Bab.1
Memang benar kalau Central Intelligence Agency (CIA) milik Amerika merupakan agen rahasia nomer satu terbaik di dunia namun FSB adalah agen intelijen Rusia nomer dua terbaik di dunia . pengamanan di Federasi Rusia dan merupakan penerus dari agen intelijen KGB milik Uni Soviet dulu. Badan intelijen ini dibentuk pada 1995 dan fungsinya adalah mencari informasi, melawan terorisme, serta memperkuat pertahanan dan keamanan negara. Badan intelijen ini setidaknya memiliki 250 ribu personel termasuk agen yang melakukan penyamaran, pegawai rahasia, dan mata-mata luar negeri.
Siapa yang tidak tahu kalau Intelijen asing yang lebih dikenal sebagai Akademi SVR. Semua orang pasti tahu kalau akademi SVR sebelumnya dikenal sebagai Institut Spanduk Merah Yuri Andropov dan Institut Spanduk Merah adalah salah satu akademi spionase utama di Rusia , yang sebelumnya di Uni Soviet . Sekolah tersebut terletak di dekat Moskow , dengan fasilitas utama di utara Chelebityevo dan fasilitas sekunder di Yurlovo. Jangan di tanya bagaimana para intelejen Russia lulusan akademi spionase. Semua pasti berdecak kagum. Seorang pemuda tampan Russia dengan badan tegap , tinggi atletis , kakinya melangkah keluar gedung. Senyum yang menghiasi bibirnya makin memperkuat ketampanan wajahnya.
"Ayah.. aku lulus."
Seru pria tampan itu sembari menghampiri laki tua yang berdiri di halaman gedung megah itu. Bulir air mata bahagia menetes , kebanggaannya sebagai seorang ayah yang melihat putra kesayangannya lulus sebagai salah satu intelijen Russia terbaik. Dengan suara bergetar mengucapkan
" Selamat carlo putraku."
Carlo memeluk ayahnya sembari berkata..
" Mari kita pulang , ayah. Tidak sabar aku ingin menyampaikan berita bahagia ini pada ibu dan Catherine adik perempuan kesayanganku."
"Ya, Carlo. Mari kita pulang sekarang."
Mereka berdua pulang ke rumah dengan mengendarai mobil pick up pengangkut gandum. Di sepanjang perjalanan pulang menuju ke rumah mereka , Carlo yang sedang mengemudi mobil pick up pengangkut gandum, tiba-tiba menoleh ke ayahnya.
"Ayah, tolong rahasiakan pada siapapun kalau aku sekarang intelejen."
Ayahnya mengangguk sembari menoleh ke putranya.
" Ya, pasti ayah rahasiakan, carlo ."
Carlo menghembuskan nafasnya , melemparkan pandangannya ke luar jendela mobil saat melewati area pemakaman.
" Ayah, sudah lama aku tidak ke makam nyonya Samuel Rodriquez."
" tidak ada salahnya kalau sekarang kita mampir sebentar ke makam nyonya Samuel."
Ujar ayahnya , tangannya terulur menunjuk ke arah tepi jalan dekat area pemakaman.
" Parkir mobil di depan sana agar kita tidak jalan jauh ke makam nyonya Samuel."
" Baik, ayah."
Carlo melihat ke kaca spion, tidak ada kendaraan maka Carlo tidak perlu memutar arah . Cukup langsung mobilnya berpindah ke bahu jalan sebelah kanan lalu menepikan mobilnya di depan area pemakaman. Setelah mematikan mesin mobil, Carlo dan ayahnya bergegas turun dari mobil. Mereka berdua berjalan beriringan masuk ke dalam area pemakaman. Langkah kaki mereka berdua berhenti tepat di depan makam nyonya Samuel. Carlo mendekati batu nisan . Tangan kanannya mengusap wajahnya, mulutnya berkata..
" Lama aku tidak mendatangi makammu , nyonya Samuel Rodriquez karena kesibukanku tapi tetap aku tidak pernah bisa melupakan kebaikanmu. Kita tidak ada hubungan darah tapi kamu perempuan baik yang sering menolongku di waktu aku masih kecil."
Ayah Carlo tersenyum , suaranya bergetar ..
"Anak laki kecil ingusan yang dulu sering bermain dengan putrimu , sekarang dia sudah dewasa dan menjadi seorang intelijen tampan , nyonya Samuel."
Carlo menoleh pada ayahnya.
"Nyonya Samuel Rodriquez ini sudah lama meninggal tapi entah kenapa sampai sekarang aku masih merasa sedih kehilangan nyonya kaya yang baik hati ini , ayah."
Ayahnya tersenyum, menghela nafas.
" Karena nyonya Samuel Rodriquez adalah seorang perempuan yang suka menolong dan beliau sudah menganggapmu seperti putranya sendiri, Carlo anakku."
Carlo mengangguk sambil menghampiri ayahnya. Gerimis mulai turun. Carlo menatap batu nisan yang di hadapannya sembari berkata..
" Aku dan ayahku harus pulang , nyonya Samuel Rodriquez. Lain waktu pasti aku kemari lagi. "
Ayahnya memeluk bahu Carlo, mereka berdua berjalan keluar area pemakaman menuju mobil yang di parkir. ayah dan anak itu melanjutkan perjalanan pulang , dalam waktu 15 menit mobil berhenti tepat di depan pekarangan rumah sederhana. Seorang wanita cantik separuh baya bergegas keluar rumah menyongsong kedatangan mereka berdua. Carlo keluar dari mobil , langsung berlari sambil berteriak kegirangan.
"Ibu, aku merindukanmu. Bayanganmu selalu saja menari di pelupuk mataku , Bu."
Ibunya tertawa sambil membalas pelukan putra sulungnya.
" Hari ini ibu amat bahagia bisa memelukmu lagi. Ayo masuk , aku sudah masak makanan kesukaanmu , Carlo ."
Carlo bersama ibunya masuk ke dalam rumah , di susul ayahnya . Carlo melayangkan pandangannya ke seisi rumah sambil berteriak..
"Catherine.. Catherine.. aku pulang."
" Catherine adikmu belum pulang kerja , Carlo."
Carlo membalikkan badan sambil mengerutkan dahinya.
"Belum pulang kerja ?. Apa kerjanya Catherine, Bu.?"
"Catherine bekerja merawat orang tua, Carlo ".
Pemuda tampan rupawan Russia itu menarik kursi lalu duduk menghadap meja makan yang penuh hidangan makanan. Dia tertunduk lesu sembari berkata...
"Ayah ibu ,. bagaimana aku bisa menyantap hidangan makanan selezat ini jika Catherine adik perempuan kesayanganku tidak ada .?"
Ibunya menarik nafas dalam - dalam, belum sempat ibunya membalas ucapan putranya. Terdengar suara teriakan di luar rumah.
"Ayah ibu , aku pulang. Apakah kakakku yang tampan sudah datang , Bu.?"
Carlo mendekatkan jari telunjuk ke mulutnya..
"sstttt.... Aku mau bersembunyi. Jangan katakan kalau aku sudah datang.!"
Orang tua mereka hanya melongo melihat tingkah anaknya , Carlo bergegas bangkit dari kursinya lalu menyelinap di balik pintu ruang makan. Catherine membuka pintu ruang tamu sambil menoleh ke kanan kiri.
"Mana kakakku.?"
Pertanyaan Catherine hanya di tanggapi senyuman di bibir kedua orang tuanya. Gadis imut itu memiringkan kepalanya..
"Bukankah tadi ayah menjemput kakakku .?. Aku merindukan kakakku. Kenapa ayah ibu hanya tersenyum.?"
Catherine melepaskan tali tas di bahunya. Kepalanya melongok ke meja makan , bibirnya bergumam..
"Ibu sudah memasak makanan lezat sebanyak ini tapi kakakku tak pulang. Lebih baik aku sekarang pergi menjemput kakakku. Tolong ayah ibu jangan mencegahku pergi menjemput kakakku."
Gadis itu membalikkan badannya, melangkah ke luar rumah. Carlo langsung keluar dari persembunyian sambil berkata...
"Mari kita makan, aku sudah lapar."
Carlo bersama ayah ibunya duduk sambil tertawa, sedangkan Catherine yang masih berdiri di luar pintu rumah langsung Ng terhenyak mendengar suara dari dalam rumah. Catherine kembali masuk ke dalam rumah menerobos ke ruang makan. Matanya yang indah terbelalak kaget, mulutnya berteriak..
"Kakaakkk.... "
Catherine kari menerjang Carlo yang tertawa terbahak-bahak.
"Hampir saja aku menjemputmu ternyata kakak sembunyi di dalam rumah. "
Carlo memeluk erat adik perempuan kesayangannya..
" Aku tidak mau makan tanpa adik perempuan kesayanganku."
Ibu mereka mulai meletakkan kentang kukus di atas piring.
"Sekarang kita makan ya . Ayah kalian sudah menunggu kita untuk makan bersama."
Mereka mulai makan bersama. Inilah indahnya kebersamaan keluarga Russia, makan bersama keluarga. Selesai makan, saling bertukar cerita. Carlo dan Catherine adalah kakak beradik yang beda usianya 5 tahun.
Bab.2
Carlo bersama Catherine adik perempuannya juga kedua orang tua mereka tinggal di Moscow ibu kota Rusia sekaligus pusat politik, ekonomi, budaya, dan sains utama di negara tersebut. Moskow adalah kota berpenduduk terbanyak di Rusia dan Eropa serta menjadi kawasan urban terbesar ke-6 di dunia.Moskow memiliki penduduk sebesar 13 juta jiwa. Semenjak wilayah kota ini diperluas ke arah barat daya ke kawasan Oblast Moskow, wilayahnya bertambah luas 2,5 kali lipat, dari 1.000 km2 menjadi 2.500 km2, dengan tambahan penduduk lebih dari 230.000 orang., Moskow merupakan kota yang paling banyak dihuni oleh orang terkaya di dunia. Carlo mendapat libur sebulan yang memang sengaja di habiskan bersama keluarganya. Setelah masa liburannya habis, lang
sung dia di rekrut kerja sebagai intelijen.
___
Setelah sarapan pagi, Catherine bergegas pergi ke rumah di ujung jalan. Gadis cantik Russia itu menaiki sepedanya sambil melambaikan tangan..
" Aku pergi dulu ya.."
Carlo membalas lambaian tangan adik perempuannya sembari berteriak...
"Biasakan menelpon jika pulangmu terlambat. Bersepedalah di tepi jalan, Catherine."
Catherine mengacungkan ibu jarinya. Carlo menatap punggung adiknya dari kejauhan.
"Carlo , kemarilah sebentar."
"Ya, ayah."
Carlo menghampiri kedua orang tuanya yang duduk di teras depan rumah. Ibunya tersenyum ramah ,
" Apa benar kamu di rekrut kerja , Carlo .?"
" Benar sekali, bu."
Ayahnya pindah duduk di dekat Carlo. Beliau menepuk bahu anak lakinya sembari berkata...
" Carlo, kamu sekarang sudah menjadi seorang pemuda yang tampan dan cerdas. Aku dan ibumu bangga karena kamu sekarang sudah menjadi intelijen. Ingat, Carlo.. kamu harus jaga sikap , jaga bicara, jaga dirimu."
Carlo menoleh ke kanan, menatap wajah ayahnya yang tersenyum . Beliau melanjutkan bicaranya..
" Kamu harus dengan baik dan disiplin untuk memulai pekerjaanmu . Kredibilitas kerjamu itu nanti menjadi Point penting untuk meraih kesuksesanmu , Carlo anakku."
Ibunya langsung memeluk bahu Carlo.
"Tidak terasa waktu berjalan dengan cepat. Sepertinya ibu baru kemarin menimang bayi laki yang lucu dan sekarang sudah menjadi pemuda yang tampan , baik dan pintar. Ibu sangat menyayangimu, Carlo anakku."
Carlo menarik nafas dalam-dalam, kepalanya di miringkan ke bahu ibunya. Dirasakan ketulusan kasih sayang ibunya yang amat sangat tidak ternilai harganya. Dengan lemah lembut ibunya pun berkata..
"Ibu tahu pasti banyak gadis yang menyukaimu dan jangan pernah mempermainkan mereka karena itu bisa merusak dirimu dan bisa menghancurkan hidupmu juga karirmu. Jika memang kamu serius mencintai seorang gadis dan dia pun serius mencintaimu maka kamu harus mengenalkan gadis itu padaku dan ayahmu."
Carlo mengangkat wajahnya, di tatapnya mata ibunya yang berlumuran kasih sayang. Dengan lugas di jawabnya..
"Aku belum menemukan gadis yang aku cintai karena aku fokus memulai pekerjaanku , bu."
Ibunya mengangguk. Carlo menatap wajah kedua orang tuanya secara bergantian , dengan santun ia pun berkata..
" Selama ini hanya ayah ibu dan Catherine yang tahu kalau aku intelijen . Tolong jangan beritahu pada siapapun. "
Ibunya langsung menjawab..
" Itu sudah pasti, anakku kami bertiga pasti selalu menjaga privasimu."
Ayah menepuk pundak Carlo.
" Apa boleh ayah membantumu menyiapkan barang mu yang hendak kau bawa pergi.?"
"Dengan senang hati, aku mau ayah ibu membantuku menyiapkan barang yang harus kubawa pergi."
Mereka bertiga pun bangkit dari kursi lalu masuk ke dalam rumah. Tidak terasa sudah jam sebelas siang. Ibu menyiapkan makan siang. Carlo juga sudah selesai menyiapkan barang bawaannya. Terdengar suara ketukan di pintu depan. Ayahnya carlo langsung membuka pintu , tampak 2 orang pria berdiri sambil tersenyum ramah.
" Selamat siang, apa benar ini rumah Carlo Bandarez .?"
Ayahnya Carlo tersenyum sambil menjawab..
" Ya benar , silahkan masuk."
Kedua orang pria itu masuk ke ruang tamu, ayah ya Carlo berteriak...
" Carlo, ada 2 tamu mencarimu. Cepatlah kemari .!"
Carlo dan ibunya bergegas ke ruang tamu. Carlo memeluk bahu kedua orang tuanya sembari berkata..
" Kenalkan ini kedua orang tuaku ."
Kedua pria itu tersenyum ramah dan mengangguk . Carlo pun mengenalkan kedua tamu itu kepada ayah ibunya.
"Kenalkan itu Alex dan Sebastian. Mereka berdua kakak beradik sama-sama intelejen."
Alex mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
" Saya Alex dan itu Sebastian adik saya."
Ayahnya Carlo menepuk bahu Sebastian dan Alex...
"Apa kalian berdua sudah beristri.?"
Alex mengangguk.
" Saya sudah setahun menikah dan baru sekarang istri saya hamil 6 bulan. Sebastian adik saya belum menikah."
Ibunya Carlo menyambar secarik kertas dan bolpen di atas meja telpon.
" Alex, tolong tulis nomer telpon istrimu dan alamat rumahnya. Biarlah saya dan suami saya berkunjung ke istrimu. "
Semua terperangah melihat ibunya Carlo yang dengan santainya meneruskan bicaranya...
"Istri hamil anak pertama ditinggal suaminya pergi tugas pasti dia sedih, jika saya menemuinya mengajaknya berbincang-bincang pasti hatinya bahagia."
Alex dan Sebastian saling beradu pandang.
Ibunya Carlo tersenyum..
"Alex anggaplah saya seperti ibumu sendiri. Jika istrimu nanti melahirkan, saya berusaha ada di dekatnya jika kamu belum pulang . "
Alex berdiri memeluk ibunya Carlo.
" Anda benar-benar sangat baik hati, saya harap istri saya nanti tidak merepotkan anda , Bu."
Dengan keibuan ibunya Carlo menjawab..
"Tentu saja saya sama sekali tidak merasa di repotkan. "
Alex menulis nomer telpon dan alamat rumah istrinya. Terdengar suara sepeda berdenyit, tak lama Catherine berlari masuk rumah langsung memeluk Carlo. Nafasnya terengah - engah tapi masih saja berkata ..
"Kakak mau pergi sekarang. ?. Jangan lama-lama perginya. Janji ya , kak.!"
Sebastian dan Alex melongo melihat ada seorang gadis lari masuk ke dalam rumah dan memeluk Carlo yang tertawa.
"Kenapa hari ini cepat sekali pulangmu , Catherine .?"
Gadis itu menggoyangkan kepalanya, rambutnya yang terikat pun ikut bergerak ke kanan kiri.
"Hari ini majikanku dibawa pergi anaknya dan besok aku tidak bekerja, kak."
Carlo mengelus-elus kepala Catherine.
"Kamu bisa berdiam di rumah , selama kakak pergi tugas."
Gadis itu menggeleng sambil menatap kakaknya.
" Tidak, kakak. Besok pagi jam 8 aku mau ke toko membeli keranjang baru buat sepedaku dan mencari pekerjaan ."
Tak sengaja Carlo melihat Sebastian dan Alex yang masih saja melongo. Buru-buru Carlo mengenalkan adik perempuannya..
"Sebastian , Alex... Kenalkan ini Catherine adik perempuanku. Usianya masih 18 tahun, dia lulus SMA dan kerjanya merawat orang tua lanjut usia."
Catherine sontak menoleh melihat kedua teman kakaknya. Ibu langsung memegang lengan Catherine..
"Ada tamu tapi kamu lari masuk ke dalam rumah. Ayo bantu ibu menyiapkan makan siang."
"Ya, Bu."
Catherine dan ibunya melangkah masuk ke dapur. Ayahnya Carlo menatap Alex dan Sebastian..
" Itu tadi Catherine adiknya Carlo. Dia sangat manja sekali pada kakaknya karena beda usia 5 tahun."
Sebastian menyahut..
"
Bab.3
Sebastian menyahut..
"Carlo tidak pernah bercerita jika mempunyai seorang adik perempuan, kami agak sedikit terkejut karena baru sekarang tahu."
Mereka tertawa renyah. Ibu menghampiri mereka...
" Makan siang sudah siap, mari kita makan ."
Mereka makan siang bersama. Alex yang duduk di hadapan Catherine , mengenalkan diri pada Catherine..
" Catherine. Kenalkan aku Alex teman kakakmu dan yang duduk di sebelahku ini Sebastian adikku."
Catherine melihat Alex, lalu mengangguk.
"Tadi Carlo memberitahuku kalau kamu bekerja merawat orang tua lanjut usia, benarkah Catherine.?"
Sekejap mata langsung berbinar-binar mata gadis cantik Russia itu. Catherine menjawab dengan riang sekali...
" Ya benar sekali , alex."
Alex memasukkan potongan wortel ke dalam mulutnya , lalu melontarkan pertanyaan lagi...
"Apa kamu tidak kuliah , Catherine.?"
Gadis Russia itu menggeleng, dengan polosnya menjawab..
"Aku tidak mau kuliah., Alex."
Alex mengernyitkan dahinya.
"Tidak mau kuliah. ?. Kenapa.?"
Catherine tertawa lepas . Kalimat jujur meluncur dari mulutnya..
"Aku lebih suka bekerja merawat orang tua yang lanjut usia. Itu amat sangat menyenangkan sekali."
Alex mengunyah potongan kentang lalu menatap Carlo.
"Carlo. Aku tidak punya adik perempuan tapi kamu punya adik perempuan yang sopan dan baik."
Carlo tersenyum sambil menjawab ...
" kamu tidak tahu Catherine adikku ini pemarah dan suka sekali protes jika aku lama tidak pulang ke rumah Alex. "
Semua tertawa terbahak - bahak. Alex langsung menatap Catherine dan berkata...
"Catherine, kedua orang tuaku sudah meninggal . Aku tinggal bersama istriku yang sedang hamil 6 bulan dan ibu mertuaku yang usianya 71 tahun."
Semua mata melihat ke Alex yang menghembuskan nafas.
"Catherine, aku sangat sayang pada ibu mertuaku tapi aku juga tidak tega pada istriku yang sedang hamil anak pertama kami tapi dia masih merawat ibunya yang lanjut usia. Apakah kamu bersedia merawat ibu mertuaku.?"
Terbelalak mata Catherine.
" Ya, aku amat sangat bersedia sekali , Alex. Besok setelah mengganti keranjang baru di sepedaku. Aku menemui ibu mertuamu."
Alex tersenyum.
" Terima kasih, catherine. Nanti aku transfer uang untuk keperluan ibu mertuaku dan uang gajimu."
Catherine
" Ya, Alex. Nanti aku tulis di buku semua belanjaan juga kucantumkan nota hasil belanja q sdan kalau ada sisa uang aku kembalikan padamu."
Belum sempat Alex membalas perkataan Catherine , langsung Sebastian bertanya..
"Catherine, apa kamu sudah punya pacar .?"
Carlo langsung tersedak dan batuk - batuk , mendengar pertanyaan Sebastian pada Catherine adik perempuan kesayangannya. Catherine menggeleng...
" Tidak , aku tidak punya pacar , Sebastian."
Sebastian menatap mata indah Catherine , sembari berkata..
" Lebih baik kamu jangan punya pacar dulu, Catherine. Karena ada teman kakakmu yang menyukaimu dan mau menjadi pacarmu."
Carlo makin tersedak , batuk-batuk. Semua yang sedang makan siang memandang Sebastian teman Carlo.
Catherine langsung bertanya..
"Aku tidak pernah tahu kalau ada teman kakakku yang menyukaiku karena kakakku tidak pernah memberitahuku. Siapa orang itu , Sebastian.?"
Sebastian menunjuk Carlo yang masih batuk-batuk.
" Berhentilah bertanya, Catherine. Lihat kakakmu terbatuk - batuk mendengar perkataanku."
Semua tertawa , Sebastian menatap Catherine...
" Sekarang teman kakakmu bekerja mengumpulkan uang untuk menikahimu. pokoknya yang penting kamu jangan pacaran dengan laki lain. Tunggu saja teman kakakmu itu melamarmu , Catherine ."
Semua makin tertawa terbahak - bahak. Catherine berdiri dari kursinya. Mengambil salad di dalam kulkas. Sebastian menepuk bahu Carlo..
"Carlo, aku serius. Apakah kamu setuju kalau aku menjadi adik iparmu .?"
Carlo tertawa sambil menunjuk ke arah kedua orang tuanya.
" Tanyalah pada beliau berdua. Jangan tanya padaku , Sebastian."
" Aku belum berani bertanya pada orang tuamu karena aku masih belum mempunyai uang buat melamar dan menikahi adikmu , Carlo. "
Mereka semua makin tertawa mendengar ucapan Sebastian. Alex langsung menoleh pada Sebastian..
"Sebastian, kamu sahabatnya Carlo dan jangan sampai kalian bentrok karena kamu iseng mempermainkan Catherine adik perempuannya Carlo. Apalagi kedua orang tua mereka sangat baik pada kita. "
Sebastian memperhatikan Catherine yang sedang mengambil salad di kulkas , lalu menjawab..
" Iya Alex , aku paham maksudmu dan aku pun tidak mau bentrok dengan Carlo sahabatku. "
Carlo tersenyum lalu bertanya...
"Sebastian , apa kamu serius menyukai Catherine adik perempuan kesayanganku . Bukankah kamu baru pertama kali ini bertemu Catherine.?"
Sebastian menatap wajah Carlo sahabatnya. Serius sekali Carlo menjawab..
" Benar, aku baru tahu kamu mempunyai seorang adik perempuan dan baru bertemu sekarang namun aku menyukainya karena dia gadis polos , baik dan perduli pada orang tua. Di jaman se-modern ini masih ada gadis yang memilih bekerja merawat orang tua lanjut usia. Aku jatuh cinta pada kebaikan bukan pada kecantikannya adikmu, Carlo."
Semua memperhatikan Carlo yang sedang serius berbincang - bincang dengan Sebastian tentang Catherine. Sungguh tenang sikap Carlo tapi menunjukkan beberapa Carlo sangat menyayangi Catherine adik perempuan satu-satunya.
"Sebastian , aku tahu kamu baik . jika kamu serius pada adikku dan adikku pun serius padamu maka aku tidak keberatan, Sebastian. Aku hanya ingin menjaga dan melindunginya."
" Ya, aku memahami sekali maksudmu, carlo."
Catherine datang membawa nampan berisi beberapa mangkuk berisi salad.
" Ini salad buatanku. Aku menerima pesanan makanan Russia."
Alex dan Sebastian terperangah kaget mendengar ucapan Catherine. Sebastian tidak bisa mencegah keinginannya untuk bertanya...
"Kamu menerima pesanan makanan Russia.?. Apa kamu pernah ikut kursus memasak .?. Aku benar-benar tak paham. Tolong jelaskan, Catherine.!"
Gadis cantik Russia itu tertawa lepas , lalu menjelaskan...
" Sebastian, aku tidak pernah ikut sekolah kursus memasak tapi dari kecil aku selalu membantu ibuku memasak, membersihkan rumah , merawat kakek nenekku sampai beliau berdua meninggal."
Sebastian makin tertarik dengan gadis cantik lulusan SMA ternyata sesuai dengan tipe gadis yang di inginkannya.
"Terus apa semua itu bermanfaat bagimu sehingga kamu tidak ingin kuliah , Catherine.?"
Dengan mata berbinar-binar makin menonjolkan kecantikan wajahnya, semangat sekali Catherine menjawab pertanyaan Sebastian yang mulai menyukainya.
"Sebastian, buatku kuliah itu membosankan dan membutuhkan biaya yang besar , belum lagi dengan mengerjakan setumpuk tugas kuliah yang membosankan dan harus adaptasi dengan banyak teman kuliah bahkan harus sejalan dengan banyak orang yang belum tentu cocok denganku. Harus berpura-pura cocok dengan mereka. Aku tidak suka itu , Sebastian."
Semua makin tertarik dengan ungkapan jujur gadis sepolos Catherine. Sebastian makin penasaran ingin tahu tentang diri Catherine dan mulutnya tak sanggup dicegah lagi untuk bertanya pada gadis yang di sukainya.
"Ok, sekarang aku tahu alasanmu yang menyebabkan kamu tidak mau kuliah. Aku hanya tidak paham tentang pekerjaanmu, Catherine. ?"
Dengan sigap Catherine menjawab.
"Pekerjaanku itu menyenangkan sekali dan menghasilkan banyak uang bahkan aku sekarang bisa tiap bulan memberi uang pada kedua orang tuaku, Sebastian."
Mereka menyimak jawaban jujur Catherine.
Sebastian pun makin antusias bertanya..
"Benarkah, Catherine.?. Apa buktinya.?"
Catherine membelalakkan kedua matanya , sambil antusias menjawab..
"Kamu mau tahu buktinya, Sebastian.?. Tunggu sebentar ya.!"