Hari yang sudah lama Aletta tunggu akhirnya tiba. Ini adalah hari spesial, hari yang ikut menjadi saksi bagaimana terukirnya kenangan manis dalam hubungannya dan Aldo. Aletta menatap pantulan dirinya di cermin, tersenyum menatap dirinya sendiri yang terlihat sangat berseri-seri. Wajah yang cantik dengan riasan elegan membuat Aletta semakin memesona, hari ini Aletta akan menikah dengan Aldo sang kekasih. Membayangkannya saja Aletta sudah merasa bahagia.
"Aletta."
Lamunan Aletta seketika terbuyar saat merasakan sebuah tangan menyentuh bahunya dengan lembut. Dari pantulan cermin terlihat jelas Monica-ibunya sedang berdiri di belakangnya. Aletta tersenyum, dia memutar badannya menghadap sang ibu yang kini tersenyum padanya.
"Kamu terlihat bahagia sekali, Aletta."
Aletta hanya terkekeh menanggapinya, kemudian dia memeluk ibunya dengan sayang. "Aku sayang banget sama bunda."
"Bunda juga sayang sama kamu." Monica membelai lembut pucuk kepala Aletta.
"Ayo kita turun, semuanya sudah menunggu kamu," ucap Monica mengajak Aletta untuk turun.
Aletta pun menganggukkan kepalanya, sekali lagi dia menatap dirinya di cermin. Senyuman lebar terukir sempurna di wajah Aletta, balutan make up dengan gaun putih mewah melekat sempurna ditubuhnya. Dia sudah seperti bidadari yang baru turun dari surga.
Saat keduanya hendak turun ke aula acara, tiba tiba saja kedua orang tua Aldo masuk ke kamar. Aletta mengerutkan kening ketika melihat raut muka calon mertuannya, bukan senyum kebahagiaan yang mereka tampakkan. Melainkan terlihat seperti seseorang yang sedang cemas. Sontak Aletta langsung berdiri menghampiri Hendrik dan Ayundia, disusul Monica dari belakang.
"Tante, om. Ada apa? Kenapa raut muka kalian terlihat gelisah?" tanya Aletta to the poin.
Mata Ayundia mulai berkaca-kaca, tangannya membelai lembut pucuk kepala Aletta dengan sayang. Dia menghela napasnya dalam, sebelum membuka suaranya. "Aletta, Aldo belum dateng," ucapnya menatap kedua manik mata Aletta lekat.
Aletta semakin mengrenyitkan keningnya, dia tidak mengerti dengan maksud perkataan Ayundia. "Apa maksud, tante? Pasti Aldo sebentar lagi datang, kita tunggu saja ya," sahut Aletta sambil tersenyum simpul.
"Kita tidak tau Aldo akan datang atau tidak." Tiba tiba saja Hendrik membuka suaranya.
"Maksudnya apa?" timpal Monica.
"Aldo menghilang, tidak ada kabar, bahkan semuannya sudah mencari tapi tetap saja tidak ditemukan," sahut Adnan yang tiba tiba muncul dari ambang pintu.
Aletta mematung ditempatnya, perlahan cairan bening dimatanya turun tanpa izin. Dadanya terasa sesak seperti terhimpit ribuan besi, Aletta menggelengkan kepalanya. Dia tidak bisa mempercayai perkataan ayahnya begitu saja, Aletta berlari menuju meja rias untuk mengambil benda pipih disana. Tangannya sibuk mencari nomor Aldo dan menghubunginnya, berulang kali dia menelpon Aldo tetapi sama saja tidak ada jawaban.
Aletta membanting ponsel di tangannya, rasa kesal, kecewa dan sedih bercampur menjadi satu. "Aldo kamu kemana?" gumam Aletta dengan bahu bergetar.
"Aletta." Monica menghampiri sang anak dan memeluknya dengan erat.
Aletta mendongak menatap Monica, matanya sudah sembab dan hidungnya merah karena menangis. "Bunda, apa pernikahanku akan batal?" Dengan isakan tangisnya Aletta bertanya.
"Tidak sa-"
"Pernikahan harus di lanjutkan," potong Hendrik menyela perkataan Monica.
Semua orang yang ada disana serempak menatap Hendrik, terutama Aletta yang tampak bingung dengan jawaban Hendrik. Dia menghapus air matannya kasar, hatinnya sudah seperti dipermainkan disini.
"Maksudnya apa? Aldo tidak ada kabar dan itu artinya pernikahannya batal kan?"
"Kami tidak mau menanggung malu dengan membatalkan acara penting ini, diluar banyak tamu yang sudah datang," jawab Hendrik dengan raut muka serius.
"Apa yang kamu maksud, Hendrik? Siapa yang akan menggantikan Aldo?" Adnan yang sembari tadi diam, kini mulai angkat suara.
Ceklek..
Seseorang masuk kedalam ruangan itu bersamaan dengan pertanyaan Adnan, dan saat itu pula Hendrik menunjuk orang itu. "Bian yang akan menggantikan Aldo," ucapnya dengan tegas.
Bian yang baru saja masuk terlihat menggeram marah menatap ayahnnya, apa ini? dia baru saja dipanggil kesana dan langsung ditunjuk untuk menggantikan adiknya? Sungguh itu hal yang konyol.
"Papa! Apa maksudnya ini? Kenapa harus aku?" tolaknya membuang muka.
"Kamu harus mau Bian, jika tidak kamu akan kehilangan perusahaanmu itu!" ancam Hendrik.
Bian berdecak kesal, Ancaman dari ayahnya membuat dia tidak bisa berkutik lagi. Perusahaannya adalah hal yang penting bagi Bian, terlebih Bian sendiri yang mengembangkan perusahaan itu dari awal. Tangan Bian mengepal, tatapannya tertuju pada wanita cantik dengan gaun putih disana. Dia menatap Aletta dengan tatapan tajam.
"Terserah!" sarkasnya singkat, lalu memilih pergi dari ruangan itu. Sebelum Bian benar benar pergi, dia sempat tersenyum miring membelakangi mereka semua.
***
Beberapa menit setelah diskusi antar keluarga, akhirnya pernikahan tetap dilanjutkan. Walaupun awalnya Aletta juga menolak jika harus menikah dengan Bian, namun karena bujukan dari kedua orang tuannya akhirnya Aletta memutuskan untuk mengikuti semua perkataan mereka.
Sangat berat bagi Aletta menikah dengan seseorang yang sama sekali tidak dia cintai, tidak ada yang mengerti dengan perasaannya kala itu. Hati Aletta seolah menjadi mainan bagi mereka, dia sangat kecewa dengan Aldo yang tiba tiba menghilang entah kemana.
"Aletta sayang, sekarang kamu sudah resmi menjadi istri Bian," ucap Monica sang ibu sambil memeluknya dengan erat.
Setelah prosesi pernikahan sudah selesai, Aletta justru menangis dalam pelukan ibunya. Mungkin orang lain pikir Aletta menangis karena bahagia, tetapi kenyataannya justru dia menangis karena kesedihan. Pernikahan yang seharusnnya menjadikan sebuah kebahagiaan, justru dalam pernikahannya hanya ada air mata kesedihan.
"Bunda! Apa pernikahanku akan baik-baik saja nanti? Tidak ada cinta diantara aku dan Bian," tanya Aletta dengan bahu bergetar, isakan tangis kembali terdengar.
Monica menangkup kedua pipi Aletta, mengecup kening putrinya dengan sayang. "Kalian akan baik-baik saja, bunda yakin Bian anak yang baik. Dia kan kakak Aldo, dan kamu juga kenal kan sama dia," jawabnnya tersenyum simpul.
Bian mendengus kesal, karena sudah muak dengan tangisan wanita yang baru saja resmi menjadi istrinya.
"Bunda, boleh saya bicara sebentar dengan Aletta?" tanya Bian sopan dengan senyuman manis di wajahnya.
"Boleh, kalian ngobrol saja dulu ya. Aku mau menemui para tamu dulu, titip Aletta ya Bian," jawab Monica menepuk bahu Bian sebelum pergi dari sana.
Setelah Monica pergi, Bian menyeret Aletta dengan kasar. "Ikut saya!" sentaknnya menarik pergelangan tangan Aletta.
Aletta memberontak tidak terima dengan perlakuan Bian, berusaha melepaskan cengkeram tangan Bian. "Lepaskan aku! Kamu itu kenapa sih!" ucapnya kesal.
Bian berhenti setelah membawa Aletta menjauh dari keluarganya, melepaskan cengkeraman tangannya dengan kasar.
"Berhentilah menangisi Aldo, kamu menangis sampai berhari hari pun tidak akan membuat Aldo kembali," ucap Bian berbalik membelakangi Aletta, menyunggingkan senyuman miring di wajahnnya.
Aletta menarik lengan Bian dengan kasar agar menghadapnya, dia sedikit mendongak menatap Bian yang lebih tinggi darinya. "Apa maksud kamu? Atau kamu sebenarnya tau dimana Aldo?" tanyanya dengan mata yang berlingang air mata.
Bian terkekeh kecil menanggapinya, menyingkirkan tangan Aletta dengan kasar. Dia mendekatkan wajahnya tepat didepan wajah Aletta. "Jika saya tau dimana Aldo, saya juga tidak akan memberi tahumu," balas Bian penuh penekanan.
"Aku yakin kamu pasti sebenarnya tau kan dimana Aldo! Kumohon beritahu dimana dia!" teriak Aletta terisak pilu.
Bian yang merasa kesal sontak mencengkam rahang Aletta. "Turunkan nada bicaramu! Lupakan Aldo, dan sekarang kamu sudah menjadi istri saya. Jadi kalau kamu mau hidup tenang, cukup diam dan patuhi perintah saya! Karena saya tidak suka penolakan," sarkas Bian mengatupkan rahangnya geram. Kemudian dia pergi meninggalkan Aletta.
Aletta tersentak dengan perkataan Bian, lagi lagi air matannya mengalir. Dia tidak tau maksud dari apa yang Bian katakan, Aletta menatap Bian yang semakin lama menjauh darinya. Dia yakin Bian tau sesuatu tentang Aldo.
"Dimana sebenarnya Aldo?" gumam Aletta, dia duduk sambil menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Aletta menangis sendirian disana, meratapi nasibnya setelah ini. Harusnya dia menikah dengan orang yang dia cintai, namun ternyata tuhan justru berkehendak lain. Aletta harus menikah dengan kakak dari kekasihnya, bagaimana bisa Aletta hidup dengan orang dingin dan kasar seperti Bian?
"Apa semuannya akan baik baik saja kedepannya?" gumam Aletta menatap kosong depan.
Beberapa jam berlalu, waktu sudah menunjukkan jam 23.00 malam. Acara pernikahan keduannya baru saja selesai, seluruh tamu undangan sudah pulang kerumahnya masing masing. Hanya tersisa keluarga dari dua mempelai saja yang sedang berkumpul.
"Bian! Apa setelah ini kamu akan membawa Aletta ke rumah kamu sendiri atau ke rumah papa sama mama?" tanya Ayundia-ibu Bian yang duduk di samping Aletta.
"Kita langsung ke rumahku saja," jawab Bian sambil menyeruput secangkir kopi dengan santai.
Sementara Aletta hanya bisa diam, pikirannya hanya tertuju pada Aldo. Tidak tau kemana kekasihnya itu pergi, hati Aletta seakan mati rasa. Dia belum bisa menerima jika Aldo meninggalkannya tanpa sebab.
"Aletta? Kamu gimana?" tanya Ayundia beralih menatap Aletta. Sementara Aletta tetap diam, tidak ada sahutan darinya.
"Aletta?" panggil Monica menepuk bahu sang putri pelan.
Aletta tersentak, lamunannya buyar seketika. Dia menoleh menatap Monica dengan raut muka bingung. "Ada apa, bunda?" tanyanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Monica tersenyum simpul, dia sangat tau bagaimana perasaan Aletta saat ini. Tetapi semuanya sudah terlanjur bukan? Tidak ada yang bisa diulang kembali. "Bian mau ngajak kamu tinggal di rumahnya sendiri, sayang," jawabnya membelai lembut pucuk kepala Aletta.
Aletta mengangguk pelan, memaksakan senyumannya. "I-iya bunda, Letta ikut saja."
Setelah percakapan singkat itu, keadaan kembali hening. Sebelum Adnan kembali membuka suaranya. "Bian! Sepertinya Aletta sudah lelah, kalian pulang saja duluan ya," tutur Adnan.
Bian mengangguk dan beranjak menghampiri Aletta, keduanya berjalan beriringan menuju pintu keluar. Diikuti keluarganya dari belakang. Sesampainya di depan, Aletta dan Bian berpamitan. Aletta kembali menitihkan air matanya saat memeluk sang ibu, demi Ayah dan Ibunya dia mau mengorbankan hatinya dan menikah dengan Bian.
"Kita pamit," ucap Bian singkat sebelum masuk kedalam mobil, dia memang tipe pria yang dingin dan tidak banyak bicara.
"Hati-hati ya!"
***
Aletta tidak mengharapkan apapun dari pernikahannya bersama Bian. Apa yang akan terjadi selanjutnya, Aletta hanya bisa pasrah dan menerima Bian sebagai suaminya. Walaupun melupakan Aldo sangat sulit untuknya, apalagi Aldo belum di temukan. Seperti saat ini, Aletta pasrah diperintah oleh Bian untuk menurunkan barang-barang milik Bian yang ada di bagasi. Seperti keputusan Bian tadi, dia memboyong Aletta ke rumah pribadi miliknya.
Kurang lebih lima belas menit mereka sampai ke rumah Bian, rumahnya tidak terlalu besar namun terlihat minimalis dan elegan masih terkesan mewah pada rumah itu. Bian keluar dari mobil begitu saja, tanpa memperdulikan Aletta yang kesusahan membawa dua koper sekaligus.
"Sialan! Suami menyebalkan, setidaknya bantu aku!" Aletta terus mengumpat sambil menyeret dua koper masuk kedalam.
"Nona Aletta? Kamu istri tuan Bian ya?" tanya seseorang wanita tua yang baru saja menghampiri Aletta.
Aletta hanya mengangguk canggung sebagai jawaban, dia tidak tau harus bicara apa lagi. Karena tempat itu sangat asing dimatanya.
"Saya Diah, asisten rumah tangga disini. Kopernya biar saya bawakan saja ya," ucapnya tersenyum, mengambil alih koper yang ada di tangan Aletta.
Aletta pun awalnya tidak enak, tapi Diah memaksa. Maka dari itu Aletta memberikan saja koper itu, keduanya berjalan bersamaan menuju ke kamar Bian. Diah izin turun ke dapur karena tidak berani masuk ke kamar Bian, Aletta yang masuk kesana sendirian.
Aletta membuka knop pintu kamar Bian pelan, pintu terbuka menampilkan kamar bernuansa putih abu-abu. Mata Aletta menyapu seluruh ruangan, dia tidak menemukan pria yang sudah menjadi suaminya itu. Tetapi suara gemercik air terdengar dari kamar mandi, Aletta yakin Bian sedang mandi sekarang.
Aletta bernapas lega, kemudian dia melangkah masuk dengan menyeret kedua koper ditangannya. Membawanya menuju lemari kaca yang terletak di sudut ruangan, Aletta duduk di lantai mulai membongkar koper itu dan meletakkan pakaian serta barang-barang sesuai pada tempatnya.
"Huft.. Menyebalkan! Seharusnya aku menikah dengan Aldo, tapi justru sekarang aku harus menikah dengan pria menyebalkan itu." Aletta menggerutu tanpa henti, tidak dirasa air matanya menetes tanpa izin. Mengingat Aldo menghilang begitu saja, membuat Aletta merasa sedih.
Ceklekk...
Mendengar suara pintu terbuka, Aletta reflek menoleh menatap sumber suara. Matanya seketika melotot saat melihat Bian keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Sungguh perut sispex Bian membuat Aletta menelan ludahnya dengan susah payah.
"Astaga!" pekik Aletta sambil menutup matanya dengan kedua telapak tangannya.
"Astaga!" pekik Aletta sambil menutup matanya dengan kedua telapak tangannya.
"Kenapa kamu menutup mata?" tanya Bian dengan tatapan yang menusuk.
Apakah Bian gila? Tentu saja Aletta belum siap jika melihat pemandangan yang belum pernah dia lihat sebelumnya, walaupun sekarang Bian sudah menjadi suaminya tapi rasanya Aletta masih tidak menyangka bisa menikah dengan Bian.
"Nggak," jawabnya singkat memalingkan wajah.
Bian terkekeh kecil, melangkah mendekati Aletta dengan senyuman yang sulit diartikan. Matanya menelisik tubuh Aletta dari atas sampai bawah.
Sementara Aletta tidak peduli dengan Bian, dia terus memasukkan pakaian ke dalam almari. Aletta sempat kesulitan saat meletakkan pakaian di rak atas, namun tanpa disangka seseorang berdiri tepat di belakang Aletta. Membantunya meletakkan pakaian itu, siapa lagi jika bukan Bian.
Jantung Aletta benar-benar berdetak lebih cepat, bagaimana tidak. Posisi keduanya sangat dekat sekarang, dada bidang Bian menempel pada punggung Aletta.
"Kalau butuh bantuan bilang," bisik Bian tepat di telinga Aletta.
Aletta tersentak, bergidik karena napas Bian menerpa lehernya. Dia segera berbalik dan mendorong pelan tubuh Bian agar menjauh darinya. "I-iya makasih," ucapnya hendak melangkah pergi.
Namun langkahnya terhenti karena Bian tiba-tiba merangkul pinggangnya dengan erat. "Mau kemana, hm?"
"Lepaskan aku, aku mau pergi!" Aletta terus memberontak, menatap Bian dengan tatapan tajam.
"Diam! Kamu boleh pergi, asal kamu harus melayani saya dulu."
"A-aku belum siap, bagaimana jika Aldo kembali setelah ini. Aku tidak mau menghianatinya, a-aku--"
Brakk...
Bian meninju lemari dibelakang Aletta, mencengkram lengan Aletta dengan kasar. Aletta tidak bisa lari dan tidak bisa bergerak sama sekali.
"Jangan pernah menyebut nama Aldo jika sedang bersamaku, Aletta! Saya sekarang adalah suamimu, jadi saya berhak sepenuhnya atas dirimu!" sentak Bian penuh amarah, tepat ditelinga Aletta.
"T-tapi Al--"
Mphhhhh...
Tanpa basa basi lagi, Bian membungkam mulut Aletta dengan mulutnya. Yang awalnya hanya menempel, tapi sedetik kemudian menjadi lebih panas. Sementara Aletta hanya bisa menangis berusaha memberontak, namun tangannya sudah terkunci oleh Bian. Tidak sampai disitu, Bian mulai turun ke leher jenjang milik Aletta. Bibirnya mulai menjamah tubuh Aletta dengan penuh nafsu.
"Ahhhmm," desahan mulus terdengar dari mulut mungil Aletta, ia tidak bisa menahan suara itu. Tubuhnya mulai terlena dengan sentuhan Bian, walaupun hatinya menolak itu semua.
Bian perlahan mengangkat tubuh Aletta, tanpa melepaskan tautan dibibirnya. Entah apa yang ada dipikiran Aletta, kini ia tidak lagi memberontak. Tidak juga membalas, keduanya telah dikuasai hawa nafsu.
Bian menghempaskan tubuh Aletta di atas kasur, dirinya semakin dikuasai nafsu saat melihat dress yang Aletta pakai sedikit naik memperlihatkan paha mulusnya.
"K-ku mohon Bian! jangan lakukan itu!" ucap Aletta parau setelah Bian melepaskan tautan bibirnya.
Tubuhnya sudah tidak bisa memberontak, karena Bian menindihnya. Bian yang mengunci kedua tangannya.
"Kamu milik saya, Aletta!" sahut Bian dengan suara berat, menandakan dirinya tengah berusaha menahan sesuatu.
Cup..
Bian melumat bibir Aletta dengan kasar, tangannya tidak tinggal diam. Sibuk menjamah semua anggota tubuh Aletta, satu persatu pakaian yang menempel di badan Aletta dilepaskan. Bian semakin dikuasai nafsu ketika melihat tubuh Aletta yang tak tertutupi sehelai kain.
Sementara Aletta hanya bisa menangis dan memejamkan matanya, menahan suara desahan keluar dari mulutnya saat Bian mulai menciumi kedua gundukan miliknya.
"Aahhhh, Bian! ku mohon berhenti!" Desahan itu tiba tiba keluar dari mulut Aletta kembali.
Bian yang mendengar namanya disebut, gairahnya semakin besar. Perlahan ia membuka handuk yang ia kenakan, sekali tarik ia sudah tidak mengenakan sehelai pakaian pun. Keduanya sama-sama telanjang.
Aletta semakin menjerit dan menangis melihat milik Bian yang sangat besar, seumur hidup baru kali ini ia melakukan hal kotor seperti ini. Tenaganya sudah habis untuk memberontak.
Dengan mata sayunya, Bian kembali melumat bibir pink milik Aletta.
"Kamu hanya milikku Aletta!" ucap Bian lirih menatap kedua manik mata Aletta yang merah akibat mengeluarkan air mata terlalu banyak.
"J-jangan," sahut Aletta bergelinang air mata, merasa jijik pada dirinya sendiri. Karena Aletta belum sepenuhnya menerima Bian menjadi suaminya.
Bian yang dikuasai hawa nafsu, tidak lagi mendengarkan suara lembut dari Aletta. Tanpa berlama lama lagi, dia langsung menyatukan miliknya, pada milik Aletta.
"Arghhhhh!" Aletta berteriak kencang, merasakan ada yang sobek dalam kemaluanya. Air matanya tidak berhenti untuk keluar.
"S-sakit, berhenti!" parau Aletta.
Darah segar mengalir begitu saja dari milik Aletta, bahkan Bian sempat terbelalak saat melihatnya.
'Saya merenggut keprawanannya?' batin Bian tersenyum miring. Bian mulai bergerak maju mundur secara perlahan.
Walaupun perlahan Aletta tetap merasakan kesakitan, tangannya menjambak kuat rambut Bian melampiaskan rasa sakitnya. Sedangkan Bian yang merasakan jambakan di rambutnya, semakin menggairah.
Bian memilih membungkam mulut Aletta dengan bibirnya, juniornya masih setia maju mundur dibawah sana. Tangannya tidak tinggal diam, kembali menjamah semua anggota tubuh Aletta.
"Aaahhmmmm." Suara desahan lagi lagi keluar dari mulut Aletta, saat Bian mencapai titik kerotisnya.
'Maafkan aku Aldo,' batin Aletta merasakan sesak dalam dadanya.
Sampai beberapa saat kemudian, rasa sakit yang begitu hebat. Perlahan menjadi sebuah kenikmatan untuk keduanya, tangan Aletta yang menjambak rambut Bian mulai mengendor. Berganti memeluk leher Bian, terbawa suasana akan permainan Bian. Ditambah aroma tubuh suaminya yang mungkin akan menjadi candu baginya, membuat Aletta lupa akan segalanya.
Ruangan yang semula hening, kini dipenuhi suara suara desahan yang keluar dari mulut mereka berdua.