"Belajar yang bener ya? Jangan sampe bolos," laki-laki perawakan jangkung sedang menasehati sang adik yang baru menginjakkan kakinya di masa putih abu-abu.
"Kakak! Kakak kaya orang yang baru kenal aku kemarin deh, padahal kan kakak kenal aku dari orok! Lagian mana mungkin aku bolos," mengerucutkan bibir mungilnya yang berwarna pink baby.
"Yaelah Ra, kakak kan cuma pengen kaya seorang kakak laki-laki yang bijak. Kamu mah ga seru!"
"Gausah banyak nonton drama romantisnya Mom deh, atau sok-sok an ikutin saran Dad buat baca artikel cara menjadi kakak yang baik buat aku. Basi tau," laki-laki itu memutar bola matanya malas.
"Kamu mata-matain kakak?"
"Anara terlalu sibuk buat ngepoin kak Arya,"
"Dah lah, debat sama kakak gaakan ada abisnya. Aku masuk dulu ya!!" Perempuan itu memasuki gerbang sambil sedikit berlari, meninggalkan kakak kesayangannya begitu saja.
****
Pandangannya mengedar keseluruh penjuru koridor utama yang sedang di lewatinya. Ramai, hingga tanpa sengaja ia menabrak seseorang di depannya.
"Um sorry," ucapnya dengan tulus.
"Iya gapapa kok, gue juga tadi jalannya agak lambat,"
"Murid baru juga?" Lanjutnya saat melihat pita biru di tali kuncir Anara. Pihak sekolah menitah seluruh murid baru memakai pita di ikat kuncir dengan warna yang sudah di beritahukan.
"Iya, kamu juga? Tapi kok pita kita warnanya beda? Apa jangan-jangan aku salah beli warna pitanya?" Paniknya saat melihat warna yang berbeda pada pita tali kuncir gadis di depannya yang berwarna hijau.
"Aku anak IPS, mungkin warna pitanya di bedain buat anak IPA dan IPS,"
Anara tersenyum kiku, "kayanya emang kaya gitu,"
Tanpa di sangka-sangka gadis itu mengulurkan tangannya pada Anara. "Kenalin nama gue Ersya permata putri yuasgar," tanpa ragu, Anara membalas uluran tangan itu dan memperkenalkan dirinya. "Aku Anara yusrin nadyaz," senyuman mengembang di sana, menunjukan mata bulan sabit milik Anara juga lesung pipi di sebelah kanannya yang ikut tercetak dengan jelas.
"Teman?"
"Teman!"
Ersya memberikan sebuah kartu yang berbentuk seperti KTP, bedanya di sana tak ada data diri mengenai gadis itu. "Nomor gue ada di sana, kita kekantin bareng oke? Chat gue! Gue udah janjian mau ketemu kakak gue di sana," ucapnya sambil menunjuk kearah koridor lain.
"Um okay, see you again,"
"Ya see you!"
Setelah berpisah dengan Ersya, Anara kembali menyusuri lorong itu untuk mencari kelasnya.
****
Anara duduk di bangku paling depan dari barisan kedua. Terkejut saat tiba-tiba orang lain menempati bangku kosong di sebelahnya. "Hai kenalin nama gue Arsya, nama lo?"
"Anara,"
"Kita teman satu bangku sekarang," Anara hanya tersenyum untuk menanggapinya.
Guru yang masuk adalah guru yang akan menjadi wali kelasnya selama 1 tahun ini. Tak banyak pembahasan, hanya perkenalan dan pembagian organisasi saja. Anara dan Arsya sangat bersyukur karna tak menjabat sebagai apapun, akan sangat merepotkan jika wali kelasnya menunjuk mereka menjadi salah satu pengatur orang-orang di kelas.
Bel istirahat berbunyi, ia menghubungi Ersya yang ternyata sudah berada di kantin duluan. Arsya terlihat sangat antusias saat Anara mengajaknya ke kantin dan mengatakan jika temannya sudah menempatkan meja untuk ketiganya.
"Anara jalannya agak cepetan dong," Arsya terus menarik tangannya sedari keluar dari kelas tadi.
"Sabar dong, langkah aku ga selebar kamu Arsya," Arsya memiliki tubuh yang sedikit lebih tinggi dari Anara, kaki ramping nan panjangnya membuat Arsya mempunyai langkah yang lebih lebar dari Anara.
"Ih nanti kita ngantri buat beli makanannya!" Arsya terus menariknya. Dalam hati Anara kesal sendiri, hingga tanpa sengaja ia melirik kearah segerombolan laki-laki yang sedang meminum-minuman kalengnya, ada juga yang sibuk dengan ponselnya, atau yang hanya menatap kosong pun ada, contohnya seperti laki-laki bermanik biru muda yang kini malah menatapnya. Kontak mata keduanya terputus oleh jarak, mata biru itu menghilang di balik dinding yang ia lewati.
"Lo lama banget," gerutu Ersya pada teman barunya itu.
"Susah masuk kantin tadi Ersya. Oh iya kenalin ini teman sekelas Anara namanya Arsya, nama kalian cuma beda E dan A aja jadi gak susah ngafal nama kalian," Anara tentu sangat antusias.
Mengulurkan tangannya pada Arsya lalu kembali memperkenalkan diri. "Eh bener juga, kenalin gue Ersya permata putri yuasgar,"
"Arsyalla Abimanggala,"
"Simpel banget nama lo,"
"Mungkin orang tuanya gamau ribet Ersya," jawab Anara.
"Ya begitulah," Arsya hanya menanggapi dengan ala kadarnya.
"Btw ini gue mesenin makanannya asal, gapapa kan?"
"Iya gapapa, makasih udah di pesenin," mereka memakan makanannya dalam diam, kebisingan kantin sudah cukup ramai jadi mereka tak ingin menambah suara riuh itu. Suara teriakan gadis-gadis mendominasi saat melihat pesona ketiga laki-laki yang baru memasuki kantin.
"Ih berisik banget," Anara menutup telinganya.
"Idih alay banget sih anjing," Arsya ini toxic syekali ya manteman.
"Aduh kuping gue!!!" Ersya melakukan hal yang sama dengan Anara.
Padahal ketiga laki-laki itu hanya datang ke kantin untuk membeli sekaleng minuman.
"Siapa sih mereka?" Tanya Anara penasaran.
"Anak geng terkenal seantero sekolah. Yang paling depan panglima tempurnya, pemilik tatapan yang paling menusuk juga irit ngomong. Di sebelah kanannya si pedang perak sekolah, yang paling aneh plus kalau ngomong nyelekit banget. Sedangkan di sebelah kirinya, playboy cap kaki sultan andara Rafi ahmad, sekali kedip empat tujuh cewe jatuh hati," jelas Ersya tanpa menatap Anara dan fokus pada makanannya.
"Ersya tau banyak ya?"
"Ga juga sih," Arsya dan Ersya tampak tak senang melihat kealay'an anak-anak perempuan itu saat mereka tak henti-hentinya berghibah tentang laki-laki itu.
****
"Kak Arya kemana sih?! Sok-sok an mau anter jemput sih!!" perempuan itu menggerutu kesal di halte yang tak jauh dari gerbang sekolahnya. Sudah 1 jam ia menunggu kakaknya yang katanya ingin mengantar jemput adiknya di hari pertama masuk SMA. Andai ia tadi menerima ajakkan Arsya untuk pulang bersama.
Dari kejauhan terdengar suara deruman motor sport berwarna hitam yang menghampirinya. Pikir Anara, mungkin hanya lewat. Namun ternyata motor itu malah berhenti tepat di hadapannya.
"Naik," ucapnya di balik helm full face-nya.
"Gausah dan makasih sebelumnya, tapi aku lagi nunggu jemputan,"
"Gausah bawel, udah mau hujan," sempat akan teguh pada pendiriannya, namun seketika runtuh kala suara petir menggema di atas sana.
"Aku ga ngerepotin kan?"
"Ish, naik!" Anara hanya mengangguk dan menaiki motor tersebut. Membelah jalanan kota hujan ini di sore hari ternyata lebih menyenangkan dari pada menghirup udara pagi di sekitar persawahan.
Jalanan tak begitu padat, namun juga tak begitu sepi. Terlihat juga awan yang mulai menghitam hingga menurunkan bulir-bulir air yang di sebut hujan.
Anara tak terusik oleh angin yang seolah menelisik, tak terganggu juga oleh hujan yang mengguyur. Perempuan 16 tahun itu sangat menikmati setiap detiknya. Alih-alih merasa dingin, perempuan itu malah kegirangan karna bisa melihat lembayung yang tiba-tiba hadir di saat hujan rintik, hatinya ter'enyuh saat melihat fenomena tersebut.
Sampailah mereka pada lampu merah. Berhenti tepat pada segerombolan anak-anak berseragam putih abu seperti keduanya. Lelaki itu menatap risih pada mata-mata mereka yang melirik paha mulus penumpangnya.
Mematikan mesin motornya lalu turun dan melepas jaket hitam kulitnya. "Kamu mau ngapain?" Pertanyaan itu tak di gubris oleh laki-laki itu, ia malah fokus memakaikan jaket itu ke pinggang Anara dan menutupi paha mulusnya. Selanjutnya ia melepas seragamnya dan memakaikannya pada tubuh gadis itu yang tercetak jelas akibat hujan.
Terdengar suara tawa besar dari segerombolan anak-anak di sebelahnya. "ETDAH NIH DILAN NAPA NYASAR KE BOGOR DAH?" suara teriakan itu mengudang gelak tawa teman-temannya.
Anara sedikit melihat lelaki yang bersamanya, ternyata dia diam tak berkutik, mungkin hanya memasang wajah datarnya di balik helm full face-nya. Di detik selanjutnya ia membuka helm yang sedari tadi menutupi wajahnya, menyugarkan rambutnya yang lepek lalu merapihkannya sebentar. Gelak tawa gerombolan itu tiba-tiba melenyap bersama angin yang berhembus, mereka berlalu begitu saja padahal lampu belum berubah menjadi hijau.
"Mereka kenapa?" Gadis itu masih tak mengerti akan keadaan sekitar.
"Diemin aja," mereka melanjutkan perjalanan pulang menuju rumah Anara.
"Pegangan, kita ngebut,"
"Gausah kak, Anara gaakan jatuh kok,"
"Ck, kalau kamu terbang nanti aku yang di marahin papa mu,"
"Aku bukan layangan iii ga mungkin terbang,"
"Bawel," kedua tangannya di tarik untuk memeluk pinggangnya. Tentu Anara terkejut, saat ia akan melepas pelukannya laki-laki itu berucap. "Kamu lepas, aku turunin di tengah jalan kaya cabe-cabean. Mau?" Anara langsung menggeleng cepat dan menuruti perkataan laki-laki bermanik biru muda itu.
"Alamat rumah kamu dimana?"
"Jalan permai nomer 59." tanpa bertanya lagi, laki-laki itu langsung melaju ke alamat yang di beritahukan gadisnya.
Keluarga Yusan aryunandyaz di hebohkan oleh kabar putri bungsunya yang pulang diantarkan oleh sosok pangeran bermotor hitam (bukan berkuda putih ya?) Menurut informasi yang di berikan Arin selaku ibu negara di rumah tersebut, ketampanannya di gadang-gadang melebihi ketampanan suaminya tercinta yaitu Yusan dan anak pertamanya yang bernama Arya.
Ibu rumah tangga itu mendadak heboh sendiri saat melihat putrinya yang kaku memeluk pinggang sang pangeran dengan mesra. Bukan tidak mungkin jika Anara langsung di introgasi oleh ibu biologisnya itu.
"Mom... Anara mau ganti baju dulu, takut kena flu," gadis itu merengek pada ibunya yang bertanya posesif pada dirinya hingga tak melihat keadaan anaknya yang basah kuyup akibat hujan.
"Tapi sayang jawab dulu, itu pacar kamu bukan?"
"Bukan Mom..." Arin tak percaya, 16 tahun ia mengenal putri kecilnya. Gadis kaku pecinta buku serta bolu ketan hitam itu hanya berfokus pada impiannya tanpa bertekad untuk memiliki pacar. Katanya, hanya mengganggu jam belajarnya. Namun sekarang? Putrinya malah pulang dengan laki-laki tampan.
Anara langsung melenggang menuju kamar abu-abunya lalu mengguyur tubuh dinginnya dengan air hangat. Kepalanya pening bukan main, apalagi saat ibunya terlalu banyak bertanya padanya tadi. Perempuan itu memutuskan untuk tidur setelah mandi, memasang lagu cukup kencang di kamar kedap suaranya agar tak mendengar perghibahan yang akan mengguncang keluarganya sebentar lagi.
****
"Tuan putriku terchintahhh selamat pagiii," suara milik kakak tunggalnya menggelegar keseluruh rumah saat melihat adik bungsunya menuruni anak tangga dengan seragamnya.
"Kakak niat banget sih bikin gendang telinga Anara pecah pagi-pagi. Rumah kita ini ga selega istana merdeka kak... gausah teriak-teriak kaya tarzan di hutan," ia menatap jengah kakaknya lalu duduk di sebelah Ayahnya.
"Wajar aja baby dia kan waktu bayinya pernah di culik sama kingkong terus di tahan selama 5 tahun. 17 tahun hidup di kota bikin dia frustasi karna ga bisa sebebas di hutan," ucap Yusan sambil mengelus surai hitam Anara dengan sayang.
"Dad....." panggil Arya dengan nada lembut.
"Whyy?" Tentu Yusan menanggapi.
"Fuck you!" Dengan lantang pria itu mengucapkan permusuhan pada ayahnya, mengibarkan bendera peperangan yang berwujud jari tengah dan ia kibarkan tinggi-tinggi di atas meja makan.
"Fuck you too!!" Alih-alih emosi, Yusan malah membalas kibaran bendera itu berupa acungan jari tengah yang sama.
****
"Araaaaaa!" gendang telinganya kembali terguncang akibat teriakan Arsya. Perempuan itu memeluk Anara sayang lalu beralih menggandeng lengan mungilnya.
"Kesambet?"
"Ish kok gitu? Gue kangen banget sama lo,"
"Please deh Arsya gausah belaga alay kaya bocil yang baru pacaran sehari,"
Arsya mengerucutkan bibirnya, "kit ati aku bestie di bilang bochil, padahal kan aku bayikkk," Anara hanya memutar bola matanya malas.
"Eh eh lu bawa apa?" Manik coklat tuanya tertarik menatap paperbag berwarna putih yang di jinjing oleh Anara.
"Seragam sama jaket punya orang,"
"Lo nyediain layanan jahit Ra? Atau beralih profesi jadi tukang laundry?"
"Gue ga mau jelasin, panjang kali lebar kali alas,"
"Kaya rumus volume kotak," Anara hanya terkekeh pelan. Emang beda kalau becanda sama orang pinter mah.
Mereka melanjutkan sisa perjalanan ke kelas dalam diam, karna tak ada topik untuk di bahas. Hingga pada lorong dekat kelas 12 IPS 5 mereka bertemu dengan Ersya yang sedang berjalan sendirian.
"ERSYA! hai," Anara memanggilnya, menyapa Ersya yang langsung berlari kearah keduanya.
"Abis dari mana?" Tanya Arsya saat Ersya di hadapan keduanya.
"Kelas kakak gue,"
"Ouh kalian satu sekolah," ucap Arsya sambil ber'oh ria.
"Iya beda 2 tahun sama gue," Anara dan Arsya hanya mengangguk paham lalu pergi ke kelas bersama.
****
"Lo udah liat guru olahraga belum? Sumpah anjer cakep banget," Anara tak tertarik pada topik pembicaraan Ersya dan Arsya yang sedang berghibah soal guru olahraga yang katanya sangat HOT.
"Gue pengen cepet ketemu... sayang banget jadwal olahraga gue sama Anara di hari kamis,"
"Hahaha yang sabar ya?"
Anara sedang anteng membaca novel 500 halamannya dengan es jeruk yang sesekali ia sedot. Ketiganya kembali di kagetkan oleh suara riuh para siswi atas kedatangan most wanted di sekolah tersebut.
"ABANG!" Arsya mengangkat tangannya tinggi, memanggil salah satu dari ketiga most wanted tersebut.
Mereka menghampiri dan duduk di kursi yang kosong. "Kenapa?" Tanyanya. Arsya ingat kalau katanya cowo ini adalah playboy kelas kakap yang Ersya beritahu kemarin.
"Tadi pas ketemu Ers lupa nanyain something,"
"Apaan?"
"High heels Ers yang warna ungu kemana ya? Kok gaada di tempatnya? Aku udah nanya mama, katanya di bawa Abang sabtu kemarin. Abang bawa kemana?" Bagai di sambar petir, wajah tampan berparas bule itu mendadak pucat.
"Lo kasih ke si Inoia pas ultahnya kemarin," jawab lelaki di sampingnya. Terlihat aneh, bagaimana ia bisa mendengar percakapan keduanya saat telinganya tersumpal aerphone dan kedua matanya fokus pada game.
Kakak Ersya menatap horor pada sahabatnya, bisa-bisanya kejujurannya di pakai di saat yang tidak tepat.
"Um itu Ers nanti Abang beliin lagi yang baru," ucapnya tergagap, takut jika ratu sejagatnya ngamuk dan berakhir menginjak-injak harga diri laki-laki berdarah Norwegia itu di hadapan seluruh siswa-siswi yang berada di kantin.
"Abang!! Itu kan pemberian paman Nico! High heels kesayangan aku! Ga mungkin sama, sama yang baru bang...." Ersya geram bukan main, ia sangat marah pada saudaranya yang selalu mengambil barang-barang dari kamar miliknya.
"Um Ers marahnya nanti di rumah aja ya?" Ersya tak mendengarkan dan masih setia mengomeli kakaknya tanpa henti.
Anara tak tergubris, ia tetap membaca novelnya dengan seksama, tidak peduli akan suara dan keadaan di sekitarnya. Tak menyadari bahwa sepasang bola mata biru sedang memusatkan perhatiannya pada wajah gadis itu.
Menurunkan buku yang di bacanya hingga menyentuh meja kantin, Anara menengok, mendapati sosok yang menjemputnya kemarin.
"Oh hai, kamu pasti mau ngambil baju kamu ya? Aku dah bawa kok, tinggal di ambil aja,"
"Pulang bareng aku lagi?" Harapan laki-laki itu seketika luntur saat Anara menggeleng pelan.
"Aku mau di jemput sama Daddy," walaupun kecewa, laki-laki itu tetap tersenyum tipis, bahkan kakak Ersya itu terkejut saat melihatnya. Dia dan temannya memperhatikan interaksi keduanya diam-diam.
"Nama kamu siapa? Anara lupa nanya kemarin,"
"Rian, Rian yudha nadhar," Anara mengajukan tangannya, dan di sambut hangat oleh Rian.
"Anara yusrin nadyaz, jangan malu-malu ya sama Anara, kalau ada apa-apa curhat aja. Makasih buat yang kemarin!" gadis itu tersenyum begitu lebar, hingga lesung di pipinya tercetak jelas.
Suara Ersya membuyarkan pusat perhatian keduanya, "Arsya, Anara, kenalin ini abang gue, namanya Zion permana putra yuasgar, dan mereka temen-temennya. Itu kak Rian, yang itu kak Janu,"
Anara terlihat sangat antusias. "Kenalin aku Anara yusrin nadyaz terus yang ini namanya Arsyalla abimanggala," senyuman yang Anara berikan pada teman-temannya malah membuat Rian merasa sebal.
****
Saat bubar Anara dan Rian tiba-tiba bertemu di koridor utama. "Hai kak Rian!" sebenarnya Rian ragu untuk membalas, dia tak bisa santai saat jantungnya berdetak lebih cepat. Aneh selalu seperti itu saat bersama Anara.
"Um hai,"
"Iii jangan kikuk gitu dong. Harusnya gini 'hai juga Anara' sambil senyum gitu kak Rian,"
"Um kaya gimana?"
Anara sedikit berjinjit untuk mengimbangi tinggi Rian yang terbilang jangkung bak gantar. Menarik kedua pipi Rian hingga terbentuk senyuman abstrak.
"Udah mendingan, lain kali kalau aku sapa kakak balesnya harus kebih ramah lagi oke? Oh ya, ni bajunya," ucapnya sambil memberikan paperbag putih yang berisikan baju Rian.
"Simpen aja,"
"Loh kok gitu?" Tanya Anara bingung, masa iya dia jijik karna jaketnya udah di pake Anara dan gamau diambil lagi. Setidaknya itu yang di pikirkan Anara.
"Aku punya banyak, siapa tau kamu butuh itu suatu saat,"
"Um oke, kalau gitu duluan kak Rian. Asalamualaikum,"
Dilihatnya Anara yang langsung di sambut hangat oleh ayahnya, pucuk kepalanya langsung di kecup dan di bukakan pintu mobil itu. Sampai di sini Rian paham, bahwa Anara bukan hanya dunia yang indah untuknya, tapi juga untuk keluarganya.
"Waalaikumsalam..."
Seakan waktu berjalan dengan lambat, Rian yang masih membeku di tempat hanya bisa menatap kepergian Anara dengan perasaan yang sulit diartikan.
Hujan rintik turun di pagi hari ini, menghadirkan dingin dan rindu. Laki-laki berhoodie hitam itu merindukan pelukan hangat Anara. Sangat berharap kejadian itu terulang kembali di pagi ini.
Sudah dua hari ini keduanya tak bertemu atau sekedar berpapasan pun tidak, Anara seolah hilang. Rian rindu, sangat rindu pada sosok Anara yang bagai musim semi setelah turunnya salju.
Samar-samar ia mendengar sapaan kemarin lusa, Anara berada di ujung koridor, berlari kepadanya. "Hai kak Rian!" Nafasnya terengah.
"Hai juga Anara," balasan dari sapaan itu sudah ia latih di depan kaca sejak Anara menyuruhnya. Tak lupa senyuman manis, semanis janji ayang pun mengembang. Anara baru menyadari lesung yang ada di sebelah pipi kirinya.
"Mau langsung ke kelas?" Anara hanya mengangguk.
"Anter aku dulu yuk, aku ada perlu ke kelas, nanti aku anterin kamu ke kelas kamu," entah sihir apa yang membuat Anara mungut-mungut saja.
Menggengam tangan gadisnya, ia membawa Anara menuju kelasnya. "Dingin banget pagi ini,"
Anara membenarkan, "iya, tumbenan juga hujan pagi-pagi. Padahal bukan musim hujan," Rian memakaikan tudung pada hoodie pink baby milik Anara.
"Jangan sampe flu," Rian mengeluarkan sebotol lemon tea yang bundanya buatkan tadi. Ia meminta di buatkan dua, secara terang-terangan ia bilang pada bunda Riasya senjanya kalau ia sedang mendekati seorang gadis.
"Makasih,"
Mereka sampai pada kelas Rian yang terlihat sudah di padati banyaknya siswa-siswi, padahal ini masih terbilang sangat pagi bahkan di kelas Anara pun belum ada siapa-siapa mungkin.
Kedatangan mereka tentu menjadi pusat perhatiian anak-anak kelasan Rian. Baru pertama kali mereka semua melihat Rian membawa gandengan, Janu saja yang sudah mengenal Rian sejak menjadi embrio sempat mengira Rian gay karna tak kunjung mendekati wanita atau sekedar suka pun tidak.
"Duduk di sini," Anara duduk di barisan ketiga bangku nomer dua. Di sebelahnya ada Janu yang sedang bermain game dengan musik yang samar terdengar oleh telinga Anara padahal dia sedang memakai aerphone. Sekeras itu kah?
"Bunda nyuruh lo ke rumah gue pulang sekolah nanti," Anara terheran. Bagaimana bisa Janu menyadari kehadiran Rian?
"Peringatin si sinting Vivi buat ada di radius lima ratus kilometer dari gue," nada dinginnya menyebarkan suasana mencekam di dalam kelas.
"Oke"
Entah apa yang Rian perbuat di belakang sana, tepatnya pada lokernya. Anara memerhatikan sekitar, lalu tertarik pada dua gadis yang sedang beradu argumen saat mengisi pr.
"Kak Rian," lelaki itu membalikan badannya.
"Buku pr kak Rian mana?"
"Cari aja di tas" Anara membuka tas Rian. Di sana ia membuka buku pr milik laki-laki itu. Anara sempat menduga bahwa Rian mungkin seperti badboy pada umumnya, yang hanya sekolah membawa tas kosong namun ternyata tidak.
Anara mencari pr Rian, ia tertarik untuk mengisinya. Tak butuh waktu lama, bagai menyalin jawaban teman sebangku, hanya waktu 10 menit yang Anara butuhkan untuk mengisi pr matematika milik Rian.
"Nanti bukunya jangan lupa di kumpulin ya?" Rian mengangguk.
Mereka seolah tak percaya melihat hiu banteng itu mendadak menjadi dolphin penurut. Perempuan yang tadi berdebat ternayata memperhatikan Anara, ia mencibir Anara yang sok pintar.
"Sok pinter banget, baru juga kelas 10,"
"Palingan juga jawabannya salah,"
Anara bangkit dari tempat duduk Rian, menghampiri keduanya lalu mengambil salah satu buku mereka. "Ini seharusnya di isi sama variabel X bukan variabel Y. Titik ini ada di 35 derajat, di kuadratin dulu baru di kaliin. Pasti hasilnya ketemu,"
"Maksud lo apa ngajarin gue? Lo cuma ade kelas, gausah sok tau!"
"Anara cuma mau bantu,"
"Gue tau ya maksud lo! Lo cuma mau nyari perhatian Rian kan?"
"Cih" salah satunya mendorong bahu mungil Anara hingga sedikit terguncang karna mendapat serangan tiba-tiba.
Rian melangkah menuju ketiganya. Ia menggengam tangan perempuan yang sudah mendorong Anara. Gengaman tangan itu membiru, Rian memasang seringai jahatnya. "Gausah sentuh cewe gue,"
"Ma-maaf, Rian sakit!" Rian melepaskannya, merangkul bahu Anara posesif lalu pergi dari kelasnya.
"Bagus deh kalau dia ga gay" gunam Janu di sertai kekehan.
****
"Lo kok bisa digosipin sama seantero sekolah si Ra?" Ucap Arsya dan di benarkan oleh Ersya. Keduanya bertemu di parkiran pagi tadi.
"Anara gatau,"
"Yeu ni anak," Arsya hanya geleng-geleng kepala saja.
"Sejak kapan lo deket sama kak Rian," tanya Ersya penasaran.
"Anara juga gatau," keduanya memutar bola matanya malas.
"Lo mah serba gatau, ga seru" Anara tak menanggapi, ia membuka tasnya dan meminum lemon tea pemberian Rian dengan perlahan.
"Dari kak Rian?" Tebak Ersya. Anara diam seribu bahasa. Ia terkejut karna tau Rian sekasar itu pada wanita, dan itu hanya karna dirinya.
"Tu anak kayanya syok di deketin sama kak Rian, kalau dia udah rileks lagi kita kekantin bareng nanti, kalau belum kita temenin dia di kelas. Gue ke kelas dulu, udah mau bel," Arsya hanya mengangguk.
Saat jam pelajaran Anara sama sekali tak menengok pada Arsya, ia fokus pada materi yang sedang di berikan oleh guru. Walaupun ia tak niat belajar, namun otaknya tetap mencerna dengan semestinya.
Arsya menatapnya dengan khawatir, Anara tiba-tiba bungkam. Tentu itu menimbulkan banyak pertanyaan.
"Silahkan kerjaan latihan soalnya, di pertemuan selanjutnya baru akan ibu masukan kedalam buku nilai,"
"Baik bu,"
Lima menit terdiam mengerjakan soal, Anara mengangkat tangannya. "Ada yang ingin di tanyakan Anara?"
"Selesai," semua murid menatap Anara tak percaya.
"Sini ibu periksa," guru kimia itu pun terkejut saat melihat hasilnya. "Benar semua. Bagaimana kamu menyelesaikannya secepat itu?"
"Saya memperhatikan materi yang ibu berikan," guru itu mempersilahkan Anara duduk kembali. Anak itu langsung duduk dan menenggelamkan wajahnya pada lipatan tangan.
"Keren"
****
Anara diam di dalam kelas sendirian, semua orang pergi ke kantin. Begitu pun dengan Ersya dan Arsya, mereka bilang tak akan lama dan akan membawakan makanan untuk Anara.
Rian masuk ke kelas Anara, duduk di sebelah gadis yang sedang fokus membaca novel dengan telinga yang di alunni melodi indah musik.
Rian melepaskan salah satu aerphone dari telinga Anara, menatap gadis yang saat ini juga sedang menatapnya lekat.
"Kenapa kak Rian kasar sama cewe tadi?" Ucap Anara to the point.
"Aku ga suka dia ngomong kasar gitu sama kamu,"
"Emang bener Anara sok pintar, ga seharusnya Anara bersikap kaya tadi,"
"Kamu cuma mau ngebantu mereka, kamu pasti khawatir kalau mereka ga bisa nyelesaiin tugasnya sebelum bel bunyi. Iya kan?" Anara hanya diam.
"Kamu baik, cerewet, menarik, cantik, imut, di tambah kamu pinter. Kmu itu paket lengkap Nara. Wajar kalau orang-orang kaya mereka ga suka sama kamu, mereka iri sama kamu. Jangan kaya gitu lagi, kalau ada apa-apa bilang," baru kali ini Rian berbicara panjang lebar. Bahkan ketika bercerita pada Janu pun ia tak mengucapkan kata sebanyak itu.
"Kak Rian juga ga boleh kasar sama cewe, bundanya kak Rian cewe, dan perempuan yang akan jadi istrinya kak Rian pun cewe. Kak Rian mau kalau mereka kelak di sakitin sama orang lain?" Rian menggeleng singkat.
Anara mengambil satu tangan Rian, ia usap dengan sayang. "Jangan kaya gitu lagi ok?" Rian mengangguk. Sudah ia pastikan bahwa hatinya sepenuhnya jatuh pada perempuan bernama Anara yusrin nadyaz ini.
"Pulang sekolah nanti ada acara?"
"Anara sibuk, belum punya waktu luang weekdays ini,"
"Kalau weekend?"
"Um nanti di kabarin kalau aku senggang,"
"Kalau gitu harus simpen nomor aku biar bisa ngabarin," Yaallah bisa ae ni kutub modusnya.