"Maaf ya, Pak. Di sini belum butuh karyawan baru," ucap seorang security yang bertugas.
Tubuhku lemas seketika, padahal menurut temanku kantor ini sedang membutuhkan seorang office boy baru, saking semangatnya aku bahkan tidak peduli meski jarak dari rumah cukup jauh.
"Iya Pak, tidak apa-apa."
Akhirnya hari ini aku kembali tanpa hasil, sudah hampir dua bulan masih juga belum ada pekerjaan baru yang kudapat.
Entah aku harus menghadapi Nayla—Istriku seperti apa, tidak tega rasanya terus membuatnya kecewa. Entah sisa berapa uang di tangannya, apakah bisa bertahan sampai aku kembali dapat pekerjaan?
Kunyalakan mesin motorku, sebaiknya hari ini kita sudahi dulu pencarian kerjanya, perutku sudah tidak bisa lagi diajak kompromi karena belum ada sebutir nasi pun yang masuk.
Aku Rahmadi, orang biasa memanggil ku Adi. Awalnya aku bekerja sebagai seorang petugas kebersihan di salah satu kantor Advokat, namun sudah dua bulan ini majikanku memecatku secara sepihak. Saat kutanya alasannya, mereka bilang usiaku sudah terlalu tua untuk pekerjaan itu. Agak aneh memang, padahal pekerjaanku selalu beres dan tidak pernah bermasalah.
Bukan tanpa usaha, dari selatan hingga ke timur sudah kulalui demi mendapatkan pekerjaan baru segera. Namun, sepertinya Tuhan masih ingin melihat seberapa besar usahaku.
Meski ada uang pesangon, tapi jumlahnya tidak seberapa dan kini pasti sudah semakin menipis, apalagi kami harus membayar uang kontrakan setiap bulannya, entah akan cukup atau tidak sampai akhirnya aku bisa kembali berpenghasilan.
Aku merasa frustrasi, jika begini terus yang ada uang kami benar-benar habis. Bagaimana nasib istri serta kedua anakku, Safa dan Marwah? Bersyukurnya Tuhan menjadikan Nayla pendamping yang sabar, meski dalam kondisi sulit sekali pun.
Sempat ingin daftar menjadi pengemudi ojek online, tapi terkendala motor yang kumiliki hanyalah motor tua peninggalan almarhum bapak.
Bukan tidak ingin membeli motor baru secara kredit saat masih bekerja dulu, tapi gajiku saat itu tidaklah cukup untuk kebutuhan diluar kebutuhan pokok.
Aku dan Nayla mengutamakan kebutuhan anak-anak terlebih dahulu, baru setelahnya akan membeli barang pendukung, itu pun kalau masih ada sisa uang gaji.
Setibanya di rumah, Nayla ternyata sedang mengajari Safa membaca, sedangkan Marwah tengah asyik bermain dengan bonekanya. Mereka bertiga langsung menyambutku dengan hangat.
Melihat senyum dan tawa mereka membuat hatiku pilu. Jika mereka tahu bahwa hari ini aku kembali menelan pahit kegagalan, pasti senyum itu akan pudar.
"Dek, maaf ...."
Nayla langsung paham dengan kata itu saja, memang ada gurat kecewa tapi dia berusaha menutupinya sebisa mungkin.
"Ayo kita makan dulu, Bang."
Nayla langsung pergi ke dapur untuk menyiapkan makanan, seperti itulah dia, selalu berpura-pura tegar demi diriku.
Aku merasa bersalah padanya, semenjak menikah belum pernah sekali pun membahagiakannya. Padahal, sudah banyak hal yang dia lakukan untukku, termasuk melahirkan kedua putri kami yang sangat lucu.
Dia rela dimusuhi ibunya saat memilih menikah denganku. Ibunya bilang dia wanita bodoh yang mau menikah dengan lelaki masa depan suram sepertiku dan masih banyak lagi cercaan serta makian yang kami terima saat memutuskan untuk menikah dulu.
Meski begitu, Nayla terus meyakinkan ibunya dengan perlahan, sampai akhirnya kami bisa menikah dengan restunya, meskipun hingga kini ibu mertuaku masih memusuhiku.
Padahal, aku sudah bertekad akan menunjukkan bahwa aku bisa membahagiakan putrinya, tapi jika dia tahu kini bahkan menantunya ini seorang pengangguran, entah ucapan menusuk apalagi yang akan dia layangkan.
Saat kami memutuskan untuk mengontrak rumah saja, ibu mertuaku sempat marah besar. Dia berpikir kalau aku tidak akan sanggup dengan gaji yang hanya sedikit, tapi Nayla yang merasa kasihan padaku karena terus mendapat perlakuan kurang mengenakkan dari ibunya, berusaha keras membujuk kembali orang tuanya agar melepas kami hidup mandiri.
Kupandangi motor butut warisan bapak, benda berharga satu-satunya yang bapak wariskan untuk putranya ini. Tidak ada lagi selain motor itu, ada pun rumah tinggal sudah diambil alih oleh Mbak Nani—kakak perempuanku.
Satu tahun sebelum meninggal, bapak pernah melakukan operasi jantung, mbak lah yang menanggung semua biaya rumah sakitnya. Jadi, saat bapak meninggal, Mbak Nani rasa dia paling berhak atas rumah itu, mengingat biaya rumah sakit saat itu belum bapak ganti.
Aku hanya merasa sadar diri, selama ini biaya hidup Bapak dan segala pengobatannya Mbak Nani lah yang menanggungnya, jadi aku tidak mau berharap lebih dengan rumah warisan bapak.
Ucapan ibu mertuaku benar, masa depanku suram, tidak ada yang bisa Nayla dapatkan dariku. Aku merasa egois karena ingin memilikinya seutuhnya, sedangkan aku tidak mampu untuk membalas segala pengabdiannya padaku.
Suami macam apa aku?
***
Hari ini sementara waktu aku ingin di rumah dulu, percuma juga jika terus berjalan tanpa tujuan pasti. Lagi pula aku tidak tega untuk terus meminta uang bensin, Safa dan Marwah saja sudah libur jajan dari kemarin lusa, sepertinya memang keuangan kami sudah semakin menipis.
Kukirimkan pesan kembali pada beberapa teman, tapi mereka juga belum memiliki informasi lowongan kerja. Mencari lowongan di internet pun terlalu banyak palsunya, susah sekali mencari kerja.
Kondisi ini tidak bisa dibiarkan, setidaknya aku harus melakukan sesuatu agar tetap berpenghasilan, sebelum semuanya semakin memburuk.
"Nay!" seru ku.
Dia yang baru saja selesai memandikan Marwah langsung menghampiri. "Ya, Bang?"
"Sia uang tabungan kita, ada berapa?"
"Setelah dikurangi untuk bayar kontrakan, sekitar empat ratus ribu, Bang."
"Kita punya termos air panas, kan?"
Nayla mengernyitkan dahi, mungkin bingung juga dengan pertanyaanku. "Ada. Kenapa Bang?"
"Abang mau jualan kopi keliling, pakai alat yang ada saja."
Nayla tersenyum simpul. "Nayla terserah Abang saja, kapan mau mulai?"
"Mungkin nanti malam, biasanya banyak pengemudi ojek online mangkal. Abang pinjam uangnya seratus ribu, ya?"
"Iya, Bang. Silahkan."
Benar, disaat seperti ini aku harus memutar otak untuk mencari pundi rupiah, jika menunggu dapat panggilan kerja, entah sampai kapan.
"Ini uangnya, Bang," ucap Nayla seraya memberikan selembar uang seratus ribuan padaku.
"Terima kasih, Dek. Semoga berhasil. Amiin."
"Amiin."
Inilah yang kusuka dari Nayla. Dia selalu mendukung segala.keputusan yang kubuat, tanpa banyak bertanya atau mengeluh. Saat kondisi sulit seperti ini saja,dia tetap tenang. Padahal, aku uring-uringan setengah mati karena merasa khawatir.
"Abang jalan belanja dulu, ya."
"Hati-hati, Bang. Biar Nay siapkan dulu termos dan alat lainnya."
Aku hanya mengangguk pelan lalu segera bergegas pergi. Menafkahi Istri dan anak-anak adalah harga diriku sebagai seorang Suami, aku pasti bisa.
***
Kulihat jam di dinding sudah menunjukan pukul delapan malam, waktu yang tepat untuk segera bergegas pergi berjualan karena pada jam ini banyak yang tengah beristirahat sejenak.
Berbekal termos air panas, gelas plastik, kopi dan makanan ringan yang tadi kubeli, malam ini aku bertekad harus pulang membawa uang, entah besar ataupun kecil.
Aku tidak punya gerobak motor seperti penjual kopi keliling lainnya, tapi ada bekas peti telur menganggur. Akhirnya dengan itulah aku mengangkut semuanya meski harus sedikit dimodifikasi siang tadi.
"Hati-hati ya, Bang."
"Iya, Nay. Abang jalan dulu, ya."
Dengan mengucap Bismillah, kulajukan motorku menembus dinginnya udara malam, apalagi sore harinya memang sempat hujan deras, lengkap sudah.
Kususuri sepanjang jalan, setiap ada keramaian langsung saja aku berhenti, tapi ternyata sudah banyak penjual kopi yang mangkal di sana. Namun aku tidak menyerah, terus kulanjutkan perjalananku mencari tempat yang memungkinkan.
Setelah satu jam berkeliling kesana-kemari, akhirnya kuputuskan untuk mangkal disekitar Halte Bus. Memang tempatnya agak sepi, tapi setahuku disini sering ada driver ojek online mangkal, mungkin kini mereka masih sibuk mencari orderan.
Namun ternyata perkiraan ku salah, sudah dua jam lamanya aku mangkal hanya ada dua orang pembeli, bahkan hingga hari semakin larut pun tidak ada lagi tanda-tanda pembeli datang, hanya segelintir orang yang berlalu-lalang dan pergi.
Kulihat uang hasil berjualan tadi, jumlahnya tidak lebih dari dua puluh ribu saja, tapi waktu sudah tidak memungkinkan lagi untuk terus berjualan malam ini.
Kurapikan barang daganganku, lalu lintas juga sudah mulai sepi, berbahaya jika terus berjualan apalagi kondisi sekitar begitu sepi.
Sepanjang malam kulihat banyak tunawisma yang mulai berkeliaran mencari tempat untuk tidur, ada juga yang sudah tertidur pulas meski hanya beralaskan kardus bekas, tidak peduli pada hawa dingin yang menusuk tulang.
Yang membuatku pilu, saat melihat ada anak-anak juga yang ikut tertidur pulas di sana. Bagaimana jika aku dan keluargaku yang mengalami kesulitan seperti itu? Aku tidak bisa membayangkannya, tiba-tiba saja dadaku sesak memikirkannya.
Kondisi keuangan kami memang tengah sulit, tapi sebisa mungkin aku tidak akan membiarkan hal seperti itu terjadi. Anak dan istriku harus punya tempat berteduh dan perut yang kenyang, meski untuk semua itu harus kugadaikan tubuh dan jiwaku.
Setibanya di rumah, ternyata Nayla masih terjaga. Sayup dari luar kudengar dia tengah membaca lantunan ayat suci Al-Quran, begitu lembut sampai mampu membuatku merasa tenang.
TOK TOK TOK
"Assalamu'alaikum, Dek. Abang pulang."
Tidak butuh waktu lama, Nayla langsung membukakan pintu untukku. "Wa'alaikum Salam," jawabnya seraya meraih tanganku dan menciumnya dengan takzim.
Dia tidak bertanya apapun, dengan gesit Nayla membantuku merapikan peti tempat menyimpan termos.
"Dek, ini ...."
"Nanti saja dulu, Bang. Ngopi dulu, ya. Abang pasti capek."
MasyaAllah, lihatlah itu. Dia lah Naylaku, Istri yang begitu pengertian. Dia segera pergi kembali ke dapur, namun kini untuk membuatkanku segelas kopi.
"Kopinya, Bang."
"Makasih, Dek."
Kuseruput kopi buatannya, terasa lebih manis karena melihat senyum yang terus mengembang dari bibirnya.
"Nay."
"Ya, Bang?"
"Maafkan Abang, malam ini cuma dapat segini."
kuserahkan uang hasil berjualan yang hasilnya tak lebih dari dua puluh ribu, meski sebenarnya malu tapi aku tidak ada pilihan lain.
Nayla menerimanya dengan senyum mengembang. "Alhamdulillah."
"Maaf hanya segitu, Nay. Semoga saja besok lebih banyak lagi."
"Amiin. Abang yang semangat ya, besar maupun kecil nafkah dari Abang begitu berarti. Terima kasih sudah mau berusaha."
Tiba-tiba saja air mataku mengembun, ini adalah nafkah pertamaku untuknya setelah hampir dua bulan menganggur, meski kecil tapi dia menerimanya dengan wajah sesenang itu. Abang janji akan terus berusaha, Nay.
Esok malamnya aku kembali mencoba, namun sengaja jalan lebih awal agar datang tepat waktu di tempat yang ramai pembeli, setelah sholat Maghrib tepatnya.
Namun, malam ini bukan hanya kopi dan cemilan, Nayla juga menyiapkan sedikit gorengan sebagai pendamping kopi. Siapa tahu jadi menarik pembeli—katanya.
"Ini Nay buat dari uang yang Abang kasih kemarin, semoga laris ya, Bang."
"Aamiin. Abang jalan dulu ya, Dek."
Nayla mencium punggung tanganku dengan takzim, tidak lupa ku kecup kening kedua anakku yang sudah tertidur pulas di atas kasur tipis nan usang.
"Bismillahirrahmanirrahim."
Kulakukan motorku membelah dinginnya malam, berharap malam ini akan jauh lebih baik dari malam kemarin.
Setibanya di pangkalan biasa ojek online mangkal, ternyata masih kosong di sana. Mungkin penjual lain baru akan datang nanti.
Berkat itu, aku dapat beberapa orang pembeli. Tidak banyak memang, karena katanya ini adalah jam sibuk para pengemudi transportasi online, mengingat banyak para customer yang baru saja pulang kerja.
"Kopi mix, Bang."
"Tunggu ya, Bang. Silahkan gorengannya sekalian, mumpung masih panas."
"Boleh deh, saya ambil dua. Jadi berapa? Enam ribu, Bang."
Lelaki itu menyerahkan uang dengan jumlah yang pas. Dengan semangat aku membuatkan pesanannya, ini adalah pembeli ke enam yang kulayani sejak beberapa saat lalu sampai.
"Ini kopinya, Bang. Terima kasih."
Senang sekali rasanya, belum ada satu jam saja sudah lima puluh ribu ku dapat. Sepertinya aku harus mencoba mencari tahu jam sibuk para pengemudi ojek online ini, supaya bisa menyesuaikan waktu berjualan dan membuat pangkalan sendiri.
Saat sedang menunggu kembali pelanggan, dua orang penjual kopi lain datang menghampiriku. Mereka menatapku dengan sinis.
"Heh, jangan sembarangan jualan. Ini pangkalan kita punya," ucapnya dengan nada sinis.
"Maaf Bang, saya pikir bebas saja berjualan di sini. Saya bisa geser ke ujung sana jika Abang mau, tapi jangan menghalangi saya ikut berjualan."
"Dari dulu ini pangkalan tempat kita, kalau kamu ikut jualan juga, yang ada pembeli jadi terbagi. Pokoknya nggak bisa, cari pangkalan lain."
"Tapi, Bang—"
"Pergi atau panjang ini urusan?!"
Beberapa pasang mata mulai tertuju pada kami, aku pikir tadinya tidak akan masalah ikut berjualan ditempat seluas ini, tapi ternyata malah jadi masalah.
"Baik, Bang. Maaf, saya permisi."
Kurapikan barang daganganku yang tidak seberapa, tentu saja dari segi itu saja aku kalah telak. Lihatlah mereka, bukan hanya kopi bahkan ada juga es dan aneka cemilan lainnya. Kenapa mereka harus takut tersaingi denganku yang tidak seberapa ini?
Kulajukan kembali motorku menuju halte bus tempat aku mangkal kemarin malam, semoga saja di sana masih bisa berjualan meski memang lokasinya tak cukup strategis dan sepi pembeli.
***
Sebenarnya menurutku Halte ini cukup nyaman, dengan ukuran yang besar serta dekat dengan pusat perbelanjaan, hanya saja posisinya yang menjorok dan agak gelap membuatnya tak cukup strategis untuk para pengemudi ojek online.
Padahal tidak jauh dari halte ini ada juga Halte lain, tapi di sana malah ramai sekali pengendara ojek online yang mangkal. Kalau menurut info yang ku dapat, di sanalah mereka sering dapat banyak orderan. Padahal lokasinya saja kurang nyaman, mereka harus rela duduk di sembarang tempat karena kondisi Halte sudah rusak parah.
Aku hanya bisa mengandalkan orang yang turun dari Bus, itu pun jarang. Tapi aku yakin, selagi kita mau berusaha pasti akan ada hasilnya, entah itu banyak atupun sedikit.
Sudah dua jam aku di sini, tapi baru dapat dua orang pembeli saja, kebanyakan dari mereka akan langsung melanjutkan perjalanan pulang ke rumah karena sudah lelah.
Andai saja tadi pedagang kopi itu mengizinkanku untuk berjualan bersama, mungkin daganganku akan habis dalam waktu sekejap, mengingat jumlahnya saja tidak begitu banyak.
Aku mulai merasa frustasi saat tak ada lagi pembeli, tapi kuingat kembali pesan Almarhum Bapak; usaha, usaha, usaha dan serahkan hasilnya pada Allah.
Kini aku sudah berusaha, biarlah aku pasrah dengan hasil yang Tuhan akan berikan atas usaha yang kulakukan. Jika memang rezeki hanya sebatas ini, maka aku akan menerimanya dengan ikhlas.
Sudah pukul sebelas malam, lalu lintas memang masih ramai tapi pembeli tetap saja sepi. Sepertinya aku harus sudahi dulu untuk malam ini, biarlah kita coba lagi esok malam.
Namun saat hendak merapihkan dagangan, tiba-tiba saja hujan turun dengan lebatnya bak air yang tumpah, untung saja aku bawa jas hujan.
Tapi hujannya begitu lebat, terlalu bahaya jika dipaksakan pulang menerobos derasnya guyuran air hujan. Jadi, ku putuskan untuk menunggu sejenak, setidaknya sampai agak reda.
Dari balik hujan aku melihat satu persatu orang menghentikan laju motor mereka di Halte tempatku mangkal, sebagiannya juga pengendara ojek online yang tengah membawa penumpang.
Kini Halte penuh sesak dengan orang, padahal beberapa saat tadi sepi hanya aku seorang diri menanti. Saatnya aku mulai beraksi, menawarkan daganganku pada mereka, siapa tahu akan ada satu atau dua orang pembeli.
"Pak, kopi hitam satu," ucap salah seorang dari mereka yang langsung menghampiriku.
Alhamdulillah, padahal tadi aku sudah pasrah dan nyaris menyerah, tapi ternyata Tuhan berikan jalan melalui hujan yang dia turunkan.
Bukan hanya satu, kini sudah ada empat orang lainnya yang ikut memesan, untuk menghangatkan badan—katanya.
Gorengan buatan Nayla juga sudah ludes terjual, bahkan kopi dan cemilan saja kini hanya tersisa beberapa bungkus saja.
Hujan masih turun dengan lebatnya, sampai akhirnya satu persatu nekat menerobos lebatnya hujan karena merasa sudah terlalu larut jika menunggu hujan reda.
Ku rapikan kembali barang daganganku yang sudah habis terjual, menyisakan sampah yang berceceran. Ku raih sampah-sampah itu lalu membuangnya ke dalam tong sampah yang berada tepat di samping Halte.
Selagi menunggu hujan agak reda, ku intip uang hasil penjualanku hari ini. Betapa bahagianya aku saat melihat tumpukan uang dengan aneka pecahan memenuhi tasku.
Memang, kalau sudah rezeki tak akan tertukar. Padahal, tadi aku sempat berpikir untuk menyerah setelah pedagang lain mengusirku dari lapak yang ramai, namun nyatanya di mana pun kita berikhtiar, Tuhan pasti akan memberikan hasil yang setimpal.
Setelah hujan sedikit reda, aku segera bergegas merapikan kembali barang-barang milikku, memastikan tidak akan ada yang tertinggal.
Kulajukan motorku membelah dinginnya malam, menerobos sang langit malam yang masih gencar menurunkan air hujan.
Di perjalanan, tanpa sengaja aku berpapasan dengan para pedagang yang tadi mengusirku. Meski begitu, aku tetap menyapa mereka dengan senyuman, meski pada akhirnya tatapan sinis yang ku dapatkan. Kejahatan tidak harus dibalas dengan hal serupa. Siapa tahu, suatu hari kami bisa menjalin hubungan baik.
Sejak kejadian malam itu, aku percaya bahwa, meski tempatku berjualan sepinya bukan main, jika sudah rezeki pasti akan datang dengan sendirinya.
Setiap malam perlahan mulai bertambah hasil penjualannya. Memang tidak besar, tapi lima hingga sepuluh ribu begitu berharga untukku yang baru memulai usaha seperti ini.
Namun, terkadang juga aku hanya bisa gigit jari saat sedang apes. Jangankan untung banyak, bahkan modal saja kadang tidak tertutupi. Jika sedang sepi pembeli, gorengan yang tak terjual akan jadi lauk makanku dan Nayla esok paginya.
Meski begitu, kami belum mau menyerah, lagipula sampai saat ini belum ada panggilan kerja yang masuk, jadi lebih baik berusaha sebaik mungkin agar asap dapur tetap mengepul.
Usahaku tidak sampai disitu saja, terkadang aku menerima pekerjaan lepas, entah itu sekedar mencabuti rumput liar atau kuli panggul di gudang grosir milik Uni Fadila.
Hasilnya memang tidak besar, itu pun kalau memang ada panggilan, jika tidak, ya mencari lagi pekerjaan lainnya. Sempat terpikir untuk memulung juga, tapi pemilik kontrakan tidak mengizinkan jika kontrakannya nanti kotor oleh hasil memulung, akhirnya ku urungkan niatan itu.
"Apa Nay ambil kerja cuci gosok ya, Bang?"
"Enggak usah, masalah cari uang itu tugas Abang."
Kuraih sepatu boot milikku, hari ini ada panggilan kerja mencabuti rumput di rumah Bu Tono. Kesempatan tidak boleh disia-siakan, selagi ada dan masih bisa dikerjakan.
"Tapi Nay kasihan sama Abang, siangnya capek, malam harus jualan juga."
"Mumpung ada panggilan, enggak baik nolak rezeki, lumayan bisa untuk tambahan modal dagang. Udah ya, Abang jalan dulu. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum Salam."
Dengan Bismillah, ku langkahkan kakiku menuju rumah Bu Tono, berharap hari ini mendapat upah yang lumayan untuk modal tambahan. Siapa tahu jika daganganku lebih bervariasi akan menarik pembeli.
***
Bu Tono adalah orang kaya kedua setelah pemilik kontrakan tempat aku tinggal, rumahnya besar, luas dan mewah. Saking luasnya, bahkan halaman dan tamannya saja terhampar luas nan indah.
Orang satu kampung saja sudah biasa menyebutnya toko perhiasan berjalan, karena perhiasan emasnya begitu banyak sampai bertumpuk pada setiap jarinya.
Kemarin lusa dia datang ke rumah, Bu Tono bilang tukang kebunnya sedang pulang kampung, jadi dia meminta tolong padaku untuk datang hari ini.
"Langsung kerjakan saja, Bang Adi," titahnya.
"Apa saja yang harus saya kerjakan, Bu?"
"Cabut rumput liar, potong daun yang layu, lalu siram semua pohonan saya."
"Baik, Bu."
"Itu kalau nyiram diperhatikan tekanan airnya, jangan sampai nanti malah merusak kebun saya."
"Baik, Bu."
Bu Tono kembali masuk ke dalam rumahnya, tidak lama kemudian pembantunya datang membawa sebuah gelas dan satu teko besar air putih.
Selagi masih pagi, aku harus segera menyelesaikan semuanya, kasihan Nayla akan kerepotan jika menyiapkan dagangan seorang diri.
***
Teriknya sinar mentari yang membakar kulitku, serta cuaca yang terasa panas tidak menyurutkan semangat kerjaku. Kini hanya tinggal menyirami tanamannya. Setelah ini, aku akan langsung pulang dan membantu Nayla, jadi setidaknya aku ingin beristirahat meski hanya satu jam saja.
Perutku sebenarnya lapar, apalagi ini sudah lewat dari jam makan siang, tapi Bu Tono hanya menyuguhiku air putih saja.
Biasanya aku disuguhi sedikitnya makanan kecil untuk pengganjal perut, Meksi hanya biskuit atau roti, tapi ini benar-benar hanya air putih saja.
Daripada mengeluh, lebih baik segera ku selesaikan pekerjaan ini, lalu pulang dan makan siang di rumah. Percuma jika terus menggerutu, tidak akan melepas rasa laparku juga.
Akhirnya semua pekerjaan sudah terselesaikan, mungkin memakan waktu sekitar tiga jam lamanya karena taman Bu Tono cukup luas.
"Bang Adi, Ibunya tidur siang. Ini upahnya, katanya," ucap pembantu Bu Tono seraya menyerahkan amplop putih padaku.
"Bilang sama Ibu, terima kasih. Saya pamit dulu ya, Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum Salam."
Ku langkahkan kakiku pergi, perutku sudah tidak bisa lagi diajak kompromi jika harus menunggu lebih lama lagi.
Setibanya di rumah, ternyata Nayla sudah menyiapkan makan siang untukku. Memang tidak mewah, hanya sayur asem dan tempe goreng, tapi apapun yang dia masak tetaplah sedap, apalagi dimakan setelah lelah bekerja.
Aku menyantapnya dengan lahap, mungkin juga karena saking lelahnya sampai nafsu makaku jadi berlipat, tidak terasa nasi yang Nayla suguhkan hampir habis jika aku tidak menahannya.
"Pelan-pelan, Bang."
"Masakan kamu enak soalnya. Kamu dan anak-anak sudah makan?"
"Sudah Bang, tinggal Abang saja. Maaf enggak nunggu Abang pulang."
"Enggak apa-apa, lagian Abang juga terlalu sore pulangnya. Kalian makan saja duluan, jangan suka nungguin Abang pulang."
Nayla bangkit lalu pergi ke dapur, tidak lama kemudian dia kembali membawa serta satu gelas penuh air minum untukku.
"Minum, Bang."
"Terima kasih, Sayang."
Setelah selesai makan siang, aku berniat hanya mengistirahatkan diri dengan berbaring santai, tapi karena saking lelahnya aku tak sadar kalau kini sudah terlelap.
***
"Bang ... Abang, bangun."
Sayup suara Nayla membangunkanku dari mimpi, aku kaget saat melihat jam di dinding ternyata hari sudah sore. Saking lelahnya, setelah makan aku tidak sadar sudah tertidur pulas.
"Maafin Abang, Nay. Kebablasan begini."
"Nggak apa-apa, Bang. Pasti capek banget, sampai pulas begitu."
"Ayo kita belanja bahan untuk gorengan, biar Abang antar."
"Enggak perlu, Bang. Tadi Nay sudah beli sendiri, sekalian ajak anak-anak jalan-jalan."
Aku merasa bersalah, padahal niatku ingin meringankan bebannya hari ini, tapi karena terlalu lelah semua rencana itu hancur begitu saja.
"Oh ya, kalau begitu ambil ini."
Kuserahkan amplop putih pemberian Bu Tono, Nayla meraihnya dengan senang. "Alhamdulillah," gumamnya.
"Abang belum lihat isinya, kamu buka saja sendiri."
"Iya, Bang."
Nayla membukanya dengan penuh semangat. Namun, saat amplop itu berhasil dibuka, Nayla terdiam seketika.
"Kenapa, Nay?"
"Lain kali jangan mau kalau disuruh Bu Tono, Bang."
"Kenapa?"
Nayla mengeluarkan uang yang ada didalamnya, isinya uang pecahan dua ribu rupiah sebanyak enam lembar, pantas saja agak tebal.
Nayla terisak, mungkin dia kesal karena tenaga Suaminya disepelekan oleh orang lain. Aku juga kecewa, tapi tidak bisa apa-apa karena memang tak mematok tarif setiap kali dimintai tolong.
Kurengkuh Nayla Istriku, mencoba sedikit menenangkannya yang kini tengah terisak-isak.
"Jahat sekali Bu Tono, Bang."
"Sudah, mungkin Bu Tono memang hanya punya segitu. Disyukuri saja."
"Tapi, Ban—"
"Sudah, kita ikhlaskan saja. Anggap saja sedekah, uangnya mau kamu simpan?"
Nayla menggeleng pelan. "Mau masukkan kedalam kotak amal saja, biar semakin ikhlas sekalian," jawabnya seraya menghapus bulir air matanya.
"Ternyata ada yang lebih miskin dari kita ya, Bang," lanjutnya.
Aku hanya tersenyum simpul, biarlah jadi pelajaran untuk kami. Orang kaya memanglah banyak, tapi belum tentu juga kaya hatinya. Biarlah, aku ikhlas.