Bab 1

Sebuah perjalanan hidup rumah tangga yang penuh lika liku yang dialami pasangan suami istri yang sudah menikah 5 tahun dan dikaruniai anak perempuan berumur 2 tahun.

Dia adalah pasangan bernama Ari Sinaga dan Lisa Nitami mereka saling mencintai satu sama lain hingga memutuskan menikah disaat usia sudah masing-masing matang.

Perbedaan usia mereka memang terpaut jauh yaitu 10 tahun tapi itu tidak membuat mereka minder justru mereka sangat bahagia meskipun hidup mereka terbatas ekonomi.

Mereka juga tidak punya apa-apa mereka tinggal dikontrakan kecil dan terpencil. Lalu bagaimana jika sang maha kuasa menguji cinta mereka menguji kesetiaan mereka dengan menghadirkan sosok perempuan lain yang akan membuat goncang pondasi rumah tangga yang sudah mereka bangun.

Dan bagaimana syetan membantunya dalam memisahkan dua insan agar dia bisa menduduki singgasana iblis dikerajaan laut.

Juga bagaimana cara Allah untuk membantu mereka mengatasi ujian yang diberikan-Nya.

Mampukah dua insan ini mempertahankan rumah tangganya atau memilih mengakhiri dengan semua kekurangan yang ada.

Inilah kisah Ari dan Lisa.

*****

Hidup serba kekurangan tidak membuat Lisa mengeluh dan memaki keadaan atau menyalahkan suaminya yang hanya bekerja sebagai buruh serabutan.

Ari sang suami mengetahui tanggung jawabnya terhadap rumah tangganya dalam menafkahi anak dan istrinya hanya saja dia kurang dalam beribadah sholat yang selalu bolong dan tidak bisa mengaji namun dia termasuk pria yang pengertian dan perhatian dia juga ramah terhadap lingkungan sekitarnya.

Ari termasuk pria yang tampan dalam golongan kalangan bawah meskipun kulitnya agak kecoklatan tapi manis dan sangat cool badannya pun bagus dan berotot sehingga mampu membius wanita.

Sedangkan Lisa wanita yang lemah lembut, penyayang dan penyabar dia selalu memasrahkan hidupnya pada yang maha kuasa dia juga berdoa untuk suaminya supaya suaminya mau berubah, berubah dalam artian keagamaan dan mendalami ilmu agama.

Lisa juga rajin beribadah dan bisa mengaji dia menerima takdir apapun yang diberikan oleh Allah padanya. Wajahnya memang tidak cantik tapi tidak jelek juga sangat sederhana tapi berkulit putih dengan rambut panjang yang tertutup hijab.

"Lisa, aku berangkat dulu yah!" ucap Ari didepan pintu.

Lisa dan anak perempuannya yang bernama Laras maju mengikuti sang kepala keluarga.

"Iya bang, hati-hati dijalan jangan lupa berdoa ingat sama Allah dan kita." menunjuk dirinya dan anaknya sambil tersenyum manis.

"Iya... Laras anak ayah jangan nakal yah sama mamah jadi anak yang nurut." ucap Ari sambil menggoda putrinya yang hanya tertawa.

"Ya udah aku berangkat assalamualaikum." pamitnya mengucap salam dan mencium kening sang istri serta putrinya.

"Waalaikum salam." jawab Lisa tersenyum.

Ari pun menaiki motor bututnya dan tersenyum ramah pada tetangganya yang dijumpainya.

"Ya kita hanya berdua lagi nih sayang, Laras mandi yah habis itu kita main." ucapnya pada anaknya yang mulai ingin berbicara.

"Iya mamah...!" ucap anaknya dengan logat anak kecil.

Lalu mereka masuk kedalam dan mengunci pintu.

*****

Saat ini Ari mendapat tawaran pekerjaan disebuah pabrik untuk membersihkan rumput yang tumbuh tinggi dengan ukuran seluas 2 hektar dia dibayar perhari bekerja bersama tiga temannya.

Saat sedang bekerja Ari diperhatikan oleh seorang wanita yang bertugas sebagai pengelola halaman itu dan yang bertanggung jawab atas semua pekerja pembabat itu.

Sejak pertama kali masuk Ari sudah menjadi perhatian yang menarik terhadap wanita itu, wanita itu bernama Zoya berparas lumayan cantik berusia 25 tahun dan belum menikah.

Dia sudah tau bahwa Ari sudah menikah dan mempunyai anak tapi otak jahatnya tidak menerima kenyataan itu dia malah semakin memupuk perasaannya untuk Ari.

"Zoya, hayo lagi mandangin Ari yah!" Santi, temannya mengagetkan Zoya saat sedang memperhatikan Ari.

"Iya, kayaknya lama kelamaan aku makin cinta sama dia." ucap Zoya sambil tersenyum.

Santi mengerutkan alisnya, "Hey Zoy sadar bukannya kau sudah tau Ari itu sudah punya istri dan anak jangan cari penyakit deh!" temanya menyarankan Zoya bahwa perasaannya itu salah.

"Yang namanya cinta tidak pandang bulu meskipun dia sudah tua." jawabnya enteng.

"Ya tapi jangan sama yang beristri dong kena karma baru tau rasa." ancam Santi sambil bergidik.

"Tapi aku tidak percaya, lihat saja aku pasti bisa memilikinya." yakinnya sambil terus memandang Ari.

"Ikh.. lama-lama aneh kau yah! aku sarankan yah lebih baik kau cari laki-laki lain saja jangan dia nanti kau bisa diamuk sama istrinya." ucap Santi sebelum berlalu pergi.

Zoya hanya tersenyum sinis, "Terserah, yang penting aku bisa mendapatkan dia." gumamnya pelan.

Merasa ada yang memperhatikan Ari pun menoleh dan mendapati atasannya tengah tersenyum manis padanya sambil melambaikan tangan.

Ari pun ikut membalas dengan tersenyum juga lalu kembali fokus pada pekerjaannya.

Saat istirahat pun tiba.

Ari sedang makan bersama teman-temannya sambil mengobrol tiba-tiba datang Zoya dengan tersenyum genit dia sengaja menurunkan kancing bagian depannya supaya dadanya yang mulus dapat terlihat.

"Hay, boleh aku makan disini." katanya menatap Ari yang menjadi canggung.

"Silahkan!" kata Ari basa-basi.

Dengan percaya diri Zoya duduk disamping Ari sangat dekat sehingga membuat Ari tidak nyaman dan menggeser duduknya.

"Hai kenalkan namaku Zoya!" ucapnya dengan nada manja mengulurkan tangannya pada Ari.

Karena Ari makan pakai sendok dia jadi membalas uluran tangan Zoya.

"Ari...!" balasnya singkat, saat Ari ingin melepaskan tangannya Zoya malah menahannya dan menatap Ari dengan senyum penuh arti membuat Ari menjadi salah tingkah.

Sedangkan teman-temannya hanya terdiam melihatnya.

"Maaf Bu, tangannya dilepaskan saya mau makan lagi." kata Ari ramah. Zoya pun melepaskannya.

"Oh maaf, habisnya aku terpesona denganmu." ucapnya tersenyum menggoda. Ari hanya tersenyum kikuk.

Makan siang pun berjalan dengan hikmat setelah selesai makan Zoya mengajak ngobrol Ari dan lama kelamaan membuat Ari nyaman dan tidak merasa canggung lagi antara atasan dan bawahan. Bahkan mereka mengobrol tanpa mempedulikan sekitarnya dan tangan Zoya nakal mengobrol tapi tangannya sambil menyentuh lengan dan paha Ari sedangkan Ari hanya diam saja.

Istirahat pun selesai mereka kembali bekerja dan sebelum bekerja teman Ari yang memperhatikan berbicara pada Ari.

"Ri, ingat kau sudah punya anak dan istri ngobrol boleh tapi jangan sampe kebablasan.$ pesannya pada Ari.

"Iya aku tau." balas Ari singkat.

"Tapi yang aku lihat, kau seperti santai saja saat berbicara dengannya bahkan kau disentuh pun diam saja, bagaimana kalau istrimu melihat?" tanya temanya.

"Ya mangkanya kau jangan bilang padanya, ini hanya urusan tentang pekerjaan." jawabnya terlihat acuh dan santai.

"Loh kok begitu, ingat Ri, kamu punya anak perempuan jangan main-main." tambahnya lagi.

Ari menghela nafas lelah, "Iya aku tau, kau bawel sekali seperti emak-emak. Sudah lebih baik kita bekerja lagi." kata Ari kemudian dia mulai bekerja temannya hanya geleng-geleng kepala melihatnya.

Bab 2

Pulang bekerja, Ari dihentikan oleh Zoya dengan sengaja.

"Ri, pulang barena yuk naik mobil aku.!" ucap Zoya saat Ari hendak melajukan motornya.

"Tidak usah terima kasih aku membawa motor." tolak Ari cepat.

"Motornya taruh saja disini, besok aku jemput lagi." tawarnya berusaha dengan senyum khasnya.

tiba-tiba...

"Ri, numpang yah! aku tidak punya kendaraan." Hendra dengan cepat naik keatas motor dibelakang Ari.

"Ayo cepet Ri, ini udah mau magrib."

"Oke, maaf ya Bu lain kali saja.!"

Lalu kemudian Ari dan Hendra pergi meninggalkan Zoya yang hatinya dongkol.

Zoya hanya tersenyum sinis melihat kepergian Ari, dirinya tau bahwa Hendra sengaja melakukannya.

Diperjalanan Hendra membahas hal yang tadi.

"Ri, sepertinya Bu Zoya suka sama kamu." kata Hendra berbicara didekat telinga Ari supaya terdengar.

"Bagus dong, dari pada dibenci." jawab Ari acuh.

Hendra memutar bola mata malas, "Suka bukan karena pekerjaan atau yang lain, tetapi ini sukanya dalam artian laki-laki dan perempuan, kamu ngerti kan.!"

"Ah tidak mungkin dra, Bu Zoya itu cantik, orang kaya pinter lagi mana mungkin dia suka sama aku yang orang miskin ini." balas Ari merendahkan dirinya.

"Heh, terserah dirimu lah, tapi jika dia memang benar suka sama kamu jangan kamu ladenin yah!"

"Untuk apa aku meladeninya? istriku dirumah juga cantik dan aku juga mempunyai anak perempuan yang cantik." jawabnya membayangkan keluarga kecilnya.

"Baguslah kalau begitu, aku takut kamu khilaf." Hendra mengingatkan kembali.

"Tidak akan " jawabnya santai.

"Udah Ri, rumahku udah keliatan tuh!"

"Oke !"

Turunlah Hendra dari motor Ari dan menuju rumahnya lalu Ari melajukan kembali motornya yang tidak jauh dari rumah Hendra.

****

"Assalamualaikum..!" sapa Ari mengetuk pintu kontrakannya.

"Waalaikum salam.." jawab Lisa, istrinya dibalik pintu.

Lisa membuka pintu dan menyambut suaminya dengan senyuman dan mencium punggung tangannya.

"Laras mana?"

"Ayahhh...!" panggil Laras putri kecilnya sambil berlari, Ari menyambut dengan gembira lalu memeluk anaknya dan menggendongnya dengan sayang.

"Eh! Laras ayah baru pulang nak!" kata Lisa.

"Tidak apa-apa, yuk masuk nak." jawab Ari singkat dan masuk rumah. Lisa hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah ayah dan anak itu.

Makan malam pun sudah disiapkan oleh Lisa dengan menu yang sederhana nasi serta ikan goreng dan sambal terasi. Sungguh nikmat.

"Wah, makan enak nih!" kata Ari dirinya kini telah mandi dan berganti baju dan bersiap untuk makan malam bersama.

"Alhamdulilah." jawab Lisa menyendokan nasi kepiting suaminya.

Lalu mereka pun mulai menyantap makanan yang dimasak istrinya dengan lagap, Lisa juga makan sambil menyuapi Laras.

****

Ari sedang duduk santai diteras sambil meminum kopi hitam dan menghisap rokoknya. Tiba-tiba ponselnya bergetar menandakan pesan masuk.

"Hai Ari, aku Zoya. Kamu lagi apa?"

Ari mengerutkan alisnya dari mana wanita itu tau nomornya. Lalu Ari membalasnya.

"*Ibu Zoya, tau dari mana nomorku.?"

"Jangan panggil ibu dong, Zoya saja yah!"

"Aku tidak enak Bu, ibu kan atasan saya."

"Tidak apa-apa ini kan bukan jam kerja panggil saja Zoya supaya lebih akrab."

"Emm.. baiklah, Ada apa yah Bu malam-malam SMS."

"Tidak ada apa-apa sih! cuma mau ngobrol saja, boleh kan. Soalnya aku lagi suntuk nih temenin aku ngobrol sebentar yah!"

"Memangnya ibu tidak punya teman."

"Temanku sibuk semua sama keluarga kecilnya."

"Memangnya ibu tidak punya keluarga."

"Punya, maksudku keluarga kecil seperti suami dan anak."

"Kalau begitu, kenapa ibu tidak menikah saja."

"Aduuhh kok masih panggil ibu sih😡."

"Eh maaf Zoya! memangnya kamu belum menikah."

"Iya, aku belum menikah, tapi aku sedang menyukai seseorang sekarang."

"Ya sudah kamu bilang padanya dan ajak dia menikah."

"Begitu yah, tapi sayang sepertinya ini agak terhambat."

"Em... maksudnya?".

"Sudahlah, apapun rintangannya aku pasti akan mendapatkan dia*."

Zoya tersenyum sinis tidak tau saja Ari, bahwa lelaki yang dia maksud adalah dirinya.

"*Iya, kalau cinta perjuangkanlah. Oh iya ngomong-ngomong tadi aku tanya belum dijawab, kamu dapat nomorku dari mana?."

"Darimana saja, itu sangat mudah bagiku*."

Tiba-tiba Lisa datang, "Mas, sedang apa?"

Ari yang terkejut langsung menghapus semua pesan itu takut jika istrinya melihat.

"Oh, aku lagi santai."

"Kamu, lagi tukar pesan dengan siapa?" tanya Lisa karena melihat layar diponsel Ari menyala dan muncul pesan yang ternyata dari Zoya.

Ari langsung menghapus kembali tanpa membaca apalagi membalas lalu mematikan ponselnya.

"Bukan, siapa-siapa hanya teman kerja yang iseng." jawabnya takut-takut.

"Oh...!" Lisa hanya ber oh ria tanpa menaruh curiga sedikitpun.

"Oh iya mas, kontrakan sudah masuk tanggal. Apa kamu sudah ada uang?" tanya Lisa yang baru teringat tujuannya menghampiri suaminya.

"Kontrakan yah! sabar yah nanti aku akan minta kasbon sama bos." jawabnya sambil berfikir.

"Laras mana?"

"Dia sudah tidur mas."

Lalu tak berapa lama kontrakan yang disebelahnya kosong kini datang seorang lelaki dewasa berikut barang-barang nya sepertinya pindahan baru.

"Baru pindah bang." sapa Ari pada lelaki itu.

"Oh iya bang, saya dari kota A." jawab lelaki itu ramah.

"Oh perantau dong."

"Iya bang. Eh kenalin bang sebagai tetangga baru. Nama saya Ilham." ucap Lelaki yang bernama Ilham itu dengan senyum sopannya.

"Saya Ari dan ini istri saya Lisa." balas Ari dengan senyum sopan juga begitu juga dengan Lisa.

"Ya sudah bang salam kenal yah, mbak." Ilham menganggukan kepala sopan dibalas dengan anggukan lagi oleh Ari dan Lisa.

"Kalau begitu saya mau beres-beres dulu mau bantu yang lain." katanya sambil menunjuk barang-barang didepannya.

"Perlu saya bantu." tawar Ari.

"Tidak usah bang, takut merepotkan."

"Tidak apa-apa saling membantu."

Kemudian Ari pun membantu Ilham membawakan barang-barang nya atau sekedar mengobrol dengan disuguhi minuman botol dingin dan cemilan gorengan.

Lisa yang malu karena disitu terdapat lelaki semua memutuskan untuk masuk menemani Laras yang sudah tertidur hingga dirinya ikut tertidur.

****

"Sialan, kenapa nomornya malah tidak aktif? dia sengaja kah atau takut ketauan istrinya." monolog Zoya kesal saat menghubungi nomor Ari ternyata tidak aktif.

"Lihat saja, aku pasti bisa mendapatkanmu tapi sebelum itu aku harus cari tau dulu siapa istri Ari ini?." gumamnya lagi sudah bertekad ingin merebut suami orang.

Ketahuilah perbuatan itu sangat tercela dan jika diteruskan maka diri sendirilah yang akan mendapatkan akibat dari kesalahannya.

Dan setan sudah menguasai hatinya dengan tipu daya dan segala muslihatnya.

Bab 3

Pagi hari Ari sudah siap dan hendak berangkat tak lupa berpamitan pada istri dan anaknya dan didepan sudah ada Ilham yang sedang mencuci motornya.

"Berangkat mas,!" sapa Ilham pada Ari.

"Iya nih! Wah rajin sekali pagi-pagi sudah mencuci motor." Ari berbasa-basi memuji Ilham.

"Ah cuma nyuci motor mas!"

"Ya sudah saya berangkat dulu yah!"

"Iya mas hati-hati."

Setelah berbasa-basi Ari berangkat bekerja seperti biasa dan Lisa keluar bersama Laras.

"Eh mbak Lisa, mau kemana?" tanya Ilham.

"Eh mas Ilham, mau ke tukang sayur mas. Saya duluan yah!"

"Mau saya antar."

"Tidak usah mas, dekat kok!"

"Ya sudah hati-hati mbak."

"Iya..!"

Ilham memandangi punggung Lisa yang sudah menjauh dengan pandangan berbeda, karena setiap melihat Lisa, hati Ilham seperti bergetar dan matanya selalu ingin memandangi ibu muda satu anak itu.

Ilham menggelengkan kepala, dia tau itu salah dia segera mengenyahkan pikiran itu dia memang duda dan butuh pendamping tapi tidak dengan istri orang.

Dia bercerai dengan istrinya dan meninggalkan dua anak yang masih kecil karena lantaran istrinya berselingkuh dan selalu menjelek-jelekkannya dibelakangnya karena tak tahan selain itu iya juga kerap disalahkan dan dihina oleh mertuanya hingga ia tak tahan dan memutuskan menceraikan istrinya dan harus rela berpisah dengan kedua anaknya meski ia akan merindukannya nanti dan memilih pergi merantau di kota seberang.

Ilham bekerja sebagai supir bus wisata yang pekerjaannya bisa menghabiskan waktu berhari-hari diperjalanan dan saat libur dia juga bisa berhari-hari dirumah.

Dia sama seperti Ari tidak putih dan tidak hitam tapi berotot dan berbadan atletis karena suka berolahraga disaat libur dan wajahnya lumayan tampan dia juga baik dan ramah.

****

Ari sampai ditempat kerjanya, Zoya sudah menunggu diparkiran dengan perasaan yang tidak menentu.

Setelah Ari memarkir motornya, Ari hendak masuk tapi Zoya mencegahnya dengan memegang lengannya.

"Tunggu Ari.!" cegah Zoya menatap Ari penuh antusias.

Ari berhenti dan melihat tangan Zoya yang mencekal lengannya, pada saat itu ada hasrat tersembunyi dari Ari apalagi melihat penampilan Zoya yang saat ini berbeda.

Zoya mengenakan pakaian yang seksi dan tipis berlengan pendek dengan belahan dada yang terlihat jelas dan rok mini yang diatas lutut persis seperti wanita penggoda.

"Ada a-pa?". Ari tiba-tiba menjadi gugup, menyingkirkan tangan itu dari lengannya.

Zoya merasa senang melihat ekspresi Ari yang seperti terkesima dengannya, dia semakin sengaja menyugar rambutnya kebelakang sehingga menampakan dadanya penuh.

"Ari, kenapa semalam kamu tidak mengangkat telfon ku dan tidak membalas pesanku lagi." ucapnya manja sambil sengaja menggoyangkan dadanya.

Ari menelan ludahnya karena di pagi hari sudah disuguhkan dengan pemandangan seperti itu.

"Ee... ponselku mati habis baterei jadi tidak bisa membalas." jawabnya gugup tiba-tiba berkeringat dingin.

"Oh aku kira kamu takut sama istri kamu." jawab Zoya senang melihat keringat dipelipis Ari.

Lalu Zoya sengaja menyeka keringat dipelipis Ari dengan sentuhan seringaian bulu yang membuat Ari semakin berkeringat.

"Masih pagi begini, dan belum kerja kok kamu sudah keringaten." bagaimana Ari tidak keringatan kalau didepannya seperti ini.

"Maaf bu, aku harus kerja." Ari buru-buru pergi dia takut otaknya membayangkan sesuatu yang buruk.

"Eh...tunggu!" ucap Zoya, tapi setelah itu dia tersenyum miring.

"Dia pasti tidak tahan dengan godaanku." ucapnya tersenyum sinis dan segera masuk keruangannya.

****

Ditempat penyimpanan barang karyawan, Ari menghela nafas lega dan mengusap keringatnya.

"Sial, dia cantik sekali, dia selalu berhasil menggodaku hampir saja juniorku terbangun." gumam Ari sambil menyentuh juniornya.

"Kenapa kamu Ri?" tiba-tiba Hendra datang dan mengagetkannya.

"Eh kamu Hen, mengagetkan saja." kata Ari melepas tangannya dari bawah.

"Masih pagi jangan melamun ". kata Hendra lagi sambil menaruh barang nya di loker.

"Ah siapa yang melamun? aku hanya kaget saja." jawabnya mengelak.

"Kaget kenapa? perasaan aku tidak mengagetkan kamu." kata Hendra heran.

"Ah sudahlah tidak usah dibahas, aku duluan yah!" ucap Ari berlalu pergi.

Hendra hanya menggedikkan bahu acuh.

****

Saat Ari sedang bekerja Zoya tak henti-hentinya memandangi lelaki itu tak ada pandangan lain apa selain Ari membuat Santi temannya yang malah menjadi tak nyaman.

"Eh Ya, tidak bosan-bosan apa mandangin dia terus." Santi menyenggol lengan Zoya dengan sengaja.

"Kamu, mengganggu saja! terserah aku dong."

jawab Zoya acuh.

"Eh, kerjaan tuh numpuk." Santi menunjuk keberkas laporan yang terdapat dimeja kerja Zoya.

"Ah ini mah gampang." kemudian Zoya berdiri mengambil minumannya.

"Eh mau kemana?" tegur Santi karena Zoya malah mengabaikan pekerjaannya.

"Mau nyamperin ayang beb dulu." katanya dengan mengerlingkan mata dan berlalu pergi.

"Eh dasar kamu, jangan ganggu suami orang Zoya." saran temannya, tapi tak dipedulikan Zoya.

"Suka-suka aku." jawabnya tanpa merasa berdosa.

Santi hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan jelek temannya itu.

"Hai, lelah yah! ini minum dulu." Zoya menyodorkan minumannya kepada Ari, saat Ari menyeka keringatnya.

Ari tersenyum canggung dan melihat sekelilingnya tak ada temannya maka dengan ragu dia mengambil minuman itu karena memang dia haus.

"Terimakasih."

"Sama-sama."

"Pulang nanti bareng aku yah!"

"Eh.. lihat gimana nanti saja yah."

"oke.."

****

Dua bulan pun telah berlalu, hubungan Ari dan Zoya sudah semakin dekat bahkan sangat dekat seperti pasangan kekasih, sering jalan bersama, makan bersama bahkan tidur bersama.

Karena Ari sudah suka dengan wanita itu yang selalu menggodanya setiap hari sehingga dia terpancing untuk bermain-main dengan wanita itu tanpa melupakan istrinya.

Awalnya Lisa sama sekali tidak curiga dengan apa yang dilakukan suaminya diluar rumah dia hanya merasa aneh kenapa akhir-akhir ini suaminya sering keluar dan pernah tak pulang.

Suaminya berkata dia mendapatkan pekerjaan baru yang membuatnya harus lembur dan tak bisa pulang kerumah sesekali.

Lisa memakluminya, tapi setiap kali Lisa ingin melihat ponsel suaminya selalu dicegah oleh Ari seperti tidak ingin istrinya mengetahui apa yang terdapat di ponselnya.

Sampai suatu ketika Allah membuka semuanya hubungan terlarang suaminya dengan wanita itu.

Ketika malam hari mendadak perasaan Lisa tidak enak, diapun mendapat pesan dari nomor tidak dikenal dan orang itu mengirimkan foto suaminya bersama wanita lain.

Mendadak jantung dan hatinya terasa sesak bagai ditusuk ribuan jarum, sakit tapi tidak berdarah.

"Siapa ini?" tanya Lisa pada dirinya sendiri melihat foto suaminya yang sedang tertidur ditemani wanita lain.

Lisa pun menelfon suaminya tapi apa balasannya Ari malah menolak panggilan itu, Ari hanya memberi pesan bahwa jangan meladeni perempuan ini, dia wanita tidak waras hanya ingin merusak rumah tangga.

Tapi tetap saja hati Lisa menjadi resah dan gelisah beberapa kali menelfon suaminya tidak diangkat dan malah ponselnya mendadak tidak aktif.

Maka semakin gelisah saja Lisa memikirkannya.

"Siapa perempuan itu? dan dimana suamiku?".

Lisa terus bertanya-tanya hingga ia tidak bisa tidur.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED