Agam terlonjak dari duduknya, saat Erik menelpon dan memberitahukan kalau dia tidak menemukan Michy di kampusnya. Bahkan teman Michy mengatakan, kalau Michy pulang lebih dulu.
"Kamu sudah telpon dia Erik?"
"Sudah Tuan, tapi ponsel nona Michy tidak aktif," jawab Erik
"Coba kamu cari informasi, siapa saja teman Michy yang biasa bersamanya, mungkin saja Michy pergi bersama teman-temannya.”
"Siap Tuan"
Agam kembali duduk, ia mencoba menghubungi nomer Michy, tapi seperti yang dikatakan Erik, Michy tidak bisa dihubungi. Agam menatap ponselnya ponselnya kembali berbunyi sebelum ia meletakan ponsel itu di atas meja. la menerima panggilan dari Bianca.
"Agam, mana Michy, bukannya dia harus ke sini setelah kuliah?"
"Erik tadi menjemputnya, tapi Michy tidak ada di kampusnya, sekarang Erik sedang berusaha mencarinya."
"Hmmm, anak itu sepertinya sengaja, dia pasti tidak ingin datang ke sini"
"Kamu harus lebih keras lagi berusaha, Bianca. Bukan salah Michy kalau dia membencimu, aku sangat tahu bagaimana rasanya hidup dan dibesarkan tanpa kasih saying seorang ibu." Agam membela putrinya.
"Kamu terlalu memanjakannya Agam," gerutu Bianca.
"Apa lagi yang bisa aku lakukan selain memanjakannya. Aku hanya ingin dia tumbuh dengan bahagia, meski tidak dalam naungan kasih sayang dari kedua orang tuanya."
"Jangan mulai menyalahkan aku lagi Agam"
"Aku tidak perlu menyalahkanmu, kamu memang sudah melakukan kesalahan, meskipun kamu menolak untuk mengakuinya."
"Hhhh, aku tidak ingin lagi bertengkar denganmu karena – masa lalu, selamat siang."
"Selamat siang Bianca," Agam mematikan ponselnya, disandarkan punggungnya ke sandaran kursi kerjanya.
Sedikitpun ia tidak mendengar nada cemas pada suara Bianca, saat mengetahui Michy tidak ditemukan Erik di kampusnya.
Tidak mudah bagi Agam untuk membesarkan Michy sendirian, apa lagi harus menjawab pertanyaan Michy kecil tentang ibunya. Di saat gadis kecil lain selalu ditemani ibu mereka, Michy kecil harus puas hanya dengan Agam saja. Sementara Agam juga harus mencurahkan perhatian untuk mempertahankan kelangsungan perusahaan yang diwariskan oleh Bastian, kakek Michy, ayah Bianca kepada Michy.
Agam teringat akan pesan terakhir kakek Michy. Kalau ia harus merawat dan mendidik Michy dengan baik, juga harus menjaga dan menjalankan perusahaan dengan baik. Kakek Michy bahkan sudah menyiapkan jodoh untuk Michy.
Bianca sendiri meninggalkan Michy sejak Michy masih berusia enam bulan. Bianca meninggalkan rumah untuk mengejar keinginannya menjadi penyanyi. Dia memang bisa menggapai keinginannya menjadi penyanyi. Bianca berpetualang dengan grup bandnya dari satu cafe ke café lainnya. Dari satu kota ke kota lainnya, dari satu negara ke negara lainnya. sampai usianya kini menua, dan grup bandnya bubar karena para anggotanya ingin fokus membina keluarga.
Suara ponselnya menyadarkan Agam dari lamunan.
"Erik, bagaimana Erik?"Agam menegakan 'tubuhnya.
"Saya tidak mendapatkan informasi apapun tentang Nona Michy, Tuan."
"Apa? Bukankah tadi pagi kamu mengantarkan Jenhy ke kampus? Apa tidak ada yang melihat Michy pergi dengan siapa."
"Benar Tuan, tapi tidak ada seorangpun yang tahu kemana perginya nona Michy."
"Ya Tuhan, Michy kamu kemana? Hhhh, Sebaiknya kamu pulang saja Erik. Nanti aku akan meminta orang-orangku untuk mencari Michy."
"Baik Tuan"
Agam tidak ingin menunggu lagi, ia langsung menelpon orang yang ia yakin bisa ia andalkan untuk mencari Michy.
°♡°♡°♡°
Michy menghempaskan tubuhnya, di atas ranjang kecil yang kini menjadi tempat tidurnya. la menyewa sebuah flat kecil, untuk tempat tinggal. Pekerjaan memang belum ia dapatkan, tapi dengan uang tabungannya, ia yakin bisa bertahan selama dua bulan, jika ia belum juga mendapatkan pekerjaan.
Tatapan Michy lurus, menatap langit-langit kamarnya, di sana terbayang wajah Agam, daddynya. Tanpa terasa air mata mengalir di sudut matanya. Setelah kakeknya meninggal, hanya daddynya yang dekat dengannya. Meski daddynya tidak banyak bicara, tapi selama ini apapun keinginannya selalu diluluskan.
Agam sangat memanjakannya, tapi kini semua itu kini sudah berakhir. Bukan Agam yang mengakhiri, tapi pilihannya untuk pergilah yang mengakhiri semua perhatian Agam untuknya. Dan, itu semua karena Bianca, wanita yang tak bisa ia pungkiri sudah mengandung dan melahirkannya. Tapi hanya sebatas itulah, peran wanita itu dalam hidupnya. Tak ada cinta, tak ada kasih sayang, tak ada perhatian, tak ada pelukan, tak ada kecupan, tak ada apapun yang membuatnya bisa menerima wanita itu dalam hidupnya. Apa lagi wanita itu sudah berusaha merebut Agam dari dirinya.
Tanpa sadar, air mata jatuh di sudut mata Michy. Meski selama ini ia merasa bahagia, hanya hidup berdua dengan daddynya. Tapi, tetap saja, terkadang ia merasa iri dengan teman-temannya, yang bisa merasakan kasih sayang seorang ibu dalam hidup mereka. Michy menghapus air matanya, ia bangun dari berbaringnya, ia mengambil oran yang tadi ia beli. la harus mencari lowongan pekerjaan segera.
°♡°♡°♡°
Ini hari ketiga Michy menghilang. Agam tidak bisa menahan rasa cemasnya. Michy, gadis rumahan, ia jarang keluar untuk bepergian, Agam sangat yakin, Michy tidak akan pergi jauh.
Agam berdiri di tengah-tengah kamar Michy, tatapannya menyapu seluruh ruangan, hal ini hampir tiap malam ia lakukan, semenjak Michy menghilang. Agam melangkah mendekati jendela, tatapannya jauh terlempar ke luar sana. Pikirannya terlempar ke masa saat ia masih muda. Saat cinta tengah mekar di hatinya. Tapi ingatan itu melukai hatinya, hatinya terluka karena ia harus meninggalkan wanita yang ia cintai, demi menikahi Bianca. Agam menundukan kepalanya, rasa rindu pada Michy seakan menggerogoti hatinya.
‘Michy, apapun yang ingin kamu minta, akan daddy luluskan. Tapi tolong, pulanglah, ini rumahmu, semuanya adalah milikmu, aku hanya menjaganya untukmu. Rumah, dan perusahaan, atas namamu, jika ada yang harus pergi dari rumah ini, maka akulah yang harus pergi. Bukan dirimu, tapi aku tidak akan pergi sekarang, sampai seseorang bisa menggantikan aku untuk menjagamu, dan meneruskan untuk menjalankan perusahaan. Ya Tuhan, dimanapun putri ku Michy berada, tolong lindungi dia.'
Michy keluar dari flatnya, ia bermaksud pergi ke toko báku tempatnya bekerja. la terpaksa menyamarkan penampilannya, agar tidak ada orang yang mengenalinya sebagai Michaela Petterson, putri dari AgamPetterson. Pekerjaan di toko buku, di dapatnya dari iklan di koran, pemilik toko buku adalah seorang nenek bernama Audrey.
Michy cukup senang dengan pekerjaannya. Lingkungan kerja, cukup menyenangkan baginya. Sehingga ia bersemangat untuk berangkat bekerja. Audrey, wanita usia lima puluh lima tahun itu, boss yang sangat menyenangkan bagi Michy. Audrey suka mencoba berbagai resep masskan. Di lantai atas toko buku milik Audrey, adalah tempat tinggal Audrey.
Sore ini, Michy tidak perlu memikirkan makan malamnya, 'karena Audrey menmberinya makanan masakannya, yang bisa ia santap untuk makan malam. Michy menutup toko dengan hati riang gembira, ia berpamitan pada Audrey sebelum pulang.
Michy hanya berjalan kaki menuju flatnya, karena tidak terlalu jauh jaraknya. Michy melangkah dengan santai, sambil menikmati suasana senja. Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di Sampingnya, dua orang ke luar dari mobil, dan membekap mulutnya.
Michy tidak bisa melakukan perlawanan, ia pingsan karena obat bius yang ada di kain yang dipakai si pembekapnya. Mobil yang membawa Michy langsung melaju meninggalkan lokasi di mana Michy dibekap tadi. Salah seorang dari mereka menelpon seseorang, mengabarkan bahwa Michy sudah berada di tangan mereka.
°♡°♡°♡°
Michy membuka matanya, yang pertama ia lihat adalah langit-langit kamar tempat di mana ia berada. Lalu ia menatap sekelilingnya, ruangan yang sangat akrab dengannya, kamar tidurnya di rumah Agam.
"Sudah bangun," suara itu datang dari arah jendela.
Michy bangun dari berbaringnya, kepalanya terasa sedikit pusing, karena pengaruh obat bius yang tadi sempat dihirupnya. Michy menurunkan kakinya ke lantai, ia duduk di tepi ranjang, dengan kakinya menjuntai di sisi ranjang.
Michy menatap Agam, yang tengah berjalan ke árahnya. Michy tidak tahu, bagaimana cara Agam menemukannya. Agam duduk di tepi ranjang, tepat di sebelah Michy.
"Kabur dari rumah bukanlah cara yang bagus untuk menyampaikan sebuah protes, Michy," Agam menolehkan kepalanya, untuk menatap Michy.
"Jika ada yang tidak kamu suka, bisa kamu sampaikan langsung pada Daddy, jangan justru pergi, dan menimbulkan masalah baru."
"Katakan pada Daddy, apa yang membuatmu pergi dari rumah?"
"Aku tidak ingin tinggal satu atap dengan wanita itu," jawab Michy lirih.
"Wanita itu? Bianca, maksudmu? Dia ibumu, Michy."
"Aku tahu, tapi dia tidak pernah mencintaiku, bahkan aku merasakan dari tatapannya, kalau dia menganggapku saingannya!" Michy merentak berdiri dari duduknya.
"Apa yang kamu katakan, saingan apa? Apa yang membuatmu berpikir, kalau kalian adalah saingan, apa yang diperebutkan, Michy?"
"Daddy sangat mencintainya, iyakan? Daddy ingin menikahinya, iyakan? Lakukan apa yang Daddy mau, tapi sampai kapanpun, aku tidak ingin tinggal satu atap dengan wanita itu!" Seru Michy dengan nada berapi-api.
Agam menatap Michy, tadinya ia pikir, Michy pergi karena menolak perjodohan yang sudah diatur almarhum kakeknya. Tapi, ternyata ia salah.
"Michy, Daddy tidak tahu, dari mana pikiran seperti itu kamu dapatkan?"
"Daddy tidak usah berpura-pura, Daddy masih sangat mencintainyakan, karena itu sampai sekarang Daddy tidak menikah lagi!"
Agam berdiri dari duduknya, ia melangkah untuk mendekati Michy, tapi Michy mundur untuk menjauhinya.
"Hhhh, kamu perlu tahu Michy, selama ini hanya dirimu yang Daddy pikirkan. Alasan Daddy tidak menikah, bukan karena Bianca, tapi karena Daddy ingin fokus melakukan apa yang menjadi pesan kakekmu." Agam berhenti sejenak untuk menarik napas.
"Dia meminta untuk menjagamu, sampai seseorang bisa menggantikan tugas Daddy. Seseorang yang akan menjadi suamimu. Daddy tidak menikah, karena tidak ingin pikiran, dan perhatian terbagi, antara dirimu, dengan istri, dan anak-anak dari pernikahan Daddy." Agam kembali menarik napas dalam.
"Daddy punya hutang budi pada kakekmu, hutang yang tidak akan mampu Daddy bayar, meski dengan nyawa. Jadi Daddy mohon padamu, bantu Daddy memenuhi pesan kakekmu."
"Aku tidak ingin menikah dengan Dilan!"
"Daddy tidak akan memaksamu, Michy. Kamu bisa memilih, pria mana yang kamu ingin jadikan suami, tapi tentu saja, jangan hanya cinta pertimbangannya, pikirkan juga kelangsungan perusahaan yang akan Daddy serahkan padamu. Karena, begitu kamu menikah, apa yang diwariskan kakekmu, akan Daddy serahkan semuanya padamu. Semuanya hakmu, Michy."
Michy menatap Agam dengan lekat, Agam menaikan alisnya, karena merasakan tatapan Michy yang tidak seperti biasanya.
"Ada apa?"
"Apa kalau aku menikah, Daddy akan pergi dari rumah ini? Apa Daddy akan meninggalkan aku? Apa Daddy akan menikahi wanita itu?" Michy menatap Agam dengan mata berkaca-kaca.
"Aku akan tetap di sini, jika kamu menginginkannya,"
Agam menjangkau bahu Michy, lalu di dekap erat ke dadanya.
"Tapi, jangan bawa masuk wanita itu ke dalam kehidupan-kita ya Daddy."
"Aku tidak akan membawa siapa-siapa ke rumah ini tanpa persetujuanmu, Michy."
Michy melingkarkan kedua tangannya di tubuh Agam.
"Daddy," Michy mendongakan wajahnya, untuk menatap wajah Agam.
"Hmmm," Agam melepaskan pelukannya.
"Kenapa tidak ada foto-foto pernikahan Daddy, dan wanita itu, saat kalian menikah dulu?"
Agam menatap Michy dengan wajah terkejut, karena baru kali ini Michy menanyakan hal itu kepadanya.
"Kenapa, Daddy? Apa Daddy menyembunyikan foto-foto itu untuk Daddy sendiri?" pertanyaan Michy terdengar sangat menyelidik.
Agam berusaha berpikir cepat, ia harus menemukan jawaban paling masuk akal bagi Michy, yang bukan bocah lagi. Michy sudah dewasa, dia akan tahu, kalua Agam berdusta, kalau alasan yang Agam berikan tidak sesuai logika.
"Jawab Daddy? Apa kalian menikah tanpa ada pesta, tanpa ada kamera?" Michy menuntut jawaban dari Agam, Agam menatap wajah Michy, wajah yang sangat mirip dengan Bianca saat muda.