Pagi ini Jo bangun lebih cepat dari biasanya,dia ingin berolahraga dulu sebelum memulai aktivitas.
Jo memilih untuk lari pagi sebentar di kawasan perumahan elite yang dia tempati saat ini,dan nantinya dia akan berhenti di sebuah taman yang tersedia di dalam kawasan perumahan tersebut. Kesehatan merupakan hal yang paling utama bagi Jo selama ini,mengatur pola hidup dengan baik serta mengkonsumsi makanan dan minuman yang mengandung banyak vitamin membuat Jo memiliki penampilan yang sangat memukau.
Jo tinggal sendiri di perumahan tersebut,selain karena dia ingin mandiri, Jo memang memilih untuk menghindari kedua orangtuanya yang akan selalu merongrong nya dengan pertanyaan yang tidak akan pernah berubah setiap kali mereka bertemu.
Jo memang tidak habis pikir,kenapa kedua orang tuanya itu,seperti tidak memiliki pertanyaan lain untuk di ajukan padanya,selain pertanyaan," kapan kamu akan membawa calon menantu untuk keluarga Maulana ke rumah?"
Hal itu selalu menjadi momok menakutkan bagi Jo, setiap kali harus berhadapan dengan kedua orang tuanya itu. Jo kadang harus mencari berbagai alasan untuk membuat Mama dan Papanya itu supaya melupakan pertanyaan itu untuknya, Tetapi, Mama selalu saja mengingat hal itu Setiap kali mereka bertemu.
Sepertinya pertanyaan itu,sudah lekat di ingatan Mamanya, sehingga setiap kali berjumpa Jo,dia akan mengulangi hal itu terus-menerus.
Udara pagi ini sangatlah cocok untuk Jo memulai kegiatan lari pagi,hari yang tidak terlalu panas,di tambah cuaca yang sangat mendukung untuk Jo berlari santai.
Melirik jam tangan,Jo melihat waktu yang tersisa untuknya bersantai pagi ini,karena setelah itu,dia harus kembali di sibukkan dengan urusan kantor yang tidak akan pernah ada habisnya.
Hal itulah,yang membuat Jo tidak bisa berhubungan dengan wanita manapun. Semenjak memutuskan untuk terjun ke dunia bisnis,Jo samasekali tidak bisa lagi berurusan dengan dunia luar,selain dunia bisnis.
Kehidupan Jo hanya sebatas kantor dan rumah,bahkan sering sekali Jo membawa pekerjaan kantor ke rumah dan kembali di sibukkan untuk masalah pekerjaan,Jo memang totalitas dalam bekerja dan dia tidak mau ada kesalahan sedikitpun dalam pekerjaannya.
~~~
Pukul 07.00
Jo sudah sampai di gerbang rumahnya,dia langsung membersihkan diri,dan bersiap untuk berangkat ke kantornya.
Setelah merasa rapi,dia langsung turun dari kamarnya dan bersiap untuk sarapan yang sudah di siapkan oleh asisten rumah tangganya. Namun,ternyata di sana sudah ada Mama yang entah kapan datangnya.
" Morning Mam,?"
Sambil memeluk dan mencium pipi kanan dan kiri Mamanya itu.
" Morning too, honey!" Kamu sudah mau berangkat?" Tanya Mama Nita.
" Iya, ada banyak pekerjaan yang sudah menunggu ku,apa ada yang perlu Mama bicarakan?" Tanya Jo balik.
"Seperti biasa,sayang. Mama akan selalu mempertanyakan hal yang sama kepadamu,kapan kamu akan memperkenalkan calon istrimu kepada Papa dan Mama?" Ucap Nita.
" Come on,mom! Ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan hal ini, aku harus berangkat sekarang, pekerjaan sudah menumpuk dan itu harus segera aku kerjakan sekarang juga,kalau Mama hanya ingin menanyakan hal yang tidak penting itu, lebih baik aku sekarang berangkat," jawab Jo.
" Jonathan! Mau sampai kapan kamu akan membuat kami menunggu? Bahkan sampai detik ini,tidak ada satu wanita yang terlihat berada di sisimu. Apakah kau normal Jo?" Teriak Mama Nita.
Mendengar Mama mengatakan hal itu, otomatis langkah Jo berhenti. Dia benar-benar tidak percaya karena orang yang mengatakan hal itu adalah Mamanya sendiri.
Jo otomatis menghentikan langkahnya, mendengar apa yang baru saja keluar dari mulut Mamanya itu.
Nita yang sadar akan ucapannya sudah menyinggung anak semata wayangnya itu,kemudian menutup mulutnya dengan tangan.
"Maafkan Mama, Jo. Mama tidak bermaksud untuk mengatakan hal itu padamu, Tetapi--"
" Cukup,Ma! Apa yang baru saja Mama katakan,sudah cukup jelas untuk aku mengerti dan aku pahami. Aku mungkin tidak akan marah jika hal itu di ucapkan oleh orang lain kepadaku,karena akupun tidak peduli tentang anggapan orang lain terhadapku!, Tetapi,aku merasa sangat sedih karena sekarang orang yang seharusnya mendukung dan mensupport aku,malah mempertanyakan hal yang selayaknya tidak dia pertanyakan padaku. Sekarang coba Mama lihat aku,ma! Apa ada yang membuat Mama meragukan jatidiri ku sebagai laki-laki?" Tanya Jo.
"Jo, Mama tidak pernah meragukan mu,sayang. Mama hanya khawatir kepadamu,kamu ingatkan Jo,usia Mama dan Papa sudah bertambah tua, sedangkan kamu masih menunda untuk memperkenalkan pendamping hidupmu kepada kami, memangnya salah kalau Mama menginginkan kamu untuk segera menikah? Mama sudah ingin menimang cucu Jo,tolong mengertilah," ucap Nita memelas.
" Ya ampun,Ma. Mau sampai kapan drama ini akan berlanjut? Jo benar-benar harus ke kantor sekarang,sambil melihat ke arah jam tangan yang ada di tangannya. Kalau memang Mama masih mau melanjutkan masalah ini,tunggu Jo pulang nanti sore lagi ya ma,Jo berangkat dulu."
Sambil mencium pipi kanan dan kiri Mamanya,dan mencium takzim tangan Mama Nita, akhirnya Jo bisa bernapas lega karena terlepas dari segala pertanyaan yang benar-benar membuat dadanya merasa sesak.
Ada rasa sedih di hati Jo, karena apa yang di ucapkan oleh Mamanya tadi, ingatan Jo beralih kepada beberapa saat sebelum dia berangkat,dimana Mamanya mempertanyakan tentang jatidirinya itu.
" Apakah semua orang saat ini, meragukan aku seperti Mama yang tadi menanyakan hal itu kepadaku? Apakah kesendirian ku saat ini adalah sebuah aib bagi mereka?sedangkan aku yang menjalani semua ini,merasa kalau hidupku tidak seribet pemikiran mereka. Aku terlalu sibuk mengurusi pekerjaan yang sama sekali tidak pernah ada habisnya dan sangat menyita waktuku, lalu bagaimana mungkin aku bisa mendapatkan wanita? Cara mendekati wanita saja aku samasekali tidak memiliki pengalaman,kenapa bisa serumit ini,tuhan?" teriak Jo di dalam mobilnya.
Jo merasa frustasi dengan segala kenyataan yang ada di depan matanya,Mama dan Papa yang selalu membuat pikirannya selalu di ganti dengan momok yang amat menakutkan. Hal yang selalu di hindari oleh Jo jika bertemu dengan kedua orang tuanya.
" Kenapa sih,harus ada kata menikah di dalam kehidupan ini? Padahal aku yang menjalani ini saja terasa begitu santai! Ini justru kedua orangtuaku yang membuat ini menjadi rumit, sebenarnya yang mau menikah itu aku atau mereka? Padahal aku yang akan menjalaninya,dan aku tidak siap untuk mengenal perempuan manapun, jangankan untuk menikah,bermimpi untuk duduk berdua dengan satu perempuan pun aku tidak pernah sama sekali, apa jangan-jangan yang di katakan Mama itu benar ya? Apa aku laki-laki yang tidak normal? Aku benar-benar sudah seperti orang gila saat ini," ucap Jo dalam hatinya.
Jo mencoba untuk fokus,dan kembali kepada kenyataan saat ini. Karena Jo saat ini sudah berada di kantornya, walaupun dengan sejuta masalah yang sudah hadir dari rumah tadi, Sekarang Jo mencoba kembali menghadapkan dirinya dengan kesibukan yang tidak pernah akan berkurang kalau tidak dia kerjakan.
Menjadi seorang CEO memang bukanlah hal yang mudah bagi Jo,berawal dari membantu Papa yang sangat kesusahan mengatur jadwal di beberapa perusahaan dan pembukaan cabang baru yang berada di dalam dan luar negeri,di saat itulah Papa mulai menuntut Jo agar turun tangan untuk membantunya.
Papa memberikan tanggung jawab kepada Jo,agar Jo bisa mengembangkan perusahaan yang saat ini di pegang oleh Jo,dan hal itu terbukti dengan keberhasilan Jo membawa perusahaan ini di puncak kejayaannya dan sudah memiliki cabang perusahaan di dalam dan luar negeri,yang awalnya dia memegang perusahaan itu sebagai anak cabang dari perusahaan Papanya, Tetapi,sekarang sudah memiliki nama tersendiri dan tetap bekerjasama dengan perusahaan Papanya.
Nama Jo di dunia bisnis memang tidak bisa di ragukan lagi,setiap orang pasti ingin menjadi partner bisnis dengan perusahaan Jo,Jo memang terkenal sebagai pebisnis handal dan sangat ramah kepada semua rekan bisnisnya. Tetapi,Jo terkenal sangat tegas dan bertanggung jawab dengan semua pekerjaan yang di hadapinya.
Karena selalu di desak oleh Mama, sementara jam di tangannya sudah lebih dari jadwal harian dia biasa berangkat,
"Ayolah,Ma! Jangan menghambat pekerjaan ku dengan ocehan Mama yang selalu di ulang-ulang seperti ini, Jo beneran sudah sangat terlambat sekarang," ucap Jo mencoba untuk memelas kepada Mamanya.
"Jo! Mau sampai kapan kamu membuat Papa dan Mama menunggu? Apa sampai kami tiada? Apa kamu tidak akan mewujudkan keinginan Papa dan Mama yang ingin menghabiskan sisa umur kami bersama cucu?" Teriak Mamanya.
" Aku juga mau,Ma. Tapi buat sekarang aku beneran gak bisa, Mama tau bukan kalau semua gak bisa se instan yang Mama ucapkan, jadi,Jo harap Mama bisa bersabar sedikit ya."
" Mama gak bakalan biarin kamu berangkat kerja! Kalau kamu gak mau nurutin keinginan Mama," ucapnya.
"Aduh, Mama jangan aneh-aneh deh Ma,hari ini aku benar-benar harus berangkat sekarang,aku ada meeting penting dengan investor dari luar negeri,dan ini sungguh aku sudah sangat terlambat, Mama mau apa sih?" Tanya Jo.
" Mama mau kamu nanti datang ke acara ulang tahun sahabat Mama, temani Papa dan Mama untuk memberikan ucapan selamat kepada Tante Sherly."
Jo sudah merasakan ada yang ganjil dengan permintaan Mamanya itu,karena setiap kali dia di mintai tolong oleh mamanya,maka permintaan itu hanyalah seputar masalah perjodohan dirinya dengan semua anak-anak teman yang berasal dari kalangan atas,dan hak itu selalu berhasil di gagalkan oleh Jo,karena dirinya sama sekali tidak mau datang ke acara yang di mana nantinya dia akan jadi seperti orang yang tidak laku,akibat ulah kedua orangtuanya.
" Ma, please! Nanti aku pikirkan lagi mengenai semua permintaan Mama itu, semoga saja aku tidak memiliki jadwal untuk meeting,jadi aku bisa menemani Mama untuk datang ke acara ulangtahun Tante Sherly itu, tetapi,kalau aku tidak bisa, pastinya aku akan mengabari mama tentang ketidakhadiran ku nanti,"
"Jo! Lupakan masalah pekerjaan mu itu, Mama sudah gak bisa mentolerir lagi semua permintaan kamu itu Jo, sebenarnya buat apa kamu menambah digit di rekening mu itu? Kalau kamu sendiri tidak memiliki orang buat menghabiskan nya? Jangan membuat Mama lelah untuk menunggu terlalu lama lagi Jo,anak Tante Sherly itu cantik loh Jo, berpendidikan dan atitude nya juga sangat baik,apa salahnya sih Jo kamu mengenal orang terlebih dulu? Ini belum apa-apa kamu sudah menolaknya langsung,"Jelas Mama Jo.
"Aku tidak peduli masalah cantik atau enggaknya Ma,disini aku yang belum siap untuk menjalin sebuah komitmen tentang sebuah hubungan,jadi aku minta Mama dan Papa itu bisa sabar menunggu,aku gak bisa yang asal mau cari istri Ma,aku mau pernikahan itu hanya sekali seumur hidup,dan hanya maut yang memisahkan, makanya,aku gak mau asal pilih," ucapnya.
Jo merasa kalau perdebatan dengan Mama tidak akan pernah mendapatkan kemenangan,jangankan untuk menang,seri saja Mama tidak akan mau dengannya,Jo sangat hapal sekali bagaimana sifat Mama,jika dia memiliki keinginan dan tidak di turuti dia akan selalu nyerocos sampai keinginannya di turuti.
" Kamu memang pintar masalah teori, Jo. Tapi kamu gagal dalam menjalankan teori itu di dalam kehidupan kamu, memangnya semua itu penting kamu pelajari,kalau nyatanya di kehidupan nyata kamu malah kalah? Jangan beralibi seolah-olah pekerjaan itu yang membuat kamu jadi lupa,kodrat kamu sebagai laki-laki,dan apa yang harusnya kamu lakukan sebagai seorang lelaki dewasa," teriak Mama Jo.
" Jo sama sekali gak lupa ma,tanpa mama katakan seperti itupun,Jo udah tau harus berbuat apa,tapi,untuk saat ini Jo bemeran ingin fokus dengan karir Jo dulu,tolong hargai keputusan aku ya mam, please?"