Seperti biasanya Ara bangun pagi langsung mandi. Setelah selesai berpakaian rapi dan dirasa tidak ada yang kurang Ara menuju meja rias dan memoleskan mukanya dengan sedikit bedak setelah itu ia memakaikan lipstik warna pink untuk bibirnya dan itu membuat muka Ara terlihat natural dan tidak terlalu menor untuk riasannya. Habis itu Ara langsung pergi ke kantor menggunakan taxsi yang telah dipesannya. Ara hari ini tepat tiga tahun bekerja di perusahaannya itu, selama itu pula Ara bekerja dengan sangat baik dan bahkan dia sangat cepat dalam mengerjakan kerjaannya.
Sampai dikantor Ara langsung turun dari taxsi dan berjalan masuk kedalam kantor saat tiba dilobi ada yang memanggil namanya dan Ara pun langsung menoleh kebelakang dan ternyata itu Andrian teman sedevisinya.
"Ara kamu baru saja sampai kantor?"tanya Andrian.
"Iya Ian, kamu sendiri habis darimana?" tanya Ara balik.
"Ini tadi aku baru saja habis dari luar beli sarapan kebetulan tadi buru-buru berangkat kantor dan nggak sempat sarapan," ucap Andrian.
"Hemm begitu, kalau begitu ayo kita bareng keruangan,"ajak Ara.
"Iya ayo, ehh ngomong-ngomong kamu udah sarapan belum Ra, ini aku juga kebetulan beli makanan banyak kalau belum sekalian nanti kita sarapan bareng sebelum jam kerja,"ucap Andrian.
"Belum tadi aku juga buru-buru masuk kerja, soalnya takut nanti kena macet dijalan,"ucap Ara.
"Ya udah kalau gitu kita sarapan aja nanti bareng, kalau kamu ngerasa nggak enak lain kali kamu bisa traktir aku,"ucap Andrian.
"Ide bagus tu Ian,"ucap Ara.
Sampai didalam ruangan sudah ada Mira dan yang lain sedang mengobrol dengan yang lain, entah Ara sendiri juga nggak tahu karena Ara tahu kalau Mira juga suka bergibah kaya ibu-ibu tetangga sebelah rumahnya.
"Selamat pagi semuanya,"ucap Ara.
"Eh, Ara udah sampai, aku ada kabar baik untuk kamu,"ucap Mira
"Apa itu?"tanya Ara, menatap Mira dengan serius.
"BTW selamat buat kamu,"ucap Lina.
"Selamat buat apa sih Lin, aku kan lagi nggak ulang tahun,"ucap Ara, semakin tidak mengerti.
"Ihh bukan itu Ara maksudnya itu selamat kamu naik pangkat sebagai sekretaris dan bakal di pindah kerjakan ke Paris,"ucap Mira senang dan bahkan dengan sepontan Mira memeluk tubuh Ara.
"Hah kamu serius Ra, kok aku nggak tahu ya?" tanya Andrian.
"Iya beneran Ra, Lin yang kalian omongin itu?" tanya Ara memastikan jika apa yang dia dengar barusan itu tidaklah salah.
"Iya aku seriusan, tadi aku dengar dari HRD lagi ngomong sama seseorang aku juga nggak tahu dan mereka lagi bahas tentang kamu, dan kamu bakal naik pangkat tapi aku juga nggak tahu itu kapan bakal dikasih ke kamu yang pasti kamu bakal di pindah kerjakan ke Paris dan kita bakal berjauhan,"ucap Mira, terlihat sedih.
"Hah, seriusan aku bahagia banget akhirnya bentar lagi cita-cita gue bakal terkabul,"ucap Ara. Bahkan dia juga terlihat sangat bahagia jika itu terjadi.
Tiba-tiba ada orang masuk kedalam ruangan mereka, yaitu Amel HRD, ia berjalan mendekati Ara dan bilang ke Ara bahwa dia akan di pindah kerjakan ke Paris dan dia juga naik pangkat sebagai sekretaris CEO, "Ini ada file-file penting tentang pemindahan kerja dan ke naikan pangkat kamu nanti kamu tanda tangani kalau kamu setuju setelah itu kamu kasihkan ke saya lagi dan untuk keberangkatanya kamu tenang saja semua akan di urus oleh kantor,"ucap Amel.
"Ahh baik Bu terima kasih dan nanti akan saya kasihkan filenya ke Ibu lagi,"ucap Ara.
"Baiklah kalau begitu, saya permisi pergi dulu,"ucap Amel.
"Iya Bu baik," ucap Ara. Setelah kepergian Amel, Mira dan yang lainnya mendekati Ara.
"Tu, kan bener apa kata aku, dan aku bakal kehilangan Ara,"ucap Mira.
"Apaan sih Ra, kamu lebay deh, lagian kita juga masih bisa contekan sama Ara lewat telepon asal Ara nggak ganti nomor Hp saja,"ucap Andrian.
"Kalian tenang aja aku pasti ingat kalian kok,"ucap Ara, lalu memeluk mereka secara bersama.
"Sudah-sudah mending kita kerja udah jamnya kerja, aku sampai belum sempat sarapan deh gara-gara ngobrol muluk,"ucap Andrian.
Akhirnya mereka duduk ke bangku kerja mereka masing-masing dan menyelesaikan kerjaan mereka.
Diruangan kerja yang begitu sangat luas dan banyak hiasan-hiasan yang terlihat begitu sangat mahal terdapat seorang pria yang sedang duduk dan fokus dengan laptopnya, siapa lagi kalau bukan Dominic ia sangat gila kerja setelah istrinya meninggal, ia lebih banyak bekerja dari pada ia harus pulang kerumah. Melihat anaknya pun ia tidak menentu dia kerap kali melihat wajah anaknya pasti teringat pada sang istri yang sudah meninggal jadi Dominic sedikit agak menjauh dari anaknya padahal anaknya sudah berusia lima tahun yang dimana ia selalu menanyakan keberadaan ayahnya saat tidak melihat ayahnya dirumah, dan itu membuat mama Dominic pusing sendiri memperingati anak laki-lakinya itu agar ia memperhatikan anaknya, mau bagaimana lagi sang anak juga butuh kasih sayang dari orang tuanya, mamanya sudah beberapa kali membujuk Dominic tapi Dominic masih keras kepala juga.
Dominic yang sedang fokus dengan laptopnya tiba-tiba dibuyarkan dengan suara telepon dari mamanya, lalu ia pun segera mengangkat telepon dari mamanya itu.
"Iya halo ma, ada apa mama telepon?"tanya Dominic.
"Mama cuma mau kasih tahu sama kamu bahwa Keira hari ini mau mampir ke kantor kamu,"ucap mama Dominic.
"Keira siapa ma?"tanya Dominic.
"Masa kamu lupa Keira teman waktu kecil kamu, dia baru saja kembali dari Jepang,"ucap mama Dominic.
"Oh iya ma, Dominic baru ingat,"ucap Dominic datar.
"Ya sudah kalau gitu, mama hanya memberi tahu itu,"ucap mama Dominic.
Jam makan siang sudah tiba kini saatnya Ara dan yang lain istirahat untuk makan siang di kantin yang sudah disiapkan oleh kantor disana makanan gratis untuk semua karyawan dan bebas memilih menu yang akan mereka makan. Kini Ara sudah duduk paling pojok bersama yang lainnya dan mereka makan sambil mengobrol ringan.
"Ra, kamu jadi ambil?"tanya Lina.
"Jadi Lin ini kesempatan nggak datang dua kali, jadi aku ambil saja, lagian disini juga nggak ada keluarga yang aku tinggalkan jadi aku bisa pergi dengan tidak ada gangguan atau kekhawatiran,"ucap Ara.
"Semoga nanti di Paris kamu betah dan satu lagi jangan lupain kita sering-sering hubungi kita,"ucap Lina.
"Iya itu pastilah,"ucap Ara.
"O, ya Ra lupa ngomong-ngomong aku belum ngucapin selamat. Selamat ya Ra atas ke naikan pangkat kamu. Gimana kalau kita rayain dengan makan-makan direstoran tempat kita sering makan bareng,"ucap Andrian.
"Wah ide bagus itu aku setuju, gimana kalau malam minggu atau malam sabtu kita rayainnya,"ucap Mira.
"Malam minggu saja, lagian kalian juga nggak ada yang punya pacar kan, dari pada bete malam minggu nggak jalan atau nggak ada yang di ajak jalan,"ucap Andrian.
"Iya aku juga setuju malam minggu saja,"ucap Lina.
"Kalau aku sih nurut sama kalian nanti aku traktir sepuasnya,"ucap Ara. Mereka pun mengobrol sambil menghabiskan makan siang mereka sampai jam istirahat makan siang habis dan mereka pun balik keruang kerja.
Hari ini Ara libur kerja jadi ia akan bangun siang dan bermalas-malasan, jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi tetapi Ara masih belum juga bangun dari tidurnya. Tiba-tiba handpone Ara berbunyi pertanda ada yang menelponnya, dia pun bangun dan menerima telepon.
"Iya hallo Mira ada apa pagi-pagi sudah telepon saja," ucap Ara sambil mengucek-ngucek matanya.
"Ini sudah siang Ra, sudah mau jam sepuluh juga," ucap Mira dari seberang telepon.
"Hemmm iya ya deh aku nggak mau berdebat sama kamu, kamu telepon ada apa?" tanya Ara.
"Jalan-jalan yuk lagian sebentar lagi kamu juga mau pergi ninggalin kita mana jauh banget lagi," ucap Mira.
"Hah jangan kaya orang susah kamu deh Mir kamu kan anak orang kaya, kamu mau pergi kemana saja juga bisa tanpa kamu harus bekerja dan lagian kamu kenapa kerja di perusahaan orang bukan perusahaan orang tua kamu," ucap Ara.
"Aku hanya ingin belajar lebih banyak nanti kalau sudah siap baru aku mau bekerja di kantor papa aku dan siap menggantikannya," ucap Mira.
"Gue dukung keputusanmu," ucap Ara.
"Makasih Ra, memang loe, sahabat terbaik gue. O, ya jangan lupa nanti gue jemput kita jalan-jalan mending loe sekarang mandi," ucap Mira.
"Iya bawel, ya udah ya, gue mau mandi dulu," ucap Ara lalu memutuskan sambungan teleponnya dan bergegas untuk segera mandi.
Ara keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di badannya ia menuju lemari untuk mencari baju yang akan ia kenakan hari ini. Ara mengambil dress warna kuning bermotif bunga lalu ia memakai terlihat sangat cantik di pakai oleh Ara.
setelah itu Ara make up, cukup dengan menggunakan bedak tipis-tipis dan lipstik warna pink agar terlihat natural karena kulit yang di miliki Ara sudah putih jadi tak perluh memakai yang berlebihan.
Setelah itu ia menunggu kedatangan Mira yang katanya mau datang menjemputnya, Ara memainkan handponenya, ia melihat-lihat di IG nya banyak teman sekolah SMA dan kuliah sudah menikah, Ara ingin seperti temannya mendapatkan pendampin dan menikah hidup bahagia dengan keluarga kecilnya.
Mira sudah sampai di tempat Ara ia membunyikan klakson mobilnya agar Ara tahu bahwa dia telah sampai, Ara keluar dari dalam rumahnya tak lupa ia mengunci pintunya. Ara berjalan kearah mobil dan masuk kedalam, Mira pun melajukan mobilnya meninggalkan pelataran rumah Ara.
Sepanjang perjalan yang tidak terlalu ramai oleh kendaraan sehingga tidak macet, Ara dan Mira mereka mengobrol dengan sangat asyik.
"Ra kapan kamu mau nikah?" tanya Ara.
"Hah! loe ada-ada aja deh Ra, loe tahu sendiri gue nggak punya pasangan terus mau nikah sama siapa juga," ucap Mira menoleh ke samping sambil tersenyum.
Hari ini mereka benar-benar menghaniskan waktunya seharian untuk jalan-jalan dan belanja, biasanya Ara yang suka berhemat bahkan hari ini belanja banyak mulai dari baju, tas, high heels dan sepatu dan tentunya yang membayar semua Mira karena Ara di larang untuk membayarnya sendiri oleh Mira. Mira bilang jika ini adalah hadiah kenang-kenangan untuk Ara karena memang Ara akan pergi ke Paris dan entah kapan mereka akan bertemu.
Mereka baru pulang pada malam harinya, mereka pulang larut malam sehingga membuat Mira harus menginap di rumah Ara karena tidak memungkinkan untuk pulang ke rumah, apa lagi mereka juga baru kembali dari club malam. Ya, selain bekerja mereka juga sering menghabiskan waktunya di club malam walau di negaranya ini di bilang haram atau apalah namun bagi mereka pergi ke club malam adalah sebagai hiburan.
Pagi ini Ara sudah berada di bandara, dia diantarkan oleh Mira dan yang lainnya, bahkan sesekali mereka juga berpelukan sebelum Ara pergi. "Aku harap kamu akan baik-baik saja di sana Ara dan tidak melupakan kami semua yang ada di sini," ucap Lina sambil mengusap air matanya yang sejak tadibkeluar terus menerus.
Ara tersenyum, dia menganggukkan kepalanya, "Pastinya aku tidak akan pernah melupakan kalian. Jadi kalian jangan pernah bersedih dan harus tersenyum, tentunya kalian juga harus semangat bekerja," ucap Ara, sungguh dia juga sebenarnya berat meninggalkan sahabatnya di sini tapi ini adalah impiannya dan kesempatan belum tentu datang kedua kalinya.
"Tentu saja Ara, jika nanti kamu sudah sampai di sana jangan lupa kabari kami dan aku harap kamu juga jaga kesehatan di sana," ucap Andrian yang sedari tadi hanya menatap ketiga wanita saling berpelukan.
"Ya, terima kasih Andrian, tolong jaga Mira dan Lina," ucap Ara, sedangkan Andrian hanya tersenyum dan mengangguk, tanpa Ara bilang dia akan menjaga Mira dan Lina karena bagaimana juga mereka adalah sahabat, bahkan sebelum Ara bergabung di devisi mereka.
Penerbangan menuju Paris membutuhkan waktu yang sangat lama, Ara menggunakan waktunya untuk istirahat. Di Paris nanti Ara sudah di siapkan satu apartemen yang akan dia tempati nantinya selama bekerja di sana, bahkan nanti saat tiba di sana nanti Ara juga akan dijemput oleh seorang sopir yang sudah disiapkan oleh Dominic, bagaimana juga Dominic akan memberikan yang terbaik untuk karyawannya namun apa yang dia berikan tentunya harus ada kerja dibalik itu semua. Jika semuanya disepelekan maka Dominic tidak akan segan memecat karyawannya tanpa terhormat karena telah disepelekan atau penghianatan, di situlah Dominic tidaklah suka.
Dominic saat ini berada di sebuah hotel bersama dengan seorang wanita bayaran, entah kenapa hari ini dia mengingkanya sehingga dia menyuruh orang kepercayaannya untuk mencarikan seorang wanita bayaran untuk menemaniya. Namun sampai saat ini Dominic masih duduk di sofa dan menatap seorang wanita yang duduk tidak jauh darinya, bahkan wanita itu yang sedang ditatap oleh Dominic, tersenyum bahkan sesekali menggoda Dominic dengan bibirnya akan tetapi Dominic hanya menatapnya dalam diam.
"T-tuan," panggil wanita itu sehingga menyadarkan Dominic.
"Ya, kenapa? Apa kamu butuh sesuatu atau kamu mau makan sesuatu?" tanya Dominic, akan tetapi wanita itu menggelengkan kepalanya dan tersenyum pada Dominic.
"Tidak tuan, akan tetapi tadi tuan terlihat melamun saja dengan menatapku," ucapnya.
Dominic pun mengangguk dan mengalihkan padangannya ke arah lain, dia menghela nafas panjangnya. "Apa yang bisa kamu lakukan?" tanya Dominic.
"Apa pun yang tuan minta saya akan melakukannya dengan baik," ucapnya tersenyum.
"Kalau begitu lakukan segera," perintah Dominic, dan saat itulah wanita bayaran itu beranjak dari duduknya, dia berjalan mendekati Dominic dan siap melakukan pekerjaannya sebagai wanita bayaran. Wanita itu duduk berjongkok di depan Dominic, dia juga melepaskan ikat pinggang Dominic dan sesekali dia menatap ke atas menatap wajah Dominic yang begitu tampan, dia memulai semuanya dan membuat Dominic merasakan nikmat dari apa yang dia lakukan.