Tangannya sudah bergetar, tapi Kiran mencoba memberanikan diri untuk tetap membuka pesan tersebut. Untung saja, ponsel itu tidak terkunci, sehingga ia bisa membaca semua isi percakapan yang ada. Selama ini, Kiran memang tak pernah membuka ponsel suaminya karena ia percaya sepenuhnya pada Arka. Tapi kepercayaannya kini hancur berkeping-keping ketika ia melihat pesan tersebut.
Tubuh Kiran bergetar hebat, dadanya terasa sesak, kakinya begitu rapuh dalam berpijak hingga ia jatuh ke lantai yang dingin. Semua pesan itu membuatnya begitu terpukul. Bagaimana tidak, kontak yang memiliki foto profil seorang anak kecil yang begitu mirip dengan suaminya itu menyita perhatiannya.
"Siapa anak kecil ini? Kenapa dia begitu mirip dengan Mas Arka?"
Hati Kiran berdenyut nyeri. Terlebih, Arka menyimpan nomor ponsel itu dengan panggilan 'Ay.' Kiran merasa dunia di sekitarnya runtuh. Air mata mulai mengalir deras di pipinya, mengaburkan pandangannya. Setiap pesan yang terbaca seolah menambah beban di hatinya.
"Kiran!" Kiran terkesiap ketika Arka memanggilnya.
"Kiran, apa kamu mendengarku? Sabun di kamar mandi habis, bisa kamu ambilkan?!" Arka berteriak dari dalam kamar mandi.
Kiran yang mendengar itu langsung mengusap air matanya dengan kasar. Ia lalu meletakkan ponsel Arka di atas meja lagi. "Iya, sebentar," jawabnya, suaranya terdengar begitu dingin.
Wanita itu segera beranjak, berjalan menuju lemari tempat penyimpanan sabun. Setelah berada di depan lemari, ia membuka lemari itu dan mengambil sabun cair, lalu menutup lemari itu lagi dan berjalan ke arah kamar mandi. "Ini sabunnya."
Arka membuka pintu sedikit, lalu meraih sabun yang ada di tangan Kiran. "Terima kasih."
Setelah Arka menutup pintu lagi, Kiran menyandarkan tubuhnya di tembok. Ia masih memikirkan siapa orang yang mengirim pesan tersebut kepada suaminya. Kiran tak pernah membayangkan bila suaminya itu berselingkuh di belakangnya, terlebih selama ini Kiran selalu percaya kepada suaminya.
Sepuluh menit telah berlalu. Arka keluar dari kamar mandi sembari mengusap rambut basahnya menggunakan handuk. "Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu masih berdiri di situ?" tanya Arka ketika melihat Kiran hanya terdiam sambil bersandar di tembok.
Kiran tak menjawab, ia hanya memperhatikan suaminya yang berjalan ke arah meja. Tiba-tiba suara panggilan dari ponsel Arka terdengar. Arka segera mengambil ponselnya, ia terkesiap ketika tahu siapa yang menghubunginya. "Aku angkat telepon dulu," kata Arka sambil menoleh ke arah Kiran.
"Kenapa tidak mengangkatnya di sini saja, Mas?" usul Kiran, ketika melihat suaminya hendak pergi.
Arka menoleh sejenak ke arah ponsel itu, lalu ia pun menganggukkan kepalanya. "Baiklah."
Arka pun mengangkat panggilan telepon tersebut. "Halo."
"Mas, Cleo sedang demam, kamu harus ke sini sekarang juga." Suara wanita di seberang telepon terdengar cemas.
"Oh, baiklah, aku akan ke sana sekarang."
Setelah berkata seperti itu, Arka langsung mematikan sambungan teleponnya.
"Siapa yang menelepon, Mas?" selidik Kiran sambil menatap suaminya tajam.
"Tiba-tiba ada urusan di kantor," jawab Arka.
"Tapi kamu baru pulang ke rumah, apa kamu akan pergi lagi?"
"Ya, urusannya mendadak, tidak bisa dibatalkan," kata Arka sembari mengambil jaket dan kunci mobilnya dari gantungan.
Kiran memandang suaminya dengan tatapan penuh curiga. "Apa urusan kantor yang mendadak itu, Mas? Kenapa terdengar begitu mendesak?"
Arka terdiam sejenak, ia mencari kata-kata yang tepat agar istrinya tak curiga. "Ada masalah penting yang harus segera diselesaikan. Aku harus menemui klien yang sedang mengalami situasi darurat. Ini tidak bisa ditunda."
Kiran hanya mengangguk pelan, meski hatinya masih dipenuhi oleh keraguan. "Baiklah, hati-hati di jalan, Mas."
Arka mengangguk, sebelum pergi, ia mengecup singkat kening Kiran terlebih dahulu. "Aku pergi dulu. Kamu jangan begadang terus, tidak baik untuk kesehatanmu."
Setelah Arka pergi dari hadapannya, Kiran kembali merasakan sesak di dadanya. "Kamu sudah berani berbohong kepadaku, Mas."
Kiran segera berjalan ke arah nakas untuk mengambil kunci mobilnya yang ia simpan di laci nakas. Wanita itu berencana untuk mengikuti ke mana suaminya akan pergi.
Setelah ia berhasil mendapatkan kunci mobilnya, Kiran segera berlari mengejar suaminya yang sudah pergi terlebih dulu, tepat ketika sudah di depan mobil, Kiran langsung memasuki mobil. Tangannya bergetar ketika menyalakan mesin mobil, ia mengintip keluar jendela untuk memastikan bahwa Arka sudah cukup jauh di depan. Perlahan, ia mengikuti mobil suaminya dari belakang, dan berusaha menjaga jarak agar tidak ketahuan.
Selama perjalanan, perasaan Kiran begitu gelisah. Ia berharap apa yang ada dipikirannya itu tidaklah benar. Namun, keraguan dan kecurigaan terus menghantui pikirannya. Air mata kembali mengalir di pipinya saat ia membayangkan kemungkinan terburuk.
"Mas, aku hanya berharap kamu tidak mengkhianatiku." Kiran mengusap air matanya yang terus mengalir, ia kembali fokus mengendarai mobilnya lagi.
Hatinya berdebar kencang saat melihat Arka berbelok ke jalan yang tak biasa mereka lewati. Kiran mencoba tetap tenang dan fokus, mengikuti setiap gerakan mobil suaminya dengan hati-hati. Ia berharap ini semua hanya mimpi buruk yang akan segera berakhir.
Namun, ketika Arka berhenti di depan sebuah rumah yang asing baginya, Kiran merasa nyeri yang mendalam di hatinya. Ia melihat seorang wanita keluar dari rumah tersebut, sambil menggendong seorang anak kecil yang tampak sakit.
Kiran melihat suaminya, Arka, keluar dari mobil dan segera menghampiri mereka. Wanita itu mencengkram setir mobil begitu erat ketika menyaksikan suaminya berbicara dengan wanita lain begitu akrab. "Siapa wanita itu? Kenapa mereka terlihat begitu dekat?"
Ketika Arka mengambil anak kecil itu dan membawanya masuk ke dalam rumah, Kiran merasa seluruh dunianya runtuh. Air mata tak terbendung lagi. Kenyataan pahit ini begitu menghancurkan hatinya. Semua harapan dan kepercayaannya pada Arka seakan musnah dalam sekejap.
Kiran memberanikan diri untuk keluar dari mobil. Ia hanya ingin memastikan apa yang sebenarnya suaminya lakukan di dalam sana. Setibanya di depan pintu rumah, Kiran mulai menguping pembicaraan mereka.
"Kenapa tubuh Cleo panas sekali?" tanya Arka, yang terlihat begitu khawatir.
"Aku juga tidak tahu, Mas. Aku sudah membeli obat dari apotek, tapi suhu panasnya belum turun juga. Apa sebaiknya kita bawa Cleo ke rumah sakit saja? Aku takut terjadi apa-apa sama Cleo."
"Baiklah, kita ke rumah sakit sekarang. Kamu siap-siap dulu."
"Baik, Mas."
Arka meletakkan anak kecil itu di atas sofa. Ia mengelus wajah anak kecil yang masih berumur sekitar satu tahun itu. "Ada apa dengan anak papa ini? Kenapa suhu tubuhmu panas sekali, hm?"
Deg!
Jantung Kiran terasa diremas hebat ketika mendengar perkataan Arka. Air matanya jatuh membasahi pipinya. Ia tak menyangka semua ini akan terjadi padanya. Kiran begitu terpukul mendengar kenyataan ini, ia merasa begitu rapuh dan hancur secara bersamaan.
"Apa yang aku dengar tadi?" Kiran bertanya dalam kebingungan, ia melangkah mundur. Namun, kakinya tak sengaja menjatuhkan pot yang ada di lantai.
Praakk!
"Mas, suara apa itu?" tanya wanita yang ada di dalam rumah.
"Aku juga tidak tahu, mungkin kucing," ujar Arka. Ia berdiri dan berjalan ke arah luar, diikuti oleh wanita yang ada di belakangnya.
Ketika pintu berhasil dibuka, Arka terkejut ketika melihat Kiran yang ada di sana. "Kiran ...."
"Kiran." Bibir Arka bergetar ketika memanggil nama istrinya.
Kiran tersenyum, menatap suaminya yang sudah berada tepat di hadapannya. "Mas, apa kamu sudah bertemu dengan klien-mu? Tadi kamu pamit padaku, kamu bilang kamu ingin bertemu dengan klien, 'kan?" Kiran menatap ke arah wanita yang ada di samping suaminya. "Apa dia klien-mu, Mas?"
"Kiran, aku ...."
Kiran segera menyela perkataan Arka, meski hatinya begitu sesak seperti ditusuk ribuan jarum. "Oh iya, Mas, tadi aku juga melihat kamu menggendong seorang anak kecil. Dan kenapa aku mendengar kamu bilang 'anak papa'? Siapa anak itu, Mas?"
Jujur saja, kiran sudah tak mampu lagi untuk menatap suaminya, bibirnya memang tersenyum, tapi hatinya sudah menjerit ingin berteriak. "Ayo jawab aku, Mas. Kenapa kamu hanya diam?"
Arka meraih tangan Kiran, rasa bersalah dan ketakutan sudah memenuhi hatinya. Satu hal yang sangat ia takutkan akhirnya terjadi juga.
"Kiran ...."
"Aku tidak mau kamu terus berbohong kepadaku, Mas. Aku ingin kamu jujur." Kiran menatap suaminya, seakan mendesaknya untuk berkata jujur.
Arka menghela napas panjang sebelum akhirnya berkata, "Maaf." Perkataan maaf itu jelas membuat hati Kiran semakin rapuh. "Aku minta maaf, Kiran."
Kiran menahan tubuh Arka ketika lelaki itu ingin memeluknya. "Tolong, jangan sekarang, Mas. Aku butuh penjelasan. Siapa mereka? Dan kenapa kamu menyembunyikan semuanya dariku?"
Arka menunduk, rasa bersalah terlihat jelas di wajahnya. "Kiran, wanita ini adalah Lita, dan anak yang kamu lihat tadi adalah Cleo. Cleo adalah anak aku dan Lita. Aku tahu ini sangat mengejutkan dan menyakitkan untukmu. Aku menyembunyikan mereka darimu karena aku takut kamu akan meninggalkanku jika tahu kebenarannya."
Kiran terdiam. Terkejut? Tentu saja ia begitu terkejut atas pengakuan yang telah suaminya utarakan. Selama ini, Kiran merasa pernikahannya begitu sempurna. Ia selalu mengira bahwa Arka adalah suami yang setia, yang selalu ada di sampingnya. Tapi kini, kenyataan yang baru terungkap ini menghancurkan segala harapan dan impiannya.
Air mata Kiran yang sudah membendung sedari tadi akhirnya jatuh menggelinding meninggalkan jejak di pipinya. "Sejak kapan, Mas? Sejak kapan kalian berhubungan di belakang aku?"
Arka mengangkat pandangannya lagi ke arah Kiran, ia bisa merasakan rasa kecewa pada tatapan istrinya yang begitu penuh luka. Tatapan Kiran begitu menyakitkan, seolah menusuk langsung ke dalam hatinya.
"Dua tahun," jawab Arka, suaranya terdengar serak. "Kami tidak sengaja bertemu di sebuah acara perusahaan. Malam itu, aku sangat lelah dan emosi, kami tidak sengaja menghabiskan malam bersama. Sejak itu, hubungan kami terus berlanjut. Aku tidak tahu bagaimana menghentikannya, Kiran. Aku merasa terjebak oleh perasaan ini."
Sejenak, Kiran menyeka bulir hangat yang kembali lolos dari pelupuk matanya. "Kamu merasa terjebak? Bagaimana dengan aku, Mas? Kamu membohongiku selama dua tahun. Setiap kali aku menatapmu, aku percaya bahwa kamu adalah suami yang setia. Tapi ternyata, semua itu hanya kebohongan. Aku merasa seperti orang bodoh."
Arka tertunduk menatap lantai, ia tak berani menatap mata Kiran yang membuatnya semakin bersalah. "Aku minta maaf, Kiran. Aku tahu aku telah menyakitimu dengan cara yang tak termaafkan. Aku hanya berharap kamu bisa memberi aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya."
"Haaa, maaf? Kesempatan?" Kiran tertawa getir mendengar perkataan Arka. "Apa kamu pikir dengan meminta maaf bisa membuat semuanya kembali baik-baik saja?!" Kali ini suara Kiran sudah naik satu oktaf.
Sosok Arka yang selama ini ia banggakan dan percayai kini berubah menjadi sumber kekecewaannya yang mendalam. Kiran merasa telah dibodohi selama ini, dan rasa sakit itu begitu nyata di hatinya.
"Apa kamu pikir kamu bisa membohongiku terus-menerus, Mas? Kalau saja aku tidak mengikutimu malam ini, mungkin aku akan menjadi wanita bodoh yang terus kamu bohongi!" berang Kiran, kilatan di matanya sudah memancarkan amarah yang begitu mendalam.
"Kiran, aku ..." Arka mencoba mendekati Kiran lagi, tangannya terulur seolah ingin memeluk istrinya, tetapi Kiran mundur, ia menolak sentuhan itu.
Kiran mengangkat tangannya, menghentikan Arka di tempatnya. "Aku tidak ingin mendengar apa pun darimu sekarang. Kamu telah menghancurkan semua kepercayaan yang aku miliki. Kamu pikir aku akan memaafkanmu begitu saja hanya karena kamu meminta maaf?"
Arka terdiam, merasakan beratnya kata-kata Kiran yang menghantam hatinya. Selang beberapa detik kemudian, ia berkata, "Aku tahu aku salah, Kiran. Dan aku sangat menyesal. Aku tidak pernah bermaksud menyakitimu seperti ini. Aku hanya takut kehilanganmu."
Kiran tertawa pahit mendengar pernyataan suaminya. "Takut kehilangan aku? Lucu sekali, Mas. Kamu sudah kehilangan aku sejak kamu memutuskan untuk berbohong dan berselingkuh. Jangan pernah berpikir bahwa aku akan melupakan semua ini dengan mudah!"
Kiran melihat ke arah wanita yang bernama Lita itu, yang sedari tadi hanya terdiam. "Dan kamu, apa sekarang kamu sudah puas karena telah berhasil menghancurkan rumah tangga kami?!" tuduh Kiran ke arah wanita yang ada di samping suaminya.
Lita tampak terkejut dan canggung, tidak tahu harus berkata apa. Ia hanya bisa menunduk, menghindari tatapan penuh amarah dari Kiran.
Arka mencoba untuk membela Lita. "Kiran, Lita bukan wanita jahat. Dia wanita baik, dan dia juga tidak ingin situasi ini terjadi. Ini semua salahku."
"Kalau dia wanita baik, dia tidak akan pernah mengambil kebahagiaan wanita lain!" hardik Kiran, sambil mengepalkan telapak tangan, menatap suaminya dengan bola mata yang sudah berkaca-kaca, air mata terjatuh kembali di sudut matanya. "Wanita baik tidak akan menghancurkan rumah tangga orang lain! Apa kamu pikir aku akan percaya dengan omong kosongmu itu?!"
Lita akhirnya memberanikan diri mengangkat pandangannya ke arah Kiran. "Kiran, aku tidak pernah berniat untuk menghancurkan rumah tanggamu. Aku juga terjebak dalam situasi ini. Aku tahu aku salah, dan aku sangat menyesal. Tapi Cleo tidak bersalah. Dia hanya seorang anak yang tidak tahu apa-apa."
"Jangan bawa-bawa anak itu!" cibir Kiran. "Masalah ini antara kita orang dewasa. Kamu, yang tahu bahwa Arka sudah menikah, seharusnya kamu menjauh. Tapi kamu malah memilih untuk terus mendekatinya!"
Kiran segera menghapus air matanya dengan kasar. Ia menatap ke arah suaminya sambil berkata, "Selama ini kamu selalu bilang bahwa kamu begitu pusing dengan tagihan yang selalu membengkak, bukan? Baiklah, kalau begitu aku akan menghilangkan tagihanmu ini."
Arka dan Lita hanya bisa terdiam, menerima semua kata-kata Kiran yang begitu menyakitkan bagi mereka. Di tengah kebisuan itu, Kiran berbalik dan mulai berjalan menjauh, membawa luka yang mendalam di hatinya.
Arka melihat ke arah Kiran yang sudah melangkah jauh. "Kiran!" serunya, berharap istrinya akan berhenti dan mendengarkannya.
Namun beberapa saat kemudian, Arka melihat Kiran kembali ke arahnya dengan membawa balok di tangan kanannya.
Arka dan Lita begitu panik, terutama karena tatapan Kiran yang kosong, tanpa ada sorot sama sekali.
"Kiran, apa yang ingin kamu lakukan?" Arka bertanya dengan suara bergetar ketika Kiran sudah semakin dekat dengannya.