Bab 1

"Detektif, Opsir Jun. Kita menghadapi situasi genting! Anton 'White Bear' Levin alias Bos dari 'Mafia Russia' telah di bunuh di restorannya! Jika kita tidak segera menemukan pembunuhnya, komplotan Russia yang haus darah akan menagih dendam dan semuanya akan lepas kendali!" Ucap Kapten Samuel King.

"Oh tidak! Sepertinya keadaan sekarang sangat serius dan akan menjadi berbahaya jika kita terlambat menangani kasus ini." Sahut Opsir Junior.

"Iya kau benar opsir Jun. Tetaplah siaga dan tangani kasus ini dengan cepat!" Perintah Kapten Samuel King.

"Kami mengerti... Jangan khawatir Kapten, kami akan lakukan yang terbaik. Iya kan?" Tanya Opsir Junior.

"Iya Kapten, percayakan semua pada kami. Ayo Opsir Jun, kita harus segera menuju ke restoran Levin sebelum anak buahnya mengacaukan TKP kita. Ayo berangkat!" Ucap ku.

"Berhati-hatilah Opsir Jun dan Detektif Olivia. Jaga diri dan keselamatan kalian berdua." Ucap Kapten Samuel King.

"Siap Kapten!" Ucap ku dan opsir Junior sambil beranjak pergi ke TKP.

Namaku, Olivia Lyora Kim. Menangani kasus pembunuhan di berbagai tempat di kota ini sudah menjadi makanan sehari-hari untuk ku. Aku bekerja sebagai Detektif, dan aku mempunyai seorang rekan kerja yang selalu menemaniku dalam menyelidiki kasus apapun dan dimanapun, yaitu Opsir Aiden Junior Lee. Dia orang yang cekatan dan bersemangat, jadi akupun tidak akan kerepotan atau kewalahan jika menangani kasus bersama Opsir Junior.

Yaa, ini bukan kasus pertama yang aku selidiki dalam karir ku sebagai Detektif. Namun, menurutku kasus yang sekarang akan aku selidiki bersama opsir Junior adalah kasus yang cukup berbahaya dan menegangkan! Karena yang terbunuh sekarang adalah Anton Levin! Dia adalah Bos dari komplotan yang bernama Mafia Russia. Dia juga menyelipkan gelar 'White Bear' di tengah-tengah namanya. Menurut berita yang tersebar, 'White Bear' alias gelar yang diberikan kepada Anton Levin bukanlah gelar biasa. 'White Bear' melambangkan keberanian dan keganasan Anton Levin dalam menghadapi musuh atau menghadapi siapapun yang berani mengusik ketenangan hidupnya. Namun, sampai detik ini anak buah Anton 'White Bear' Levin yang bernama Mafia Russia belum mengetahui bahwa Bos nya telah terbunuh. Itu menjadi kesempatan emas untuk aku dan opsir Junior menyelidiki kasus ini dengan teliti dan menangkap pembunuhnya dan memberikan hukuman kepada pembunuhnya sesuai dengan hukum yang berlaku. Bukan dengan kekerasan atau dengan pertumpahan darah. Karena jika para komplotan Mafia Russia mengetahui lebih dulu bahwa Bos mereka telah mati terbunuh, sudah pasti akan terjadi kekacauan yang besar di kota ini yang bisa saja mengakibatkan orang lain yang tidak bersalah ikut menjadi korban. Dan aku, juga para rekan kerja ku tidak akan membiarkan itu semua terjadi.

Akhirnya aku dan opsir Junior sampai di restoran milik Anton. Restoran itu bernama -White Bear Cafe n' Resto-. Restoran yang cukup terkenal yang berada di kawasan industri kota ini dengan interior yang terkesan mewah dan elegan. Namun saat aku dan opsir Junior memasuki restoran tersebut, kesan mewah dan elegan seketika hilang. Dan yang nampak saat ini adalah restorannya sangat berantakan juga kacau! Ada lubang peluru di tembok, barang-barang berserakan dan wadah uang dalam mesin kasirpun kosong melompong!

"Opsir Jun! Lihat! Itu mayatnya Anton Levin!" Ucap ku sambil menarik tangan Opsir Junior agar menghampiri mayat tersebut bersamaan dengan ku.

"Ughhh!" Keluh ku sambil menutupi hidung ku yang disebabkan oleh bau darah segar yang menyengat.

"Detektif pakai masker ini untuk menutupi hidungmu!" Ucap Opsir Junior sambil memberikan masker untuk menutupi hidungku.

"Terima kasih opsir Jun." Ucapku.

Sebelum mayatnya Anton Levin dimasukkan ke dalam kantung mayat, aku melihat-lihat keadaan mayat Anton Levin sebentar. Banyak luka lebam dan memar di area kepala Anton Levin. Dan seperti ada luka yang disebabkan oleh benda aneh juga di kepalanya. Namun aku belum bisa menyimpulkan benda apa itu sekarang, mayatnya Anton 'White Bear' Levin harus di otopsi. Dan mayat Anton pun dimasukkan ke dalam kantung mayat untuk segera di kirim ke Rumah Sakit untuk di otopsi secepatnya.

"Wow, parah... Levin di gebuki habis-habisan! Pembunuhnya jelas-jelas sangat membencinya!" Ucapku pada Opsir Junior.

"Tapi bisa jadi ini diakibatkan oleh sebuah perampokan yang lepas kendali." Jawab Opsir Junior.

"Iya, bisa jadi seperti itu. Karena tadi sempat ku lihat mesin kasirnya kosong melompong." Jawabku.

Saat sedang asik mengobrol, tiba-tiba pandangan ku tertuju pada satu benda di bawah meja. Itu terlihat seperti ponsel genggam. Perlahan aku mendekati benda itu dan mengamatinya dan Yappp! Ternyata benar! Itu adalah ponsel genggam yang layar nya retak namun masih bisa menyala!

"Opsir Jun! Kemari lihatlah ini!" Ucap ku berteriak memanggil Opsir Junior yang tadi sedang duduk sejenak di kursi meja makan.

"Wah kau sangat hebat Detektif Oliv! Tak hanya sangat cantik, tapi kau juga sangat teliti dalam menyelidiki setiap sudut sisi TKP!" Ucap opsir Junior yang sepertinya keceplosan saat menyebut diriku cantik.

"E-ehh Detektif maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk lancang. Ma-maksudku ya memang kau terlihat seperti itu di mataku. K-kau sangat cantik dan hebat. Hanya wanita cantik dan tangguh yang mau mengambil pekerjaan seperti ini. Hehe." Ucap Opsir Junior sedikit kelagapan dan tersipu malu.

"Terima kasih atas pujiannya Opsir Jun. Tapi, itu berlebihan. Aku tidak merasa diriku seperti itu." Ucapku sambil memasang senyum manis kepada Opsir Junior.

"Nah, karena sudah menemukan mayat korban dan ponsel ini, bagaimana kalau kita menuju rumah sakit untuk mengantarkan mayat korban agar segera di otopsi lalu setelah itu kita analisa ponsel ini siapa tau kita akan mendapatkan petunjuk dari situ." Sambungku kepada Opsir Junior.

"Ya, kau benar Detektif. Semoga saja hasil otopsi dan juga telepon genggam itu bisa menceritakan lebih lanjut apa yang telah terjadi disini." Jawab opsir Junior.

"Ya sudah kalau begitu ayo berangkat." Ucapku pada Opsir Junior.

Saat di dalam mobil, aku menyalakan ponsel ku untuk melihat-lihat berita apa saja yang sedang populer hari ini. Ternyata para reporter dan pembawa acara tv sangat cepat tanggap! Mereka sudah mulai meliput kasus pembunuhan ini. Semoga saja berita ini tidak cepat terdengar oleh anak buahnya mendiang Anton Levin.

Setelah berhasil menjaga ambulance yang membawa mayat Anton Levin agar sampai ke Rumah Sakit dengan selamat, aku dan opsir Junior pun langsung mengunjungi tempat si Dewa Digital bekerja. Pantas saja dia dijuluki si Dewa Digital, pekerjaannya bisa dibilang numpuk hari ini. Asistennya bilang, bahwa si Dewa Digital akan selesai mengerjakan pekerjaannya sebentar lagi. Aku dan opsir Junior pun menunggu teman baik kami berdua di kantin gedung tersebut.

Bab 2

"Pelayan!" Ucap Opsir Junior memanggil pelayan kantin tersebut.

"Silahkan ini menunya. Boleh di lihat-lihat dahulu." Ucap si pelayan.

"Kau mau pesan apa Detektif?" Tanya Opsir Junior.

"Aku sepertinya ingin Milkshake Oreo untuk minumanku, dan kwetiau goreng untuk makananku. Lalu kalau Opsir Jun ingin pesan apa?" Tanyaku sambil menulis pesanan.

"Se-sepertinya aku ingin memesan apa yang Detektif pesan saja." Jawab Opsir Junior dengan agak gugup.

"Kau serius Opsir Jun? Ada apa denganmu? Apa kau tidak enak badan? Pipimu terlihat memerah. Coba mendekat, apakah suhu badanmu panas?" Tanyaku sambil memegang jidat Opsir Junior untuk memastikan apakah dia sakit atau tidak.

Saat aku memegang jidat Opsir Junior, dia hanya menunduk.

"A-aku tidak sakit Detektif. A-aku hanya u-ughh sepertinya udara disini panas! Bisakah kau kencangkan lagi sedikit AC-nya pelayan?" Tanya opsir Junior kepada pelayan.

"Iya bisa Tuan, maaf jika udara disini membuatmu kepanasan." Jawab si pelayan.

"Oke kerja bagus. Pesan satu minuman untukmu pelayan sebagai tanda terima kasihku." Ucap Opsir Junior dengan gelagat yang aneh.

"Tidak usah Tuan. Saya tidak berhak menerimanya. Toh ini juga sudah menjadi tugas saya sebagai pelayan." Ucap si pelayan.

"Tidak apa, tidak apa. Tidak usah merasa begitu." Ucap Opsir Junior.

"Jadi, kita akan pesan dua Milkshake Oreo, lalu dua kwetiau goreng, dan kau pelayan ingin pesan apa? Tidak usah merasa tidak enak hati, opsir Jun sedang berbaik hati hari ini. Silahkan." Ucapku sambil menyodorkan menu kepada si pelayan.

"Sa-saya... Saya akan pesan satu Vanilla Latte Coffee saja Tuan, Nyonya. Terima kasih atas kemurahan hati kalian. Semoga hari kalian menjadi hari yang baik." Ucap si pelayan seraya berterima kasih sambil membungkukan badannya.

"Oke satu Vanilla Latte Coffee sebagai tambahannya sudah ditulis. Ini silahkan, oh iya pelayan. Bisakah agak cepat untuk makanannya? Aku merasa sangat lapar sekarang. Hehehe." Ucapku pada si pelayan.

"Oke baik Nyonya. Akan saya katakan kepada koki kantin." Jawab si pelayan.

"Terima kasih." Jawabku.

Si pelayan pun pergi ke bagian dapur untuk memberikan pesanan kepada koki di dapur dan melanjutkan pekerjaannya.

"Opsir Junior Lee. Bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?" Ucapku pada opsir Junior.

"Silahkan Detektif. Akan aku jawab apapun pertanyaanmu!" Jawab opsir Junior.

"Hari ini kau kelihatan aneh. Sejak tadi saat kita beradu pandang, ketika itu juga kau menjadi gugup. Lalu kau bilang udara disini panas? Menurutku ini sudah sangat sejuk opsir Jun. Katakan padaku, ada apa denganmu? Apa kau menyembunyikan sesuatu dariku?" Tanyaku seraya menginterogasi opsir Junior yang memang sejak tadi kelihatan aneh.

"Hah? Menyembunyikan apa? Aku tidak menyembunyikan apapun darimu Detektif. Maafkan aku karena menyuruh pelayan tadi untuk menaikkan suhu AC-nya. Biar ku panggil lagi si pelayan tadi untuk tidak melakukannya!" Ucap opsir Junior.

"Aaahhh tidak usah, tidak usah! Tuh benar saja kau malah semakin aneh! Hanya karena sang pelayan tadi menuruti kemauan mu agar dia menaikan suhu AC-nya saja kau sampai mentraktir dia minuman segala. Ada apa dengan matamu? Dia itu laki-laki! Apa jangan-jangan.... Kau tidak suka dengan perempuan ya opsir? Jujur saja padaku opsir Jun! Demi apapun, aku tidak akan memberi tahu tentang rahasiamu ini pada siapapun." Ucapku dengan tatapan penuh rasa ingin tau.

"Dengarkan aku dulu Detektif Olivia yang cantik! Ya, wajar saja aku mentraktir dia. Karena dia bekerja dengan rajin melayaniku sebagai pembeli. Lagi pula tidak masalah berbaik hati sedikit kepada orang lain. Jangan berbicara ngawur Detektif Oliv! A-aku punya seseorang yang aku sukai, dan dia perempuan! Perempuan yang sangaaaattt cantik!" Jawab opsir Junior seraya meyakinkan ku.

"Oh, benarkah? Siapa? Siapa dia? Beritahu aku! Beritahu aku opsir Jun! Apakah dia seseorang disekitar kita? Apakah aku mengenalnya? Tolonglah jawab, jawab, jawab, jawab akuuuu." Ucapku memohon dengan rasa keingintahuan yang tinggi.

"Nanti suatu saat akan ku beritahu." Jawab opsir Junior singkat.

"Suatu saat itu kapan? Aku ingin sekarang. Kau tidak akan menuruti kemauanku hah? Apa kau ingin dihukum?" Ucapku sedikit mengancam karena terlalu penasaran.

"Eeehh.. Di-dia orang disekitar kita. Dan kau mengenalnya. Jelas sangat-sangat mengenalnya." Ucap opsir Junior serius.

"A-aku mengenalnya?" Tanyaku singkat dan heran.

"Heem." Jawab opsir Junior singkat dengan tatapan yang serius.

"Sangat, sangat mengenalnya?" Tanyaku lagi.

"Yap. Sangat mengenalnya." Jawab opsir Junior yang mulai mendekatkan pandangannya kearah ku.

"Ta-tapi s-siapa?" Ucapku heran sambil berfikir kira-kira siapa orang yang opsir Junior maksud itu.

"Hah sudahlah jangan difikirkan. Diriku sendiripun merasa tidak mungkin untuk mengungkapkan rasa ini padanya. Aku merasa sangat tidak pantas. Selain cantik dan mandiri, dia juga hebat dalam hal apapun. Berbeda jauh denganku bukan?" Ucap opsir Junior dengan raut wajah yang terlihat mulai murung.

"Hei! Dengarkan aku opsir Jun! Sehebat apapun wanita, mereka juga punya sisi lemah tersendiri. Juga punya rasa ingin dimengerti, dimanjakan, dan diperlakukan seperti ratu. Daaan, semua hal itu hanya para prialah yang bisa memberikan itu semua pada kami. Bukan berarti setiap pria bisa melakukannya, akan tetapi hanya satu pria yang tepat. Satu pria terhebat yang bisa melakukannya. Pria yang tidak akan menyakiti, pria yang setia, dan akan selalu menjaga perasaan kami sebagai wanitanya. Jadi, jangan menyerah! Tidak apa-apa kalau opsir Jun belum siap untuk mengungkapkannya sekarang. Namun, saat kamu membicarakan wanita itu, dari tatapanmu saja aku sudah tau kamu sangat menyukainya. Aku yakin dia akan menyukaimu juga opsir!" Jawabku menyemangati opsir Junior.

"Oh ya? Menurut Detektif Oliv dia akan menyukaiku juga?" Tanya opsir Junior.

"Iya menurutku begitu. Karena menurutku itu suatu hal yang manis. Disukai oleh seorang pria dengan sungguh-sungguh, sudah pasti pria itu takkan menyakitiku. Itu menurut pandanganku. Hehehe." Ucapku pada opsir Junior.

"Baiklah Detektif! Aku akan mengungkapkannya suatu saat!" Jawab opsir Junior.

"Baguslah. Oh, aku baru ingat! Ponsel tadi apakah ada di dalam tasmu opsir Jun?" Tanyaku.

"Iya ada padaku Detektif! Aku masukkan ke dalam kantung plastik barang bukti lalu ku simpan dalam tasku. Nah, ini dia." Ucap opsir Junior sambil mengambil barang bukti tersebut dari tasnya.

"Jangan lupa pakai sarung tanganmu!" Ucapku mengingatkan opsir Junior.

"Baik. Ah sial! Ponsel ini menyala, tapi sandinya terkunci! Dengar-dengar dari Kapten King, Detektif Olivia ini ahli kalau soal teknologi. Bisa tolong kamu tembus kode sandinya?" Ucap opsir Junior padaku.

"Oke mari kita lihat, apakah aku masih bisa menggunakan keahlianku yang itu?" Ucapku sambil mulai mengotak-atik ponsel tersebut yang aku sendiri yakin bahwa ponsel tersebut memiliki petunjuk tentang apa yang terjadi disana.

Setelah beberapa menit megotak-atik ponsel tersebut akhirnya kode sandi ponsel tersebut terpecahkan.

G02 - HYE - E58

Itulah kode sandinya!

"Kau sangat hebat Detektif! Kata sandinya sudah kamu pecahkan, sekarang kita bisa serahkan ponsel ini kepada Alex sang Dewa Digital kami, siapa tahu dia bisa menyelamatkan beberapa informasi dari ponsel ini!" Ucap opsir Junior padaku.

Bab 3

Tiba-tiba si pelayan kantin yang tadi datang menghampiri sambil membawa nampan berisi makanan dan minuman yang kami berdua pesan belum lama tadi.

"Dua Milkshake Oreo, dan dua kwetiau goreng sudah siap. Silahkan dinikmati Tuan, Nyonya." Ucap si pelayan sambil menata makanan tersebut di meja kami berdua.

"Wah benar-benar cepat sesuai yang aku minta! Oh iya, bagaimana dengan pesananmu? Sudah dibuatkan?" Tanyaku pada si pelayan.

"Sudah Nyonya, terima kasih banyak atas kebaikan kalian. Akan aku nikmati minuman tersebut sambil istirahat kerja sepuluh menit lagi." Ucap si pelayan sambil tersenyum dan membungkukkan badannya sebagai ucapan terima kasih.

"Nah, baguslah. Beristirahatlah sebentar! Biar rekanmu yang lain yang melayani para pembeli. Jangan terlalu kelelahan saat bekerja oke?" Ucap opsir Junior sambil menyantap hidangan yang ia pesan.

"Baik Tuan, Nyonya. Saya izin permisi dulu. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih. Semoga kalian bahagia selalu dan menjadi pasangan yang tidak akan terpisahkan." Ucap si pelayan sambil membungkukkan badannya lalu pergi meninggalkan meja kami.

"Eh tapi, ta-tapi kita bu-bukan seperti yang kamu maksud. Hey, pelayan!!!" Ucapku berusaha memanggil si pelayan.

"Sudahlah, sudah Detektif. Lagipula dia tidak tahu kalau kita hanyalah rekan kerja. Tidak apa-apa, doa yang baik akan menjadi suatu kebaikan pula." Ucap opsir Junior sambil tersenyum seperti kegirangan.

"Lalu kenapa kau senyum-senyum begitu opsir Jun? Kau menertawakan aku atau menertawakan apa hah?" Tanyaku pada opsir Junior yang mulai menyebalkan.

"Pffftt... Hahahaha, maafkan aku Detektif. Tapi kau sangat lucu dengan butiran salju di bibirmu itu!" Ucap opsir Junior sembari menertawaiku karena aku minum dengan terburu-buru dan menempelkan sisa minuman di bibirku.

"Mana? Tidak ada apapun tuh!" Ucapku sambil berusaha membersihkan bibirku.

"Ih, diam. Bukan disitu. Tapi di sebelah sini Detektif." Ucap opsir Junior sambil membersihkan ujung bibir sebelah kananku dengan tisu yang ia pegang.

Aneh! Opsir Junior hari ini benar-benar aneh! Dia bilang, dia menyukai seorang wanita tetapi mengapa dia lakukan ini padaku? Dan saat inipun dia menatapku dengan tatapan yang aku tidak tahu apa maksudnya.

"Ehem." Tiba-tiba muncul suara yang membuat aku dan opsir Junior tersadar dari pandangan masing-masing.

"Kalau mau pacaran, lebih baik jangan disini." Ucap Alex menggoda kami berdua.

"Kau mengagetkan ku saja! Aku hanya membantu membersihkan wajah Detektif Olivia. Itu saja!" Ucap opsir Junior.

"Iya benar hanya itu Alex, tidak lebih!" Ucapku meyakinkan.

"Lalu jika hanya itu mengapa wajah kalian memerah seperti kepiting rebus?" Ini adalah salah satu pertanyaan Alex yang memojokkan kami berdua.

"INI KARENA UDARA DISINI CUKUP PANAS!" Teriak kami berdua bersamaan yang berhasil membuat pembeli lain terfokus kearah kami berdua.

"Oh, ma-maafkan aku. Alex, silahkan duduk dan pesan sesuatu. Jika tidak ingin pesan apapun, tunggulah sampai kami berdua selesai makan. Mengerti?" Ucapku pada lelaki bernama Park Alexa Ryuza itu.

"Wohoo... Tenang Detektifku. Aku sudah memesan Combo Ice Cream di depan. Terlalu sering berhadapan dengan sesuatu yang berbau digital membuat otakku panas. Huffftt... Berbincang dengan kalian berdua membuatku merasa lebih manusiawi." Jawab Alex.

"Ya, benar. Ku rasa itu cocok untukmu. Terkadang aku curiga bahwa kau sebenarnya adalah robot yang melakukan cangkok kulit premium. Karena bagaimana bisa seorang manusia biasa memecahkan berbagai permasalahan digital tanpa ada kesalahan sedikitpun, hm?" Ucap opsir Junior menggoda Alex.

"Hahahaha setiap manusia telah diciptakan dengan kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Hanya saja untuk opsir Jun, porsi kekurangannya lebih banyak dari manusia lainnya." Ucap Alex usil.

"Lihat saja nanti akan ku balas kau nanti Alexa Ryuza!" Jawab opsir Junior.

Kami bertigapun berbincang sambil menyantap makanan yang sudah kami pesan masing-masing. Setelah selesai, kami langsung kembali ke ruangan Alex bekerja.

"Nah, selamat datang kembali para tamu favoritku. Detektif Olivia Lyora Kim, opsir Aiden Junior Lee. Rekan kerja sekaligus sahabat karibku. Kalau boleh tau, apa yang bisa aku lakukan untuk membantu kalian? Katakanlah." Ucap Alex.

"Begini bapak Alex yang terhormat. Aku dan Detektif Olivia sedang menyelidiki kasus kematian dari Anton 'White Bear' Levin alias Bos besar dari komplotan Mafia Russia. Saat di TKP, kami menemukan ponsel retak ini. Kode sandinya sudah dipecahkan oleh Detektif tadi saat sebelum kau datang. G02 - HYE - E58 itulah kodenya!" Tutur opsir Junior kepada Alex.

"Silahkan duduk dulu sambil menungguku. Ada cemilan di lemari. Silahkan dimakan." Ucap Alex sambil tersenyum dan menaikkan sebelah alisnya.

"Tidak usah repot-repot Alex. Toh kami baru saja makan siang." Jawabku.

"Baiklah. Setelah aku mendapatkan informasi dari ponsel ini, kita akan menikmati cemilan tersebut sambil membahas tentang ponsel ini. Bagaimana? Setuju?" Tanya Alex pada kami berdua.

"SETUJU!" Ucap ku dan opsir Junior bersamaan.

"Kau sangat pandai dalam memberi kenikmatan pada perutku Park Alexa sahabatku tersayang." Ucap opsir Junior sambil memeluk Alex dari belakang dengan kencang.

"Aa-aghhh. Lep-paskannn! Uhukkk uhukkk! Sial, a-aku hampir tidak bisa bernafas karenamu Aiden Junior! Menunggulah disana dengan Detektif, jangan ganggu aku atau kau tidak akan dapat jatah cemilan. Mengerti!" Ucap Alex mengancam opsir Junior.

"Aaahh menyebalkan sekali. Baiklah, baiklah Dewa Digital kami yang terhormat. Selamat bekerja." Ucap opsir Junior mengalah.

Akhirnya aku dan opsir Junior menunggu Alex dengan tenang karena tidak mau konsentrasi Alex menjadi terganggu. Aku mengambil headset dari dalam tasku, lalu memutar musik dari ponselku dan bersandar kepada tembok di sebelahku sambil melihat pemandangan keluar dari balik kaca. Haahhh... Begini saja sangat menenangkan.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED