendengar ocehan sang istri. Sementara Reina terpaksa makan apa yang ada di meja itu karena perutnya sudah lapar.
Setelah memastikan Reina memakan sarapannya dengan benar, Rendy pergi ke kantor.
"Aku berangkat kerja dulu ya sayang, nanti siang akan ada kurir makanan yang datang, jadi kamu tidak perlu repot lagi," ujar Rendy.
"Apakah makanan kambing lagi?" sungut Reina.
"Tidak, siang nanti, kamu boleh makan nasi," ujar Rendy.
"Benarkah, terima kasih Didi," ujar Reina seraya memeluk sang suami.
Rendy mencium kening istrinya sebelum dia berangkat. Begitu Rendy berangkat, Reina langsung membuka lemari es milik Rendy, dia berharap ada makanan yang bisa dia makan.
Namun sayang, kulkas itu hanya berisi air putih saja, tidak ada buah, susu, atau apapun yang bisa mengganjal perutnya.
"Kamu jahat Di, kenapa kamu memaksa aku untuk diet ketat seperti ini," geramnya.
Sementara itu di belahan bumi lainnya, Adi tengah melangsungkan pernikahannya dengan Anya. Pernikahan mereka digelar secara besar besaran, karena keluarga Adi dan juga keluarga Anya termasuk orang yang berada. Adi menatap Anya penuh cinta, wanita yang dia cintai sejak dia pertama kali masuk kerja. Lain halnya dengan Anya, dia terpaksa menikah dengan Adi karena ketahuan keguguran oleh keluarganya kemarin. Ayahnya tidak ingin nama keluarganya tercemar karena Anya hamil di luar nikah mengingat pergaulan putrinya sudah di luar batas.
Tidak ada yang tahu jika anak yang Anya kandung kemarin bukanlah anak Adi. Hanya Anyalah yang tahu siapa bayi yang terpaksa digugurkan waktu itu.
Semua tamu bergantian menyalami Anya dan Adi untuk mengucapkan selamat. Termasuk lelaki tampan yang kini sedang berdiri menunggu antrian. Kini, giliran lelaki tampan itu yang naik ke pelaminan untuk mengucapkan selamat. Lelaki itu bahkan memeluk erat tubuh Adi.
Namun, tidak dengan Anya. Tubuh Anya membeku melihat lelaki yang saat ini sedang berpelukan dengan suaminya. Keringatnya bercucuran, dia takut lelaki itu akan mengatakan hal yang menjadi rahasia besar diantara keduanya.
Saat tiba giliran Anya, lelaki itu pun mengedipkan sebelah matanya. Dia menjabat tangan Anya kemudian berbisik di telinga Anya. "Temui aku malam ini di kamar no 205, bukankah kalian tidur di hotel ini?"
Anya terus menggelengkan kepalanya. Melihat penolakan dari wanita di hadapannya, lelaki itu kembali menegaskan, "Datang, atau suamimu akan tahu soal bayi yang telah kau gugurkan kemarin."