Bab 1

"Kau telah melaksanakan perintahku?" kata Wira kepada utusannya.

"Ya, lihat saja hasilnya. Jangan lupa untuk mentransfer," sergah orang itu lewat panggilan telepon

Wira tersenyum puas, apa yang ia rencanakan berhasil sempurna.

Paman Wira adalah seorang manajer perusahaan yang dipimpin oleh Arkha putra Jason, adik dari William Jason yang ingin mengendalikan perusahaan grup Jason.

Paman Wira saat ini berada di kantor tepatnya, di balkon menyesap rokok yang terlihat sangat mahal sambil menunggu hasil rencananya.

"Kita lihat saja William, siapa yang akan menang," imbuhnya sambil tersenyum menyeringai.

Di tempat lain, Arkha bersama dengan sopir pribadinya, sedang dalam perjalanan menuju kediaman. Tiba-tiba sopirnya merasakan sesuatu yang aneh dengan mobil yang mereka kendarai, dia mencoba untuk menginjak pedal remnya, tetapi sayangnya tidak berhasil, yang berarti remnya rusak dan tidak berfungsi.

"Ada apa, Pak?" tanya Arkha melihat kecemasan di wajahi supir pribadinya.

"Tuan, maaf.sepertinya remnya tidak berfungsi."

"Apa! Tidak berfungsi? Sial, bagaimana ini bisa terjadi?" Arkha mengutuk, dia melonggarkan dasinya mencoba untuk tenang.

Tak berapa lama, ada seseorang yang lewat di depan mobil Arkha, yang membuat mereka kaget hingga pengemudi kaget dan langsung membanting setirnya hingga kecelakaan pun tak dapat terhindarkan.

"Aaaa," teriak Arkha dan sopirnya

Mobil itu terjun bebas tepat di jurang yang dalam, di mana ada sungai tepat dibawahnya.

Byur

*********

Sedangkan di sebuah desa Lily, nampak seorang gadis cantik dan pintar. Dia juga primadona desa setempat. gadis cantik dengan hewan peliharaannya itu bersiap untuk pergi ke sungai untuk memandikan peliharaannya itu. Nama gadis itu adalah Nirina Amalia atau biasa dipanggil Nina.

"Ayo semua, kita mandi dulu biar segar, lalu pulang," seru gadis itu pada hewan peliharaannya yaitu tiga ekor kambing. sesampainya disana dia terbelalak melihat ada sebuah mobil yang rusak di sungai tersebut.

"Ya Tuhan, ada orang kecelakaan?!" dia berlari ke arah mobil itu dan langsung mengecek keadaan Arkha dan sopirnya

"Ya ampun, bagaimana bisa?" ucap Nina dan mencoba mengecek denyut nadi Arkha dan sopirnya.

"Dia masih bernafas, saya harus minta bantuan, tunggu sebentar Pak."

Arkha masih setengah sadar dengan tubuhnya berlumuran darah, dia sempat melihat wajah seorang gadis membantunya hingga akhirnya ia pingsan.

Nina berlari meminta pertolongan, terlihat di dekat perempatan banyak orang sedang mengobrol.

"Tolong-tolong," teriak Nina terengah-engah ke arah semua orang.

"Hei Nina, ada apa? Kenapa kau seperti baru saja melihat hantu."

"Ini lebih dari hantu," ucapnya dengan nafas terengah-engah.

"Kamu atur napas dulu Nina."

Hah .. huh

Setelah menarik napas, dia akhirnya mulai berbicara dan menceritakan kejadian yang dialami dan dilihatnya di sungai.

"Kenapa kamu tidak bilang dari tadi," ucap mereka langsung berlalu meninggalkan Nina, semua warga segera menuju sungai.

"Woy, kok aku ditinggal. Ya ampun," dengus Nina kesal kemudian langsung mengikuti mereka.

Sesampai di sungai, warga bergotong royong menyelamatkan sopir dan Arkha. Namun sang sopir telah menghembuskan napas terakhirnya , sedangkan Arkha masih bernafas, mereka langsung membawanya ke klinik setempat.

Di klinik, Ayah Firman datang dengan wajah cemasnya dan menghampiri putri cantiknya, dia diberitahu oleh seorang warga bahwa Nina membantu seseorang di sungai.

"Nina, kamu baik-baik nak," tanya Ayah Firman dengan lembut

"Nina, tidak apa-apa Ayah."

"Bagaimana dengan orang yang kamu bantu?"

"Masih dalam bantuan dokter, Ayah, tenanglah!"

"Baiklah kalau begitu."

Dua jam kemudian dokter keluar dari ruangan bersama perawat

"Maaf, siapa yang bertanggung jawab atas tuan itu."

Semua orang saling memandang dan akhirnya Nina menjawab

"Saya akan bertanggung jawab dokter."

"Bagaimana keadaannya dokter?"

"Dia mengalami amnesia, luka di kepalanya, telah membuatnya kehilangan ingatan."

"Kalau begitu apakah bisa disembuhkan, dokter?"

"Ya, ingatannya akan kembali tetapi itu akan memakan waktu yang cukup lama," ucap dokter itu lalu memberikan resep obatnya "Ya, sudah saya permisi, jangan lupa ini obatnya."

"Terima kasih, dokter," ucap Nina mengangguk

"Lalu siapa yang akan menampungnya, Nin," salah satu warga bertanya

"Saya akan menampungnya, Pak."

"Kamu lagi, Nin. Tidak apa-apa?"

"Ya, aku ikhlas. Bagaimana dengan Ayah? Hanya sampai dia pulih dari ingatannya."

"Iya, Ayah setuju."

Dua hari kemudian, Arkha terbangun. perawat yang menangani Arkha pun menghubungi Nina.

"Halo selamat siang Nona, teman anda sudah sadarkan diri. bisakah Anda menemuinya?"

"Baiklah Sus, saya akan segera ke sana."

Nina buru-buru mandi setelah selesai memasak. Tak lupa membawa makanan untuk pria itu. Setelah siap ia langsung berpamitan pada Ayahnya.

"Ayah, Nina pergi dulu."

"Nin, kamu mau kemana?"

"Ke klinik Ayah, orang itu sudah bangun."

"Syukurlah, hati-hati."

"Baik Ayah."

Di sisi lain, di kota Jasmine, ada seorang pria paruh baya yang tertawa terbahak-bahak karena rencananya berhasil.

"Papa, ada apa? kenapa tertawa?" tanya Dika mengerinyitkan dahi

"Ini hanya tentang bisnis Papa. Itu saja," ucap Wira. "Oh ya lebih baik kau tak usah ikut campur urusan Papa, kau urus pekerjaanmu sendiri."

Dika merasa aneh, dia akan mencari tahu semuanya. Gerak gerik ayahnya sangat mencurigakan. Dika segera pergi ke kediaman Arkha tetapi pelayan itu berkata jika tuannya tidak pulang dari acara perusahaan.

"Aneh sekali, apa yang terjadi di sini? di mana paman William dan kak Arkha?" batin Dika menerka

...

Di desa Lily, seorang gadis cantik mulai membuka pintu ruangan Arkha. Ia celingukan mencari sosok penghuni itu dan tak lama pria itu muncul dari kamar mandi

"Permisi tuan," sapa Nina tersenyum kepada Arkha

"Kamu siapa?" tanya Arkha sambil memegang kepalanya yang terasa berdenyut dan masih terbalut perban. Dan ia pun pelan-pelan duduk di ranjangnya

"Saya Nina, kak, yang membantu dalam kecelakaan di sungai."

"Kenapa aku tidak bisa mengingat semuanya?"

"Dokter bilang kamu amnesia tapi kamu masih bisa sembuh," ucap Nina sambil meletakkan makanan di atas meja dekat Arkha

"Sungguh, terima kasih telah membantuku," ujarnya

"Sama-sama kak, oh ya maaf sebelumnya. Gimana kalau kamu aku panggil kak Arya ? karena aku nggak tahu namamu," ucap Nina lirih

"Oke, nama yang bagus," Arkha atau Arya hanya manggut-manggut

"Oh ya ini, kakak makan ya," ucap Nina menyodorkan makanan yang dibuatnya untuk Arya

Arya langsung menyantapnya dengan perlahan.

"Gadis ini benar-benar sangat baik," pikir Arya tersenyum

Sedang di tempat lain Wira tengah mengadakan pesta bersama teman-temannya. Merayakan keberhasilannya karena telah berhasil menyingkirkan keluarga Jason

"Mari kita semua menikmati. Saya akan segera memimpin perusahaan grup Jason," ucap Wira pada semua rekannya dengan senyum merekah

Semua orang bersulang dan melanjutkan acaranya hiingga pagi.

Keesokan harinya, Arya dan Nina sudah diperbolehkan pulang dari klinik. Di tengah perjalanan, mereka bertemu dengan Roni, teman Nina.

"Nin, kamu dari mana? dan dengan siapa? sepertinya dia baru di sini."

"Oh, ini kak Arya. Nanti aku ceritain, soalnya ceritanya panjang kayak kereta. Kita mau pulang, bye Roni."

"I-iya Nina."

"Siapa pria itu? seperti pernah melihatnya," pikir Roni mencoba mengingat

Bab 2

Nina membawa Arya kerumah kosong di sebelah rumahnya, rumah itu juga milik Ayah Nina, hanya saja tidak lagi ditempati.

Nina membuka pintu, seketika ia langsung mengerutkan keningnya, melihat rumah yang sudah lama tidak digunakan itu tampak bersih.

"Ada apa, Nina?" tanya Arya

"Eh, tidak apa-apa, masuklah kak. Maaf, rumahnya kecil. Ini juga rumah kami, hanya saja sudah lama tidak ditempati. Tapi sudah dibersihkan."

"Tidak apa-apa Nin, terima kasih sudah bersedia menampungku."

Nina mengangguk dan meletakkan ponsel di ruangan yang akan digunakan Arya.

"Kak, aku tinggal dulu yah, aku ada urusan. Jika terjadi apa-apa, telepon aku. Ini nomorku dan gunakan ponsel ini," kata Nina sambil menyerahkan ponsel yang hanya bisa melakukan panggilan dan mengirim pesan.

"Terima kasih, Nin," Arya tersenyum tampan membuat Nina shock, ia baru lihat wajah tampan Arya tersenyum manis. Dia sungguh gugup ditatap oleh Arya. Nina pun menetralkan perasaan dan pergi meninggalkan Arya

Setelah Nina pergi, Arya duduk melihat sekeliling. Dia mencoba mengingat tapi kepalanya terasa sangat pusing.

"Suatu hari aku akan membalas kebaikanmu," pikirnya

Di tempat lain, pria dan wanita paruh baya bergegas kembali untuk melihat keberhasilan menyingkirkan pewaris Jason group.

"Ayo bersulang lagi. untuk kesuksesan kita!" Seruan Wira

"Terima kasih sayang, kamu selalu mendukung rencana jahatku," bisik Wira kepada istrinya

Dika, putra Wira mendengar semua yang Ayahnya katakan. Dika mengepalkan tangan mengingat kejahatan Papanya.

"Pasti hilangnya Arkha berhubungan dengan Ayah, aku sangat yakin," batin Dika.

"Aku harus mencari paman William dan kak Arkha. Di mana dua orang penting di perusahaan itu sekarang?" batinnya mulai tak tenang

Dika meluncur ke tempat asisten Virgo untuk merencanakan sesuatu. Tak lama, dia sudah berada di depan pintu apartemen Virgo.

Tingtong

Tingtong

"Dika, kenapa kamu di sini?" tanya Virgo sambil celingukan melihat situasi

"Tanya nanti, bolehkah aku masuk, kak?"

"Eh iya masuk. Mau minum apa?"

"Apa saja."

"Tunggu."

Virgo berjalan menuju dapur untuk mengambilkan minuman di dapurnya untuk Dika.

"Minumlah! Ada apa Dika?"

"Begini Kak, kamu tahu dimana Paman William dan Kak Arkha?"

"Bukannya Ayahmu mengatakan, bahwa mereka Sedang keluar negeri, dan tidak diketahui kapan akan kembalinya?"

"Apa! kapan ayahku mengatakannya? Sial. Aku pikir pasti ada yang salah, Kak, dengarkan rekaman ini," ucap Dika meletakkan sebuah rekaman yang sengaja Dika ingin ungkap kesemua orang.

Mendengar ucapan Dika, dan rekaman itu, Virgo mengepalkan tangannya. Ia merasa sangat marah.

"Kita harus menemukan Arkha, Dika."

"Tapi di mana Kak? aku sudah melacak ponsel yang dia pakai dan tidak juga menemukannya."

"Nanti kakak bantu. Tenang saja, ayo ikuti permainan Ayahmu, kamu mengerti kan."

Dika mengangguk mengerti dan melanjutkan merencanakan sesuatu dengan Virgo.

Di sisi lain, ada seorang pria paruh baya yang meringis kesakitan karena penjaga lupa untuk memberinya makan.

"Di mana mereka semua? perutku terasa kram. Ya Tuhan, kapan aku akan kembali ke rumah, Arkha maafkan Ayah, nak."

Di tempat yang berbeda, seorang wanita paruh baya sedang makan di sebuah ruangan sempit yang dijaga oleh beberapa orang berbadan tegap. Wajahnya tidak bisa dipungkiri jika ia merindukan keluarganya, sesekali ia menyeka air matanya.

"Mama merindukan, Papa dan Arkha," batinnya tersiksa

Di tempat lain, kini Arya memulai hidup barunya, dia siap mencari pekerjaan dengan Nina. ia sengaja bangun pagi agar tidak ketinggalan. Ia sudah berada didepan pintu rumah Nina.

Tok

Tok

"Eh nak Arya. Ayo masuk."

"Pagi pak, Nina ada," sapa pria tampan berkulit putih pda pak Firman

"Pagi, nak. Ada."

Dari belakang, Nina tiba-tiba muncul mengenakan daster untuk menyambut Arya.

"Pagi Kak, pagi sekali," sapa Nina

"I-iya Nina, aku ingin mencari pekerjaan denganmu," Kata Arya gugup karena melihat penampilan Nina

Ayah Nina ikut terkejut dengan kemunculan Nina berpenampilan aneh, Ayahnya memberikan kode namun putrinya tidak mengerti.

"Nina, kamu harus cepat mandi. Lihat pakaianmu yang tidak sopan," kata Ayahnya tertawa geli

Nina mengerutkan alisnya dan dia melingkarkan lengannya di bajunya, dia menampar dahinya dan bergegas ke kamar.

"Maafkan gadis kecil Bapak, ya nak Arya."

"Ya Pak, tidak apa-apa," kata Arya sambil menggaruk-garuk kepala agar tidak gatal.

Beberapa menit kemudian Nina, telah siap untuk pergi bekerja sebagai pemetik teh.

"Ayo, kita sarapan dulu," ajak Nina

"Apakah itu tidak mengganggumu, Nin."

"Tidak, ayolah," menunjukkan senyum termanisnya

Mereka bertiga akhirnya sarapan bersama, setelah selesai, mereka berdua berangkat menuju tempat kerja. Dalam perjalanan, mereka kembali bertemu teman Nina.

"Hai Nin," Sapa salam dari Mita dan Ana sahabat kecilnya.

"Hai Mita, Ana."

"Siapa dia Nin?" Tunjuk Mita penasaran

"Oh, perkenalkan ini kak Arya, nanti aku jelaskan."

"Oke, kamu berutang penjelasan padaku. oh iya kak, saya Mita," ujar Mita sambil mengulurkan tangannya

"Saya Arya."

"Dan aku Ana."

"Arya."

"Ayo cepetan, nanti kita telat, oh ya, ada bos Fera atau tidak?" ucap Nina clingukan mencari keberadaan bossnya. " Kak Arya mau ikut juga."

"Hah, tidak salah Nin," Mita melongo karena ucapan sahabatnya

"Ya tentu, aku ingin datang bekerja," ucap Arya menimpalinya

Mita dan Ana melihat sosok dari atas sampai bawah, Arya terlihat seperti orang kaya apalagi ia sangat tampan, entah kenapa pikirannya seperti itu.

Akhirnya mereka sampai di perkebunan. Nina meminta Arya untuk bertemu dengan boss Fera dan meminta izin kerja.

Kemudian tanpa menunggu lama, Nina mendatangi kediaman Bossnya Fera.

"Permisi," teriak Nina agar si boss segera keluar dan benar saja boss nya masih memakai kutek kuku berlari menghampiri Nina

"Eh Nin, kenapa kamu berteriak."

"Jika tidak berteriak, gimana kamu bisa mendengarku?" Ucap Nina terkekeh melihat penampilan

Fera kaget saat menyadari melihat pria tampan di hadapannya, benar-benar perfect.

"Ehem." Deheman Nina membuyarkan lamunan Fera

"Hemm, ada apa Nin kau mencariku. Kau tahu gajian masih lama," ujar Fera sambil melanjutkan mengecat kukunya

“Iya mbak, maaf mengganggu. Ini teman saya, mau kerja disini.”

Fera melihat penampilan Arya dari atas ke bawah, Arya merasa tidak nyaman dengan ondel-ondel wanita di depannya.

"Um, oke. Tapi jadilah sopirku."

"Apa! ke-kenapa jadi sopir," Nina gelagapan

"Tapi maaf, saya ingin bekerja pemetik teh bukan sopir, nona boss."

"Dia tak nyaman jadi sopir, boss."

"Ya sudah baiklah, pergi sana."

"Buat mood ku tak enak," pikir Fera, dan berlalu meninggalkan mereka

Arya dan Nina memasuki perkebunan, Nina mengajari Arya semampunya. Arya dan Nina terlihat sesekali bercanda dan tertawa terbahak-bahak. Saat mereka sedang istirahat sejenak, seorang pria tampan yang juga bekerja disana mendekat.

"Hei Nin. ini untukmu," kata Roni memberikan nasi bungkus

"Maaf Roni, aku sudah membawanya sendiri."

Tiba-tiba sekelompok gadis berdatangan menghampiri Arya.

"Hei, ini untukmu," memberikan minuman

"Ini juga kak," memberikan bunga

Nina dan kedua temannya terutama Roni ternganga melihat tingkah gadis-gadis itu. Hati Nina kesal

"Apa-apaan kalian semua gadis. Kalian menggodanya."

"Idih, situ bukan pacarnya kenapa sewot."

"Emang aku bukan apanya, Papi dia temanku."

"Kata siapa?" tiba-tiba Seseorang menimpali.

Bab 3

"Dasar penjilat," batin Virgo

Virgo mengikuti Wira ke kamarnya.

"Vir, kamu santai saja di ruangan itu. Jangan ganggu aku dulu."

"Ya pak," kata Virgo membungkuk.

Ketika Virgo akan kembali ke kamar, dia bertemu Dika, mereka hanya saling menatap dan Dika pergi ke kamar ayahnya.

"Papa."

"Ada apa Dika?"

"Apakah Papa yakin bisa mengatur semua ini?"

"Kamu meragukan papamu ya, sudah sana kembali ke tempatmu."

Dika menghela napas panjang dari kamar Ayahnya.

Di ruangan yang berbeda, tepatnya di mana Virgo berada, dia menghubungi sekretarisnya untuk segera kembali ke kantor.

"Halo kak, cepat kembali ke sini."

"Ada apa, kau merindukanku ya," Kata-kata Mario membuatku bergidik."

"Tch, aku benar-benar tidak punya banyak pekerjaan. Ada masalah perusahaan di sini. Kamu harus selesaikan dengan cepat. Kamu juga perlu tahu bahwa bos favoritmu telah menghilang."

"Apa. apakah kamu sudah melacaknya."

"Memang, tapi itu tidak meninggalkan bekas. Kejahatan yang sangat rapi. Aku mencurigai seseorang. Itu sebabnya kamu sebaiknya segera kembali."

"Oke, aku akan mengatur kembali ke Singapura."

Virgo menutup telepon, dia keluar mencari keberadaan Arkha.

Di desa Lily

Hari sudah sore, Arkha dan Nina bergegas pulang, namun saat hendak kembali ada seseorang yang mendekat.

"Nina,udah mau pulang?" sapa Roni.

"Iya Roni, Ayo, kak Arya!"

"Ayo Ron," ajak Arya ke Roni tetapi ia malah mendapat tatapan tajam dari Roni

"Sialan, pria itu telah berani mencuri kekasihku. Lihat saja nanti. Aku akan memberimu pelajaran," pikir Roni kesal

"Hei Ron," kata Rara, gadis cantik yang menyukai Roni sejak SMP tapi Roni lebih terpesona pada Nina.

"Apa?"

"Jawabannya biasa aja dong. Ada apa?"

"Tidak apa-apa, kamu membawa sepeda motor."

"Bawa. Kenapa?"

"Pinjam bentar."

"Baiklah, tapi kembali lagi".

"Nggak perlu takut. Di mana kuncinya?"

"Di sini," kata Rara memberikan kunci motornya

Roni nyengir penuh arti, dia mengendarai motor Rara. dari kejauhan Roni melihat Arkha dan Nina tampak bercanda di jalan, pikirannya kalut, dia juga punya rencana jahat. Motor Roni dengan sengaja menyerempet tubuh Arya dari belakang

"Aww," Arya mengerang

"Kak Arya, kamu baik-baik saja.hey berhenti," teriak Nina

"Ya, Nin. Aku baik-baik saja."

"Ada yang tergores, Bang. Biar saya bantu." kata Nina membantu Arya sedikit pincang

Roni tersenyum puas bahwa dia bisa menyakiti Arya, dia pikir besok Arya tidak akan bekerja lagi. dia juga mengembalikan sepeda motor Rara keesokan harinya.

Sekarang Arya dan Nina ada di rumah Nina.

"Ayah, Nina sudah pulang."

"Baru pulang, Nin. Ya ampun, kenapa dengan Arya," ucap Ayah Firman melihat putrinya membantu Arya yang berjalan dengan pincang

"Hanya luka kecil, pak."

"Benar, Nak. Nin, ambil kotak P3K."

"Ya Ayah."

Tak lama, Nina keluar dari kamar membawa kotak kesehatannya.

"Ini kak, aku akan membersihkannya dulu." kata Nina dengan susah payah merawat Arya.

Arya benar-benar terpesona oleh bidadari di depan matanya dia seperti pahlawan tanpa sayap. dia benar-benar gugup

Ayah Firman melihat tatapan Arya membuatnya tersenyum dan memilih pergi ke kamarnya.

"Nak, Arya, makan di sini nanti. kami masuk dulu."

"Baik tuan, terima kasih."

"Sudah beres kak, besok kak istirahat aja dulu. Nanti aku izinkan."

"Tapi Nin, aku baru saja kerja."

"Tapi kakak sedang terluka."

"Luka seperti ini untuk seorang pria tidak akan jadi masalah, yang jadi masalah, adalah ketika dikhianati. Itu sangat menyakitkan," Kata Arya sambil meletakkan tangan Nina di dadanya. Nina merasa gugup dan bergegas melepaskan cengkeraman Arya.

"K-kita makan,yuk kak," kata Nina gugup

Arya senang melihat tingkah Nina yang pemalu, tingkah lakunya pada orang lain tidak sama saat sedang bersamanya.

Mereka duduk di meja makan, Nina juga membawakan makanan untuk Arya.

"Ini kakak."

Arya mencoba memasukkan makanan ke dalam mulutnya tetapi dia terlihat kesakitan. Nina tersenyum lalu mencoba membantu.

"Biarkan aku, menyuapi kakak."

"Tidak apa-apa, Nin."

"Tidak masalah, kak."

Mereka saling menyuap, di balik tembok di ruang makan, Ayah Firman tersenyum, putrinya tampak bahagia. Tidak lama kemudian, Mita dan Ana berkunjung untuk mengajak Nina ke pasar malam.

"Kita mau ajak kamu ke pasar malam, kita lama tak jalan bareng. Mau ya?"

Tiba-tiba muncul sosok dari belakang, seorang pria tampan berjalan sedikit tertatih-tatih. Mita dan Ana terkejut ternyata Arya berada dirumah Nina.

"Kak Arya, kamu di sini," kedua cewek itu terkejut.

"Nggak, hantu," cibir Nina melirik kedua sahabatnya.

"Cih, aku jadi takut sama kamu," kata Ana sambil menahan tawa.

"Tenang Nin, kita nggak akan goda. hahahahaha," Mita terkekeh sontak membuat pipi Nina merah merona.

"Iya, kalian mau kemana terlihat rapi," ucap Arya dan duduk dikursi dekat Nina.

"Kita mau jalan sama Nina, kak. Mau ikut?"

"Nggak bisa Kak Arya, tetap di sini," Nina menimpali.

"Loh emang kenapa Nin, kan rame."

"Kalian tak lihat tuh kaki kak Arya."

Keduanya melongo ada perban dibalutkan ke kaki Arya.

"Ini kenapa kak?"

"Itu baru saja jatuh."

"Tidak, tapi seseorang menabraknya. Tapi aku tidak asing dengan sepeda motor itu," ucap Nina menjelaskan.

"Tidak perlu diperpanjang. Aku pulang dulu Nina, Mita dan Ana."

"Kak, sebaiknya di rumah saja dengan Ayah, kan di rumah nggak ada temannya. Kalau ada apa-apa gimana kak?" ucap Nina nerocos.

"Cie.. ada yang diam-diam perhatian," goda Mita

"Ih apaan sih kalian, sesama manusia harus memanusiakan."

Meski dirayu Nina untuk tetap tinggal, Arya tak mau ada fitnah dia lebih memilih pulang. Merka pun akhirnya berpamitan, ketiga gadis itu mengantar Arya terlebih dahulu.

Saat mereka berjalan menuju pasar malam, mereka tak sengaja mendengar ucapan seseorang di gubuk kecil.

"Eh Ron, kalau Nina tahu bagaimana?" tanya salah satu teman.

"Maksudmu apa Ron?" tanya Nina tiba-tiba didepan mereka membuat semua terlonjak kaget seketika berdiri.

"Nin- Nina," ucap Roni gugup.

"Jelaskan Ron, ada apa?"

Keempat pria itu saling pandang bingung menjelaskan, Nina gemas mereka diam tak ada yang menJawab.

"Oke, berarti kita nggak usah berteman lagi Ron, ingat itu!" bentak Nina dan mengajak kedua sahabat pergi tapi Roni mencegahnya.

"Nin stop! Aku akan jelasin tapi janji kamu jangan marah."

"Tergantung."

Roni menelan ludah kasar saat gadis dia cintai berubah garang kala minta penjelasannya.

"Nin, aku minta maaf sebelumnya. Aku kemarin yang menabrak Arya," ucapnya lirih dan menunduk.

Nina terkejut mendengar penjelasan Roni sungguh dia tak menyangka jika bisa melakukan hal jahat.

"Ron, kau tak bercanda, kan."

Roni menggeleng ia tak mampu berkata lagi, dia takut kehilangan gadisnya.

"Gila kau ya!" bentak Nina sambil menarik kerah Roni kasar.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED