Alina tumbuh dalam keluarga lengkap yang tidak bahagia dimasa kecilnya.
Bersama seorang ibu yang lembut dan seorang ayah yang kasar. Mereka adalah sepasang insan yang tidak cocok satu sama lain.
Dalam pandangannya, itu seperti minyak bercampur air, menolak menyatu. Dan seperti seekor kelinci untuk harimau, hanyalah korban untuk yang terkuat.
Seringkali di setiap siang bahkan malam, Alina kecil bersembunyi di pojok ruang tamu, menonton hal-hal yang tidak seharusnya ia tonton. Mendengar hal-hal yang tidak seharusnya ia dengar. Dan melihat hal-hal yang tidak seharusnya ia lihat.
Menonton perkelahian antar dua orang dewasa. Mendengar kata-kata kasar dari seorang yang seharusnya ia hormati. Dan melihat seorang wanita lemah yang dipukul sampai tidak berdaya.
Tahun-tahun berlalu dan keduanya berpisah. Alina berpikir dengan keduanya berpisah ia akan hidup lebih damai.
Ketika Alina remaja, ibunya kembali menikah dengan seorang duda kaya. Ia tidak menolak hubungan mereka dan bersikap bijak terhadap ibunya yang pastinya membutuhkan teman hidup baru dan melupakan masa lalu yang suram.
Tapi setahun pernikahan mereka. Ibunya kembali tidak bahagia. Ayah tirinya berselingkuh dan pada akhirnya itu diketahui oleh ibunya.
Bertekad untuk mempertahankan pernikahan yang masih seumur jagung itu, ibunya bersedia dipoligami.
Saat itu adalah neraka untuk ibunya. Tiap hari ia terluka fisik dan batin hanya untuk menoleransi ketidakadilan suaminya terhadap nya dan betapa pilih kasihnya ia terhadap istri mudanya.
Ibunya diperlakukan seperti pembantu yang melayani istri mudanya dan beberapa kali ia tertindas oleh saingan cintanya itu.
Ibunya yang lembut awalnya bertahan. Sampai suatu hari istri muda dari ayah tirinya itu menjebak ibunya yang tak berdaya dengan taktik kotor.
Ibunya dijebak dengan pria asing di sebuah hotel dan di perkosa. Ayah tirinya yang mengetahui hal itu murka, mencelanya dan menceraikannya.
Setelah semua penderitaan itu. Ibunya yang lembut dan baik hati perlahan depresi dan menjadi gila.
Tepat di hari ulang tahun Alina yang ke-17, ibunya dibawa kerumah sakit jiwa untuk dirawat. Dan ia tinggal bersama nenek dan kakek tirinya.
Kehidupan neneknya tidak jauh berbeda dengan putrinya yang merupakan ibunya. Pernikahan pertamanya tidak bertahan. Tapi ia berhasil mempertahankan pernikahan keduanya.
Awalnya Alina mendapatkan perlakuan kasih sayang yang melimpah dari nenek dan kakek tirinya. Sampai ia sangat menghormati dan menyayangi mereka.
Alina hidup bersama mereka empat tahun lamanya sampai ia berhasil menjadi seorang sarjana.
Tapi suatu hari setelah acara wisuda. Di malam harinya ia yang merasa lelah tertidur pulas di kasur.
Tiba-tiba merasakan seseorang menggerayangi tubuhnya. Alina tersentak dari mimpinya hanya untuk menemukan pria tua yang selama ini ia hormati dan ia sayangi mencoba melecehkannya.
"Ka-kek apa yang coba kau lakukan?"
"Syuhh jangan bersuara!"
"Ka-kek apa maksudnya ini?"
"Aku sudah lama menahannya"
Malam itu ia berjuang keras untuk melawan tindakan tercela pria tua itu. Hingga tanpa sengaja tangannya bergerak cepat mengambil lampu tidur dan melemparkannya kearah pria tua itu.
Pria tua itu terluka dan berdarah sedang ia bergegas melarikan diri.
Dalam pelukan neneknya ia menangis dan mengatakan apa yang terjadi. Neneknya terkejut dan tidak akan pernah mengira suaminya yang sudah tua masih saja tega melakukan hal keji seperti itu.
"Ku pikir dia sudah berubah" Gumaman lirih wanita tua itu tidak lolos dari pendengarannya.
Dan akhirnya neneknya kembali mengulang kisah suramnya.
Dan Alina akhirnya tau.
Nasib ibu dan anak itu pada nyatanya tidak jauh berbeda.
Setelah kejadian pada malam itu, pria tua itu di rawat di rumah sakit dalam beberapa hari tanpa siapapun yang mengurusnya.
Neneknya menolak mengakuinya sebagai suaminya lagi dan ia sangat membencinya sejak malam itu.
Ketika pria tua itu sembuh ia kembali ke rumah dengan tekad membunuh istrinya sendiri, hanya untuk mendapatkan kesempatan untuk melecehkannya lagi.
Dan juga melakukan pembalasan dendam terhadap tindakan Alina pada malam itu yang melukainya.
Neneknya tidak akan pernah mengira suaminya tega melakukan hal itu diusia senja mereka.
Alina melihat pria tua itu sudah mencekik neneknya yang nyaris hampir kehabisan nafas. Tidak tinggal diam begitu saja, Alina mengambil payung yang ada di pojok ruangan dan memukul pria tua itu tepat di punggungnya.
Pria tua yang adalah kakek tirinya. Yang merupakan pria pertama yang dihormati nya dalam kehidupan ini.
Kini tampak murka dengan wajah merah padam menahan emosi. Sepasang mata tuanya menatap kearahnya penuh nafsu dan gairah.
"Kau gadis tak tau diri! Aku harus memberi mu pelajaran"
Dan bersamaan dengan itu sirene mobil kepolisian terdengar nyaring di depan halaman rumahnya.
Menarik kedua sudut bibirnya, Alina tersenyum lebar dan angkuh.
"Masih ingin memberiku pelajaran, pak tua?"
"K-kau"
Malam itu berakhir dengan pihak kepolisian memboyong pria tua itu pergi.
Alina berlari kearah wanita tua yang terduduk lemah di lantai dengan wajah keriputnya bercucuran air mata.
"K-kenapa dia kembali s-seperti dulu?" Rintih nya dengan bibirnya bergetar.
Alina menarik waniat tua itu kedalam pelukannya.
"Pria tetaplah pria. Mereka tidak akan pernah berubah nek!"
Untuk Alina itu adalah kebenaran.
Perjalanan kehidupan masa kecilnya Sampai ia dewasa. Alina sudah melihat dan mengalami banyak hal.
Setelah semua pengalaman menyedihkan itu. Alina mulai menanamkan kebencian dalam dirinya terhadap makhluk yang berjenis kelamin pria.
Dan ia bertekad untuk menjalani hidup seorang diri tanpa harus memiliki pendamping.
Alina cukup percaya diri dengan tekadnya.
Baginya ia akan jauh lebih bahagia dengan menjalani kehidupan ini seorang diri. Sebaliknya, memiliki pria disisinya hanya merusak kedamaian hidupnya.
Dan bahkan ia takut.
Kebencian nya yang begitu besar terhadap pria. Akan mendorongnya suatu hari untuk melampiaskan dendamnya terhadap pria yang tidak bersalah.
Dan untuk menghindari nya. Alina memutuskan, disamping tidak menikah. Ia juga menolak memiliki hubungan apapun terhadap pria. Baik mereka anak kecil bahkan dewasa.
Dan perlahan Alina berubah menjadi seorang misandris setelah itu.
___
Wanita itu pun bergegas membereskan beberapa buku materi mengajarnya dengan rapi ditangannya dan berjalan keluar kelas.
"Alina!"
Seseorang datang menepuk pundaknya dari belakang. Dan itu adalah namanya...
Alina. Hanya Alina.
Sedikit merasa terkejut, ia menghela nafas kemudian menoleh pada wanita yang baru saja menghampiri nya.
"Maya kau mengagetkan ku!"
Alina dengan sengaja melangkah lebih dekat untuk menyenggol bahu wanita itu. Maya hanya tertawa menerima perlakuannya.
Dan Maya, adalah teman masa kuliah. Sahabat dan sudah seperti keluarga untuk Alina. Keduanya sama-sama berkerudung. Hanya saja Maya jauh lebih relijius dan feminim.
Maya selalu dengan gamis yang membuat nya selalu terlihat anggun dengan lilitan kerudung yang sempurna hingga menutupi dada.
Lain halnya dengan Alina yang tampil modis dengan berbagai macam bentuk lilitan hijab dan pakaian nya yang selalu tampak fashionable.
Sekolah tempat mereka mengajar adalah sebuah pondok pesantren sederhana yang terletak di kota Z. Sekolah itu hanya di khususkan untuk perempuan.
Alina mendapatkan saran untuk bekerja di sana oleh Maya yang memperkenalkan nya pada tempat itu.
Maya tau tentang Alina yang sangat membenci pria dan betapa wanita itu menjauhi lingkaran yang ada jenis kelamin tersebut didalamnya.
Meski penghasilan nya tidak terlalu memadai seperti di sekolah elit. Selama ia tidak terhubung dengan pria, itu sudah jauh lebih cukup.
Mereka bergegas ke ruang guru untuk meletakkan buku-buku di tangan mereka. Setelahnya mereka berjalan ke kantin yang sama dengan anak-anak. Mengambil sudut tempat yang kosong, Alina duduk.
Sedangkan Maya pergi memesan pesanan mereka. Sebagai teman akrab, Maya sudah menghafal apa yang di sukai Alina. Jadi ia dapat memesan tanpa harus bertanya lagi.
"Cuaca panas seperti ini sangat membuat gerah!" Keluh Alina.
Ia mengibas-ngibaskan tangannya di sekitar wajahnya yang sudah muncul beberapa titik keringat.
Alina juga dapat merasakan leher nya yang tertutup balutan hijab sudah bercucuran keringat.
"Tepat sekali!"
Maya datang membawa nampan pesanan mereka di atas meja. Ia meletakkan segelas jus jeruk dingin kepada Alina dan teh dingin untuk dirinya. "Minuman dingin sangat membantu untuk situasi seperti ini" Maya meletakkan jus jeruk dingin ke sisi Alina.
Alina bergegas menarik gelas lebih dekat, menarik sedotan ke mulutnya, ia menyeruput minumannya. "Ahh.." Dan dingin es dan segarnya jus jeruk, membuat rasa gerahnya sedikit berkurang. "Sekarang jauh lebih baik" Tukasnya.
Lalu ia mengaduk sedotan di gelas, membuat keributan kecil dari es yang saling bertubrukan.
"Aku sepertinya harus mengambil cuti beberapa hari untuk kembali ke kota Y"
"Kenapa?"
"Nenek ku jatuh sakit, Ia mengabari ku semalam. Tentunya aku harus pulang untuk melihat"
Kota Y adalah tempat Alina berasal. Tidak seperti Maya yang memang berasal dari kota Z. Hanya saja ia melanjutkan studi perguruan tinggi nya di kota Y. Karena itulah mereka berjumpa.
Kota Y dengan Z sangat jauh berbeda.
Kota Y merupakan kota metropolitan yang sudah sangat berkembang pesat dan jauh lebih maju. Tidak seperti kota Z yang masih sangat kurang dalam segi kemajuan nya.
"Kalau begitu pulang lah! Kirim salam ku untuk nenek mu" Tukas Maya yang tentu saja mengenali neneknya Alina. Semasa kuliah dulu, ia sering mendatangi kediaman Alina yang merupakan rumah neneknya.
Ketika waktu istirahat selesai.
Alina dan Maya kembali bersiap untuk mengajar di kelas selanjutnya.
Alina hanya memiliki satu kelas yang tersisa untuk hari itu. Setelahnya ia dapat mengurus cutinya untuk kembali ke kota Y.
___
"Iya nenek! Aku sedang dalam perjalanan pulang"
"Em!"
"Assalamu'alaikum"
Dan Alina menutup telepon nya.
Karena gajinya terbilang cukup kecil, untuk menghemat pengeluaran, Alina mengambil jalur transportasi darat.
Yaitu dengan menaiki kereta api. Jika menggunakan transportasi udara hanya menghabiskan waktu satu jam perjalanan. Karena ia menggunakan jalur darat, tentu jauh lebih lama dari itu.
Karena itu bukan hari libur. Kereta api jauh lebih sepi. Membuat Alina jauh lebih nyaman didalamnya.
Ia duduk seorang diri dengan kepala di miringkan, bersandar ke kaca jendela.
Ia dapat melihat pandangan pepohonan hijau yang masih terlihat asri perlahan-lahan terlewati begitu saja.
Merasakan kecepatan laju kereta api juga waktu yang tanpa sadar, ia sudah sampai di kota Y.
Hari sudah malam. Alina tidak membawa banyak barang karena ia menyimpan beberapa pakaian di rumah neneknya.
Bersama tas tangannya ia keluar dari pemberhentian stasiun kereta api menuju ke jalan luar untuk mencari taksi.
Pada saat itu ponselnya berdering dan itu adalah panggilan dari neneknya lagi.
"Assalamu'alaikum nek..."
"Iya Alhamdulillah Alina sudah sampai"
"Apa?"
"Nenek mengirimkan seseorang menjemput ku?"
"Em! Baiklah"
"Wa'alaikumsalam"
Memandangi ponselnya beberapa detik. Alina tenggelam dalam pikirannya.
'Kenapa nenek mengutus seseorang untuk menjemput ku? '
'Apakah karena nenek mengkhawatirkan ku?'
Menyadari hal itu Alina merasa sangat tersentuh. Tentu saja wanita tua itu mengkhawatirkan nya. Apalagi sekarang sudah malam hari dan terlalu tidak aman untuk seorang wanita berjalan seorang diri.
Sebuah mobil hitam baru saja berhenti di depannya.
Setelah Alina perhatikan, itu adalah Rolls-Royce hitam yang tampak luar biasa setelah dilihat lebih dekat.
Seorang pria berjas hitam keluar dari pintu pengemudi. Datang berjalan kearahnya.
Pria itu menggunakan kacamata hitam yang sedikit mencolok. Warna kulit nya yang putih bersih sedikit bersinar di bawah penerangan lampu jalan.
Ada earphone bluetooth disalah satu telinga nya. Berdiri di hadapannya ia sedikit membungkuk sopan.
"Maaf, apakah anda nona Alina?"
Mengernyitkan dahinya, Alina memberi tatapan tak suka terhadap pria asing di depannya.
Pria ini mengetahui namanya?
Seakan menangkap jelas ketidaknyamanan nya. Pria itu langsung berterus terang.
"Kami adalah orang yang akan menjemput anda"
Alina terdiam sejenak.
Jadi neneknya mengirimkan seorang pria asing ini untuk menjemputnya. Tapi kenapa harus pria?
Bukankah neneknya tau, betapa ia membenci berada di sekitar mereka.
"Sekarang nenek anda sedang di rawat inap di rumah sakit. Kami akan mengantarkan anda ke sana"
Mendengar kata rumah sakit, Alina menjadi panik. Mengeluarkan ponselnya, ia langsung menghubungi neneknya untuk kejelasan.
"Assalamu'alaikum nek!"
"Kenapa nenek tidak mengatakan kalau nenek sedang di rawat di rumah sakit sekarang"
"Jadi, pria asing ini orang yang kau kirim untuk menjemput ku?"
Melihat kepada tampilan dan mobil pria itu. Alina tau pasti pria itu memiliki latar belakang keluarga kaya. Tapi keluarga biasa seperti mereka bagaimana mungkin memiliki hubungan dengan pihak seperti itu.
"Nenek bisa kau katakan siapa nama pria yang menjemput ku?"
"..."
"Assalamu'alaikum"
Panggilan berakhir.
Alina mengangkat wajahnya dengan acuh tak acuh terhadap pria asing di depannya.
"Siapa nama anda?" Alina bertanya untuk memastikan.
Sebenarnya ia sangat ingin menolak untuk di jemput oleh seorang pria. Hanya saja ini adalah kebaikan neneknya yang sudah mengirim seseorang untuk menjemputnya.
Bagaimana bisa ia menolak kebaikan wanita tua itu?
"Saya Bakri nona!"
Itu bukanlah nama yang di sebut neneknya. Sepasang matanya menyipit, menatap tajam kearah pria asing itu.
Merasakan tatapan intens dari wanita di hadapannya. Pria itu sedikit canggung dan berdeham.
"Itu tuan saya, Zayyad didalam sudah lama menunggu. Apa kita bisa pergi sekarang nona?"
"Zayyad?"
Itu adalah nama yang di sebut neneknya.
"Iya nona!" Jawabnya sangat sopan.
Jadi pria asing di depannya ini tidak seorang diri. Ada orang lain didalam mobil?
"Nona?" Pria asing itu masih menunggunya bergegas.
"Em!"
Alina langsung mengambil langkah kedepan untuk melewati pria itu.
Meraih gagang pintu mobil belakang. Alina tanpa sopan bersiap untuk menarik gagang pintu dan masuk.
"Nona sebentar!"
Pria asing itu menahannya.
"Tuan Zayyad menyukai keluasan. Harap nona mengerti dan bermurah hati untuk duduk di depan"
Alina terdiam sejenak. Dan mengangguk kemudian.
Masih mengacuhkan pria asing itu. Ia membuka pintu depan dan duduk.
Dan mobil Roll Royce hitam itu melesat cepat di keramaian kota malam menuju kerumah sakit.
___
Alina sudah sampai di rumah sakit.
Dan dalam perjalanan menuju ruang tempat neneknya di rawat meninggalkan dua pria asing di belakangnya.
Ia tidak peduli apakah mereka akan mengikuti nya atau tidak.
Membuka pintu, ia melihat seorang wanita tua duduk separuh bersandar di ranjang rumah sakit. Ada selang infus yang menusuk nadinya yang menonjol di balik kulitnya yang keriput.
Tubuhnya terlihat sedikit kurus.
Ia tampak sedang tertawa dengan seorang lawan bicara yang duduk di kursi dekat tempatnya berbaring.
Itu adalah seorang pria tua yang berpakaian santai. Separuh rambutnya sudah memutih. Sama seperti neneknya, pria tua itu juga tertawa.
Menatap kosong kearah mereka. Alina menyembunyikan ketidaksukaan nya pada pria tua asing itu.
'Kenapa begitu banyak pria yang ku temui sejak tadi?' Batin Alina.
"Nenek!"
Alina berjalan kearah ranjang tempat wanita itu berbaring dan memberikannya pelukan.
"Ah! Cucuku.. akhirnya kau datang"
Wanita tua itu menepuk punggungnya lembut. Alina menenggelamkan wajahnya lebih jauh dalam dekapan. Merasakan hangat serta mencium aroma tubuh tuanya yang sangat ia rindukan.
"Nenek siapa pria tua itu?" Bisik nya kemudian di telinga wanita tua itu.
Pelukan keduanya pun terlepas.
Wanita tua itu tersenyum lembut padanya. Melempar pandangan kearah pria tua yang duduk di kursi. Senyumnya semakin lebar dan antusias.
Alina diam-diam mengepalkan tangannya. Sambil menekan gejolak emosi ketidakpuasannya.
"Irsyad kenalkan ini dia cucuku, Alina"
"Alina? Nama yang indah"
Pria tua itu tersenyum lebar kearahnya. Alina segera membuang wajah.
Karenanya pria tua itu merasa sedikit canggung.
Melihat itu, wanita tua itu hanya mampu tersenyum pahit dan memaklumi nya dalam hati.
"Alina bersikap sopan!"
Mendengar teguran seperti itu dari neneknya. Alina semakin tidak suka dan memasang wajah masam.
"Alina ini sahabat lama nenek, ayo perkenalkan dirimu pada tuan Irsyad"
Alina hanya diam. Wajahnya sama sekali tidak melirik pada pria tua itu.
Matanya yang tajam hanya menyoroti neneknya dengan penuh tuntutan.
"Nenek kurasa kau sudah melakukan nya"
Kata Alina lugas. Bibirnya melengkungkan senyum yang tidak seperti senyum.
Menanggapi kelakuan cucunya itu. Ia hanya mampu tersenyum tak berdaya dengan hati yang menyimpan rasa luka untuk cucunya.
Setelahnya suasana ruangan menjadi hening. Bunyi jarum jam yang terus berputar, menggema di udara.
"Ekhem!"
Pria tua yang bernama Irsyad itu berdeham untuk memecah sedikit keheningan.
"Ini sudah larut! Cucu mu juga sudah ada disini. Kalau begitu aku pulang dulu"
Kata Irsyad sopan. Ia perlahan bangkit dari duduknya.
"Tapi kita belum memperkenalkan mereka?"
Memperkenalkan?
Merajut sepasang alisnya, Alina memiliki firasat buruk.
Malam ini ia di jemput oleh pria asing yang tidak di kenalnya. Melangkah dalam kamar rumah sakit, neneknya tampak sangat bersemangat membicarakan sesuatu dengan rekan lamanya.
Ini tidak akan menjadi kisah perjodohan antar kedua sahabat lama seperti yang ada di dalam drama atau novel romantis kan? Kebetulan ia sering mendengar cerita konyol seperti itu dari Maya.
Alina tidak pernah menonton drama ataupun membaca cerita romantis.
Tapi ia memiliki seorang sahabat yang sangat senang menceritakan hal-hal itu padanya. Itu adalah Maya yang sangat menyukai hal-hal manis seperti itu, yang baginya sangat memuakkan.
"Ah! Aku hampir saja lupa" Irsyad memukul jidatnya dan tertawa.
"Haha..kita sudah tua, itu sangat wajar"
"Sepertinya ia diluar, aku akan memanggilnya sebentar"
Setelah pria tua itu pergi.
Alina melemparkan tatapan intens pada neneknya.
"Apa ada sesuatu yang sedang nenek rencanakan?"
Mendengar pertanyaan cucunya, mata tuanya membulat takjub. Ia tidak akan pernah mengira cucunya akan begitu langsung.
"Iya"
"Apa itu?"
Wanita tua itu mengambil tangan Alina, merasakan telapak tangannya yang agak kasar tanda cucunya pekerja keras sejak kecil. Menurunkan tatapannya kebawah, ia merenungi kulit Alina yang putih bak mutiara. Perlahan jempolnya mengusap lembut permukaan punggung tangan cucunya.
Menerima perlakuan seperti itu, mau tidak mau Alina luluh. Tatapan nya yang sejak tadi penuh ketidakpuasan, perlahan melembut.
"Nenek sudah tua! Dan kau sudah berumur 28, tapi masih saja belum menikah. Nenek tidak mau kau menjadi perawan tua"
"Jadi?" Menaikkan salah satu alisnya, Alina bertanya.
Walau sebenarnya ia sangat mengerti kemana arah pembicaraan itu.
"Nenek berniat untuk menjodohkan mu dengan seorang pria mapan dan tampan. Bagaimana menurut mu?"
Alina baru saja membuka mulutnya untuk berbicara. Dan bersamaan dengan itu pintu terbuka memunculkan dua orang pria.
Itu adalah Irsyad yang sudah kembali membawa seseorang yang baru saja dilihat Alina.
Seorang pria mengenakan jas putih bersih yang kompatibel dengan kulit putihnya yang segar.
Wajahnya terpahat sangat menarik dengan sepasang alis yang tidak terlalu tebal dan juga tidak terlalu tipis, hidungnya mancung sangat menyenangkan mata, bibirnya yang tipis berwarna coklat agak keunguan. Dan sepasang matanya yang bewarna coklat itu berlawanan dengan rambutnya yang hitam pekat.
Alina dapat merasakan tatapannya yang terasa jauh dan kosong. Sekilas pria itu terlihat acuh tak acuh tapi di perhatikan lebih jauh, tampak seperti menyembunyikan tekanan dalam dirinya.
"Alina, kenalkan ini cucu ku Zayyad"
Irsyad memperkenalkan Zayyad padanya.
Alina hanya melirik sekilas. Menemukan Zayyad yang hanya diam. Pupil mata coklatnya tampak sedikit bergetar. Tak tau apa itu gugup atau tidak.
"Ah, Jadi ini adalah Zayyad yang kau ceritakan padaku? Dia sangat tampan! Bagaimana menurut mu Alina?"
Bibir tipis Alina berkedut.
"Em!" Alina mengangguk.
Wanita tua itu merasa senang dengan respon cucunya. Walau hanya mengangguk, tapi itu untuk membenarkan pernyataannya bukan?
"Aku memaklumi kondisi mata tua mu nenek"
Tapi siapa yang tau? Pernyataan Alina selanjutnya merusak harapan kecilnya.
Menolak untuk menyerah begitu saja. Wanita tua itu kembali berbicara. Kali ini ia ingin mencoba lebih jauh memuji Zayyad di hadapan Alina.
"Zayyad jadi kau seorang CEO muda di perusahaan keluarga mu sekarang? Ku dengar perusahaan itu sangat meningkat--"
"Kakek aku permisi!"
Tapi siapa yang mampu menebak? Zayyad memotong pembicaraan begitu saja. Tanpa basa-basi lebih jauh, ia mengangkat kakinya, terus keluar.
Alina sedikit terkejut melihat sikap acuh tak acuh pria itu terhadap neneknya.
Apakah pria itu juga sudah tau tentang rencana yang sudah di atur untuk mereka? Tapi tetap saja Alina membenci sikap tidak sopan nya.
"Erina maafkan sikap cu-"
Irsyad baru saja mengatakan maaf untuk mewakili cucu lelakinya yang tidak sopan. Ia belum menyelesaikan kalimatnya hanya untuk di sambut oleh gelak tawa Erina.
"Ha..ha..."
Alina yang melihat neneknya tertawa sedikit mengkerut kan dahi. Ia sama sekali tidak mengerti kenapa neneknya tertawa. Apakah tadi itu cukup lucu untuk ditertawakan?
Pria yang bernama Zayyad itu tidak melakukan lelucon sama sekali. Ia dengan berani secara terbuka mengacuhkan neneknya.
Disamping neneknya yang terus saja tertawa.
Alina menggali kukunya lebih jauh kedalam daging. Mengetatkan rahangnya, ia berusaha keras mengontrol emosi kebenciannya.
"Erina kenapa kau mendadak tertawa?"
Irsyad yang merasa heran terus bertanya.
"Tidakkah keduanya mirip satu sama lain?"
Irsyad merenungkan kata-kata itu sejenak.
Ia memikirkan Alina yang acuh tak acuh terhadapnya dan Zayyad yang baru saja acuh tak acuh terhadap Erina.
'Apakah ini yang Erina maksud?' Irsyad bertanya dalam hatinya.
Alina yang mendengar perkataan neneknya tidak mampu lagi memendam gejolak emosi nya.
Sudah merasa sangat panas dan tidak ingin meledak di tempat itu. Alina pun segera berkata.
"Nek, aku ke toilet sebentar!"
___