Udara malam Jakarta terasa dingin menusuk, seolah ikut merasakan kebekuan di hati Kirana. Ia mengemudikan mobilnya tanpa arah, air mata terus mengalir tanpa henti, membasahi pipinya yang sudah terasa lengket. Kemana ia harus pergi? Rumah ini, rumah orang tuanya yang dulu terasa begitu hangat, kini terasa asing. Ia tak ingin menambah beban pikiran kedua orang tuanya yang pasti akan terpukul mengetahui kebeningan pernikahan Kirana dan Revan hanyalah ilusi. Teman-temannya? Ia tidak punya cukup keberanian untuk menceritakan rasa malu dan sakit hati ini.
Pikirannya kosong, namun pada saat yang sama, dipenuhi oleh kilasan-kilasan pengkhianatan. Wajah Revan yang datar, senyum Sekar yang licik, tawa mereka yang dulu ia anggap persahabatan, kini menjelma menjadi belati yang menusuk ulu hatinya. Ia merasa bodoh, begitu naif karena terlalu percaya pada janji kosong dan senyuman palsu.
Jalanan tol yang ramai seolah ikut berpacu dengan denyut nadinya yang tak beraturan. Kirana mencoba menenangkan diri, menarik napas dalam-dalam, berharap oksigen bisa membersihkan paru-parunya dari sesak yang menyesakkan. Namun, rasa sakit itu terlalu nyata, terlalu dalam.
"Bara..." Nama itu kembali terucap, kali ini bukan desahan, melainkan sebuah bisikan penuh harap.
Kenangan tentang Bara Mahendra bagai mercusuar di tengah badai. Bara, si anak laki-laki berandal dengan senyum yang selalu tulus. Sahabat masa kecilnya yang paling setia, yang selalu melindunginya dari kenakalan anak-anak lain. Kirana ingat betul bagaimana Bara akan selalu berdiri di garis depan setiap kali Kirana diejek karena rambutnya yang keriting atau kacamatanya yang tebal.
Mereka terpisah saat Kirana masuk SMP dan Bara harus ikut orang tuanya pindah ke luar kota. Kontak mereka sempat terjalin melalui surat dan telepon rumah, namun seiring berjalannya waktu, kesibukan sekolah menengah membuat komunikasi mereka merenggang, hingga akhirnya terputus sama sekali. Kirana pernah mencoba mencarinya melalui media sosial, namun nama Bara Mahendra terlalu umum, dan ia tak menemukan jejak pasti. Ia mengira Bara sudah benar-benar hilang dari kehidupannya.
Sekarang, di titik terendah dalam hidupnya, sosok Bara kembali muncul, bagai penyelamat di ambang kegelapan. Ia tidak tahu mengapa, tapi ada dorongan kuat untuk menemukan Bara. Mungkin hanya untuk sekadar nostalgia, atau mungkin ia membutuhkan pengingat bahwa ada kebaikan tulus yang pernah ada dalam hidupnya.
Kirana menghentikan mobilnya di bahu jalan tol, menepikan kendaraannya di tempat yang agak sepi. Ia menarik napas dalam-dalam, mengaktifkan GPS di ponselnya. Tujuannya adalah sebuah kota kecil di Jawa Tengah, tempat di mana Bara dan keluarganya dulu pindah: Magelang. Sebuah kota yang menyimpan begitu banyak kenangan masa kecilnya bersama Bara.
Tanpa pikir panjang, ia memutar kemudi, mengubah arah mobilnya. Keputusan ini terasa spontan, namun juga tak terelakkan. Kirana merasa ini adalah satu-satunya cara untuk melarikan diri dari bayang-bayang pengkhianatan yang menghantuinya.
Perjalanan malam itu terasa sangat panjang. Kirana mengemudi dalam diam, sesekali air mata kembali membasahi pipinya. Pikirannya melayang, kembali ke masa lalu, ke saat-saat polos bersama Bara.
Ia ingat bagaimana Bara akan selalu datang ke rumahnya setiap sore setelah pulang sekolah, membawa jajan pasar favorit Kirana. Mereka akan bermain petak umpet di taman belakang, atau membangun istana pasir di kotak pasir buatan Ayah Kirana. Bara selalu punya cara untuk membuat Kirana tertawa, bahkan saat ia merajuk.
Pernah suatu kali, Kirana jatuh dari sepeda. Lututnya berdarah dan ia mulai menangis. Bara, meskipun lebih kecil darinya, langsung menghampiri, mengobati lukanya dengan plester kartun kesukaan Kirana, lalu menggendongnya pulang.
"Nanti kalau Kirana sudah besar, kalau ada yang jahatin Kirana, Bara yang akan lindungi!" janji Bara dengan lantang, mengepalkan tinjunya seolah-olah ia adalah pahlawan super. Kirana saat itu hanya tertawa, menganggapnya sebagai janji kekanak-kanakan. Tapi sekarang, janji itu terngiang-ngiang di telinganya. Ia membutuhkan Bara. Ia membutuhkan seseorang yang bisa melindunginya dari rasa sakit ini.
Kenangan itu membawa senyum tipis di bibir Kirana, senyum yang sudah lama tidak muncul di wajahnya. Namun, senyum itu cepat menghilang, digantikan oleh bayangan Revan dan Sekar.
Bagaimana bisa Sekar melakukan ini padanya? Sepupu yang ia percayai, yang ia anggap saudara kandung. Kirana mengingat bagaimana Sekar akan datang ke rumah mereka, tersenyum manis, memuji Kirana. "Kak Kirana cantik sekali hari ini," atau "Gaun Kak Kirana indah sekali, cocok untuk Kakak." Sekarang, Kirana melihat senyum itu sebagai topeng, pujian itu sebagai racun.
Sekar bahkan seringkali menjadi 'tempat curhat' Kirana tentang Revan. Kirana pernah mengeluh pada Sekar betapa dinginnya Revan, betapa sulitnya meluluhkan hati suaminya. Dan Sekar akan mendengarkan dengan penuh perhatian, memberikan saran-saran "bijak" tentang bagaimana menjadi istri yang lebih baik, bagaimana "memenangkan" hati Revan.
"Mungkin Kak Kirana harus lebih sabar," kata Sekar kala itu. "Pria memang butuh waktu untuk membuka hati."
"Revan mungkin punya beban pikiran, Kak. Coba Kakak lebih pengertian."
Kata-kata itu terngiang di telinga Kirana, kini terdengar seperti ejekan, seperti bensin yang disiramkan ke api yang membara di hatinya. Betapa bodohnya ia tidak melihat kebenaran yang terpampang jelas di depan matanya. Sekar adalah serigala berbulu domba. Ia adalah orang yang menari di atas penderitaan Kirana, sambil tersenyum manis.
Matahari mulai mengintip dari balik cakrawala timur saat Kirana memasuki gerbang kota Magelang. Udara pagi yang sejuk dan segar menyambutnya, jauh berbeda dengan udara Jakarta yang selalu panas dan bising. Pemandangan pedesaan yang hijau terhampar di sepanjang jalan, sawah-sawah yang membentang luas, dan gunung-gunung menjulang tinggi di kejauhan.
Magelang. Sebuah kota kecil yang menyimpan begitu banyak memori. Kirana mengemudikan mobilnya perlahan, mencoba mengingat jalan-jalan kecil yang dulu sering ia lalui bersama Bara. Ia mencoba mengingat alamat rumah Bara, atau setidaknya lingkungan tempat tinggal mereka.
Ia parkir di dekat sebuah toko kelontong tua yang masih terlihat sama seperti puluhan tahun yang lalu. Kirana keluar dari mobil, matanya menyapu sekeliling. Toko itu, warnanya yang pudar, papan nama yang hampir usang, semua terasa familiar. Di seberang jalan, ada sebuah pohon beringin besar yang dulu sering menjadi tempat mereka bermain. Semua terasa begitu nyata, seperti ia kembali ke masa kecilnya.
Kirana memberanikan diri masuk ke dalam toko. Aroma kopi bubuk dan rempah-rempah langsung menyeruak, aroma yang sama seperti dulu. Seorang wanita paruh baya dengan rambut yang mulai memutih menyambutnya dengan senyuman.
"Selamat pagi, Mbak. Ada yang bisa saya bantu?" sapa wanita itu ramah.
Kirana merasa sedikit gugup. "Selamat pagi, Bu. Maaf, saya... saya sedang mencari seseorang."
"Siapa, Mbak? Mungkin saya kenal," jawab wanita itu, tersenyum.
"Saya mencari keluarga Mahendra, Bu. Dulu mereka tinggal di daerah sini." Kirana mencoba mengingat nama jalan, tapi otaknya terasa buntu.
Wanita itu mengerutkan kening, mencoba mengingat. "Mahendra... Oh, keluarga Pak Budi Mahendra yang dulu punya bengkel kecil di ujung jalan itu ya?"
Jantung Kirana berdebar. "Iya, Bu! Betul sekali! Pak Budi dan istrinya, Bu Lastri, dan... anaknya, Bara."
Senyum di wajah wanita itu mengembang. "Oh, Bara! Tentu saja. Dia anak yang baik, dulu sering bantu ibunya belanja di sini." Wanita itu terdiam sejenak, sorot matanya berubah menjadi sedikit sendu. "Sayangnya, mereka sudah tidak tinggal di sini lagi, Mbak."
Dunia Kirana seolah runtuh lagi. "Tidak tinggal lagi? Lalu... kemana mereka pindah, Bu?"
"Beberapa tahun yang lalu, setelah Pak Budi meninggal, Bu Lastri memutuskan untuk ikut Bara pindah ke Yogyakarta. Katanya Bara bekerja di sana, di bidang arsitek," jelas wanita itu. "Bu Lastri sering berkunjung ke sini, tapi sudah lama juga tidak terlihat."
Yogyakarta. Harapan yang baru saja tumbuh di hati Kirana kini terasa memudar. Yogyakarta adalah kota besar, bahkan lebih besar dari Magelang. Mencari seseorang bernama Bara Mahendra di sana, tanpa alamat pasti, tanpa nomor telepon, akan seperti mencari jarum di tumpukan jerami.
Kirana mengucapkan terima kasih kepada ibu pemilik toko, lalu keluar dengan perasaan hampa. Perjalanan panjangnya seolah sia-sia. Ia duduk di bangku di bawah pohon beringin, menatap jalanan yang masih sepi. Rasa lelah dan putus asa menyelimuti dirinya. Ia merasa seperti pecundang. Segala usahanya sia-sia.
Apakah ini takdirnya? Selalu berlari dari satu kekecewaan ke kekecewaan lain?
Ia mengeluarkan ponselnya, menatap layar yang menampilkan pesan terakhir dari Revan. Pesan yang penuh pengkhianatan. Ia ingin melempar ponsel itu, menghancurkannya, tapi ia tahu itu tidak akan mengubah apa pun.
Tiba-tiba, sebuah ide melintas di benaknya. Bara bekerja sebagai arsitek. Bidang itu adalah dunia yang ia kenal. Keluarga Wijaya, keluarganya sendiri, memiliki banyak proyek properti. Mungkin, hanya mungkin, ia bisa menemukan Bara melalui koneksi bisnis. Ini adalah harapan terakhirnya.
Kirana memutuskan untuk tidak kembali ke Jakarta sekarang. Ia membutuhkan waktu untuk sendiri, untuk menyembuhkan luka-luka hatinya. Ia mencari penginapan terdekat, sebuah hotel kecil yang tenang, dan memutuskan untuk menghabiskan beberapa hari di Magelang, mencoba menenangkan diri sebelum menghadapi badai yang lebih besar di Jakarta.
Beberapa hari di Magelang berlalu dengan lambat. Kirana menghabiskan waktunya dengan berjalan-jalan di sekitar kota, mengunjungi tempat-tempat yang menyimpan kenangan masa kecilnya bersama Bara. Candi Borobudur, yang dulu selalu menjadi tempat favorit mereka untuk bermain petak umpet di antara stupa-stupa. Pasar tradisional, tempat mereka sering membeli permen kapas dan jajan pasar. Setiap sudut kota seolah menyimpan gema tawa dan janji-janji masa lalu.
Namun, setiap kenangan indah itu selalu berakhir dengan bayangan Revan dan Sekar, menghancurkan ketenangan yang baru saja ia rasakan. Luka itu masih terlalu dalam, terlalu basah.
Pada hari ketiga, Kirana memutuskan untuk mengambil tindakan. Ia menghubungi sekretaris Ayahnya, memintanya untuk mencari informasi tentang arsitek bernama Bara Mahendra di Yogyakarta. Ia tahu ini mungkin terdengar gila, tapi ia tidak punya pilihan lain. Ini adalah satu-satunya jalan.
"Nama lengkapnya Bara Mahendra, Bu. Dia lulusan Universitas Gadjah Mada, jurusan arsitektur," Kirana memberikan informasi yang ia ingat dari cerita ibu pemilik toko. Ia tahu itu tidak banyak, tapi itu permulaan.
Sekretarisnya, Ibu Rina, seorang wanita paruh baya yang sangat loyal, terdengar sedikit terkejut dengan permintaan mendadak ini, namun ia profesional dan tidak banyak bertanya. "Baik, Nona Kirana. Akan saya coba carikan informasinya. Mohon beri saya waktu."
Kirana menutup telepon, menarik napas lega. Setidaknya, ia sudah melakukan sesuatu. Ia tidak lagi pasif, tidak lagi hanya meratapi nasibnya.
Sore harinya, Kirana duduk di teras hotel, menyeruput teh hangat, matanya menatap siluet senja yang memudar di balik gunung. Ponselnya berdering. Nama Ibu Rina tertera di layar. Jantung Kirana berdebar kencang.
"Nona Kirana, saya sudah menemukan beberapa informasi," suara Ibu Rina terdengar jelas. "Ada beberapa Bara Mahendra yang lulusan arsitektur UGM. Tapi yang paling menonjol adalah seorang Bara Mahendra yang kini menjabat sebagai direktur utama di sebuah firma arsitektur besar di Yogyakarta. Namanya 'Adiwangsa Arsitek'. Dia cukup terkenal, Nona. Banyak proyek besar di sana yang dia tangani."
Darah Kirana berdesir. Adiwangsa Arsitek. Sebuah nama yang tidak asing di telinganya. Firma itu memang cukup dikenal di kalangan pengembang properti. Apakah ini Bara-nya? Apakah ini sahabat masa kecilnya?
"Apakah ada foto atau informasi lain, Bu Rina?" Kirana bertanya, suaranya sedikit bergetar karena antusiasme yang membuncah.
"Ada foto profilnya di situs web perusahaan, Nona. Saya bisa kirimkan link-nya."
"Tolong kirimkan, Bu Rina. Sekarang juga!"
Beberapa detik kemudian, notifikasi pesan masuk terdengar. Kirana dengan cepat membuka tautan yang dikirimkan Ibu Rina. Layar ponselnya menampilkan sebuah foto.
Seorang pria dengan rahang tegas, rambut hitam sedikit berantakan namun tertata rapi, dan sepasang mata cokelat yang teduh. Senyum tipisnya, meskipun dewasa, masih menyisakan jejak senyum lebar yang Kirana kenal dulu. Ada kerutan halus di sudut matanya, menunjukkan usianya yang bertambah. Tapi tidak salah lagi. Itu dia. Bara Mahendra.
Rasa campur aduk menyeruak di dada Kirana. Lega, haru, sekaligus kerinduan yang mendalam. Ia masih sama. Bara-nya. Pahlawan masa kecilnya. Sebuah rasa aman yang sudah lama hilang, kini kembali terasa.
Tapi, apa yang akan ia katakan pada Bara? Setelah bertahun-tahun terputus kontak, tiba-tiba muncul lagi dengan kondisi hancur seperti ini? Kirana merasa ragu. Ia adalah putri dari keluarga Wijaya, seorang wanita yang seharusnya selalu tampil sempurna dan kuat. Kini, ia hanya seorang wanita yang patah hati, mencari perlindungan di masa lalu.
Namun, keraguan itu cepat menguap, digantikan oleh dorongan yang lebih kuat. Ia harus bertemu Bara. Ia harus mencari tahu.
"Terima kasih banyak, Bu Rina," ucap Kirana, suaranya penuh kelegaan.
"Sama-sama, Nona. Ada lagi yang bisa saya bantu?"
"Tidak, Bu Rina. Cukup ini saja. Jangan beri tahu siapa pun tentang pencarian ini, ya," pinta Kirana, teringat bahwa ia masih belum ingin orang tuanya tahu tentang keretakan pernikahannya.
"Baik, Nona. Saya mengerti," jawab Ibu Rina.
Kirana menutup telepon. Sebuah keputusan besar sudah ia ambil. Ia akan pergi ke Yogyakarta. Ia akan mencari Bara. Mungkin, hanya mungkin, dengan kembalinya Bara Mahendra, ia bisa menemukan kembali potongan-potongan dirinya yang hancur. Mungkin, ia bisa menemukan kembali kekuatan untuk menghadapi kenyataan yang menyakitkan di Jakarta. Atau mungkin, ia bisa menemukan awal yang baru.
Kirana tiba di Yogyakarta menjelang siang. Kota pelajar ini menyambutnya dengan keramaian yang berbeda dari Jakarta; lebih santai, namun tetap menyimpan denyut kehidupan yang kental. Setelah check-in di sebuah hotel di pusat kota, ia segera merencanakan langkah selanjutnya. Menghubungi Bara secara langsung terasa terlalu mendadak setelah bertahun-tahun tanpa kabar. Kirana memutuskan untuk mencoba cara lain: pura-pura menjalin kerja sama profesional. Itu akan memberinya alasan yang sah untuk bertemu Bara, tanpa harus mengungkapkan seluruh kerapuhan hatinya.
Ia menghubungi sekretarisnya lagi, Ibu Rina.
"Ibu Rina, saya ingin Anda menyiapkan proposal kerja sama untuk Adiwangsa Arsitek. Buat proposal yang sangat menarik, seolah-olah kami tertarik untuk menggunakan jasa mereka dalam proyek pengembangan properti terbaru keluarga," pinta Kirana, mencoba terdengar profesional dan percaya diri.
"Baik, Nona Kirana. Proyek yang mana yang harus saya cantumkan?" tanya Ibu Rina.
Kirana berpikir cepat. "Gunakan saja proyek apartemen mewah di Senopati. Itu proyek yang sedang berjalan, jadi tidak akan terlalu mencurigakan jika kita mengajukan kerja sama arsitektur internal." Proyek itu memang nyata, meskipun niat Kirana jauh dari sekadar kerja sama bisnis.
"Baik, Nona. Akan segera saya siapkan. Siapa yang harus saya hubungi di Adiwangsa Arsitek?"
"Direktur utamanya, Bara Mahendra. Sampaikan bahwa saya, Kirana Wijaya, ingin bertemu dengannya secara pribadi untuk membahas potensi kerja sama ini." Kirana sengaja menekankan namanya, berharap Bara akan mengenali nama itu, bahkan setelah sekian lama.
"Siap, Nona. Ada lagi?"
"Tidak, cukup itu saja. Segera hubungi saya jika sudah ada kabar," Kirana mengakhiri panggilan.
Ia meletakkan ponselnya di meja, menarik napas panjang. Jantungnya berdebar kencang. Ia tahu ini adalah sebuah perjudian. Bagaimana jika Bara tidak mengingatnya? Bagaimana jika ia sudah sangat berbeda? Atau lebih buruk lagi, bagaimana jika ia menolaknya? Keraguan itu menusuk, namun harapan untuk bertemu Bara lebih besar.
Sore harinya, saat Kirana sedang menikmati secangkir kopi di kafe hotel, ponselnya berdering. Nama Ibu Rina tertera di layar. Kirana langsung mengangkatnya.
"Nona Kirana, saya sudah berhasil menghubungi Adiwangsa Arsitek," suara Ibu Rina terdengar antusias. "Pak Bara Mahendra bersedia bertemu dengan Anda besok pagi, pukul sembilan, di kantornya."
Napas Kirana tercekat. Besok pagi. Secepat ini? Ia merasa gelombang kegugupan melandanya. "Baik, Ibu Rina. Terima kasih banyak. Bisakah Anda mengirimkan alamat lengkapnya?"
"Sudah saya kirimkan via email, Nona. Ada lagi yang bisa saya bantu?"
"Tidak, terima kasih, Ibu Rina."
Kirana menutup telepon, matanya terpaku pada layar ponsel yang menampilkan alamat kantor Adiwangsa Arsitek. Ia akan bertemu Bara. Setelah bertahun-tahun. Perutnya terasa mulas, kombinasi antara kegugupan dan antisipasi.
Malam itu, Kirana tidak bisa tidur nyenyak. Pikirannya melayang, membayangkan pertemuan besok. Apa yang harus ia kenakan? Apa yang harus ia katakan? Apakah Bara akan mengenali dirinya yang sekarang? Ia bukan lagi Kirana kecil yang polos, bukan lagi remaja yang mudah tertawa. Ia adalah wanita yang patah hati, membawa beban pengkhianatan yang berat.
Ia berdiri di depan cermin, menatap pantulan dirinya. Ada lingkaran hitam samar di bawah matanya, sisa dari malam-malam tanpa tidur dan tangisan. Wajahnya terlihat lebih tirus, dan senyumnya... senyumnya seolah telah hilang ditelan kepedihan. Ia merindukan Kirana yang dulu, Kirana yang bahagia.
Kirana mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa ini adalah demi bisnis. Ia harus tetap profesional. Namun, jauh di lubuk hatinya, ia tahu bahwa ini lebih dari sekadar bisnis. Ini adalah upaya terakhirnya untuk mencari pijakan, untuk menemukan kembali dirinya di tengah puing-puing kehidupannya yang hancur.
Pagi hari itu, Kirana memilih setelan blazer berwarna navy dengan blus putih yang rapi. Ia berusaha tampil sesempurna mungkin, menutupi jejak-jejak luka di hatinya. Setelah sarapan ringan, ia memanggil taksi daring menuju kantor Adiwangsa Arsitek.
Jalanan Yogyakarta mulai ramai. Gedung-gedung modern berpadu harmonis dengan bangunan-bangunan tua peninggalan Belanda, menciptakan pemandangan yang unik. Kirana merasa sedikit tenang melihat hiruk pikuk kota, mencoba mengalihkan pikirannya dari kegugupan yang melanda.
Akhirnya, taksi berhenti di depan sebuah gedung megah dengan desain modern minimalis. Plakat bertuliskan "Adiwangsa Arsitek" terpampang jelas di dinding. Kirana menarik napas dalam, menghembuskannya perlahan. Ini dia.
Ia melangkah masuk, disambut oleh lobi yang elegan dan kesan profesional. Seorang resepsionis muda menyambutnya dengan ramah.
"Selamat pagi, Ibu. Ada yang bisa saya bantu?"
"Selamat pagi. Saya Kirana Wijaya. Saya ada janji dengan Bapak Bara Mahendra pukul sembilan."
Resepsionis itu tersenyum. "Ah, Ibu Kirana. Silakan naik ke lantai tiga. Ruangan Bapak Bara ada di sana. Anda bisa langsung masuk ke ruang tunggu, nanti asisten Bapak Bara akan menjemput Anda."
Kirana mengangguk, mengucapkan terima kasih, lalu berjalan menuju lift. Setiap langkah yang ia ambil terasa berat, namun juga penuh antisipasi. Jantungnya berdegup semakin kencang saat lift bergerak naik.
Pintu lift terbuka di lantai tiga. Sebuah lorong panjang dengan dinding kaca yang memperlihatkan pemandangan kota. Kirana berjalan menuju ruang tunggu yang disebutkan resepsionis.
Di sana, sudah ada seorang pria yang duduk membelakanginya, membaca majalah arsitektur. Punggungnya tegap, rambutnya hitam, dan siluetnya terasa begitu familiar. Kirana mengenali bahu lebar itu, postur tubuh yang kekar namun tetap elegan.
Ia tahu itu Bara.
Bara Mahendra.
Jantung Kirana serasa berhenti berdetak. Ia berdiri mematung di ambang pintu, tak berani melangkah lebih jauh. Ia takut. Takut akan kecewa, takut Bara sudah melupakannya, takut ia hanya akan menjadi bayangan dari masa lalu yang tak relevan lagi.
Pria itu kemudian menutup majalahnya, meletakkannya di meja, lalu berbalik.
Mata mereka bertemu.
Sorot mata cokelat itu, yang dulu penuh kenakalan dan tawa, kini memancarkan kebijaksanaan dan ketenangan. Rahang tegasnya, hidung mancung, bibir yang tipis, semua sama seperti yang Kirana ingat, namun kini dihiasi dengan garis-garis kedewasaan. Ada senyum tipis di bibirnya, senyum yang Kirana rindukan.
"Kirana?" Suara Bara terdengar dalam, serak, namun begitu familiar. Sebuah pertanyaan yang bercampur dengan keterkejutan.
Air mata Kirana langsung menetes. Tanpa sadar, ia mengangguk. "Bara..."
Bara bangkit dari duduknya, berjalan perlahan mendekati Kirana. Matanya menatap Kirana lekat-lekat, seolah ingin memastikan bahwa yang di depannya ini adalah Kirana yang ia kenal. Ada keraguan, namun juga kelegaan yang terpancar dari sorot matanya.
"Kau... Kirana Wijaya?" Bara bertanya lagi, seolah masih tidak percaya.
"Iya, ini aku, Bara," jawab Kirana, suaranya tercekat oleh tangis haru.
Bara tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya membuka lengannya lebar-lebar. Tanpa ragu, Kirana menerjang ke dalam pelukan Bara. Pelukan itu terasa hangat, menenangkan, dan penuh kerinduan yang mendalam. Ia menghirup aroma maskulin Bara, aroma yang sama seperti dulu, aroma yang terasa seperti rumah.
Kirana menangis tersedu-sedu di dada Bara, semua emosi yang selama ini ia pendam akhirnya pecah. Rasa sakit karena pengkhianatan Revan, kebingungan akan masa depannya, dan kelegaan karena akhirnya menemukan Bara, semuanya tumpah ruah.
Bara mengusap lembut punggung Kirana, membiarkannya menangis. Ia tidak bertanya apa pun, hanya memeluknya erat, seolah ingin meyakinkan Kirana bahwa ia ada di sana, persis seperti janji masa kecilnya.
"Kau baik-baik saja?" Bara berbisik, suaranya penuh kekhawatiran.
Kirana menggelengkan kepalanya di dada Bara. "Tidak, Bara. Aku tidak baik-baik saja."
Bara menarik diri sedikit dari pelukan, menangkup wajah Kirana dengan kedua tangannya, ibu jarinya menyeka air mata Kirana. "Apa yang terjadi?"
Kirana ingin menceritakan semuanya, tentang Revan, tentang Sekar, tentang pernikahan palsu itu. Tapi ia tidak bisa. Tenggorokannya tercekat, kata-kata tak bisa keluar.
"Kita masuk ke ruanganku dulu ya," ajak Bara, suaranya lembut. Ia menggenggam tangan Kirana, menuntunnya ke sebuah ruangan yang tidak jauh dari ruang tunggu.
Ruangan Bara adalah cerminan dirinya: rapi, modern, dengan sentuhan hangat. Ada beberapa maket bangunan di meja, sketsa-sketsa arsitektur di dinding, dan pemandangan kota dari jendela besar. Bara mempersilakan Kirana duduk di sofa.
"Mau minum apa?" tawar Bara.
"Air putih saja, Bara. Terima kasih," jawab Kirana, mencoba menenangkan dirinya.
Bara menuangkan segelas air putih dan memberikannya kepada Kirana. Kirana meminumnya perlahan, mencoba mengendalikan emosinya. Ia menatap Bara, yang kini duduk di depannya, menatapnya dengan tatapan penuh perhatian.
"Kau terlihat sangat... berbeda, Kirana," ucap Bara, nadanya lembut. "Ada apa? Kau tidak datang ke sini hanya untuk menawarkan proyek, kan?"
Kirana menghela napas. Ia tahu ia tidak bisa berbohong pada Bara. Ia tidak pernah bisa berbohong padanya.
"Tidak, Bara. Aku... aku datang mencarimu." Kirana mengakui, suaranya masih serak. "Aku tidak tahu harus pergi ke mana lagi."
Ia mulai menceritakan semuanya. Tentang perjodohan, tentang Revan yang dingin, tentang usahanya yang sia-sia untuk mengambil hati Revan. Dan kemudian, tentang kenyataan pahit itu. Tentang Revan dan Sekar. Pengkhianatan yang terjadi tepat di depan matanya.
Bara mendengarkan dengan seksama, ekspresinya berubah dari perhatian menjadi kemarahan yang samar saat Kirana menceritakan tentang Revan dan Sekar. Matanya yang teduh kini memancarkan api. Rahangnya mengeras.
"Jadi... pria itu... dia bermain di belakangmu dengan sepupumu sendiri?" Bara bertanya, suaranya rendah dan penuh amarah.
Kirana mengangguk, air mata kembali menggenang. "Mereka... mereka sudah lama, Bara. Aku tidak tahu berapa lama. Aku merasa bodoh, begitu naif."
Bara mengulurkan tangannya, menggenggam tangan Kirana erat-erat. "Kau tidak bodoh, Kirana. Kau hanya terlalu tulus. Mereka yang busuk."
Kata-kata Bara menenangkan hati Kirana yang hancur. Sebuah kehangatan merambat dari genggaman tangan Bara, seolah menyalurkan kekuatan.
"Aku... aku tidak tahu harus bagaimana sekarang, Bara," Kirana berbisik. "Rumah tanggaku hancur. Aku tidak bisa pulang ke rumah itu. Aku tidak bisa menghadapinya."
"Kau tidak perlu menghadapinya sendirian, Kirana," kata Bara, tatapannya tegas. "Aku di sini. Aku akan melindungimu."
Janji itu. Janji yang sama seperti dulu. Janji yang kini terasa jauh lebih berarti. Bara masih Bara yang sama, pahlawan kecilnya.
"Tapi... kau sudah bertahun-tahun tidak ada, Bara," ucap Kirana, ragu. "Aku tidak ingin merepotkanmu. Kau punya hidupmu sendiri sekarang."
Bara tersenyum, senyum yang menenangkan. "Hidupku selalu ada untukmu, Kirana. Aku tidak pernah melupakanmu. Aku selalu mencari cara untuk menghubungimu. Tapi setelah kau menikah dengan Revan, aku berpikir... mungkin kau sudah bahagia."
Hati Kirana teriris mendengar perkataan Bara. Ia merasa bersalah. "Maafkan aku, Bara. Aku... aku hanya tidak tahu harus bagaimana."
"Tidak apa-apa, Kirana. Yang penting kau ada di sini sekarang." Bara menghela napas, sorot matanya kembali melembut. "Jadi, apa rencanamu sekarang?"
"Aku tidak tahu," Kirana menggelengkan kepalanya. "Aku hanya ingin menjauh dari Jakarta sebentar. Menenangkan diri. Mencoba mencari tahu apa yang harus kulakukan."
"Kalau begitu, tinggallah di sini dulu. Di Yogyakarta," Bara menawarkan, nadanya mantap. "Kau bisa menginap di apartemenku. Ada kamar kosong. Atau aku akan carikan tempat tinggal yang nyaman untukmu."
Kirana menatap Bara, terkejut. "Apartemenmu? Tidak, Bara. Aku tidak mau merepotkanmu."
"Kau tidak merepotkan sama sekali, Kirana," Bara bersikeras. "Anggap saja ini balasan karena kau mau datang dan mencariku. Aku senang kau datang."
Ada ketulusan dalam ucapan Bara yang membuat Kirana tidak bisa menolak. Ia merasa aman di dekat Bara, sebuah perasaan yang sudah lama tidak ia rasakan.
"Terima kasih, Bara," ucap Kirana, air matanya kembali mengalir, kali ini air mata kelegaan. "Terima kasih banyak."
Bara tersenyum, mengusap lembut kepala Kirana. "Sama-sama, Kirana. Sekarang, jangan menangis lagi. Kau aman di sini."
Di tengah kehancuran hatinya, Kirana akhirnya menemukan sebuah jangkar. Sebuah harapan baru. Bara Mahendra, sosok dari masa lalu yang kembali hadir, membawa serta kehangatan dan janji perlindungan yang selama ini ia rindukan. Yogyakarta, kota yang dulunya hanya sekadar tujuan pencarian, kini terasa seperti tempat singgah, tempat di mana ia bisa mulai menyembuhkan diri, dan mungkin, menemukan kembali arti kebahagiaan. Jalan di depannya masih panjang dan penuh ketidakpastian, namun Kirana tahu, dengan Bara di sisinya, ia tidak akan sendirian.