Seorang wanita bertubuh tinggi semampai menatap laki-laki yang sedikit lebih tinggi dari wanita itu dengan tatapan tajam, penuh amarah serta kekesalan. "Kamu sudah gila, Ya?!" Wanita pemilik netra cokelat almond itu bertanya dengan nada tinggi, seolah merasa benar-benar marah atas apa yang dilakukan laki-laki itu.
Dalam diam, laki-laki tersebut hanya bisa menundukkan kepalanya seolah mengerti apa yang dilakukan pemuda itu adalah sebuah kesalahan yang sangat besar pada situasi seperti ini laki-laki berambut cokelat itu tidak dapat sekedar menjawab ataupun mendongakkan kepalanya ketika wanita yang berada di hadapannya membentak diri laki-laki itu. Melihat apa yang dilakukan oleh pemuda bermata sipit itu, wanita yang menjadi atasannya tersebut menggeram penuh rasa marah , hingga saking marahnya wanita tersebut tidak mampu berkata apa-apa lagi untuk mengutarakan seberapa marah wanita yang menggunakan jas hitam itu. "Ma-maafkan aku ...." Pemuda tersebut membalas dengan nada bergetar, seraya beberapa kali membungkukkan badannya, seolah merasa sangat bersalah atas apa yang telah terjadi sebelumnya.
Apa yang membuat wanita itu marah? Affry, nama asli wanita berambut cokelat panjang itu, merasa sangat marah terhadap pemuda yang diketahui wanita itu merupakan anak magang di perusahaan yang telah dibangun Affry dari setidaknya sepuluh tahun yang lalu, perusahaan itu bergerak di bidang manajemen properti, yang bergerak bersama dengan bidang real estate, nyaris saja kacau akibat apa yang diperbuat si anak magang, Chaing He.
Di mata Affry, pemuda berdarah China itu tidak lebih dan tidak kurang merupakan pengacau, tidak sopan, lagi tidak pernah teratur di dalam pekerjaannya. "Kalau begitu, aku akan bertanggung jawab atas semua ini, tolong berikan aku kesempatan untuk memperbaiki kekacauan yang sempat aku buat!" Laki-laki berwajah oriental yang amat tampan itu berkata lagi seraya membungkukkan badannya, kentara memohon kepada sang atasan.
Perlahan, sebuah senyum meremehkan terbit di wajah cantik Affry, jujur saja, wanita itu sama sekali tidak percaya jika anak magang pengacau ini dapat memperbaiki kesalahan yang telah dibuat pemuda pemilik netra cokelat itu. "Memangnya kamu bisa apa? Bukannya kamu hanya bisa mengacau, seperti apa yang kamu lakukan pada saat ini?" Wanita itu bertanya seraya melipat tangannya, kentara sedang memperlihatkan ketegasan serta kekuasaan milik wanita berambut cokelat panjang tersebut terhadap seorang Chaing He.
Chaing He menghela napas panjang, seolah menyadari kalau kejadian kali ini akan lebih rumit serta sulit menyelesaikannya dibandingkan kejadian yang lalu-lalu, yang merupakan kekacauan ciptaan laki-laki pemilik netra cokelat itu. Tetapi mau bagaimana pun, tetap saja pemuda pemilik marga Liu itu harus bertanggung jawab, ya, bagaimana pun, lagi, laki-laki berkulit kuning langsat itu tidak boleh lari dari tanggung jawab, ia sudah dewasa. "Tidak bisa jawab, bukan? Bisa-bisanya kamu tanpa sengaja menghancurkan file yang berisi kerja sama senilai puluhan juta dolar, Chaing He! Kamu ini benar-benar ceroboh dan memang bodoh, Ya?!" Affry lagi-lagi membentak, seolah tidak peduli dengan keberadaan pegawai maupun pekerja lain yang berlalu lalang di sekitar kedua insan yang berbeda di dalam strata sosial perusahaan. Tatapan tajam dari gadis bertubuh semampai itu seolah mencabik-cabik jiwa Chaing He, membuat pemuda pemilik netra cokelat itu benar-benar merasa tidak nyaman, lagi, ada sebuah rasa takut yang tidak masuk akal, mendadak muncul di benak laki-laki berwajah oriental yang amat tampan itu.
"Ma-maafkan aku, bagaimana jika aku yang akan mencetak ulang kontrak tersebut? Aku rasa aku masih memiliki salinan dokumen yang satu itu di laptopku sendiri." Laki-laki bertubuh tinggi itu memberi usul, yang menurut anggapan Chaing He, setidaknya mampu meredakan amarah si wanita yang menggunakan jas hitam itu dan membuat kekhawatiran sang atasan mereda. Tawaran yang diucapkan oleh pemuda berdarah China itu ditanggapi dengan sebuah dengkusan penuh rasa kesal, seolah sang atasan merasa si anak magang yang satu ini terlalu meremehkan masalah yang telah dibuatnya. Situasi canggung langsung terasa diantara kedua belah pihak, membuat laki-laki pemilik Marga Liu itu dapat hanya dapat terdiam seribu bahasa seolah membisu di hadapan atasannya, yang terlihat benar-benar kesal. Sadar bahwa situasi semakin memburuk seiring waktu jika mereka melanjutkan pertengkaran di sana, Affry lantas menghela napas panjang, tampaknya wanita yang merupakan Direktur Utama perusahaan tersebut sekaligus pendiri perusahaan itu harus menyelesaikan masalah ini di ruangan pribadinya. "Sudahlah, ayo kita bicarakan ini di ruanganku saja! Tidak ada gunanya kita bertengkar seperti orang bodoh di hadapan orang lain!" Wanita itu menyentak, membuat Chaing He tertegun atas apa yang dilakukan oleh atasannya tersebut.
Dalam diam, tanpa bisa berbuat apa-apa, sang anak magang hanya dapat mengikuti atasannya ke ruangan milik gadis berambut cokelat panjang itu. Entah mengapa, sebuah senyum yang aneh terbit di wajah oriental laki-laki tersebut ketika melihat kemarahan atasannya sendiri, senyum tersebut tentu saja tidak disadari oleh Affry, karena senyum itu memang muncul di belakang punggung wanita pemilik netra cokelat itu, tetapi yang lebih aneh lagi adalah laki-laki pemilik marga Liu itu seolah senang atas kekacauan yang telah dibuat pemuda tersebut, seolah ada sesuatu yang sedang disembunyikan pemuda berdarah China itu dari atasannya sendiri. Ketika sepasang insan itu sampai di tempat di mana ruangan eksekutif perusahaan berada, laki-laki berambut cokelat itu menghela napas panjang, walau dirinya sudah beberapa kali datang ke tempat ini, tetap saja laki-laki berwajah oriental yang amat sangat tampan itu tidak terbiasa dengan situasi yang ada di tempat tersebut. Situasi ini benar-benar berbanding terbalik jika dibandingkan situasi lingkungan kerja laki-laki berkulit kuning langsat itu pada umumnya.
Ruangan tempat para jajaran direksi dan eksekutif perusahaan itu berada terkesan dingin, suram, lagi mencekam seolah memaksa siapapun yang masuk ke sana untuk tunduk terhadap otoritas yang ada dan bagaimana perusahaan tersebut berjalan. Ketika sepasang insan itu sudah sampai di ruangan milik Affry berada, tepatnya di ujung lorong, ruangan yang memakan tempat paling besar, wanita yang mengenakan jas hitam tersebut membuka pintu berbahan dasar kayu cadar, lantas mempersilahkan si anak magang untuk masuk terlebih dahulu. Dalam diam Chaing He memasuki ruangan tersebut, kemudian berdiri di tengah-tengah ruangan, benar-benar tampak seperti seseorang bodoh yang habis melakukan kesalahan super besar, dalam kondisi demikian tidak tahu harus berbuat apa dan bagaimana untuk mengatasi kemarahan seorang Affry. Kemarahan sang atasan seolah memberi dampak yang sedikit berbeda terhadap pemuda pemilik marga Liu itu, Chaing He hanya berdiri, seolah sedang menanti omongan pedas dan tajam yang mungkin saja akan dikeluarkan oleh atasannya setelah ini, dan benar saja, setelah Affry menghela napas lelah, wanita pemilik netra cokelat itu kemudian duduk di kursi kebesarannya lantas menatap tajam kepada si anak magang yang dianggap telah mengacaukan banyak hal. "Kamu tentu saja sudah tahu apa-apa saja kesalahanmu, bukan? Lantas menurutmu saja, bagaimana cara kita memperbaiki semua kekacauan yang telah kamu buat? Oh, jangan pernah berharap aku akan mengampunimu kali ini, karena kamu nyaris saja membuat perusahaan ini mengalami kerugian yang sangat besar akibat kecerobohanmu sendiri."
"S-saya tidak sengaja memasukkan kertas dokumen yang bernilai puluhan juta dolar ke dalam mesin cacat, dan saya saat itu tidak tahu kalau hal tersebut dapat membuat perusahaan mengalami kerugian yang sangat besar akibat kecerobohan yang saya buat sendiri, dan karena itu ... saya akan bertanggung jawab untuk mencetak ulang atau membuat ulang dokumen tersebut." Laki-laki berwajah oriental yang amat tampan itu menundukkan kepalanya, seolah sedang bersiap-siap menerima bentakan dari Affry. "Setidaknya berikan saya kesempatan kecil untuk memperbaiki hal ini, saya janji saya akan menyiapkan ulang dokumen tersebut."
Affry mendengkus lagi, berjuang menahan rasa kesal yang sudah terlebih dahulu merayapi hati wanita berambut cokelat panjang itu, tampaknya, pada situasi semacam ini, ada baiknya jika wanita bertubuh tinggi semampai tersebut memberi satu kesempatan lagi kepada si anak magang untuk memperbaiki kekacauan yang tercipta akibat kesalahan yang diciptakan si anak magang. "Baiklah, baiklah, untuk kali ini aku akan memaafkan dan memberimu satu kesempatan lagi untuk memperbaiki dan memastikan bahwa kamu tidak akan pernah kabur dari tanggung jawab atas kekacauan yang telah kamu buat, dan jika kamu mengingkari ucapanmu ... aku akan mengirim petugas dari resimen pekerja untuk menjemput orang-orang macam kamu." Ah ... ternyata itu mengapa dibuat resimen pekerja, ya, agar orang-orang atau pekerja yang sudah membuat keacauan seperti laki-laki berkulit kuning langsat itu tidak bisa bebas pergi tanpa bertanggung jawab sama sekali. Ya, biro yang satu itu memang bertugas untuk mengatasi pekerja yang bermasalah, seperti mengacau di lingkungan kerja, hingga membuat perusahaan mengalami rugi besar akibat kecerobohan si pekerja.
Chaing He terdiam seribu bahasa seperti sebuah patung ketika laki-laki pemilik netra cokelat itu mendengar tentang resimen pekerja, ya, apapun yang terjadi, sebisa mungkin laki-laki berambut cokelat itu tidak perlu sampai berurusan dengan resimen pekerja, yang walau memang bertujuan untuk memperbaiki pekerja macam laki-laki pemilik marga Liu itu, seringkali jika seseorang sudah masuk ke tempat tersebut, orang itu akan dianggap tidak berkompeten, tidak bertanggung jawab, dan tentu saja sangat tidak berguna, hingga pada umumnya, jika seorang pekerja, baik pekerja tetap ataupun pekerja magang sudah pernah mencicipi namanya resimen pekerja, tidak akan ada orang yang mau memakai mereka sebagai pekerja di dalam perusahaan mereka.
Segera, laki-laki berwajah oriental yang amat tampan itu membungkukkan badannya sedalam mungkin, seolah sadar bahwa pemuda itu bisa saja terlibat di dalam masalah yang jauh lebih besar lagi, jika laki-laki pemilik netra cokelat itu gagal dalam mengatasi masalah yang dibuat pemuda berdarah China itu sendiri. "Tenang saja, Bu Affry, saya akan memperbaiki masalah yang saya buat sendiri! Anda tenang saja."
Wanita pemilik netra cokelat itu menghela napas panjang, lagi, entah mengapa wanita yang merupakan pendiri dari Yuu Inc. tersebut merasa sedikit muak dengan apa yang telah dilakukan oleh anak buahnya sendiri. "Baiklah, baiklah, lebih baik kamu segera perbaiki masalah yang kamu buat sendiri, sebelum Pak Richard datang untuk mengurus kerja sama ini! Jika tidak ... awas saja, tanpa basa basi lagi, aku akan langsung mengirimmu ke resimen pekerja, mengerti?!" Wanita yang mengenakan jas hitam itu berkata dengan nada tinggi, seolah tidak lagi ingin mendengar perkataan Chaing He lagi.
"Baik, Bu! Tenang saja!" Dengan sedikit terburu-buru, si anak magang langsung keluar dari ruangan sang Direktur Utama, lantas berjalan menyusuri lorong yang lumayan panjang, berisi dengan berbagai ruangan yang ditempati oleh jajaran eksekutif dan direksi perusahaan tersebut, ruangan yang sebenarnya dibenci oleh laki-laki berkulit kuning langsat itu.
Chaing He segera kembali ke tempat kerjanya berada, lantas dengan cepat mencetak ulang dokumen yang sudah dihancurkan pria pemilik netra cokelat itu, tanpa lupa merubah sedikit isinya agar dokumen tersebut bisa membawa keuntungan yang sedikit lebih besar kepada perusahaan tempat laki-laki berwajah oriental yang amat tampan itu bekerja. Setelah selesai mencetak dokumen itu, pemuda berdarah China tersebut menghela napas panjang, sebuah senyuman yang aneh lagi-lagi muncul di wajah tampannya yang khas. "Dasar wanita payah, bisa-bisanya dia tidak curiga sama sekali ...." monolog laki-laki berambut cokelat itu seraya memasukkan dokumen tadi ke dalam sebuah map. "Ah ... aku masih tidak bisa benar-benar mengerti mengapa perusahaan sebesar dan sebagus ini bisa dipimpin dan didirikan oleh seorang wanita yang benar-benar bodoh."
Sebuah kenyataan menyakitkan seolah sedang bersiap-siap menghancurkan wanita berambut cokelat panjang itu, tentu saja, kenyataan menyakitkan tersebut berasal dari Chaing He, si anak magang yang seringkali dianggap sebagai pengacau, perusuh, tidak sopan serta tidak berguna. Ya, bagaimana jika sebenarnya, si anak magang yang selalu terkena masalah itu, adalah seorang penyusup yang tidak diketahui siapa pengirim atau tuannya? Bukankah hal seperti itu benar-benar menarik untuk diperhatikan? Pemuda berdarah China itu lantas menghela napas, sebelum menyesap kopi panas yang memang selalu tersedia di meja laki-laki berwajah oriental yang amat tampan itu, seraya memutar-mutar map berisi dokumen yang harus dan akan diberikan kepada wanita yang sedang dihancurkan laki-laki itu dari dalam secara perlahan dan tentu saja, hati-hati.
Bagi Chaing He, wanita pemilik netra cokelat itu merupakan sesuatu yang sangat menarik untuk diperhatikan dan dihancurkan, ya ... walau Chaing He terlihat sangat perusuh, pengacau serta bisa dikatakan seringkali bertindak sesuka hati, pemuda berdarah China itu sebenarnya merupakan pribadi yang sangat serius, misterius lagi berhati-hati dan mudah sekali merasa curiga atas orang lain. Karena itu lah, laki-laki berkulit kuning langsat itu seringkali diremehkan dan dianggap tidak bisa melakukan apa-apa di kantor tersebut. Sesapan kopi yang terasa sedikit manis dan dominan pahit itu membuat pemuda pemilik netra cokelat itu memasang senyum tipis, ya, sebisa mungkin, laki-laki itu harus bisa menjalin hubungan akrab dengan Affry, sembari terus menghancurkan perusahaan itu dari dalam.
Affry memijat pelipisnya sendiri, kepalanya sudah terasa pusing sedari tadi, di mana wanita bertubuh tinggi semampai mengetahui bahwa salah satu dokumennya yang sangat penting, tiket sang Direktur Utama untuk meraih keuntungan yang sangat besar kepada perusahaannya, tanpa sengaja dihancurkan dengan cara dimasukkan ke mesin pencacah oleh anak magang yang baru masuk ke perusahaan milik wanita itu.
Ya, sebenarnya, selain itu merupakan surat kerja sama, dokumen yang sama juga memuat surat jual beli kepemilikan saham di perusahaan tersebut. Bagi wanita pemilik netra cokelat itu, saham senilai kurang dari sepuluh persen pun sangat berharga untuknya, karena tanpa saham-saham tersebut, perusahaan yang dijalankan oleh seorang Affry Yuu tidak akan bisa bergerak, pun tidak akan menjadi apa-apa di Amerika. Yang membuat wanita berambut cokelat panjang itu marah besar, orang yang akan menandatangani surat tersebut sudah berada di perjalanan, dan orang tersebut terkenal tidak pernah memberi toleransi terhadap keterlambatan, sama sekali tidak.
Entah apa yang harus dilakukan oleh sang Direktur Utama, sekaligus satu-satunya perempuan yang memegang jabatan setinggi itu di perusahaannya, pada situasi semacam ini, Affry benar-benar sudah pasrah, ya, wanita yang mengenakan jas hitam itu sepertinya harus mulai mempersiapkan diri untuk menghadapi kerugian yang sangat besar serta kehilangan saham senilai ribuan dolar Amerika. "Apa-apaan anak magang itu, bisa-bisanya dia seceroboh ini?" Wanita pemilik marga Yuu itu menggeram penuh rasa kesal, ingin rasanya wanita cantik tersebut mengeluarkan si anak magang dari perusahannya, tetapi ada aturan tertentu yang menghalangi niat wanita berambut cokelat panjang tersebut untuk mengeluarkan si anak magang, pun demikian, pada saat seperti ini, satu-satunya hal yang dapat dilakukan oleh wanita pemilik netra cokelat itu adalah menahan kesal, seraya terus menunggu dokumen yang hancur dicetak ulang oleh si anak magang yang sangat ceroboh.
"Bu Affry, apa anda sedang berada di dalam?" Sebuah suara baritone terdengar dari luar pintu, sepertinya itu adalah salah satu direksi yang bekerja bersama wanita cantik itu. "Ada beberapa hal yang ingin saya bicarakan bersama anda."
"Masuk saja, Tae Wang," balas sang wanita pemilik marga Yuu itu seraya merapikan penampilannya yang sempat sedikit acak-acakan akibat rasa frustrasi yang muncul akibat perbuatan laki-laki berwajah oriental yang amat tampan yang merupakan anak magang itu. "Ada apa? Katakan saja padaku." Sang Direktur Utama berkata lagi seraya menetak-netakkan kukunya yang sedikit memanjang. Pintu kayu cedar lagi-lagi dibuka lalu ditutup, seorang pria bertubuh sedang yang juga menggunakan jas hitam berjalan masuk ke dalam ruangan tersebut dengan langkah yang dapat dikatakan rapi dan teratur khas petinggi perusahaan sekali.
Tae Wang namanya, pria berperawakan tinggi besar itu menatap atasannya dengan tatapan datar, seperti biasa, selalu serius seolah tidak memiliki waktu untuk sekedar berbincang-bincang bahkan untuk bergurau. Laki-laki berambut hitam itu lantas duduk di depan wanita berambut cokelat panjang tersebut seraya menghela nafas panjang. "Tuan Charles sudah berada di perjalanan untuk mengurus kontrak dengan kita, anda sudah menyiapkan kontrak tersebut, kan, Bu Affry?" Laki-laki pemilik netra cokelat itu menatap atasannya sendiri dengan tatapan serius.
Yang ditanya menghela nafas panjang, lantas menjawab bahwa kontrak itu telah dihancurkan secara tidak sengaja oleh si anak magang alias Chaing He. Mendengar perkataan wanita pemilik netra cokelat di hadapannya, Tae Wang tertegun, terdiam seribu bahasa, laki-laki berkulit kuning langsat itu hanya bisa mematung tanpa bisa berkata apa-apa seolah benar-benar terkejut atas kejadian yang terjadi. Tampaknya, pemuda berdarah Asia Timur itu tidak menyangka kalau hal seperti ini akan terjadi, lagipula, bagaimana bisa si anak magang tidak tahu seberapa penting isi dokumen tersebut? Sebuah rasa khawatir menyelinap di relung hati laki-laki berambut hitam itu, tentu saja hal tersebut bisa terjadi karena Tae Wang merupakan karyawan yang sangat loyal serta peduli terhadap perusahaan milik wanita yang mengenakan jas hitam yang berada di hadapan yaitu. Laki-laki pemilik netra cokelat itu hanya bisa terdiam, menatap atasannya sendiri dengan tatapan terkejut, bahkan pada situasi ini laki-laki yang biasanya berotak sangat cerdas itu tidak tahu harus berbuat apa dan bagaimana. Orang yang pemuda pemilik marga Tae itu maksud adalah memang orang yang dimaksud Afri sebelumnya, ya pada situasi tertentu, seperti saat ini, memang kesalahan semacam ini mungkin saja terjadi, tetapi rasanya hampir-hampir tidak mungkin ketika akan terjadi rapat besar semacam ini, kesalahan sebesar menghancurkan dokumen yang sangat penting terjadi. Bahkan, sebenarnya, anak magang terendah sekalipun pasti diberitahu jika dokumen itu sangat penting. Tidak hanya itu, sebenarnya ada sebuah kecurigaan di hati laki-laki yang berkulit kuning langsat itu ketika tahu bahwa dokumen tersebut telah dihancurkan oleh anak magang, seolah ada sesuatu yang memang sengaja dihancurkan di dalam dokumen itu. Sejauh pandangan laki-laki berwajah oriental yang amat khas itu, tidak ada yang salah di dalam dokumen tersebut, hanya ada kerjasama yang biasa-biasa saja tetapi bernilai sangat tinggi dan saham bernilai beberapa puluh ribu dolar Amerika.
Entah mengapa bagi Tae Wang, kejadian semacam ini lebih mirip sabotase daripada sekedar kecerobohan biasa. Entah Affry juga memikirkannya atau tidak, wanita berambut cokelat panjang itu hanya bisa tercenung, seolah sedang berusaha berpikir keras bagaimana jalan keluar terbaik yang bisa mereka dapat jika skenario yang paling buruk benar-benar terjadi. Kedua laki-laki dan perempuan yang duduk berhadapan itu berdiam dengan pikiran mereka masing-masing tanpa ada satupun diantara mereka yang berniat untuk membuka suara untuk sekedar memberi usul atas apa yang harus mereka lakukan tentang kerjasama yang akan segera terjadi. Tetapi sepertinya, kekhawatiran semacam ini tidak perlu terjadi, maksudnya, si anak magang telah kembali seraya membawa sebuah map berwarna cokelat tua, di mana map tersebut berisi surat yang telah dihancurkan oleh Chaing He beberapa saat yang lalu, karena kali ini suara ketukan kembali terdengar di pintu yang berbahan dasar chedar. Tanpa banyak berkata-kata, tetapi dengan sedikit berteriak, wanita pemilik netra cokelat itu meminta untuk siapapun yang mengetuk pintu itu masuk saja dan tidak usah banyak bicara.
Ketika pintu terbuka, wanita yang menjabat sebagai Direktur Utama tersebut tertegun, benar-benar terdiam seolah tidak menyangka kalau si anak magang benar-benar menepati omongannya sendiri, yakni memperbaiki serta mencetak ulang dokumen yang hancur. Sebenarnya, ada satu hal di mana wanita itu berpikir bagaimana mungkin si anak magang yang jelas-jelas tidak pernah diberitahu banyak hal tentang rapat dan isi dokumen itu, bisa-bisanya memiliki salinan dokumen itu secara lengkap, seolah-olah pemuda berdarah China itu juga dilibatkan di dalam kegiatan tersebut, tetapi ya bagaimanapun lagi, mereka sudah cukup terdesak, sudah tidak bisa lagi menunda-nunda atau bahkan sekedar berbincang santai.
"Bu!!" Seseorang lagi-lagi menerobos masuk, benar-benar dengan seenaknya saja menerobos masuk ke ruangan sang Direktur Utama. "Mr. Charles sudah datang! Beliau sudah menunggu di ruangan rapat." Orang itu adalah Pretty, satu-satunya sekretaris wanita di antara sekretaris para jajaran eksekutif dan direksi perusahaan pada saat itu, dan tampaknya begitu pula untuk kedepannya.
Perkataan gadis keturunan Afrika itu tentu saja mengejutkan wanita berambut cokelat panjang itu, ya, beliau tidak menyangka bahwa Charles bisa datang secepat itu, untung saja pada saat seperti ini, dokumen hancur tersebut telah berhasil diperbarui. "Benarkah? Astaga, kalau begitu kita cukup beruntung karena dokumen ini sudah selesai. Baiklah, ayo kita hadiri rapat kali ini." Wanita pemilik netra cokelat itu menghela napas, lalu menoleh untuk menatap si anak magang pengacau. "Kamu, ikut saya ke ruang rapat. Kamu harus mulai mempelajari sesuatu dari sana."