Bab 1

“Kau memesan pembunuh bayaran untuk bunuh diri?”

Archelia terkekeh tak percaya dengan orang yang ia hadapi. Dia adalah seorang pria berkaca mata, tampak begitu tenang di depan layar laptop. Pemuda paling aneh yang pernah ditemuinya. Barang kali Archelia tidak akan pernah percaya ada kasus seperti ini jika bukan karena pemuda itu adalah partnernya sendiri.

“Hidup terlalu melelahkan untuk memuaskan semua orang,” gumam pemuda itu setelah mematikan layar laptopnya.

Bangkit dari kursi putarnya, melewati Archelia lalu berdiri di depan rak besar yang penuh dengan novel karyanya. Pemuda itu mengambil sebuah novel, lantas kembali mendekati Archelia.. Tangannya terulur, menyerahkan buku dengan sampul berwarna ungu dengan hiasan cahaya dan pita berjudul, “Villain’s Darkside”.

“Untukmu. Anggap saja sebagai rasa berterimakasihku.”

“Aku tidak suka membaca,” dengkus Archelia tidak menerima uluran buku itu.

Namun, meski mendapat peolakan, pemuda itu tetap memaksanya dengan menggenggamkan novel itu ke tangan Archelia.

“Anggap saja itu permintaan terakhirku,” ucap si pemuda lalu membalikkan badan.

Sekali lagi, Archelia benar-benar dibuat terheran-heran dengan pemuda yang dihadapinya. Jika dilihat dengan mata telanjang, pemuda itu tampak tidak memiliki masalah. Baik-baik saja, malah. Itu terbukti dengan deretan novel yang telah naik cetak, bahkan di beberapa novelnya terlihat tulisan “Best Seller”.

“Kau bisa membunuhku sekarang,” ucap pemuda itu membuat perhatian Archelia pecah.

Memang, jika dilihat lebih dalam, tatapan pemuda itu tampak sangat kosog seolah tak memiliki kehidupan. Lebih tepatnya tidak memiliki harapan hidup di sana. Seolah, di balik tubuh sehatnya terdapat sesuatu yang rapuh dan mungkin telah hancur.

Archelia seharusnya bersikap profesional, tetapi kali ini pikirannya dibuat sangat terganggu. Wanita itu berjalan mendekati pemuda yang duduk di atas kursi menghadap jendela kaca menghadap pemandangan kota. Mungkin dia bisa membujuk pemuda itu untuk mengurungkan niatnya. Mati memang mudah, tetapi siapa yang tahu ada apa di balik kematian itu sendiri.

“Hei, Nak. Bisakah kau pikirkan lagi keputusanmu ini?” Archelia menimbang-nimbang novel di tangannya. “Aku bisa mentransfer kembali uangmu jika kau mengurungkan niat untuk mati. Kau masih muda, kau juga sukses. Hidup terlalu baik untuk kau tinggalkan.”

Ada seulas senyum yang terbit di wajah pemuda itu. “Kau tidak akan mengerti. Orang yang bersusah payah berusaha untuk dirinya sendiri tidak akan mengerti cara hidup orang yang berusaha untuk pengakuan orang lain."

“Kau bisa juga bisa melakukan-“

“Bisakah kau membunuhku sekarang?”

Dor!

Setelah kematian pemuda itu dan novel yang diberikannya pada Archelia, entah mengapa pikiran wanita itu menjadi tidak tenang. Dalam beberapa misi, ia selalu melakukan kesalahan yang nyaris membunuhnya. Selalu ada keresahan yang menerornya, seolah tak ingin membiarannya mendapat ketenangan, meskipun itu dalam tidur. Hingga saat itu datang.

Archelia terbangun di tempat yang gelap dan sunyi. Entah tempat apa itu, tetapi hanya ada kegelapan. Paling tidak, semua gelap sebelum ia menoleh pada seorang wanita jelita yang bersamanya bersama serta cahaya surgawi. Tatapan sayu pemilik Surai legam itu seolah mengantarkan perasaan sesak yang lantas membuat Archelia memegang dadanya yang mendadak nyeri luar biasa. Bukan karena luka, tetapi karena sebuah perasaan yang tak mampu didefinisikan.

Namun, paras menawannya tak berbanding lurus dengan dress kuning gadingnya yang tampak begitu kotor dipenuhi tanah cokelat. Bahkan, terdapat sisa cairan berwarna merah yang telah mengering di sekujur tubuhnya, yang tentu saja terlalu mudah dikenali Archelia. Mata Archelia menyipit ketika melihat leher wanita itu mengeluarkan darah.

"Siapa kau?" Archelia bersikap waspada. Ia hendak melangkah, tetapi mendadak tubuhnya menjadi beku. Ia tak mampu bergerak.

"Kau adalah diriku, dan aku adalah dirimu. Seluruh jiwa dan raga baru ini milikmu. Balaskan dendam atas kematianku."

"Kematianmu?" Kening Archelia mengernyit heran.

Alih-alih menjawab, wanita itu justru lenyap secara perlahan menjadi butiran cahaya hingga membuat tempat itu kembali dipenuhi kegelapan. Namun, tak lama setelah itu, sebuah memori kehidupan muncul secara acak di kepalanya bagai kaset rusak. Teriakan, cacian dan kekerasan.

Mengapa dia mengalami hal semacam ini?

"Ayah?" panggil sang gadis serayaengulurkan tangan meminta tolong. Namun, pria gagah yang dipanggilnya ayah itu malah berpaling dan meninggalkannya diseret paksa memasuki penjara yang gelap mengerikan.

Slide memori meloncat pada gadis yang menangis ketakutan di dalam penjara yang sunyi. Secercah harapan muncul dalam binar tatkala ia mendapati kedatangan sosok pria berpakaian elite nan gagah. Sosok pria pujaan hati yang membuat akal sehat Athea hilang karena kegilaannya pada sang pangeran.

"Yang Mulia, apakah Anda datang kemari untuk menolongku?" Athea malang mengesot, sesekali meringis karena memar di tubuhnya bergesekan dengan lantai. Ia bergerak terseok layaknya anjing kehausan. Hanya bisa mencengkeram besi penjara yang memisahkannya dengan sang pangeran.

"Kau bilang, kau mencintaiku, 'kan?" Suara berat yang dingin tanpa empati.

"Ya! Tentu saja aku sangat mencintai Pangeran."

"Jadi, kau rela berkorban untukku?"

"Aku rela mati untukmu!" sahut Athea cepat.

Hal itu membuat salah satu sudut bibir Sang Pangeran terangkat. Pria itu malah membalikkan badan dan pergi begitu saja.

"Yang Mulia!" Athea panik.

"Besok aku akan melihat bukti cintamu!" Sang Pangeran berkata dengan entengnya sebelum tubuhnya menghilang di balik pintu kayu yang memisahkan tahanannya.

Archelia yang melihat itu lantas berjalan mendekat. Menatap iba pada Athea malang yang hanya bisa menangis tersedu-sedu. Pria yang dicintainya bahkan keluarganya, semua pergi ketika Athea berada di titik terbawah dalam hidupnya.

Nyaris saja Archelia menyentuh Athea, tetapi dunia seolah berputar dan berpindah ke suatu lapangan luas yang dipenuhi tentara. Di tengah lapangan, Athea duduk bersimpuh dengan semangkuk racun.

"Athea Dominic, hari ini dijatuhi hukuman mati karena telah melakukan pemberontakan! Apakah kau mengakuinya?"

Sorot mata tajam Athea jatuh pada Pangeran Pertama.

"Aku ...."

"Aku ... tidak mengakuinya."

Sayang, kesadarannya terlalu terlambat. Kebutaannya pada cinta sepihak membuat Athea terjebak dalam khayalan romansa yang manis, tetapi terasa sangat pahit.

Namun, siapa sangka, justru Pangeran Pertama langsung berjalan ke arahnya seraya mengangkat pedang. Wajahnya memerah dengan rahang mengeras. Tubuh Athea terlalu syok melihat kemarahan sang pria.

"Kau telah membuat keluargaku terbunuh, wanita sialan!"

Dan pedang itu tak ubahnya bagai kilat yang menyambar leher jenjang Athea yang menegang beku.

Crash!

Dan semua berubah menjadi hitam.

***

"Bangsat, siapa yang mengikatku di pohon?!" teriak Archelia ketika ia terbangun di sebuah tempat asing. Tempat yang di sisinya terdapat pepohonan rindang dan hamparan rumput hijau yang luas, di mana di ujung lapangan rumput terdapat bangunan kastil yang sangat megah.

Kedua matanya menyipit, merasa silau terhadap bias cahaya mentari yang begitu menyengat. Sejenak Archelia tertegun melihat pemandangan di sekitarnya. Apalagi saat ia melihat kakinya yang sangat kecil. Ah, bukan hanya kaki, bahkan tubuhnya juga tampak sangat kecil.

"Apa-apaan ini?!"

Archelia berusaha keluar dari tali yang mengikatnya di sebuah pangkal pohon. Namun, tubuh kecilnya yang terlampau kecil seperti anak berusia enam tahun ini membuatnya sangat kesulitan. Tentang apa yang terjadi di sini, bisa ia cari tahu nanti setelah ia lepas dari ikatan.

Di tengah usaha Archelia meloloskan diri, telinganya sedikit terusik tatkala ia mendengar suara patahan ranting kayu dan daun kering. Benar saja, ketika pandangannya terangkat dan menyapu sekeliling, ia mendapati seorang anak laki-laki yang kira-kira berusia tujuh tahunan tengah berjalan terseok-seok dengan luka di sekujur tubuhnya. Pakaian yang dikenakannya khas klan bangsawan, tetapi tampak kotor dan lusuh dipenuhi debu dan bekas darah mengering.

Melihat itu, Archelia segera memanggilnya. "Hei, Nak! Tolong bantu aku melepas ikatan ini! Nanti aku bantu mengobati lukamu!"

Wajah si anak laki-laki mendongak. Tampak dipenuhi berbagai luka memar. Sangat menyedihkan. Dalam benak Archelia terheran-heran, apa yang sebenarnya terjadi?

Anak laki-laki itu mendekat dan tanpa sepatah kata membantu Archelia melepaskan ikatan tali.

"Apakah mereka melakukan ini lagi kepadamu?" tanya si anak laki-laki dengan wajah datar. Napasnya sedikit berat karena kelelahan.

Mendengar ucapan si anak laki-laki, Archelia lantas mengernyit. "Mereka?"

Setelah melepas ikatan tali yang membelit tubuh Athea, anak itu menatap sepasang manik legam milik Athea kecil.

"Usiamu itu empat tahun lebih kecil dariku, Athea."

Setelah berkata demikian, tiba-tiba tubuh anak laki-laki itu tumbang dan jatuh menimpa tubuh mungil Athea. Atyea kecil terkesiap, ia kurang sigap sehingga membuat tubuhnya ikut jatuh dengan posisi tubuh si anak laki-laki menindih tubuhnya.

Awalnya, Archelia ingin memaki. Namun, kedua mata Archelia dibuat terbelalak kemudian, tenggorokannya terasa tercekat ketika matanya jatuh pada sebuah panah yang menancap di punggung si anak. Darah segar merembes begitu deras, menebarkan bau anyir yang menyengat.

"Astaga! Kau terluka!"

Dengan bersusah payah, Archelia menyingkirkan tubuh si anak laki-laki dari atas tubuhnya. Ia bangkit dan berusaha menggendong si anak laki-laki. Namun, ukuran tubuhnya jelas tidak sebanding dengan anak laki-laki yang mengaku empat tahu lebih tua darinya itu. Ya, memang benar, postur tubuhnya bahkan jauh lebih tinggi dari Archelia.

Sejenak, setelah berhasil mengangkat si anak laki-laki di punggungnya. Yah ... meski hanya melingkarkan kedua tangan si anak laki-laki pada lehernya lalu membuat anak itu terangkat, Archelia sudah menganggapnya menggendong daripada menyeret. Ia terdiam sejenak karena tidak tahu harus dibawa ke mana.

Hingga tiba-tiba muncul sebuah ingatan kilat yang membuat mata Archelia langsung tertuju pada bangunan kastil megah di sana.

Ya!

Sekarang, dia adalah Athea.

Nona muda, putri dari Duke Aaron Dominic.

Bab 2

Dengan ingatan yang muncul bertahap di kepalanya, akhirnya Athea kecil berhasil membawa si anak laki-laki ke kamarnya. Ia langsung mencabut anak panah itu dengan sekuat tenaga sebelum akhirnya membiarkan anak laki-laki itu jatuh ke ranjangnya. Sejenak, jiwa dari abad 21-nya berdecak kagum melihat ornamen dan arsitektur bangunan ini. Terlebih ketika melihat perabotan yang didominasi warna perak dan emas.

Sangat mewah.

"Astaga, Archel! Sadarlah!" Athea kecil menampar dirinya sendiri.

Ia langsung bergegas mencari-cari kotak obat di seluruh laci almari. Setelah beberapa saat mencari, ia segera kembali ke ranjang. Ia mendaratkan tubuhnya di sisi ranjang, membiarkan si anak laki-laki dengan posisi terlungkup.

Tanpa pikir panjang, ia langsung menggunting baju si anak laki-laki, membiarkan punggung polos yang tampak dipenuhi darah itu terpampang nyata. Athea kecil buru-buru mengambil air untuk membersihkan luka bekas panah itu. Ia melakukannya dengan cepat sebelum darah si anak laki-laki semakin banyak yang keluar. Lantas, Athea kecil segera menaburkan obat bubuk pada lukanya, lalu membalutnya dengan kain kasa, melingkar sampai ke dada.

Bukan hal sulit, itu adalah sebagian dari pekerjaannya dulu di abad 21. Selesai mengobati luka si anak laki-laki, Athea kecil segera membaringkan anak itu ke ranjang dengan bertelanjang dada. Tidak benar-benar dalam telanjang dada karena sebagian dadanya tertutup lapisan kain kasa yang ia gunakan untuk menahan luka.

Setelah membereskan kotak obat dan membuang pakaian si anak laki-laki ke bak sampah, Athea kecil segera membersihkan diri karena tubuhnya sangat kotor. Namun, ia lupa membawa handuk. Walhasil, ia pun berjalan dengan tubuh polos keluar dari kamar mandi.

Lagipula, anak laki-laki itu masih tak sadarkan diri, pikirnya.

Athea dengan tubuh polos berdiri dengan sangat percaya diri di depan lemari pakaiannya yang sangat banyak. Tanpa berlama-lama, ia segera memilih satu setelan pakaian dress yang paling sederhana. Tidak ada celana di dalam sini, kecuali dalaman. Jadi, dengan sangat terpaksa ia harus menggunakan pakaian yang menurutnya sangat aneh.

Gadis kecil itu mulai memakai pakaiannya. Awalnya, tidak ada masalah, sampai tiba di mana Athea hendak menaikkan resleting di bagian punggungnya. Tangan mungilnya kesusahan menjangkau resleting yang tadi ia turunkan terlalu ke bawah sehingga sulit terjangkau.

Di saat ia kesulitan itu, tiba-tiba ia merasakan sebuah pergerakan dan sentuhan samar menerpa kulit punggungnya. Athea diam membeku ketika tatapannya refleks menghadap kaca di depannya. Bukan kaget dengan penampilan barunya yang tampak sangat feminim dan tubuh gadis kecil yang sangat cantik ini. Namun, karena kehadiran seorang anak laki-laki yang tampak membantunya menaikkan resleting dari belakang. Anak laki-laki yang lebih tinggi nyaris tiga puluh senti darinya.

Tatapan penuh keterkejutan Athea dan si anak laki-laki jatuh pada bayangan mereka. Kedua mata mereka berserobok untuk beberapa saat sebelum akhirnya kedua mata Athea terpejam erat dan gadis itu menarik napas panjang sebelum akhirnya mengeluarkan suara melengking yang memekakkan telinga.

"Aaa ...!!!"

Teriakannya itu membuat si anak laki-laki terkejut, lantas merasa waspada dan segera membungkam mulut Athea. Wajahnya tampak panik, seolah ada sesuatu yang sangat ia takuti di sini.

Athea yang mulutnya dibekap oleh telapak tangan si anak laki-laki lantas terpaksa diam. Ia berusaha menatap wajah anak itu dari ujung matanya. Ya, meski anak itu bertubuh sangat tinggi, sebenarnya menghindar dari cekalannya bukan hal sulit. Hanya saja, Athea kecil memilih diam karena mendengar suara langkah kaki mendekat dari arah luar pintu.

Si anak laki-laki berdecak, tatapannya tampak kesal ke arah pintu. Ia kembali menatap Athea.

"Bagus, kau membuat para penjaga datang kemari." Anak itu melepaskan bekapannya dari mulut Athea.

Athea menatap ke arah pintu dengan heran. "Penjaga?"

"Hah, bagaimana pun juga. Aku berterimakasih kau telah menyelamatkanku."

Athea menatap si anak laki-laki. Ia mengendikkan bahu acuh. "Tidak masalah, anak kecil. Ini impas. Kau membukakan tali yang mengikatku dan aku hanya membalas bantuanmu."

Kedua mata si anak laki-laki menyipit. "Aku empat tahun lebih tua darimu, anak bayi." Dia menegaskan dua kata terakhir untuk menyindir Athea.

Lantas Athea terkekeh. Dia wanita dewasa yang tidak perlu berdebat dengan anak kecil yang usianya entah sudah memasuki sepuluh tahun atau belum itu. Dia sudah tidak kekanakan.

"Baiklah, intinya kita impas. Kejadian barusan, harus kita lupakan, oke?"

"Baiklah."

Percakapan mereka terinterupsi oleh bunyi bunyi gagang pintu yang berusaha dibuka paksa dari luar. Terdengar pula gedoran setelahnya.

"Nona Athea, apakah Anda di dalam?"

Athea hendak berjalan mendekati pintu. Namun, langkahnya terhenti tatkala sebuah cekalan tangan menahan langkahnya. Anak laki-laki itu sengaja menghempas tubuh Athea agar mendekat padanya.

"Aku akan menjadikanmu ratuku, Nona Athea. Aku janji," ucap si anak laki-laki yang tiba-tiba mengecup bibir mungil Athea.

Kecupan itu hanya sekilas. Namun, tubuh Athea mematung beku sampai beberapa detik setelahnya. Wajah Athea bahkan sudah berubah memerah layaknya tomat bersamaan dengan kedua pipinya yang seperti terbakar.

Hei!

Seumur hidup sebagai Athea kecil atau pun Archel, ini adalah kali pertama baginya mendapatkan ciuman di bibir!

Anak laki-laki itu malah langsung beranjak setelah mencium Athea dan membuat wanita dewasa yang terjebak dalam tubuh anak kecil itu diam membatu.

"Aku akan mencuci spreimu dan kau alihkan perhatian prajurit itu, mengerti?"

Si anak laki-laki membawa sprei Athea yang terkena noda darahnya ke kamar mandi. Langkahnya begitu santai seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Bahkan, meski Athea belum benar-benar menguasai kesadarannya, anak laki-laki itu masih sempatnya mengecup pipi Athea ketika anak laki-laki itu menghentikan langkahnya sejenak.

Ia harus menundukkan wajah untuk menatap Athea yang bertubuh sangat mungil. Senyum culas juga muncul di wajahnya dan hei! Athea baru sadar jika anak laki-laki itu masih belum mengenakan baju atasan!

Namun, aneh juga jika anak itu hanya berusia hanya empat tahun di atasnya, tapi sudah memiliki tulang dan otot yang kokoh di tubuhnya. Hal itu membuat kening Athea mengernyit menamatkan bentuk tubuh si anak laki-laki yang hampir seperti anak remaja.

Si anak laki-laki yang mengikuti arah pandang sepasang mata lucu itu kembali tersenyum culas. Ia tahu apa yang dipikirkan otak kecil Athea meski wajahnya tampak polos.

"Aku jamin, tubuh ini akan jauh lebih menggoda nanti. Dan aku juga akan menunggu si papan tripleks ini, apakah juga mampu membuatku tergoda." Anak laki-laki itu menatap dada Athea dengan ejekan.

Setelah berceletuk demikian, si anak laki-laki pergi ke kamar mandi dan tak lupa mengunci pintunya. Athea baru tersadar, dan ia refleks menutup dadanya dengan telapak tangan.

"Anak sialan!"

Atensi Athea kembali terpusat pada pintu kamarnya yang masih digedor. Ia mendengkus sejenak seraya meruntuki dirinya sendiri.

"Jaga pikiranmu, Archel. Kau sudah nyaris tiga puluh tahun dan anak itu hanya bocah ingusan yang bahkan belum berusia sepuluh tahun. Kau bukan pedofil. Kau hanya pembunuh bayaran." Athea menggumamkan kalimat itu terus menerus.

Sampai ia membuka pintu dan mendapati beberapa prajurit di sana. Dengan tenang Athea berkata, "Kalian tahu, aku baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Tadi itu aku berteriak karena terkejut."

"Nona Athea, Anda telah melanggar hukuman dan Anda harus diberi pelajaran."

Loh?

Bab 3

"Loh? Hukuman? Kenapa aku harus dihukum?" Athea jelas dibuat kebingungan.

Namun, alih-alih menjawab, justru prajurit itu menarik tangan Athea secara paksa. Awalnya, Athea kecil hendak memberontak. Namun, rasa penasaran membuatnya urung dan menurut saja saat prajurit itu menggiringnya mengelilingi rumah.

Apa yang membuatnya dihukum?

Ketika dalam perjalanan itu, tepat bersamaan dengan pintu ruang utama yang dibuka. Di sana menampakkan seorang pria dan wanita dewasa dengan pakaian serba hitam khas duka cita atas kematian. Di sebelah si wanita, terdapat seorang anak laki-laki yang tampak beberapa tahun lebih tua dari Athea dan anak perempuan yang tampak mungkin seusia dengannya yang sama memakai pakaian hitam berkabung.

Ketika melihat wajah si pria dewasa, seketika ingatannya jatuh pada sosok yang dipanggil Athea dewasa sebagai ayah. Pria yang meninggalkan Athea ketika wanita itu diseret paksa ke penjara. Mendadak hati Athea bergemuruh. Rasa marah membuat dadanya mendadak sesak.

Namun, Athea kecil sadar. Ia datang untuk mengubah segalanya. Meski ingatannya masih samar, tapi bisa jadi hubungan ayah anak di antara mereka memang sedikit merenggang. Jadi, mungkin ini 'lah saatnya Athea baru mencari perhatian sang ayah.

"Ayah!" panggil Athea yang seketika membuat seluruh orang terkejut. Atensi seluruh orang yang ada di ruangan itu tertuju pada Athea. Tak terkecuali Duke Aaron Dominic, sang ayah.

Pria bertubuh kekar dengan tinggi menjulang itu tampak tak mampu menyembunyikan wajah terkejutnya. Rahang kokoh dan alis tebal mencuram, wajah dingin nan sombong itu nyatanya mampu sedikit mencair ketika tampak wajahnya sedikit mengendur.

"Kau bilang apa tadi?" tanya Duke Aaron Dominic seolah tak percaya dengan apa yang dikatakan putrinya.

Athea terdiam sejenak karena merasa aneh diperhatikan sedemikian. Namun, ia tak mau hidup tanpa beraksi. Jadi, gadis kecil itu langsung melepaskan pegangan dua prajurit di sisinya lalu berlari ke arah Duke Aaron Dominic.

Ketika ia berlari, wajahnya harus mendongak tinggi agar bisa menatap wajah sang ayah yang nyaris tidak terlihat ketika jarak semakin menipis karena tubuhnya yang menjulang. Athea kecil berlari lalu memeluk kedua kaki Duke Aaron Dominic. Meski jijik, tetapi Athea menampakkan wajah memelas seolah minta dikasihani.

"Ayah, mereka mau menghukumku. Padahal aku tidak tahu salah apa." Athea mengadu pada Duke Aaron. Gadis mungil itu lantas menenggelamkan wajahnya ke dalam kaki Duke Aaron. Bahkan, tingginya saja hanya mencapai pinggang sang ayah.

Namun, bukannya jawaban dari Duke Aaron yang ia dapatkan. Justru si anak laki-laki 'lah yang menjawab dengan ketus.

"Justru hukuman itu berasal dari Tuan Dominic karena kau nakal!" sahut si anak laki-laki yang tak lain adalah saudara tiri Athea, Aalaric Dominic.

Ucapan itu membuat perbuatan Athea terinterupsi. Ia melonggarkan pelukannya dan menatap kesal pada si anak laki-laki. Jelas sekali bahwa anak laki-laki itu sangat membencinya. Huh! Dasar saudara tiri, sialan!

"Aku salah apa?" tanya Athea masih berlagak polos.

"Kau?!" Si anak laki-laki malah tampak terperangah. "Bagaimana bisa kau melupakan kesalahanmu secepat itu?! Kesalahanmu itu sangat keterlaluan!"

Merasa bingung, Athea mendongak, menatap sang Duke. Pria itu menunduk, lalu berkata dengan tegas, "Nona Athea telah melakukan hukumannya."

Setelah berkata demikian, jelas lah wajah tak terima dari si makhluk-makhluk yang menyandang status "tiri" di samping hubungan kekeluargaan mereka. Athea tersenyum menang, menyempatkan diri untuk menjulurkan lidah ke Aalaric. Anak laki-laki itu jelas tersinggung dan balas menatap tajam Athea penuh kebencian.

Tak hanya Aalaric, si ibu tiri dan adik tiri Athea juga tampak sangat kesal pada Athea. Namun, kali ini Athea menang telak.

Satu orang yang paling penting dalam hidupnya, tetapi malah belum menampakkan diri. Athea menoleh ke sana kemari mencari sosok itu. Namun, ia tak mendapati wanita yang telah melahirkannya. Ia pun kebingungan, karena yang ia ketahui, ibu Athea masih hidup. Paling tidak sampai ia berusia tujuh tahun sebelum ibunya dibunuh dengan sadis karena ia adalah ilmuan paling berbakat yang dimiliki klan api.

Bagaimana ia tahu?

Semua ini ia ketahui karena ia baru tersadar. Nama tokoh-tokoh yang ia temui ini adalah nama tokoh antagonis dalam novel yang pernah ia baca di rumah seorang pejabat yang ia bunuh. Namun, ia malah salah masuk kamar sehingga membuatnya harus bersembunyi di kamar anaknya. Di mana anaknya ini adalah seorang penulis. Di sana, ia tak sengaja melihat laptop si pemilik kamar menyala dan tak sengaja membaca daftar nama tokoh antagonisnya.

Awalnya, Athea merasa sangat terkejut. Tapi, ya biarkan sajalah! Untung-untungan dia masih hidup. Mau jadi orang susah, sampai tokoh fiksi pun tak masalah. Apalagi, jika dia menjadi Athea, dia adalah salah satu anak bangsawan. Kurang enak apa, coba? Bukankah ini sebuah keberuntungan?

"Ayah, di mana Ibu?"

Pertanyaan itu bukannya dijawab, malah membuat Duke Aaron Dominic melepaskan tautan tangan Athea. Pria itu berjalan pergi tanpa sepatah kata. Hal itu membuat Athea kebingungan.

"Hei, Athea! Ibumu itu sudah mati. Jadi kau sudah tidak punya ibu!" ejek si bocah ingusan yang membuat Athea menyipitkan mata tajam.

"Tidak mungkin! Ibuku masih hidup. Ibuku ..."

Deg!

Kedua mata Athea terbelalak, lalu menatap semua orang dengan panik.

"Berapa usiaku? Berapa usiaku?!"

Seketika Athea panik, semua pelayan mulai bergumam membicarakannya. Sang ibu tiri memilih pergi begitu saja diikuti anak bungsunya.

"Kakak! Ayo pergi! Biarkan saja si gila itu sendirian!" teriak Alea yang berhenti sejenak mengajak kakaknya.

Aalaric menatap Athea sejenak, dingin dan acuh. "Kau pikir kami baru pulang dari mana?"

Seketika itu hati Athea semakin hancur. Meski itu bukan ibu kandung yang ia kenal di abad 21. Namun, entah mengapa ia merasa bahwa ada sebuah ikatan yang sangat kuat dalam dirinya seolah terputus dan bercerai berai begitu saja. Lubang kehampaan seolah membentang mengorek luka yang sangat menyakitkan.

"Tidak mungkin! Tidak mungkin!" teriak Athea kecil mulai menjambak rambutnya sendiri. Ia langsung terduduk dan menangis sangat keras.

"Astaga, dia mulai gila lagi," cibir Alea seraya menggandeng kakaknya untuk segera menjauh dari sana.

Tidak.

Sikap ini seolah di luar kendali tubuh Archel. Ia menangis dengan keras, bahkan sangat keras ini tanpa bisa ia tahan. Padahal, di kehidupan sebelumnya, Archel tidak pernah menangis sama sekali. Bahkan, di hari kematian seluruh anggota keluarganya hingga ia harus berakhir di camp pembunuh, tak sekali pun ia pernah merasakan kesedihan. Namun, kali ini rasanya sangat berbeda. Kesedihan yang ia rasakan begitu nyata dan sangat menyiksa.

Mengapa bisa sesakit ini?

Beberapa pelayan mendekat. Alih-alih menenangkan, mereka justru mengancam Athea.

"Nona, diamlah! Atau kami kunci Anda di kamar. Jika Anda terus seperti ini, Tuan Aaron akan semakin membenci Anda."

Hei! Apakah seperti itu cara berbicara dengan anak kecil?!

Bukannya berhenti, tangisan Athea malah semakin keras. Sekali lagi, tubuh Athea ini seolah tidak sepenuhnya dikuasai Archel. Archel tak ingin menangis. Namun, semakin ia tahan, justru tangisannya semakin meledak.

Dan hal di luar dugaan terjadi ketika dua pelayan menggendong Athea dengan masing-masing memegang tangan dan kaki Athea. Jelas, Athea berusaha mengelak dan melepaskan diri, tetapi sekali lagi, seorang pelayan datang dan menyumpali mulut Athea kecil dengan kain.

Di titik ini 'lah satu tetes air mata Archel jatuh.

Bagaimana bisa seorang Athea kecil yang bahkan baru berusia tujuh tahun diperlakukan sedemikian?

Ia sangat marah!

Akan kuingat wajah kalian!

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED