Bab 1

Langkah kaki Liana menggema di sepanjang koridor luas perusahaan Alvaro Corp. Ini adalah hari pertamanya sebagai sekretaris baru di salah satu perusahaan terbesar di negara ini. Tangannya mencengkeram map dengan erat, berusaha menenangkan dirinya.

Bukan pekerjaannya yang membuatnya gugup. Melainkan fakta bahwa ia akan bertatap muka dengan pria yang selama ini hanya ada dalam kenangannya.

Pria yang tanpa ia sadari, telah mengubah hidupnya lima tahun lalu.

Liana menarik napas dalam-dalam, mencoba mengendalikan debaran jantungnya. Ia mengetuk pintu kayu besar yang menjulang di hadapannya.

Tok, tok, tok!

"Masuk," suara berat dan dalam terdengar dari dalam ruangan.

Jantungnya semakin berdebar. Dengan hati-hati, ia membuka pintu dan melangkah masuk.

Saat matanya bertemu dengan pria yang duduk di balik meja kerja besar, dunia terasa berhenti berputar.

Liana tercekat.

Pria itu…

Ethan Alvaro.

Pria yang pernah bersamanya di malam itu.

Pria yang tanpa ia sadari… adalah ayah dari anaknya.

---

Lima tahun lalu…

Liana masih ingat malam itu dengan jelas. Pesta perusahaan yang diadakan di hotel mewah, suasana hangat dengan alunan musik jazz yang lembut. Ia tidak berniat tinggal lama, tetapi rekan-rekannya memaksanya untuk ikut.

Saat ia keluar untuk mencari udara segar di balkon, seorang pria datang menghampirinya.

"Tampaknya kau juga tidak suka keramaian," katanya dengan suara rendah.

Liana menoleh. Pria itu tinggi, mengenakan jas hitam yang elegan. Cahaya lampu membuat fitur wajahnya terlihat tajam dan sempurna—rahang tegas, mata tajam, dan bibir tipis yang membentuk senyum samar.

"Aku hanya tidak terlalu suka pesta yang berisik," jawab Liana dengan canggung.

Pria itu menyandarkan tangannya di pagar balkon, menatap langit malam. "Begitu juga aku," gumamnya.

Liana menoleh, mengamati wajah pria itu lebih lama. Ada sesuatu yang berbeda darinya. Cara ia berbicara, cara ia menatapnya…

"Apa kau sering datang ke pesta seperti ini?" tanyanya, mencoba memecah keheningan.

"Tidak. Ini pertama kalinya aku merasa ingin tinggal lebih lama." Pria itu meliriknya, sudut bibirnya sedikit tertarik.

Liana merasakan kehangatan menjalar di pipinya.

Mereka mengobrol untuk beberapa saat, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Liana merasa nyaman dengan seseorang. Pria itu memiliki aura yang kuat, namun ada sesuatu dalam tatapan matanya yang membuat Liana merasa aman.

Satu hal mengarah ke hal lain.

Malam itu berakhir dengan cara yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Dan keesokan paginya, pria itu menghilang tanpa jejak.

Liana mencoba mencari tahu siapa dia, tetapi satu-satunya hal yang ia tahu hanyalah namanya—Ethan.

Beberapa minggu kemudian, hidupnya berubah selamanya. Ia hamil.

Dan sekarang, setelah bertahun-tahun, pria itu berdiri di depannya…

Yang lebih buruk, Ethan sama sekali tidak mengenalinya.

---

"Siapa kau?" suara Ethan terdengar tegas, membuyarkan lamunannya.

Liana berusaha menguasai dirinya. "Liana Evans. Saya sekretaris baru Anda, Tuan Alvaro."

Ethan menyipitkan mata, mengamati wanita di depannya. Ada sesuatu yang terasa familiar, tapi ia tidak bisa mengingatnya. Namun, ia bukan tipe pria yang membuang waktu untuk hal-hal sepele.

"Baik," katanya akhirnya. "Aku tidak suka kesalahan. Aku menuntut kesempurnaan. Jangan buat aku kecewa."

Liana mengangguk. "Saya mengerti, Tuan."

Hanya itu?

Liana tidak tahu apakah ia harus merasa lega atau kecewa karena pria itu benar-benar tidak mengingatnya.

Ethan menutup dokumen di mejanya, lalu bersandar di kursinya. "Apa kau punya pengalaman menjadi sekretaris eksekutif sebelumnya?"

Liana menelan ludah, mencoba mengalihkan pikirannya dari keterkejutan barusan. "Saya pernah bekerja sebagai asisten manajer di perusahaan sebelumnya, jadi saya cukup familiar dengan tugas-tugas administratif," jawabnya dengan nada setenang mungkin.

Ethan menatapnya lebih lama dari yang seharusnya. Mata pria itu mengintimidasi, tajam, dan seakan mampu membaca kebohongan sekecil apa pun.

"Aku tidak butuh seseorang yang hanya 'cukup familiar'," katanya dingin. "Aku butuh seseorang yang sempurna."

Liana mengepalkan tangannya di balik map yang ia bawa. Ia tahu betapa kerasnya dunia korporat. Tidak ada tempat bagi orang yang lemah.

"Saya akan melakukan yang terbaik," jawabnya mantap.

Ethan tidak mengatakan apa-apa selama beberapa detik, lalu akhirnya mengangguk. "Baik. Mulai hari ini, kau bekerja di bawah kendaliku. Aku tidak suka orang yang lamban atau ceroboh. Jika kau membuat kesalahan, kau bisa keluar dari sini kapan saja."

Liana menelan ludah. "Saya mengerti, Tuan Alvaro."

"Bagus."

Ethan menatap layar laptopnya, mengisyaratkan bahwa percakapan mereka telah selesai.

Liana mengangguk sopan dan berbalik menuju pintu. Namun, sebelum ia bisa keluar, ponselnya bergetar di dalam tasnya.

Ia merogoh tasnya dengan cepat dan melihat pesan dari pengasuh putranya, Noel.

"Noel demam. Aku sudah memberinya obat, tapi dia terus memanggil ‘Papa’ dalam tidurnya."

Liana berhenti di tempat.

Tangannya sedikit gemetar saat menggenggam ponselnya.

Papa…

Kata itu menghantam hatinya lebih keras dari yang ia bayangkan.

Dalam sekejap, pikirannya melayang ke wajah mungil Noel—mata bulatnya yang jernih, hidung kecilnya, dan senyum khasnya yang mirip dengan…

Liana mencuri pandang ke arah Ethan.

Pria itu masih menatap layar laptopnya, tampak tidak peduli dengan keberadaannya.

Jika ia memberi tahu pria itu sekarang… apa yang akan terjadi?

Tapi tidak, Liana tidak bisa.

Tidak semudah itu.

Ia menggigit bibirnya dan segera memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas.

Tidak ada yang boleh tahu. Terutama Ethan Alvaro.

Namun, satu hal yang tidak ia sadari… sejak tadi, Ethan sempat meliriknya sekilas.

Alis pria itu sedikit berkerut.

“Apa yang sebenarnya disembunyikan wanita ini?”

Bab 2

Liana keluar dari ruangan Ethan dengan napas yang sedikit tertahan. Rasanya baru beberapa menit saja ia berada di dalam sana, tetapi tekanan yang diberikan pria itu begitu kuat hingga hampir membuatnya kehilangan keseimbangan.

Tangannya masih menggenggam ponselnya erat, matanya menatap pesan dari pengasuh Noel.

"Noel demam. Aku sudah memberinya obat, tapi dia terus memanggil ‘Papa’ dalam tidurnya."

Jantungnya mencelos. Noel memang sering bertanya tentang ayahnya, tetapi Liana selalu berhasil mengalihkan pembicaraan. Namun, bagaimana jika nanti ia mulai menyadari bahwa ayahnya benar-benar ada—dan berdiri tidak jauh darinya saat ini?

Tidak. Aku tidak boleh membiarkan itu terjadi.

Liana buru-buru memasukkan ponselnya ke dalam tas, lalu berjalan menuju meja kerjanya. Sebagai sekretaris pribadi Ethan, mejanya berada tepat di depan ruangan pria itu. Ini berarti, setiap hari ia akan melihat pria yang telah mengubah hidupnya tanpa ia sadari.

"Liana, kau baik-baik saja?" suara seorang wanita membuyarkan lamunannya.

Liana menoleh dan mendapati seorang wanita dengan rambut hitam sebahu berdiri di depannya dengan senyum ramah.

"Aku Amanda. Sekretaris senior di sini," wanita itu memperkenalkan diri. "Biasanya sekretaris eksekutif tidak bertahan lama dengan Tuan Alvaro. Aku harap kau cukup kuat untuk bertahan."

Liana tersenyum kecil. "Aku akan mencoba."

Amanda terkekeh. "Kau harus lebih dari sekadar mencoba. Tuan Alvaro itu… tidak mudah ditangani."

Liana menghela napas. Tentu saja, ia sudah menyadarinya sejak pertama kali berbicara dengan pria itu.

Belum sempat ia menanggapi, ponselnya kembali bergetar. Kali ini, ia melihat panggilan dari pengasuh Noel.

Liana langsung menjawab, suaranya sedikit khawatir. "Ada apa, Mia?"

"Dema Noel makin tinggi, Liana. Aku sudah memberinya obat, tapi dia tetap lemas dan terus mengigau," suara Mia terdengar panik.

Liana langsung berdiri. Ia tidak bisa menunda ini.

"Aku akan segera pulang," katanya cepat.

Tanpa berpikir panjang, ia berbalik dan berjalan cepat menuju ruangan Ethan. Tanpa mengetuk, ia langsung membuka pintu.

Ethan mengangkat alisnya, tampak tidak senang karena Liana masuk begitu saja. "Apa kau tidak tahu cara mengetuk?"

Liana tidak peduli. "Saya perlu izin pulang lebih awal."

Ethan menyipitkan matanya. "Baru hari pertama bekerja dan kau sudah ingin pulang lebih awal?"

Liana mengangguk cepat. "Ini darurat."

Ethan menutup dokumen yang sedang ia baca, lalu melipat tangannya di depan dada. "Apa alasanmu cukup kuat untuk meninggalkan pekerjaan ini?"

Liana menggigit bibirnya. "Anak saya sakit."

Sejenak, ekspresi Ethan berubah.

"Anak?"

Liana merasakan jantungnya berdetak lebih cepat. Ia lupa bahwa pria ini tidak tahu tentang Noel.

"Ya," katanya cepat. "Saya seorang ibu tunggal, dan anak saya sedang sakit parah. Saya harus pulang."

Ethan menatapnya lama. Ada sesuatu di matanya yang sulit diartikan.

"Baiklah," katanya akhirnya. "Tapi pastikan ini tidak terjadi terlalu sering."

Liana mengangguk dengan lega. "Terima kasih, Tuan Alvaro."

Ia berbalik dan berlari keluar dari ruangan, sama sekali tidak menyadari bahwa Ethan masih menatapnya dengan pandangan penuh tanda tanya.

---

Liana tiba di apartemennya dengan napas terengah. Begitu ia masuk ke dalam, ia melihat Noel terbaring di sofa dengan wajah pucat. Mia, pengasuhnya, duduk di sampingnya dengan ekspresi cemas.

"Noel," Liana langsung berlutut di samping anaknya, meraba dahinya yang panas.

Mata Noel terbuka sedikit, lalu tersenyum lemah. "Mama…"

Air mata menggenang di mata Liana. "Mama di sini, Sayang."

Noel menggenggam tangan ibunya erat, lalu bergumam lemah. "Papa…"

Liana membeku.

Mia menatapnya ragu. "Dia terus mengigau seperti itu sejak tadi."

Liana menghela napas dan mengelus rambut anaknya. "Noel, Papa tidak ada di sini, Sayang."

Noel menggigit bibirnya, matanya mulai berkaca-kaca. "Kenapa Papa tidak pernah datang?"

Liana menutup matanya sejenak. Hatinya sakit mendengar pertanyaan itu.

"Karena…" suaranya tercekat. "Karena Papa sedang jauh."

Noel tidak menjawab. Ia hanya menutup matanya kembali, tertidur dalam pelukan ibunya.

Liana menatap anaknya dengan perasaan campur aduk. Sampai kapan ia bisa menyembunyikan kebenaran ini dari Noel?

---

Keesokan harinya, Liana kembali ke kantor dengan hati-hati. Ia sudah menyiapkan banyak alasan jika Ethan bertanya tentang kepergiannya kemarin.

Namun, saat ia tiba di meja kerjanya, sebuah kejutan menunggunya.

Di atas mejanya, ada sebuah kantong kertas cokelat.

Liana mengernyit. Ia mengambilnya dan membuka isi di dalamnya.

Sebuah botol sirup obat anak-anak.

Jantungnya berdegup keras.

Tidak mungkin…

Ia buru-buru membaca catatan kecil yang terselip di dalamnya.

"Untuk anakmu. Pastikan dia segera sembuh. – E.A"

Liana membeku.

Ethan Alvaro… memberikan ini untuk Noel?

Tapi bagaimana dia tahu jenis obat yang Noel butuhkan?

Liana menoleh ke arah ruangan Ethan, hatinya dipenuhi kebingungan.

Pria itu tidak mungkin tahu, kan? Tidak mungkin dia menyadari sesuatu…

Atau… apakah Ethan mulai curiga?

Liana menggigit bibirnya, merasa seluruh dunianya mulai bergetar. Jika Ethan tahu kebenarannya, apa yang akan terjadi?

Bab 3

Liana duduk di mejanya, tatapan matanya masih terpaku pada botol obat dan catatan kecil dari Ethan. Pikirannya berputar cepat, mencoba mencari alasan yang masuk akal.

Kenapa Ethan melakukan ini?

Pria itu bahkan tidak mengingatnya. Jadi, apa yang membuatnya cukup peduli untuk memberikan obat ini?

Apakah Ethan mulai curiga?

Sebelum Liana bisa menemukan jawabannya, suara berat Ethan terdengar dari dalam ruangan.

"Liana, masuk ke dalam."

Liana terkesiap. Tangannya mengepal erat di pangkuannya sebelum ia menghela napas panjang dan berdiri. Dengan langkah hati-hati, ia berjalan menuju pintu, mengetuknya sekali, lalu masuk.

Ethan sedang berdiri di depan jendela besar yang menghadap ke pemandangan kota. Siluetnya tampak tegas dan dingin.

"Kau terlihat gelisah," katanya tanpa menoleh.

Liana berusaha menjaga ekspresinya tetap tenang. "Saya hanya tidak menyangka Anda memberikan ini."

Ethan berbalik, matanya menatap lurus ke arahnya. "Kau terkejut karena aku perhatian, atau karena sesuatu yang lain?"

Liana menelan ludah. Pria ini terlalu tajam.

"Saya hanya tidak menyangka Anda tahu tentang anak saya," jawabnya hati-hati.

Ethan menyandarkan tubuhnya ke meja, kedua tangannya terlipat di depan dada. "Aku tidak tahu," katanya pelan, tetapi nadanya penuh arti. "Tapi sekarang aku penasaran."

Jantung Liana berdetak lebih cepat.

"Tentang apa?"

"Tentang anakmu," Ethan menatapnya lebih dalam. "Berapa umurnya?"

Liana menegang. Ia tahu ia tidak bisa menghindari pertanyaan ini, tetapi bagaimana pun, ia harus hati-hati.

"Empat tahun lebih," jawabnya, mencoba terdengar santai.

Ethan mengangguk pelan, tetapi tatapan matanya tak lepas dari wajah Liana. "Di mana ayahnya?"

Liana merasakan tenggorokannya mengering. Ia sudah menyiapkan jawaban ini selama bertahun-tahun.

"Ayahnya sudah pergi sejak sebelum dia lahir," katanya, suaranya sedikit bergetar.

Ethan menyipitkan matanya. "Jadi, kau membesarkannya sendiri?"

Liana mengangguk. "Ya. Dan saya harap, tidak ada masalah dengan itu."

Ethan terdiam sejenak, lalu tiba-tiba berjalan mendekat. Napas Liana tercekat saat pria itu berdiri di hadapannya, terlalu dekat.

"Apa aku pernah mengenalmu sebelumnya?"

Jantungnya hampir melompat keluar dari dadanya.

"Tidak, Tuan," jawabnya cepat.

Ethan terus menatapnya, seolah sedang menilai kebenaran di balik kata-katanya.

"Aneh," gumamnya. "Karena aku merasa… kau tidak sepenuhnya asing bagiku."

Liana merasakan kakinya melemas.

"Tidak mungkin," katanya, mencoba tersenyum kecil. "Mungkin Anda hanya terlalu sering bertemu orang baru."

Ethan tidak menjawab. Ia hanya menatap Liana lebih lama sebelum akhirnya berkata, "Kembali bekerja."

Liana langsung berbalik dan berjalan cepat keluar ruangan, tetapi ia tahu, ini belum selesai.

Ethan mulai curiga.

Dan itu berbahaya.

Malamnya, Liana duduk di tepi tempat tidur Noel, menatap wajah kecil anaknya yang sedang tertidur lelap. Tangannya terulur, mengelus rambut Noel dengan penuh kasih sayang.

"Apa yang harus Mama lakukan, Sayang?" bisiknya.

Noel menggeliat sedikit, lalu bergumam dalam tidur, "Papa…"

Liana mengatupkan bibirnya erat. Air mata hampir jatuh, tetapi ia menahannya.

Sebelum ia bisa terlalu larut dalam pikirannya, ponselnya bergetar di atas nakas. Liana mengambilnya, lalu matanya membesar saat melihat nama yang tertera di layar.

Ethan Alvaro.

Kenapa pria itu meneleponnya malam-malam begini?

Dengan tangan sedikit gemetar, ia mengangkat panggilan itu.

"Halo?"

"Saat ini kau ada di mana?" suara Ethan terdengar dalam dan dingin.

Liana mengerutkan kening. "Di rumah. Kenapa, Tuan?"

"Aku butuh kau kembali ke kantor sekarang."

Liana terkejut. "Tapi sekarang sudah malam."

"Aku tidak suka mengulang permintaan," kata Ethan tegas. "Datang ke sini dalam waktu tiga puluh menit."

Tanpa memberi kesempatan bagi Liana untuk membantah, Ethan langsung menutup telepon.

Liana menatap ponselnya dengan bingung. Apa yang sebenarnya terjadi?

Setengah jam kemudian, Liana berdiri di depan kantor Alvaro Corp. Gedung megah itu masih terang, meskipun sebagian besar karyawan sudah pulang.

Dengan hati-hati, ia masuk ke dalam dan menaiki lift menuju lantai tertinggi. Saat pintu lift terbuka, ia melihat Ethan berdiri di depan jendela kantornya, sama seperti siang tadi.

"Ada apa, Tuan?" tanya Liana, berusaha menjaga nada suaranya tetap profesional.

Ethan berbalik, lalu melemparkan sebuah amplop ke atas meja. "Aku ingin kau menjelaskan ini."

Liana melangkah maju dan mengambil amplop itu. Tangannya sedikit gemetar saat ia menarik keluar isinya.

Matanya membesar.

Dokumen itu berisi informasi tentang dirinya. Tentang kehidupannya sebelum ini. Tentang… Noel.

Ia menelan ludah, berusaha menjaga ekspresinya tetap tenang. "Dari mana Anda mendapatkan ini?"

"Aku memiliki sumberku sendiri," Ethan menjawab. "Kenapa kau tidak pernah menyebutkan tentang anakmu saat wawancara kerja?"

Liana mencoba berpikir cepat. "Karena itu adalah kehidupan pribadi saya. Dan saya tidak berpikir itu relevan dengan pekerjaan ini."

Ethan mengamati ekspresi wajahnya dengan seksama. "Menarik."

Liana mengepalkan tangannya erat. "Jika Anda hanya memanggil saya ke sini untuk menanyakan ini, saya rasa kita sudah selesai."

Ia berbalik untuk pergi, tetapi suara Ethan menghentikannya.

"Liana."

Ia terpaksa berbalik.

Ethan menatapnya tajam. "Anakmu… benar-benar tidak memiliki ayah?"

Liana merasakan jantungnya hampir berhenti.

Ia tahu, ini saatnya ia harus memilih.

Akankah ia terus menyembunyikan kebenaran?

Atau membiarkan Ethan mengetahui semuanya?

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED