"S-saya tidak sengaja memasukkan kertas dokumen yang bernilai puluhan juta dolar ke dalam mesin cacat, dan saya saat itu tidak tahu kalau hal tersebut dapat membuat perusahaan mengalami kerugian yang sangat besar akibat kecerobohan yang saya buat sendiri, dan karena itu ... saya akan bertanggung jawab untuk mencetak ulang atau membuat ulang dokumen tersebut." Laki-laki berwajah oriental yang amat tampan itu menundukkan kepalanya, seolah sedang bersiap-siap menerima bentakan dari Affry. "Setidaknya berikan saya kesempatan kecil untuk memperbaiki hal ini, saya janji saya akan menyiapkan ulang dokumen tersebut."
Affry mendengkus lagi, berjuang menahan rasa kesal yang sudah terlebih dahulu merayapi hati wanita berambut cokelat panjang itu, tampaknya, pada situasi semacam ini, ada baiknya jika wanita bertubuh tinggi semampai tersebut memberi satu kesempatan lagi kepada si anak magang untuk memperbaiki kekacauan yang tercipta akibat kesalahan yang diciptakan si anak magang. "Baiklah, baiklah, untuk kali ini aku akan memaafkan dan memberimu satu kesempatan lagi untuk memperbaiki dan memastikan bahwa kamu tidak akan pernah kabur dari tanggung jawab atas kekacauan yang telah kamu buat, dan jika kamu mengingkari ucapanmu ... aku akan mengirim petugas dari resimen pekerja untuk menjemput orang-orang macam kamu." Ah ... ternyata itu mengapa dibuat resimen pekerja, ya, agar orang-orang atau pekerja yang sudah membuat keacauan seperti laki-laki berkulit kuning langsat itu tidak bisa bebas pergi tanpa bertanggung jawab sama sekali. Ya, biro yang satu itu memang bertugas untuk mengatasi pekerja yang bermasalah, seperti mengacau di lingkungan kerja, hingga membuat perusahaan mengalami rugi besar akibat kecerobohan si pekerja.
Chaing He terdiam seribu bahasa seperti sebuah patung ketika laki-laki pemilik netra cokelat itu mendengar tentang resimen pekerja, ya, apapun yang terjadi, sebisa mungkin laki-laki berambut cokelat itu tidak perlu sampai berurusan dengan resimen pekerja, yang walau memang bertujuan untuk memperbaiki pekerja macam laki-laki pemilik marga Liu itu, seringkali jika seseorang sudah masuk ke tempat tersebut, orang itu akan dianggap tidak berkompeten, tidak bertanggung jawab, dan tentu saja sangat tidak berguna, hingga pada umumnya, jika seorang pekerja, baik pekerja tetap ataupun pekerja magang sudah pernah mencicipi namanya resimen pekerja, tidak akan ada orang yang mau memakai mereka sebagai pekerja di dalam perusahaan mereka.
Segera, laki-laki berwajah oriental yang amat tampan itu membungkukkan badannya sedalam mungkin, seolah sadar bahwa pemuda itu bisa saja terlibat di dalam masalah yang jauh lebih besar lagi, jika laki-laki pemilik netra cokelat itu gagal dalam mengatasi masalah yang dibuat pemuda berdarah China itu sendiri. "Tenang saja, Bu Affry, saya akan memperbaiki masalah yang saya buat sendiri! Anda tenang saja."
Wanita pemilik netra cokelat itu menghela napas panjang, lagi, entah mengapa wanita yang merupakan pendiri dari Yuu Inc. tersebut merasa sedikit muak dengan apa yang telah dilakukan oleh anak buahnya sendiri. "Baiklah, baiklah, lebih baik kamu segera perbaiki masalah yang kamu buat sendiri, sebelum Pak Richard datang untuk mengurus kerja sama ini! Jika tidak ... awas saja, tanpa basa basi lagi, aku akan langsung mengirimmu ke resimen pekerja, mengerti?!" Wanita yang mengenakan jas hitam itu berkata dengan nada tinggi, seolah tidak lagi ingin mendengar perkataan Chaing He lagi.
"Baik, Bu! Tenang saja!" Dengan sedikit terburu-buru, si anak magang langsung keluar dari ruangan sang Direktur Utama, lantas berjalan menyusuri lorong yang lumayan panjang, berisi dengan berbagai ruangan yang ditempati oleh jajaran eksekutif dan direksi perusahaan tersebut, ruangan yang sebenarnya dibenci oleh laki-laki berkulit kuning langsat itu.
Chaing He segera kembali ke tempat kerjanya berada, lantas dengan cepat mencetak ulang dokumen yang sudah dihancurkan pria pemilik netra cokelat itu, tanpa lupa merubah sedikit isinya agar dokumen tersebut bisa membawa keuntungan yang sedikit lebih besar kepada perusahaan tempat laki-laki berwajah oriental yang amat tampan itu bekerja. Setelah selesai mencetak dokumen itu, pemuda berdarah China tersebut menghela napas panjang, sebuah senyuman yang aneh lagi-lagi muncul di wajah tampannya yang khas. "Dasar wanita payah, bisa-bisanya dia tidak curiga sama sekali ...." monolog laki-laki berambut cokelat itu seraya memasukkan dokumen tadi ke dalam sebuah map. "Ah ... aku masih tidak bisa benar-benar mengerti mengapa perusahaan sebesar dan sebagus ini bisa dipimpin dan didirikan oleh seorang wanita yang benar-benar bodoh."
Sebuah kenyataan menyakitkan seolah sedang bersiap-siap menghancurkan wanita berambut cokelat panjang itu, tentu saja, kenyataan menyakitkan tersebut berasal dari Chaing He, si anak magang yang seringkali dianggap sebagai pengacau, perusuh, tidak sopan serta tidak berguna. Ya, bagaimana jika sebenarnya, si anak magang yang selalu terkena masalah itu, adalah seorang penyusup yang tidak diketahui siapa pengirim atau tuannya? Bukankah hal seperti itu benar-benar menarik untuk diperhatikan? Pemuda berdarah China itu lantas menghela napas, sebelum menyesap kopi panas yang memang selalu tersedia di meja laki-laki berwajah oriental yang amat tampan itu, seraya memutar-mutar map berisi dokumen yang harus dan akan diberikan kepada wanita yang sedang dihancurkan laki-laki itu dari dalam secara perlahan dan tentu saja, hati-hati.
Bagi Chaing He, wanita pemilik netra cokelat itu merupakan sesuatu yang sangat menarik untuk diperhatikan dan dihancurkan, ya ... walau Chaing He terlihat sangat perusuh, pengacau serta bisa dikatakan seringkali bertindak sesuka hati, pemuda berdarah China itu sebenarnya merupakan pribadi yang sangat serius, misterius lagi berhati-hati dan mudah sekali merasa curiga atas orang lain. Karena itu lah, laki-laki berkulit kuning langsat itu seringkali diremehkan dan dianggap tidak bisa melakukan apa-apa di kantor tersebut. Sesapan kopi yang terasa sedikit manis dan dominan pahit itu membuat pemuda pemilik netra cokelat itu memasang senyum tipis, ya, sebisa mungkin, laki-laki itu harus bisa menjalin hubungan akrab dengan Affry, sembari terus menghancurkan perusahaan itu dari dalam.
Affry memijat pelipisnya sendiri, kepalanya sudah terasa pusing sedari tadi, di mana wanita bertubuh tinggi semampai mengetahui bahwa salah satu dokumennya yang sangat penting, tiket sang Direktur Utama untuk meraih keuntungan yang sangat besar kepada perusahaannya, tanpa sengaja dihancurkan dengan cara dimasukkan ke mesin pencacah oleh anak magang yang baru masuk ke perusahaan milik wanita itu.
Ya, sebenarnya, selain itu merupakan surat kerja sama, dokumen yang sama juga memuat surat jual beli kepemilikan saham di perusahaan tersebut. Bagi wanita pemilik netra cokelat itu, saham senilai kurang dari sepuluh persen pun sangat berharga untuknya, karena tanpa saham-saham tersebut, perusahaan yang dijalankan oleh seorang Affry Yuu tidak akan bisa bergerak, pun tidak akan menjadi apa-apa di Amerika. Yang membuat wanita berambut cokelat panjang itu marah besar, orang yang akan menandatangani surat tersebut sudah berada di perjalanan, dan orang tersebut terkenal tidak pernah memberi toleransi terhadap keterlambatan, sama sekali tidak.
Entah apa yang harus dilakukan oleh sang Direktur Utama, sekaligus satu-satunya perempuan yang memegang jabatan setinggi itu di perusahaannya, pada situasi semacam ini, Affry benar-benar sudah pasrah, ya, wanita yang mengenakan jas hitam itu sepertinya harus mulai mempersiapkan diri untuk menghadapi kerugian yang sangat besar serta kehilangan saham senilai ribuan dolar Amerika. "Apa-apaan anak magang itu, bisa-bisanya dia seceroboh ini?" Wanita pemilik marga Yuu itu menggeram penuh rasa kesal, ingin rasanya wanita cantik tersebut mengeluarkan si anak magang dari perusahannya, tetapi ada aturan tertentu yang menghalangi niat wanita berambut cokelat panjang tersebut untuk mengeluarkan si anak magang, pun demikian, pada saat seperti ini, satu-satunya hal yang dapat dilakukan oleh wanita pemilik netra cokelat itu adalah menahan kesal, seraya terus menunggu dokumen yang hancur dicetak ulang oleh si anak magang yang sangat ceroboh.
"Bu Affry, apa anda sedang berada di dalam?" Sebuah suara baritone terdengar dari luar pintu, sepertinya itu adalah salah satu direksi yang bekerja bersama wanita cantik itu. "Ada beberapa hal yang ingin saya bicarakan bersama anda."
"Masuk saja, Tae Wang," balas sang wanita pemilik marga Yuu itu seraya merapikan penampilannya yang sempat sedikit acak-acakan akibat rasa frustrasi yang muncul akibat perbuatan laki-laki berwajah oriental yang amat tampan yang merupakan anak magang itu. "Ada apa? Katakan saja padaku." Sang Direktur Utama berkata lagi seraya menetak-netakkan kukunya yang sedikit memanjang. Pintu kayu cedar lagi-lagi dibuka lalu ditutup, seorang pria bertubuh sedang yang juga menggunakan jas hitam berjalan masuk ke dalam ruangan tersebut dengan langkah yang dapat dikatakan rapi dan teratur khas petinggi perusahaan sekali.
Tae Wang namanya, pria berperawakan tinggi besar itu menatap atasannya dengan tatapan datar, seperti biasa, selalu serius seolah tidak memiliki waktu untuk sekedar berbincang-bincang bahkan untuk bergurau. Laki-laki berambut hitam itu lantas duduk di depan wanita berambut cokelat panjang tersebut seraya menghela nafas panjang. "Tuan Charles sudah berada di perjalanan untuk mengurus kontrak dengan kita, anda sudah menyiapkan kontrak tersebut, kan, Bu Affry?" Laki-laki pemilik netra cokelat itu menatap atasannya sendiri dengan tatapan serius.
Yang ditanya menghela nafas panjang, lantas menjawab bahwa kontrak itu telah dihancurkan secara tidak sengaja oleh si anak magang alias Chaing He. Mendengar perkataan wanita pemilik netra cokelat di hadapannya, Tae Wang tertegun, terdiam seribu bahasa, laki-laki berkulit kuning langsat itu hanya bisa mematung tanpa bisa berkata apa-apa seolah benar-benar terkejut atas kejadian yang terjadi. Tampaknya, pemuda berdarah Asia Timur itu tidak menyangka kalau hal seperti ini akan terjadi, lagipula, bagaimana bisa si anak magang tidak tahu seberapa penting isi dokumen tersebut? Sebuah rasa khawatir menyelinap di relung hati laki-laki berambut hitam itu, tentu saja hal tersebut bisa terjadi karena Tae Wang merupakan karyawan yang sangat loyal serta peduli terhadap perusahaan milik wanita yang mengenakan jas hitam yang berada di hadapan yaitu. Laki-laki pemilik netra cokelat itu hanya bisa terdiam, menatap atasannya sendiri dengan tatapan terkejut, bahkan pada situasi ini laki-laki yang biasanya berotak sangat cerdas itu tidak tahu harus berbuat apa dan bagaimana. Orang yang pemuda pemilik marga Tae itu maksud adalah memang orang yang dimaksud Afri sebelumnya, ya pada situasi tertentu, seperti saat ini, memang kesalahan semacam ini mungkin saja terjadi, tetapi rasanya hampir-hampir tidak mungkin ketika akan terjadi rapat besar semacam ini, kesalahan sebesar menghancurkan dokumen yang sangat penting terjadi. Bahkan, sebenarnya, anak magang terendah sekalipun pasti diberitahu jika dokumen itu sangat penting. Tidak hanya itu, sebenarnya ada sebuah kecurigaan di hati laki-laki yang berkulit kuning langsat itu ketika tahu bahwa dokumen tersebut telah dihancurkan oleh anak magang, seolah ada sesuatu yang memang sengaja dihancurkan di dalam dokumen itu. Sejauh pandangan laki-laki berwajah oriental yang amat khas itu, tidak ada yang salah di dalam dokumen tersebut, hanya ada kerjasama yang biasa-biasa saja tetapi bernilai sangat tinggi dan saham bernilai beberapa puluh ribu dolar Amerika.
Entah mengapa bagi Tae Wang, kejadian semacam ini lebih mirip sabotase daripada sekedar kecerobohan biasa. Entah Affry juga memikirkannya atau tidak, wanita berambut cokelat panjang itu hanya bisa tercenung, seolah sedang berusaha berpikir keras bagaimana jalan keluar terbaik yang bisa mereka dapat jika skenario yang paling buruk benar-benar terjadi. Kedua laki-laki dan perempuan yang duduk berhadapan itu berdiam dengan pikiran mereka masing-masing tanpa ada satupun diantara mereka yang berniat untuk membuka suara untuk sekedar memberi usul atas apa yang harus mereka lakukan tentang kerjasama yang akan segera terjadi. Tetapi sepertinya, kekhawatiran semacam ini tidak perlu terjadi, maksudnya, si anak magang telah kembali seraya membawa sebuah map berwarna cokelat tua, di mana map tersebut berisi surat yang telah dihancurkan oleh Chaing He beberapa saat yang lalu, karena kali ini suara ketukan kembali terdengar di pintu yang berbahan dasar chedar. Tanpa banyak berkata-kata, tetapi dengan sedikit berteriak, wanita pemilik netra cokelat itu meminta untuk siapapun yang mengetuk pintu itu masuk saja dan tidak usah banyak bicara.
Ketika pintu terbuka, wanita yang menjabat sebagai Direktur Utama tersebut tertegun, benar-benar terdiam seolah tidak menyangka kalau si anak magang benar-benar menepati omongannya sendiri, yakni memperbaiki serta mencetak ulang dokumen yang hancur. Sebenarnya, ada satu hal di mana wanita itu berpikir bagaimana mungkin si anak magang yang jelas-jelas tidak pernah diberitahu banyak hal tentang rapat dan isi dokumen itu, bisa-bisanya memiliki salinan dokumen itu secara lengkap, seolah-olah pemuda berdarah China itu juga dilibatkan di dalam kegiatan tersebut, tetapi ya bagaimanapun lagi, mereka sudah cukup terdesak, sudah tidak bisa lagi menunda-nunda atau bahkan sekedar berbincang santai.
"Bu!!" Seseorang lagi-lagi menerobos masuk, benar-benar dengan seenaknya saja menerobos masuk ke ruangan sang Direktur Utama. "Mr. Charles sudah datang! Beliau sudah menunggu di ruangan rapat." Orang itu adalah Pretty, satu-satunya sekretaris wanita di antara sekretaris para jajaran eksekutif dan direksi perusahaan pada saat itu, dan tampaknya begitu pula untuk kedepannya.
Perkataan gadis keturunan Afrika itu tentu saja mengejutkan wanita berambut cokelat panjang itu, ya, beliau tidak menyangka bahwa Charles bisa datang secepat itu, untung saja pada saat seperti ini, dokumen hancur tersebut telah berhasil diperbarui. "Benarkah? Astaga, kalau begitu kita cukup beruntung karena dokumen ini sudah selesai. Baiklah, ayo kita hadiri rapat kali ini." Wanita pemilik netra cokelat itu menghela napas, lalu menoleh untuk menatap si anak magang pengacau. "Kamu, ikut saya ke ruang rapat. Kamu harus mulai mempelajari sesuatu dari sana."