Setahun yang lalu
Sabtu malam Nadya bersiap untuk menonton di bioskop dengan Dimas, pacarnya yang sudah berjalan satu tahun. Nadya sudah mengenal Dimas sejak menjadi penulis komik, mereka menjadi teman kerja di perusahaan komik lebih dari dua tahun. Rasa cinta timbul di hati Nadya selama bekerja menjadi komikus bersama Dimas. Mengapa tidak, sebagai komikus Dimas memiliki wajah tampan dan hampir semua perempuan di perusahaan komik tertarik kepada Dimas. Selain itu Dimas sangat berbakat dalam membuat cerita komik dan komik hasil karyanya selalu laris dibaca oleh pencinta komik.
Nadya keluar dari rumahnya sambil mengirim pesan kepada Dimas kalau ia sudah berangkat. Nadya berdiri di depan pekarangan rumahnya menunggu ojek online yang dipesannya datang. Malam ini Dimas tidak bisa menjemput Nadya karena Dimas masih sibuk dengan pekerjaannya, itu yang dikatakan Dimas kepada Nadya. Nadya tentu saja mengerti, penulis komik bukan hanya menulis saja tetapi harus menggambarnya juga. Berbeda dengan dirinya, ia sudah menyelesaikan komiknya untuk satu minggu sehingga ia bisa bebas untuk bepergian.
Ojek online itu tiba dan Nadya naik sambil tersenyum. Malam ini Nadya akan menonton film yang sedang booming, Nadya memesan dua tiket dan Dimas yang membayar makan malam mereka. Selalu seperti itu jika mereka berkencan.
Beberapa menit berlalu Nadya tiba di bioskop. Belum saja ia turun dari motor ojek online, ia melihat Dimas berjalan dengan seorang perempuan cantik menuju gedung bioskop, mereka terlihat senang. Jantung Nadya tiba tiba berdetak cepat, ia pasti salah lihat, ia segera turun dan membayar ojek online, lalu ia berlari dengan kencang menyusul laki laki yang terlihat seperti Dimas. Tidak mungkin itu Dimas, Dimas masih di kantor. Pikir Nadya mengingatkan dirinya. Sambil berlari Nadya mengambil hp untuk melihat pesannya sudah dibaca Dimas atau belum.
Pandangannya bergantian melihat hp dan ke arah depan. Pesannya sudah dibaca Dimas, terlihat centang biru di pesannya, tapi Dimas tidak membalasnya. Pikiran buruk menghampiri Nadya, namun Nadya segera menepisnya. Mungkin saja Dimas belum sempat membalas pesannya, ia harus berpikiran positif. Nadya berhenti berlari dan berjalan dengan cepat. Ia harus memastikan apa yang ia lihat itu adalah salah.
Nadya berhasil menyusul mereka, ia melihat laki laki itu merangkul perempuan di sebelahnya dengan mesra, perempuan itu membalas dengan mengaitkan kedua tangannya di pinggang laki laki itu. Nadya berhenti dan menelepon Dimas. Jika laki laki yang mirip Dimas itu mengangkat teleponnya maka benar laki laki itu Dimas. Pikir Nadya. Dalam hati ia berharap laki laki itu bukan Dimas.
Tiba tiba laki laki itu berhenti dan mengambil hp di kantongnya, ia melihat siapa yang meneleponnya, tidak berapa lama ia langsung menolak panggilan itu, ia berpaling sambil tersenyum ke arah perempuan di sampingnya yang bertanya siapa yang menelepon.
Seolah ada yang menampar Nadya, ia menyadari kalau laki laki itu memang benar Dimas. Tiba tiba amarah menguasai dirinya, dan rasa sakit yang juga menghampiri hatinya. Tanpa pikir panjang ia menghampiri Dimas dan perempuan itu.
“Dimas!” Seru Nadya sedikit keras, ia tidak perduli jika semua orang melihatnya.
Dimas berpaling ke arah Nadya begitu juga dengan perempuan itu.
“Nadya.” Kata Dimas acuh tak acuh, tidak ada rasa khawatir yang tampak dari raut muka Dimas.
“Apa maksud semua ini?” Tuntut Nadya.
“Aku rasa kamu bisa melihatnya tanpa aku jelaskan.”
“Apa maksudmu?”
“Sudah jelas kan.”
Hati Nadya semakin sakit karena Dimas sengaja tidak menjelaskan apa apa.
“Siapa dia?” Tanya perempuan di samping Dimas.
“Teman.”
“Aku bukan temannya tapi pacarnya.” Jelas Nadya.
Perempuan itu melirik ke arah Nadya tanpa mengatakan apapun namun tatapan kedua matanya terlihat jelas seakan ia mengatakan yang benar saja kamu pacarnya.
“Kita hanya teman, Nad.”
“Kamu gila yah.”
“Yang gila adalah kamu Nad, tidak mungkin kan kamu pacarku berdandan saja kamu tidak mau, lihatlah dirimu apa kamu tidak pernah bercermin?” Dimas mengabaikan amarah yang terpancar dari kedua mata Nadya, sebaliknya ia menilai penampilan Nadya yang tanpa berdandan. “Perempuan itu harus dandan.” Tambahnya sambil menyeringai.
Seolah ada batu yang menghantam dada Nadya, ia merasakan sakit disekujur tubuhnya, namun ia menahannya. Tanpa pikir panjang Nadya mengambil minuman yang berada di atas meja di samping ia berdiri, entah minuman siapa itu Nadya tidak tahu yang pasti ia ingin membukam mulut Dimas dengan menumpahkan air itu ke wajah Dimas.
“Brengsek!” Gumam Nadya marah, tangan Nadya memegang gelas itu dengan erat.
Air di dalam gelas hampir saja keluar karena tangan Nadya bergetar menahan amarah.
“Pulanglah, Nad.” Kata Dimas.
Dimas tahu Nadya tidak akan berani menumpahkan air itu padanya. Dengan santai ia mengambil gelas yang dipegang Nadya dengan erat, lalu menaruh gelas itu kembali ke tempatnya. Baik Dimas maupun Nadya tidak melihat pemilik minuman itu segera mengamankan minumannya.
“Kamu pikir ini lelucon?” Tanya Nadya, kedua matanya menatap Dimas dengan tajam.
“Tentu saja tidak, kamu menjadi tontonan orang orang apa kamu tidak malu?”
“Kita sudah berjanji datang ke sini.”
Nadya tidak perduli ucapan Dimas sama tidak perdulinya kepada orang orang yang menonton mereka, sekalian saja bikin malu sudah kepalang.
“Itu benar tapi aku tidak bilang ingin menonton denganmu.” Dimas berhenti, ia berpura pura membelalakkan matanya seakan tidak mempercayainya. “Tunggu, apa kamu sudah membeli tiket menonton?”
“Apa kamu sengaja berjalan dengan perempuan lain karena ingin putus denganku?” Alih alih menjawab Nadya balik tanya.
Dimas mengedikkan bahunya. ”Jika itu yang kamu pikir.”
Gejolak amarah membumbung tinggi dalam diri Nadya, ia ingin meninju wajah Dimas dengan keras dan mengatakan kurang ajar pada Dimas. Nadya tidak menyangka Dimas akan berbuat jahat kepadanya dengan sengaja membuat janji kencan untuk putus dengannya dan mempermalukan dirinya di depan pacar barunya dan orang orang yang penasaran melihat mereka.
Hati Nadya sakit diperlakukan seakan ia seorang perempuan jelek dan tidak tahu diri karena berani mengaku pacar Dimas. Pasti orang orang tidak tahu jika Nadya memang pacar Dimas. Perempuan di samping Dimas terlihat mengejeknya dengan tatapan menilai dan seringai di bibirnya yang dipoles lipstik merah.
Memangnya apa yang salah dengan penampilannya. Banyak perempuan seperti dirinya yang tidak mau repot repot bermake up dengan memakai segala peralatan make up. Tidak seperti perempuan di samping Dimas dan beberapa teman komikusnya yang wajib bermake up seakan tanpa make up mereka tidak bisa hidup. Nadya hanya perempuan sederhana dan tidak berpikiran untuk dandan hanya untuk menarik perhatian laki laki.
Nadya pikir selama setahun Dimas menerima dirinya apa adanya ternyata ia salah. Dimas sangat picik dan keterlaluan, Dimas tidak perlu sejauh ini jika ingin putus.
“Aku tidak akan memaafkanmu.”
“Terserah, tapi aku tidak merasa bersalah.” Kata Dimas santai. “Aku tidak ingat kalau pernah menyatakan cinta padamu.”
“Apa maksudmu?”
“Nad, kamu suka aku kan, aku jalan denganmu karena kamu suka padaku, aku sebenarnya tidak menyukaimu tapi aku kasihan padamu.”
“Hentikan.”
“Kamu sangat bahagia ketika jalan denganku, aku tidak mau merusak kebahagianmu tapi aku tidak bisa terus terusan seperti itu, aku menyukai perempuan lain dan aku ingin kamu dan Larissa bertemu untuk itulah aku ingin kamu datang ke sini.”
“Aku bilang hentikan!” Seru Nadya pelan, suaranya tercekat karena menahan emosinya.
Dada Nadya terasa sakit mendengar ucapan Dimas, tidak ada rasa penyesalan dari raut muka Dimas seakan hal itu wajar diucapkan bagi Dimas, dan apa yang dilakukan Dimas kepadanya selama tahun seakan hanya permainan belaka bagi Dimas. Nadya merasakan air mata sudah membendung di matanya.
“Kamu jahat Dimas.” Geram Nadya, ia menggertakkan giginya dan tangannya memegang tali tas sorennya dengan kuat berusaha menahan amarahnya.
Dimas pasti mengharapkan ia berteriak teriak tidak karuan karena ucapan dan perbuatannya seolah Dimas sangat berharga. Tidak. Nadya tidak akan mengikuti keinginan Dimas.
Nadya menarik napasnya dalam dalam, ia menatap ke arah Dimas dengan tajam, lalu ia melirik perempuan di samping Dimas sama tajamnya seperti pada Dimas. Tanpa mengatakan apa apa lagi Nadya berbalik pergi dari hadapan Dimas dan orang orang yang melihat mereka.
Nadya berlari sambil menghapus air mata yang akan keluar. Ia tidak akan menangis karena Dimas. Tidak akan. Laki laki jahat seperti itu tidak perlu ditangisi. Lihat saja ia akan buktikan pada Dimas kalau ia akan melupakan Dimas dengan cepat dan tidak akan meratapi Dimas seperti yang diharapkan Dimas.
Masa kini
“Namaku Nadya Ivanka, aku bersumpah tidak akan tertipu lagi dengan makhluk yang bernama laki laki.”
Klik. Berkali kali Nadya menonton video yang ia buat di hpnya setahun yang lalu hanya untuk memberikan semangat kepada dirinya kalau semuanya akan baik baik saja. Terkadang rasa lelah karena disakiti itu menghinggapi hari harinya yang terus berjalan dan sudah setahun penderitaan itu berlalu.
Nadya menaruh hpnya di atas kasur sambil melamun ke masa lalu saat ia mengenal laki laki itu, namun dengan cepat Nadya menggelengkan kepalanya berkali kali dan berkata dalam hati ia tidak akan pernah mengingat hal itu lagi. Nadya kembali mengambil hpnya sambil membetulkan kaca mata minus yang bertengger di matanya, ia beringsut berdiri dari tempat tidur dan berjalan ke arah meja yang di atasnya ditaruh laptop kesayangannya. Laptop itu tertutup rapat, ia berbicara kepada laptop itu seolah laptop itu makhluk hidup.
“Istirahatlah dengan tenang Vixie aku pergi dulu sebentar.” Kata Nadya sambil menepuk nepuk laptop hitam itu dengan sayang. Nadya memberi nama pada laptopnya karena hanya laptop itu yang selalu setia menemaninya setiap saat.
Nadya mengambil tas selempang coklat di samping laptop itu dan menyilangkannya ke bahu. Sebelum keluar kamar ia melangkah dulu ke arah cermin untuk melihat penampilannya. Sweeter hoodie warna cream bergambar beruang dan jeans hitam melekat di tubuhnya dengan rapi. Ia mengangguk puas dengan penampilannya lalu melangkah pergi.
Hari ini ada acara reuni grup penulis komik dan ia sudah siap untuk bertemu laki laki itu lagi. Meskipun ia sudah bukan penulis komik sama halnya beberapa temannya yang lain tapi ia tetap menghadiri reuni grup penulis komik karena sebagian besar teman temannya masih menjadi penulis komik termasuk laki laki itu, di samping itu ia juga rindu dengan teman temannya. Karena kejadian pahit yang dialami Nadya bersama laki laki itu, Nadya memutuskan keluar dari penulis komik dan beralih ke novel.
Tiba tiba hp Nadya berdering. “Halo.”
“Nad, kamu masih dimana semua sudah kumpul?”
“Ini mau berangkat.”
“Ok cepetan yah.”
“Iya.”
Sambil menghela napas Nadya memutuskan sambungan telepon dari temannya, Mita Maharani. Nadya berlari cepat ke arah rak sepatu dan memakai sepatu sneaker putihnya. Ia keluar dan mengunci pintu rumah lalu berlari menuju motor scoopy coklat yang sudah di parkir di halaman rumah.
Rumahnya sedang sepi kedua orang tuanya berlibur ke Surabaya kecuali Nadya. Bukan Nadya tidak mau tapi karena jadwal deadline novelnya yang harus rampung minggu ini dan ia tidak mau membuang waktu untuk packing dan sebagainya, cukup untuk reunian saja ia sediakan waktunya itupun tidak akan lama. Nadya sudah memberitahu pada Mita kalau ia hanya punya waktu dua jam.
Dengan cepat Nadya menghidupkan motor dan keluar dari halaman rumahnya. Perumahan ini juga sedang sepi karena sudah masuk libur akhir tahun, hampir semua tetangganya liburan. Tapi Nadya tidak memikirkan tetangganya. Pikiran akan bertemu lagi dengan laki laki yang banyak memberikan penderitaan padanya bercokol di benaknya sejak tadi malam ketika Mita memberitahu kalau Dimas Erlambang akan datang ke acara reunian.
Dimas Erlambang. Pemilik nama itu dulu selalu membuat hatinya berbunga bunga sehingga hatinya dipenuhi rasa kebahagiaan. Tapi sekarang mendengar nama itu di telinganya dengan cepat emosinya tersulut sehingga menimbulkan kemarahan. Nadya tidak ada niat untuk membalas dendam, ia hanya ingin meninju wajah yang tampan itu dan memberitahu bahwa perbuatannya membuatnya menderita seperti yang ingin ia lakukan dulu kepada laki laki itu.
Dulu Nadya menahan amarahnya, ia seolah kerbau yang dicocok hidungnya. Kata kata yang tidak baik dilontarkan laki laki itu bagaikan pedang yang menghunus jantungnya sehingga membuat Nadya terkejut dan tidak menyangka kalau laki laki itu bisa melontarkan kata kata seperti itu. Yah cinta memang buta. Tidak. Ini bukan cinta, Nadya tahu ini bukan cinta. Nadya menggertakkan giginya, sorot matanya berubah tajam, ia memacu motornya dengan kencang.
Di perjalanan ke tempat reunian yang diadakan di cafe milik orang tua Mita, emosi Nadya terus muncul menguasai akal pikirannya. Gimana tidak, setelah putus darinya Dimas dikabarkan bertunangan dengan perempuan yang ia lihat di bioskop bersama Dimas. Oh bukan hanya itu, komiknya berhasil menjadi Top Trending yang selalu dicari semua orang dan berkat hal itu Dimas membangun kantor sendiri dengan label namanya sendiri. Sampai sekarang Dimas terkenal dengan komikus cerdik.
Cerdik? Huh! Orang orang tidak tahu seperti apa Dimas Erlambang aslinya, laki laki yang tidak segan melontarkan kata kata yang tidak baik kepada perempuan karena keegoisannya dan mempermainkan perempuan seolah perempuan itu gampangan, dan Dimas dengan mudahnya melakukan perbuatan jahat untuk menyakiti hati perempuan. Mata Nadya memincing tajam seraya menghentikan motornya tepat ketika lampu lalu lintas berubah merah.
Sambil menunggu lampu berubah hijau Nadya menarik napas menenangkan diri. Ia harus tenang, ia tidak mau emosinya mengganggu konsentrasinya dalam mengendarai motor, bisa bisa terjadi sesuatu yang akan disesalinya. Nadya buru buru menggeleng menghilangkan pikiran buruk yang terbayang di benaknya. Ia tidak akan membiarkan laki laki itu mempengaruhi dirinya lagi sehingga menimbulkan amarah yang membutakannya seperti dulu.
Lampu yang terpancar dari layar lebar yang dipasang di sepertiga lalu lintas itu mengalihkan perhatian Nadya. Layar lebar itu biasa menampilkan iklan dan sekarang iklan itu menayangkan resort mewah dengan pemandangan pantai yang indah dan pastinya mahal. Pikir Nadya. Mungkin resort itu akan menjadi salah satu pilihannya untuk berlibur dan bersantai setelah novelnya selesai. Tiba tiba matanya terbelalak terpesona melihat pemilik resort itu ditampilkan terakhir. Director of The Blue Pearl Island Resort Bali, Ethan Sullivan. Laki laki itu sangat tampan, matanya biru sebiru langit, hidungnya mancung sempurna, rahang dan dagunya brewokan, tapi tidak menghilangkan ketampanannya sebaliknya brewok itu mempertajam ketampanannya seakan menunjukkan seseorang yang sukses dan mapan, oh satu lagi bibirnya merah. Laki laki yang sempurna. Namun bukan itu yang membuat Nadya tiba tiba terpesona tetapi kedua mata itu yang menatap sangat dalam sehingga bisa menghipnotis siapa pun termasuk Nadya.
Tiba tiba jantung Nadya berdegup kencang hanya karena menatap kedua mata itu dan menimbulkan khayalan yang di luar dugaannya namun dengan cepat Nadya memukul helmnya seakan menghilangkan khayalan itu. Nadya mulai mengoceh sendiri.
“Sadarlah Nad, dia itu orang asing, kamu paling bodoh dalam pelajaran bahasa Inggris, dan dia pastinya orang kaya, sangat jauh darimu yang hanya seorang penulis junior.”
Nadya menghela napas seolah hal itu menyadarkannya kalau laki laki itu di luar jangkauannya, lagi pula ia tidak mengenal laki laki itu begitu juga sebaliknya. Namun aneh kenapa begitu cepat ia mengkhayal laki laki asing itu. Apa hanya ia sendiri yang mengalami hal itu atau setiap perempuan yang melihat laki laki asing tampan itu. Tentu saja semua perempuan mengkhayalkan yang sama seperti dirinya apalagi laki laki itu mempunyai harta dan posisi yang tinggi. Pikir Nadya. Tapi Nadya tidak pernah mengalami hal seperti barusan dengan laki laki manapun, bahkan dengan Dimas.
Nadya menatap laki laki asing itu lagi, seketika jantungnya kembali berdetak, dan khayalan itu kembali muncul dalam pikirannya. Sejenak ia melupakan amarah dalam dirinya karena Dimas, dan merasakan kebahagian dalam dirinya hanya melihat laki laki asing itu. Tiba tiba iklan itu berubah digantikan dengan iklan yang lain sehingga menyadarkan Nadya. Ya ampun, Nad, apa yang kamu lakukan, hanya melihat laki laki asing tampan itu kamu sudah lupa diri, apa kamu tidak kapok dengan kejadian pahit yang dialami dengan Dimas. Peringat Nadya pada dirinya sendiri sambil memukul helmnya lagi.
“Turunkan pandanganmu…fokus…fokus…fokus.” Kata Nadya mengingatkan dirinya sendiri. “Jangan sampai kamu melanggar janjimu.” Peringat dirinya lagi.
Nadya memaksakan pandangannya kembali ke arah jalan dan bersamaan dengan itu lampu lalu lintas berubah hijau. Untuk saat ini hadapi dulu laki laki kurang ajar itu. Amarahnya kembali muncul mengingat sebentar lagi ia akan bertemu dengan mantannya. Tatapan Nadya berubah tajam, ia memacu motornya dengan kencang.
Getaran hp di dalam saku mengalihkan perhatian Ethan yang tampak serius membaca tulisan yang ada di dalam buku tebal dengan cover berwarna biru muda. Ethan mengambil h0p itu dan melihat siapa yang meneleponnya. Ternyata Panji yang meneleponnya. Seulas senyum tersungging di bibirnya yang merah. Pesannya pasti sudah dibaca Panji. Ethan segera menjawab panggilan dari Panji.
“Halo.”
“Ethan are you sure you want to come here?”
“Yeah, while I’m in Jakarta I want to drop by to see you and your family.”
“Oh God Man.” Terdengar Panji tidak mempercayai kalau Ethan akan menemuinya.
“I’m on my way to your parents café.” Kata Ethan yang membuat Panji semakin tidak percaya.
“Oh wait are you serious…bagaimana dengan ayahmu, pasti ayahmu mengirim pengawal untuk mengawalmu.”
“Yah dia selalu seperti itu setiap aku keluar rumah, tapi tenanglah aku bisa mengatasinya.”
“Seperti waktu kuliah dulu kamu selalu bilang seperti itu kalau mau kabur.” Panji tertawa.
“Yeah you’re right.” Ethan ikut tertawa, lalu ia menambahkan, “Oh ya aku juga mau memberikan bukuku padamu.”
“Buku?” Tanya Panji bingung.
“Dulu aku janji akan memberikan buku hasil karyaku.”
“Oh My God kamu melakukannya…maksudku kamu sudah menulis buku?” Tanya Panji tidak percaya mengingat temannya itu sibuk karena menduduki jabatan sebagai Direktur dan pastinya tidak ada waktu untuk menulis sebuah buku Filosofi.
“Sudah dan sudah jadi, sekarang bukunya ada di tanganku.” Ethan tersenyum bangga, ia tahu temannya pasti akan terkejut.
“Wow, you make it! Awesome! Aku sudah tidak sabar untuk membacanya.”
Panji tidak bisa menutupi kekagumannya. Ethan memang pintar tidak diragukan lagi dan Panji percaya kalau Ethan bisa menulis buku sementara ia menjalankan bisnis ayahnya.
“Nanti aku telepon lagi kalau sudah tiba di cafe.”
“Ok, aku akan memberitahu kedua orang tuaku kalau kamu akan datang, mereka pasti akan sangat senang.”
“Ok, tapi jangan merepotkan kedua orang tuamu.”
“Tenang saja.” Kata Panji, ia tahu maksud Ethan, Ethan tidak mau penyambutan meriah karena ia tidak mau terekspos oleh siapapun.
“See you later.” Kata Panji kemudian.
“See you.”
Ethan menutup teleponnya dan tersenyum bahagia. Sungguh menyenangkan akan bertemu lagi dengan teman dekatnya waktu kuliah. Sudah lama ia tidak bertemu dengan temannya itu, hanya melalui hp untuk berkomunikasi. Panji Mahardika, teman dekatnya waktu kuliah di Queensland University of Technology, mereka bertemu karena mengambil jurusan yang sama di bidang bisnis dan manajemen. Panji juga tahu ia mengambil jurusan lain yaitu jurusan Filsafat. Panji selalu mendukungnya untuk menulis buku Filosofi karena temannya tahu ia sangat suka menulis buku Filosofi. Selain itu Panji suka menemaninya kabur dari para pengawal ayahnya, dan berkat Panji juga ia bisa berbahasa Indonesia dengan fasih.
Sungguh hidupnya tidak bebas, waktu kuliah ia selalu diawasi oleh ayahnya. Beruntung ia bertemu dengan Panji orang Indonesia yang sangat baik dan pengertian. Beginilah kalau menjadi penerus satu satunya dari pemilik beberapa perusahaan terbesar di Australia. Ethan tahu kelak ia akan menggantikan posisi ayahnya, dan untuk membuktikan kalau ia pantas menjadi penerus Komisaris Besar yang sekarang dijabat oleh ayahnya, ia ditunjuk menjadi Direktur sebuah perusahaan surat kabar Greetline News, setelah 2 setengah tahun ia menjalankan tugasnya dengan sangat baik sebagai General Manager di perusahaan itu.
Selama satu tahun menjalankan perusahaan surat kabar Greetline News ia berhasil membuat saham perusahaan itu meningkat dan membuat ayahnya bangga padanya, dan selama tiga tahun perusahaan surat kabar itu semakin meningkat sehingga ayahnya dan seluruh Dewan Komisaris tercengang. Namun ayahnya belum puas sehingga ia ditunjuk lagi menjadi Direktur sebuah resort, kini ia menduduki dua jabatan. Sebenarnya tidak masalah baginya selama ia masih meneruskan hobinya menulis buku Filosofi.
Ayahnya sangat sayang padanya sehingga terlalu berlebihan untuk melindunginya dari dunia luar, namun ayahnya lupa kalau ia sudah dewasa dan bisa jaga diri. Ethan menghela napas mengingat perubahan sikap ayahnya yang menjadi protektif kepadanya, namun dengan cepat ia menggeleng seolah tidak ingin mengingat kejadian penyebab kematian ibunya yang menyebabkan ayahnya menjadi seperti itu. Ethan menarik napasnya menenangkan diri. Suatu hari ayahnya pasti akan percaya padanya kalau ia bisa jaga diri. Ethan menutup buku dan memakai kaca mata hitamnya yang ditaruh di samping kursi mobil.
Nadya memarkirkan motornya di depan cafe, ia membuka helmnya sambil menarik napas bersiap diri.
“Nadya”
Suara yang sangat dikenalnya dan yang dulu membuat hatinya sakit seketika mendatangkan kemarahannya yang tiba tiba muncul. Kenapa begitu cepat bertemu orang itu. Pikir Nadya sebal. Nadya menaruh helmnya di stang motor lalu berpaling ke arah suara itu. Dimas Erlambang berdiri dengan santai dan wajah tampannya tampak terkejut.
“Kamu ikut reunian juga?”
Nadya memincingkan mata di balik kacamatanya. “Aku rasa kamu tahu aku akan ikut.”
“Sungguh aku tidak tahu, Mita tidak bilang padaku kalau kamu mau datang ke reunian.”
“Jangan pura pura deh.” Kata Nadya marah.
Baiklah Nadya tahu emosinya muncul lagi tapi ia tidak perduli. Melihat Dimas kejadian pahit setahun lalu terlintas di benaknya sehingga emosinya tidak bisa direndam, namun kali ini ia tidak akan membiarkan Dimas mempermalukannya lagi di tempat umum, untung saja di tempat parkir ini tidak ada orang.
“Kamu tidak berubah sedikit pun.” Kata Dimas mengabaikan nada marah itu, ia melihat Nadya masih sama seperti dulu, rambut di kuncir, memakai kacamata bulat, dan tidak berdandan.
“Terserah suka suka aku!” Nadya semakin marah mendengar ucapan Dimas.
Dimas tidak berhak menilainya apalagi penampilannya karena Dimas bukan siapa siapa lagi baginya. Nadya melihat pandangan menilai dari mata Dimas padanya seperti dulu.
“Kok kamu sinis gitu sih.”
“Aku sinis gara gara kamu! Apa kamu lupa kamu menyakitiku dan membuatku menderita.”
“Kamu menderita karena kamu bodoh.” Kata Dimas cuek. “Kamu kan tahu aku bilang kita hanya temenan saja.”
Apa! Apa dia bilang…bodoh? Dasar laki laki! Seenaknya bilang seperti itu tanpa ada penyesalan. Nadya seolah kembali ke setahun yang lalu ketika Dimas memutuskan berpisah dengannya dengan santai tanpa penyesalan seperti yang ia tunjukkan sekarang. Tapi dulu dan sekarang lain. Dulu ia diam saja seolah ada yang membungkamnya, tapi sekarang ia bisa bertindak sesuai yang ia inginkan terhadap laki laki itu.
“Bagiku kamu masih laki laki kurang ajar.” Nadya berhenti sebentar. Rasa tidak suka terlihat di raut wajah Dimas mendengar ucapannya tentang dirinya.
“Kamu pikir kamu laki laki berharga?” Kedua mata Nadya memincing. ”Kamu salah, aku menganggapmu laki laki pengecut yang suka mempermainkan perempuan, bilang saja kalau mau putus denganku tidak usah bawa tunanganmu untuk menemanimu mengatakannya padaku.” Nadya mengaitkan kedua tangannya di depan dada. “Salahku tidak bertanya apa kamu menyukaiku atau tidak dan hanya menerima semua perlakuan manismu.”
“Yah kamu memang bodoh, aku sudah tahu sejak kamu mengirim pesan untuk mengajakku berkencan.”
“Jika sudah tahu kenapa dilanjutkan sampai satu tahun…satu tahun kamu berpura pura menyukaiku.”
Dimas mengedikkan bahu. “Aku tidak berpura pura, waktu itu aku sedikit menyukaimu dan aku memutuskan untuk melanjutkannya, tapi aku bertemu Larissa dan rasa sukaku padamu hilang, Nad.”
Apa dia bilang sedikit menyukaiku? Tidak seperti itu yang aku dengar dulu. Pikir Nadya kesal. Ia tidak mau mendengar omong kosong dari Dimas lagi. Dengan cepat Nadya maju ke depan mendekati Dimas berdiri, amarahnya terpancar dari kedua mata coklatnya lalu ia menginjak kaki Dimas dengan keras.
“Rasakan ini!”
Dimas langsung menjerit kesakitan. Nadya tersenyum sinis melihat Dimas mengaduh kesakitan akibat injakannya. Itu pembalasan setahun yang lalu karena mempermainkan hati perempuan, masih baik aku menginjak kakimu daripada meninju mukamu. Pikir Nadya marah. Nadya melangkah pergi tidak perduli dan meninggalkan Dimas yang masih mengaduh kesakitan.
Nadya tidak tahu jika ada yang menonton pertunjukan drama antara dirinya dan Dimas. Ethan berdiri di samping mobilnya, ia menaikkan sebelah alisnya melihat kejadian langka yang belum pernah dilihatnya. Perempuan itu sangat berani pada mantan pacarnya di tempat umum. Tiba tiba seulas senyum tersungging di bibirnya melihat tindakan yang dilakukan perempuan itu terhadap mantan pacarnya, lalu ia memanggil pengawalnya yang dari tadi berdiri di belakangnya dan berbicara bahasa Inggris dengan cepat ke pengawalnya kalau ia tidak perlu dikawal masuk cafe. Pengawal itu menggangguk mengerti dan masuk lagi ke dalam mobil bergabung dengan pengawal yang lain. Sambil memegang buku Ethan berjalan menuju cafe dengan santai dan mengeluarkan hp dari kantong celana untuk menelepon temannya kalau ia sudah tiba di cafe.