Bab 1

"Penghuluin orang mulu, Pak. Kapan nih, menghuluin diri sendiri?" tanyaku membuat semua orang di sini terkekeh.

"Mana bisa menghuluin diri sendiri, Ayu. Aneh kamu," kata Teh Rianti. Dia pengantin yang siap menikah. 

Aku hanya diam dan tersenyum sembari mencuri pendangan ke arah penghulu muda dihadapan. 

"Pak, manis banget, sih. Waktu diproduksi dulu, pake berapa kilo gula?" Bisikanku tidak keras tapi terdengar oleh semua orang yang berada di ruang tengah. Ibu yang ada di sebelahku sampai harus mencubit lengan ini tetapi gombalan barusan berhasil membuat mereka tertawa. Termasuk ibu yang sudah mencubit lenganku. 

"Bisa kita mulai acaranya?" tanya Penghulu. 

Huh, dia biasa aja bahkan gak senyum sama sekali dari tadi. Apa dia ini aktor drakor yang lagi cosplay jadi penghulu? 

Acara ijab qobul pun dilaksanakan setelah sambutan singkat oleh calon suamiku. Eh, penghulu itu maksudnya. 

"Pak, Pak Suami, eh. Pak penghulu siapa sih, namanya?" Kini Lia, tetangga sekaligus teman masa kecilku menggeleng pelan. Untung ibu sudah keluar duluan. Kalo enggak, entah aku akan dia apakan. 

"Nama saya Jibril Mubarak," jawabnya. 

"Wah, namanya seperti malaikat penyampai wahyu. Berarti bisa, dong, Pak sampein ke calon suami saya kapan dia datang?" 

"Apa kamu belum menikah?" tanya dia lagi. Sekarang penghulu itu mendekat ke arahku. 

"Belum." Aku memasang wajah memelas. Ya, siapa tahu dia mau menyumbangkan diri untuk menjadi imamku. 

"Kasian, deh, loe." 

Sontak aku membulatkan bibir. Hampir kuangkat kepalan tangan padanya, tetapi kutahan kuat-kuat. Untung ganteng. 

"Kena mental, kan, makanya jangan ganjen." Kini Lia yang tengah sibuk membereskan ruangan bekas ijab qobul kakak perempuanku ini ikut bicara. 

"Diam kau, Markonah. Aku tidak butuh pendapatmu." 

Masih belum menyerah, aku mengikuti penghulu itu keluar ruangan. Wajah yang tersorot cahaya, benar-benar membuatku meleleh. 

"Pak, Pak," panggilku. Dia pun seketika menoleh.

"Kenapa lagi?" 

"Boleh minta nomer HP-nya nggak?" 

"Buat apa?" 

"Buat temen chating. Ya, siapa tau Bapak butuh temen chating yang cerewet kaya aku." 

"Yang ada HP-ku nanti panas kalo setiap hari dengar suara kamu." Dia pun pergi begitu saja setelah memakai sepatu. 

Tak menyerah, aku pun mengikutinya ketika melangkah ke meja prasmanan. Aku berlari kecil dengan mengangkat sedikit rok kebaya coklat. Aku pun beridri tepat di belakangnya. 

"Ayolah, Pak. Boleh, ya. Itung-itung, sodakoh sama orang yang tidak mampu seperti saya."

"Dari tampilan kamu, saya nggak yakin kalau kamu tidak mampu." 

Pak Jibril menoleh kembali dan memandangku sekelebat. Ece-ece yang melayani tamu di meja prasmanan, nampak keheranan melihatku.

"Tidak mampu menemukan tambatan hati, Pak." Dari belakang, ia nampak menghela napas. 

"Nih." Tiba-tiba, dia memberikan HP-nya padaku. Uwaa, senangnya hati ini. 

Tak menunggu lama, aku menggeser layar dan mengetik nomer HP-ku. Lalu, kutelpon nomerku dengan HP-nya. 

"Makasih, Pak," ujarku sembari mengembalikan HP miliknya. 

"Ada lagi?" tanyanya. 

"Udah punya calon belum, Pak?" 

Kali ini dia diam dan memilih menghindar. Ya, sudahlah. Tidak masalah. Toh, aku sudah mendapat nomer HP-nya. Berarti mulai besok, aku bisa meneror dia dengan gangombalan ampuh. 

"Loh, Yu kok cemberut?" Aku berjalan menuju meja amplop. 

"Aku dapet nomer HP-nya." 

Aku berhasil nge-prank si Lia. Dia kira aku ini siapa, Ayu Mahesti. Kang gombal seantero kampung. Aku emang nggak jelek-jelek amat, tapi entah kenapa aku belum laku juga. 

"Yu, itu ada penggemar beratmu," ucap Lia. 

Di sana. Tepat di depan kami berdua ada laki-laki bernama Umar. Ya, dia tetanggaku juga, tapi rumahnya agak jauh. 

"Neng Ayu. Aduh tambah cantik aja." 

Aku cuma senyum dikit. Itu pun karena terpaksa. 

"Iya, Kang." 

Aku diam-diam melirik Pak Penghulu yang masih duduk di dekat prasmanan. Dia sibuk mengobrol dengan Mang Juki. 

"Udah, Kang. Minggir sana. Merusak pemandangan." Aku mengusir Kang Umar supaya dia cepat pergi. Nggak enak juga kalau sampai Pak Penghulu tampan itu liat kami. 

"Minta nomer WA kamu dulu atuh, Neng." 

"Nggak ah, nggak ada!" jawabku judes. Aiss, dia itu nggak mau pergi juga. 

Kang Umar akhirnya pergi setelah meletakkan amplop uang kepada Lia. Sebelum pergi, tiba-tiba dia memberiku sebuah amplop juga. Berwarna pink. 

"Cie, Ayu dapet surat cinta," ledek Lia. 

Iuhhh, laki-laki itu benar-benar menyebalkan. 

Tanpa kusadari, Pak Penghulu sudah berada di depan meja kami. Ia menatapku sejenak sebelum meletakkan amplop miliknya. Dengan cepat aku menyambar amplop pink di atas meja dan menaruhnya di pangkuan. Nggak enak kalau dia sampai lihat. Takutnya, dia salah paham. 

Eh, ternyata dia nelonyor pergi gitu aja. Nggak pamit dulu gitu sama calon istri, eh. 

_____

"Yu, kapan kamu mau nikah?" tanya Ibu ketika kami duduk berdua di ruang tamu. 

"Kapan-kapan, Bu." 

"Umur kamu kan udah mau 25. Masa nggak kepikiran mau nikah?"

"Bu. Teh Rianti aja baru sebulan nikah. Masa sekarang Ibu nyuruh aku cepet nikah? Emang nggak pusing mikirin acara?" 

Jengah juga. Semenjak Teh Rianti kenalin Kang Rohman yang sekarang jadi kakak ipraku, ibu terus tanya kapan aku mau kenalin calon suamiku. Beliau juga berharap siapa tahu aku dan Teh Rianti bisa nikah bareng. Jadi, bisa ngirit biaya resepsi. 

"Tuh, Umar kan, suka sama kamu. Kenapa nggak kamu tanggepin?" 

Aku bergidik. Masa iya, sama laki begitu? Emang iya, sih dia itu nggak jelek-jelek amat. Tapi, masa iya. Belum laku juga kan, aku pilih-pilih kalo soal laki-laki. 

"Masa iya aku nikah sama si Umar itu? Sama ulat aja takut. Ibu inget nggak, waktu dulu kita lewat di depan rumahnya pas mau ke sawah. Dia jerit-jerit karena di bajunya ada ulat." 

Aku dan ibu terkekeh bersama ketika mengingat saat itu. 

"Iya, sih. Tapi, ibu pengen kamu cepet nikah, Yu. Kamu tau nggak. Umur kamu sekarang kalo waktu ibu dulu belum nikah, udah dibawa ke orang pinter." 

"Kenapa, Bu?"

"Ya, biar cepet dapet jodoh." 

Aku menghela napas kemudian bangkit. Kakiku berjalan keluar rumah untuk menghirup udara segar. Kupakai alas kaki dan berjalan ke halaman. Pandanganku sejenak tersita ke arah deretan pot tenaman bunga mawar milikku.

"Ibu, bunga mawar putihku ke mana?" 

"Dibawa Rianti ke rumah mertuanya." 

Aishh. Perempuan satu itu sangat menyebalkan. Padahal susah payah aku merawat bunga itu. Seenaknya dia bawa ke rumah mertuanya tanpa ngomong dulu. Awas kamu Teh Ria!

Aku duduk berjongkok di depan pot-pot bunga mawarku hingga beberapa saat kemudian, ada sebuah mobil truk lewat. Jendela depan terbuka lebar sehingga aku bisa melihat siapa yang duduk di sana. 

"Loh, itu kan ... ."

Bersambung.......

Bab 2

Apa? Itu Malaikat Jibril, eh suamiku, eh Pak Jibril. 

Tanpa berpikir panjang, aku langsung tancap gas melihat mobil itu. Ternyata, mobil truk berwarna merah yang dinaiki Pak penghulu berhenti di rumah Bu Harun yang disewakan. Apa dia mau tinggal di sana?

Aku berjalan cepat menuju mobil yang sudah terparkir di halaman. Nampak sosok tampan nan rupawan turun dari kursi depan. 

"Ehem." Aku berdehem setelah ia menutup pintu mobil. Pak Jibril melirikku sejenak. 

"Bapak mau tinggal di sini, ya?" tanyaku basa-basi. 

"Iya, kenapa?" 

Yes. Peluangku buat deketin dia semakin besar. 

"Seneng, aja, karena ada penghuni baru. Ya, sukur-sukur bisa menghuni hatiku juga." Aku pun menggigit bibir. Namun, si dia cuma senyum sedikit. 

"Kayaknya ada mode trand terbaru." 

Hah? Apa maksudnya? 

"Mode apa, Pak?" 

Dia tersenyum lagi sembari menunjuk ke arah bawah dengan mulutnya. Dia menunjuk ... kakiku? Apa? Sendalku beda warna? 

"Iya, ini mode terbaru." Sialan! Kenapa aku nggak liat-liat dulu pas mau ke sini. 

"Bagus kan, Pak? Makanya gaul dikit, dong. Masa mode baru nggak tau." Aku menghembuskan napas pelan untuk menetralisir rasa malu ini. Berusaha biasa saja, padahal aku malu sekali. 

"Kamu mau berdiri aja atau mau bantu?" 

Si Tampan itu memecah lamunanku. Okelah, karena aku sudah terlanjur ke sini, apa salahnya aku bantu-bantu sedikit. 

Pintu bak belakang truk dibuka. Sopir dan Pak Jibril tentu aja mulai menurunkan barang-barang. Sementara aku, mengambil kardus berukuran sedang. Pak Jibril mulai mengangkat barang ke dalam rumah. 

"Psss, Pak Ganteng. Cakep banget sih, kalo lagi keringetan gitu," ujarku ketika kami berpapasan. 

"Cih." 

Dia berhenti sejenak dengan napas yang terengah-engah. Sepertinya, dia kelelahan. Tanpa kuduga, si tampan itu pun membuka kaos berwarna abu tua yang ia kenakan. 

Aku yang tengah berdiri diam menatapnya, seketika membuang pandangan. 

Apa itu? Dadanya? Roti sobeknya? Kenapa dia pamer begini? 

"Pak. Pak, dipakai atuh bajunya," ujarku lembut. Aduh, malunya. Pipikku pasti merah sekarang. Huft.

"Kenapa? Aku gerah. Kalo mau lihat, lihat aja. Gratis kok." 

Idih, tapi. Iya, juga sih. Aku pengen lihat. 

"Jangan ah, entar kalo saya udah lihat. Terus keterusan gimana?" Si dia menatapku. Aku membuang wajah seketika. Malunya ya Tuhan. 

Aku menunggu jawaban darinya, tapi kenapa lama sekali. Perasaan dia ... .

Loh, ternyata dia di depan sana sama Pak sopir berdua angkat meja makan. Pantes aja. 

"Makasih, ya, Pak. Sudah bantu-bantu angkat barang saya," ucap Pak Jibril pada sopir. 

"Sama-sama." Aku reflek menjawab begitu saja sambil malu-malu pula. 

"Eh, siapa namamu, aku lupa." 

Hah? Aku? 

"Saya, Pak?" Aku menunjuk diriku sendiri. 

"Iya, tolong buatin minum." 

Apa? Dia lupa namaku? Hah? Jangan marah Ayu, jangan marah. Dia ganteng dan bener-bener tipemu. Tahan. Tahan sampai kamu bisa naklukin gunung es ini. 

"Nama saya Ayu, Pak. Ayu Mahesti binti Sulaiman Ar Rasid. Tuh, hafalin, Pak. Biar kalo ucapin ijab qobul nanti gampang." 

"Kamu ge er banget, sih."

"Pak, orang itu harus punya sikap positif thinking. Supaya yang terjadi juga positif. Saya bukan ge er, tapi positif thinking." Aku pun melangkah ke dapur dan membuatkan teh hangat untuknya. Senang sekali rasanya bisa membantu calon suami, eh. 

"Saya seneng, deh, Pak. Bisa bantuin Bapak pindahan. Bisa bikinin Bapak minum juga. Kalo dipikir-pikir. Sepertinya kita cocok." Aku memberikan teh padanya yang tengah duduk di antara banyak barang. 

"Udah selesai ngegombalnya? Pulang gih. Saya mau lanjut beres-beres. Nggak enak cuma berdua di sini. Nanti jadi fitnah." 

"Saya suka kalo jadi fitnah, Pak. Kan, nanti bisa langsung dinikahkan." Aku menggigit bibir.

"Saya yang nggak suka. Udah, pulang sana." 

"Pak, kenapa sih, chat saya nggak dibalas?" 

"Ya, ampun. Iya, nanti saya balas. Udah sana." 

"Bener, ya. O, ya. Nanti lapor sama Pak RT kalo Bapak itu warga baru di sini." 

"Iya, bawel." 

Aku pun melangkah pergi. Sesekali berbalik dan memandangnya yang tengah menyeruput teh. Ganteng, pokoknya kamu harus jadi suamiku. Titik. 

Malam pun datang. Aku sudah berdandan cantik sekali. Memakai gincu nude dan mengenakan baju yang rapi. Aku tebak, dia pasti akan ke rumah. 

[Pak, kok gak ke sini, sih?] tanyaku memalui pesan chat. 

Tak sampai satu menit, ia mengirim pesan balasan.

[Siapa juga yang mau ke rumahmu?] 

[Jangan gitu, Pak. Aku udah siap dilamar kok.]

[Idih,] balasnya.

[Jangan lama-lama, Pak. Nanti bedakku luntur.] 

[Ayu Mahesti binti Sulaiman Ar Rasid. Saya tegaskan, ya. Saya nggak pengen ke rumah kamu. Buat apa saya ke sana? Kamu juga stop deh, jangan gombalin mulu. Mual tau nggak?] 

Ahai, dia udah mulai bereaksi ternyata. 

[Bapak nggak usah munak, deh. Sebentar lagi juga bapak ke sini.] 

Ya, iyalah dia ke rumahku. Secara Sulaiman Ar Rasid alias bapakku adalah katua RT di sini. Ahahaha. 

Tak butuh waktu lama, aku mendengar suara ketukan pintu yang cukup nyaring. 

"Loh, katanya nggak mau ke sini?" Aku langsung menyerangnya ketika membuka pintu. Sementara dia, tidak menanggapi ocehanku.

"Boleh masuk nggak, nih?" 

"Boleh, dong. Jangankan masuk ke rumah, masuk ke hatiku juga boleh." 

"Ayu. Maafin Ayu, ya, Pak Jibril. Ayu emang gitu. Mungkin isi kepalanya agak geser karena kelamaan jomblo." Ibu memegang lenganku dan menarikku paksa. Tapi, tunggu isi kepalaku geser? Otak, dong. Ibu tega banget sama anak sendiri. 

"Sana bikinin minum. Jangan bikin malu," ujar Ibuku dengan mata tanpa berkedip dan suara tidak keras, tapi penuh penekanan.

Terpaksalah aku ke belakang membuatkan minum. Kalau ibu sudah bicara bengitu, aku jadi takut mau gombalin si ganteng. Entar aku dikatain stres lagi. Ah, ibu. 

"Silakan diminum, Pak." Aku menaruh dua cangkir teh di atas meja sembari melirik Pak Jibril. 

"Ayu, sini. Duduk di sini." Ibu memanggilku untuk duduk di sebelahnya. Huft, padahal aku masih mau ngegombalin si ganteng itu. 

"Iya." Terpaksalah aku menurut saja. Mau bagaimana lagi daripada aku dikurung di kamar. 

"Kapan Nak Jibril datang? Kok, bapak nggak tau?" tanya bapakku. 

"Tadi siang, Pak." 

"Oh, berarti bapak masih di sawah. Harusnya telepon dulu biar bapak bisa ikut bantu." 

Hah? Bapak punya nomer HP Pak Jibril? Sejak kapan? 

"Takut merepotkan, Pak. Barang-barang saya juga nggak banyak. Tadi juga dibantu sama Ayu." 

Dia lihat ke arahku. Duh, merasa terbantu sih kayaknya. 

"Walaupun dia bawel, lumayan terbantulah." 

Yah, kata bawel pun nggak ketinggalan. 

"Maklumin saja, Nak Jibril. Mungkin si Ayu itu kesepian. Anak perawan mungkin emang gitu." Bapak terkekeh. Begitu juga si dia, tapi tawa mereka agak canggung. Entahlah. 

"Assalamualaikum." Seseorang mengucap salam dari teras rumahku.

"Waalaikumussalam." Kami pun serentak menjawab salam. 

"Umar? Ayo masuk." 

Hah, kenapa tuh laki ke sini? Nggak tau apa lagi ada obrolan penting sama calon mantu. Iih, ngeselin juga lama-lama. 

Kang Umar pun masuk dan duduk di sebelah Pak Jibril. 

"Begini, Pak, Bu. Saya dateng ke sini buat nanyain balasan surat saya sama Neng Ayu." 

Hah? Astaga surat itu. Jangankan menulis balasan, kubaca juga belum. 

"Sekaligus menanyakan hubungan kami." 

Hah. Hubungan apa? 

Bersambung........

Bab 3

Aku langsung beranjak dan menghampiri Kang Umar kemudian menarik lengannya. Dia kubawa ke teras rumah. 

"Kang, maksud kamu, apa? Saya kan, udah bilang saya nggak mau sama kamu. Jangan suka paksa-paksa orang, ya." 

Dia diam saja. Raut wajahnya agak sedikit takut. Mungkin dia terkejut karena aku marah-marah seperti ini. 

"Neng Ayu kan, tau kalau akang, teh suka dengan Neng dari jalan SMA dan kita juga sama-sama belum nikah. Apa salahnya kalau kita nikah saja. Emak sama Abah juga sudah setuju." 

Astagaaa.

"Kang, saya tegaskan sekali lagi, ya. Saya suka dengan orang lain dan nggak suka dengan kamu." 

Kami berhenti sejenak karena Pak Jibril keluar dari rumah begitu saja. 

"Nih, saya suka sama Pak Jibril." 

Aku langsung saja merangkul lengan Pak Jibril. Dia nampak keheranan, biarlah. Memang aku suka dengannya. 

"Apa Pak Jibril juga suka sama kamu?" 

"Pak, Bapak suka kan, sama aku?" tanyaku.

"Pak, bilang iya. Biar nih orang cepet pulang," bisikku berharap dia bilang iya. Walaupun mungkin harus terpaksa. 

"Enggak." Pak Jibril melepas tangannya dari dekapan tanganku kemudian melangkah pergi setelah memakai sendal. Sedangkan aku, terpaku menatapnya dan menghela napas. 

Umar tertawa kecil. Ia melihatku yang berkancah pinggang kemudian diam. 

"Pak Jibril, teh tidak suka sama kamu, Neng. Sudah, kamu sama saya saja." 

"Nggak. Nggak mau. Titik." 

Aku melangkah masuk ke dalam rumah menuju kamarku. Kututup pintu dan mengunci diri di dalam. Tak kupedulikan lagi ibu dan bapak yang memanggilku berkali-kali. 

Di dalam sini, aku menutup wajahku dengan bantal dan berteriak. Kesal sekali rasanya dengan dua orang laki-laki itu. Kenapa mereka sama sekali nggak ngerti aku? Mereka itu sama-sama semaunya sendiri. 

[Selamat, ya, atas hubungan kalian.] 

Pesan chat dari Pak Jibril semakin membuatku kesal. Kenapa? Kenapa? 

[Siapa juga yang pacaran.] 

[Loh, gak papa. Siapa tau habis ini kalian mau aku ijab qobulin sekalian.] 

'Maunya kamu yang ucapin ijab qobul namaku, Pak. Ngerti nggak sih.'

Tak kubalas lagi pesannya. Aku lebih memilih menangis saja. Gara-gara Umar itu, aku dikira pacaran sama Pak Jibril. Malah dia nawarin mau nikahin aku sama Umar. Kan, kesel. 

_____

"Loh, Yu. Tumben udah bangun," sapa ibu subuh ini. Ya, meski kejadian semalam bikin aku malu dan kesal, tapi aku belum menyerah. 

"Aku mau buatin bekal makan buat Pak Gan ... Pak Jibril, Bu. Kasian dia kan, sendirian. Mana tau kalau dia nggak sempet masak." 

"Kamu jangan terlalu kelihatan ngejar-ngejar dia, Yu. Perempuan itu harus jual mahal. Nggak baik kalau kamu ngejar laki-laki." 

Benar juga sih, tapi model seperti gunung es begitu kalau nggak didaki, nggak akan takhluk. 

"Iya, Bu." 

Bergegas aku memasak dan menata bekal di dalam kotak bekal berwarna biru. Ada nasi uduk, tempe orek, telur dadar, dan timun. 

Perlahan, aku mengambil nasi dan membentuk hati. Huh, lumayan sulit, tapi aku tetap berusaha. Kemudian lauk pauk aku tata tak kalah rapi di sebelah nasi. Mudah-mudahan, Pak Jibril suka dengan makanan yang aku masak ini. 

Setelah pagi menjelang, aku mandi dan berdandan cantik. Tak lupa rangkaian skincare aku pakai dengan gesit. Takut kalau Pak Jibril sudah berangkat ke kantor. 

"Pak," panggilku. Dia berjalan kaki lewat di depan rumah. 

"Kenapa?" 

"Ini, Ibu suruh aku ngasih makanan ini. Dia bilang kan, Bapak tinggal sendirian. Takut kalau nggak sempet masak." 

"Aku udah masak sih, tadi, tapi makasih, ya." 

"Iya, Pak sama-sama. Jangan lupa, ya. Ulasannya. Aku tunggu." Aku memegang HP dan berharap dia chat aku nanti. 

"Oke." Dia pun pergi begitu saja. Lagi-lagi nggak pamit sama calon istri. Hihi. 

"Yu, kamu belanja sana ke warung Ce Ida. Beras sama sayur udah pada habis," ucap ibu ketika aku baru masuk ke rumah. 

Ia kemudian memberiku daftar belanjaan dan sejumlah uang pecahan seratus ribu. 

"Ini daftar belanjaannya sama uangnya." 

"Oke." 

Aku langsung pergi ke warung Ce Ida yang tak terlalu jauh dari rumahku. Warung itu cukup dekat dengan kantor KUA di mana calon suamiku bekerja. 

"Assalamualaikum, Ce." 

"Waalaikumsalam. Eh, Ayu. Belanja?" tanya Ce Ida. 

"Iya, Ce. Ini Ibu suruh aku belanja." 

Aku menyerahkan daftar belanjaan pada Ce Ida. Ketika itu, tiba-tiba saja ada seorang wanita menyenggolku dari belakang. 

"Eh, maaf, ya." 

Aku sontak meliriknya yang biasa saja seakan tidak merasa bersalah sedikitpun. 

"Ce, Ce Ida. Tolong ambilkan amplop!" Wanita bergincu merah itu berteriak pada Ce Ida yang masih sibuk mengambilkan pesananku. 

"Cepet, atuh, Ce. Nanti Aa Jibril nunggunya kelamaan." 

Hah? Aa? Siapa dia? Kenapa dia panggil Pak Ganteng Aa? 

Aku memandanginya dari ujung kepala sampai ujung kaki. Jilbabnya wah dengan manik-manik di atas kepala. Bedak tebal bak tembok berbempul. Gincunya merah, merah sekali. Bodinya? Ah, aku merasa dia bukan gadis, atau hanya perasaanku saja? 

"Makasih, Ce." 

Setelah menerima apa yang dia mau, wanita itu pergi. Aku memperhatikan cara dia berjalan. Sangat dibuat-buat apalagi dengan sepatu hak tinggi itu. Sepertinya dia sedikit kesusahan. Apalagi roknya sangat sempit. 

"Ce, itu siapa?" tanyaku. 

"Oh, itu Teh Lidia. Kenapa, Yu?" 

"Dia cantik, Ce." Lebih tepatnya menor. 

"Ya, maklumlah. Dia itu janda." 

Hah? Janda. Astaga. Jadi, aku harus bersaing dengan janda? 

"Dia kerja di KUA, Ce?" 

"Iya. Bareng sama Pak Jibril. Awas, Yu. si Lidia itu genit pisan. Banyak lho yang sudah jadi korbannya." 

"Korban perasaan, Ce?" 

"Bukan, korban rumah tangga. Dia itu pelakor." 

Aku membulatkan bibir dan mengangguk. Alamat ini mah. Bisa kalah telak aku. Apa iya aku harus mundur secara janda genit itu jauh lebih unggul daripada aku. Dia setiap hari ketemu sama Pak Ganteng, sedangkan aku. 

Lemas sudah tubuhku memikirkan mereka. 

"Minta air mineral, Ce." 

Suara itu? Benar saja, Pak Jibril. 

"Eh, Pak Gan ... Pak Jibril. Beli apa?" tanyaku.

"Kamu nggak denger aku tadi beli air mineral?" 

Iya denger sih, tapi kan aku cuma basa-basi. Ya, ampun. 

Kuhembuskan napas kemudian berkata, "Iya, saya denger kok. Suara detak jantung, Bapak juga saya denger." 

Ce Ida menahan tawa. Ia kemudian memberikan pesanan Pak Jibril. 

"Pak, Pak. Makanan dari saya udah dimakan belum?" Aku menahannya sejenak yang hendak pergi. 

"Belum. Ini kan, masih pagi." 

Oh, iya. Kenapa aku sampai lupa? 

"Kenapa kamu di sini? Kamu nggak kerja?" 

"A-ku aku ... ." Belum selesai bicara tiba-tiba wanita bernama Lidia itu muncul. 

"Aa. Cepetan atuh, dicari sama yang lain." 

Rasa kesalku memuncak secara tiba-tiba ketika wanita itu memanggil Pak Ganteng dengan sebutan Aa. Tanpa berpikir panjang, kutarik lengan Pak Jibril kemudian ...

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED