Zurich, Switzerland.
"Hentikan mobilnya. Kalian berdua keluar, dan pergi hingga jarak tiga meter. Tunggu aku sampai menyuruh kalian masuk. Cepat!" ucap Reeve tanpa melihat keduanya, karena fokusnya kini pada sang istri.
"Baik tuan."
Sopir pun menghentikan mobilnya. Bersama Roger, sopir itu turun dan sesuai permintaan sang boss, mereka pergi menjauh dari mobil, untuk tetap melihat keamanan mobil meski dari kejauhan.
"Bagaimana perasaanmu? Kau masih kuat menahannya?" tanya Reeve yang sekali lagi melihat ekspresi wajah El merah padam. Ia tak bisa menjawab karena memang sekuat itu perasaan yang ia tahan sejak tadi.
Sentuhannya dengan Reeve semakin ingin ia lakukan lebih dari itu. Ingin agar Reeve bisa menyentuh bagian lain di dalam tubuhnya yang sudah tak sanggup lagi menahan rasa panas yang merongrong ingin segera terpuaskan.
"Aku sekarang suamimu. Kau percaya padaku kan El? Aku akan membantumu untuk menghilangkan apa yang sedang kau rasakan sekarang." El segera mengangguk dengan mata mendungnya yang akan segera menjatuhkan bening air hujan.
Reeve membantu melepaskan pakaian milik Ellice. Handuk yang sejak tadi terlilit, Reeve lepaskan. Berlanjut pada kaos polosnya. Namun saat Reeve akan membukanya, Elvira menahannya.
"Apa yang akan kau lakukan Reeve? Aku malu," ucap El tertunduk dengan nafas yang kian memburu.
"Aku suamimu. Aku akan membantumu menghilangkan perasaan panas dalan tubuhmu. Aku hanya ingin membantumu?" Walau El menginginkannya, tapi ini pertama baginya. Tentu akan menjadi pengalaman baru bersama sang suami.
"Kau percaya 'kan, padaku? Aku akan pelan-pelan melakukannya. Hmm?" Memandang lekat sosok pria di depannya, akhirnya El mengangguk.
Ketika Reeve membuka kaos oblong Elvira, maka terlihatlah sudah hadiah dari Rose yang sesungguhnya. Ternyata wanita yang tak lain istrinya, adalah wanita yang sangat uhh... Menggoda. Mungkin akan menjadi hadiah terindah seumur hidup Reeve. Gairah mematikan. Sial!
Memaksakan Reeve untuk menelan salivanya berulang. Pandangan mata terus mengarah ke bukit kembar yang sedang terbalut penutupnya.
Meski belum terlalu besar tapi terlihat begitu padat berisi. Mungkin butuh sedikit polesan dari tangan suami, nanti akan membesar dengan sendirinya.
Tubuh yang putih mulus dan kencang, semakin nampak terpesona di hadapan Reeve. Aroma khas yang keluar dari tubuh wanitanya, membuat gejolak dalam diri Reeve seketika bangkit. Setelah lama ia tahan dan simpan rapi, kini memaksa untuk keluar bagai setan yang keluar dari neraka.
Reeve juga membantu untuk membuka celana jeans Elvira. Hingga sampailah bagian lembah yang tertutup oleh segitiga berenda yang begitu tipis.
Ia pun menyusul membuka pakaian miliknya. Dan ia lebih dulu melepas semuanya hingga polos. Tanpa ada rasa malu. El yang melihatnya telihat penuh nafsu.
Tanpa ia ketahui si makhluk kecil miliksuami sudah terbangun. Mendesak ingin segera di manjakan. Membuat jiwa El meronta ingin loncat masuk ke dalam tubuh sang suami. Ingin menyentuhkan tangannya pada benda kokoh yang menggemaskan kini menjuntai tinggi.
Melihat tubuh suaminya yang polos, rasa panas dan dahaga dalam tubuhnya meledak membuat El tanpa sengaja aktif lebih dulu. Dengan tangan yang sudah gatal sekali ingin memegang dada polos kotak-kotak milik Reeve yang terpampang di depan mata.
"Reeve aku.. egh.." tak kuasa lagi menahan dahaga dalam dirinya, El segera menyentuhkan bibirnya pada sang suami. Membuat Reeve terkejut dengan aksi Elvira yang terlalu mendadak mengecup bibirnya.
"Setelah malam ini, kau akan menjadi milikku Elvira Thompson," ucap Reeve sembari melanjutkan permainan bibirnya.
Jiwa lelakinya yang sudah ikut bangkit, mulai merambati tubuh Elvira dengan tangannya. Menikmati setiap lekukan di tubuh putih mulus milik sang istri.
Klik! Membuka pengait bukit dengan segala puncak tertingginya. Hingga terasa sudah sentuhan kenyal mengenai dada bidang Reeve.
El yang semakin merasakan tubuhnya akan meledak tak lagi sanggup sehingga meminta Reeve untuk langsung ke permainan inti. Tanpa ragu lagi, Masih dengan pagutan di bibir, Reeve membantu El melepaskan penutup segitiga bawahnya.
Sudah tak lagi memikirkan rasa malunya, El yang sudah di penuhi birahi-nya, memilih tidak tau diri dengan naik di atas pangkuan Reeve ketika sudah polos di bagian bawahnya.
Reeve pun bersiap untuk memasukkan si kecil ke dalam lembah sempit miliknya, El sudah siap menjadi istri Reeve sepenuhnya. Namun beberapa kali percobaan yang Reeve lakukan, gagal. Dan sama sekali tak ada gerakan akan berhasil masuk.
Hingga memaksa Reeve untuk melakukan hal lain yang akan membuat El tak kalah menikmatinya. Dengan 2 jarinya langsung, Reeve mencoba menelusup masuk dan merogoh bagian terlembab milik wanita-nya.
Membuat Elvira terperanjat dan mulai menikmati permainan di bawah sana. Semakin di sentuh semakin panas dan gejolak dalam dirinya makin bangkit karena pengaruh obat yang di berikan Grace pada El, membuatnya liar di dalam mobil.
Dengan nakal tangannya sudah bertengger di dada sang suami. Ketika ledakan mulai meluap, maka bagian puncak di dada suaminya ikut merasakan sensasi geli dari sentuhan yang Elvira lakukan di puncaknya.
Merasakan bagian bawah yang sudah sangat basah, Reeve segera mencoba aksinya kembali. Memposisikan miliknya tepat di tengah pintu lembah ternikmat milik seorang wanita yang telah berstatus sebagai istrinya.
'Sial! Kenapa masih susah sekali masuk ke dalam! Brengsek! Ayo masuk bodoh!' geram Reeve dalam hati.
Meski banyaknya pelumas yang sudah keluar, tetap tak membuat milik Reeve lancar memasukinya. Hingga empat kali percobaan barulah si kecil mulai masuk meski hanya kepalanya, menelisik di bagian dalam. Ada kenikmatan apa yang tersembunyi?
Dengan bantuan pinggulnya, Reeve hentakkan sampai akhirnya masuk sudah si kecilnya ke dalam yang memang di inginkan si pemilik.
"Aaakkkhh." Lengkingan suara El memenuhi seluruh mobil ketika Reeve berhasil masuk. Rasa perih dan sakit sungguh terasa pada miliknya yang berhasil di jebol sang suami keperawanannya. Tapi sekali lagi pengaruh obat yang begitu kuat mampu menutup rasa perih tersebut.
Panas dan dahaga yang sejak tadi gencar meminta sesuatu, akhirnya kini dapat menikmatinya.
Terasa miliknya di sumpal ketika si kecil tumpul nan kenyal milik Reeve, begitu penuh membuat kekedutan yang luar biasa yang baru keduanya rasakan. El tak bisa lagi berkata apa-apa. Perasaannya sudah begitu kuat ingin menikmati permainan si kecil dengan miliknya.
Sementara Reeve merasakan hal yang sama. Ini rasa yang sungguh luar biasa ia rasakan dalam hidupnya. Ketika masuk ke dalam lembah yang begitu sempit, seakan miliknya mendapatkan efek pijatan plus-plus yang tiada tara.
Begitu nikmat dan mencekik kepala si kecil hingga ingin segera di gerakan. Perlahan Reeve mulai menggerakkan pinggul El yang duduk di atasnya. Gempuran mulai terjadi di dalam mobil.
Karena keduanya yang sudah di penuhi dengan birahi yang tinggi. Reeve juga permainkan bagian tubuh El bagian atas yang sudah polos dengan tangan dan bibirnya. Hingga mendapat sensasi double yang semakin menggelora dalam tubuh El.
Hingga beberapa menit El bagai merasakan terjangan ombak yang kuat menghantam tubuhnya. Dan mengalir sudah cairannya. Menghangatkan si kecil. "Aaakhhhk, Reeve aku pipis!!" Reeve hanya tersenyum dan bernafsu. Sesekali ia juga mengecupi bibir El dengan liar.
Ketika kehangatan menghangatkan si kecilnya, Reeve semakin berapi-api ingin segera merasakan hal yang sama yang El rasakan. Gerakannya ia percepat. Gempuran kian membara.
"Aku mau pipis lagi Reeve, Aakkh," teriak Elvira setelah kedua kali mendapat pelepasannya.
"Aku juga Baby. Kita keluarkan bersama!"
Hingga akhirnya tembakan bertubi-tubi dari miliknya menembak rahim sang istri dan begitu pula El. Yang sudah dua kali merasakan nikmat tiada tara pada tubuhnya.
Keduanya terkulai lemas di dalam mobil. Masih dengan El yang berada di atasnya dan si kecilnya perlahan mulai mengecil. El memeluk erat tubuh sang suami. Menangis dalam dekapan hangat tubuh lelakinya. Perawannya telah di ambil oleh suaminya sendiri.
"Sejak malam ini kau adalah milikku El. Tak akan aku biarkan kau pergi." Meski sudah sangat lelah, El masih dapat mendengar suara samar yang di ucapkan sang suami padanya. Ia pun mengangguk dan Reeve semakin erat memeluk tubuh sang istri dalam Limousine.
Sementara di luar, kedua orang kepercayaannya pada senyum-senyum sendiri karena baru menjadi saksi bisu terjadinya sebuah mobil bergoyang.
Malam sebelum kejadian...
"Bagaimana boss? Barangnya bagus bukan?" tanya Helen yang menyerahkan Elvira pada bossnya.
"Kau pintar mencari orang Helen. Lihatlah, betapa cantik wajah gadis ini. Kita benar-benar akan mendapatkan jackpot darinya," jawab wanita paruh baya, dengan dandanan nyentrik dan polesan hitam di bibirnya.
Selain masih perawan Elvira memiliki paras yang sangat cantik. Katakan saja seperti Cleopatra. Kecantikan Elvira memang secantik itu. Dan tentu saja harga jualnya akan sangat tinggi. Entah siapa yang akan beruntung mendapatkan wanita ini untuk menjebol gawang pertama kali lembah milik Elvira.
"Tentu saja, kita bisa mendapatkan uang yang sangat besar dengan menjualnya. Dan lagi dia masih perawan. Itu pointnya boss. Kau menyukainya kan boss? Jadi aku akan dapat bonus besar juga kan boss?"
"Aku suka hasil kerjamu. Nanti akan aku kirim yang banyak, ketika kita sudah mendapat tawaran pertama untuknya. Lain kali bawakan barang yang bagus lainnya kepadaku." Wanita itu tersenyum culas menatap berlian di depan mata.
Uang yang melimpah akan segera datang dan masuk menjadi pundi-pundi yang berlimpah ruah. Meski Elvira tak perawan sekalipun, pasti akan banyak yang menawar untuknya karena kecantikannya. Serta kesensualan tubuh yang di miliki gadis kecil ini. Satu lagi point untuk Elvira. Dada itu begitu pas dengan ukuran yang di bawah.
'Maafkan aku ponakanku sayang. Kau terpaksa aku jual di sini. Kau sendiri yang membuatku melakukannya. Aku memerlukan harta milik kakakku. Nikmatilah pekerjaan barumu setelah ini sasayan.' Menatap Elvira penuh kemenangan.
Elvira belum juga sadar. Pukulan yang cukup keras pada bagian belakang kepalanya, membuatnya kini belum juga tersadar. Masih tertidur bagaimakan putri dalam kaca.
'Demi apa keponakanku sangat cantik. Andai aku lelaki, kau pasti akan aku nikmati sendiri seumur hidupku sayang.'
Gadis malang berusia 20 tahun itu terpaksa harus menerima nasibnya yang di jual oleh sang bibi pada germo yang bernama madam Grace.
Setelah menikah dengan suaminya, Elvira honeymoon ke Swiss. Namun naasnya, di hari kedua ia malah di culik setelah kedatangannya di negara dengan segala keindahannya di bumi.
⬳꙳꙳꙳⬳
Malam harinya Elvira baru terbangun. Ia mengedarkan pandangannya memperhatikan semua yang ada di sana. Tempat yang asing dan tidak ada Reeve, suaminya.
Hanya ada lampu temaram di dalam sana. Membuat Elvira sedikit takut. "Reeve kau di mana?" gelisah yang di rasakannya kini. Sendirian dalam gelapnya malam. Tanpa tau apa yang sedang menunggunya di balik pintu.
Klek..
"Oh sayangku, kau sudah bangun?" tanya wanita nyentrik bernama Grace yang mendekat padanya.
"Kau siapa nyonya? Di mana aku? Reeve di mana nyonya?" Karena dandanan Grace yang menurutnya terlalu berani, Elvira sedikit takut pada wanita paruh baya tersebut.
"Tenang cantik, kau jangan takut. Namaku Grace, anak-anakku biasa memanggilku dengan sebutan madam Grace. Ini aku bawakan kau makan malam sayang."
"Tapi aku ingin ketemu dengan Reeve nyonya. Di mana dia? Seingatku tadi aku bertemu dengan bibiku, Helen. Aku tak ingin bertemu dengannya nyonya. Aku mohon keluarkan aku dari sini," mohon Elvira yang kian gelisah dan meloloskan air matanya dari sudut mata.
Ia ingat sebelum pingsan, Elvira bertemu dengan bibinya. Dia takut jika harus bertemu lagi dengan Helen.
"Tenang sayang. Kau tak akan bertemu dengan siapapun yang akan menyakitimu selama kau bersamaku. Nanti madam akan membawamu ke tempat Reeve. Sekarang makanlah. Setelah itu aku akan membantumu pergi, ya sayang?" Elvira pun mengangguk percaya dengan bualan wanita nyentrik di depan mata.
Ia menerima nampan makanan dari Grace dan memakannya dengan lahap. Grace yang melihatnya tersenyum penuh arti.
'Tenang sayang, setelah makan kau akan aku antarkan pada pelanggan pertamamu. Dan kau akan lebih bahagia bersamanya nanti.'
"Aku akan keluar dulu untuk bersiap. Setelah kembali aku akan mengantarmu. Tunggu aku ya sayang." Elvira mengangguk setuju mendengar penuturannya.
⬳꙳꙳꙳⬳
"Tuan, nyonya sudah di temukan," teriak Roger dari jauh. Dengan nafas tersengal, ia mendekat pada tuan.nya yang sejak tadi bingung harus menjawab apa atas panggilan telepon dari sang mommy.
"Di mana dia? Antarkan aku padanya, Roger. Jangan buang-buang waktu." Roger mengangguk. "Brengsek! Saat aku menemukan siapa yang menculikmu, kalian akan mati di tanganku. Membuat aku pusing saja. Sialan!"
"Nyonya di culik dan di bawa ke club malam tuan. Beberapa anak buah sudah lebih dulu berangkat ke sana." Roger menjelaskan sambil mengantarkan Reeve ke mobilnya.
Selama perjalanan Reeve memikirkan kata-kata sang mommy, Rose. 'Jaga baik-baik Elvira. Dia sudah mommy anggap sebagai anak mommy sendiri. Jika kau membawanya pulang dengan goresan sedikit pada tubuhnya. Kau yang akan mommy hajar.'
'Mommy sangat menyayangi gadis itu. Jika sampai mommy tau apa yang terjadi pada anak gadisnya. Aku yang akan langsung di bunuh oleh mom.'
Ia menghembuskan nafasnya kasar.
Meski mereka menikah karena sebuah perjodohan yang Rose lakukan, tapi rasa sayang Reeve pada Rose, membuat lelaki itu mau menerima Elvira sebagai seorang istri.
Di gelapnya malam, mobil Reeve terus melaju kencang. Membelah kabut malam dengan cuaca extrim di Swiss yang bersalju. Memikirkan betapa ketakutannya sang wanitanya di tempat yang asing di sana sendiri.
Tanpa terasa perjalan hampir 1 jam dan akhirnya sampai juga. Nampak mobil mereka berhenti di sebuah bangunan besar di tengah kota. Suara sorak music dari dalam sedikit terdengar dari luar.
"Nyonya ada di dalam kamar vvip 1 tuan. Nyonya sudah di persiapkan untuk pelanggan pertamanya. Begitu informasi yang saya terima," jelas Roger sambil mengantarkan Reeve masuk ke dalam club.
Suara dentuman music hip hop terdengar memekakkan telinga. Dengan lautan manusia dan terlihat, dj sedang beraksi di altar dengan menanti seorang penari yang nanti akan ikut meramaikan panggung dance.
Roger membawa Reeve menaiki tangga menuju lantai dua. Terlihat dua anak buahnya berjaga di satu pintu yang terlihat jelas dengan tulisan vvip room setelah melewati beberapa lorong.
"Di dalam sini tuan, nyonya berada." Roger pun mempersilahkan Reeve untuk masuk ke dalam.
Ketika masuk, tak terlihat ada sang istri di dalam sana. Hanya di terangi cahaya lampu tidur, membuat kamar nampak sedikit gelap. Namun sayup-sayup suara isak tangis terdengar dari dalam kamar mandi.
"El.. kau di dalam El? Apa tak ada lampu yang lebih terang dari ini? Sialan." Ia mencoba memanggil Elvira dari balik pintu kamar mandi. Namun Elvira tak menjawabnya.
"El, kau kah itu? Aku Reeve. Aku buka pintunya kalau kau tak mau membukanya." Perlahan Reeve membuka pintu kamar mandi.
Karena pintu terkunci, Reeve terpaksa mendobraknya. Saat Reeve masuk ke dalam, ia melihat sang istri yang duduk meringkuk di dalam bathub berisi air. Menangis terisak di sana.
"Oh God, apa yang terjadi padamu? Hei El, ini aku Reeve. Kau baik-baik saja kan?" tanya Reeve yang sudah mendekat di samping bathub. Tapi Elvira sama sekali tak menjawabnya.
Gadis itu tak menghiraukannya. Ia hanya menangis.
"Apa yang terjadi padamu? Aku sudah di sini. Kita pulang sekarang, ya?" Reeve berniat akan menggendongnya Elvira yang sudah basah kuyup di dalam bathtub. Namun, El menahannya.
"Menjauh dariku Reeve. Kau pergilah." Terlihat Elvira yang gemetaran dengan raut wajah sayunya menahan sesuatu.
"Ada apa denganmu. Kenapa? Ayo kita pergi dari sini?"
"Menjauhlah Reeve. Tubuhku terasa panas. Meskipun aku sudah berendam masih saja terasa panas. Kau pergilah." Wajah Reeve langsung berubah mendengarnya.
"Apa kau meminum sesuatu sebelumnya? Atau makan sesuatu?"
"Kau sudah selesai makan sayangku?" tanya madam Grace yang langsung masuk ke dalam kamar Elvira.
"Sudah. Apa anda akan membantuku untuk keluar dari sini nyonya? Aku mohon tolong aku. Aku tak ingin bertemu dengan bibi Helen lagi," mohon Elvira dengan wajah sendunya.
"Tentu saja aku akan membantumu sayang. Kau bergantilah dulu. Ini pakaian untukmu. Pakaianmu itu sudah terlalu kotor. Bersiaplah cepat. Aku akan menunggumu di luar," ucapnya sambil memberikan kantung berisi pakaian.
Meski bingung kenapa harus berganti pakaian, El menurut saja apa kata Grace. "Iya nyonya, terima kasih banyak."
Grace tersenyum dan keluar dari kamar itu. "Selamat bersenang-senang Elvira sayang? Selamat datang di pekerjaan barumu." Hatinya bersorak, karena uang segunung telah masuk ke dalam akun banknya.
Sementara di dalam, Elvira dengan cepat mengganti pakaiannya. Semakin bingung karena pakaian itu sangat menggoda, sehingga mengurungkan niat hati gadis itu untuk berganti pakaian.
"Tidak, aku tak akan menggunakan pakaian seperti ini. Aku akan tetap menggunakan pakaianku saja." Ia keluar dari kamar mandi dan meninggalkan gaun itu di toilet.
"Aku harus keluar sekarang. Eh kenapa di kunci? Nyonya.. nyonya.. kenapa pintunya di kunci nyonya? Nyonya? Buka pintunya nyonya? Nyonya, apa anda juga membohongiku? Nyonya buka pintunya! Nyonya!" teriak Elvira yang terus menggedor pintu dari dalam.
"Nyonya, bibi! Jangan lakukan ini padaku! Buka pintunya. Buka!" Elvira terus saja mencoba menggedor pintu dari dalam. Namun tak ada sahutan juga.
Ia yang panik, mulai merasakan tubuhnya yang terasa panas, setelah beberapa saat waktu berlalu. "Kenapa panas sekali?" Elvira mengibaskan tangannya untuk di jadikan kipas, dan menekan tombol pendingin ruangan untuk menurunkan suhunya.
Ia melihat dari kaca jendela, ternyata dia ada di lantai atas. Tidak mungkin jika Elvira harus melompat dari atas situ. "Bagaimana caraku harus keluar dari sini? Apa yang harus aku lakukan? Reeve kau di mana? Apa kau sedang mencariku? Aku di sini?!" Kebingungan mulai melanda. Air matanya pun mulai menggenang.
Kekalutan dalam diri membuatnya kian panik. Tanpa terasa tubuhnya terus merasakan panas. Membuat gadis itu tak sengaja membuka jaket kulit miliknya. Hingga menyisakan kaos oblong dan belt jeansnya.
"Nyonya! Buka pintunya. Siapapun yang di luar, buka pintunya!" teriak Elvira yang semakin kencang. "Bagaimana caranya aku keluar dari sini? Dan kenapa rasanya panas sekali?" ucapnya sambil menghapus air mata yang terus mengalir.
Elvira melihat air di gelasnya yang belum habis, dengan cepat iya teguk sampai tak tersisa. Perasaan dahaga dan panas di sekujur tubuh mulai mengalir di seluruh darahnya.
Membuat detak jantung ikut berdetak semakin kencang. "Oh Tuhan, apa yang terjadi? Kenapa semakin panas? Ini panas sekali! Mommy, selamatkan Elvira. Elvira takut! "
Kegelisahan sudah menyelimuti dirinya dari segala hal yang akan terjadi. Pikiran-pikiran negatif bermunculan dari otaknya. Membuat ketakutan kian melanda. Dengan nafas yang tak beraturan, dan pikirannya yang mulai kalut, El masih mencoba untuk bertahan.
"Tidak! Ada yang aneh sepertinya dengan diriku. Ini sangat panas sekali. Tapi apa? Kenapa tiba-tiba aku merasa panas? Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku tidak bisa membuka pintunya untuk kabur dari sini."
Elvira masuk ke dalam kamar mandi. Ia mencoba membasuh wajahnya. Untuk menghilangkan rasa panas dalam diri. Namun sia-sia saja. Rasa itu kian menjalar bagai darah di dalam tubuhnya. Mengalir begitu saja.
Tetapi dinginnya suhu air, sedikit menghilangkan rasa itu. "Mungkin aku bisa mandi untuk menghilangkan rasa panas ini. Tapi? Tidak! Bagaimana jika ada yang masuk tiba-tiba ke sini? Aku harus segera kabur. Aku harus kabur dari sini. Tapi bagaimana?"
Tubuhnya yang merasakan panas membuat otak Elvira tak bisa lagi berpikir. Karena merasa tak ada ujung, Elvira mengunci pintu toilet. Masih dengan pakaiannya yang lengkap, ia memasukkan tubuhnya dalam bathub.
Panas dalam dirinya tak sanggup lagi terbendung. Tubuhnya semakin bergetar menahan dahaga di dalam diri. Membuat dirinya harus berendam dalam-dalam di air dingin.
"Kenapa jadi begini? Tuhan tolong aku! Aku tak ingin sampai terjadi sesuatu denganku. Aku sudah memiliki suami, Tuhan. Tolong selamatkan aku!" Di dinginnya air dalam bathtub, Elvira memeluk tubuhnya erat.
Setelah beberapa menit kemudian, terdengar suara ketukan pintu dari luar. Tapi Elvira yang merasakan aneh di sekujur tubuhnua memilih tetap diam. Ia tak bergeming dari tempatnya. Tak juga menjawab teriakan dari luar.
Hingga pintu toilet berhasil di buka. Dan terlihat wajah sang suami yang datang menolongnya. Air matanya kian merembes dari pelupuk mata. Ternyata Tuhan masih sayang padanya, dengan mendatangkan malaikat penolong untuknya berwujud sebagai lelaki tampan yang berstatus suami.
"Apa yang terjadi padamu? Aku sudah di sini. Kita pulang sekarang, ya?" Reeve berniat akan menggendong Elvira yang sudah basah kuyup di dalam bathub. Namun, El menahannya.
"Menjauh dariku Reeve. Kau pergilah." Terlihat Elvira yang gemetaran dengan raut wajah sayunya menahan sesuatu.
"Ada apa denganmu. Kenapa? Ayo kita pergi dari sini?"
"Menjauhlah Reeve. Tubuhku terasa panas. Meskipun aku sudah berendam sejak tadi. Tapi masih saja terasa panas. Kau pergilah." Wajah Reeve langsung berubah mendengarnya.
"Apa kau meminum sesuatu sebelumnya?"
"Sebelum ini aku menerima makanan dan minuman dari mereka. Tapi aku tidak tau jika akan membuatku seperti ini. Kau keluarlah Reeve. Keluar sana. Biarkan aku di sini dulu."
"Oh God..." Nampak Reeve sedang berpikir. Dan ia melihat kembali pada Elvira yang masih di posisinya. "Kau percaya padaku kan?" El melirik sang suami. Dan mengangguk.
Segera Reeve mengambil handuk yang ada di rak dalam toilet. Kemudian ia mengangkat tubuh El dari dalam bathub. Tubuh bergetar El terlihat jelas, jika gadisnya begitu menahan hal dalam tubuhnya. Dan kaos oblong yang di kenakan, mencetak isi di dalamnya. Membuat Reeve sedikit tergiur. Tapi ia menepisnya.
Ia balut tubuh sang istri dengan handuk dan menggendongnya kembali. Reeve pun segera keluar dari sana. "Roger, urus semua yang ada di sini. Kau paham maksudku 'kan?" tutur Reeve penuh penekanan dan perintah menatap tajam pada sang pengawal setia.
"Siap tuan."
Mereka semua segera menuju mobil. Di dalam mobil, Reeve terus merangkul istrinya yang terus bergerak. Meski pendingin mobil di hidupkan tak membuat panas dalam tubuh Elvira berkurang. Yang ada sentuhannya dengan Reeve membuatnya kian haus.
Menginginkan sesuatu yang lebih dari sekedar rangkulan. Tanpa sadar tangannya sudah meremat paha sang suami. Membuat Reeve sedikit tersentak dengan tindakan istrinya.
"Tenanglah, aku di sini. Kau jangan takut!" ucap Reeve sambil mengecup kening El. 'Akan aku bunuh kalian semua!' jerit Reeve dalam hati.
Meski pernikahan mereka lewat perjodohan yang Rose lakukan, tapi keduanya juga tak menolak pernikahan itu. Sekalipun tak ada cinta di antara mereka. Biarkan cinta itu tumbuh sendiri di saat yang tepat.
"El, kau baik-baik saja kan?" Reeve ikut merasa gelisah dalam dirinya, karena rematan tangan El di pahanya membuat ada aliran darahnya yang merasakan sesuatu hal yang sedang bergejolak dalam diri.
Elvira hanya menggeleng. Ia menahannya begitu kuat. Hingga membuat luka gigitan di bibirnya. Reeve yang mendongakkan kepala El, melihat setitik darah itu mengalir dari sana. Dengan air mata yang sudah tak lagi terbendung.
Tak tega melihat keadaan El yang seperti itu, Reeve menarik nafasnya dalam. "Hentikan mobilnya. Kalian berdua keluar, dan pergi hingga jarak tiga meter. Tunggu aku sampai menyuruh kalian masuk. Cepat!"
Hingga terjadilah, malam pertama mereka di dalam mobil.