Hanna terbangun karena mendengar suara berisik dari ruang kerja ayahnya. Gadis kecil itu, duduk di sisi ranjang, dan berusaha menajamkan pendengaran. Di kuceknya mata, yang masih sedikit mengantuk.
Perlahan bocah sembilan tahun itu, turun dari ranjang dan melangkah keluar kamar. Dia merasa heran melihat keadaan rumahnya yang berantakan. Rasa penasaran, semakin menyelimuti hatinya, membuat gadis kecil itu melangkah lebih cepat. Kamar kedua orang tuanya, menjadi tujuan.
Sesampai di depan pintu kamar, Hanna sangat terkejut melihat ada bekas darah yang tercecer di lantai. Seketika wajah putihnya menjadi pucat. Dengan gemetar, Hanna memegang handle pintu, membukanya perlahan, lalu mengintip ke dalam. Disana dia melihat pemandangan yang sangat mengerikan.
Ibunya, Stephanie tergeletak di lantai dengan bersimbah darah. Ada luka tusukan di perut dan di dada sebelah kiri Stephanie, ibunya. Hanna mematung, melihat kondisi orang tuanya, dan tidak tahu harus berbuat apa. Dia hanya berdiri memandang ibunya, dengan lutut lemas, bibirnya gemetar memanggil sang bunda.
“Mom,” panggilnya lirih, hampir tak terdengar. Tak ada jawaban. Bocah malang itu, semakin takut. Lututnya tak mampu lagi menopang tubuh kecilnya, hingga dia tersungkur dan jatuh luruh ke lantai. Setelah mengumpulkan tenaga, dia memberanikan diri, dan merangkak lebih dekat. Di sentuhnya tubuh ibunya, dengan jari telunjuk. Sedikit mencolek, lalu menunggu. Tak ada gerakan. Di sentuhnya kembali, kali ini dia mencoba mengguncang tubuh itu.
“Agrrh!” ibunya mengerang lemah, lalu mata itu sedikit terbuka. Hanna bergeser lebih dekat, saat melihat bibir ibunya komat-kamit, seperti hendak mengatakan sesuatu. Tangan itupun kemudian melambai lemah, meminta Hanna untuk lebih dekat lagi.
“Iya, mom! Hanna disini!” ujar gadis kecil itu, terisak di samping ibunya. Disekanya air mata yang jatuh di pipi, dengan ujung tangan, lalu mendekatkan telinga, ke bibir wanita yang melahirkannya itu, agar bisa mendengar lebih jelas apa yang di ucapkan ibunya.
“Se-m-bu-nyi!” ucap Stephanie terbata.
“Mom?” Hanna hendak mengatakan sesuatu, tapi tangan lemah Stephanie mendorong tubuh bocah itu agar menjauh dari sana. Wanita yang sudah sekarat itu melambai-lambaikan tangan, menyuruh putrinya pergi. Hanna memandang tubuh ibunya dengan air mata yang meleleh membasahi wajah, dan bajunya. Dia menggeleng kuat, menarik-narik Stepahanie, berharap bisa menolong ibunya, dan pergi bersama. Namun, usahanya sia-sia. Tubuhnya terlalu kecil, untuk membantu Stephanie.
***
Di ruangan lain rumah itu, tampak seorang pria setengah baya, sedang duduk berlutut, dalam keadaan terikat, di hadapan seorang pria lain, yang memakai pakaian serba hitam dan topeng di wajah. Wajah pria paruh baya itu penuh dengan luka pukulan.
“Katakan, dimana tempatnya!” pria bertopeng itu menghunuskan sebuah samurai ke depan wajah pria yang sedang berlutut di hadapannya. Pria paruh baya itu diam saja.
“Katakan, tuan William! Atau kau ingin melihat jasad anak dan istrimu terlebih dahulu, hah!” pria paruh baya, bernama William, yang tak lain adalah suami Stephanie, ayah Hanna itu, bergeming, membuat pria bertopeng tadi naik pitam.
“Kau sangat keras kepala! Baiklah, kalau itu maumu. Aku akan mengirim anak dan istrimu ke neraka di depan matamu.” Pria itupun menyeret William dengan kasar, hingga kemeja yang dipakainya sobek.
Mereka keluar dari kamar, dan sampai di ruangan tengah rumah itu. Tubuh William yang terikat di tangan dan kaki, tidak bisa bergerak dengan leluasa. Dia hanya bisa pasrah, saat pria tinggi besar itu menyeret tubuhnya, yang sudah babak belur, dan kehabisan tenaga.
Pria bertopeng itu kemudian melangkah ke arah kamar tidur William dan Stephanie, dimana istri dan anak William berada.
Stephanie yang mendengar suara ribut di luar, menyuruh Hanna untuk bersembunyi di kolong ranjang. Hanna menggeleng keras. Dia terus saja menggenggam tangan ibunya, dengan air mata berlinang.
Dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya, Stephanie mendorong Hanna sekuat tenaga, ke bawah tempat tidur, tepat saat pria bertopeng itu, masuk ke dalam kamar. Hanna yang ingin berontak, langsung terdiam dan menahan nafas, saat melihat sepasang kaki melangkah mendekati tubuh ibunya.
“Ayo! suamimu ingin bertemu denganmu.” pria itu pun menyeret Stephanie keluar dari kamar. Stephanie yang sudah sekarat memandang Putri nya, dibawah ranjang. Air mata wanita itu menetes dari sudut matanya yang lebam dan mengeluarkan darah, namun bibirnya masih sempat menyunggingkan sebuah senyum. Seolah ingin mengatakan, semua akan baik-baik saja.
Hanna memandang tubuh ibunya menghilang di balik pintu. Setelah memastikan suara sepatu itu menjauh, dia merangkak keluar dan mengintip dari celah pintu. Di sana, dia melihat ayahnya merangkak, berusaha menggapai ibunya, yang sudah tidak bergerak lagi. Bocah itu bahkan mendengar tangisan ayahnya, yang mengutuk perbuatan pria bertopeng itu.
“Manusia terkutuk! Iblis!” William mengutuk pria bertopeng itu, yang malah menertawakannya.
“Ini semua salahmu, William! Jika saja, kau mau membuka mulut mu, mungkin sekarang, istrimu yang cantik ini masih bernafas.” Pria bertopeng itu terkekeh, disamping jasad Stephanie, yang sudah tidak bernyawa.
“Tidak usah banyak bicara! Kau dan aku sama-sama tahu, bahwa kau di perintahkan untuk menghabisiku, setelah misi mu selesai.”
“Hahaha! Ternyata kau sudah tahu. Baiklah! Itu artinya, aku sudah tidak perlu lagi bermain-main denganmu.” Selesai berkata begitu, pria itu langsung menyabetkan samurai di tangannya, ke arah William.
Brrukk!
Tubuh William terkapar dengan leher hampir putus, terkena sabetan pedang pria bertopeng tadi. Darah segar memercik ke segala arah, dan mengucur deras dari leher William. Melihat ayahnya terkapar, Hanna menjerit histeris, membuat pria tadi mengalihkan pandangannya, ke arah Hanna.
Mengetahui dirinya dalam bahaya, buru-buru Hanna mengunci pintu dan mencari benda yang dapat dipakai sebagai penahan, agar pria itu tidak bisa mendobraknya, dan masuk ke dalam kamar.
“Brakk, brakk, brakk!
Suara pintu di dobrak dari luar. Hanna mengedarkan pandangan ke sekeliling, dan melihat meja rias ibunya. Dia lalu mendorong meja itu, dengan sekuat tenaga. Keringat bercucuran dari dahi dan pelipisnya. Selesai mendorong meja, Hanna mencari ponsel ibunya, dan menelepon polisi.
Telepon tersambung, seorang petugas menyapa di seberang sana. Dengan panik, Hanna menceritakan kejadian di rumahnya secara singkat. Petugas itu menyuruh Hanna untuk tenang, dan menanyakan alamat bocah itu. Setelah memberikan alamatnya, petugas di seberang sana, meminta Hanna untuk tidak mematikan sambungan telepon sampai polisi datang. Hanna pun menyanggupinya.
Dia duduk di bawah jendela, dengan kedua kaki di tekuk, menghadap ke arah pintu. Sementara tangannya tetap memegang ponsel di telinga. Gedoran dan dobrakan di pintu semakin kuat, sedikit demi sedikit meja itu mulai bergeser. Daun pintu itu, bahkan sudah sedikit terbuka sekarang. Tiba-tiba saja, sebuah tangan terulur, masuk melalui celah pintu.
“Yuhuuu! Anak manis, ayo buka pintunya, sayang! Aku tau kau ada disana. Hehehe!” suara orang itu membuat Hanna semakin takut.
Hanna yang panik, kembali menjerit histeris, dan menjatuhkan ponsel di tangan. Dia bangkit dan mendorong meja itu sekuat tenaga.
Tangan itu terjepit pintu, membuat pria di luar, berteriak kesakitan. Sumpah serapah keluar dari mulutnya.
Hanna, melihat tangan itu, bergerak-gerak, berusaha untuk lepas dari sana. Sejenak dia terpaku, menatap tangan yang baru saja membunuh ayahnya itu. Ada sebuah tato dengan bentuk matahari, setengahnya saja. Saat bengong seperti itu, tiba-tiba pria bertopeng mendorong dengan kuat. Hanna yang sedikit lengah, terjatuh, kepalanya membentur ujung meja.
Dia meringis kesakitan, lalu meraba pelipisnya yang sedikit perih. Ternyata kepalanya mengeluarkan darah. Pandangan Hanna menjadi buram, dan dia terhuyung dengan rasa pusing yang sangat, lalu gelap.
Hanna memegang pelipisnya yang masih sedikit perih, dan merasakan sesuatu menempel disana. Dipaksakan nya untuk membuka mata, yang masih terasa berat. Bau obat-obatan menyengat menusuk indra penciuman.
“Ugh!” Hanna mencoba untuk bangkit, satu tangannya memegangi kepalanya yang sakit saat digerakkan.
“Hei, kau sudah sadar! Tenanglah! Jangan banyak bergerak dulu, aku akan memanggilkan dokter untukmu.” Seorang wanita muda menghentikan gerakan Hanna, dia membantu Hanna kembali berbaring di atas tempat tidur.
“Dimana aku?” tanya Hanna. Matanya menyapu ke seluruh ruangan, dan menyadari kalau dirinya sedang berada di sebuah ruang perawatan. Mungkin, ini Rumah Sakit, fikirnya.
“Kau berada di Rumah Sakit. Tenanglah!” wanita muda yang ternyata seorang perawat itu, menjawab pertanyaan Hanna, agar gadis itu tenang. Hanna mengangguk, dan kembali memejamkan mata. Sementara wanita muda tadi, keluar dari ruangan itu, setelah memberikan suntikan pada Hanna.
***
10 jam yang lalu
Ngiiingg ...
Suara sirene polisi terdengar dari kejauhan. Pria bertopeng yang telah berhasil mendobrak pintu, kamar tidur orang tua Hanna, merasa panik dan bingung mau melakukan apa pada gadis itu. Dipandanginya tubuh Hanna, dan sebuah ide pun muncul di kepalanya.
Pria itu menyeret tubuh Hanna dengan cepat ke ruang tengah rumah itu, dimana tergeletak tubuh William dan Stephanie yang sudah tak bernyawa. Di letakkannya tubuh Hanna agak jauh dari kedua orang tuanya, lalu mengambil samurai yang tadi dipakai nya menghabisi nyawa William dan Stephanie, dan meletakkannya di dalam ganggaman Hanna yang sedang tak sadarkan diri.
Kemudian pria itu membersihkan semua jejak dirinya dari rumah itu. Termasuk sidik jari dan jejak sepatu. Merasa yakin sudah tidak meninggalkan jejak apapun, pria itu keluar lewat pintu belakang, tepat saat mobil patroli polisi berhenti di depan rumah.
“Halo tuan William! Apakah anda di dalam?” seorang petugas patroli masuk ke pekarangan dan memanggil pemilik rumah. Tak ada jawaban.
“Kami mendapat pengaduan telepon, dari rumah ini, apakah terjadi sesuatu? Halo? Kami akan memaksa masuk jika anda tidak menjawab!” petugas tadi, dan seorang temannya berdiri di depan pintu, bersiap dengan pistol di tangan.
Karena tak ada jawaban, mereka pun mendobrak pintu dan masuk ke dalam rumah. Kedua petugas itu terkejut melihat tiga orang tergeletak di ruang tengah rumah itu dalam keadaan mengenaskan.
“Hubungi pusat! Ada korban!” salah satu petugas memerintahkan temannya. Lima belas menit kemudian, polisi dan ambulance sampai dan menutup TKP untuk umum.
Hanna pun, langsung di bawa ke Rumah Sakit. Sementara petugas mengamankan barang bukti, dan tempat kejadian perkara.
Seorang pria memakai setelan hitam, datang dan langsung meminta laporan sementara kasus pembunuhan yang baru saja terjadi.
“Dua orang tewas, pasangan pengusaha kaya, Tuan William Ansley, dan istrinya seorang model papan atas Stephanie Jhonson. Di duga penyebab kematian mereka karena luka tusukan, menggunakan benda tajam, dan kehabisan darah.” Seorang petugas berseragam lengkap, menyerahkan laporan tertulis, kepada pria bersetelan hitam tadi, yang menerimanya tanpa mengalihkan pandangan dari samurai yang berlumuran darah, di dalam sebuah kantong plastik transparan.
“Pelaku sudah dapat di identifikasi?” pria tadi bertanya dengan pandangan masih pada tempat yang sama. Samurai.
“Tidak ada sidik jari lain, kecuali sidik jari ketiga orang korban, Pak!”
“Apa maksudmu? Bagaimana dengan samurai itu? Apa tidak ada sidik jari disana?” kening pria itu sedikit berkerut, mendengar penjelasan anak buahnya.
“Hanya ada sidik jari tuan William dan putrinya pada samurai itu, dan anehnya, samurai itu berada dalam genggaman putrinya.”
“Itu tidak masuk akal. Cari semua bukti sampai dapat. Saya mau laporannya, secepatnya!” petugas berpakaian lengkap itu, mengangguk dan menerima kembali laporan yang di sodorkan pria bersetelan hitam padanya.
“Mr. Smith! Anda mau kemana? Seluruh area sudah kami tutup, anda tidak boleh masuk kesana.” Pria bernama Mr. Smith itu mendengkus kesal, dan mengabaikan petugas forensik yang tadi mencoba menghentikannya.
“Anda tidak bisa mengacaukan pekerjaan kami!”
“Aku tidak butuh izinmu! Ini kasusku!”
Petugas forensik itu mencebik kesal dan berlalu pergi, meninggalkan Smith disana. Pria berusia sekitar 30-an itu berjalan-jalan di sekitar rumah, memperhatikan tiap benda, dan apapun yang menarik perhatiannya. Dia juga masuk ke kamar tidur William, memeriksa kamar itu dengan matanya, tanpa memegang apapun. Hanya memperhatikan! Tapi dia tidak menemukan apapun. Tempat itu bersih!
Ck! Dia berdecak. Raut wajah nya terlihat kesal. Aku punya firasat, kasus ini akan berakhir tidak bagus. Tapi saat dirinya memasuki ruangan kerja William, tanpa sengaja dia menemukan sebuah kancing, di sudut pintu sebelah dalam. Diambilnya menggunakan saputangan, dan segera memasukkannya ke dalam kantong. Setelah puas berkeliling, dan memeriksa, pria itu pergi dari TKP tanpa memberitahukan penemuannya.
***
Di Rumah Sakit
“Bagaimana perasaanmu, nona kecil?” sapa sang dokter pada Hanna, yang sudah bangun dari tidurnya. Gadis kecil itu, berusaha memaksakan senyum, menghormati keramahan dokter tadi.
“Anak pintar! Oh, iya! Kenalkan, saya Dokter David.” Dokter itu mengulurkan tangan, dan disambut Hanna dengan sedikit ragu. Gadis itu kelihatan takut.
“Kenapa?” tanya sang dokter, mengulurkan tangan hendak menenangkan Hanna. Tapi gadis kecil itu malah histeris, dan berteriak ketakutan. Perawat cepat-cepat menyuntikkan obat penenang pada selang infusnya, hingga membuat gadis itu tertidur kembali.
Dr. David menggeleng pelan, seraya menghela nafas. “Saya rasa anak itu mengalami trauma,” ucapnya sedih. Dr. David merasa prihatin atas kejadian tragis yang menimpa Hanna.
“Siapapun, pasti akan trauma, Dok! Apalagi anak sekecil Hanna.” Suster yang menemani Hanna, pun turut merasakan kesedihan yang dirasakan sang Dokter.
Kedua orang itu, keluar dari kamar Hanna, dan bertemu dengan Mr. Smith di depan pintu. “Bagaimana keadaan anak itu, Dok?” tanya Smith.
“Saya rasa anak itu mengalami trauma. Dia terlihat sangat ketakutan saat aku mencoba untuk mendekatinya.” Dr. David memberikan penjelasan.
“Separah apa, trauma yang dialaminya?”
“Untuk saat ini, hanya trauma psikplogis biasa. Belum ada tanda-tanda lainnya. Kita tunggu saja perkembangannya. Saya berharap dia bisa melewati semua ini.”
“Sebaiknya, begitu! Karena jika tidak, maka anak itu bisa di dakwa telah membunuh kedua orang tuanya dengan sadis.”
“What the .., kau serius? Anak sekecil itu! Oh come on! Kalian membuat aku muak!” Dr. David mempercepat langkah, meninggalkan Smith yang menurutnya, sangat memuakkan.
Bagaimana bisa dia mengatakan anak sekecil itu membunuh kedua orang tuanya? Apa mereka para polisi sudah gila?
“Tunggu! Saya belum selesai, Dok!" Smith mengejar langkah David, hingga kini mereka kembali bersisian dan masuk ke ruangan sang dokter.
“Saya datang kesini, untuk meminta bantuanmu!” Kening dokter itu berkerut, mencoba menebak arah pembicaraan lawan bicaranya.
“Katakan!” ujarnya, bersedekap.
“Sembuhkan anak itu secepatnya, agar dia bisa bersaksi di pengadilan. Jika dia tidak sembuh sampai sidang di gelar, maka bantulah dia dengan membuat catatan kesehatan palsu untuknya.”
“Apa maksudmu?”
“Jika kau tidak bisa menyembuhkannya, tepat waktu, buatlah seolah-olah dia mengalami gangguan mental, dan harus mendapatkan terapi. Hanya dengan cara itu, dia tidak di jebloskan ke penjara federal.”
“Kau gila!”
“Ini memang terdengar gila. Tapi asal kau tahu, aku juga percaya dan simpati pada anak itu. Ini hanya untuk berjaga-jaga. Kurasa kasus ini akan berakhir tidak baik. Jadi tak ada salahnya, membuat rencana.”
Dr. David tampak berfikir, dia mondar-mandir di depan meja kerjanya. Sementara Smith menunggunya dengan tidak sabar.
“Kau harus berjanji, membantu anak itu!” Smith mengulangi permintaannya. Melihat kesungguhan dimata, Smith, akhirnya Dr. David pun berjanji untuk melakukan apa yang diminta oleh Smith.
Brakkk!
Smith membanting pintu, sehingga semua orang yang ada di ruangan itu terkejut. Komisaris polisi, sekaligus atasannya, Mr. Santos, menatap Smith dengan pandangan menyuruh diam. Tapi sedikitpun tak di hiraukannya.
“Apa-apaan ini!” di hempaskannya berkas kasus Hanna ke atas meja, dimana beberapa orang sedang duduk mengelilinginya.
“Tidak usah bertindak berlebihan. Kau tahu betul bagaimana situasinya.” Seorang pria tua, berusia sekitar 60-an, menjawab ucapan Smith dengan santai. Dia adalah kepala polisi bagian federal, yang berwenang atas kasus Hanna.
“Kalian tidak bisa menjadikan anak kecil itu sebagai kambing hitam!” Smith nyaris berteriak di dalam ruangan itu.
“Dia bukan kambing hitam. Semua bukti mengarah padanya!” Santos menjawab dengan ekspresi wajah datar.
“Kau gila, jika mempercayai itu semua!”
“Kami semua yang ada di ruangan ini, bekerja sesuai prosedur hukum yang berlaku. Kau tahu itu! Jadi tolong! Jangan membuat kekacauan.”
“Masa bodoh dengan hukum kalian itu! Hukum mana yang membiarkan seorang anak kecil, menjadi terdakwa atas pembunuhan orang tuanya sendiri, hah!”
“Kami tidak bisa berbuat apa-apa, Smith! Kau tahu itu. Anak itu ditemukan bersama kedua orang tuanya, dan dia menggenggam senjata yang menghabisi nyawa keduanya. Kau faham itu, Smith!” Natalie, partner Smith, sekarang turun bicara. Smith memandangnya tak percaya.
Smith menghela nafas panjang. Dia mengacak rambutnya, frustasi, dengan satu tangan di pinggang. Diedarkannya pandangan ke sekeliling ruangan, mengamati satu persatu wajah di dalam ruangan.
“Aku mundur!” diletakkannya lencana dan pistol miliknya, lalu keluar dari ruangan itu, tanpa mendengarkan teriakan Santos, atasannya di kepolisian, yang memintanya menghentikan langkah.
***
“Hanna!” perlahan suster Jeni, perawat yang menangani Hanna menyodorkan sendok berisi bubur ke mulut gadis itu. Hanna membuka mulutnya dengan tatapan kosong, dan menelan bubur itu, tanpa mengunyahnya terlebih dahulu. Suster Jeni menyeka sudut bibir Hanna yang terkena tetesan bubur, dengan tissue.
“Apa kau butuh sesuatu? Atau kau menginginkan sesuatu? Aku akan mengambilkannya untukmu.” Suster Jeni mencoba berinteraksi dengan gadis itu.
Perlahan Hanna memutar kepalanya, menatap suster Jenni, “Aku mau mommy!” air mata jatuh, dan meluncur membasahi pipi putih nya yang pucat. Suster Jenni tak tega pada gadis itu, dan segera memeluknya. Tangis Hanna pun pecah dalam dekapan Jenni.
Dibiarkannya gadis itu menumpahkan kesedihan nya yang terpendam selama beberapa minggu ini.
Dr. David masuk, tapi hanya berdiri di depan pintu, karena suster Jeni memberi isyarat untuk menunggu. Beberapa menit, Hanna berhenti menangis, hanya sesekali bulir bening masih lolos dari sudut matanya. Gadis itu menatap suster Jeni lekat.
“Ada apa? Kau bisa bercerita padaku. Aku adalah temanmu, dan teman akan selalu membantumu.” Suster Jeni menyisipkan anak rambut yang berkeliaran di dahi Hanna, ke belakang telinga.
“Orang itu –“ mendengar Hanna mengucapkan kata orang itu, Dr. David pun mendekat hendak merekam pengakuan Hanna. Tapi gerakannya yang tiba-tiba itu, membuat Hanna ketakutan dan memeluk suster Jenni dengan erat. Gadis itu membenamkan wajahnya ke dalam pelukan Jeni.
“Tidak apa-apa sayang! Dia Dr. David, yang mengobatimu. Dia juga akan mambantumu, sama seperti suster Jeni.” Ucap Jeni menenangkan Hanna.
Perlahan wajahnya mengintip dari balik lengan Jeni, melihat ke arah Dr. David. David pun tersenyum, dan berusaha untuk tidak melakukan gerakan yang akan membuat Hanna ketakutan.
“Apa kau mau bercerita sekarang?” tanya Jeni padanya. Hanna mengangguk dan mulai bercerita.
“Orang itu, membunuh Papa dengan pedang,” air mata kembali menetes saat Hanna mengatakan kalimat itu, bibirnya sampai bergetar menahan sesak yang menghimpit.
“Dia memakai baju hitam, juga memakai topeng.” Dia memegangi dadanya. Mungkin karena kesedihan yang mendalam, menyebabkan gadis itu merasakan sesak yang sangat di sana.
“Sudah, tidak apa-apa!” Jeni menenangkan gadis itu, dan menyuruhnya untuk beristirahat, lalu menemaninya hingga terlelap.
“Kasihan! Pasti sangat berat untuknya.” Desis suster Jeni, berbisik, agar tak mengganggu tidur Hanna. David mengangguk, dan memberi isyarat untuk keluar dari ruangan itu.
“Apa menurutmu, anak itu bisa bersaksi di pengadilan?” tanya David pada Jeni.
“Kurasa, anda lebih tau kondisi Hanna!” Jenni menatap David, dengan ekspresi wajah heran. Tidak biasanya dokter muda itu, meminta pendapat pada perawat, tentang keadaan pasiennya. Sejauh yang dia tahu, David adalah seorang dokter yang sangat kompeten.
David menghela nafas, dan meninggalkan Jeni di lorong Rumah Sakit, setelah terlebih dahulu berpamitan, karena ada janji bertemu dengan Smith.
David memasuki sebuah coffe shop tempat dirinya dan Smith berjanji, untuk bertemu sore itu. Suara lonceng tersengar saat David membuka pintu cafe, mengundang kedatangan seorang pramusaji, yang menyambutnya, dan mempersilahkan dirinya untuk memilih tempat.
Diedarkannya pandangan berkeliling, hingga matanya menangkap sosok Smith di salah satu meja, di sudut ruangan. David melangkah mendekati Smith, yang disambut oleh pria itu. Mereka berdua pun duduk setelah berjabatan tangan.
“Well, kau mau minum apa, Dave?” Smith bertanya, saat seorang pelayan membawakan buku menu dan mencatat pesanan mereka.
“Americano, No sugar!” ucapnya, dan langsung di catat oleh si pelayan, yang segera berlalu setelah membungkuk hormat.
“Ternyata, kau orang yang sederhana.” Ucap Smith berbasa-basi. David hanya tertawa mendengar ucapan Smith.
“Jadi, apa yang ingin kau katakan?” tanya David langsung pada inti permasalahan.
“Bagaimana keadaan gadis itu? Kita sudah kehabisan waktu! Sidang akan digelar akhir pekan ini, dan jika Hanna tidak bisa memberikan bantahan atau kesaksian di pengadilan, maka dia akan dinyatakan bersalah!” Smith terdengar sedikit frustasi.
“sepertinya, dia tidak akan bisa bersaksi, maaf!” David, merasa bersalah karena tidak bisa banyak membantu.
“Traumanya tidak parah, hanya saja dia masih syok, dan sulit untuk membuka diri terhadap orang yang tidak dikenalnya.”
“Kurasa, itu wajar” Smith menginterupsi ucapan David.
“Itu memang wajar. Bahkan aku kagum akan ketegaran anak itu menghadapi masalahnya. Kurasa, sikap menutup diri dari lingkungan dan orang luar itu, dilakukannya sebagai perisai untuk melindungi dirinya. David melanjutkan uraiannya.
Percakapan mereka terjeda, saat pelayan tadi datang mengantarkan pesanan. Smith langsung membayar, dan memberikan tip pada pelayan itu, yang mengangguk dengan senyum lebar.
“Apakah itu berarti, pelaku juga mencoba menyerang Hanna?” tanya Smith, penuh rasa penasaran, sesaat setelah si pelayan pergi.
“Kurasa begitu! Sikapnya saat di dekati secara tiba-tiba, atau saat dia merasaaan gerakan yang spontan atau refleks, cukup membuktikan, gadis itu melakukan kontak fisik dengan pelaku.”
“Jadi begitu, rupanya!” Smith tampak manggut-manggut mendegar penjelasan David.
“Kenapa?” tanya David, melihat sikap Smith, yang seolah mendapat satu pencerahan.
“Awalnya, kukira gadis itu di sembunyikan oleh orang tuanya. Dia keluar dari persembunyian setelah pelaku pergi, dan mengambil samurai yang berlumuran darah, lalu terjatuh dan pingsan.” Smith menjelaskan penilaiannya tentang reka peristiwa yang terjadi.
“Tidak! Dia melihat pelaku membunuh ayahnya!”
“Apa! Maksudmu, Hanna melihat pelaku nya? Kenapa kau tidak mengatakannya, padaku?” Smith berang, dan menggeram. Merasa kesal oleh sikap David.
“Aku kesini, salah satunya untuk tujuan itu,Smith! Lagipula, aku baru saja mendapatkannya beberapa jam yang lalu, sebelum datang kemari” David merogoh sakunya, dan menyodorkan ponselnya kepada Smith.
“Apa ini, bisa dijadikan bukti?” David bertanya.
Smith lalu mendengarkan rekaman audio, yang di buat David tadi dengan bersemangat. Hanya sebentar, raut wajah itu kembali kusut, merasa tidak puas dengan apa yang baru saja di dengarnya.
“Itu, tidak cukup!” serunya penuh penyesalan.
“Apa kau tidak bisa melakukan sesuatu? Kau punya pangkat tinggi di kesatuan, dan namamu terkenal sebagai polisi yang handal. Kau sudah mengungkap banyak kasus!”
“Tidak! Aku sudah berhenti!”
“Apa? Tapi kenapa?
“Aku tidak mau mengotori, seragam yang kupakai, itu saja! Lagipula, jika tidak bisa berbuat apa-apa, seragam itu juga tidak berharga, bukan?” David tersenyum mendengar perkataan pria di depannya itu. Ternyata benar, yang dikatakan orang-orang tentang kehebatan seorang Smith.
“Apa boleh buat, kita jalankan rencana awal!” ucap David pasrah, di iringi anggukan Smith.