Bab 1

"Nadia, Arman, bagaimana kalau kalian menikah?” pinta ibu mertuaku nampak penuh harap, tepat di hari masa iddahku selesai.

Sesaat aku terpaku dengan pertanyaan yang tidak pernah kusangka-sangka itu. Menikah dengan adik suamiku yang dingin bagai es batu? Oh, yang benar saja. Bahkan sudah hampir empat tahun kami tinggal seatap di rumah Mama, namun bisa dihitung dengan jari kami saling berbicara. Entah, apa salah dan dosaku padanya. Tiap kali bicara padaku, nadanya selalu ketus, raut wajahnya pun tak pernah ramah. Ya, seperti tadi, saat ia menjemputku di makam Mas Arya.

Kupikir kedatangannya laksana pahlawan yang tiba-tiba muncul melindungiku dan Rania dari derasnya air hujan, namun setelah ia bersuara, anggapan itu berubah seketika.

“Sudah kubilang kan, jangan pergi sebelum aku datang!” ujarnya sambil menyerahkan salah satu payung yang digenggam, lalu mengambil alih Rania dari gendonganku.

“Sudah kubilang juga kan, tidak perlu menjemputku, aku bisa kok pergi sendiri!” balasku tak kalah ketusnya. Memang, hanya dia saja yang bisa marah, aku pun bisa!

“Kalau Rania sakit bagaimana? Ceroboh!” 

Aku tahu maksudnya baik, tapi, lancang sekali ia bicara kasar padaku, mantan kakak iparnya.

“Mama ada-ada saja." Aku mencoba mencairkan suasana beku diantara kami bertiga dengan tawa kecil. "Nadia belum kepikiran, Ma, soal menikah lagi.”

Mama lantas menggeser posisi duduknya mendekatiku. “Kamu masih muda, Nadia,” katanya sambil mengusap-usap punggungku. “Sah-sah saja mempunyai pendamping hidup lagi.”

“Kamu dan Arman, kan, sudah mengenal lama, keluarga kita juga sudah dekat,” sambung Mama lagi.

“Tapi Ma, bukannya Arman juga sudah ada calon-”

“Ah, soal itu bisa dibicarakan,” sambar Mama. “Toh, Arman juga belum melamar Sheila. Sudah, tak perlu dijawab sekarang. Tapi paling tidak, kamu dan Arman pertimbangkan permintaan Mama ini, ya.”

Mama beranjak, kemudian memanggil Rania yang masih asik bermain dengan Bi Inah di dekat kolam ikan.

☕☕☕

Di mobil, saat perjalanan pulang, aku menanti-nanti reaksi Arman, tetapi tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya.

Aku melihat ke arah Arman yang masih fokus menyetir, menerka-nerka apa yang kira-kira ada dalam pikirannya. Aku tahu Arman selalu sulit menolak permintaan Mama. Dulu, ia pernah dapat promosi naik jabatan dari kantor, dengan syarat harus pindah ke kantor pusat di Jakarta. Akan tetapi, karena permintaan Mama, ia tidak mengambil kesempatan itu. Mama berat melepas Arman. Kata Mama, beliau akan kesepian. Apalagi jika nanti aku dan Mas Arya sudah pindah ke rumah sendiri.

Bahkan, saat Mama menjodohkannya dengan Sheila, rekan kerja yang juga merupakan anak dari teman lama Mama, ia pun tak menolak. Lalu sekarang, Mama mau membatalkan perjodohan itu begitu saja? Ah, kasihan sekali Arman.

“Man ....” Tak sabar, aku mencoba membuka obrolan. “Nanti kita cari cara, ya, supaya kamu tetep bisa nikah sama Sheila,” kataku seolah memahami kegundahan hatinya.

“Siapa yang mau nikah sama Sheila? Sok tau!” Ia malah menjawab ketus. Rasanya ingin kujitak kepalanya dengan ponsel yang kugenggam, tapi, ah sayang ponselnya.

“Ish, mau dibantuin juga!” gumamku. Setelah itu aku memilih diam tak melanjutkan obrolan, takut sakit hati dengan jawabannya. Lantas, hening menemani perjalanan kami sampai ke rumah.

Rania tertidur ketika kami tiba di rumah. Arman menggendongnya turun dari mobil dan membaringkannya di sofa ruang tamu, kemudian pamit pulang.

Aku merebahkan tubuh di sofa, melepaskan jilbab dan meletakkan sekenanya di atas meja. Kupandangi Rania yang tidur nyenyak. Masih tak menyangka, ia akan kehilangan papanya di usia sekecil ini. Aku tahu rasanya menjadi yatim. Ayahku - kakeknya Rania - meninggal dunia saat aku SMP kelas dua. Setelah itu Ibu bekerja membanting tulang demi memenuhi kebutuhan kami. Membuat kue dan menitipkannya di warung tetangga, termasuk ke kantin sekolahku. Ibu juga membuka usaha jahit kecil-kecilan. Ibu ingin, aku, anak satu-satunya, bisa menjadi sarjana.

Tiga bulan setelah aku menikah, saat mengandung Rania, Ibu pergi menyusul Ayah. Akan tetapi aku bersyukur, wanita yang sangat kucintai itu, masih bisa melihatku wisuda, menikah, bahkan masih sempat mengelus-elus calon cucunya di perutku.

Ditinggal Mas Arya merupakan kehilangan terberat yang kurasakan karena semua berlangsung secara tiba-tiba. Ayah dan Ibu sakit cukup lama sebelum meninggal, sehingga aku sedikit banyak sudah menyiapkan hati untuk kehilangan. Sementara Mas Arya, pagi hari masih terlihat sehat dan ceria seperti biasa. Tak ada sama sekali pertanda. Setelah sarapan nasi goreng buatanku, ia pamit berangkat kantor. Ia hanya bilang, hari itu tak akan pulang ke rumah karena ada keperluan dinas di luar kota. Mas Arya mencium keningku dan bercanda sebentar dengan Rania sebelum pergi. Sore harinya aku mendengar kabar Mas Arya kecelakaan.

Arman ada di samping Mas Arya ketika aku, Mama, dan Rania, tiba di ICU rumah sakit diantar tetangga sebelah rumah. Kulihat Arman membisik-bisikkan sesuatu di telinga Mas Arya sambil menggenggam sebelah tangannya.

Mas Arya membuka mata beberapa saat setelah aku menangis sambil memanggil-manggil namanya kemudian menghembuskan napas terakhirnya. Mataku kembali basah mengingat itu semua.

“Move on, Nadia, move on!” Aku menyemangati diriku sendiri.

Tiba-tiba, notifikasi pesan Whatsapp di ponselku berbunyi. Rupanya pesan dari Erna, sahabatku semenjak SMA, yang masuk.

“Hey ada lowker yang cocok nih buat kamu.”

Ia mengirimkan sebuah link. Beberapa waktu lalu aku memang meminta Erna untuk mencerikan pekerjaan yang cocok buatku. Aku membaca dalam hati informasi dari link yang diberikan Erna.

Walk in Interview. Kafe Mentari membutuhkan marketing communication. Syarat, laki-laki atau perempuan, menguasai sosial media, punya pengalaman minimal setahun di bidang markom, belum menikah.

Aku berhenti membaca sampai di situ. Lalu membalas pesan Erna.

"Apaan cocok? Di persayaratan keempat aku auto gugur.”

“Lho, kan, kamu emang belum menikah. Belum menikah lagi :D :D :D”

“Sialan!”

“Tahu nggak, kafe itu punya siapa?”

“Punya siapa? Punya bapakmu?”

“Aaamiin Ya Allah. Punyanya Galang tauk!”

“Galang siapa? Galang penjual gado-gado depan rumah kamu itu?”

“Yeee, itu, mah, Tarjo. Galang. Galang artis itu, lho, yang main sinetron Aroma Cinta.”

“Ah, nggak kenal.”

“Makanya sesekali nonton inpotainment kek, lambe murah kek, biar nggak kudet. Masih punya fotokopian KTP kamu yang lama?”

“Masih. Kenapa?”

-Bersambung-

Bab 2

Aku tiba di mall pukul sepuluh pagi. Tepat ketika pintu mall dibuka aku masuk. Mungkin hari ini aku adalah pengunjung pertama mereka.

Secepat kilat aku masuk ke toko sepatu. Siang ini aku harus datang ke wawancara kerja, dan baru semalam tau kalau sepatu pantofelku yang sudah lama menganggur dan kusimpan rapi dalam dus, sudah tidak layak pakai lagi, bagian kulitnya banyak yang mengelupas.

Aku nekat juga melamar lowongan kerja yang diinfo Erna kemarin dengan menggunakan fotokopian KTP lamaku saat masih lajang.

“Kalau nanti kamu keterima kerja, tunggu beberapa saat sampai mereka tau kamu karyawan yang bisa diandalkan, saat itulah kamu bisa jujur dengan statusmu.” Begitu saran Erna kemarin melalui pesan whats app.

Awalnya aku enggan. Aku orang yang paling tidak bisa berbohong, tapi penasaran juga sih, setelah empat tahunan tidak bekerja kantoran, bisa tidak ya kira-kira aku lolos tes wawancara kerja.  Disamping yaah butuh duitnya juga. Mau sampai kapan hanya hidup mengandalkan uang santunan kematian Mas Arya? Rania semakin besar, akan masuk sekolah, biaya yang dibutuhkan juga pasti semakin banyak. Akupun merasa tak nyaman jika terus menerus menerima pemberian dari Arman.

Setelah mendapatkan sepatu yang cocok, aku bergegas keluar mall. Ternyata hujan. Deras lagi. Pantasan, berulangkali mencoba order taksi online dari sebelum keluar mall tadi, tak ada yang nyangkut.

Aku mengedarkan pandangan ke sekitar, siapa tau saja ada taksi lewat.

Ah itu dia, sebuah taksi berwana biru melaju. Di bagian atasnya lampu menyala, tanda taksi itu tak berpenumpang.  Aku melambaikan tangan dan bergegas membuka pintu ketika taksi berhenti tepat di depanku. Tapi di saat bersamaan, seorang lelaki mengenakan jas casual dan bertopi hitam masuk dari sisi pintu yang lainnya.

“Lho?”

“Ehm, maaf, saya yang memberhentikan taksi ini.” Aku mencoba bicara sesopan mungkin, menyembunyikan rasa kesalku.

“Saya juga.” Si lelaki bertopi menjawab ketus, duduk dan menutup pintu taksi.

“Jalan Pak,” katanya lagi tanpa sedikitpun memperhatikanku yang masih terbengong-bengong dengan separo badan masuk ke dalam taksi.

“Eh tunggu-tunggu enak aja.” Aku mulai hilang kesabaran. Tapi rasanya sia-sia bicara sama laki-laki tak punya sopan santun ini.

“Pak, saya tanya, siapa yang memberhentikan taksi ini?” Aku memilih langsung bertanya pada sopir taksi.

“Aduuh kalian ini bikin ribut di taksi saya. Sebenarnya kalian mau ke mana sih?”

“Kota Lama,” jawabku dan si lelaki bertopi hampir berbarengan. Sedikit terkejut aku menoleh ke arahnya. 

“Oalah, tujuan kalian sama to. Ya sudah bareng aja. Hujan-hujan gini susah dapat taksi. Ayo mbak masuk, tutup pintunya.”

Aku tidak punya pilihan lain. Daripada telat wawancara, biarlah satu taksi dengan orang asing menyebalkan ini. Toh, Kota Lama tidak terlalu jauh dari sini, jadi hanya sebentar aku duduk bersebelahan dengannya.

“Mbaknya mau ke mana?” tanya Pak Sopir memecah keheningan kami di dalam taksi.

“Kafe Mentari Pak.”

“Lho kafenya kan, belum buka Mbak!”

“Iya saya ada tes wawancara kerja di sana.”

“Oh, gitu. Moga sukses ya Mbak, tesnya.”

“Hehe, makasih Pak.”

“Kalo masnya mau ke mana?”

“Kafe Mentari." Jawaban dingin si lelaki bertopi sontak membuatku kaget. Sementara ia hanya menunduk, tetap asik dengan ponsel di tangannya.

“Lho, sama lagi. Wawancara juga?” tanya si Bapak.

Lelaki bertopi tidak menjawab. Diam-diam aku mengamatinya, penasaran juga apa benar dia mau melamar kerja di tempat yang sama? Sebagai apa? Tempo hari aku lihat ada beberapa lowongan kerja lagi di Kafe Mentari selain sebagai Markom. Waduh gawat, aku bisa punya rekan kerja semenyebalkan dia. Ah, tapi belum tentu kan, dia diterima. Ya aku juga belum tentu keterima, sih.

“Sepertinya, kalian memang berjodoh hahahaha,” tawa Pak sopir membuyarkan lamunanku. Kesal.

Tak lama kemudian, taksi menepi di depan Kafe Mentari. Aku mengulurkan uang seratus ribuan pada Pak Sopir.

“Mbak, uang pas aja ada? Dua puluh delapan ribu, saya baru narik nih, nggak punya kembalian.”

“Eh? Aduh ngga ada Pak.” Hanya tinggal selembar itu uang di dompetku. Ada sih beberapa lembar lagi uang dua ribuan. Tapi tak cukup buat membayar senilai argo taksi.

“Ini saja Pak. ” Si lelaki bertopi meletakkan selembar uang ke tangan Pak sopir.

“Yah, sama aja, seratus ribu juga. Kan saya bilang nggak ada kembalian.” Kata Pak Sopir begitu melihat nominal uang yang ada di tangannya.

“Kembaliannya buat Bapak.” Si lelaki bertopi menjawab seraya berjalan masuk ke dalam kafe.

Aku terperangah, rasanya apa yang barusan dia lakukan, mencabik-cabik harga diriku.

“Wah makasih mas,” kata Pak Sopir setengah berteriak.

Sebelum berlalu pergi, Pak Sopir mengucapkan terimakasih juga padaku dan mendoakan agar tes wawancara kerjaku lancar.

Aku tersenyum kikuk. Kumasukkan kembali uang seratus ribuan ke dalam tas sambil bersungut-sungut dalam hati.

Sialan, baru juga mau melamar kerja, udah songong kek gitu.

Di dalam kafe suasana sudah cukup ramai. Usai mengisi daftar hadir, aku bergabung dengan para pelamar kerja yang lain. Beberapa orang kuajak ngobrol basa-basi. Eh, tapi ke mana si lelaki bertopi mengapa dia tak kelihatan ya? Hmm mungkin sedang ke toilet atau ... Ah bodo amat, kenapa jadi mencari dia sih.

Satu jam berlalu. Aku menunggu panggilan wawancara dengan gelisah. Memikirkan Rania yang kutitipkan di TK tempat Erna mengajar. Duh, kira-kira Rania rewel tidak ya?

“Nadia Putri Wijaya. ”

Ah namaku dipanggil, akhirnya .... 

Aku masuk ke sebuah ruangan, ada dua orang lelaki yang sudah duduk di sana. Satu orang lelaki berpakaian rapi, dengan kemeja lengan panjang biru navy yang dipadukan dengan celana kain casual berwarna hitam. Kutebak, usianya sekitar 35 tahunan. Lalu satunya lagi ...

Lelaki bertopi? Lho kapan dia masuk ke sini? Dia masih diwawancara? Tapi, kenapa aku sudah dipanggil?

“Selamat siang, Pak.” Aku tersenyum ramah sambil sedikit menundukkan kepala pada si lelaki berkemeja navy.

“Oh selamat siang, silakan duduk.” Lelaki berkemeja hitam menunjuk kursi yang ada di depan mejanya.

“Nadia Putri Wijaya.” Ia menyebut namaku 

“Iya, Pak.”

“Sebelumnya perkenalkan, saya Wira, manajer dari Kafe Mentari.” Pak Wira tersenyum ramah.

“Lalu ini ... .”

Eh, si lelaki bertopi?

“Ini Galang, pemilik Kafe Mentari.”

Bab 3

“Ini Galang, pemilik Kafe Mentari.”

“Ha?”

Jadi orang yang berseteru denganku di taksi tadi bosku? Aktor papan atas yang disebutkan Erna kemarin?

Aku bengong sesaat, tapi berusaha bersikap sewajar mungkin. 

“Oh iya iyaaa Pak Galang, halo. " Kupaksakan diri untuk tersenyum padahal sebenarnya masih jengkel dengan kejadian tadi di taksi.

Galang membuka topi yang sedari tadi dikenakannya. Membalas senyumku dengan sinis. Wajahnya terlihat sangat jelas kini. Ternyata tampan juga calon bosku ini. Sepintas mirip Dikta mantan personel Yovie dan Nuno saat masih berambut pendek belah tengah. Eh, kenapa aku jadi memuji dia, sih! 

“Baik, Nadia, pertanyaan pertama, kenapa kamu melamar kerja di sini?” tanya Pak Wira tiba-tiba yang membuatku gelagapan. Pikiranku masih menerawang, bertanya-tanya apakah insiden taksi tadi akan mempengaruhi penilaian Galang terhadapku. Bisa-bisa aku ditolak pada pandangan pertama.

“Karena butuh duit Pak,” jawabku spontan. Duh jawaban macam apa ini? Bukan jawaban yang kurencanakan, sumpah. Padahal aku sudah tahu pertanyaan ini bakalan keluar, dan sudah merancang jawabannya tadi di rumah.

Aku melirik ke arah Galang. Ia tampak menggelengkan kepala prihatin, seolah mau berkata, matre banget nih orang.

Tapi Pak Wira malah tertawa, “Ahahahaa jawaban yang menarik.”

“Dari sekian banyak pelamar tidak ada yang menjawab sejujur kamu,” katanya lagi. Sungguh ramah dan menyenangkan. Beda dengan ... Ah sudahlah. 

“Hahaa iya lah Pak kalo saya ngga jawab begini, nanti saya ngga digaji lagi!” Aku mencoba berkelakar menjawab perkataan Pak Wira supaya perasaan gugupku hilang.

“Oke. Seandainya kamu diterima kerja di sini sebagai markom, apa yang akan kamu lakukan?”

Aku lantas mempresentasikan hal-hal yang ingin aku lakukan untuk mempromosikan Kafe Mentari. Aku juga menceritakan pengalaman kerjaku sebagai markom di sebuah hotel beberapa tahun silam. Di situlah aku bertemu dengan Mas Arya yang bekerja sebagai manager hotel. Oh, tentu perihal Mas Arya ini tidak kuceritakan pada Pak Wira.

Pengalamanku sebagai freelancer micro influecer selepas resign dari hotel dan sudah bekerjasama dengan berbagai brand juga tak ketinggalan kupamerkan, yaa siapa tahu bisa jadi nilai tambah.

“Wah menarik," tanggapan Pak Wira membuatku bernapas lega.

"Kamu berpengalaman sebagai markom juga influencer sehingga bisa melihat dari kedua sisi ketika akan menjalankan tugasmu nantinya. Emm. boleh saya tahu akun instagram kamu?” tanya Pak Wira.

“At Nadia underscore Putri Pak,” jawabku.

Pak Wira lantas nampak mengetikkan sesuatu di ponselnya. “Oh ini ya." Is menunjukkan akun instagrmaku yang sudah dibuka di ponselnya. Untung saja aku sudah mengarsipkan foto-foto bersama Mas Arya dan Rania di sana.

“Iya betul Pak.”

“Foto-fotonya bagus, follower kamu juga cukup banyak. Follower saya ketinggalan jauh, hahaha.”

Pak Wira kemudian berdiri dari tempat duduknya. “Baiklah ....”

Hmm sepertinya sesi wawancara sudah berakhir.

“Terimakasih Nadia." Tangannya terulur menyalamiku.

“Selamat ya, kamu diterima.”

“Hah?” Aku kaget tidak menyangka secepat ini aku diterima, dan rupanya Galang pun menunjukkan keterkejutan yang sama. Ia nampak tak setuju Pak Wira menerimaku bekerja di kafenya.

"Tunggu Bang, kenapa-"

“Bukannya kamu bilang aku berhak 100% menentukan siapa yang akan kuterima?” tukas Pak Wira membela diri.

“Iya tapi kan, kita harus pikirkan baik-baik, nggak bisa secepat ini dong.” Sialan, Galang merusak kebahagiaan orang aja.

“Lang, kita tak punya banyak waktu, minggu depan kafe ini sudah harus buka. Dari semua calon karyawan yang sudah kita wawancara tadi, aku paling sreg dengan jawaban Nadia. Jadi, mari kita coba bekerjasama dengannya.” Pak Wira mencoba meyakinkan.

Galang nampak pasrah dengan keputusan Pak Wira. Meski terpaksa. Ah, aku tidak peduli. Sepertinya aku tidak akan terlalu sering bertemu dengannya. Ia pasti sibuk syuting di Jakarta dan menyerahkan urusan kafe sepenuhnya pada Pak Wira.

“Nadia, kamu akan digaji sesuai UMR dan akan mendapatkan bonus jika ada lembur atau menunjukkan kinerja yang memuaskan. Kita akan bekerja mulai hari Senin. Apakah kamu bersedia?”

“Bersedia Pak!” jawabku mantap.

“Oke, kalau gitu kamu bisa pulang sekarang dan mempersiapkan diri untuk hari Senin. Sabtu minggu depan kafe ini akan buka, jadi kita masih punya waktu bersiap-siap selama lima hari.”

“Baik, saya pasti akan bekerja sebaik-baiknya Pak Wira. Terimakasih," kataku dengan senyum megembang sambil menganggukkan kepala. Sebodo amat deh dengan tanggapannya Galang kaya apa.

Aku berjalan menuju pintu dan melewati Galang.

“Mari, Pak Galang.” Meski enggan, aku tetap harus berpamitan dengan sopan pada cecunguk satu ini. Bagaimana pun  dia bosku. Kebutuhanku akan uang lebih mendesak daripada gengsiku.

Waktu sudah menunjukkan pukul satu siang, bergegas kuambil ponsel di tas untuk memesan taksi online.

Sambil menunggu taksiku datang, aku mengirim pesan pada Erna, memberitau bahwa aku akan segera pulang dan menjemput Rania.

Tiba-tiba sebuah mobil menepi di depanku. Eh apa taksiku sudah datang? Kenapa cepat seklai. Aku melihat dengan seksama mobil yang ada di hadapanku. Lho ini kan..

“Arman?”

“Masuk,” ucapnya terdengar ketus.

“Aku sudah memesan taksi, kamu tidak perlu ....”

“Batalkan! ” Lagi-lagi ia memerintahku seenaknya.

Daripada ribut di pinggir jalan, cepat-cepat kubatalkan taksi yang kupesan. Nanti sajalah akan kuomeli dia habis-habisan di dalam mobil.

“Apa-apaan sih? Kasihan driver yang ku-cancel tadi tahu nggak!” protesku setelah duduk dan memasang seat belt di mobil Arman.

“Mana Rania?” tanyanya tanpa menjawab omelanku sedikitpun. Huh!

“Kutitipkan di tempat Erna,” jawabku.

“Tega sekali kamu ya, setelah ia kehilangan Ayahnya, kau buat juga dia kehilangan ibunya.”

Darahku seketika mendidih mendengar ucapan Arman.

“Apa maksudmu? Ia kutitipkan karena aku harus tes wawancara kerja. Kau pikir buat apa aku kerja? Buat menghidupinya juga kan,” kataku dengan suara tinggi.

“Aku Pamannya. Paman yang harus bertanggung jawab pada ponakan yatimnya.”

“Tapi mau sampai kapan, Man? Kalau kamu sudah menikah nanti apakah istrimu tidak berkeberatan berbagi harta dengan orang lain? Kamu nggak mikir sampai ke situ ya?”

“Oh baiklah. Kalau begitu ... Aku ... TIDAK AKAN MENIKAH.”

“APAA?”

“Aku tidak akan menikah sebelum memastikan ada orang yang bisa menjaga dan menghidupi kalian dengan baik." 

Arman lantas menginjak pedal gas, melajukan mobil dengan kecepatan cukup tinggi.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED