“Ahhhhh … Sebentar lagi …” Desahan dari seorang pria berumur akhir 30-an terdengar di kamar hotel mewah itu.
Tubuhnya bergerak maju mundur dengan cepat di atas seorang gadis muda yang sedang membuka kedua kakinya lebar-lebar. Hanya desahan pelan yang bisa dia keluarkan. Tanda merah sudah memenuhi tubuh bagian atasnya terutama leher dan di dekat buah dadanya.
“Ahh, mendesahlah lagi Baby!!!” perintah pria tua itu.
“Akhhh … Lebih kerashh Dadhh …” Gadis itu menurut. Tangannya meremas seprei di bawahnya erat-erat.
Tidak lama, desahan panjang terdengar. Rasa hangat terasa di bagian dalam gadis itu. Semuanya selesai dan mereka sudah menghabiskan 3 putaran malam ini.
Pria itu membuang bekas kondom ke tempat sampah dan segera memakai bajunya lagi.
“Kau selalu hebat seperti biasanya, bocah!” ucapnya sambil menyeringai senang.
Sedangkan gadis yang sudah digempur habis-habisan hanya bisa tergeletak lemas dengan tubuh telanjang yang tidak ditutup sekalipun dengan selimut.
“Ini bayaranmu malam ini! Kalau kau butuh bantuan, kau boleh menelponku kapan saja,” ujarnya sebelum memberi kecupan ringan di dahi gadis itu dan pergi meninggalkannya dengan uang cash berjuta-juta di samping tubuhnya.
Gadis itu menyeringai tipis sebelum terdengar kekehan pelan tapi kedengarannya seperti tangisan tak terdengar dari gadis itu. Dia sedang meratapi nasibnya yang semakin buruk saja rasanya. Badannya sakit semua tapi dia tetap berusaha untuk duduk, mengambil uang bayarannya dan mulai membersihkan dirinya sendiri.
Di pagi hari, dia harus pergi ke sekolah. Seragam sekolahnya dia kancingkan sampai menutupi lehernya yang berbercak-bercak merah. Hari ini dia memakai stoking hitam dibalik rok pendek sekolahnya.
Tiara Kehl. Nama yang cantik, bukan? Sayangnya kehidupannya tidak secantik namanya. Dia seorang pelacur di usianya yang masih begitu belia. Dan semua orang di sekolahnya sudah tahu itu. Tiara tidak bisa tidak menerimanya, karena itu semua memang fakta. Kenapa dia harus repot-repot mengurusi mereka yang berbicara tentang kebenaran dari kehidupannya. Dan anehnya, pihak sekolah tidak menendang keluar Tiara seolah mereka akan tetap menutup mata kalau tidak ada foto tidak senonoh yang tersebar.
Dan Tiara tidak akan keluar dari sekolah kalau ia tidak ditendang duluan. Alasannya karena dia sudah berjanji untuk lulus SMA pada adik tercintanya. Padahal, adiknya tidak tahu seberapa banyak hal yang sudah dikorbankan kakaknya.
Rasa sakit saat membayangkan adiknya tahu apa pekerjaan yang diambil Tiara untuk membiayai hidup mereka. Tiara mungkin akan memutuskan bunuh diri kalau keluarganya sampai tahu dia menjadi pelacur. Dia tidak bisa membayangkan betapa kecewanya adiknya saat itu terbongkar.
Tapi tidak ada pilihan lagi yang bisa diambil Tiara sampai akhirnya dia mengambil jalan ini. Memangnya siapa yang mau mempekerjakan seorang anak SMA dengan gaji UMR? Ahh, bahkan dengan gaji UMR saja dia tidak bisa membiayai keluarganya. Semuanya akan habis dalams atu hari saja. Belum lagi biaya sekolah swasta adiknya yang mengharuskan dia masuk asrama. Lalu membayar hutang ayahnya dan membayar biaya rumah sakit. Semua tidak cukup dengan uang 3 juta.
Kaki ramping itu mulai memasuki kawasan sekolahnya. Ejekan dan makian dia dengar bahkan jauh sebelum dia memasuki kawasan sekolah.
“Ihh jijik banget harus satu sekolah sama pelacur!” gumaman datang dari sepenjuru sekolah yang melihat kedatangan Tiara.
“Kenapa sih sekolah tidak menendang cewek menjijikkan ini?”
“Gak tau, sampah masyarakat ini membuatku mau muntah!”
“Gak tau malu banget sih! Tubuhnya sudah kotor kayak gitu masih mau sekolah! Menjijikan!”
Tiara menghela nafas panjang. Dia menulikan telinganya dan terus berjalan menuju kelasnya. Dia sudah terbiasa dengan ini.
“Tiara cantik!!!!” Suara heboh datang saat Tiara baru saja mendudukkan pantatnya di bankunya paling ujung. Seorang pemuda tampan hiperaktif datang memasuki kelas Tiara dan segera menduduki tempat duduk kosong di samping Tiara. Bibirnya tersenyum lebar dengan mata berbinar cerah menatap Tiara. Namun mata itu berubah sendi saat melihat bercak merah yang sedikit terlihat dari leher Tiara.
Tiara tidak memperdulikan pemuda itu dan memilih menatap keluar kelas. Dia heran kenapa pemuda itu selalu mengganggunya seperti ini padahal pemuda lain hanya akan mengejek dan menghina tubuhnya. Tapi pemuda ini? Berapa kalipun Tiara mengusirnya, dia tetap mengikutinya.
“Menjauhlah!” gumam Tiara tanpa mau menatap pemuda iu, tapi dia cukup yakin banyak dari mereka yang menatap Tiara tajam penuh dendam. Karena siapa dia sampai pemuda paling tampan di sekolah mengejar-ngejar pelacur sepertinya?
Pemuda itu mengerucutkan bibirnya sebelum melirik meja yang penuh dengan kata-kata kasar membuat pemuda itu mendongak menatap penghuni kelas.
“Siapa yang mencoret-coret bangku, Tiara? Ini sudah termasuk merusak properti sekolah! Siapa yang coret-coret?!” Dia berteriak memarahi penghuni kelas Tiara. Dan mereka hanya bisa diam sambil berbisik-bisik pelan.
“Aku akan mengganti mejanya,” putus pemuda itu.
“Jangan pedulikan aku dan pergilah dari hadapanku,” ucap Tiara lagi bersamaan dengan suara bel masuk yang berdentang kencang.
“Baiklah, aku akan kembali lagi nanti, sampai jumpa Cantik!” Pemuda itu melambaikan tangannya dan pergi keluar kelas.
Detik selanjutnya, para gadis yang mengagumi pemuda itu mendatanginya dengan wajah garang.
“Jadi sekarang kamu menggoda Daniel?!” bentak gadis bernama Lisa yang berada satu kelas dengannya.
“Aku tidak menggoda siapapun,” jawab Tiara dengan datar tanpa emosi.
“Hah! Sejak kapan pelacur mengaku tidak menggoda siapa-siapa?! Kita semua tahu kalau kamu mengincar pria beruang banyak. Dan Daniel adalah anak dari pengusaha terkaya!”
Tiara mengepalkan tangannya. Dihina seperti ini rasanya sakit sekali. Tapi karena sudah terbiasa mendengarnya, Tiara bisa mengendalikan emosinya.
“Aku tidak menggodanya. Dan kalau perlu, tolong suruh dia untuk menjauh dariku. Itu akan membuat kalian tenang, bukan?” balas Tiara lagi.
“Brengsek! Pelacur ini tidak tau diri!” umpat Lisa.
Saat gadis itu hendak mengangkat tangan dan menampar Tiara, dia segera berkata, “Jangan repot-repot memukulku atau tangan kalian mungkin akan ikut kotor.” Suara yang keluar benar-benar dingin dan tajam. Ekspresinya bahkan tidak berubah sejak awal dia masuk ke kelas.
“Ihh, menjijikkan,” balas temannya yang lain.
“Seharusnya aku menyuruh pembunuh bayaran saja untuk membunuhnya!” umpat Lisa sebelum berbalik dan kembali ke tempat duduknya.
‘Itu mungkin lebih baik untukku,’ balas Tiara di dalam hati.
***
“Darimana saja kamu?” Seorang pemuda tampan keturunan Eropa bertanya saat temannya datang dengan wajah tertekuk.
Daniel yang baru datang menatap teman-temannya lesa. Kakinya melangkah memasuki ruangan khusus yang mereka ciptakan untuk nongkrong bersama. Letak tempat itu berada di belakang sekolah dekat gudang. Ini tempat untuk anak-anak kaya seperti mereka. Ada tiga pemuda dan dua gadis. Mereka berpasangan satu sama lain, kecuali Daniel yang masih sendiri.
“Mungkin dia habis mengganggu pelacur itu lagi,” balas pemuda lain yang duduk dengan buku di hadapannya.
“Jaga mulutmu, Damian!” Daniel segera menungkas perkataan kasar temannya. Dia menatap tidak suka temannya.
“Apa yang salah, Daniel? Bukankah itu memang fakta?” heran pemuda yang pertama kali menyapa.
“Dia bukan wanita yang seperti itu, Kevin!” bantah Daniel lagi.
“Kenapa kau begitu yakin, Daniel?” Teman-temannya mengerutkan kening melihat sikap Daniel yang seperti terobsesi pada gadis itu.
“Karena–” Daniel menghentikan perkataannya. Tangannya mengepal di kedua sisi tubuhnya.
“Kau berubah, Daniel. Kenapa dia begitu penting bagimu?” Seorang gadis yang sedang dirangkul Kevin bertanya.
“Dia penting bagiku, kalian hanya tidak mengerti posisinya saat ini,” ujar Daniel sebelum dia memutuskan untuk keluar ruangan meninggalkan teman-temannya.
“Kenapa dia harus menyukai gadis sialan itu?” umpat Kevin.
“Dia jadi jarang nongkrong sama kita,” balas Damian.
“Aku harus memberi gadis itu pelajaran! Lihat saja!”
~2 Be Con~
Gadis itu sedang duduk di bawah pohon di dekat halaman belakang sekolahnya. Dia menyukai keheningan, karena itu membuat hatinya tenang dan saat itu pula dia tidak memikirkan apapun. Lalu tidak lama ponselnya bergetar.
Diraih benda persegi panjang itu dan menatap nomor baru yang tertera di layarnya. Segera dia menjawab telepon dan menyapa orang yang berada di seberang telepon dengan ramah.
“Hallo,”
[Apa benar ini dengan Tiara wali dari Siswi Gina?] Suara wanita terdengar lebih formal di seberang telepon. Apa ini telepon penipuan?
“Iya, betul. Ini siapa ya?” tanya Tiara.
[Maaf mengganggu waktunya, Bu Tiara. Kami dari keuangan ingin mengingatkan bahwa biaya sekolah Gina sudah menunggak di bulan ketiga. Kami berharap untuk segera membayarnya untuk persyaratan mengikuti ujian semester ini.]
Tiara baru mengingatnya. Dia memang sudah menunggak biaya sekolah Gina untuk tiga bulan sebelumnya. Uang yang ia dapat semalam, hanya cukup untuk membayar satu bulan setengah saja. Belum lagi ujian yang perlu biaya tambahan juga.
“Baik, Bu. Saya akan segera membayarnya besok siang.”
Tiara memberikan salam ramah untuk mengakhiri telepon. Lalu gadis itu menghela nafas panjang sebelum mencari kontak seseorang dan menelponnya tanpa berpikir panjang.
[Hallo, Baby?] tanya suara pria di seberang telepon sana.
“Dad, aku butuh uang,” ucap Tiara melupakan harga dirinya lagi. Ohh, apa dia masih punya harga diri? Sepertinya dua kata itu sudah tidak berlaku padanya.
[Baiklah, aku akan menjemputmu pulang sekolah nanti. Tunggu aku di depan,] ucap pria itu lagi. Dari suaranya, sepertinya pria itu senang bisa bertemu Tiara lagi.
“Thanks, Dad.”
[Urwell, Baby.]
Tiara menurunkan ponsel dari telinganya dan memutuskan panggilan. Bibirnya terangkat membentuk senyum miris. Dia sedang menertawakan kehidupannya sendiri yang tidak pernah berubah. Gadis itu terpaksa menelpon pria paling kaya yang pernah tidur dengannya. Padahal dia baru tidur dengannya kemarin malam. Dan sekarang dia harus menelponnya lagi.
Pulang sekolah, sebuah mobil mewah berwarna hitam sudah terparkir di depan gerbang sekolah Tiara. Kaca film mobil itu sangat gelap sampai mereka tidak tahu apa yang ada di dalamnya. Lagi pula, si pemilik mobil juga tidak mau ambil risiko kalau ada yang mengetahui identitasnya.
Tiara yang melihat mobil itu segera menghampirinya tanpa peduli bisik-bisik di belakangnya yang sudah mengejek dan mencaci makinya. Setelah masuk ke dalam mobil, bibirnya melengkung membentuk senyum lebarnya yang tampak seperti terpaksa daripada sebuah senyum tulus.
“Baby,” panggil pria itu membalas senyumnya.
“Hai, Dad. Maaf aku merepotkanmu,” ucap Tiara.
“Tidak apa-apa, Baby. Aku senang kamu menelponku saat kau membutuhkan uang.” Pria itu menarik lengan Tiara dan meraih leher belakangnya, mencium bibirnya dan menghisapnya dengan ganas.
“Umhh … Dadh … Jangan di sini,” ujar Tiara untuk mencegah orang-orang curiga dengan apa yang terjadi di dalam mobil ini. Kalau mereka sampai mengetuk kaca mobil, nanti malah tambah repot.
“Baiklah,” ucap Pria itu sambil memasukkan gigi mobil dan segera meluncur ke tempat tujuan mereka untuk bercinta yaitu hotel. “Jadi berapa yang kamu butuhkan?” tanya pria itu.
“Kali ini lumayan banyak, aku butuh 15 juta.” Tiara menjawab.
“Hanya 15 juta? Aku akan memberimu 20 juta tapi malam ini harus lebih memuaskan dari kemarin.” Pria itu menyeringai penuh nafsu sambil melirik Tiara dan jalan secara bergantian.
“As you wish, Daddy.” Hanya itulah yang bisa Tiara ucapkan. Dan dia bisa memastikan kalau besok dia mungkin tidak bisa berjalan.
Sesampainya mobil mewah itu di hotel bintang 5 yang sering mereka kunjungi, Tiara langsung diseret untuk memasuki kamar. Untungnya Tiara sempat mengirim pesan pada adiknya, dia tidak bisa pulang malam ini karena pekerjaan mendesak.
“Umh … Ahh …”
Pria itu langsung menyerang Tiara dengan menciumnya dengan sangat ganas dan kasar. Tangan pria itu membuka kasar kancing seragam Tiara bahkan beberapa kancingnya ada yang terlepas. Lalu dia meremas dua benda di dada Tiara dengan kasar.
Air mata mulai mengalir di pipi Tiara tanpa ada yang mengetahuinya sekalipun orang yang sedang mencumbunya saat ini. Tangan kecil itu meremas kemeja lawan mainnya dengan gemetaran. Sakit, rasanya sakit. Di dalam hati, dia bahkan sudah berteriak berkali-kali. Tapi dia tidak bisa berteriak untuk menghentikannya, dia hanya bisa mengubah teriakannya itu dengan desahan merdu yang perlu lawan mainnya dengar.
Tubuh kecil itu dilempar kasar ke atas ranjang besar dan dibukanya rok dan celana dalamnya secara brutal sampai Tiara benar-benar tidak menggunakan sehelai benang satu pun di tubuhnya.
Tiara ditarik untuk duduk. Kepalanya di cengkeram oleh tangan yang lebih besar dan mengarahkannya ke bagian tengah tubuh lawan mainnya yang sudah berdiri tegak. Tiara sudah bisa menebak kejadian seperti ini. Jadi dengan lihai, dia menggenggam benda itu dan memasukkannya ke dalam mulut. Menjilat dan menghisapnya layaknya permen loli. Tangannya juga tidak bisa diam, dia meraih sisa benda itu yang tidak bisa dimasukkan semuanya ke dalam mulut.
Tangan yang lebih besar semakin mencengkeram kepala Tiara dan mendorong benda itu masuk ke kerongkongannya dengan paksa. Memaju mundurkan kepalanya dengan brutal sampai gadis itu menangis sambil tersedak-sedak.
“Uhuk … Uhukk …” Tiara batuk saat lawan mainnya sudah mengeluarkan satu muatannya di dalam mulut Tiara.
“Ohh, kau begitu cantik, Baby. Aku tidak akan pernah bosan padamu!” Pria itu meraih kondom yang sudah dia persiapkan sebelumnya dan memasang karet itu pada kejantanannya.
“Mendesahlah yang kencang malam ini, baby!”
“Akhh … Daddy … hhhh …”
Benda itu berhasil memasuki tubuh Tiara. Dan dimulai detik itulah Tiara hanya bisa memasrahkan diri. Tidak tahu kapan kegiatan ini akan berakhir dan terus berteriak dan berteriak sampai tenggorokannya sakit.
Entah berapa putaran yang mereka lakukan, yang pasti seluruh badan Tiara benar-benar terasa sakit setiap dia bergerak, terutama bagian tengah tubuhnya. Apa itu bisa robek? Rasanya benar-benar linu dan nyeri!
“Permainan yang hebat, Tiara. Ini bayaranmu! Telepon aku lagi kalau kau butuh sesuatu.” Pria itu sedang memakai bajunya lagi sambil melemparkan 20 gepok uang seratusan di samping tubuh Tiara yang masih telanjang. Setelah pria itu selesai berpakaian, dia pergi meninggalkan Tiara tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Saat Tiara mendengar pria itu keluar dari kamar, dia menekuk tubuhnya menjadi meringkuk bagaikan landak yang sedang ketakutan. Bahunya bergetar pelan, tangan kecil itu meremas seprei di bawahnya erat-erat. Lama sekali Tiara meringkuk seperti itu, hingga dia mulai bergerak dan bangun sambil mengambil 20 juta yang sudah diberikan pria itu. Matanya melirik jam di nakas masih menunjukkan pukul 1 dini hari. Selama itukah mereka melakukannya?
Helaan nafas lelah terus terdengar dari mulut Tiara. Kemudian dia memutuskan untuk segera meninggalkan kamar menjijikkan itu setelah membersihkan diri di kamar mandi dan memakai bajunya lagi. Dia terpaksa tidak menggunakan kemeja sekolahnya lagi karena kancingnya ternyata sudah lepas semua dan memilih menggunakan jaket yang dia pakai tadi.
Kaki kecil itu memasuki kawasan rumah kontrakan sederhana dan membuka pintu kontrakannya.
“Ohh, kakak pulang?” Tiara agak terkejut ketika suara adiknya terdengar. Dia melihat tubuh kecil adiknya sedang terbaring di lantai depan pintu dengan badan ditutupi selimut.
“Kenapa kamu tidur disini?” tanya Tiara.
“Aku menunggu kakak, siapa tau kakak tidak sempat makan malam,” balas gadis kecil itu sambil menggosok matanya yang masih terkantuk-kantuk.
“Kakak bisa membuat makanan kakak sendiri. Kamu tidur saja. Besok masih harus ke sekolah pagi-pagi.”
“Kakak,” panggil Gina sambil menahan tangan Tiara.
“Ada apa?”
“Aku keluar dari asrama.”
“Loh? Kenapa?” Tiara menatap adiknya tidak percaya.
“Bayar asrama itu mahal. Jadi lebih baik aku mengurangi beban kerja kakak dengan keluar asrama. Lagipula, aku bisa berangkat lebih pagi dari rumah,” jelas Gina mencoba untuk meyakinkan kakaknya.
“Tapi nanti kamu kelelahan. Kakak tahu kalau tugasmu banyak, Gina.”
“Aku bisa mengurus itu, Kak. Tenang saja!”
Gina adalah anak yang keras kepala sama seperti dirinya. Kalau dia sudah mengambil keputusan itu, dia akan sulit untuk dihentikan. Dan kini Tiara tidak bisa menghentikan adiknya.
“Baiklah, tapi kalau kau butuh sesuatu, bilang saja sama Kakak. Oke?”
Gina mengangguk sambil tersenyum tipis.
“Ohh, dan ini,” Tiara memberikan amplop coklat pada Gina, “bayar uang sekolahmu yang nunggak.”
Gina melotot menatap amplop itu. “Dari mana kakak mendapat uang sebanyak ini?”
“Kakak habis kerja sampai tengah malam seperti ini untuk itu, Gina. Tadi bos kakak minta untuk membantunya mengurus tamu VIP, terus kakak dikasih uang itu,” dusta Tiara.
“Sampai digigit nyamuk lagi?” Gina melirik leher Tiara yang berbercak-bercak merah.
Secara refleks Tiara menyentuh lehernya dan pura-pura menggaruknya. “Hmm, Kakak harus menunggu di depan pintu lagi.”
Gina hanya tahu kalau kakaknya bekerja di sebuah restoran China yang terkenal di kalangan atas. Dan terkadang Tiara menunggui pintu depan ruangan tertutup untuk berjaga siapa tahu pelanggan memanggilnya. Yah, begitulah cerita yang diketahui adik satu-satunya. Kalau adiknya tahu apa yang sebenarnya, dia mungkin tidak akan mengakui dirinya sebagai kakaknya lagi.
“Istirahatlah, kakak mau mandi sebelum tidur,” perintah Tiara pada adiknya.
“Baiklah, selamat malam.” Gina pergi ke kamarnya dengan lesu sedangkan sang kakak menatap kepergiannya dengan penuh rasa bersalah.
“Maafkan aku,”
~2 Be Con~
Pagi ini, Tiara pergi ke sekolah dengan syal menutupi lehernya dan stoking hitam menutupi kaki kecilnya. Bukannya apa-apa, tapi tanda merah itu sulit sekali untuk di hapus, apalagi bagian leher dan paha dalamnya. Ini sudah dua hari berlalu, tapi tandanya belum hilang juga.
“Heh, Pelacur! Kamu masih belum menjawab pertanyaanku! Siapa yang kamu tiduri kemarin?” Seorang gadis bertanya tepat saat Tiara duduk di bangkunya.
Tiara tidak punya niatan untuk menjawabnya. Dia hanya mengalihkan pandangan untuk melihat pemandangan luar lewat kaca jendela saja.
“Sialan, jawab bego!” Gadis yang marah itu menarik rambut Tiara kencang-kencang sampai dia meringis kesakitan.
“Hei, dilarang ada kekerasan di dalam kelas!” Seorang pemuda yang menjadi ketua kelas bersuara dari bangku tempatnya duduk. Sejujurnya, dia tidak membela Tiara, dia hanya tidak mau kelasnya terkena masalah.
“Pelacur sialan! Awas kalau kamu tidur dengan Papaku! Kujamin hidupmu tak akan tenang!” ancam gadis itu sambil melempar kepala Tiara dengan kasar sebelum kembali ke bangkunya.
Tiara mendesis pelan sambil mengelus-ngelus kepalanya. ‘Buat hidupku tidak tenang, karena aku tidak layak hidup tenang.’ Pikir Tiara sebelum memilih membuka bukunya dan mempelajari pelajaran yang mungkin akan dibahas gurunya.
Jam istirahat, seperti biasa, Tiara pergi ke tempat yang tenang yaitu bawah pohon di belakang sekolahnya. Matanya menatap langit cerah dengan bibir terangkat sedikit. Lalu sebuah notifikasi mengalihkan perhatian Tiara dan segera membuka pesan yang baru masuk ke ponselnya.
Bibirnya yang tadinya mengulas senyum tipis, kini hilang seketika saat membaca pesan itu. Kemudian dia menyimpan ponselnya dengan kasar dan melirik langit cerah lagi.
“Ternyata langit cerah ini tidak serta merta menyerahkan hidupku,” gumam Tiara.
Pesan yang dia baca tadi adalah tagihan baru yang harus segera dia bayar. Sebuah tagihan Rumah Sakit tempat ibunya dirawat. Tagihannya benar-benar besar! Tiara lupa kalau dia belum membayarnya sejak dua bulan yang lalu. Kini tagihannya mencapai 30 juta hanya untuk obat dan perawatan saja. Hei! Siapa yang rela ibu kandungnya menerima perawatan yang jelek? Tiara harus memberikan perawatan terbaik untuk ibunya.
“Apa yang harus aku lakukan?” gumam Tiara. Dia tidak mungkin meminta uang lagi pada pelanggannya yang kemarin. Apa dicoba saja?
Tiara mendial nomor pelanggannya. Dan ketika teleponnya diangkat, betapa terkejutnya dia …
[Pelacur! Jangan kamu hubungi suamiku lagi, sialan! Atau aku akan menghancurkan hidupmu sampai mati! Jalang!!]
PIP
Jantung Tiara serasa mau copot. Makian kasar dari istri pria itu membuatnya terkejut bukan main. Pelanggan paling kayanya hilang, dia tidak mungkin menemuinya lagi. Jadi apa yang harus Tiara lakukan?
Tiara berdiri setelah bosan duduk di sana. Dia memutuskan untuk kembali ke kelas saja. Namun, sebelum dia melangkah memasuki lorong sekolah, seorang gadis datang dengan wajah merah karena marah.
“Dasar Jalang!!!!”
PLAKK
“Berani kamu menggoda pamanku!!”
PLAKK
Pipi kiri Tiara sangat panas dan sakit sampai telinganya berdengung. Gadis itu memakinya sambil mengungkit-ngungkit nama pamannya. Ternyata gadis ini keponakan dari pelanggannya yang tadi hendak dia telepon.
“Jalang ini menggoda pamanmu?” tanya gadis lain yang menyaksikan kejadian itu. Ternyata mereka sudah dikerumuni banyak orang.
“Sialan! Tidak tahu malu!”
PLAKK
“Akhh …” Kali ini Tiara melenguh pelan. Tangannya sudah mengepal di kedua sisi tubuhnya.
“Anak ini perlu diberi pelajaran!”
“Aku tidak menggoda pamanmu,” ujar Tiara dengan suara dingin bahkan tatapannya tajam.
“Masih mengelak rupanya! Aku mendapatkan nomormu di ponsel pamanku, sialan! Aku juga melihat mobil pamanku menjemputmu dua hari yang lalu!”
“Bagaimana jika kubilang pamanmu sendiri yang mendatangiku?”
“Pelacur sialan!”
Tiara menghentikan tangan yang akan menampar dirinya lagi. “Lagi pula, aku sudah memutus hubungan dengan pamanmu. Kami tidak akan bertemu lagi. Jadi menyingkirlah dari hadapanku.” Tiara berjalan melewati gadis itu dengan wajah tidak peduli. Namun sebenarnya, hatinya bergetar ketakutan. Lagi-lagi dia mencoba untuk tidak memperdulikan mereka. Dia tidak tahu kalau pria itu punya keponakan yang satu sekolah dengannya.
Ternyata hari buruk Tiara tidak hanya sampai di sana. Ketika dia berjalan menuju lorong kelasnya, seseorang menariknya kasar dan menyeretnya menuju ke belakang sekolah.
Kedua tangan Tiara dipegangi dengan dua pria. Sekalipun dia memberontak, genggaman mereka benar-benar kuat sampai tangannya terasa nyeri.
Lalu tubuhnya terlempar ke sebuah ruangan lumayan besar. Mata bulat itu menatap orang-orang yang sudah berdiri menunggunya dengan tangan terlipat di depan dadanya.
Tiara tahu tempat ini, tapi dia tidak pernah memiliki niatan untuk masuk ke dalam. Dia menatap dua pria yang menariknya dan dua gadis yang berdiri menghadapnya secara bergantian.
“Kenapa kalian menarikku ke sini?” tanya Tiara dengan suara datar.
“Pelacur ini berani bicara rupanya,” ucap seorang gadis cantik keturunan China yang tampak lebih muda dari Tiara. Sepertinya gadis itu satu atau dua tahun lebih muda darinya. Sedangkan gadis di sampingnya seperti ditahun yang sama sepertinya.
“Hei, kami hanya ingin kamu menjauh dari teman kami!” Seorang pemuda tinggi berambut coklat berkata sambil melemparkan tatapan tajam pada Tiara.
Tiara mendongak menatapnya. Keningnya mengerut merasa heran. “Siapa yang berniat mendekati teman kalian?”
“Sialan, menjauh dari Daniel!”
PLAKK
“Akh …” Tamparan lain didapatkan Tiara dari tangan besar yang bahkan telapak tangannya hampir menutupi seluruh wajah Tiara.
Rasa amis darah terasa di dalam mulut Tiara dan dia hanya bisa menelan semua rasa besi itu.
“Aku beri peringatan padamu, jangan pernah menggoda teman kami!” Pemuda yang tadi menampar Tiara mulai menaikkan suaranya.
Tiara yang mendengarnya ikut marah. Dia menatap nyalang orang-orang di hadapannya. “Aku tidak pernah menggoda siapapun! Cobalah tanya temanmu sendiri, siapa yang mendekati siapa,” ucap Tiara.
“Sepertinya kita tidak bisa bicara baik-baik padanya,” ucap gadis yang lebih muda dengan tatapan kesal dan mengejek.
“Memang!”
GRAB
“Aduh, lepas!”
Tangan Tiara ditarik lagi sampai punggungnya membentur dinding dengan keras. Lalu pemuda itu meraih ponselnya di meja dan mulai mengarahkannya pada Tiara. Sepertinya dia sedang mengambil video.
“Mulai buka bajunya!” perintah pemuda tinggi itu pada pemuda lain yang berlesung pipit.
“Apa yang akan kalian lakukan?” Tiara mulai merasa panik. Bibir mereka menyeringai menyeramkan. Walaupun Tiara adalah orang yang kotor, tapi dia tidak pernah dipermalukan seperti ini sekalipun oleh pelanggannya!
“Pelacur sepertimu tidak akan pernah malu menunjukkan tubuhnya, bukan?” tanya pemuda yang berjalan mendekatinya. Pemuda berlesung pipit itu meraih seragam Tiara.
“Hentikan!” Tiara menampar tangan yang mau membuka kancing seragamnya.
“Ini akan sulit, aku akan memeganginya, siapapun tolong buka bajunya!” Pemuda itu meraih kedua tangan Tiara dan menguncinya di belakang tubuhnya agar tidak banyak bergerak.
Gadis yang lebih muda berjalan mendekatinya. Bibirnya menyeringai menatap Tiara.
“Beginilah kalau wanita pelacur sepertimu berani mendekati teman kami,” ujarnya sambil membuka satu persatu kancing baju Tiara.
“Tidak … Jangan! Tolong lepaskan aku!” Kali ini Tiara mulai memohon. Suaranya berdecit pelan di tenggorokannya. Dia benci dipermalukan!
“Memohonlah, kami tetap tidak mau melepaskanmu begitu saja!” ujar gadis muda itu.
“Tidak! Tolong! Jangan …” Tiara benar-benar menangis sekarang. Ini pertama kalinya dia menangis di depan orang lain.
Seragam Tiara sudah terbuka seluruhnya, menyisakan bra berwarna putih dengan tubuh langsing yang terlihat sangat cantik jika tidak mengingat bahwa dia seorang pelacur.
“Tolong, jangan!” mohon Tiara lagi. Dia akan lebih membenci dirinya jika semua ini terjadi. Rasa jijik itu pasti semakin memenuhi isi kepala Tiara.
“Memohonlah terus, kami tidak akan berhenti.” Pemuda yang merekam terkekeh penuh kemenangan.
Rok pendek Tiara mulai dibuka dan menurunkannya. Karena Tiara menggunakan stoking hitam, tapi gadis muda itu berjalan ke arah meja mengambil sebuah gunting.
“Tidak … Tidak!!” Tubuh Tiara benar-benar gemetaran sekarang. Wajahnya sudah memerah karena menahan malu.
“Tidakkah kalian berlebihan?” gadis lain bertanya pada teman-temannya. Orang yang sedari tadi diam kini mulai membuka suara.
“Ohh, Anjas! Memangnya kamu mau lihat Daniel bersama pelacur ini?” tanya pemuda yang merekam.
“Lanjutkan, Sayang,” perintah pemuda itu pada gadis muda itu. Ternyata mereka berpacaran.
“Tidak … Tolong! Hentikan semua ini!” mohon Tiara.
BRAKK
“BRENGSEK! APA YANG KALIAN LAKUKAN?!”
-
~2 Be Con~