Bab 1

Desah nafas dua manusia yang sedang bergumul di atas ranjang memenuhi penjuru kamar. Sesekali terdengar erangan dan pekik kenikmatan saat keduanya bergerak seirama dalam tarian sensual.

Keringat membasahi tubuh keduanya hingga membuat mereka tampak berkilau di bawah cahaya lampu. Begitu liar dan panas. Saling memagut dan mencecap dengan tubuh menempel erat, membuat ranjang besar itu tampak amat berantakan.

BRAK.

Sepasang pria dan wanita yang masih berada di atas ranjang menghentikan aksi mereka dengan kaget. Perhatian keduanya langsung tertuju ke arah pintu yang baru saja dibuka dengan keras.

"Fa-Fachmi?" wanita di atas ranjang yang masih berada di bawah himpitan seorang lelaki terbalalak kaget. Dia tidak menyangka bahwa kekasihnya akan datang ke apartemennya sekarang. Padahal lelaki itu bilang akan pergi ke luar kota selama satu minggu. Dan sekarang baru dua hari sejak kepergiannya.

"Oh, hai Kak." Berbeda dengan si wanita yang tampak ketakutan, lelaki di atas tubuhnya dengan santai menyapa lelaki yang dipanggil Fachmi lalu menjauh dari si wanita. Tanpa memedulikan ketelanjangannya, lelaki itu mengambil pakaiannya yang berserakan di lantai lalu memakainya.

Wanita di atas ranjang yang kini wajahnya memucat segera menarik selimut lalu ia lilitkan untuk menutupi tubuh telanjangnya. Tergesa-gesa ia menghampiri Fachmi yang mematung di ambang pintu dengan mata berkilat tajam dan ekspresi dingin.

"Fachmi, jangan salah paham. Aku bisa jelaskan." Mata wanita itu berkaca-kaca. Dia mengatupkan kedua tangan di depan dada dalam posisi memohon.

"Aku beri waktu lima menit untukmu menjelaskan." Ujar Fachmi dengan nada yang bisa membekukan. Tatapannya tertuju lurus pada sang adik kembar yang masih merapikan pakaiannya sambil bersiul santai.

Wanita itu tampak lega. Otaknya langsung berputar cepat merangkai kata. "Saat Farrel datang, aku pikir itu kau. Kalian kembar identik hingga aku sulit membedakan. Dan dia-"

"Wow, pembelaan diri yang bagus!" Farrel memotong ucapan wanita itu sambil bertepuk tangan. "Seingatku kau langsung menyadari bahwa aku Farrel karena kau tahu betul Fachmi sedang ke luar kota." Lalu dia berbicara pada sang Kakak tanpa rasa bersalah. "Anggap saja dia jujur. Lalu Kak, apa kau yakin akan menikahi wanita yang tidak bisa membedakan kita berdua? Bisa saja setelah menikah dia menyerangku di sembarang tempat dengan alasan mengira aku adalah dirimu."

"Bajingan kau, Farrel! Kau yang menggodaku tadi!" wanita itu tampak ingin mencakar wajah penuh senyum milik Farrel.

"Aku tidak menyangkal, dan kau juga tidak menolak." Farrel menyeringai. "Ah, kau ini plin-plan sekali. Cukup gunakan satu alasan. Jadi yang mana yang benar? Kau mengira aku adalah Fachmi atau aku yang menggodamu hingga kau tidak bisa menolak meski tahu bahwa aku calon adik iparmu?"

Wanita itu tidak bisa berkata-kata lagi menghadapi sikap bajingan Farrel. Dia beralih pada Fachmi, memegang erat tangan lelaki itu. "Aku tahu dia adik kembarmu-"

"Anak kecil juga tahu setelah melihat wajah kami." Lagi-lagi Farrel memotong.

Wanita itu mengertakkan gigi tapi kali ini mengabaikan ocehan Farrel. "Ya, dia memang adikmu. Tapi apa kau masih lebih percaya padanya daripada aku setelah mendengar sendiri dia mengakui bahwa dirinya menggoda calon kakak iparnya dan masih berani berbicara santai seperti sekarang? Walau dia adikmu, dia adalah bajingan yang tidak bisa dipercaya."

Fachmi menunduk menatap jam di pergelangan tangannya. "Tepat lima menit. Sekarang giliranku bicara." Fachmi menyentak tangannya hingga terlepas dari genggaman wanita itu. Tatapannya yang sedari tadi fokus pasa sang adik kini beralih pada wanita yang berdiri di hadapannya. "Ada tiga hal yang paling kubenci. Pertama, berbohong. Kedua, berkhianat. Yang terakhir, menghina keluargaku. Dan kau telah melakukan semua yang kubenci itu.

"Katakan pada seluruh anggota keluargamu bahwa rencana pertunangan kita batal. Jangan ada yang datang padaku untuk memohon agar pertunangan ini dilanjutkan. Kecuali kalian ingin kupermalukan di depan umum." Selesai berkata demikian, Fachmi berbalik keluar dari kamar.

Farrel tampak senang mendengar sang Kakak membatalkan rencana pertunangan. Dia bahkan terkekeh geli saat mantan calon tunangan Fachmi menangis.

Mendengar tawa Farrel, wanita itu menoleh lalu melemparkan tatapan membunuh ke arah lelaki yang telah menghancurkan impiannya untuk bisa menikah dengan Fachmi Aditama Effendi, pengusaha muda, kaya, dan tampan.

"Sebenarnya apa yang kau inginkan? Aku tidak pernah berbuat salah padamu."

Farrel berkacak pinggang, masih dengan gaya santainya. "Sayangnya kau punya dua kesalahan. Pertama, tergoda olehku. Dan yang kedua," mendadak sikap cengengesan Farrel berubah. Matanya tajam dan ekspresinya jauh lebih menyeramkan dari sang Kakak. "Berusaha mengambil Fachmi dariku."

Wanita itu terbelalak mendengar penjelasan Farrel. "Kau menyukai kakakmu sendiri?" wanita itu menutup mulutnya tak percaya. Bukankah itu berarti Farrel mengidap brother complex dan penyuka sesama jenis?

Farrel tidak berusaha menjelaskan dan hanya mengangkat bahu. "Pernah dengar bahwa orang kembar itu memiliki satu jiwa yang terbagi? Begitulah aku dan kakakku. Kami adalah satu jiwa yang terbagi dua. Karena itu, tak akan kubiarkan siapapun merebut belahan jiwaku. Hanya aku yang boleh menerima seluruh perhatian Fachmi. Hanya aku yang akan menemani di sisinya."

Selesai berkata demikian, sikap menyeramkan Farrel berubah kembali. Seolah tadi ada sosok lain yang menempati raganya. Dia tersenyum seraya mengedipkan sebelah mata pada wanita yang memandangnya ngeri. Kemudian ia keluar kamar sambil bersiul pelan.

Ini bukan pertama kalinya Farrel menggagalkan rencana pertunangan Fachmi. Dia sama sekali tidak khawatir Fachmi akan membencinya. Kakaknya itu hanya akan memukulnya satu kali, tidak bicara selama seminggu, lalu hubungan mereka kembali seperti semula.

Apakah Farrel Gay?

Sama sekali tidak. Dia amat sangat normal. Dia sendiri akan bergidik ngeri jika harus membayangkan berhubungan badan dengan Fachmi.

Lalu apakah Farrel mengidap brother complex?

Tentu saja tidak. Dia sama sekali tidak keberatan sang Kakak menjalin hubungan satu atau dua malam dengan para wanita.

Lalu kenapa?

Farrel hanya tidak suka membayangkan Fachmi menikah lalu mencurahkan seluruh perhatian pada istrinya kelak. Dia ingin jadi satu-satunya yang diperhatikan dan dipedulikan Fachmi. Karena Fachmi adalah belahan jiwanya, miliknya.

---------------------

~~>> Aya Emily <<~~

Bab 2

Farrel mencengkeram kemudi mobilnya dengan kuat. Rahangnya berkedut menunjukkan lelaki dua puluh tujuh tahun itu sedang menahan amarah.

"Brengsek!" umpat Farrel sambil melepas earphone dari telinga lalu mencampakkannya secara asal ke dashboard mobil.

Sedari tadi Farrel mencoba menghubungi Fachmi, kakak kembarnya. Tapi selalu saja ponsel Fachmi tidak aktif. Ah, bukan hanya sedari tadi, melainkan sejak dua hari lalu setelah Farrel menerima berita yang sama sekali tidak ia sangka.

Fachmi sudah bertunangan.

Mengingat itu membuat dada Farrel panas. Dia memukul setir mobil dengan kepalan tangannya untuk melampiaskan amarah.

Dua hari lalu Farrel masih menikmati udara segar di salah satu pulau eksotis. Namun berita itu merusak acara bersantainya. Farrel sungguh tidak menyangka Fachmi bertunangan tanpa memberitahunya. Lebih buruk lagi, yang menyampaikan berita itu pada Farrel juga bukan Fachmi melainkan sepupunya, Juan Keegan.

Tega sekali Fachmi melakukan ini. Farrel tidak akan menyalahkan orang tuanya. Dia yakin betul Fachmi telah mengatakan sesuatu pada mereka hingga mereka pun tidak memberitahu Farrel.

Baiklah, dirinya memang keterlaluan. Tiap Fachmi akan bertunangan, pasti Farrel berusaha menggagalkan rencana tersebut. Tapi sebagai saudara kembar harusnya Fachmi mengerti bahwa Farrel tidak ingin kehilangan sang Kakak. Bagi Farrel, Fachmi adalah belahan jiwanya, miliknya. Dia tidak rela sang Kakak menikah lalu mencurahkan seluruh perhatian pada istrinya kelak.

Ya, Farrel akui itu semua. Dirinya salah. Tapi tetap saja, tega sekali Fachmi sampai bertunangan tanpa memberitahunya.

Tak terasa Farrel sudah sampai di area parkir apartemen Fachmi. Segera ia turun lalu bergegas masuk. Satpam yang menyapa pun hanya mendapat balasan senyum kecil yang tampak tidak tulus padahal biasanya Farrel suka berbincang lebih lama dengan si satpam tiap berkunjung ke apartemen Fachmi.

Tak lama kemudian Farrel sudah berkutat dengan kode keamanan di pintu apartemen. Keningnya berkerut kesal ketika kode yang ia masukkan salah.

Sejenak Farrel memejamkan mata. Aksi menggagalkan rencana pertunangan Fachmi yang terakhir Farrel lakukan berhasil membuat Fachmi menolak bertemu dengannya hampir tiga minggu lamanya. Beruntung setelah membujuk selama berhari-hari, akhirnya Fachmi mau memaafkan Farrel. Dan Farrel pikir masalah itu sudah selesai.

Tapi ternyata belum. Buktinya setengah tahun kemudian Fachmi tidak mau Farrel datang ke acara pertunangannya dan juga dengan sengaja mengganti kode keamanan apartemen agar Farrel tidak bisa leluasa masuk. Belum lagi kenyataan bahwa Fachmi sengaja membuat Farrel tidak bisa menghubunginya.

Farrel mendesah lalu membuka mata kembali. Tidak ada pilihan selain membunyikan bel. Akhirnya dia pun melakukannya.

KLEK.

Pintu terbuka namun bukan orang yang Farrel cari yang membukakan pintu. Kening Farrel berkerut menatap wanita dengan rambut lurus tergerai dan mata cokelat sedang menatapnya. Bibirnya tersenyum lembut menunjukkan kesan ramah.

"Kenapa menekan bel? Kau lupa kode keamanannya?" tanya wanita itu dengan suara merdu.

Jika mereka bertemu dalam situasi berbeda, pastilah Farrel tergoda untuk merayu wanita itu lalu membuatnya menghangati ranjangnya. Tapi sayang pikiran Farrel sekarang masih fokus untuk menemukan keberadaan sang kakak lalu menuntut penjelasan.

"Aku mencari-"

"Oh, aku lupa!" seru wanita itu sambil menjauh dari pintu. "Aku masih masak. Kebetulan kau pulang jadi kita bisa makan malam bersama," lanjutnya dengan suara lebih keras.

Tidak perlu berpikir lama. Farrel langsung menebak bahwa wanita itu mengira dirinya adalah Fachmi. Tapi siapa wanita itu? Tidak pernah sebelumnya Fachmi membawa wanita ke apartemennya, bahkan calon tunangannya sekalipun. Apa jangan-jangan wanita itu adalah tunangan Fachmi? Kalau benar, pastilah dia sangat spesial hingga Fachmi membiarkannya berada dalam kediamannya.

Seketika kekesalan Farrel semakin memuncak. Dan kali ini ditujukan pada wanita yang sebenarnya tak bersalah itu. Segera Farrel masuk lalu menutup pintu kembali. Langkahnya cepat menuju kamar Fachmi yang ternyata kosong.

Yah, tentu saja Fachmi tidak ada di rumah. Kalau ada tidak mungkin wanita pembawa masalah itu menduga dirinya adalah Fachmi.

Farrel berkacak pinggang dengan tatapan nyalang ke arah ranjang Fachmi yang tampak rapi. Otaknya berputar memikirkan bagaimana cara menyingkirkan wanita yang telah masuk ke dalam kehidupan Fachmi itu. Apa dirinya harus menggunakan cara yang sama seperti wanita setengah tahun yang lalu? Meniduri wanita itu lalu membuat Fachmi melihatnya?

Sial!

Farrel mengacak rambutnya gemas. Dia ragu cara itu akan berhasil. Tapi otaknya sedang buntu sekarang.

"Fachmi! Ayo, makan malam!"

Farrel menatap ambang pintu kamar sekilas lalu beralih kembali ke ranjang seolah ranjang itu bisa memberi jawaban. Hmm, mungkin dirinya bisa berpura-pura menjadi Fachmi sambil mencari celah untuk menendang wanita itu. Ya, itu ide bagus.

Kali ini senyum licik tersungging di sudut bibir Farrel. Dia keluar kamar seraya menyingsing lengan sweaternya lalu bergabung dengan wanita itu-yang belum Farrel ketahui namanya-di meja makan.

"Untung saja aku masak agak banyak." Wanita itu berkata seraya menyendokkan nasi ke piring Farrel. "Aku tidak menyangka kau akan pulang padahal kau bilang masih mengurus pekerjaan di luar kota sampai akhir bulan ini."

Dalam hati Farrel menghitung berapa hari lagi sampai akhir bulan ini. Ah, kira-kira empat hari lagi.

"Hei, kau lebih pendiam dari biasanya. Apa ada masalah?"

Wanita itu menatap Farrel dalam seolah hendak membaca isi hati Farrel. Entah mengapa itu membuat Farrel gelisah. Padahal dia adalah tipe lelaki penakluk wanita yang tidak akan takut hanya karena ditatap intens oleh lawan jenis.

Sejenak Farrel berdehem. "Ehm, tidak. Aku hanya sedikit tidak enak badan."

Mendadak wanita itu mengulurkan tangan lalu meletakkan punggung tangannya di kening Farrel. "Tidak panas."

Farrel mundur, melepas kontak fisik yang terasa mengganggu itu lalu berujar, "Aku tidak demam. Hanya merasa agak pusing. Tidak perlu dipikirkan."

Wanita itu tersenyum. "Kalau begitu habiskan makananmu lalu istirahat. Pasti kau kelelahan. Tidak heran juga mengingat kau sering pulang larut malam dan melupakan waktu makan."

Mata Farrel menyipit kesal. Dia tidak suka kalimat wanita itu yang seolah menunjukkan hubungannya dan Fachmi sudah sangat dekat. "Tidak perlu berlebihan memperhatikanku. Kau belum jadi istriku jadi tidak perlu bersikap seolah kau istriku." Farrel mengutarakan kalimat itu dengan nada permusuhan yang kental. Biar saja. Lagipula lebih bagus kalau wanita itu jadi tersinggung akan sikapnya hingga membatalkan pertunangan.

Bukannya marah atau tersinggung sesuai harapan Farrel, wanita itu malah kembali tersenyum lembut. "Maaf kalau menurutmu aku berlebihan."

Lah, kenapa dirinya yang jadi merasa bersalah setelah mendengar kata 'maaf' dari wanita itu?

Farrel tidak menanggapi ucapan wanita di depannya dan memilih menyibukkan diri dengan makanan. Ternyata wanita itu pintar memasak. Dan dari sikapnya sekilas jelas menunjukkan dia seorang calon istri yang baik. Pantas saja Fachmi memilihnya.

Namun meski Farrel mengakui bahwa wanita itu memang pilihan yang tepat untuk dijadikan istri, dirinya tetap tidak setuju Fachmi menikah.

Selesai makan Farrel langsung meninggalkan wanita itu membersihkan meja makan sendirian lalu memilih menonton tv. Dia duduk santai di sofa dengan kaki naik ke atas meja.

Chika Kanza, wanita yang belum genap satu minggu resmi menjadi tunangan Fachmi datang sambil membawa puding. Sejenak dia tertegun melihat Fachmi duduk di sofa depan tv dengan kaki ditumpangkan di atas meja.

Memang dirinya belum begitu mengenal sosok Fachmi. Tapi setahu Kanza, lelaki itu selalu bersikap layaknya orang kalangan atas. Memperhatikan penampilan dan tingkah laku. Tidak pernah bersikap urakan apalagi seperti berandal. Tapi sekarang, Kanza merasa ada yang berbeda dari Fachmi.

"Itu makanan atau hanya hiasan?" tanya Farrel tiba-tiba.

Kanza tersentak kaget. Dia segera menguasai diri lalu mengulas sebuah senyum. "Tentu saja makanan. Aku membawakannya untukmu." Dia duduk di samping Farrel seraya menyerahkan piring kecil berisi puding.

"Kau tunanganku, kan?"

Kanza tampak bingung. "Tentu saja."

"Kalau begitu suapi aku."

Sejenak Kanza terdiam. Sungguh dia merasa aneh dengan sikap Fachmi hari ini. Memang biasanya Fachmi cenderung bersikap dingin dan menjaga jarak. Kanza memaklumi itu karena dia pikir sifat Fachmi memang demikian.

Tapi Fachmi pernah dengan tegas meminta Kanza belajar untuk menjadi istri dan mengurus lelaki itu. Pernyataan yang bertolak belakang dengan ucapan lelaki itu tadi, saat ia meminta Kanza untuk tidak perlu bersikap layaknya seorang istri.

Lagi-lagi Kanza berusaha maklum. Mungkin Fachmi memang kelelahan dan sedikit tidak enak badan hingga menjadi sensitif. Tapi kini, kembali dirinya dibuat bingung saat lelaki itu minta disuapi.

"Kenapa diam?" Farrel menatap kesal pada Kanza.

Mendadak Kanza tertawa. Dia terus tertawa sampai sudut matanya berair.

Farrel kaget mendengar tawa tiba-tiba wanita itu. Raut wajahnya tampak ngeri. "Kau kenapa? Kalau berubah jadi gila jangan di sini."

Mendengar ucapan Farrel malah membuat tawa Kanza semakin pecah. Farrel menggaruk pelipisnya bingung. Memangnya tadi dia melawak, ya?

"Heh, perlu aku panggil dokter jiwa?"

Kanza masih tertawa. "Kau lucu sekali."

"Lucu? Kau pikir aku badut?" dengus Farrel.

Tawa Kanza kembali berderai.

Farrel semakin meringis ngeri lalu perlahan mundur menjauh dari Kanza hingga duduknya mencapai sudut sofa.

"Kenapa menjauh?" tanya Kanza di antara tawa.

Farrel tidak menjawab dan hanya menatap Kanza masih dengan ekspresi ngeri.

"Kau tidak hanya lucu tapi juga menggemaskan," ujar Kanza dengan tawa tertahan. Kemudian ia menunduk, menyendok puding lalu hendak menyuapi Farrel. "Ayo, buka mulutmu. Aaaa..."

"Heh, Nenek Sihir! Kenapa kau berbicara seolah aku anak kecil?" nada Farrel terdengar tersinggung.

"Nenek Sihir?" Kanza merengut. "Jangan bilang kau lupa namaku."

"Jangankan namamu, aku bahkan lupa kalau aku sudah bertunangan."

"Kali ini tidak lucu."

"Dari awal aku memang tidak melawak. Kau saja yang bilang aku lucu. Dasar aneh!"

Kanza masih merengut layaknya anak kecil. "Katakan siapa namaku!"

Farrel berdecak malas. "Kan sudah kubilang bahwa aku lupa."

"Fachmi!"

"Apa, Nenek Sihir?" balas Farrel dengan senyum geli. Lucu juga wajah wanita di hadapannya saat sedang kesal.

"Kau benar-benar lupa namaku?" Kanza memastikan dengan nada tak percaya

"Astaga, berapa kali aku harus bilang?"

"Kau menyebalkan!"

"Baru sadar?"

"Terserahlah!" Kanza menjauh dari Farrel lalu mengalihkan perhatian pada acara tv. Tanpa kata dia makan dengan lahap puding yang tidak sempat dinikmati Farrel.

"Hei, bukankah itu punyaku?" protes Farrel.

"Siapa bilang? Aku membuatnya untuk dinikmati sendiri." Ujar Kanza ketus.

"Tadi kau memberikannya padaku, lalu sekarang kau ambil lagi. Jangan menangis kalau nanti tumbuh bintil di kelopak matamu."

"Hoax."

Mata Farrel melebar melihat puding sudah nyaris tandas. "Kau benar-benar akan menghabiskan puding itu?"

"Iya." Kanza menyahut singkat tanpa melihat Farrel dan tangan masih bergerak menyendok puding lalu memakannya dengan tak acuh.

Mendadak Farrel menarik piring di tangan Kanza. Tapi Kanza sigap menahan. Akhirnya terjadi aksi saling tarik layaknya anak kecil.

"Ini milikku! Kalau kau mau, buat saja sendiri," ujar Kanza sambil menarik piring.

"Kau tadi sudah memberikannya padaku." Farrel tidak mau kalah.

"Iya, sebelum kau memanggilku 'Nenek Sihir'. Sekarang aku berubah pikiran."

Yakin dirinya pasti kalah tenaga dari Farrel, Kanza menunduk di atas piring lalu melahap puding tanpa sendok. Bisa dipastikan di sekitar bibirnya belepotan puding seperti anak kecil.

Farrel tidak mau kalah. Dia mencengkeram rahang Kanza kuat lalu menunduk, merebut puding di mulut Kanza dengan bibirnya. Seketika tubuh Kanza mematung. Dia terlalu kaget hingga tidak berkutik saat Farrel menyelusupkan lidahnya ke mulut Kanza.

------------------------

~~>> Aya Emily <<~~

Bab 3

Kanza menatap cermin di kamar mandi lekat-lekat. Perhatiannya tertuju pada bibirnya lalu beralih pada pipi yang agak memerah. Buru-buru ia menangkupkan kedua tangan pada pipi, untuk menutupi perasaan malu akibat kejadian tadi.

Fachmi menciumnya. Dan itu adalah ciuman pertama Kanza.

Ya, kini Fachmi memang tunangannya. Tapi, Kanza tidak pernah berpikir bahwa dia akan kehilangan momen ciuman pertama dengan cara konyol seperti itu. Hanya karena berebut makanan.

Kanza mendesah, seraya menempelkan keningnya di cermin yang berada di belakang pintu toilet.

Saat pertama kali datang ke apartemen ini, dia sempat merasa geli sendiri kenapa harus ada cermin di kamar mandi. Sekarang dia bersyukur karena cermin itu membuatnya bisa berkeluh kesah akibat perbuatan Fachmi tadi.

Tok tok tok.

Ketukan tiba-tiba di pintu kamar mandi membuat Kanza kaget hingga kepalanya terantuk cermin. Dia meringis, mundur beberapa langkah seraya menggosok keningnya.

"Hei, Nenek Sihir!"

Kanza menatap kesal pintu kamar mandi mendengar suara Fachmi.

Apa lagi yang diinginkan tunangannya yang mendadak jadi menyebalkan itu? Apa dia ingin mempermasalahkan ciuman tadi?

Wajah Kanza terasa panas karena pemikiran itu. Tadi dia memang kabur ke kamar mandi secara tiba-tiba begitu Fachmi melepaskan tautan bibir mereka dan dirinya berhasil menguasai diri kembali dari keterkejutan.

Tok tok tok.

Kali ini suara ketukan semakin keras dan menuntut.

"Nenek Sihir! Akan kudobrak pintunya jika belum kau buka dalam hitungan ketiga. Satu...dua..."

KLEK.

Kanza melotot seraya berkacak pinggang begitu pintu kamar mandi terbuka. Dia menatap garang ke arah Fachmi. "Tidak sopan sekali kau mengganggu-"

Farrel tidak ambil pusing perkataan Kanza. Dia bergegas melewati wanita itu bahkan sengaja menubrukkan bahunya ke salah satu lengan Kanza yang masih berkacak pinggang.

"Hei, kau sungguh-"

Kanza tidak sempat menyelesaikan ucapannya karena dia memekik seraya membalikkan tubuh lalu bergegas keluar kamar mandi dan tak lupa menutup pintunya rapat. Jantungnya berdegup kencang padahal tidak ada apapun yang sempat dia lihat.

Astaga, lelaki satu itu sepertinya tidak memiliki urat malu. Bagaimana bisa dia dengan santainya membuka bagian depan celana lalu buang air kecil sambil berdiri di depan kloset? Yah meski bagian belakang tubuh Fachmi masih tertutup, tetap saja perasaan malu mendera Kanza.

KLEK.

Kanza mundur beberapa langkah, kaget pintu kamar mandi mendadak terbuka kembali.

"Ah, leganya," desah Farrel, masih tanpa rasa bersalah. "Nenek Sihir, kalau kau mau membuat ramuan atau bertapa jangan di kamar mandi. Gara-gara kau, aku harus menahan buang air kecil. Kalau kantung kemihku pecah apa kau mau bertanggung jawab?"

Kanza melongo mendengar ucapan panjang Farrel. Kali ini bukan hanya wajahnya yang memerah melainkan telinganya juga. "Kau-di...di kamarmu kan juga ada kamar mandi," sembur Kanza dengan nada terbata.

"Jaraknya lebih dekat ke kamar mandi di sini dan aku sudah tidak sanggup menunggu lebih lama." Farrel tidak mau kalah. Dia memang sengaja memilih kamar mandi tempat Kanza bersembunyi untuk mengganggu wanita itu. Sungguh lucu melihatnya lari terbirit-birit setelah ciuman itu. Yah, tidak bisa dikatakan ciuman sih. Tapi kurang lebih sama.

Kanza kehilangan kata. Dia menghentakkan kaki kesal lalu berbalik menjauhi Farrel.

"Nenek sihir, buatkan aku puding seperti tadi!"

Kanza berbalik kembali menghadap Farrel seraya melotot. "Sebut namaku yang benar baru aku mau membuatkanmu makanan lagi. Jika tidak, silahkan masak sarapanmu sendiri besok." Setelahnya Kanza bergegas menuju kamar dengan hati dongkol.

Sampai di depan pintu yang menjadi kamar Kanza di apartemen itu, mendadak tangan lain mendahului memegang handle pintu lalu membukanya tanpa permisi. Kanza hanya bisa mematung menatap punggung Farrel yang sudah masuk ke kamarnya dan membuka-buka lemari.

"He-hei, apa yang kau lakukan?" Kanza bertanya bingung begitu kesadarannya kembali. Lama-lama dia bisa mati berdiri jika lebih sering melihat tingkah tak biasa Fachmi.

Farrel mengabaikan pertanyaan Kanza. Dia beralih menuju laci nakas setelah mengeluarkan beberapa pakaian dari lemari Kanza dan tidak menemukan yang ia cari.

"Fachmi!" seru Kanza seraya menarik lengan Farrel. "Apa yang kau cari?"

Farrel menatap jari lentik yang melingkari lengannya. Mendapat tatapan seperti itu membuat Kanza buru-buru melepaskan lengan Farrel. Dia menggigit bibir sambil menyembunyikan jemari di belakang tubuh.

Kini perhatian Farrel beralih ke bibir yang sedang digigit Kanza. Mendadak dia ingin melakukannya juga. Segera dia mengalihkan perhatian ke arah nakas sebelum menyerang wanita itu dan melakukan apa yang diinginkan nafsunya.

"Hmm," Kanza berdehem untuk menarik perhatian Farrel. "Kau belum menjawab pertanyaanku. Apa yang kau cari?"

"Mana KTP-mu?" tanya Farrel tanpa menatap Kanza.

Kening Kanza berkerut. "Untuk apa?"

Mendadak Farrel menoleh dan membalas tatapan Kanza. "Aku ingin tahu namamu."

Bibir Kanza terbuka. Kalau ini film kartun jepang pastilah sekarang Kanza jatuh terjengkang mendengar penuturan Farrel. "Kau benar-benar tidak tahu namaku?" nada tidak percaya terdengar jelas dalam suara Kanza.

"Bagaimana lagi aku harus menjelaskannya padamu?" Farrel pura-pura frustasi.

Kanza menunduk, menatap kakinya dengan perasaan dongkol. Kemudian dia kembali mendongak, membalas mata hitam Farrel dengan mata cokelatnya. "Namaku Chika Kanza." Entah Fachmi hanya ingin mengerjainya atau bagaimana, Kanza memilih mengalah agar ia tidak semakin dibuat kesal.

"Oh, Chika. Harusnya kau mengatakannya dari tadi." Farrel mengangguk-angguk.

Kanza sungguh terpana dengan kelakuan Farrel. Apa dia mengalami kecelakaan dalam perjalanan hingga benar-benar melupakan nama tunangannya?

"Kanza! Panggilanku Kanza!" Kanza berkata tegas.

Farrel mengangkat bahu tak peduli. "Mana KTP-mu?"

"Untuk apa lagi?"

"Aku masih perlu tahu usiamu, kota kelahiranmu, dan alamatmu sebelum tinggal di sini."

Sejenak Kanza memejamkan mata lalu membukanya kembali. "Aku enam tahun lebih muda darimu. Dan untuk dua hal lainnya yang ingin kau tahu, kurasa itu tidak penting."

"Berarti kau masih dua puluh satu tahun? Jadi kau tidak kuliah?"

"Seharusnya kau sudah tahu!" lama-lama Kanza jadi tidak sabar sendiri menghadapi Farrel. "Kau pasti mengalami kecelakaan dalam perjalanan hingga amnesia."

"Mungkin," sahut Farrel tak acuh. "Apa kau tidak mau memberitahuku tanggal dan bulan kelahiranmu?"

"Untuk apa?"

"Mungkin saja kau berharap hadiah dariku di hari ulang tahunmu."

Kanza memijit kepalanya. Dia tidak bisa menghadapi Fachmi yang berubah aneh ini lebih lama lagi. Sebaiknya Kanza tidur. Mungkin besok pagi ada keajaiban dan Fachmi berubah kembali menjadi pribadi yang Kanza kenal.

"Aku ingin tidur." Kanza berkata lemah seraya mendorong punggung Farrel agar keluar dari kamarnya.

"Buatkan aku susu hangat dulu."

"Buat sendiri."

"Kau kan tunanganku."

"Kau bahkan tidak ingat nama tunanganmu."

"Sekarang aku sudah ingat."

Kali ini Kanza tidak menyahut. Dia mendorong kuat-kuat punggung Farrel lalu segera menutup pintu kamar.

Desah lelah dari bibir Kanza terdengar saat menatap kekacauan yang telah dibuat Farrel. Segera ia merapikan kamar itu karena tidak akan bisa tidur dengan barang berserakan. Sekitar lima belas menit kemudian, wanita itu rebah di ranjang dengan pikiran tertuju pada tunangannya yang mendadak berubah aneh.

***

"Mana pakaianmu?!"

Bisa dibilang Kanza bertanya dengan nada histeris melihat Farrel dengan santainya masuk ke dapur bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana pendek, seolah mempertontonkan tubuh atletisnya. Ternyata pagi inipun sikap Farrel masih sama anehnya seperti semalam.

"Kau tidak lihat aku masih berkeringat?" balas Farrel acuh seraya membuka kulkas lalu mengambil sebotol air mineral, meneguk isinya langsung dari botol.

"Memangnya apa yang kau kerjakan sampai berkeringat begitu?" dengan malu Kanza melirik tubuh Farrel yang bisa membuat air liur menetes tanpa sadar.

"Menonton tv."

Kening Kanza berkerut dengan tatapan masih tertuju ke dada lebar Farrel yang sepertinya nyaman untuk bersandar. "Sejak kapan menonton tv bisa membuat berkeringat?"

Farrel berkacak pinggang sambil menahan senyum saat menyadari ke arah mana pandangan Kanza. "Terus bertanya dengan setengah melamun seperti itu dan biarkan masakanmu gosong hingga apartemen ini kebakaran."

Kanza buru-buru berbalik lalu memekik melihat kepulan asap di atas wajah yang hendak digunakannya untuk membuat nasi goreng. Segera dia mematikan nyala kompor lalu memegang dada karena jantungnya berpacu cepat akibat kejadian tak terduga tadi.

"Makanya, tidak perlu terpesona seperti itu. Kapanpun kau ingin melihat tubuhku, tinggal katakan saja."

Kembali Kanza memekik karena mendadak Farrel berbisik tepat di dekat telinganya. Dia berbalik tiba-tiba hingga punggung tangannya tanpa sengaja mengenai wajan yang masih mengepulkan asap.

"Aw!" Kanza meringis sambil meniup-niup punggung tangannya. Kali ini dia tidak memedulikan posisi tubuhnya yang nyaris saling berpelukan dengan Farrel.

Farrel berdecak melihat warna merah seperti terbakar di punggung tangan Kanza. Dia memegang bahu wanita itu lalu mendudukkannya di kursi depan meja dapur.

"Diam di sini!" perintah Farrel tegas lalu keluar dari dapur.

Kanza hendak memaki lelaki itu. Gara-gara dia tangan Kanza jadi terluka. Tapi beruntung Farrel segera pergi sebelum menerima semburan amarah Kanza.

Tidak sampai lima menit, Farrel kembali ke dapur dengan membawa pasta gigi. Tanpa kata dia berlutut di depan Kanza lalu mengoleskan pasta gigi berwarna putih ke punggung tangan Kanza yang memerah.

Rasa dingin dari pasta gigi bercampur hangat dari jemari Farrel membuat Kanza kaget lalu refleks menarik tangannya. Namun tangan Farrel yang lain segera mencengkeram pergelangan tangan Kanza agar tidak menjauh.

"Hmm, seharusnya kau tidak perlu repot-repot mengambil pasta gigi. Menggunakan mentega juga bisa." Kanza berusaha memecah keheningan yang tidak mengenakkan ini. Keheningan yang membuat suasana terasa lebih intim.

"Aku hanya tahu pasta gigi," sahut Farrel, dengan perhatian masih tertuju pada apa yang dikerjakan jemarinya.

Melihat kulitnya yang memerah sudah rata tertutup pasta gigi, segera Kanza menarik tangannya. "Kurasa sudah cukup, terima kasih." Dia hendak berdiri namun Farrel menghentikannya.

"Kau duduk saja. Biar aku yang membuat sarapan." Farrel berkata lembut, tak lupa dengan senyum tipis di bibirnya.

Sejenak Kanza tertegun. Apa Fachmi sudah kembali seperti semula? Meski kelakuannya bertelanjang dada tidak seperti Fachmi yang Kanza kenal, tapi sikapnya mulai familiar kembali.

Dengan tenang Farrel berdiri di depan kompor, memberi pemandangan punggung tegapnya yang menyempit di bagian pinggang. Otot-ototnya tampak bertonjolan tiap kali lelaki itu bergerak.

Kanza sama sekali tidak menyia-nyiakan rezeki tak terduga itu. Dia membenarkan posisi duduknya. Kedua siku ia letakkan di atas meja sementara dagu bertumpu pada punggung tangannya yang tidak terluka.

Kanza akui, meski Fachmi kadang dingin dan terasa jauh atau aneh seperti sebelumnya, fisik lelaki itu sungguh sempurna. Seolah Tuhan menciptakannya dengan penuh senyuman. Bahkan Kanza berani mengatakan bahwa dadanya bergetar ketika ditatap dengan dalam oleh mata hitam itu dan ketika mendapat sentuhan ringan sekalipun.

"Jangan terlalu mengagumiku. Bisa-bisa kau jatuh cinta setengah mati padaku." Farrel berkata tanpa membalikkan tubuh. Kedua tangannya masih tampak asyik berkutat dengan wajan untuk membuat telur mata sapi.

"Kau tunanganku. Itu hal wajar," sahut Kanza.

Farrel menoleh. "Baru tunangan. Bisa saja kita tidak sampai pelaminan." Kemudian ia kembali menghadap kompor.

Kening Kanza berkerut. "Kau berkata seolah mengharapkan kita tidak jadi menikah."

Farrel mengangkat bahu. Otot punggungnya tampak bergerak mengikuti gerakannya. "Aku hanya berpikir realistis. Apa yang kita harapkan dan rencanakan belum tentu bisa terwujud. Jadi sebaiknya kita bersiap sebelum terluka nanti dan malah tidak bisa bangkit." Kalimat ini Farrel ucapkan dengan serius. Dia tahu Kanza pasti akan terluka nantinya karena Farrel akan mengusahakan segala cara untuk memisahkan Kanza dan Fachmi.

Kanza mengangguk. "Kau benar. Manusia hanya bisa berencana dan berharap. Sementara hasil akhirnya berada di tangan-Nya."

Mendadak Farrel diliputi rasa bersalah ketika Tuhan diungkit dalam pembicaraan mereka. Akhirnya dia memilih tidak menanggapi ucapan Kanza dan segera menyelesaikan pekerjaannya.

Tak lama kemudian, sepiring nasi goreng dengan lauk telur mata sapi dan segelas jus jeruk sudah tersaji di depan Kanza. Kanza menelan ludah melihat makanan yang tampak lezat dan harumnya menguar memenuhi dapur.

Sebelumnya Fachmi juga pernah memasak untuk Kanza. Dan dia berani mengacungkan dua jempol untuk sajian, aroma, dan rasanya. Kanza bahkan merasa menikmati masakan hasil tangan koki ternama.

"Makanlah." perintah Farrel lembut.

Kanza mendongak menatap Farrel yang berdiri di sampingnya. "Kau tidak makan?"

"Tidak, aku masih kenyang."

Kanza masih hendak mengajukan pertanyaan ketika sebuah kecupan hangat mendarat di keningnya, membuat lidah Kanza kelu dan kehilangan kata-kata. Dia bahkan masih mematung seperti kehilangan jiwa beberapa menit setelah Farrel menghilang ke dalam kamar.

"Astaga, Kanza! Sadarlah!" Kanza menepuk-nepuk pipinya sendiri. Sungguh, keberadaan Fachmi berhasil menjungkir balikkan perasaannya.

Dia menggeleng pelan untuk menyadarkan otaknya yang mendadak beku. Setelah mengambil napas panjang, Kanza pun menyendok banyak-banyak nasi di piring lalu memakannya lahap, namun-

"Uhuk...hukk...hukk!"

Demi Tuhan! Rasanya seperti makan garam dengan bumbu nasi. Segera Kanza meraih jus jeruk lalu-

"Huaaaahhhhh...haaahh...hahh!"

Andai ini serial tv, pastilah saat ini mulut Kanza yang menganga lebar sedang mengeluarkan semburan api bak naga. Dia sampai tersedak dan hidungnya terasa panas ketika air jeruk yang terasa luar biasa pedas itu masuk ke saluran pernapasannya. Buru-buru Kanza menuju kulkas, mengambil air lalu meneguk isinya dengan rakus. Samar-samar ia mendengar tawa keras seseorang dari arah kamar.

"FAAACCHHMMIII!!!" teriak Kanza keras hingga benda-benda dalam dapur itu bergetar.

-----------------------

~~>> Aya Emily <<~~

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED