Bab 1

Tak lama setelah bunyi lolongan serigala dan suara burung hantu bergantian, terjadilah hal di luar dugaan. Malam yang tadinya benderang terlihat suram karena bulan bersembunyi di balik awan. Sesosok laki-laki nampak berjalan tergesa-gesa menuju satu rumah, kemudian mengetuk jendela sebuah kamar.

Mendengar ketukan di jendela kamar, Sulastri yang sedang berbaring di ranjangnya menoleh cepat. Dia berdiri dan menghampiri jendela, mencoba mencari tahu apa atau siapa yang menghasilkan suara ketukan tadi.

Sulastri membuka jendela kamarnya yang penuh dengan hiasan pengantin. Tak ada siapapun di luar, hanya kegelapan malam yang menyambut. Cahaya bulan yang temaram belum sepenuhnya menampakkan diri. Pohon pisang terlihat seperti hantu yang melambaikan tangan, Sulastri bergidik ngeri, cepat-cepat dia menutup kembali daun jendela kamar.

Melanjutkan aktifitas sebagai calon pengantin esok hari, hatinya penuh dengan debaran-debaran aneh yang baru sekali ini dirasakan. Kadangkala bibirnya tersenyum sendiri, saat teringat akan Firman sang kekasih.

Mencoba kembali kebaya putih, baju yang dijahit emak seminggu yang lalu, lengkap beserta kain yang sudah dilamban --dikasih lipit layaknya pengantin khas Priangan. Sulastri mematut diri di cermin mengagumi kecantikan diri sendiri dalam balutan busana itu, lalu tertawa kecil seraya menutup mulutnya.

Ketukan samar itu terdengar lagi, Sulastri menajamkan telinga. Tidak salah, memang ada ketukan lagi di jendela kamarnya. Sulastri mengangkat kain yang dipakainya untuk memudahkan berjalan, berjingkat-jingkat mendekati jendela.

"Lastri, Lastri."

Suara yang lebih mirip desahan terdengar lamat-lamat di telinga Sulastri. Sulastri kaget, itu seperti suara Firman, ada apa menemuinya? Bukankah di rumah sedang berlangsung hajatan untuk melepasnya jadi pengantin besok? Apakah ada sesuatu yang sifatnya darurat sehingga Firman menemuinya diam-diam? Pertanyaan-pertanyaan itu membuatnya membuka jendela.

Kegelapan yang menyambut membuat Sulastri mengerjap beberapa kali agar pandangannya bisa menerobos pekatnya malam. Rembulan separuh tertutup awan saat itu. Gadis montok itu tidak melihat siapapun. Keramaian di rumah yang sedang menyiapkan hajatan juga hanya diterangi lampu petromax, tak mampu menjangkau tempat jauh.

Eh tapi tunggu, ada sesosok tubuh berdiri di bawah pelepah daun pisang. Ia melambaikan tangan ke arah Sulastri. Sulastri seperti mendengar kembali panggilan itu. Seperti terhipnotis ia bermaksud menemui orang itu.

Dia lupa baju pengantin itu masih melekat di badannya. Dengan susah payah Sulastri berhasil keluar lewat jendela. Mengendap-endap berjalan menghindari pandangan orang-orang yang ramai di depan rumahnya.

Ketika Sulastri melihat wajah orang itu dari dekat, berhasil memastikan bahwa pria itu adalah Firman, kekasihnya sekaligus calon suaminya.

"Ada ap--"

Belum sempat Sulastri menyelesaikan ucapannya Firman menempelkan satu jari ke bibirnya. Meminta gadis itu untuk mengecilkan volume suaranya.

"Sttt, sini," ujar pria tersebut seraya menarik Sulastri dan membawanya ke balik rimbunan pepohonan.

"Ada apa, Kang? Kenapa malam-malam begini datang?" bisik Sulastri

"Akang tak sabar menunggu hari esok, makanya malam ini Akang menemui bidadari Akang," jawab Firman sambil mencolek dagu Sulastri.

"Ah, Akang," kata Sulastri sambil tersipu. Perempuan itu mencabuti rumput tempat mereka duduk sambil menunduk, merasa jengah dan malu karena pujian dari kekasihnya .

"Akang merasa beruntung memilikimu, rembulan saja tak berani menampakkan diri karena malu, kalah dengan kecantikan dirimu." Firman semakin berani, dia mulai melingkarkan tangannya ke pinggang Sulastri. Sulastri kaget karena sebelumnya Firman tak pernah berlaku kurang ajar.

"Kang ... jangan," Sulastri berbisik sambil menunduk.

Firman malah menengadahkan muka Sulastri agar menatap wajahnya. Sulastri kaget bukan kepalang, wajah yang didepannya ternyata bukan kekasihnya. Belum sempat menjerit satu tiupan sudah membuatnya terkulai tak berdaya.

Firman palsu menidurkan Sulastri diatas rerumputan. Raungan anjing hutan di kejauhan merobek kesunyian malam. Mengiringi sosok iblis yang melampiaskan hawa nafsunya.

Hawa dingin menusuk kulit menghujam tulang. Pria bejat itu mulai mengelus badan Sulastri, kemudian melucuti pakaian gadis itu. Calon pengantin itu hanya mampu melotot memandangi jemari kekar yang menjamah tubuhnya.

"Bagaimana, Manis, kamu suka?" tanya laki-laki itu di telinga Sulastri.

Dengan rakusnya lelaki itu mencumbui Sulastri. Gadis itu menggeliat, berusaha melepaskan diri dari cengkeraman iblis tersebut. Namun, tenaga lemahnya tidak cukup untuk mengenyahkan lelaki itu dari atas tubuhnya.

Sungguh biadab, menggagahi wanita yang tidak berdaya karena pengaruh ilmu hitam. Air mata menuruni wajah Sulastri.

"Tolong ...." Batinnya berkata karena mulutnya seolah-olah terkunci.

Setelah selesai dengan hasrat iblisnya, sebelum berlalu lelaki itu mendudukan Sulastri di batang pohon sawo di dekatnya. Baju pengantin itu kotor dan ternoda, lamban kain terlepas, rambut panjangnya sebagian menutupi wajah, sungguh mengenaskan.

*******

Di sisi desa yang lain, terlihat sekelompok pemuda bercanda-tawa sembari bermain kartu. Suguhan makanan dan kopi turut meramaikan suasana.

"Brrr ... dingin sekali malam ini, tak seperti biasanya," tutur seorang pria sambil memeluk tubuhnya sendiri. "Wisaka, nggak dingin kamu pakai kaus tipis begitu?" Dia menoleh kepada seorang pemuda dengan wajah cukup tampan.

Pemuda tersebut sedang menyeruput kopinya. Dia menurunkan gelasnya dan tersenyum. "Enggak, Kang Saep, biasa aja," jawabnya.

Kang Saep menggelengkan kepalanya. "Aneh banget kamu." Lalu, dia melirik pemuda lain yang duduk tak jauh dari pemuda bernama Wisaka itu. "Firman, kamu kedinginan nggak?"

Belum sempat Firman menjawab, Wisaka lebih dahulu berceletuk, "Dingin hari ini nggak masalah, yang penting mulai besok ada penghangat pribadi, kan?" godanya membuat para pemuda lain tertawa.

Firman mendengus, "Heh! Ngomong sembarangan, ya! Sulastri itu istriku, bukan penghangat pribadi!" balasnya seraya meninju ringan bahu sahabat kecilnya itu.

Wisaka tertawa, teman Firman sejak kecil itu manggut-manggut tanda setuju, kemudian dia menyeruput kopinya lagi. Wisaka, seorang pemuda kekar yang sekarang sedang mondok di pesantren, sengaja datang karena tahu sahabatnya mau menikah.

Firman menggeliatkan tubuh. Tanpa sengaja pria itu melihat satu sosok wanita di bawah pohon kersen samping rumah. Cahaya redup membuat mukanya tak jelas penampakannya, tapi dari bentuk tubuh sepertinya itu Sulastri. Ada apa Sulastri datang malam-malam, bukankah seharusnya tidak kemana-mana?

Firman pamit kepada temannya, lalu dengan menyelinap berhasil menemui Sulastri. Dituntunnya Sulastri agak menjauh dari keramaian. Alam yang masih banyak pepohonan memudahkan Firman terlindung dari pandangan orang-orang.

"Ada apa?" tanya Firman kepada calon istrinya sambil mengajaknya duduk di atas sebatang kayu yang hampir lapuk.

Sulastri tidak menjawab, malah melingkarkan tangan seolah memancing keintiman. Firman heran, mengapa sikap Sulastri malam ini berubah? Selama dua tahun berpacaran mereka tak pernah melakukan hal-hal yang tidak senonoh.

"Aku tak sabar menunggu besok, Kang," kata kekasihnya itu.

Firman memandang wajah ayu kekasihnya yang terkena pantulan cahaya bulan, hasrat kelelakiannya timbul, karena keagresifan Sulastri. Kewarasannya seolah hilang, dia membalas cumbuan wanita itu. Tangan Firman mulai bergerilya menggerayangi Sulastri.

Sampai akhirnya ... Firman merasakan sesuatu yang janggal, tidak ada hambatan saat melakukannya.

"Bukankah Sulastri sudah bersumpah, tidak akan ada lelaki yang menyentuh kecuali dirinya," batinnya.

Diamatinya wanita itu sekali lagi, detik itu juga Firman tersadar, orang yang digaulinya bukanlah Sulastri. Wanita itu lebih tua dari tunangannya.

Firman mencoba untuk melepaskan diri, tapi wanita itu begitu ganasnya menggumuli Firman, menyuguhkan surga kepadanya. Firman terlena, tak ingat lagi Sulastri, tak ingat lagi tentang perkawinannya besok, otaknya hanya ingin meraih kepuasan saat itu.

"Kakang ... Kang," wanita itu lirih bergumam.

"Ya," Firman menjawab sambil melanjutkan aksinya.

Saat kepuasan mencapai puncaknya, wanita itu menggigit leher Firman, sedikit-sedikit darah calon pengantin itu tersedot. Firman meronta-ronta, tapi pelukan wanita itu bagaikan belitan ular pada mangsanya. Firman merasakan kesakitan yang amat sangat, dia menjerit, badannya roboh sesaat setelah terlepas dari pelukan wanita laknat itu.

Wisaka berlari ke arah sumber suara. Begitu matanya menangkap pemandangan mengerikan di bawah pohon itu, langkahnya berhenti dan tubuhnya membeku.

"Fir ... man?" gumam Wisaka dengan nada tak percaya.

Jasad Firman tidak mengenakan busana. Tak hanya itu, kulitnya yang mengering dan berubah hitam legam layaknya seseorang yang terbakar membuat tubuh Wisaka bergetar hebat.

Dengan tenaga yang tersisa dalam tubuhnya, Wisaka melangkahkan kakinya mendekati tubuh sahabatnya. Dia mencoba menyentuh tubuh Firman, tapi tak berani. Alhasil, tangannya hanya mengambang di atas tubuh sahabatnya itu.

Tak lama, derap langkah kaki para pemuda lain terdengar mendekat. Begitu mereka melihat jasad Firman, mereka terkesiap.

"A ... apa ini?!"

Bab 2

Mulut mereka menganga tak percaya. Kejadian ini tak pernah ada di desa ini. Lalu, sebenarnya apa yang tengah terjadi?

Wisaka berdiri mematung, sementara semua kejadian berputar terus di otaknya seperti sebuah film. Wisaka masih berharap, hari kemarin bukanlah kali terakhir perjumpaannya dengan sahabatnya.

Terkenang kembali saat delman yang dia tumpangi bergerak di jalan berbatu. Kala seekor kuda jantan coklat dengan gagahnya berlari menembus kabut pagi. Wisaka pemuda berperawakan tinggi dengan rambut gondrong, badannya ikut terguncang - guncang di dalamnya.

Desa Keris nampak tenang dan damai. Kabut pagi menyelimuti kampung tersebut, meninggalkan hawa yang sangat dingin. Desa yang nyaman karena tergolong aman dari para perampok yang masih suka mengganggu di daerah lain.

Rumah-rumah panggung beratap daun rumbia berjauhan satu dengan yang lainnya, terhalang oleh kebun ataupun sawah. Satu dua orang penduduk nampak berjalan melintasi pematang sawah menuju jalan utama, memikul hasil kebun untuk dibawa ke pasar.

Bau mistik dan klenik masih suka menguar di malam-malam tertentu, dari pembakaran hio dan kemenyan. Penduduk percaya itu bisa mengusir siluman yang menyamar dan mengganggu mereka.

Kemenyan menjadi begitu penting dalam kehidupan sehari-hari. Benda itu masih digunakan untuk media pengobatan tradisional juga untuk ritual- ritual sebelum menanam dan memanen.

"Mang, Firman menikah dengan siapa?" tanya Wisaka kepada Mang Arman, kusir delman. Sambil matanya tak berpaling dari pemandangan sekitarnya.

Mang Arman menoleh sejenak ke arah Wisaka.

"Dengan Sulastri, Den, masih tetangga kan? Temen masa kecil kalian juga," jawab Mang Arman.

"Oh iya, Mang, aku ingat, yang badannya bongsor itu ya?"

"Iya, bener yang badannya semok itu," jawab Mang Arman sambil tertawa kecil.

Wisaka tersenyum. Pemuda itu teringat kenangan masa kecilnya bersama Firman, Umar, Dayat, Sulastri, Ningrum, Enok serta yang lainnya.

Masih jelas di benaknya, saat dulu mereka mencari ikan di sungai sambil telanjang.

"Lempar kesini tombaknya, Firman" seru Wisaka.

Firman melempar tombak bambu runcingnya. Wisaka menyambutnya, kemudian menancapkannya saat ikan lewat di sela-sela batu.

"Horeeee, dapat ... dapat," Wisaka berjingkrak-jingkrak. Begitupun Firman berjoget-joget kegirangan.

"Pendekar mabuk menangkap ikan!" seru Wisaka lagi, sambil berjalan sempoyongan.

"Ahaha ... hahaha." Firman tertawa terbahak-bahak sambil menunjuk Wisaka yang bertingkah konyol.

"Wisaka jadi pendekar, hidup ... hidup!" seru Umar sambil meninju udara ke atas.

"Pendekar mabuk cinta, haha ...." Wisaka tergelak.

'Ahh, indahnya,' batin Wisaka. Senang dan sedih sekaligus di waktu bersamaan, membuat Wisaka tersenyum getir.

Senang kala dia dapat bertemu kawan lama dan berencana mengantarkannya ke kursi kebahagiaan. Namun, sedih kala momen bahagia itu berbingkai duka. Kini Wisaka harus mengantar Firman ke pembaringannya yang abadi.

Berputar lagi episode terakhir di benaknya, saat baru tiba di desa. Secepatnya dia menemui Firman, tidak memperdulikan ibunya yang berteriak-teriak karena masih kangen. Bertemu dengan Firman adalah prioritasnya saat itu.

"Wisaka, apa kabar?!" Firman berteriak begitu melihat kemunculan Wisaka.

Saat itu dia tersenyum lebar seraya merentangkan kedua tangannya.

"Baik ... baik, apa kabar juga nih calon pengantin?" tanya Wisaka sambil memeluk Firman dengan erat.

"Baik ... hahaha." Firman tergelak digoda Wisaka.

Wisaka menghela napas panjang. Seharusnya masih banyak cerita yang ingin didengar dari Firman. Seharusnya besok dia melihat kawan karibnya itu bersanding di pelaminan.

Begitu banyak kata 'seharusnya' yang lain kalau maut ini tidak begitu kejam memisahkan mereka. Badan Wisaka luruh ke tanah melihat pemandangan di depan matanya. Dia menggeleng kuat-kuat.

Wisaka memandang hampa mayat sahabatnya itu. Shock luar biasa dengan kejadian tersebut. Kematian yang tidak pernah terduga. Pemuda itu mengerti kalau semua makhluk akan mati, tetapi dengan cara seperti ini, hati siapa pun tidak akan bisa terima.

Semalam Firman masih tertawa bersama saat warga menggoda, sekarang sudah terbujur kaku menjadi mayat. Gosong menghitam dan kering tanpa tersisa darah dalam tubuhnya.

Wisaka bergidik ngeri membayangkan makhluk yang menyedot darah Firman. Kalau manusia tentu mempunyai taring yang begitu tajam. Seandainya binatang, mengapa harus menelanjanginya? Banyak pertanyaan muncul di benak Wisaka.

"Ayo ... ayo, kita bawa ke rumah jasad ini, kita jangan terbengong di sini!" seru Kang Saep, membuyarkan lamunan Wisaka.

"Ayo, siapa tahu mahluk jahanamnya masih di sini dan bisa menyerang kita juga," kata yang lain menimpali.

"Wisaka, jangan bengong aja, ayo!" ajak Kang Saep.

"Iy -- iyy-- iya, Kang," kata Wisaka gugup. Tersadar dari lamunannya tentang almarhum Firman.

Sebagian warga menebang pohon bambu untuk menggotong jasad Firman. Sarung salah satu penduduk direlakan untuk itu. Mereka memasukkan mayat ke dalamnya, kemudian menggotongnya menuju kampung.

Teriakan histeris menggema saat mayat dibaringkan di ruangan. Ibunya Firman memeluk anaknya yang terbujur kaku dengan badan mengkerut hitam.

"Anakku ... Gusti ... ada apa ini?" tanyanya kepada orang-orang yang mengantarkan mayat anaknya.

"Seseorang telah menyerangnya di hutan, Ceu," jawab Kang Saep.

"Terus pernikahannya bagaimana ini?!" Ibunya Firman menangis sesenggukan, diguncang-guncangkan tubuh anaknya.

"Sudah, Ceu, kasihan almarhum," cegah Kang Saep.

"Bagaimana dengan Sulastri? Pasti sedih dengan kejadian ini," imbuh wanita setengah baya itu.

Semua terdiam. Membayangkan keluarga Sulastri yang pastinya akan histeris pula begitu mendengar berita ini. Namun, lebih cepat memberi kabar akan lebih baik. Kejadian ini harus secepatnya sampai ke telinga calon besan.

Akhirnya diputuskan seseorang harus pergi ke rumah Sulastri. Kang Saep ditemani Wisaka, walau bingung cara menyampaikannya, Kang Saep tak urung sampai juga. Hari sudah dini hari kala itu.

"Ceu ... Ceu, buka pintunya," kata Kang Saep sambil mengetuk pintu.

Lama tak ada jawaban, maklum orang-orang baru saja terlelap. Kang Saep mengetuk lagi pintu, kali ini cukup keras.

Seseorang membuka pintu, merasa heran, ada apa, saudaranya Firman datang dini hari?

"Ada apa, Kang."

"Sulastri mana?"

"Ada di kamarnya, ada apa sih? Bikin kaget aja, sebentar aku panggil."

Kang Saep menunggu dengan gelisah, masih bingung harus bagaimana menyampaikan kabar duka ini kepada Sulastri. Sulastri pasti kaget dan tidak menerima kenyataan, kalau calon suaminya sudah menjadi mayat.

Salah satu keluarga Sulastri yang penasaran mendekati Wisaka. Ia bertanya ada apa sesungguhnya? Wisaka bingung harus menjawab bagaimana. Dia tidak menemukan kata yang tepat di pikirannya.

"Anu ... an--"

"Anu apa?" Keluarga Sulastri memotong jawaban Wisaka.

"Emmh ...." Wisaka masih mencari istilah yang tepat untuk menyampaikan kabar duka ini. Tiba-tiba dari dalam rumah terdengar jeritan. Sontak semua berlari ke dalam rumah.

"Ada apa ini, ada apa ini?"

Bab 3

Bab 3

PEMAKAMAN PENGANTIN

Teriakan dari arah kamar Sulastri membuat orang-orang bangun, begitu pula dengan Kang Saep yang berada di luar segera masuk, ingin segera tahu apa yang terjadi.

"Sulastri hilang, dia tidak berada di kamarnya!"

Orang-orang sibuk mencari Sulastri ke sana-sini. Menyisir semak-semak sekitar rumah. Nihil, karena malam yang masih gelap.

"Bawa obor ke sini!" Salah seorang warga berteriak.

Terlihat samar-samar ada sosok putih di kejauhan, semua warga menuju ke sana. Dengan penuh kewaspadaan mereka mendekati sosok tersebut.

"Ya Allah Gusti, Sulastri!"

Hampir berbarengan para perempuan yang ikut mencari berteriak. Ternyata sosok putih itu itu adalah Sulastri yang duduk dengan baju acak-acakan dan keadaan jiwa yang memilukan.

Sulastri memandang kosong ke depan mukanya tanpa ekspresi, seperti orang yang shock berat. Bagaikan baru melihat makhluk mengerikan. Keadaan Sulastri yang memakai baju acak-acakan, menjadikan ibu-ibu berbisik-bisik. Apalagi setelah melihat bercak darah di kain yang seharusnya dipakai Sulastri besok pagi buat akad nikah.

Mereka menduga-duga kalau Sulastri ada yang memperkosanya. Tapi siapa? Seumur-umur hidup di desa yang tentram ini, tidak pernah ada kejahatan apa pun, apalagi sekelas perkosaan seperti ini.

Krossakk ....

Tiba-tiba terdengar bunyi daun kering yang terinjak sesuatu. Cepat-cepat salah satu penduduk mengarahkan obor, ternyata seekor ular yang merasa terganggu, melarikan diri karena merasa terancam.

"Ahh ... hanya ular, biarkan ia pergi, kita harus secepatnya membawa Sulastri ke rumahnya, biar Pak Ustadz kasih air adem," kata salah satu penduduk. Mereka memang sudah biasa minta air kepada ustadz atau Kyai kalau ada yang sakit atau kemasukan roh jahat. Mereka percaya doa mereka masih manjur mengobati penyakit.

Sulastri dibawa ke rumah. Dia tidak bisa ditanya, membisu dan hanya memandang kosong. Begitu juga setelah dikasih air doa, Sulastri seperti kehilangan jiwanya.

Sementara di rumah Firman, keramaian semula hajat pernikahan, sekarang berubah menjadi keramaian karena kematian. Orang tua Firman menangis, apalagi ibunya Firman. Saat pemakaman wanita tua itu menjerit histeris lalu pingsan.

Mayat Firman yang telanjang memunculkan spekulasi tersendiri di antara penduduk, apalagi di kalangan para bujangan teman Firman.

"Betulkah ada cairan sperma di mayat almarhum?" tanya Dayat kepada Wisaka, suaranya berbisik hampir tak terdengar.

"Sstttt ... diamlah," jawab Wisaka sembari meletakkan telunjuk di bibirnya.

"Itu berarti sebelum kematiannya, dia berhubungan badan dengan mahluk tersebut," kata Dayat lagi masih saja ngeyel.

"Diam ... diam!" Wisaka berkata tegas.

"Sungguh tak etis membicarakan keburukan almarhum saat liang lahatnya tengah digali. Memang banyak kejanggalan atas kematiannya, tapi untuk tidak menyakiti perasaan keluarga yang ditinggalkannya, lebih baik jangan bertanya apa pun di sini, paham kan," lanjut Wisaka pelan.

Dayat menganggukkan kepalanya, walau rasa penasaran masih menggelayuti hatinya. Penasaran apakah benar ada cairan sperma di jenazah Firman? Berarti dia sempat berhubungan badan dengan pembunuh sadis itu. Apakah dia seorang perempuan?

Pertanyaan-pertanyaan yang sama sebenarnya juga memenuhi benak masyarakat. Tapi demi menghormati keluarga mereka diam dan membantu persiapan penguburan. Sore hari barulah semua proses pemakaman selesai.

Namun, desas-desus di masyarakat tidak selesai dengan terpendamnya jasad Firman ke dalam tanah. Berbagai rekaan cerita bermunculan. Semua tidak ada yang yakin dengan ceritanya sendiri, hanya menduga-duga serta merunut kejadian dan menyambungkannya.

Sulastri juga sejak mengalami kejadian tersebut, tak dapat lagi berbicara seperti biasanya. Duduk diam termangu dengan tatapan mata yang kosong. Keluarganya begitu terpukul dengan keadaan Sulastri, mereka memantau perkembangan Sulastri, takutnya Sulastri hamil karena perbuatan mahluk tersebut.

"Sulastri, sadar ... Emak gak ada teman ngobrol kalau kamu diem saja." Emak Lastri meratap sambil mengusap rambut anaknya.

Air matanya jatuh berderai, hatinya hancur. Wanita itu begitu dendamnya kepada orang yang telah menodai anaknya.

"Akan kucari kamu, Iblis laknat! Akan kucari!" teriaknya seraya menangis sambil memukul-mukul betisnya sendiri.

"Sabar, Ceu ... sabar."

Tak urung para tamu berlinang air mata juga. Walaupun berusaha untuk menyabarkan.

*******

Seiring perjalanan waktu, kejadian tersebut mulai dilupakan warga, apalagi sudah ada lagi pernikahan-pernikahan selanjut yang dilaksanakan di kampung tersebut. Ternyata tidak terjadi apa-apa.

Walau pernikahan mereka penuh kegelapan di malam harinya karena cahaya bulan belum nampak di tanggal-tanggal awal. Masyarakat begitu waspada menjaga kedua pengantin takut kejadian seperti Firman dan Sulastri terulang kembali.

Pertengahan bulan ke-satu penanggalan Jawa, pesta pernikahan Dayat dan Enok akan dilangsungkan. Berbagai persiapan sudah nampak. Hiasan janur yang dirangkai sudah menghiasi rumah Enok sebagai tempat dilaksanakannya akad nikah esok hari.

Bau masakan sudah menguar dari dapur saat tetangga yang datang membantu memasak daging yang sudah dipotong para lelaki tadi.

Rasanya tak sabar bagi Enok menunggu hari esok. Ia gelisah di kamarnya. Susah sekali memejamkan mata agar terlelap, menghadap kanan masih melek, menghadap kiri masih juga melotot. Akhirnya ia merasa ingin buang air kecil.

Dengan berjingkat-jingkat takut mengganggu orang-orang, Enok pergi menuju kamar mandi yang terletak di luar ruangan.

"Mau kemana?" suara Diah temannya mengagetkannya.

"Ish ngagetin aja, kebelet nih, mau pipis," jawab Enok.

"Mau diantar?" tanya Diah lagi.

"Gak usah, terang bulan ini," kata Enok sambil berlalu.

"Jangan lupa, cuci yang bersih!" kata Diah sambil cekikikan.

Enok bergegas pergi ke jamban, setelah menuntaskan hajatnya dia cepat-cepat masuk rumah kembali.

"Enok ...."

Satu suara berhasil memalingkan wajahnya. Dia kaget mengapa Dayat ada di samping rumahnya. Enok beranjak menemuinya.

"Kang ... ," kata Enok pelan.

"Sssst ... sini!" ajak Dayat sambil melambaikan tangan.

"Ada apa?" tanya Enok.

Dayat tidak menjawab malah menuntun Enok menjauhi rumah.

"Mau ke mana, Kang?" Enok bertanya lagi.

"Kita duduk di sana," kata Dayat menunjuk hamparan batu tak jauh dari rumah Enok, tampak redup karena terlindungi pohon.

Mereka pun duduk bersebelahan, Dayat melingkarkan tangannya di pundak Enok, sementara tangan yang lain menggenggam tangannya. Enok merasakan debaran-debaran yang memabukkan. Rembulan yang bersinar sempurna menambah indah suasana.

Dayat semakin berani melakukan aksi yang lain, yang membuat mereka lupa diri. Dayat merebahkan Enok di batu, tapi wanita calon pengantin itu segera tersadar dengan apa yang mereka lakukan.

"Kang, sabar besok kan kita menikah," kata Enok bermaksud meredam nafsu Dayat.

Laki-laki itu tidak menjawab, dia malah mendekatkan wajahnya ke wajah calon istrinya itu, seketika Enok tersadar, laki-laki itu bukanlah calon suaminya, ingin menjerit tapi satu tiupan dari mulut laki-laki itu membuatnya kehilangan suara dan kekuatannya.

Dengan hati-hati, dibaringkan tubuh wanita malang tersebut. Dibukanya kancing-kancing baju Enok, sehingga pemandangan di depan laki-laki itu semakin membuat nafsunya naik ke ubun-ubun. Lelaki itu mulai menjamah wanita yang kini sudah menjadi miliknya, tanpa menghiraukan air mata yang berderai.

"Sayang, kau akan menjadi pengantinku malam ini," bisiknya. Lidahnya yang sekilas terkena cahaya bulan, ternyata bercabang, mulai menjilati leher wanita yang disebut pengantinnya.

Dayat samaran itu melampiaskan hasratnya kepada wanita yang sudah tidak berdaya. Dia sangat menikmati setiap inci tubuh perawan desa itu. Seperti seorang pengembara, yang kehausan dan menemukan mata air.

Enok yang tidak dapat berbicara lagi, sekilas tercium olehnya bau tak sedap dari badan Dayat palsu, seperti bau amis. Dalam ketidak-berdayaan tersebut, Enok masih bisa merasakan sensasi yang ditimbulkan oleh mahluk tersebut.

Mahluk itu terlalu pintar mempermainkan tubuh Enok, sehingga Enok melupakan sejenak dengan keadaan dirinya. Lupa orang tersebut bukanlah pacarnya. Di antara rasa yang belum pernah dialaminya, Enok ingin menjerit tapi tak berdaya.

Sesaat semua terjadi dan merenggut apa yang selama ini dipertahankan Enok. Semuanya terenggut beserta jiwanya yang ikut terguncang. Walaupun berusaha mengumpulkan seluruh ingatannya, tetap saja seperti ada kabut di dalam memori otaknya.

Manusia bejat itu menyeringai penuh kepuasan, kemudian mulai menjilati lagi leher Enok yang pingsan.

"Aku beri engkau pengalaman tak terlupakan, Sayang," desisnya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab

IPRIT

Bab 1
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED