Bab 1

Ruangan makan ini telah diisi oleh berbagai kudapan terbaik, beberapa pelayan yang menunggu bahkan telah aku usir satu persatu dari tempat ini meskipun mereka agak ragu meninggalkanku sendirian. Ya, diruangan ini aku untuk pertama kalinya mencoba merendahkan diriku dan mengajak suamiku untuk paling tidak minum teh bersama setelah tiga tahun pernikahan kami. Kurasa aku perlu meluruskan banyak kesalahpahaman diantara kami berdua.

Tak perlu waktu lama, tepat seperti yang memang kuharapkan, objek yang kutunggu tiba. Pria dengan ekspresi muka dingin khasnya membuka lebar-lebar ruang makan yang sudah aku tempati kurang lebih dua jam lalu demi menantinya. Suara sepatunya bergema didalam ruangan.

"Aku dengar selagi aku pergi. Kau berani membawa seorang pria lain kekediamanku?" Bahkan saat aku mendengar suara dingin yang menusuk itu menggaungkan tuduhan aku tidak bergeming sama sekali, kepalaku agaknya berat untuk sekadar kugerakan melirik kebelakang dan menyapa kehadirannya meskipun faktanya akulah yang mengundangnya kemari. Jangan harap kau akan mendengar pria ini memanggilku dengan sebutan yang seharusnya. Dia sudah membenciku sejak awal pernikahan kami.

Dia menutup dirinya rapat-rapat dariku, dan membuatku sebagai penghuni rumah yang tidak diinginkan dikediaman yang semestinya memberiku kebahagiaan berlimpah.

"Aku sesungguhnya tidak mengira bahwa penantianku selama dua jam menunggu akan mendapatkan tuduhan semacam itu dari suamiku sendiri," balasku ringan. Tatap mataku tegas padanya dan dia pun sama. Sesungguhnya ini bukanlah jenis pembicaraan yang ingin aku ujarkan padanya. Ada hal yang lebih mendesak yang perlu aku sampaikan.

"Jadi bagaimana, kau menikmati pria itu? sungguh mengecewakan kupikir kau adalah wanita terhormat mengingat statusmu adalah seorang putri," ujarnya lagi.

Kali ini dia bahkan sepertinya memang sengaja untuk menghinaku lebih jauh lagi.Obrolan ini tidak baik. Bahkan sebelum dimulai kami berdua sudah saling menyakiti seperti ini. Dia seperti seorang pria gila dimataku. Ya, pria yang terbakar cemburu buta yang sedang mengeluh pada kekasihnya. Tetapi mana bisa ilusi itu aku percayai? sejak awal pria ini hanya terpaku pada satu wanita. Bahkan setelah pernikahan kami pun hatinya kurasa masih dimiliki seutuhnya oleh wanita itu. Dan apa dia pikir dia berhak mengatakan hal seperti itu? tentu tidak.

“Kau sama saja dengan keluargamu. Berpura-pura ramah tamah namun sebenarnya ada kebusukan dari wajahmu sekarang. Hah.. apa kau sedang menghinaku dengan tatapan tanpa ekspresimu itu?” kata-katanya memprovokasi. Ketenanganku mulai robek hingga titik dimana aku tidak bisa lagi bersabar menghadapi kata-katanya yang malah makin tidak karuan. Aku tahu dia membenci keluargaku, karena itulah aku ingin memanggilnya kemari. Tapi kenapa dia bahkan tidak memberikanku kesempatan bicara dan malah membuat kesimpulan seenaknya?

"Katakan saja apa yang kau benar-benar ingin kau sampaikan padaku Zhepyr! Terus terang aku tidak mengundangmu untuk membicarakan omong kosong seperti ini," Dan tepatnya niat awalku mengundangnya seketika hancur lebur. Aku bahkan tidak yakin apa yang berada didalam kepalaku saat ini. Mendengarku balas menjawab apa yang dia katakan, pria itu nampak mengatupkan bibirnya.

"..." tidak ada suara. Kenapa dia perlu berpikir jika sesaat yang lalu dia bahkan telah berhasil menghinaku?

"Kau tidak perlu terlihat berpikir terlalu keras seperti itu didepanku," balasku lagi karena aku tidak kunjung mendapatkan apa yang aku tunggu dari Zhepyr. Tanpa kuduga pria itu tertawa. Suaranya menggema, sangat lepas. Apa ada yang lucu disini?

"Oke, baiklah aku akan memberikanmu waktuku yang berharga untuk menemanimu minum teh bersama. Seperti undangan darimu yang mampir dimeja kerjaku." Pria itu lalu duduk di meja sebrang. Jarak yang terlampau jauh untuk status kami yang terlampau dekat. Aku tertawa pula menanggapi perkataan pria itu. Aku akan menganggap perkataannya barusan adalah sebuah lelucon paling lucu abad ini. Dia terdiam, sebagai gantinya malah mengerutkan kening.

"... Kenapa kau malah tertawa?" tanya pria itu kali ini dengan ekspresi yang terlihat cukup bingung atas tanggapanku yang terkesan membuat segalanya tidak serius. Aku rasa sekali lagi aku membuat hubungan kami semakin memburuk. Dia tidak bisa memahamiku, begitupun aku yang kesulitan menyesuaikan diriku dengannya. terlanjur banyak kesalahpahaman yang menumpuk diantara kami.

"Aku hanya ragu dengan ketulusan dari kata-kata yang kau ujarkan barusan, Jika kau tidak punya waktu dan niat aku lebih suka kau menolaknya," tandasku.

Tentu saja, setelah tiga tahun menikah dan diabaikan. Selama itu pula aku berjuang keras berada di mansion pria ini untuk menyesuaikan diriku dari beberapa gangguan sialan yang berusaha untuk menekanku dari segala arah. Meskipun fakta bahwa aku dahulu adalah mantan seorang putri. Tidak ada yang peduli soal status itu bahkan mereka mengabaikannya bahkan sebagian besar dari mereka menggunakan kesempatan itu untuk semakin mengusikku di pergaulan atas yang kerap diadakan tiap minggunya.

Kehadiranku disana akan menjadi bulan-bulanan. Entah itu mengejek statusku yang sekarang tidak lagi berada ditahta, juga mengejekku yang diabaikan oleh suamiku sendiri. Beserta kabar perselingkuhan Zhepyr yang menyebar layaknya api membakar kayu bakar. Tentu dari semua hal yang sudah aku hadapi dibelakang. Aku sudah cukup memikirkannya, dan kurasa mulai detik inilah aku perlu membuat sebuah keputusan besar.

Hanya aku yang mempertahankan pernikahan ini, dan pria ini jelas tidak. Bahkan sejujurnya aku memang cukup terkejut dengan lingkungan baru yang kutempati. Aku sama sekali tidak menemukan keramah tamahan yang biasa aku dapatkan ketika aku masih berada diistana meskipun aku tahu bahwa itu hanyalah sebuah formalitas semata. Disini semua orang memang jujur dan terbuka. Tapi nyaris untukku tempat ini bagai neraka.

Setelah berjuang memperbaiki imageku dan mengubahnya hingga sampai titik mereka menghormatiku. Terus terang aku sangat mengapresiasi diriku karena bisa tetap waras ditempat ini meskipun sejujurnya ada keinginanku untuk bunuh diri dan semacamnya.Selama tiga tahun pula aku yang benar-benar naif diperlakukan buruk sekaligus diabaikan oleh pria yang adalah suamiku sendiri. Pria yang kupikir dahulu sebagai seorang pria yang berperangai baik. Tapi tidak! Semuanya tidak sesuai dugaanku. Itu hanyalah mimpi disiang bolong yang dibumbui rasa cinta murni seorang gadis muda yang masih polos untuk pertama kalinya.

"Apa kau sedang mencoba untuk menyalahkan segala hal padaku padahal kenyataannya adalah salahmu sendiri yang tidak kompeten dan tidak becus beradaptasi dengan kondisi baru? hah.. Aku sudah tahu, kau yang memang terlahir dari keluarga kerajaan dan dibesarkan dengan manja tidak akan bisa mengerti akan realita yang ada!"

Aku mengerutkan keningku. Dibesarkan dengan manja? tanpa sadar kedua tanganku mencengkram hingga kedua bukunya memutih. Sering sekali kudapati kalimat itu, mereka dirumah ini juga seenaknya menjustifikasi hidup dengan baik di istana, padahal mereka tidak tahu apa saja yang aku alami disana. Bajingan!

"Silahkan diminum tehnya," kataku setengah memerintah. Memotong perkatan panjang yang ditelingaku hanya kuanggap sebagai sebuah omong kosong belaka. Pria itu tiba-tiba menatapku dengan cara yang mengerikan. Tatap mata itu benar-benar mengindikasikan sebuah kecurigaan besar padaku.

"Tidak, aku tidak ingin makan apapun yang kau hidangkan untukku," katanya secara tegas menolak. Apa setelah memberikanku tuduhan selingkuh, lantas dia juga menuduhku hendak membunuhnya? Dasar gila!

"Apa lagi yang perempuan itu katakan soal aku padamu? apa dia bilang kau harus berhati-hati dan bahwa aku menaruh racun dalam teh mu dan sebagainya?" kataku yang seolah-olah menyadari sesuatu dari suara Zhepyr yang merendah. Pria itu lalu tiba-tiba memasang senyumannya. Senyuman menyindir yang jelas sekali ingin menempatkanku dalam sebuah situasi sempit dan terdesak. Dia betulan mencurigaiku rupanya.

"Apa yang kau katakan?” katanya sedangkan aku masih dengan tegas menatap kearah matanya. Kemudian sekali lagi dia kembali memberikanku sebuah senyuman mengintimidasi lainnya. “Oh apa itu benar? beginikah caramu untuk menyembunyikan kejahatan? kau selalu membawa orang lain dalam pembicaraan kita?" Imbuhnya yang tiba-tiba saja terpancing ketika aku membawa kata perempuan itu dalam pembicaraan ini. Zhepyr yang kukenal dahulu tidak seperti ini. Persisnya berbeda sekali seperti detik ini. Dia benar-benar tidak kukenali lagi. Pria yang menjadi cinta pertamaku ini sudah hilang.

"Rumah tangga kita terlalu ramai," ujarku terus terang. Bagiku hal ini terlalu lama untuk dibiarkan. Aku sudah berada dalam ambang batas kesabaran. Apalagi yang perlu aku maklumi? Aku sudah lelah berpura-pura bodoh dan tidak tahu. Untuk apa dia menikahi aku bila didalam hatinya ada perempuan lain? aku masih tidak mengerti sama sekali alasan mengapa dia mempertahankan pernikahan kami sedangkan hatinya tidak sama sekali untukku?

"Apa sekarang kau berencana untuk melukai Charty? Kau benar-benar wanita yang kejam Davira!" Akhirnya namaku dan nama perempuan itu terselip dari bibirnya sendiri. Tanpa ragu, tidak bertingkah hendak menyembunyikan hubungan mereka lagi.

Charty, ya nama itu sempat kudengar satu hari sebelum pernikahan kami. Perempuan yang kuketahui sebagai cinta pertamanya setelah rumah tangga kami berlangsung selama hampir setahun. Perempuan yang aku ketahui memiliki kasta yang bahkan tidak jelas. Perempuan itu terlalu mengganggu dan dia bahkan sejauh ini mencoba untuk mengusikku. Padahal kalau tidak salah perempuan bernama Charty itu sudah bersuami, kenapa dia masih menggoda suamiku?

"Itulah yang kau percayai dari perempuan itu, karena kau bahkan tidak pernah sekalipun mencoba untuk memahamiku," sahutku. Tuduhan yang dia lontarkan sudah semakin tidak masuk akal. Semuanya semakin rumit. Aku tidak bisa lagi membawa pembicaraan ini pada topik yang sesungguhnya.

"Untuk apa aku memahami perempuan iblis sepertimu?" balasnya tanpa ampun.Aku tanpa sadar menggigit bibirku sendiri akibat dari tanyanya yang benar-benar seolah menyumpahiku.

Disituasi saat ini aku sedang mencoba untuk menekan emosi yang sesungguhnya sangat meluap-luap, tapi kurasa dia tidak akan mengerti. Sadar akan hal itu aku memilih untuk menyerah. Tidak ada gunanya lagi bagiku untuk bersikap baik padanya, tidak ada manfaatnya bagiku untuk terus bersabar dan menahan emosiku sendiri seperti ini.

Ketika semua keheningan mendominasi diantara kami. Lantas aku berdiri dari tempatku, sedikit demi sedikit mendekati tempat suamiku. Tanganku meraih cangkir teh didekatnya. Meminum teh yang sudah dingin didekat Zhepyr sambil melihatnya dengan mata penuh tantangan. Aku sadar betul bahwa apa yang aku lakukan ini bukanlah manner seorang putri, tapi setidaknya sebuah gertakan yang aku lakukan didepannya cukup membuat pria itu menyaksikan secara langsung sebuah drama yang kusajikan didepan matanya. Pembuktian atas tuduhannya yang tidak berdasar bahwa aku menaruh racun di dalam tehnya. Mata pria itu membelalak lebar. Dia mungkin terkejut atas ulahku.

"K-Kau—"

Usai menenggak habis teh tersebut aku meletakan cangkirnya kembali diatas meja hingga menimbulkan bunyi yang bergema keseluruh ruangan. Posisiku saat ini masih tetap berdiri didepannya yang belum bergerak dari posisi duduknya. Tatapku tajam, kali ini aku tidak akan berusaha mengurungkan niatanku lagi.

"Besok tanda tangani surat perceraian kita!" kataku lantang. Kedua kakiku melangkah dengan elegan meninggalkan pria itu menganga dengan statment yang baru saja dikatakan. Aku sudah tidak lagi memiliki penyesalan. Sebab melepas Zhepyr tidak berarti bahwa aku kehilangan segalanya. Aku lebih memilih memulai segalanya dari awal daripada harus melanjutkan hidup dineraka yang dia buat untukku lebih lama.

Bagaimana reaksi keluargaku?

Bagaimana reaksi mertuaku?

Persetan dengan semua itu. Aku hanya benar-benar ingin bebas dari neraka ini secepatnya.

Tapi kenapa didalam hatiku justru malah terdapat rasa ngilu yang hebat? mengapa ada air mata yang perlu tumpah untuk seorang pria brengsek macam Zhepyr yang bahkan dengan terang-terangan telah mengundang seorang perempuan kedalam rumah tangga kami yang memang sudah berada diujung tanduk?

Ah... aku benar-benar menyedihkan. Hatiku basah kuyup. Sampai akhir kupikir Zhepyr paling tidak akan menolaknya. Tapi diamnya pria itu membuktikan bahwa aku memang hanyalah barang kepemilikan baginya. Aku yang berpura-pura kuat telah kehilangan topengnya. Malam ini aku meraung. Malam ini aku ingin menghancur leburkan seluruh kekuatanku. Aku perlu berduka untuk pernikahanku yang usai, dan juga rasaku yang harus terpaksa dihilangkan.Aku akan menanggungnya, meskipun dalam sudut pandangnya adalah aku akan menjadi seorang penjahat seumur hidupku. Perempuan paling tidak tahu diri abad ini. Aku tidak peduli sama sekali, karena sudah cukup bagiku untuk merasakan seluruh rasa sakit ini.

"Zhepyr aku mengutukmu!" Aku terpuruk dilantai, terisak. Sudah tidak mampu lagi rasanya mengendalikan diriku sendiri.

"Aku mengutuk waktuku dimasa lalu yang pernah mencintaimu, terkutuklah kau yang menyakitiku dengan cara ini." Sebab bila aku bertahan maka rasanya akan semakin menyakitkan. Aku tidak bisa memastikan diriku bisa tetap waras bila terus memaksakan.Apakah hidupku akan berbeda jika saja aku tidak setuju untuk menikahi pria itu?

Bab 2

Aku dan Zhepyr sejak semula memang menikah bukan atas dasar cinta. Itu merupakan hal biasa dalam politik keluarga kerajaan dan bangsawan. Hari pernikahan kami juga dihelat sebagaimana mestinya meskipun tidak semewah seluruh pernikahan seorang putri raja pada umumnya. Tapi aku tidak perlu harus terlalu kecewa atas hal ini, mengingat situasi dan kondisi. Aku memang tipe yang cukup pengertian untuk beberapa hal. Mempermudah segalanya untuk oranglain itu jauh lebih membuatku tenang ketimbang harus merengek untuk diberi keistimewaan.

Ketika untuk pertama kalinya kami bertemu dan saling berhadapan, tidak ada praduga apapun selain daripada pemikiran-pemikiran tak masuk akal yang berseliweran dikepala. Harusnya saat itu aku lebih peka memaknainya sebagai sebuah firasat. Tapi aku sayangnya terlalu bodoh dan naif saat itu untuk menyadari pentingnya arti kata intuisi.

Aku sudah terlanjur terdistraksi oleh ketampanan Zhepyr. Pria itu punya fitur wajah yang unik dengan mata berwarna abu-abu sebagai ciri khas yang tidak bisa dihilangkan sebagai pesona sekaligus juga aib bagi dirinya. Sebab mata itu bukanlah mata dari seseorang yang berasal dari darah murni keluarga duke yang kini menjadi rumah tempat dia tinggal. Aku dengar usianya baru dua puluh lima tahun kami berusia setara. Namun sosoknya benar-benar jauh lebih mencerminkan kedewasaan melebihi usia yang sebenarnya. Ada suasana asing yang aku temukan hanya dengan melihatnya.

Aku ada didepannya seperti ini, bukankah sebuah keberuntungan besar? Ibu pengasuhku kerap bercerita bahwa beberapa pasangan menikah tidak berdasarkan cinta. Ya, beberapa mereka hanya menikah karena salah satu diantaranya mencintai pasangannya. sementara yang lain tidak. Ketika aku berpikir bahwa adalah sebuah fakta pria ini melamarku, aku sempat mengesampingkan fakta lainnya dan lebih suka percaya bahwa pria ini datang padaku karena cinta.

"Apa dia akan menyukaiku seperti aku menyukai dia?" Itulah hal yang aku katakan dalam hatiku.Sebab aku selalu berpikir bahwa cinta sejati adalah cinta yang dipersatukan oleh ikatan pernikahan. Dan sebagai seorang putri, aku juga tidak pernah memiliki waktu untuk bercengkrama dengan pria. Oleh sebab itu aku selalu punya prinsip bahwa pria yang menikahiku berarti dia juga mencintaiku. Pemikiran yang polos memang, tapi itulah yang ada di dalam pikiranku saat itu.

Diakhir ikrar janji suci, aku tidak lagi dapat mengendalikan diri untuk menahan rasa penasaran lebih lama. Terlebih ketika pria itu meraih tanganku sebagai bentuk kami telah dipersatukan secara sah dimata hukum dan negara. Saat mata kami bertemu satu sama lain, sekali lagi jantungku berdetak lebih cepat. Aku benar-benar butuh banyak keberanian untuk dapat menerima genggaman tangan dari orang asing seperti ini. Namun, meski begitu aku sangat menyukai seluruh desiran dan reaksi tubuhku yang dihasilkan hanya dari sentuhan pria ini saja. Dia seperti seorang magician.

"Saya bertemu Anda untuk pertama kali hari ini, lalu kita kemudian menikah seperti ini.Saya rasa itu adalah sebuah keberuntungan yang tidak dapat saya sangkal." Pada akhirnya aku mengujar demikian terhadap dia. Sebuah pengakuan yang terbilang memalukan tapi entah mengapa sanggup aku lakukan.

Namun, reaksi yang aku dapati tidak terlalu sesuai harapan. Tidak ada jawaban apapun dari pria itu selain hanya tatapan mata yang mengarah ke satu direksi. Sehingga aku kemudian tergelitik untuk mengikuti arah pandang pria itu yang Nampak fokus memperhatikan keramaian, yang dimana saat itu adikku Volker maju ke depan podium khusus tempat dimana aku dan Zhepyr menerima pemberkatan dengan segelas anggur ditangan. Kedatangannya sebagai calon putra mahkota dimasa depan cukup mencolok masa.

"Para hadirin sekalian terimakasih telah datang ke acara pernikahan kakak perempuanku. Dan seperti yang sudah anda sekalian ketahui, Sir Zhepyr berkontribusi banyak pada keluarga kerajaan sebab telah memberikan kami uang dan sebagai gantinya kami melangsungkan pernikahan ini sebagai sebuah janji kuat diantara dua keluarga," ungkap Volker dengan penuh kepercayaan diri.

Aku kontan melangkahkan kaki hendak menuju tempat dimana adikku berada dan membawanya turun dari podium. Bukankah ini bukan saat yang tepat baginya berkoar-koar disana? Tapi langkahku justru malah dicegat oleh Ibunda. Ada apa ini? apa terjadi sesuatu yang tidak aku ketahui ?

"Tentunya dengan uang yang kami dapatkan dari Sir Zhepyr kami dapat melunasi sebagian besar hutang ayah saya dari kegagalannya menjalankan kebijakan nasional. Namun dalam moment seperti ini saya juga ingin mengumumkan bahwa keluarga kerajaan resmi dibubarkan. Hal ini tentu saja mempertimbangkan dari beberapa aspek lainnya. Seluruh kekuasan sendiri akan dilimpahkan sepenuhnya ke pihak Legislatif. Itu berarti dengan sangat menyesal keluarga kerajaan akan kehilangan gelarnya." tutup Volker seraya mengangkat gelas anggurnya ke udara seolah menunggu sambutan dari semua orang.

Mendengar kata-kata yang Volker, seketika keheningan mendominasi. Aku bahkan tidak bisa mengatakan apa-apa karena bagiku itu lebih terdengar seperti omong kosong saja.Namun sialnya beberapa detik setelah itu tamu undangan mulai riuh memberi tepuk tangan. Mereka sangat menyukai gagasan Volker yang dinilai terlalu provokatif dan berani.

Sementara itu, disisi lain Zhepyr mengerutkan keningnya. Ekspresi wajahnya berubah menjadi keras. Pria yang berdiri sejajar denganku sebagai suami ini segera menjadi pusat perhatian semua orang. Bukan dalam konotasi yang baik, melainkan pandangan yang penuh cemooh. Melihat situasinya kurang lebih aku tahu apa yang ada dikepala pria itu sekarang.

Meski Zhepyr tidak berkata apapun, namun jelas sekali ada kemarahan yang tidak dapat semudah itu disembunyikan. Terlebih adikku sendiri yang menjadi pelaku dari tercorengnya muka Zhepyr dimuka umum. Zhepyr menggenggam gelas yang ditangannya hingga pecah belah. Warna merah darah serta alcohol bercampur menjadi satu.

“Z-zhepyr?” Aku berusaha menggapai tangannya yang terluka oleh pecahan kaca. Tapi pria itu menepisku dengan keras.

“Jangan sebut namaku,” ujarnya dengan nada tinggi. Aku yang diperlakukan secara kasar untuk pertama kalinya kini tidak tahu harus berbuat apa. Aku hanya sebatas bisa menutup mataku erat-erat.

Kejadian itu berlalu dengan cepat hingga aku tersadarkan bahwa pernikahan ini adalah jalan menuju pintu neraka. Apalagi saat Zhepyr meninggalkanku begitu saja di altar dengan sangat mudah. Tidak ada lagi kebahagiaan di pesta yang seharusnya dipenuhi oleh ucapan selamat dan cinta yang berhamburan diudara.

Ruang resepsi hanya tinggal diisi olehku saja sebagai mempelai wanita.Semua orang meninggalkan sisiku, tempat ini berubah menjadi ajang lain. Aku semakin menyadarinya begitu semua tamu berkerumun memberi pujian berlimpah pada Volker.

Dalam kondisi itu aku tahu jelas apa yang baru saja terjadi. Aku bisa memprosesnya. Di tempat ini, ada dua karakter yang baru saja di jatuhi hukuman sosial. Aku yang dikambing hitamkan, dan Zhepyr yang menjadi korban. Pernikahan kami benar-benar membuat banyak orang menahan napas.

Sementara segalanya makin kacau aku hanya bisa duduk dengan pandangan kosong. Apalagi saat pihak dari keluarga Zhepyr memberikanku pandangan kebencian yang jelas. Tentu saja itu adalah konsekuensi yang akan aku terima. Keluargaku memang sudah merencanakan itu. Dan aku adalah boneka marionet yang dijadikan sebagai tumbal untuk memenuhi kepentingan mereka saja.

"Pernikahan macam apa ini?”

Bab 3

Terlahir sebagai seorang perempuan itu berarti harus menerima keterbatasan. Keterbatasan dalam melakukan banyak hal, keterbatasan dalam mengemukakan pendapat. Bahkan rasanya untuk mendapatkan sebuah penghidupan yang benar-benar layak terlalu sulit untuk digapai. Meskipun hidupku dahulu pastinya akan sangat diimpikan oleh banyak pihak, terutama perempuan dari kalangan rakyat jelata. Namun kini posisiku sendiri tidaklah seberuntung itu. Sebagai seorang mantan putri aku banyak mengalami hal buruk.

Sesungguhnya aku justru mengalami tentang adanya cobaan dalam hidup secara terlambat. Hingga pernah aku berpikir untuk mati dan bereinkarnasi sebagai seorang pria dikehidupan berikutnya. Jika saja aku terlahir menjadi seorang pria, tentu aku akan memperlakukan istriku dengan baik. Aku juga akan menyayanginya dan memberinya banyak cinta yang berlimpah. Aku akan memastikan istriku tidak berakhir seperti nasib buruk yang kualami kini. Tapi itu hanya sebatas dikata seandainya.

Sebab di negeri ini hanya ada dua cara untuk mendapatkan penghidupan yang bebas.

Sebuah kesuksesan dalam mencari uang untuk kaum pria dan sebuah pernikahan untuk kaum wanita. Para wanita tidak memiliki pilihan lain selain itu. seolah hidup hanya digariskan untuk menikah atau mati tanpa pasangan.

Dua tahun telah berjalan dan bagiku itu merupakan sebuah waktu yang terlampau lama untuk bertahan dalam sebuah bahtera rumah tangga yang aku tahu tidak begitu bagus untuk dijalani. Aku telah salah memilih. Ah… tidak, lebih tepatnya aku sejak awal memang tidak pernah memilih menjadi wanita yang serta merta dinikahi oleh pria yang tampan dan berkuasa. Kondisiku disini adalah dipaksa untuk menikahi suamiku, tidak lebih dari itu.

Namun sial bagiku sebab ditengah fakta tersebut aku justru malah jatuh cinta terhadap sang suami hanya dalam sekali pandang saat upacara pernikahan kami berdua dihelat.

Setelahnya aku bisa menghitung jari keberadaan Zhepyr disekitarku. Pria itu selalu pergi semaunya tanpa menghiraukan keberadaanku sebagai seorang istri yang menantikan moment untuk bersama.

Mungkin akan normal bila kehidupan seperti ini terjadi secara bertahap. Namun sayangnya kondisi ini sudah berlaku sejak kami dipersatukan. Masih segar dalam ingatanku, ketika Zhepyr memboyong diriku untuk tinggal dirumah sang mertua. Usai dengan hal tersebut, pria itu bahkan dengan begitu teganya meninggalkanku saat malam pertama pernikahan kami dan baru kembali satu bulan kemudian. Hubungan kami begitu dingin.

Dalam dua tahun kebelakang ini suamiku bahkan hanya mengunjungi saat dia dipanggil oleh sang mertua. Itupun, Zhepyr tidak pernah meluangkan waktu untuk menemuiku atas dasar kemauannya sendiri. Aku tahu dia teramat membenci diriku. Aku sudah sangat sadar akan hal itu. Tapi meski Zhepyr membenciku. Aku sudah terlanjur mencintainya.

Bahkan seperti saat ini, begitu mendengar kabar bahwa dia berkunjung. Aku langsung menunggunya seperti orang asing yang putus asa didepan ruang istirahat suamiku. Sejatinya Aku tidak memiliki pengharapan muluk, aku hanya sebatas ingin bicara dengan Zhepyr saja.

Aku mengetuk pintu kayu mahoni besar didepan tubuhnya. Berkali-kali dia melakukannya, berharap Zhepyr keluar dari sana dan menatapku dengan hangat.

“Nyonya, Tuan bilang dia tidak ingin bertemu dengan siapapun,” ujar salah satu pelayan yang baru saja keluar dari ruangan.

“Saya ingin bertemu dengan suami saya.”

“Nyonya, tolong permudah pekerjaan saya dengan tidak keras kepala seperti ini.”

Suara keras yang menekankan penolakan dari para pelayan tadi seperti berupaya melakukan pencegahan dari pertemuan ini. Tetapi sebanyak apapun aku mendengar kata-kata itu keluar dari mulutnya Aku sama sekali tidak bergerak dari tempat.

Aku tidak peduli jika kembali dipersalahkan sebagai biang kerok keributan. Aku punya satu alasan yang membuatnya bersikukuh.

Aku takut dan membutuhkan Zhepyr. Hanya itu.

Ketika si pelayan mulai hilang kesabaran dan hendak memberikan tamparan. Pintu terbuka secara perlahan menimbulkan bunyi derit. Pelayan tadi langsung menepi, karena takut terhadap orang yang barangkali akan keluar dari sana. Sedangkan aku justru berbinar-binar tatkala menangkap siluet seseorang yang keluar dari ruangan. Sampai binar itu kemudian meredup dan menjadi sebuah kekecewaan besar. Sebab yang aku dapati sekarang bukanlah Zhepyr, suamiku. Melainkan Haekal, pria yang aku kenal sebagai asisten pribadinya.

“Saya ingin bertemu suami saya,” ujarku padanya ketika pria itu baru saja keluar dari ruangan.

Haekal menghela napas berat.

“Kami sedang ada pekerjaan Nyonya Davira. Harap Anda mengerti bahwa suami anda sedang sibuk saat ini.”

“Saya tidak akan menyita waktunya. Ini tidak akan lama,” balasku lagi dengan cepat.

“Tapi beliau membutuhkan konsentrasi tinggi untuk pekerjaan yang sedang dilakoninya. Saya harap Nyonya Davira tidak mengganggu dan membuat keributan disini.”

“Saya hanya ingin bicara, jadi tolong pertemukan saya dengan Zhepyr,” timpalku tegas.

Ketika kami berdua bersitegang, tiba-tiba dari belakang sudah muncul Zhepyr. Wajahnya nampak ditekuk dengan kedua alis menyatu. Dia terlihat terganggu dengan apa yang aku dan Haekal lakukan didepan ruang kerja pribadinya. Aku juga menyadari bahwa Zhepyr terlihat sedikit berantakan dibandingkan penampilan yang sering kulihat. Sepertinya Haekal tidak benar-benar berbohong mengenai Zhepyr yang sedang beristirahat.

Dia berjalan kearah kami dengan kondisi bertelanjang kaki, semua itu benar-benar tidak seperti Zhepyr yang biasa. Yang tersisa dari penampilan normalnya seorang Zhepyr adalah sorot mata yang dia berikan padaku. Tidak ada perubahan setitik pun. Dia selalu saja memandang diriku dengan penuh amarah sekaligus rasa jijik padahal aku bahkan tidak melakukan apapun padanya. Aku tidak pernah menyakitinya.

Saat kami berdua bersitatap, saat itu pula aku menggunakan seluruh keberanian yang kumiliki untuk menatap mata itu pula. Tak hanya sampai disitu aku juga mengarahkan kedua kaki untuk mendekati sang suami yang enggan mendekat padaku lebih dulu.

“Saya ingin bicara,” ujarnya lagi pada Zhepyr secara langsung. Aku sejak awal memang sudah bertekad untuk ini.

“Kau tidak dengar apa yang dikatakan oleh Haekal? Aku sedang bekerja. Tidak bisakah kau mengerti itu?” Suara yang keluar dari mulut Zhepyr jelas nampak sangat risih.

“Saya ingin Anda menemani saya ke pesta minum teh yang diadakan oleh ibu mertua besok. Saya mohon tolong luangkan waktu anda,” pintaku dengan jelas.

“Kau tahu kalau aku ini orang yang sibuk. Besok aku ada perjalanan bisnis yang penting.” Aku sudah menduga akan penolakan ini. Padahal tidak perlu memandangku sebagai istrinya bila itu terlalu sulit. Tapi minimal aku berharap suamiku ini masih memiliki sisi empati sebagai seorang manusia.

“Tidak bisakah Anda tidak pergi? Bila Anda tidak bisa membatalkannya paling tidak bisakah Anda datang terlambat satu hari?”

“Kali ini aku akan kembali dalam satu pekan.” Jelas itu bukan jawaban yang Aku inginkan. Zhepyr seperti sengaja menulikan telinganya untuk mendengar apa yang aku katakan. Zhepyr memang pria berhati dingin.

“Anda bisa menundanya bukan? Saat ibu Anda sakit anda pernah melakukannya. Apakah Anda tidak bisa melakukannya untuk saya? Saya meminta tolong pada Anda dengan sangat,” pintaku sekali lagi.

Sungguh, bayangan mengerikan soal jamuan teh yang diadakan oleh sang ibu mertua sudah menghantui. Aku sadar bahwa diriku ini sudah ada pada batasnya untuk mendengarkan cela dari para tamu yang diundang dalam acara tersebut setiap bulannya.

“Kau kan bisa bilang kau sakit,” ujarnya remeh.

“Jika semudah yang Anda katakan, tentu saja saya tidak akan mungkin datang dan memohon kepada Anda seperti yang sedang saya lakukan.” Kali ini Aku sudah sangat putus asa.

Aku mencoba untuk memohon sembari memegang tangan suamiku dengan seluruh jemari yang bergetar hebat. Meski diriku tahu mengemis begini pada Zhepyr bukan pilihan terbaik, namun tetap saja aku tidak memiliki opsi lain.

“Aku! Kurasa kau sudah melebihi batasmu!”

Benar saja, suara pria itu langsung menggelegar, bahkan Zhepyr sampai hati mendorong tubuhku agar menjauh darinya. Untung saja aku masih memiliki cukup keseimbangan sehingga tidak langsung jatuh didepan semua orang. Aku mencoba untuk tetap bertahan, meskipun hatiku tidak.

Seluruh pelayan yang ada disana nampak terdiam. Mereka mengalihkan perhatiannya kearah lain dan kemudian pura-pura sibuk. Dimarahi dihadapan pelayan adalah sebuah kehinaan lain. Aku yakin bahwa mereka semua yang melihat kejadian ini telah menyiapkan seribu macam skenario yang siap untuk disebarkan melalui mulut ke mulut. Aku ini bukanlah perempuan yang buta untuk tahu bahwa hubunganku dan Zhepyr memang selalu menjadi buah bibir dimanapun. Aku juga meyakini bahwa mereka saat ini pasti menganggapku sebagai perempuan gila yang sedang cari perhatian pada suami sendiri. Selain itu fakta bahwa aku tidak dicintai Zhepyr juga sudah menjadi rahasia umum di mansion ini.

“Apa kau tahu berapa banyak uang yang sudah aku berikan untuk membawamu kemari? Apa kau tidak setidak tahu diri itu masih memintaku untuk menenamimu saat kau tahu aku sibuk? Apa kau berpura-pura bodoh dan tidak tahu bahwa yang kau lakukan sekarang hanya membuang-buang waktu berhargaku untuk beristirahat setelah dua tahun lamanya ini aku bekerja keras untukmu?! Aku sudah memberikanmu banyak uang untuk membeli status kebangsawanan yang keluargamu janjikan. Tapi kenyataannya kau malah menjadi beban baru untukku. Sebab mereka menipuku dan juga mempermalukanku didepan semua orang saat pernikahan kita. Bisa-bisanya kau tidak tahu diri begini!” Zhepyr berkata, suaranya terdengar jengkel dan keras. Seolah belum puas hanya dengan memarahinya dengan sedikit kata. Dia selalu membawa persoalan masa lalu untuk dijadikan senjata guna menghakimiku seperti ini.

Aku hanya bisa menerima konsekuensi sejak memutuskan menjadi tumbal demi keluarga.

“Saya tahu tentang hal itu, tapi Anda—”

“Kalau kau tahu harusnya kau gunakan otakmu itu. Paling tidak pikirkan caranya untuk tidak merugikanku lebih dari ini. Bayar uang yang telah kau ambil, atau berikan aku status yang kau janjikan. Kalau kau tidak bisa melakukan keduanya. Kau hanya perlu tutup mulut sampahmu itu!”

Aku kini sudah terlanjur tidak punya muka. Harga diri yang telah aku junjung tinggi dan miliki memang sudah diinjak semenjak aku dan Zhepyr mengucap janji ikrar dihadapan penghulu saat hari pernikahan kami. Karena itu, aku memaksakan diriku sekali lagi untuk membujuknya. Aku kembali meraih kedua tangan suamiku. Menggenggamnya dalam keputus asaan berharap dengan itu dia bisa sedikit peduli. Aku bahkan sekali lagi memohon padanya. tidak peduli seberapa banyak pria itu mencoba untuk menolak.

“Saya mohon, terlambat satu hari saja tidak akan membuat perbedaan yang besar bukan? Sekali ini saja tolong saya…”

Ketika aku tidak juga mundur, sekilas aku bisa melihat para pelayan disekitar hendak melakukan sesuatu. Aku berkesimpulan bahwa mereka hendak menyergap dan melepaskan paksa pegangan tanganku terhadap Zhepyr. Namun untuk sebuah alasan yang tidak aku mengerti, pria itu justru seperti menghalangi mereka untuk merealisasikan hal demikian lewat sorot matanya yang tajam.

Ketika aku bersitatap lagi dengannya, saat itu pula aku sadar bahwasanya Zhepyr benar-benar tidak tertarik untuk mendengarkan kata-kataku sama sekali. Pria itu menamparnya ribuan kali dengan realita, dan memberi kesadaran secara utuh bahwa apa yang aku lakukan saat ini hanyalah sebuah kesia-siaan belaka.

Aku najis baginya.

Tapi aku malah berani menyentuhnya.

Ini seperti malam dimana kami bersama dan Zhepyr terpaksa untuk bercinta denganku karena tuntutan.

Tidak ada nikmat.

Tidak ada rasa yang katanya menggelora.

Tidak ada surga dunia.

Yang aku rasakan saat itu hanyalah perih. Pedih di bagian bawah tubuh dan juga perih dihatiku. Tidak pernah lebih dari itu.

Dan apa yang aku dapatkan sekarang bahkan lebih dari itu. Rasa sakitnya jauh lebih parah.

Tepat saat Zhepyr kemudian menghempaskan tanganku sambil mendecakan lidah. Melewatiku begitu saja bersama sang asisten pribadi tanpa menghiraukanku lagi. Kini hanya tinggal aku sendiri yang tersisa ditemani tatapan yang kudapatkan dari para pelayan yang seperti singa kelaparan. Mereka menyaksikan semuanya dan berkat itu mereka memiliki bahan lain yang bisa disebarkan kepada semua orang.

Aku masih termanggu ditempat. Melepaskan Zhepyr dari genggaman dan melihat punggungnya menjauh. Tidak ada yang bisa aku lakukan. Kepalaku benar-benar kosong.

Apalagi ketika sosok Zhepyr telah menghilang dari tempat ini, suasana mendadak riuh.

Tidak jauh dari dugaan awal, celaan demi celaan mulai terlontar. Cibiran yang dibalut tawa jenaka mereka serukan tanpa merasa bersalah sama sekali. Padahal aku yang adalah objek perbincangan mereka masih berada disini. Mereka bahkan tidak menunggu jeda waktu untuk membiarkan diriku berlalu lebih dahulu, Aku hanya sanggup menutup kedua telinganya ketika tawa renyah dan sindiran yang dibalut apik mulai mengkontaminasi atmosfer ruangan.

Aku tidak bisa melakukan apapun selain menulikan pendengaran.

Aku kini mulai meninggalkan tempat, berjalan dengan cara yang paling anggun dan elegan didepan semua orang. aku tidak bisa membalas apa yang mereka katakan. Namun setidaknya aku masih bisa berlagak seperti seseorang yang tidak punya malu dan juga hati paling tidak untuk saat ini.

***

Aku tiba dikamar pribadi. Membuka jendela lebar-lebar untuk kemudian melihat kearah halaman. Disana sudah terparkir kereta kuda yang biasa Zhepyr tumpangi. Nampaknya pria itu benar-benar akan pergi malam ini. Dia bahkan melupakan waktu istirahatnya yang berharga dan tidak menunggu hingga esok tiba. Barangkali dia sudah terlanjur jijik untuk berlama-lama ditempat yang ada aku disana.

Aku terdiam lagi.

Hingga pikiranku mengawang begitu saja. Bertanya-tanya, mengenai hal apa yang membuatnya tidak sibuk. Atau mengapa dia begitu sangat jarang pulang kerumah.

Apakah dia tidak bisa meluangkan waktu satu hari saja untuk aku yang adalah istrinya?

Apa dia akan bersedia membuang waktu yang menurutnya berharga untuk mendatangi pemakamanku?

Pertanyaan itu berulang dikepala. Opsi mengakhiri hidup jadi jelas lebih menggoda ketimbang terus berada ditempat ini dan mengalami banyak cercaan yang penuh tekanan.

Tapi pertanyaan yang paling sering membuatnya resah dan gundah adalah…

“Kenapa aku masih bisa tetap mencintaimu padahal kau sedingin itu padaku?”

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED