Bab 1

"Tidak! Li Mei!"

Suara itu adalah suara terakhir yang didengarnya. Kesadarannya mulai menghilang, dia hanya bisa merasa tubuhnya melayang dan jatuh ke kegelapan yang tak berujung.

Entah sudah berapa lama dia dalam kondisi seperti itu.

Setelah kesunyian yang panjang, mendadak sayup-sayup mulai terdengar suara dua orang pria berbicara tidak jauh darinya. Awalnya suara itu tidak terdengar jelas, namun perlahan kupingnya mulai bisa menangkap apa yang sedang mereka bicarakan.

"Dia sudah baik-baik saja sekarang, kamu tidak perlu khawatir lagi. Masa-masa kritisnya sudah terlewati. Selama demamnya bisa turun, dia akan bisa segera pulih," ucap seseorang yang suaranya terdengar seperti pria yang sudah berumur cukup tua.

"Terima kasih banyak, Tabib Lu," suara pria lainnya terdengar menghembuskan nafas lega. "Ah, dan ini untuk biaya pengobatannya."

"Baik, baik. Kalau begitu aku pergi dulu. Jangan lupa untuk menyuapinya obat yang sudah aku racik tadi. Meskipun dia belum sadar, kamu harus berusaha membuatnya meminumnya," pesan seseorang yang dipanggil Tabib Lu itu.

"Tabib Lu tidak perlu khawatir."

Setelah itu, tidak ada pembicaraan lagi, hanya ada suara langkah kaki yang menjauh.

Li Mei merasakan kepalanya berdenyut sakit. Dia berusaha membuka matanya namun tidak bisa. Matanya terasa berat dan sekujur tubuhnya terasa sangat panas.

'Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah aku masih selamat setelah jatuh dari tempat setinggi itu?' desah Li Mei di dalam hatinya.

Hal terakhir yang diingatnya adalah saat dirinya didorong oleh sahabatnya sendiri dari atas tangga rumahnya karena memergoki sahabatnya sedang mencuri. Apakah saat ini dia sedang berada di rumah sakit? Tapi kenapa orang tadi dipanggil dengan sebutan tabib, bukan dokter?

Li Mei masih berusaha menyadarkan dirinya, namun dia tetap tidak berhasil. Tiba-tiba, dia merasakan sebuah tangan besar yang hangat menyentuh pipinya.

"Dasar bodoh," bisik pria itu seraya membelai lembut pipinya.

Sudah dua hari Li Mei tidak sadarkan diri, tapi dia tetap bisa merasakan obat yang hangat mengaliri tenggorokannya setiap hari. Dia juga bisa merasakan belaian lembut tangan seorang pria yang terasa kasar. Sangat jelas kalau pemilik tangan itu adalah seorang pekerja keras.

Tapi ... siapa dia? Kenapa dia mau menjaga Li Mei? Dia tidak merasa memiliki keluarga atau teman dekat seperti laki-laki ini. Setelah kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan ketika dia kecil, dia hanya hidup berdua dengan kakeknya. Dan kakeknya telah meninggal dua tahun yang lalu. 

Di hari ketiga, Li Mei akhirnya bisa membuka matanya. Dia berusaha untuk menyesuaikan matanya dengan sinar redup di sekitarnya. Saat matanya akhirnya bisa melihat dengan jelas, dia hampir saja memekik kaget karena melihat seorang pria tertidur pulas di sampingnya. Li Mei segera menutup mulutnya rapat-rapat dengan kedua tangannya, lalu mencondongkan tubuhnya ke depan dan menatap wajah pria tersebut lekat-lekat.

Wajah pria itu terlihat sangat tampan. Rahangnya kokoh, alis matanya seperti dilukis dengan hati-hati. Kulitnya yang kecoklatan menandakan dia adalah orang yang sering bekerja di bawah sinar matahari. Tubuhnya tinggi dan kekar. Hidungnya lancip, dan bibirnya tipis. 

Sangat tampan! 

Sebenarnya laki-laki di sampingnya ini termasuk pria yang sesuai dengan tipe idaman Li Mei. Dia bahkan sangat yakin kalau saja laki-laki ini hidup di tempatnya berasal, dia bisa menjadi seorang idola besar!

Li Mei menatap ke sekitarnya. 

"Tempat apa ini? Kenapa semua perabotan terlihat usang?" gumamnya pelan.

Selain ranjang yang mereka pakai, hanya ada lemari, dan juga sebuah meja dengan empat kursi. Di sudut lain ada sebuah ruangan kecil, dan kalau dilihat sekilas, itu sepertinya adalah dapur mereka.

Tapi … apa-apaan dengan gaya baju yang dipakai dirinya dan laki-laki ini? Kenapa seperti baju-baju yang biasa dia lihat di drama-drama kolosal? Bedanya hanyalah, baju mereka indah, sedangkan baju Li Mei dan laki-laki di sebelahnya penuh dengan tambalan.

Seakan menyadari sesuatu, Li Mei membeku.

Jangan bilang dia melintasi waktu dan datang ke jaman kuno seperti di novel-novel yang biasa dia baca? Apakah dirinya yang asli di jaman modern sudah mati? Bisakah dia kembali ke tempatnya berasal? 

Setelah terdiam dan berpikir selama beberapa saat, dia akhirnya menghela nafas panjang.

Dia sudah datang ke zaman ini. Lagi pula dia tidak memiliki keluarga di kehidupannya sebelumnya, bahkan sahabatnya jugalah yang telah membunuhnya. Jadi, tidak akan ada orang yang merasa sedih dengan kematiannya. Dia juga tidak memiliki jalan untuk kembali, berarti mau tidak mau dia harus mencoba bertahan hidup di dunia ini.

Tiba-tiba, mata laki-laki di depannya terbuka. Li Mei menoleh dan menatap laki-laki yang tidak dapat menyembunyikan sorot mata yang penuh dengan kekhawatiran itu.

"Apakah kamu baik-baik saja? Apa masih ada bagian yang terasa sakit?" tanyanya seraya duduk di atas tempat tidur.

Li Mei hanya menatapnya dalam diam. Dia tidak bergeming. Sejujurnya, dia merasa sedikit bingung bagaimana harus bereaksi. 

"Siapa kamu?" tanya Li Mei dengan suara yang serak.

Wajah laki-laki di depannya langsung berubah muram, "apa ini salah satu caramu untuk meminta bercerai dariku lagi?"

Li Mei kembali tertegun. Ternyata laki-laki di hadapannya ini adalah suaminya? Sekarang semuanya terasa masuk akal kenapa mereka bisa tidur seranjang. 

"Bukan begitu, hanya saja ... aku merasa sedikit linglung saat ini," ujar Li Mei berusaha mencari alasan.

Laki-laki itu mengerutkan keningnya dalam-dalam dan menatap Li Mei dengan tatapan menyelidik. Setelah beberapa saat, dia baru merasa yakin kalau Li Mei sedang tidak berbohong. Dia menghela nafas panjang sebelum akhirnya menjelaskan kepada Li Mei.

"Namamu adalah Li Mei. Aku menemukanmu tergeletak pingsan di saat aku pergi ke gunung tiga bulan yang lalu. Setelah itu aku membawamu pulang. Kamu tidak mengingat apapun kecuali namamu. Agar bisa merawatmu dan menjagamu, akhirnya kita menikah."

Li Mei berusaha menyerap informasi yang baru saja diterimanya. Rupanya nama gadis ini juga sama dengan namanya, Li Mei. 

"Lalu, siapa kamu? Ini dinasti apa?" tanya Li Mei lagi.

"Namaku Bai Changyi, suamimu. Kita hidup di Dinasti Xing, di Desa Fanrong."

Li Mei kembali mengerutkan alisnya. 

Dinasti Xing? Kenapa dia tidak pernah mendengar nama dinasti ini sebelumnya? Sepertinya dinasti ini tidak tercatat di dalam buku sejarah.

"Istriku," Bai Changyi kembali memanggilnya dan menatapnya dengan tatapan serius. "Kalau kamu ingin bercerai, tunggulah beberapa hari lagi. Aku akan berusaha mengumpulkan uang dari hasil berburu terlebih dahulu. Setelah itu kamu bisa membawa uang itu untuk memenuhi kebutuhanmu sementara waktu. Kalau kamu memberitahuku di mana kamu akan tinggal setelah kita bercerai, aku akan tetap memberimu uang agar kamu tetap bisa menyambung hidup. Jadi, tolonglah berjanji, jangan pernah berusaha bunuh diri lagi, ya?"

"Bunuh diri? Siapa? Aku?" tanya Li Mei terkejut seraya menunjuk dirinya sendiri.

Li Mei tertegun ketika mendengar ucapan Bai Changyi. Dia tiba-tiba merasa pemilik tubuh ini sangat bodoh. Kenapa dia mau berpisah dengan laki-laki sebaik dan setulus ini? Dan, ehm ... setampan ini? Li Mei bahkan tidak pernah melihat seorang laki-laki yang bersikap tulus seperti pria ini di zaman modern.

"Aku …." Baru saja Li Mei ingin mengucapkan sesuatu, tiba-tiba perutnya berbunyi dengan sangat keras. Li Mei merasa sangat malu hingga dia menundukkan kepalanya dengan canggung.

"Ah, kamu pasti lapar setelah tiga hari tidak sadarkan diri. Sebentar, aku akan segera mengambilkan minuman dan makanan dari dapur," kata Bai Changyi seraya turun dari ranjang.

Tidak lama kemudian, Bai Changyi keluar dari dapur dan membawa semangkuk bubur putih di tangan kanannya dan segelas air hangat di tangan kirinya. Dia menyerahkannya kepada Li Mei lalu berkata dengan lembut, "aku tahu kamu tidak menyukainya, tapi kamu baru saja sadar setelah tiga hari tidak sadarkan diri. Jadi, makanlah."

"Terima kasih," Li Mei menerima gelas dan mangkuk bubur seraya tersenyum dengan lembut. Perutnya memang sudah tidak terisi selama tiga hari, semangkuk bubur putih adalah makanan yang paling pas untuknya.

Bai Changyi tertegun. Dia merasa sangat kaget ketika melihat senyum lembut di wajah Li Mei. Kapan dia pernah melihat senyuman di wajah cantik Li Mei? Tentu saja tidak pernah! Jadi ini adalah kali pertama dia melihat senyumannya yang sangat mempesona.

"Begini … aku …." 

Perkataannya Li Mei kembali terpotong. Kali ini oleh suara seorang wanita yang berteriak dari luar.

"Bai Changyi! Keluarlah!"

Bab 2

"Bai Changyi! Keluar kau! Keluar sekarang juga!" 

Terdengar teriakan seorang wanita dari halaman rumah mereka.

Li Mei mengerutkan alisnya. Siapa orang yang berteriak dengan lantang dan tidak tahu malu di halaman rumah mereka seperti itu? 

"Siapa itu? Kenapa dia berteriak di halaman rumah kita?" tanya Li Mei penasaran. 

Setelah beberapa saat, Bai Changyi terlihat menghela nafas panjang sebelum akhirnya memutuskan untuk menemui orang yang ada di halaman.

"Kamu tunggulah sebentar di sini. Makan buburmu, dan gunakan selimut dengan benar. Aku akan keluar sebentar untuk menemui Nyonya Zhao," ucap Bai Changyi. Dia merapikan kembali selimut agar lebih rapat membungkus tubuh Li Mei sebelum akhirnya beranjak pergi keluar. 

Saat ini sudah hampir di penghujung musim dingin, kondisi gubuk reyot milik Bai Changyi sudah tidak layak lagi. Banyak lubang-lubang yang sudah ditambal dengan tanah liat untuk mencegah angin masuk ke dalam rumah. Namun meskipun begitu, hawa dingin masih bisa merayap masuk melalui sela-sela pintu dan jendela.

Belum lagi, baju mereka berdua terbuat dari bahan katun kasar berkualitas rendah. Katun di zaman ini tidak terlalu bagus untuk menghangatkan tubuh. Bahkan kainnya sangat tipis dan sudah berlubang dimana-mana. 

Li Mei menajamkan telinganya untuk mendengarkan pembicaraan orang-orang di luar. Sebenarnya dia tidak perlu terlalu berusaha keras karena pada kenyataannya, wanita tersebut terdengar tidak berniat memelankan suaranya sama sekali.

"Bai Changyi! Kembalikan sepuluh tael perak milikku sekarang juga! Untuk apa kamu bersusah payah demi istri tidak bergunamu itu?" tanya wanita yang disebut Bai Changyi sebagai Nyonya Zhao itu.

Li Mei mengerutkan alisnya, siapa orang yang berani mengatakan kalau dirinya adalah seorang wanita tidak berguna? 

"Nyonya Zhao, aku sudah berkata kalau aku akan mengembalikan uangmu dalam waktu dua minggu. Ini baru tiga hari, dan aku belum sempat pergi berburu akhir-akhir ini. Bagaimana bisa aku mengembalikan uangmu sekarang?" tanya Bai Changyi muram.

Dia merasa sangat tidak senang ketika mendengar hinaan yang dilemparkan  Zhao Niu untuk istrinya.

"Cih! Istrimu sudah berkali-kali meminta cerai kepadamu, namun kamu masih saja terus membelanya?" ejek Zhao Niu.

"Dia adalah istriku. Pantas bagiku untuk membelanya," jawab Bai Changyi datar.

Ya. Dia adalah salah satu laki-laki yang tidak pernah memikirkan soal cinta. Kehidupannya juga begitu miskin dan hanya bisa hidup dari hasil berburu. Namun, dia malah jatuh cinta pada pandangan pertama ketika melihat Li Mei yang ditemukannya terluka dan tidak sadarkan diri di kaki gunung. Saat sadar, Li Mei juga tidak mengingat siapa dirinya. Oleh karena itulah akhirnya Bai Changyi memberanikan diri untuk menikahi Li Mei.

"Sudah kukatakan kepadamu, ceraikan saja wanita seperti dia! Buat apa kamu mempertahankannya?" dengus Zhao Niu dingin.

Li Mei mengangkat kedua alisnya. Rupanya ada seseorang yang sangat menginginkan dia bercerai dengan suaminya. Apa kira-kira alasannya? Apakah karena pemilik asli tubuh ini sangat menyebalkan sehingga membuat orang-orang di desa muak terhadapnya?

"Lagi pula dia terbaring tidak sadarkan diri sampai sekarang. Mungkin saja dia sebentar lagi akan mati dan ...."

"Nyonya Zhao!" hardik Bai Changyi.

Zhao Niu terkejut ketika mendengar Bai Changyi membentaknya.

"Nyonya Zhao, tolong berhentilah menjelek-jelekkan istriku. Lagi pula Li Mei sudah siuman sekarang, kondisinya sudah jauh lebih baik."

"Apa?!" kali ini terdengar suara dua orang perempuan yang berseru dengan kaget.

"Bagaimana bisa?!" tanya Zhao Niu.

Suasana seketika menjadi hening. 

Li Mei merasa hatinya menghangat ketika mendengar suaminya yang terus saja membelanya, meskipun pemilik asli tubuh ini sepertinya sering berbuat onar.

"Baguslah kalau dia sudah sadar. Kamu jadi tidak perlu mengeluarkan uang lagi untuk biaya pemakamannya. Lebih baik kamu segera mengusir wanita yang tidak jelas asal-usulnya itu dari desa ini agar kamu bisa menikah dengan Xiao Mimi," celetuk Zhao Niu dengan suara keras. Dia sengaja mengeraskan suaranya agar Li Mei bisa mendengarnya dari dalam.

"Kak Changyi, aku berjanji pasti akan memperlakukanmu dengan baik, tidak seperti Li Mei," kata suara seorang wanita muda yang berkata dengan suara malu-malu.

Li Mei hampir saja tersedak buburnya. Dia menggelengkan kepalanya dengan pelan. 

Dasar wanita-wanita gila. Sebentar-sebentar menyuruh suaminya menyiapkan pemakaman untuknya. Sebentar-sebentar menyuruh suaminya menceraikannya. Sekarang mereka meminta suaminya menikahi wanita lain? Lihat saja, Li Mei tidak akan tinggal diam!

"Xiao Mimi, sudah kukatakan berapa kali? Aku tidak pernah memiliki perasaan apapun kepadamu," kata Bai Changyi dingin.

"Kakak ... apa Kak Changyi betul-betul tidak memiliki perasaan kepadaku? Aku ... aku ... Ibu ...." suara isakan Xiao Mimi yang lemah mulai terdengar.

Aih, benar-benar menyebalkan! 

Li Mei sudah tidak tahan lagi. Dia bergegas merapikan dirinya dan turun dari tempat tidur.

"Bai Changyi!" hardik Zhao Niu kasar. "Bisa-bisanya kamu mengatakan hal yang tidak masuk akal seperti itu? Apa kurangnya Xiao Mimi dibandingkan dengan Li ...." 

Belum sempat Nyonya Zhao menyelesaikan perkataannya, pintu rumah tiba-tiba terdengar berderit karena dibuka dari dalam. Berhubung pintu tersebut sudah reyot, tentu saja suaranya terdengar lebih berisik.

"Aku pikir siapa yang pagi-pagi datang dan berteriak-teriak seperti orang gila di halaman rumah kami, ternyata ada Nyonya Zhao dan anaknya yang tidak tahu malu datang kemari," kata Li Mei. 

Meskipun tubuhnya masih terasa sedikit lemah, dia tetap berusaha berjalan dengan tegap dan angkuh. Wajahnya bahkan terlihat sangat memprovokasi ketika menatap Zhao Niu dan Xiao Mimi.

Zhao Niu dan Xiao Mimi sontak terkejut saat melihat Li Mei yang datang mendekati mereka.Sejak kapan Li Mei jadi orang yang berani melawan mereka seperti ini? Bukankah dia biasanya hanya bisa meringkuk diam setiap kali mereka mengganggunya?

"Ada apa? Kenapa menatapku seperti melihat hantu? Aku masih hidup dan baik-baik saja, " celetuk Li Mei seraya menatap kedua wanita di hadapannya itu. 

Dia segera duduk di samping Bai Changyi, lalu menoleh ke arahnya. 

"Suamiku, aku kedinginan ...." keluh Li Mei dengan manjanya.

Bai Changyi tertegun di tempatnya. Selama beberapa saat pikirannya terasa kosong. Sedangkan Zhao Niu dan Xiao Mimi terbelalak ketika melihat sikap manja Li Mei.

Sejak kapan Li Mei semanja ini kepada Bai Changyi? Apakah tenggelam di sungai bisa menyebabkan sikap seseorang berubah?

"Li Mei, untuk apa kamu berpura-pura di depan kami? Siapa orang di desa ini yang tidak tahu bagaimana sikapmu terhadap Bai Changyi?" ejek Zhao Niu ketika dia mendapatkan kembali kesadarannya.

"Betul-betul wanita menjijikan! Jauhi Kak Changyi!" Xiao Mimi menatap Li Mei dengan nyalang. Dia tidak bisa tahan ketika melihatnya tiba-tiba saja bersikap manja kepada Bai Changyi di depan matanya.

"Kenapa? Dia suamiku. Kenapa aku tidak boleh bersikap manja kepada suamiku sendiri? Kalau bukan aku yang bersikap manja kepadanya, lalu siapa? Kamu?"

Bab 3

"Dasar wanita jalang! Jangan mengatakan omong kosong yang bisa menghancurkan reputasi anakku" Zhao Niu mendesis marah ketika mendengar perkataan Li Mei.

"Kalau begitu, ajarilah anakmu bagaimana caranya bersikap dengan baik. Kalau dia terus saja menggoda suami orang, dia akan menghancurkan reputasinya sendiri," kata Li Mei terlihat acuh tak acuh.

Bai Changyi masih menatap Li Mei dengan tatapan kosong. Dia masih belum mempercayai apa yang sedang terjadi di depannya saat ini.

"Suamiku?" panggil Li Mei seraya menggoyangkan lengan Bai Changyi perlahan.

Bai Changyi kembali tersadar lalu mengerjap-ngerjapkan matanya, "aーah, ya … kalau begitu mari kita kembali ke kamar. Tubuhmu belum sepenuhnya pulih dan di luar sini sangat dingin. Ayo ...."

Bai Changyi segera berdiri lalu membantu Li Mei berdiri dengan lembut. Dia menolehkan wajahnya untuk menatap Zhao Niu dan Xiao Mimi dengan tatapan datar, "Nyonya Zhao, aku pasti akan membayar hutangku, tapi tidak sekarang. Aku akan membayarnya sesuai dengan kesepakatan awal."

Bai Changyi terdiam selama beberapa saat sebelum akhirnya kembali melanjutkan ucapannya, "udara di luar sini semakin dingin, dan aku harus membawa Li Mei masuk untuk menghangatkan diri. Kalau kalian tidak ada keperluan lagi, silahkan kalian pulang."

Zhao Niu dan Xiao Mimi hanya bisa ternganga melihat sikap keduanya. Setelah beberapa saat, Xiao Mimi akhirnya merasa sudah tidak bisa menahannya lagi. Dia merasa sangat marah dan cemburu. Akhirnya, dia menghentakkan kakinya, lalu berlari keluar dari halaman seraya menangis. Zhao Niu terlihat panik, dia segera melemparkan tatapan tajam kepada Bai Changyi dan Li Mei, lalu menyusul Xiao Mimi pergi.

Bai Changyi menggelengkan kepalanya pelan, "ayo, kita masuk sekarang. Udara semakin dingin."

Li Mei menatapnya dengan tatapan polos lalu bertanya manja, "apa kamu tidak jadi memapahku?"

Bai Changyi merasa tidak terbiasa dengan perubahan sikap Li Mei. Istrinya dulu selalu bersikap kasar dan kata-katanya terdengar tajam. Namun sekarang .…

Apakah dia boleh berharap sedikit saja?

"Baik. Ayo aku bantu." Gerakan Bai Changyi terlihat kaku. Apalagi ketika dia merasakan kulit halus Li Mei yang menyentuh kulitnya, wajahnya tanpa sadar bersemu merah. Dia sama sekali tidak menyadari sudut bibir Li Mei yang sedikit terangkat.

Li Mei duduk di tepi tempat tidur dan menatap wajah Bai Changyi lekat-lekat, membuat Bai Changyi semakin canggung.

"Suamiku …." panggil Li Mei lembut.

"Aーah, ya?" jawab Bai Changyi dengan canggung.

Bai Changyi sama sekali belum terbiasa dengan panggilan Li Mei. Dulu Li Mei selalu memanggilnya dengan panggilan "Hei!" ataupun hanya "Kamu!", tidak pernah semesra sekarang ini.

"Soal perceraian ...."

Ketika mendengar kata-kata perceraian, suasana hati Bai Changyi kembali muram.

Dia segera memotong perkataan Li Mei, "seperti yang aku katakan tadi, berikan aku waktu beberapa hari lagi untuk mengumpulkan uang untukmu. Setelah itu, aku akan meminta Kepala Desa Wu untuk mengurus perceraian kita."

Setelah itu, Bai Changyi mengangkat kepalanya dan menatap mata Li Mei dengan mata yang terkulai, "aku ... aku tahu aku bukan suami yang becus hingga membawamu ke kehidupan yang sengsara seperti ini. Tapi … jangan pernah melukai dirimu lagi, apalagi sampai menceburkan diri ke sungai seperti kemarin untuk bunuh diri. Aku tidak sanggup melihatnya, maka … aku akan mengabulkan permintaanmu untuk bercerai."

Kata-kata Bai Changyi entah mengapa terasa seperti menyayat-nyayat hati Li Mei. Dia merasa sedih untuk laki-laki ini.

Dasar Li Mei sialan! Apa matamu buta? Apa kamu tidak bisa merasakan ketulusan yang diberikan oleh laki-laki ini? Hidupmu sungguh sia-sia!

"Aku hanya ingin mengatakan kalau aku tidak mau bercerai," kata Li Mei seraya tersenyum lembut.

"Aku mengerti. Besok pagi aku akan mengurus surat perce ...."

Bai Changyi membeku, dia merasa ada sesuatu yang salah. Dia mendongakkan kepalanya dan menatap Li Mei dengan kening yang berkerut.

"Kamu bilang apa barusan?"

"Aku tidak mau bercerai denganmu," jawab Li Mei mantap.

Bai Changyi tertegun untuk waktu yang lama. Setelah beberapa saat, dia naik ke atas tempat tidur, berbaring, menyelimuti tubuhnya, lalu memejamkan matanya rapat-rapat.

Li Mei tertawa ketika melihat tingkah laku Bai Changyi, "dasar bodoh! Kamu tidak sedang bermimpi!"

"Benarkah?" tanya Bai Changyi terdengar ragu.

"Ya," jawab Li Mei.

"Jadi … kamu … kamu benar-benar tidak akan bercerai denganku?" tanya Bai Changyi ragu.

"Ha! Ha! Ha! Tentu saja," kata Li Mei seraya tertawa. Suara tawanya terdengar sangat merdu di telinga Bai Changyi.  "Meskipun sekarang aku kehilangan ingatanku, aku merasa kalau aku yang dulu pasti sangatlah bodoh karena ingin bercerai denganmu."

Ya. Walaupun dia tidak dapat menyalahkan sikap Li Mei sepenuhnya yang tidak mampu menahan kesusahan, tapi dia juga tidak bisa membenarkan perilakunya.

Bai Changyi mencubit lengannya sendiri dengan keras hingga kemerahan, "ah! Aku ... ternyata aku benar-benar tidak sedang bermimpi."

"Apa yang kamu lakukan? Jangan seperti itu!" Li Mei terkejut dan meraih lengan Bai Changyi dengan cepat. Dia segera membelai dan meniup lembut lengan Bai Changyi yang dicubitnya sendiri tadi.

Bai Changyi hanya bisa menatap wajah cantik Li Mei dalam diam. Perhatian dan sikap lembut Li Mei sedari tadi langsung menyembuhkan luka hatinya selama ini dalam sekejap. Dia benar-benar merasa seperti sedang berada di dalam mimpi.

"Tapi, aku memiliki satu syarat," kata Li Mei pelan.

"Apa itu? Katakan saja. Selama kamu berjanji tidak akan meninggalkanku, aku akan menyanggupinya," tanya Bai Changyi terlihat bersemangat.

"Aku tidak suka berbagi suami," kata Li Mei berterus terang. "Kelak, semakmur apapun kehidupan kita, aku tidak mau kalau kamu sampai mengambil selir ataupun gundik."

Bai Changyi menatapnya dengan tatapan tidak percaya, "tidak akan pernah! Aku tidak akan pernah jatuh cinta kepada wanita lain. Aku bersumpah dengan nyawaku!"

"Baiklah, aku percaya kepadamu," jawab Li Mei seraya menatapnya dengan tatapan malu-malu. Setelah beberapa saat, dia kembali menoleh dan menatap suaminya.

"Suamiku, bolehkah aku bertanya lagi soal kehidupan kita? Kamu tadi bilang kalau kamu seorang pemburu bukan?"

"Ya," jawab Bai Changyi.

"Kapan kamu akan pergi berburu ke gunung lagi?" tanya Li Mei.  "Kita harus segera mendapatkan uang untuk membayar semua hutang kita kepada Nyonya Zhao. Dengan begitu, kita tidak perlu berurusan lagi dengannya kelak."

"Ya, kamu benar," jawab Bai Changyi.

"Apakah sepuluh tael perak itu banyak?" tanya Li Mei penasaran.

"Itu … itu cukup banyak," jawab Bai Changyi pelan. Dia menunduk dan merasa tidak berdaya, "kemungkinan aku butuh beberapa kali menjual bulu-bulu hewan itu ke kota sampai bisa melunasi semuanya. Kecuali ...."

"Kecuali apa?" tanya Li Mei kurang sabar ketika melihat Bai Changyi menghentikan ucapannya.

"Kecuali aku masuk lebih dalam ke dalam hutan. Mungkin saja aku bisa mendapatkan harimau dan menjual kulitnya. Selama kita mengulitinya dengan baik, itu akan berharga sekitar lima puluh tael perak. Kalau seperti itu, kita bisa memiliki uang lebih untuk membeli pakaian baru untukmu. Serta kasur dan selimut yang lebih empuk dan tebal."

Li Mei merasa hatinya bertambah hangat. Bagaimana tidak, semenjak tadi suaminya selalu mengutamakan kebutuhannya.

"Tapi ... bukankah berbahaya kalau pergi hutan yang lebih dalam? Pasti akan lebih banyak hewan buas di sana," kata Li Mei khawatir.

"Tapi hanya itulah satu-satunya cara yang kita punya," bujuk Bai Changyi.

Li Mei menggeleng, "tidak, aku tidak setuju. Aku khawatir sesuatu yang buruk akan terjadi padamu."

Entah kapan terakhir kalinya Bai Changyi merasa hatinya begitu bahagia. Saat ini dia bahkan hampir meneteskan air matanya. Tapi dia harus bisa menahannya, dia tidak mau terlihat lemah di depan istri kecilnya.

"Begini saja ... bagaimana kalau aku ikut denganmu besok?" tanya Li Mei.

"Apa?" Bai Changyi merasa sangat terkejut dengan permintaan Li Mei. Dia langsung menolaknya, "tidak, tidak! Itu terlalu berbahaya!"

"Kita tidak perlu pergi terlalu dalam ke gunung. Kamu bisa berburu beberapa hewan liar, dan aku bisa mencari tanaman obat. Setelah itu, kita berdua bisa menjualnya ke kota bersama."

Bai Changyi tertegun. 

"Kamu … kamu mengetahui soal tanaman obat?"

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED