Michaela gadis 20 tahun yang biasa disapa Michy. Terbaring di atas ranjangnya, ia tampak sangat gelisah, sebentar miring ke kanan, sebentar miring ke kiri, sebentar telentang dengan tatapan ke langit-langit kamar. Hatinya sangat gelisah, karena sebuah nama yang tengah mengganggu pikirannya. Bukan nama seorang pria yang sedang digandrunginya, tapa nama seorang wanita yang harusnya ia panggil mommy.
Bianca, nama wanita berusia 36 tahun itu, wanita yang sudah mengandung dan melahirkannya. Melahirkannya, lalu meninggalkannya saat usianya baru 6 bulan. Melahirkannya, namun tidak pernah andil dalam membesarkan dan mendidiknya. Dan, tiba-tiba saja wanita itu datang kembali. Berharap diterima masuk kembali ke dalam rumah tempat Michy dibesarkan.
'Hhhh, apakah daddy masih mencintai wanita itu? Apakah daddy tidak sakit hati atas apa yang sudah dilakukan wanita itu terhadapnya? Wanita itu sudah menghianati daddy semudah itukah daddy bisa menerima wanita itu kembali? Apakah daddy terlalu mencintainya, sehingga tidak menikah sampai saat ini. Hhhh, jika daddy memang mencintainya, dan menginginkan wanita itu, biar aku yang pergi dad, aku tidak bisa menerimanya, tidak sebagai istri daddy'
Michy bangkit dari berbaringnya, lalu duduk di tepi ranjang. Sebuah rencana mulai ia siapkan, dan akan ia laksanakan untuk beberapa hari ke depan. la bertekad pergi dari rumah tempat ia dibesarkan, tapi sebelumnya ia harus punya tempat tinggal dan pekerjaan. la yakin, Falisha, sahabatnya akan punya solusi untuknya.
Michy mengambil beberapa lembar pakaiannya dari dalam lemari. Lalu ia masukan ke dalam tas kuliahnya yang cukup besar. Beberapa hari kedepan ia akan melakukan hal yang sama. Diam-diam memindahkan pakaiannya dari lemari kamarnya, ke rumah Falisha, sahabatnya.
'Maafkan aku daddy, aku mencintai daddy, tapi aku tidak bisa menerima wanita itu masuk kembali ke dalam kehidupan daddy, tidak sebagai istri daddy!’
°♡°♡°♡°
Michy menuruni anak tangga, dilihat daddynya sudah duduk di ruang makan. Tasnya yang sarat muatan ia tinggalkan di belakang sofa ruang tengah, ia tidak ingin daddynya mengajukan pertanyaan yang menyelidik demi melihat tasnya.
"Pagi, Daddy" Michy memberi salam pada pria berusia 37 tahun yang tengah asik dengan koran pagi di tangannya.
"Pagi" Agam menurunkan korannya, lalu melipatnya. Agam memang pria yang tidak banyak bicara, ia tidak biasa berbasa basi, ia hanya bicara hal yang penting saja. Mereka pelayan mendekat untuk memulai sarapan merekau melayani mereka berdua.
"Kuliah?"
"Heum"
"Pulang kuliah mampirlah ke butik mommymu, dia ingin memberikan gaun untukmu" ucap Agam bernada datar saja.
"Kenapa gaunnya tidak dia titipkan pada daddy saja?"
"Mommymu ingin kamu memilih sendiri gaun mana yang kamu suka. Gaun itu nanti yang harus kamu pakai saat acara makan malam bersama keluarga Dilan, Jumat depan" ujar Agam, mengingatkan Michy akan rencana makan malam bersama keluarga Dilan, pria yang dijodohkan dengan Michy oleh Agam, dan Emilio, ayah Dilan yang merupakan relasi bisnis Agam.
Menurut Agam, perjodohan itu berasal dari pembicaraan Bastian, kakek Michy, dengan Jonatahan, kakek Dilan. Jadi Agam, dan Emilio hanya meneruskan keinginan kedua kakek itu saja.
"Michy, kamu dengar apa yang daddy katakan?" Agam menatap wajah Jernny, yang tidak menjawab perkataannya.
"Ya Daddy" jawab Michy tanpa semangat. Agam menarik napasnya, ia sangat tahu, Michy tidak menyukai Bianca.
"Lemahkanlah sedikit hatimu, Michy. Dia ibu kandungmu, meski kamu ingin mengingkarinya, tapi ikatan darah di antara kalian tidak akan bisa diputuskan." ucap Agam berusaha membujuk Michy.
"Aku tahu" jawab Michy singkat. Ada rasa sakit di dalam hatinya, karena daddynya terkesan lebih membela Bianca.
Ada rasa kecewa di dalam hatinya, karena daddynya membagi perhatiannya pada Bianca. Perhatian yang tadinya hanya menjadi miliknya seorang. Michy merasa, wanita itu sudah merebut apa yang menjadi miliknya selama ini. Kedatangan wanita itu terasa menghancurkan kebahagiaan dan kedamaian yang ia rasakan selama ini.
Wanita itu sekonyong-konyong datang, membawa maaf untuk ia berikan kepada daddynya. Tapi tidak ada kata maaf yang terucap untuknya. Wanita itu seakan sengaja datang untuk mengusik kebahagiaannya, untuk merebut apa yang selama ini menjadi miliknya
Wanita itu..,
"Michy!"
"Ya Dad" Michy tergeragap mendengar panggilan daddynya.
"Apa yang kamu lamunkan?"
"Tidak ada, ehmm Daddy tidak ke kantor?" Agam menatap jam di pergelangan tangannya.
"Baiklah, Daddy pergi, ingat ucapan Daddy tadi, temui mommymu"
"Ya Dad" Jenný mengecup puncak kepala Michy, sebelum meninggalkan ruang makan.
Michy menatap punggung daddynya, rasa sakit kembali menyusupi hatinya.
°♡°♡°♡°
Michy turun dari mobil yang disupiri Erik, supir pribadinya. Falisha langsung menyambutnya, mereka memang sudah bicara banyak semalam, soal keinginan Michy kabur dari rumah. Mereka menuju mobil Falisha, lalu meletakan tas Michy menganggukan kepalanya, Agam di jok belakang mobil Falisha. Michy memindahkan pakaiannya ke tas yang dibawakan Falisha, setelah semua pakaiannya berpindah tas, barulah Falisha mengunci kembalipintu mobilnya. Mereka berjalan beriringan menuju kelas mereka.
"Bagaimana?" Tanya Michy.
"Kapan kamu ingin pergi?" Falisha balik bertanya.
"Kalau bisa hari ini juga"
"Hari ini, kamu baru membawa beberapa lembar pakaianmu, Michy!"
"Aku bisa membeli pakaian baru nanti, uang tabunganku cukup banyak."
"Kenapa tiba-tiba kamu mempercepat rencanamu?"
"Hari ini daddy memintaku menemui wanita itu, aku tidak ingin menemuinya. Dia ibu kandungku, tapi sikapnya seperti ibu tiri saja bagiku. Dia cuma manis saat berada di hadapan daddyku, di belakang daddy, aku melihat sorot permusuhan di matanya. Aku tidak membencinya, tapi aku tidal bisa menerima dia masuk ke rumah kami sebagai istri daddy" jawab Michy dengan penuh semangat, namun ia mampu mengontrol suaranya agar volumenya tetap rendah.
Falisha menghentikan langkahnya, ditatap wajah sagabat karibnya sejak 8 tahun lalu itu.
"Apa kamu siap meninggalkan semua kemewahan yang selama ini kamu rasakan, Michy? Kamu terbiasa semua serba ada, dan semua serba dilayani oleh pelayan di rumahmu"
"Aku siap dengan segala resiko atas keputusan yang sudah akų ambil, Hhhh, daddy mungkin terlalu mencintai wanita itu, karena itu dia tidak menikah selama ini, jika daddy merasa bahagia dengan kehadiran wanita itu di sisinya, aku rela meninggalkan semuanya" jawab Michy dengan mata berkaca-kaca.
"Kenapa kamu tidak mencoba membuka hatimu untuk menerima mommymu, Michy? Aku kira itu lebih baik dari pada kamu harus pergi. Daddymu pasti akan sangat terluka dan cemas karena kehilanganmu. Mereka adalah orangtuamu kamu tidak ingin hidup memiliki kedua orangtuamu, apa orang tua lengkap, aku kira itu impian semua anak di dunia bukan?" Falisha menatap Michy dalam kebingungan akan jalan pikirannya sahabatnya.
Michy balas menatap Falisha, ia sadar, apa yang dikatakan Falisha memanglah benar, tapi kasusnya tidak sesimpel itu, ada hal yang tidak bisa ia ungkapkan pada Falisha, meski Falisha adalah sahat karib yang paling ia percaya. Ada bagian hidupnya yang tidak ingin ia ungkapkar kepada orang lain, bagian yang akan menjadi rahasia yang akan ia simpan sendiri di dalam hatinya.
Agam terlonjak dari duduknya, saat Erik menelpon dan memberitahukan kalau dia tidak menemukan Michy di kampusnya. Bahkan teman Michy mengatakan, kalau Michy pulang lebih dulu.
"Kamu sudah telpon dia Erik?"
"Sudah Tuan, tapi ponsel nona Michy tidak aktif," jawab Erik
"Coba kamu cari informasi, siapa saja teman Michy yang biasa bersamanya, mungkin saja Michy pergi bersama teman-temannya.”
"Siap Tuan"
Agam kembali duduk, ia mencoba menghubungi nomer Michy, tapi seperti yang dikatakan Erik, Michy tidak bisa dihubungi. Agam menatap ponselnya ponselnya kembali berbunyi sebelum ia meletakan ponsel itu di atas meja. la menerima panggilan dari Bianca.
"Agam, mana Michy, bukannya dia harus ke sini setelah kuliah?"
"Erik tadi menjemputnya, tapi Michy tidak ada di kampusnya, sekarang Erik sedang berusaha mencarinya."
"Hmmm, anak itu sepertinya sengaja, dia pasti tidak ingin datang ke sini"
"Kamu harus lebih keras lagi berusaha, Bianca. Bukan salah Michy kalau dia membencimu, aku sangat tahu bagaimana rasanya hidup dan dibesarkan tanpa kasih saying seorang ibu." Agam membela putrinya.
"Kamu terlalu memanjakannya Agam," gerutu Bianca.
"Apa lagi yang bisa aku lakukan selain memanjakannya. Aku hanya ingin dia tumbuh dengan bahagia, meski tidak dalam naungan kasih sayang dari kedua orang tuanya."
"Jangan mulai menyalahkan aku lagi Agam"
"Aku tidak perlu menyalahkanmu, kamu memang sudah melakukan kesalahan, meskipun kamu menolak untuk mengakuinya."
"Hhhh, aku tidak ingin lagi bertengkar denganmu karena – masa lalu, selamat siang."
"Selamat siang Bianca," Agam mematikan ponselnya, disandarkan punggungnya ke sandaran kursi kerjanya.
Sedikitpun ia tidak mendengar nada cemas pada suara Bianca, saat mengetahui Michy tidak ditemukan Erik di kampusnya.
Tidak mudah bagi Agam untuk membesarkan Michy sendirian, apa lagi harus menjawab pertanyaan Michy kecil tentang ibunya. Di saat gadis kecil lain selalu ditemani ibu mereka, Michy kecil harus puas hanya dengan Agam saja. Sementara Agam juga harus mencurahkan perhatian untuk mempertahankan kelangsungan perusahaan yang diwariskan oleh Bastian, kakek Michy, ayah Bianca kepada Michy.
Agam teringat akan pesan terakhir kakek Michy. Kalau ia harus merawat dan mendidik Michy dengan baik, juga harus menjaga dan menjalankan perusahaan dengan baik. Kakek Michy bahkan sudah menyiapkan jodoh untuk Michy.
Bianca sendiri meninggalkan Michy sejak Michy masih berusia enam bulan. Bianca meninggalkan rumah untuk mengejar keinginannya menjadi penyanyi. Dia memang bisa menggapai keinginannya menjadi penyanyi. Bianca berpetualang dengan grup bandnya dari satu cafe ke café lainnya. Dari satu kota ke kota lainnya, dari satu negara ke negara lainnya. sampai usianya kini menua, dan grup bandnya bubar karena para anggotanya ingin fokus membina keluarga.
Suara ponselnya menyadarkan Agam dari lamunan.
"Erik, bagaimana Erik?"Agam menegakan 'tubuhnya.
"Saya tidak mendapatkan informasi apapun tentang Nona Michy, Tuan."
"Apa? Bukankah tadi pagi kamu mengantarkan Jenhy ke kampus? Apa tidak ada yang melihat Michy pergi dengan siapa."
"Benar Tuan, tapi tidak ada seorangpun yang tahu kemana perginya nona Michy."
"Ya Tuhan, Michy kamu kemana? Hhhh, Sebaiknya kamu pulang saja Erik. Nanti aku akan meminta orang-orangku untuk mencari Michy."
"Baik Tuan"
Agam tidak ingin menunggu lagi, ia langsung menelpon orang yang ia yakin bisa ia andalkan untuk mencari Michy.
°♡°♡°♡°
Michy menghempaskan tubuhnya, di atas ranjang kecil yang kini menjadi tempat tidurnya. la menyewa sebuah flat kecil, untuk tempat tinggal. Pekerjaan memang belum ia dapatkan, tapi dengan uang tabungannya, ia yakin bisa bertahan selama dua bulan, jika ia belum juga mendapatkan pekerjaan.
Tatapan Michy lurus, menatap langit-langit kamarnya, di sana terbayang wajah Agam, daddynya. Tanpa terasa air mata mengalir di sudut matanya. Setelah kakeknya meninggal, hanya daddynya yang dekat dengannya. Meski daddynya tidak banyak bicara, tapi selama ini apapun keinginannya selalu diluluskan.
Agam sangat memanjakannya, tapi kini semua itu kini sudah berakhir. Bukan Agam yang mengakhiri, tapi pilihannya untuk pergilah yang mengakhiri semua perhatian Agam untuknya. Dan, itu semua karena Bianca, wanita yang tak bisa ia pungkiri sudah mengandung dan melahirkannya. Tapi hanya sebatas itulah, peran wanita itu dalam hidupnya. Tak ada cinta, tak ada kasih sayang, tak ada perhatian, tak ada pelukan, tak ada kecupan, tak ada apapun yang membuatnya bisa menerima wanita itu dalam hidupnya. Apa lagi wanita itu sudah berusaha merebut Agam dari dirinya.
Tanpa sadar, air mata jatuh di sudut mata Michy. Meski selama ini ia merasa bahagia, hanya hidup berdua dengan daddynya. Tapi, tetap saja, terkadang ia merasa iri dengan teman-temannya, yang bisa merasakan kasih sayang seorang ibu dalam hidup mereka. Michy menghapus air matanya, ia bangun dari berbaringnya, ia mengambil oran yang tadi ia beli. la harus mencari lowongan pekerjaan segera.
°♡°♡°♡°
Ini hari ketiga Michy menghilang. Agam tidak bisa menahan rasa cemasnya. Michy, gadis rumahan, ia jarang keluar untuk bepergian, Agam sangat yakin, Michy tidak akan pergi jauh.
Agam berdiri di tengah-tengah kamar Michy, tatapannya menyapu seluruh ruangan, hal ini hampir tiap malam ia lakukan, semenjak Michy menghilang. Agam melangkah mendekati jendela, tatapannya jauh terlempar ke luar sana. Pikirannya terlempar ke masa saat ia masih muda. Saat cinta tengah mekar di hatinya. Tapi ingatan itu melukai hatinya, hatinya terluka karena ia harus meninggalkan wanita yang ia cintai, demi menikahi Bianca. Agam menundukan kepalanya, rasa rindu pada Michy seakan menggerogoti hatinya.
‘Michy, apapun yang ingin kamu minta, akan daddy luluskan. Tapi tolong, pulanglah, ini rumahmu, semuanya adalah milikmu, aku hanya menjaganya untukmu. Rumah, dan perusahaan, atas namamu, jika ada yang harus pergi dari rumah ini, maka akulah yang harus pergi. Bukan dirimu, tapi aku tidak akan pergi sekarang, sampai seseorang bisa menggantikan aku untuk menjagamu, dan meneruskan untuk menjalankan perusahaan. Ya Tuhan, dimanapun putri ku Michy berada, tolong lindungi dia.'
Michy keluar dari flatnya, ia bermaksud pergi ke toko báku tempatnya bekerja. la terpaksa menyamarkan penampilannya, agar tidak ada orang yang mengenalinya sebagai Michaela Petterson, putri dari AgamPetterson. Pekerjaan di toko buku, di dapatnya dari iklan di koran, pemilik toko buku adalah seorang nenek bernama Audrey.
Michy cukup senang dengan pekerjaannya. Lingkungan kerja, cukup menyenangkan baginya. Sehingga ia bersemangat untuk berangkat bekerja. Audrey, wanita usia lima puluh lima tahun itu, boss yang sangat menyenangkan bagi Michy. Audrey suka mencoba berbagai resep masskan. Di lantai atas toko buku milik Audrey, adalah tempat tinggal Audrey.
Sore ini, Michy tidak perlu memikirkan makan malamnya, 'karena Audrey menmberinya makanan masakannya, yang bisa ia santap untuk makan malam. Michy menutup toko dengan hati riang gembira, ia berpamitan pada Audrey sebelum pulang.
Michy hanya berjalan kaki menuju flatnya, karena tidak terlalu jauh jaraknya. Michy melangkah dengan santai, sambil menikmati suasana senja. Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di Sampingnya, dua orang ke luar dari mobil, dan membekap mulutnya.
Michy tidak bisa melakukan perlawanan, ia pingsan karena obat bius yang ada di kain yang dipakai si pembekapnya. Mobil yang membawa Michy langsung melaju meninggalkan lokasi di mana Michy dibekap tadi. Salah seorang dari mereka menelpon seseorang, mengabarkan bahwa Michy sudah berada di tangan mereka.
°♡°♡°♡°
Michy membuka matanya, yang pertama ia lihat adalah langit-langit kamar tempat di mana ia berada. Lalu ia menatap sekelilingnya, ruangan yang sangat akrab dengannya, kamar tidurnya di rumah Agam.
"Sudah bangun," suara itu datang dari arah jendela.
Michy bangun dari berbaringnya, kepalanya terasa sedikit pusing, karena pengaruh obat bius yang tadi sempat dihirupnya. Michy menurunkan kakinya ke lantai, ia duduk di tepi ranjang, dengan kakinya menjuntai di sisi ranjang.
Michy menatap Agam, yang tengah berjalan ke árahnya. Michy tidak tahu, bagaimana cara Agam menemukannya. Agam duduk di tepi ranjang, tepat di sebelah Michy.
"Kabur dari rumah bukanlah cara yang bagus untuk menyampaikan sebuah protes, Michy," Agam menolehkan kepalanya, untuk menatap Michy.
"Jika ada yang tidak kamu suka, bisa kamu sampaikan langsung pada Daddy, jangan justru pergi, dan menimbulkan masalah baru."
"Katakan pada Daddy, apa yang membuatmu pergi dari rumah?"
"Aku tidak ingin tinggal satu atap dengan wanita itu," jawab Michy lirih.
"Wanita itu? Bianca, maksudmu? Dia ibumu, Michy."
"Aku tahu, tapi dia tidak pernah mencintaiku, bahkan aku merasakan dari tatapannya, kalau dia menganggapku saingannya!" Michy merentak berdiri dari duduknya.
"Apa yang kamu katakan, saingan apa? Apa yang membuatmu berpikir, kalau kalian adalah saingan, apa yang diperebutkan, Michy?"
"Daddy sangat mencintainya, iyakan? Daddy ingin menikahinya, iyakan? Lakukan apa yang Daddy mau, tapi sampai kapanpun, aku tidak ingin tinggal satu atap dengan wanita itu!" Seru Michy dengan nada berapi-api.
Agam menatap Michy, tadinya ia pikir, Michy pergi karena menolak perjodohan yang sudah diatur almarhum kakeknya. Tapi, ternyata ia salah.
"Michy, Daddy tidak tahu, dari mana pikiran seperti itu kamu dapatkan?"
"Daddy tidak usah berpura-pura, Daddy masih sangat mencintainyakan, karena itu sampai sekarang Daddy tidak menikah lagi!"
Agam berdiri dari duduknya, ia melangkah untuk mendekati Michy, tapi Michy mundur untuk menjauhinya.
"Hhhh, kamu perlu tahu Michy, selama ini hanya dirimu yang Daddy pikirkan. Alasan Daddy tidak menikah, bukan karena Bianca, tapi karena Daddy ingin fokus melakukan apa yang menjadi pesan kakekmu." Agam berhenti sejenak untuk menarik napas.
"Dia meminta untuk menjagamu, sampai seseorang bisa menggantikan tugas Daddy. Seseorang yang akan menjadi suamimu. Daddy tidak menikah, karena tidak ingin pikiran, dan perhatian terbagi, antara dirimu, dengan istri, dan anak-anak dari pernikahan Daddy." Agam kembali menarik napas dalam.
"Daddy punya hutang budi pada kakekmu, hutang yang tidak akan mampu Daddy bayar, meski dengan nyawa. Jadi Daddy mohon padamu, bantu Daddy memenuhi pesan kakekmu."
"Aku tidak ingin menikah dengan Dilan!"
"Daddy tidak akan memaksamu, Michy. Kamu bisa memilih, pria mana yang kamu ingin jadikan suami, tapi tentu saja, jangan hanya cinta pertimbangannya, pikirkan juga kelangsungan perusahaan yang akan Daddy serahkan padamu. Karena, begitu kamu menikah, apa yang diwariskan kakekmu, akan Daddy serahkan semuanya padamu. Semuanya hakmu, Michy."
Michy menatap Agam dengan lekat, Agam menaikan alisnya, karena merasakan tatapan Michy yang tidak seperti biasanya.
"Ada apa?"
"Apa kalau aku menikah, Daddy akan pergi dari rumah ini? Apa Daddy akan meninggalkan aku? Apa Daddy akan menikahi wanita itu?" Michy menatap Agam dengan mata berkaca-kaca.
"Aku akan tetap di sini, jika kamu menginginkannya,"
Agam menjangkau bahu Michy, lalu di dekap erat ke dadanya.
"Tapi, jangan bawa masuk wanita itu ke dalam kehidupan-kita ya Daddy."
"Aku tidak akan membawa siapa-siapa ke rumah ini tanpa persetujuanmu, Michy."
Michy melingkarkan kedua tangannya di tubuh Agam.
"Daddy," Michy mendongakan wajahnya, untuk menatap wajah Agam.
"Hmmm," Agam melepaskan pelukannya.
"Kenapa tidak ada foto-foto pernikahan Daddy, dan wanita itu, saat kalian menikah dulu?"
Agam menatap Michy dengan wajah terkejut, karena baru kali ini Michy menanyakan hal itu kepadanya.
"Kenapa, Daddy? Apa Daddy menyembunyikan foto-foto itu untuk Daddy sendiri?" pertanyaan Michy terdengar sangat menyelidik.
Agam berusaha berpikir cepat, ia harus menemukan jawaban paling masuk akal bagi Michy, yang bukan bocah lagi. Michy sudah dewasa, dia akan tahu, kalua Agam berdusta, kalau alasan yang Agam berikan tidak sesuai logika.
"Jawab Daddy? Apa kalian menikah tanpa ada pesta, tanpa ada kamera?" Michy menuntut jawaban dari Agam, Agam menatap wajah Michy, wajah yang sangat mirip dengan Bianca saat muda.