Jam menunjukkan pukul 10.00 pagi, biasanya penghuni kos berkumpul di ruang tamu, namun kini tidak ada satupun di antara mereka. Rasa penasaran menyeruak dalam diri, dan akhirnya aku segera menelpon Mbak Lala.
"Tut...tut..."
"Hallo, Mbak?"
"Hallo, Dek. Ada apa?" jawab Mba Lala.
"Lagi di mana, Mbak?" tanyaku.
"Aku di kos, kenapa?" jawabnya.
Aku terdiam sejenak, mencoba merangkai kata demi kata. Mengapa Mbak Lala berbohong kepadaku?
Mungkinkah dia belum tahu bahwa aku kembali lebih cepat dari rencana? Aku mengumpulkan keberanian untuk melanjutkan pembicaraan.
"Tapi, kenapa tidak ada penghuni lain di sini, Mbak?"
"A...pa... Kamu sudah pulang? Bukannya masih ada tiga hari lagi sebelum kontrakmu selesai?" Suaranya berubah, lebih berat dan tampak gelisah.
"Itu tidak penting, yang lebih penting kenapa Mbak bohong?" tanyaku.
"Mbak segera ke sana! Nanti Mbak jelaskan." Jawabnya.
Seribu tanya menggelayut di kepala. Ada apa sebenarnya? Hatiku terasa berdebar, menanti penjelasan yang akan mengurai benang kusut yang terjadi di sini. Aku takut akan kebenaran yang sedang bersembunyi di balik kesunyian pagi ini.
Tanpa menjawabnya, aku segera mematikan teleponku. Sepertinya aku ketinggalan peristiwa penting. Sambil menunggu kedatangannya, aku kembali keluar untuk menemani Kak Anti dan Valen, sahabatku yang masih duduk di taman sambil memperhatikan sekeliling kompleks ini.
"Bro, tangan lu beneran terkilir?" tanyaku dengan nada prihatin.
"Iya nih, bukan pertama kali sih. Biasanya kalau lagi di kampung nenek, sekali ditiup langsung lurus aja," jelas Valen sambil meringis kesakitan.
Sebenarnya, aku masih merasakan sakit di sekujur tubuhku. Namun, aku berusaha tegar agar Kak Anti tidak terlalu khawatir.
"Kita ke rumah sakit sekarang," kataku, berubah pikiran.
"Masih bisa nyetir, kan?" tanyaku lagi.
"Bisa saja. Kalau begitu, kita berangkat sekarang juga. Takutnya nanti susah baliknya," jawab Valen.
Sebelum berangkat, aku sempat mengirimkan pesan singkat ke Mbak Lala, namun tak ada balasan darinya. Lima belas menit kemudian, akhirnya kami sampai di rumah sakit umum di kota ini. Karena Valen termasuk pasien darurat, begitu tiba di depan pintu rumah sakit, aku langsung berlari ke petugas kesehatan.
Tak berapa lama, Valen sudah ditangani oleh tim medis. Aku sebenarnya enggan mendapatkan perawatan di rumah sakit ini, namun Kak Anti memintaku untuk segera diobati di sini saja. Sekitar satu jam kemudian, aku keluar dengan beberapa perban yang hampir memenuhi wajahku. Sementara itu, Kak Anti masih tetap duduk sambil asyik mengutak-atik ponselnya.
"Sok sibuk, padahal nggak punya pacar," celetukku ketika berdiri di sampingnya.
"Sirik aja deh jadi orang," sahutnya dengan wajah tengil.
Tiba-tiba, dalam lamunan, aku melihat bayangan Muti dan si duo kembar di kejauhan. Rasa penasaran menyergap, lantas aku menarik lengan Kakakku untuk mengikutiku. "Mau kemana?" tanyanya.
"Ikuti saja dulu," jawabku sambil menariknya perlahan.
Awalnya, mereka seakan tidak mengenalku, jadi aku sedikit iseng bermain peran dengan mereka.
"Pagi, Tante. Bolehkah saya bertanya?" ucapku dengan tampang polos.
Meskipun ekspresi wajahku terlihat biasa saja, namun dalam hati, aku berusaha menahan tawa karena melihat wajah Muti yang langsung geram saat aku memanggilnya
"Tante".
"Apaan?" balas Muti ketus.
Saat ini, tanganku masih menggenggam lengan Anti, entah dia nyaman atau tidak, tetapi dia tidak berusaha melepaskannya.
"1 jam berapa ya, Tante?" tanyaku singkat, mencoba memancing reaksi mereka.
Mereka tampak bingung, mengkerutkan dahinya, namun aku tak tahu apa yang mereka pikirkan. Biasanya, mereka sudah terbiasa dengan pertanyaan seperti itu.
"Cukiii, apa penampilan aku terlihat seperti wanita sewaan?" ujar Muti kesal.
"Santai saja, Mbak," protes kak Anti tiba-tiba.
"Apa? Kamu mau belain cowokmu itu, ya? Ajarin dia tata krama dong, ini rumah sakit, bukan tempat umum," timpal Muti dengan langkah mendekat, nyaris menyentuh wajah kami.
Suasana semakin tegang, percikan emosi dan perselisihan mulai meletup-letup, seolah tak ada jalan damai dalam pertengkaran ini.
Aku yang mulai melihat suasana semakin tidak mendukung, jadi aku mengakhiri keisenganku.
"Tante Muti, Mbak Pingka, dan Pingki," celetukku.
Sejenak Muti keheranan menatapku, "Kamu siapa? Kenapa kamu mengenalku?" tanyanya heran.
"Apakah Tante kenal Alex?" tanyaku dengan harapan mereka langsung bisa menebakku.
" Alex, jadi kamu Alex ? Aku ngambek sama kamu! Masa di usia muda dan cantik ini, kamu panggil aku Tante?!" keluhnya sambil memasang wajah manjanya, yang membuatku tertawa.
"Hehehe, maaf, maaf. Jadi, kalian enggak kangen sama aku?" tanyaku sambil berlagak pede.
"Enggak!" jawab mereka bertiga kompak, namun tak lama kemudian mereka berebutan untuk memelukku. Tiba-tiba Anti terlihat bingung dan tersingkir sejenak.
Anti ialah kakak kandungku, dan memiliki nama lengkap Risdayanti. Sebenarnya kebanyakan orang-orang memanggilnya Risda, namun aku lebih memilih memanggilnya Anti.
"Kalau mau peluk, antri dong. Enggak enak nih dilihatin orang," protesku hanya sekadar mengejek.
Mereka pun melepaskan pelukannya dan Kak Anti langsung mengalihkan perhatiannya kepadaku.
"Lex, itu siapa? Pacar baru kamu?" tanya Pingki sambil melirik Kak Anti.
"Itu dia...," ucapku yang terpotong.
"Saya Risdayanti, Mbak. Teman kecil Alex waktu di kampung," jawab kak Anti cepat sambil tersenyum ramah.
Namun, entah mengapa dia tak mampu mengungkapkan secara terus terang bahwa dia adalah kakak kandungku. Padahal aku tak memiliki masalah bila mereka mengetahui kenyataan itu. Tapi, demi mengikuti suasana pembicaraan kami, aku ikuti saja alurnya.
"Oh, iya! Perkenalkan, aku Mutiara, dia Pingki dan Pingka," jawab Muti sambil memperkenalkan si kembar sekaligus.
"Lex, kamu nggak ketemu Mbak Lala? Tadi dia ke kosan nyusul kamu, loh," tanya Pingka.
"Sebenarnya, tadi, aku berniat menunggunya. Namun, ada temanku yang sedang dalam keadaan darurat. Aku harus segera membawanya kerumah sakit," jawabku.
"Habis berkelahi lagi pastinya kalian! Lihat saja mukanya sudah seperti mumi," celetuk Muti menebak.
"Hehe, hanya melakukan perlawanan saja kok," jawabku santai.
Tiba-tiba teringat sesuatu, aku bertanya, "Oh ya, lupa! Kalian ke sini jengukin siapa sih?"
Tepat saat itu, terdengar langkah kaki di belakangku. Dengan spontan, aku berbalik dan ternyata Mbak Lala dengan langkah tergopoh-gopoh mendekatiku.
"Ni anak nggak sabaran am...," ucapannya terpotong ketika ia sudah berada di depanku. Wajahnya berubah seketika, begitu melihatku.
"Kamu kenapa, Dek? Habis berantem lagi?" tanyanya penuh kekhawatiran.
"Husstt, itu nggak penting, Mbak. Yang pengin aku tanyain sekarang, kalian semua kesini jengukin siapa, sih?" tanyaku dengan nada menekan.
"Rina, Dek. Rina udah ditemukan. Tapi keadaannya masih koma sampai saat ini," ujar Mbak Lala, kemudian langsung duduk di kursi besi yang disiapkan untuk setiap penjenguk.
Degggghhhh...
Sesaat, detak jantungku seakan berhenti seketika mendengar ucapan Mbak Lala. Entah mengapa, saat mendengar kata 'koma', tubuhku langsung lemah tak berdaya. Aku tak mampu menahan kesedihan yang melanda, perlahan air mataku tercipta dan mulai menetes di sela-sela mataku.
Untungnya Kak Anti, yang selalu mengerti dan menjadi panutan bagiku, orang yang paling pengertian dan peka, meski belum melihat ekspresi wajahku, ia seakan sudah mengetahui apa yang kurasakan.
Saat ini, Kak Anti mengelus punggungku dengan tangannya yang melingkar di lenganku. Di seberang kami, Mbak Lala memandangi kami, mata sempit namun tanpa protes atau komentar apa pun.
"Rina sudah koma selama 2 hari ini, Lex. Sebenarnya dia bisa sembuh secepatnya, asalkan mendapatkan donor ginjal sesegera mungkin," jelas Mbak Lala tanpa menatapku.
Kemudian, aku berkata dengan suara bergetar, "Jadi kalian hanya bisa diam di sini menunggu Rina menghembuskan nafas terakhir? Sungguh tega sekali kalian!"
Mereka terdiam, bagai anak yang tercemar oleh cemooh orang tuanya.
"Dasar tak punya hati, kalian," sambungku dengan air mata yang mulai menetes. Mbak Lala menyeka air matanya, lalu menjelaskan,
"Dek, kita sudah berusaha mencari donor ginjal untuk Rina, tapi hasilnya nihil. Mencari donor ginjal bukanlah hal yang mudah, harus memenuhi beberapa syarat. Dan sejujurnya, kami berharap kamu lah yang bisa melakukan itu." Tampak jelas ekspresi harap di wajah Mbak Lala, ketika dia akhirnya menatapku langsung.
Mba Lala kini dia menatap ku dengan mata memerah karena Tangisannya, padahal semenit yang lalu tidak ada air mata, benar wanita sangat misterius bagiku, dia mampu meluluhkan hatiku yang tadinya bergejolak kini berubah berganti sejuk.
"Terus, tunggu apa lagi, ayo!" ucapku tanpa berpikir panjang.
Saat Mba Lala berdiri dan hendak kuturuti langkahnya, tiba-tiba...
"Aku nggak setuju!" seru Kak Anti mendadak.
"Aku nggak setuju kalau adekku harus mendonorkan ginjalnya," tambahnya.
"Dek, Rina itu siapa? Kenapa kamu mau melakukan itu? Dia bukan keluarga kita. Kamu jangan mau dibodohi oleh wanita-wanita perek di sekitarmu itu. Mereka hanya memanfaatkan dirimu semata!" Kak Anti meneruskan, tatapannya semakin tajam menghujam ke arahku.
"Kak..." panggilku, berusaha menenangkan hatinya yang sedang emosi.
"Diam! Pikirkan matang-matang kembali, Dek. Resiko pasca donor ginjal pasti akan mempengaruhi kesehatanmu. Tidak menutup kemungkinan kamu nggak akan bisa memiliki tubuh yang fit seperti sebelumnya," jelas Kak Anti, kali ini suaranya sedikit merendah, namun isi hatinya tetap kencang melawan keputusanku.
Memang benar apa yang dikatakan kakakku saat ini, kesehatanku setelah pasca donor atau transplantasi ginjal memang tak bisa seaktif sebelumnya. Namun entah mengapa, hatiku sangat ingin membantu Rina, walaupun dia bukan siapa-siapa bagiku dan malah adalah wanita pertama yang pernah membuat hatiku terluka.
Sejenak, aku memperhatikan wanita-wanita di depanku yang tak bisa berkata-kata. Tapi sorot mata mereka penuh harapan, seolah berharap banyak dariku. Sementara itu, kak Anti hanya menatapku dengan pandangan sinis. Aku menghela nafas, lalu berkata dengan tegas,
"Aku siap menanggung semua resikonya, Kak. Dan aku mohon Kakak minta maaf ke teman-temanku dan tarik kata-kata hinaan tadi."
Akhirnya, hati dan omonganku sejalan. Kak Anti tampak terdiam sejenak, sebelum akhirnya menjawab, "Baiklah, jika itu sudah menjadi keputusanmu, aku ikhlas. Saya minta maaf kepada kalian semua."
Ia pun segera pergi meninggalkan kami. Namun tiba-tiba, Mba Lala memanggilnya, membuat Kak Anti terhenti langkahnya tanpa menoleh.
"Mbak, jangan pergi. Kita di sini bukan sekedar teman atau rekan, tapi Alex sudah kami anggap sebagai keluarga kami. Tetaplah di sini untuk mendukung pilihannya. Dia pasti butuh dukungan dari kakaknya," ucap Mbak Lala dengan mata berkaca-kaca.
Ketika Kak Anti berbalik, air mata sudah mengalir deras di pipinya. Hatiku seperti terpanggil untuk segera memeluknya. Aku langsung berlari ke arahnya dan memeluk erat tubuhnya.
Mbak Lala, Pingki, Pingka, dan Muti pun ikut memeluk kami berdua. Perasaan campur aduk kala itu—bahagia, haru, terenyuh, namun di sisi lain tubuhku seakan melayang karena merasakan kelembutan dada-dada wanita yang memelukku.
Jujur saja, aku merasakan 'rudal'ku mulai bereaksi sedikit demi sedikit.
"Anjir, bisa-bisanya aku tegang dalam keadaan haru seperti ini," batinku menghardik diri sendiri.
Setelah acara berpelukan yang mengharukan itu, perasaanku menjadi lebih lega. Meski 'rudal'ku masih belum mereda, yang terpenting bagiku saat ini adalah keselamatan Rina.
Setelah berada di sebuah ruangan operasi, rasa ngilu menyergapku ketika beberapa jarum suntik menembus kulitku. Namun, tak lama kemudian tubuhku mati rasa total, tak mampu bergerak sedikit pun—kecuali mataku yang tak bisa tertutup lantaran rasa cemas melanda.
Lima petugas kesehatan mengelilingiku, dua di antaranya wanita dan tiga pria. Sepertinya mereka tak menyadari kalau mataku masih setengah terbuka, meski tampak sayu, namun aku masih bisa melihat dengan jelas. Terlebih, di atas dadaku terpasang lampu yang menyala terang. Pandanganku tertuju pada bagian tubuhku yang mulai dibelah oleh petugas kesehatan. Kulihat daging kenyal tersembul keluar dari belahan yang baru saja mereka bedah. Hati kecilku merasa geli, mual, dan takut sekaligus. Sekarang, rasanya aku ingin melarikan diri dari sini dan mengakhiri semua penderitaan ini. Namun sayangnya, tubuhku tak mampu bergerak sama sekali, terpenjara dalam kebisuan dan ketidakberdayaan yang melanda.
"Anjing! Sadis juga mereka!" Batinku.
Wajahnya terlihat santai tapi tetap serius. Setelah mereka mengangkat daging kenyal itu, aku melihat beberapa tangan merogoh di dalam tubuhku. Terakhir yang kuingat sebelum mataku benar-benar tertutup adalah mereka melakukan jahitan berulang kali sebanyak di tiga lapisan kulitku.
Ketika aku akhirnya sadar 24 jam kemudian, suasana sudah berubah dan tidak menyeramkan seperti sebelumnya. Di ruangan ini, aku ditemani oleh Mba Lala dan Kak Anti yang sepertinya sudah lama menunggu kesadaran kembali padaku.
Wajah mereka tampak lelah dan menahan kantuk, menggambarkan betapa gigih mereka menemani aku sepanjang waktu.
"Ka...kak... Mbaa," ucapku dengan suara serak, putus-putus.
Rasa perih mulai kembali terasa di bagian atas perutku.
"Syukur kamu udah siuman, Dek," ucap Kak Anti dengan semangat, meskipun matanya terlihat sembap.
Aku mencoba menggerakkan tubuhku untuk duduk, namun rasa sakit yang menggelayut di perutku membuatku menyadari bahwa saat ini mungkin bukan waktu yang tepat untuk melakukannya.
"Akkhhh..." pekikku dengan tertahan, merasa kesakitan yang menusuk-nusuk.
"Jangan bergerak dulu. Luka jahitanmu masih basah dan kamu perlu istirahat selama tiga hari. Itupun jika lukanya kering," jelas Mbak Lala dengan nada penuh kekhawatiran.
"Dek, kamu makan dulu, ya. Setelah itu minum obat penahan nyeri yang diberikan petugas," lanjut Kak Anti sambil tersenyum lembut padaku.
Aku mulai makan dengan disuapi oleh Kak Anti. Sendokan pertama masih aman, namun ketika sendokan ketiga, aku kembali merasakan sakit yang amat sangat. Sakitnya terasa lebih parah dibandingkan waktu aku melawan 150 musuhku.
"Udah, Kak... Sakittt..." ucapku sembari memalingkan wajah, sebagai tanda penolakan.
Setelah makan, aku diberikan obat yang jumlahnya banyak serta berwarna-warni, bagaikan pelangi di langit. Kembali, kantuk menyerangku begitu habis meminum obat tersebut
Keesokan harinya, Kak Anti yang menjagaku seorang diri. Mungkin, Mbak Lala sedang menemani Rina. Hari ini, aku sudah tidak merasa terlalu kesakitan, kecuali ketika bergerak.
"Kakak..." panggilku lembut, mencoba mendapatkan perhatiannya yang sedang asyik berkutat dengan ponselnya.
"Hmm, apa?" jawabnya tanpa menatapku.
Aku melihat kesempatan saat tidak ada orang di sekitar, "Cium..." lanjutku dengan suara manja dan tatapan polos.
"Sembuh dulu, baru minta yang aneh-aneh!" Jawab dia ketus, seolah kesabaran mulai menipis.
"Gimana mau sembuh kalau nggak dapet kekuatan?" keluhku, berusaha membujuknya.
"Kak, cepetan, bentar aja!" pintaku sedikit memaksa, melupakan rasa malu yang mulai menyelinap.
Akhirnya, dia berdiri dan menundukkan wajahnya ke arahku, bibirnya dimonyongkan dan mendarat di pipiku dengan lembut, "Mhhhuuuaahhh." Dia mengangkat wajahnya,
"Udah." Namun, rasa penasaran dan keingintahuan masih menggoda, "Nggak ada rasanya, Kak. Harusnya di bibir, janji cuma dua menit," pintaku sambil tersenyum.
"Jangan ngelunjak setelah ini," ujarnya dengan wajah muram, tapi dia tetap mendekatkan bibirnya pada bibirku.
Tak lama, ciuman kami berlangsung panas dan penuh gairah, seperti orang yang kehausan di padang pasir. Entah sejak kapan, tangannya berani merayap ke bagian pribadi, mengeksplore area yang tidak diperbolehkan. Ironis, mengingat dia sendiri yang mengingatkan agar jangan ngelunjak. Dalam semburat rasa senang, terasa pula kerlingan dilema dan rasa berdosa yang mengusik kalbu.
Sentuhan tangan itu sangat terasa, dan perlahan mulai menelusup dari bawah, sementara aku menyadari bahwa saat ini aku mengenakan pakaian yang serupa dengan daster dan di baliknya aku tidak mengenakan apa pun lagi.
Semakin lama, ciuman kami semakin memanas dan kini elusan tangan Kak Anti berubah menjadi gerakan yang semakin intens,
"Kak, boleh aku menyentuh bagian ini?" tanyaku dengan wajah memelas. Namun, Kak Anti sama sekali tidak menunjukkan protes dan malah melanjutkan untuk mengeluarkan gumpalan daging dadanya melewati kancing bajunya.
Saat ini, dia mengenakan kemeja tipis namun lembut, dipadukan dengan celana jeans yang ketat. Padahal di kampung, Kak Anti hanya bisa mengenakan daster saja.
Dan aku yakin pakaian yang dia kenakan selama ini pasti pemberian Tante Siska.
"Cuup...cuup...cuupp," aku memberikan tiga kecupan di sekitar dada Kak Anti, seiring dengan permainan lidahku yang semakin liar di bagian tersebut.
Sementara itu, tangannya semakin gencar melakukan gerakan menggoda, dan sesekali tubuhnya dengan sengaja menekan wajahku agar semakin dekat.
Tapi saat ini, perasaanku mulai memuncak dan ingin segera merasakan kepuasan. Kurang nikmat bagiku jika hanya dengan sentuhan tangan.
"Kak, aku ingin merasakan lebih dari ini," rengekku semakin manja.
"Bagaimana caranya, Dek? Kamu saja belum bisa bergerak," tanyanya.
"Cukup naik di atasku saja, Kak. Cepat saja, takutnya kita ketahuan petugas," jawabku.
"Baiklah, tapi hanya sebentar ya," lanjutnya.
"Iya, iya..." jawabku lagi.
Kak Anti dengan sigap melepaskan celana jeansnya dan diikuti oleh pakaian dalamnya berwarna pink. Sebelum dia mendekatiku, dia mencium bibirku sejenak. Kami pun semakin dekat dan merasakan kehangatan bersama.
Akhirnya berhasil juga, kini rudalku menembus liangnya sampai mentok dan rasanya sesak, seret dan itu juga pasti di rasakan kak anti, ekspresi wajahnya yang meringis sambil memicingkan matanya.
Lama kelamaan liang kenikmatan miliknya mulai menyesuaikan, dinding kenikmatannya terasa berkedut dan perlahan dia mulai bergerak naik turun, sesekali maju mundur, rasa nikmat yang sepertinya baru lagi ku rasakan selama beberapa hari yang lalu, dan entah kenapa kak anti mau saja menuruti nafsuku saat ini, tapi aku tidak munafik, rasa kenikmatan dari Kak anti jauh lebih nikmat di bandingkan wanita wanita yang pernah aku rasakan. Meskipun Tubuhnya tidak sebagus mba Lala tapi liang kenikmatannya senantiasa menjepit rudalku meskipun sudah sangat becek dan lembab.
Ploppp... plooopsss.
Kak anti mulai memejamkan matanya dan tiba tiba saja tanganya bertumpu di dadaku.
"Akkhhhhh kakkkk...sakittt" pekikku ketika bekas operasiku di tindihnya.
Secepat kilat dia berhenti menggerakkan pinggulnya.
"Jadi ngga usah lanjut ? tanyanya.
"Lanjut tapi, balik badan aja, kakak bertumpu di pahaku " jelasku singkat dan dia langsung memutar tubuhnya tanpa melepas rudalku.
"Uhhhhh...." desisku ketika merasakan rudalku di putari 180 derajat celsius.
Dengan posisi ini dengan jelas aku bisa melihat proses keluar masuknya rudalku.
"Uhhhh ahhh... aiiihhhh" desahnya lirih.
"Ahhh dekkk enak banget, kakak dari kemarin kepengen " ucapnya sembari mulai bergerak naik turun, terlihat cairan putih Di bagian pangkal rudalku dan itu pasti cairan pelumas milik kak anti.
Kikuk kikukk..
Meskipun aku begitu bernafsu, namun aku masih bisa mendengar jelas suara decitan ranjang pasien.
"Ouuhhh kakak enakk bangettt kakkkk,,, ouhhhh" desahku sambil tanganku meremas remas pantat bahenolnya.
"Ouhhhh Dekkk....kakak udah keluar"
Ujar kakakku tiba tiba, pinggulnya bergetar hebat, remasan di rudalku seperti di cekik saking rapetnya saat dia mendapatkan puncak kenikmatan pertamanya.
Padahal aku sama sekali belum keluar,
Tapi gerakan kak anti mulai berhenti dan diam di atas tubuhku dan tubuhnya membungkuk seperti memeluk lututku.
Milikku masih terbenam di dalam masih tegang, aku tetap diam dan kak Anti tetap diam dan aku berharap kak Anti melanjutkan setelah ini.
"Permi..." Suara terpotong yang lemah terdengar, disertai dengan jatuhnya papan akrilik yang dipegang erat oleh seseorang.
Dia adalah seorang petugas kesehatan, dengan wajah memerah ketika menyaksikan kelakuan tak senonoh kami. Wanita itu begitu cantik, dengan pipinya yang merah seperti apel, kacamata dan jilbab segitiganya menambah kecantikannya.
Jantungku berdebar kencang, seperti berbalapan, tidak pernah sebelumnya aku merasakan perasaan nafsuan ini, apalagi pada seorang wanita berjilbab. Kesadaranku mulai mendalam bahwa apa yang sedang aku lakukan sangat tidak pantas, walaupun jantungku masih menari-nari. Tubuh wanita itu terlihat kaku, wajahnya memerah. Ia mundur pelan, dengan perasaan bingung dan ketakutan mencampur menjadi satu, hingga terhempas di pintu ruangan ini.
Aku memperhatikan gerakannya dengan pandangan mata sipit, dan sejenak kemudian, aku mengerti maksud kedatangannya ketika ia mengunci pintu dari dalam.
"Apa..yang kalian lakukan?" katanya dengan suara membentak, namun tetap terlihat gugup. Melihat ini, kak Anti terguncang oleh rasa takut, dan mulai beranjak dengan tergesa-gesa dari posisinya, menyadari bahwa situasi telah menjadi sangat rumit.
"Ini bukan tempat untuk melampiaskan nafsu kalian, dan kalian akan menerima hukuman karena telah melanggar aturan," tegas sang suster dengan suara tegas, namun terkesan di paksakan.
Ia kemudian mendekati kami perlahan, menyebabkan Kak Anti perlahan turun dari ranjang pasien tempatku berbaring.
"Saya mohon, jangan lakukan itu, Sus. Saya akan membayarnya jika itu perlu," celetuk Kak Anti dengan nada panik, namun suster itu tidak menggubrisnya, justru semakin mendekati kami, seolah tertarik pada sesuatu