Bab 2

Prabu Jayantaka termasyhur sebagai pemimpin yang bijak dari negeri Manggalya. Selama memerintah, dia berhasil membuat prestasi yang gemilang. Tidak hanya memperkuat pasukan untuk memperluas wilayah kekuasaan, ia juga membangun sistem irigasi yang membuat hasil panen lebih optimal sehingga rakyatnya hidup makmur.

Kemasyhuran sang Prabu semakin meningkat karena dia tengah mencari menantu untuk anak sulungnya, Putri Indurasmi. Ini merupakan kesempatan yang baik bagi negeri tetangga untuk menjalin hubungan yang lebih dekat dengan Manggalya melalui pernikahan. Jika berbesan dengan sang Prabu, mereka akan mendapatkan berbagai keuntungan dari Manggalya. Mulai dari kerjasama di bidang ekonomi, ilmu pengetahuan dan teknologi hingga militer.

Para penguasa dari berbagai negeri berbondong-bondong mengirim utusan mereka untuk meminang sang Putri. Mulai dari duta besar hingga pangeran datang ke Manggalya. Beberapa dari mereka bahkan mengirimkan putra mahkota.

Salah satu putra mahkota yang datang langsung untuk melamar sang Putri ialah Pangeran Yaksa dari Negeri Bhujagamandala. Suatu negeri yang konon katanya pernah menjadi pengendali naga.

Dahulu negeri ini memiliki kekuatan militer yang hebat. Menurut cerita rakyat, mereka mempunyai pasukan elit angkatan udara yang bertempur menggunakan naga. Pasukan tersebut dinamai Pasukan Nagasakti. Kemana pun pasukan ini dikirim ke medan perang, mereka akan kembali dengan membawa kemenangan.

Sayangnya, semua cerita tentang kehebatan pasukan naga telah usai sudah. Kini Bhujagamandala hanyalah negeri kecil. Mereka berharap semoga putra mahkota yang dikirim ke Manggalya berjodoh dengan sang Putri. Jika pernikahan ini berhasil dilaksanakan maka rencana mereka untuk mengembalikan kejayaan masa lalu dapat dilakukan.

“Umumkan kedatanganku dan dia!” ucap Putri Indurasmi sambil mengelus kucing besar yang datang bersamanya.

“KANJENG GUSTI RADEN AJENG INDURASMI DAN WISESAPRABU TELAH TIBA!” Para penjaga langsung membukakan pintu untuk sang Putri.

Begitu mendengar bahwa putri datang bersama wisesaprabu, putra mahkota dari Bhujagamandala segera berlutut dan menundukkan pandangan.

Awalnya ia heran mengapa ‘wisesaprabu’ disebut setelah nama putri dan bukan sebaliknya. Jika sesuai tata krama, nama dari seorang yang lebih terhormat disebutkan lebih awal. Ia merasa penjaga yang salah melakukan pengumuman itu tidak kompeten dalam menjalankan tugasnya dan pantas mendapat hukuman karena tidak tahu tata krama. Namun, pemikiran ini segera ditepisnya sendiri. Mungkin saja Manggalya memiliki tata krama yang berbeda dari Bhujagamandala.

Senyum merekah tersungging di bibirnya. Pangeran tersebut masih mengira bahwa Putri Indurasmi datang bersama ayahnya. Ia akan menggunakan kesempatan ini dengan baik agar sang Prabu terkesima dengan dirinya dan menjadikannya menantu.

“Berdirilah Yuwaratu Ning Bhujagamandala. Anda tidak perlu berlutut untukku yang rendah ini,” ucap sang Putri, membuat lelaki itu terjaga dari pikirannya yang berkutat sejak tadi.

“Anda terlalu rendah hati, Putri.” Pangeran Yaksa merasa ada yang tidak beres. Jika putri datang bersama wisesaprabu, mengapa yang menyuruhnya berdiri adalah Putri Indurasmi dan bukan ayahnya, Prabu Jayantaka.

“Silahkan duduk Kanjeng Yuwaratu,” ucap putri.

Lelaki itu pun duduk sesuai dengan perkataan sang Putri kemudian ia mengedarkan pandangannya. Ia tidak dapat menemukan sang Prabu bersama mereka. Ia pun tidak bisa menahan rasa penasaran yang berkecamuk di dalam kepalanya. “Putri, tadi saya mendengar bahwa Anda datang bersama Wisesaprabu. Namun saya tidak melihat di mana beliau berada saat ini.”

“Wisesaprabu? Dia ada di sini.” Pandangan putri tertuju ke harimau jantan yang sedang ia elus.

***

Ada ungkapan yang mengatakan bahwa tembok memiliki mulut dan telinga. Ia akan menyebarkan berita yang didengar melalui dedaunan yang terbang terbawa angin.

Sebuah berita acapkali menjadi perbincangan hangat manakala Putri Indurasmi menemui para utusan yang datang untuk meminangnya. Kalimat yang menjadi pembuka perbincangan pun selalu sama. ‘Bagaimana kabar burung yuanyang hari ini?’

Seorang dayang pengantar makanan mengembalikan sisa kudapan yang disajikan untuk Putri Indurasmi saat bertemu Putra Mahkota Bhujagamandala. Begitu ia sampai di dapur istana, beberapa dayang langsung menghampirinya. Mereka ingin tahu apakah kali ini ada kabar gembira dari sang Putri.

“Bagaimana kabar burung yuanyang hari ini?” tanya salah satu dayang dari dapur istana.

Dayang itu langsung meletakkan nampan yang ia bawa, “Yuanyang berjalan di perahu masing-masing.”

“Lagi?” dayang dari dapur istana meremas kedua lengan dayang yang membawa sisa kudapan tadi.

Untuk kesekian kalinya, lelaki yang melamar Putri Indurasmi menarik kembali lamaran mereka. Di sepanjang hidupnya, Putri Indurasmi telah mendapat sebanyak dua ratus tiga puluh lima lamaran. Tidak satu pun ada yang berhasil melanjutkan ke tahap selanjutnya. Siklus mereka sama. Mengirim utusan → pertemuan calon mempelai → rencana pernikahan gagal.

Berbagai alasan mereka gunakan sebagai alibi. Beberapa dari mereka mengatakan bahwa mereka memiliki tubuh yang lemah sehingga tidak ingin membebani putri. Sebagian lainnya beralasan bahwa mereka merasa rendah diri dengan kecantikan sang Putri. Dan alasan yang paling banyak digunakan oleh pelamar ialah mereka takut dengan harimau yang dipelihara oleh putri.

Seperti bunga randa tapak yang terbang bebas mengikuti kemana sang bayu bertiup. Berita kandasnya rencana pernikahan putri menyebar luas ke pelosok negeri. Tidak ada kerumunan di suatu tempat, kecuali mereka membicarakan tentang putri.

***

Pernikahan merupakan ikatan suci yang bertujuan untuk mendapat kesejahteraan hidup dan kedamaian hati. Bagi keluarga bangsawan pernikahan merupakan strategi politik yang bertujuan untuk memperkuat diplomasi demi kepentingan bersama.

Pada zaman dahulu, merupakan hal yang lumrah apabila orang tua menikahkan anaknya pada usia dua belas tahun. Bahkan jika mereka melakukannya ketika sang anak masih berusia sepuluh tahun, hal itu bukanlah sesuatu di luar kelaziman, terutama untuk pihak perempuan.

Ada sebuah kepercayaan yang mengakar kuat di masyarakat. Jika datang seorang pria melamar anak perempuanmu, maka kamu wajib untuk menerima lamaran tersebut. Jika kamu menolaknya, maka anak perempuanmu itu akan sulit mendapat jodoh.

Rakyat Manggalya percaya bahwa yang terjadi dengan Putri Indurasmi saat ini merupakan buah karma yang ia dapat karena menolak lamaran dari Tumenggung Wipulopala satu dekade yang lalu. Saat itu sang Putri masih berusia tujuh tahun. Ketika ia dipertemukan dengan sang Tumenggung, gadis itu menangis kencang hingga terisak-isak. Putri mengatakan pada ayahnya bahwa ia takut dengan tumenggung dan tak mau menikah dengannya.

Sebagai seorang ayah, Prabu Jayantaka tak kuasa melihat putrinya menangis. Tidak perlu pikir panjang, seketika itu ia juga memutuskan untuk menolak lamaran sang Tumenggung. Baginya kebahagiaan putrinya lebih utama dibanding apa pun.

***

Bab 3

Bagi masyarakat Manggalya, perempuan merupakan aset yang berharga bagi keluarga. Jika mereka mempunyai anak perempuan, mereka akan menjaganya dengan sangat baik. Mereka memastikan bahwa anaknya akan berada di rumah seharian dan hanya keluar jika ada keperluan.

Ada beberapa alasan mengapa orang tua mereka menghimbau agar anaknya di rumah. Pertama, karena rumah merupakan tempat paling aman. Tidak seperti masa kini yang mana banyak rumah berjejer samping kanan-kiri dan berhadapan depan-belakang.

Rakyat Manggalya membangun rumah mereka dengan jarak yang cukup jauh antara satu dengan yang lain. Pemukiman penduduk juga masih dikelilingi oleh hutan belantara yang dihuni oleh berbagai binatang buas sehingga tidak aman jika anak-anak bermain di luar.

Alasan lainnya ialah karena banyak terjadi penculikan anak yang dilakukan oleh bangsa demit seperti kuntilanak dan lainnya. Anak-anak yang diculik tersebut akan dibawa ke alam gaib dan baru dipulangkan beberapa hari setelahnya.

Selain penculikan anak yang dilakukan oleh bangsa demit, terdapat pula penculikan yang dilakukan oleh manusia yang mempraktikkan ilmu hitam. Mereka menggunakan anak-anak sebagai tumbal untuk keperluan tertentu.

Selain dua alasan tersebut di atas, terdapat satu lagi alasan khusus para orang tua lebih menyukai anak mereka di rumah. Jika putri mereka dikenal sebagai perempuan yang suka keluyuran, masyarakat akan menyebutnya sebagai perempuan yang tidak baik. Ini akan memberi citra buruk bagi keluarga yang bersangkutan. Oleh sebab itu mereka tidak akan membiarkan anak gadisnya mendapat predikat jelek, karena ini akan mempengaruhi nilai perempuan tersebut.

Nilai seorang wanita di Manggalya dapat dilihat dari besarnya mahar pernikahan yang ia dapat. Semakin tinggi nilai wanita itu, maka pihak laki-laki akan semakin menghargainya sehingga mahar yang ia dapat pun semakin besar begitupun sebaliknya.

Sekali lagi, masyarakat Manggalya menganggap bahwa perempuan merupakan aset yang berharga. Aset yang dapat mereka gunakan untuk mendapatkan keuntungan melalui pernikahan, maupun aset yang dapat dijadikan jaminan untuk kepentingan tertentu. Ada tiga pihak yang akan menggunakan anak perempuan mereka untuk kepentingan tertentu melalui ikatan pernikahan.

Pertama, keluarga yang memiliki hutang besar dan tidak bisa melunasinya. Kekurangan pangan bukanlah masalah yang dimiliki oleh bangsawan. Mereka memiliki tanah yang subur dan membentang luas. Namun hal ini berbanding terbalik dengan rakyat yang miskin. Mereka harus bekerja keras membanting tulang demi sesuap nasi untuk keluarganya. Sulitnya kehidupan ekonomi membuat mereka terpaksa berhutang kepada tuan tanah. Jika mereka tidak sanggup melunasi hutangnya, maka mereka akan menyerahkan anak perempuannya sebagai alat pembayaran hutang.

Kedua, keluarga bangsawan yang ingin memperkuat wewenang dan posisinya. Mereka akan menikahkan anak perempuannya dengan seseorang yang memiliki status sosial lebih tinggi darinya. Misalnya, kepala desa menikahkan anak perempuannya dengan tumenggung.

Selanjutnya, bagi penguasa yang tidak bisa mempertahankan wilayah kedaulatannya. Kerajaan yang memiliki pasukan militer yang tangguh akan terus melakukan penaklukan wilayah sehingga rajanya memperoleh upeti sebagai sumber pemasukan. Semakin luas wilayah taklukan, maka upeti yang diterima raja pun semakin banyak.

Penaklukan dapat dilakukan dengan cara yang mudah seperti mengirim utusan ke wilayah yang dimaksud. Namun, jika cara halus ini tidak berhasil maka perang dapat dijadikan solusi. Jika pihak wilayah setempat memenangkan pertempuran, mereka dapat mempertahankan kedaulatannya. Namun jika mereka kalah, maka mereka harus membayar ganti rugi perang serta mengirimkan putri pemimpin wilayah kepada pihak yang menang sebagai simbol penyerahan kedaulatan. Putri tersebut juga merupakan jaminan agar mereka tunduk sepenuhnya dan tidak melakukan pemberontakan di kemudian hari.

***

Tidak semua orang tua akan memanfaatkan pernikahan anak perempuannya demi kepentingan keluarga, Prabu Jayantaka adalah salah satunya. Dia tidak ingin menjadi ayah yang egois untuk keluarganya. Lagi pula ia juga tak memiliki kepentingan untuk memanfaatkan putrinya. Sudah jelas, ia tidak punya hutang, sehingga tak perlu menjadikan putrinya sebagai alat pembayaran. Dia juga tidak perlu menukarkan anaknya untuk kepentingan politik untuk memperkuat posisinya karena dia adalah seorang penguasa tertinggi. Dan dia juga dapat menaklukan wilayah manapun yang ia kehendaki.

Prabu Jayantaka begitu menyayangi putri sulungnya, Putri Indurasmi. Ia ingin agar anak tersebut selalu bahagia sepanjang hidupnya, termasuk kehidupan rumah tangganya kelak. Karena itulah sang Wisesaprabu membebaskan putrinya tersebut untuk menentukan sendiri lelaki yang ia inginkan untuk menjadi suaminya.

Sayangnya, keputusan sang Prabu tersebut malah membuat putri sulungnya melajang hingga usianya melewati masa ideal untuk menikah. Begitu banyak lelaki datang melamar, tidak ada satu pun dari mereka yang dapat membawa sang Putri ke pelaminan.

Beruntunglah Putri Indurasmi merupakan anak dari Prabu Jayantaka. Tidak ada yang mencemoohnya meskipun ia belum menikah di usianya yang sebentar lagi menginjak tujuh belas tahun. Jika hal ini terjadi pada perempuan lain, maka perempuan tersebut akan disebut sebagai perawan tua.

Perawan tua adalah sebuah ejekan untuk perempuan yang masih melajang di saat usianya sudah di atas usia rata-rata untuk menikah. Mereka diolok-olok sebagai perempuan sok jual mahal. Mereka juga dihina sebagai perempuan yang tidak laku. Beberapa mulut jahat bahkan menyebut mereka sebagai aib keluarga.

Memang tidak ada yang mengejek Putri Indurasmi sebagai perawan tua. Namun, seiring berjalannya waktu muncul desakan dari para pejabat dan bangsawan ke keraton. Mereka meminta kepada sang Prabu untuk segera menikahkan putri sulungnya.

Awalnya mereka menyebarkan isu melajangnya Putri Indurasmi ke masyarakat melalui tempat publik seperti pasar dan tempat hiburan rakyat. Mereka membicarakan betapa malangnya putri di usia yang sudah dewasa tapi masih belum menemukan tambatan hati.

Pertama-tama mereka membuat agar rakyat bersimpati kepada sang Putri. Setelah umpan berhasil dimakan oleh rakyat, mereka mengganti topik lain kalau putri masih melajang karena dia menolak semua lamaran dari para pria. Tidak peduli bagaimana pangkat sosial mereka dan dari negara mana berasal putri akan menolaknya. Dari sini mereka mulai mengubah pandangan dari yang awalnya bersimpati kepada putri kini menjadi jijik karena putri sok jual mahal.

Setelah rakyat tidak bersimpati kepada putri, mereka akan mengarahkan anak panah pada tujuan pernikahan di mana penyatuan keluarga untuk mendapatkan keturunan. Jika putri terus melajang maka dia dianggap melalaikan perannya sebagai anggota keluarga keraton sehingga dianggap tidak mulia.

Berbagai alasan mereka gunakan untuk mendesak raja. Beberapa dari mereka mengungkapkan bahwa mereka khawatir apabila putri akan kesepian karena belum mempunyai pendamping hidup. Sementara beberapa lainnya menganjurkan agar putri segera menikah sehingga ia dapat melahirkan dan meneruskan garis keturunan raja. Sebagian lainnya mengatakan bahwa mereka peduli dengan citra keraton yang mana keluarga raja merupakan panutan bagi rakyat. Jika putri terus melajang, maka rakyat pun akan mengikutinya sehingga akan terjadi perubahan sosial yang tidak diharapkan.

***

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED