Kirana menatap pantulan dirinya di cermin rias, siluet gaun tidur satin yang lembut membalut tubuhnya. Jarum jam di dinding menunjukkan pukul sebelas malam, dan seperti malam-malam sebelumnya, sisi ranjang di sebelahnya masih kosong, dingin, dan tak tersentuh. Aroma maskulin yang samar dari bantal Revan adalah satu-satunya tanda bahwa suaminya masih tinggal di rumah ini, di bawah atap yang sama dengannya. Namun, Revan sendiri, sosok nyata yang Kirana harapkan, tak pernah ada.
Sudah dua tahun pernikahan ini berjalan, dua tahun yang terasa seperti dua abad. Dua tahun Kirana menghabiskan malam-malamnya di ranjang sebesar King size ini, berharap, berdoa, bermimpi bahwa suatu hari Revan akan benar-benar ada di sisinya, bukan hanya secara fisik, tapi juga secara hati. Kirana selalu berharap Revan akan mencintainya suatu hari nanti. Sebuah harapan yang kian hari kian terasa seperti fatamorgana di gurun pasir.
Pernikahan mereka adalah hasil perjodohan. Bukan kisah cinta yang meledak-ledak atau pertemuan takdir yang romantis. Ini adalah perjanjian bisnis, sebuah penyatuan dua keluarga besar demi kepentingan ekonomi dan status sosial. Keluarga Wijaya dan keluarga Dananjaya, dua konglomerat raksasa yang memutuskan untuk mengikat tali persaudaraan melalui pernikahan Kirana dan Revan. Kirana, sebagai putri tunggal keluarga Wijaya, dan Revan, pewaris tunggal keluarga Dananjaya. Mereka adalah pion dalam permainan catur raksasa yang dimainkan oleh orang tua mereka.
Sejak awal, Revan tidak pernah menyembunyikan ketidaksetujuannya. Wajahnya selalu datar, matanya dingin, setiap sentuhan darinya terasa seperti kewajiban, bukan keinginan. Namun, Kirana, dengan segala idealismenya, percaya bahwa cinta bisa tumbuh. Ia percaya bahwa kesabaran, pengertian, dan ketulusan bisa meluluhkan gunung es sekalipun. Dan Revan adalah gunung es yang sangat tinggi dan beku.
Kirana telah melakukan berbagai upaya untuk mendapatkan hati suaminya. Ia belajar memasak masakan kesukaan Revan, meskipun Revan jarang pulang makan malam. Ia sering mengirimkan pesan singkat berisi ucapan penyemangat atau sekadar bertanya kabar, yang seringkali hanya dibalas dengan emoji jempol, atau bahkan tidak dibalas sama sekali. Kirana bahkan pernah mencoba merencanakan liburan romantis ke Bali, sebuah resor privat yang ia impikan sejak lama. Namun, Revan menolaknya dengan alasan pekerjaan yang tak bisa ditinggalkan. Kirana tahu, itu hanya alasan.
Ia ingat sore itu, beberapa bulan setelah pernikahan mereka. Ia dengan cemburu melihat Revan begitu asyik dengan ponselnya, senyum tipis terukir di bibirnya, senyum yang tak pernah ia lihat saat Revan berbicara dengannya. Saat Kirana bertanya siapa yang Revan ajak bicara, Revan hanya menjawab singkat, "Rekan kerja." Kirana mencoba percaya, meskipun hatinya berbisik ragu.
Pernah suatu malam, Kirana memberanikan diri. Ia menunggu Revan pulang hingga larut malam. Ketika Revan akhirnya muncul, aroma alkohol menyeruak dari tubuhnya, dan Kirana tahu Revan baru saja dari bar atau klub malam. Tanpa bertanya banyak, Kirana membantunya melepaskan dasi dan jaket, menuntunnya ke kamar mandi. Revan, yang setengah mabuk, saat itu mengucapkan sebuah nama. Sebuah nama yang menggores hati Kirana lebih dalam dari pisau tajam.
"Sekar..." gumam Revan, matanya terpejam.
Dunia Kirana seolah berhenti berputar. Sekar? Sekar, sepupunya sendiri? Adik dari ibunya, putri dari bibinya. Kirana dan Sekar tumbuh bersama, berbagi rahasia, tawa, dan tangisan. Sekar adalah orang yang paling Kirana percaya, selain ibunya. Bagaimana mungkin?
Kirana menepis pikiran itu. Mungkin Revan salah sebut nama. Mungkin itu hanya khayalannya. Ia tidak ingin percaya. Ia tidak boleh percaya. Keyakinannya akan cinta yang bisa tumbuh itu terlalu kuat, terlalu berharga untuk dihancurkan oleh sebuah nama yang terucap tanpa sadar.
Rumah tangga mereka adalah sebuah sandiwara. Di depan umum, mereka adalah pasangan sempurna. Revan akan menggenggam tangan Kirana di acara-acara sosial, tersenyum tipis, bahkan sesekali melingkarkan lengannya di pinggang Kirana. Semua itu hanyalah topeng, topeng yang dikenakan untuk menjaga reputasi keluarga. Kirana tahu itu, tapi ia tetap bermain peran. Ia tersenyum, tertawa, dan berpura-pura bahagia. Berpura-pura seolah sentuhan dingin Revan adalah kehangatan.
Setiap malam, setelah Revan akhirnya pulang, ia akan langsung masuk ke ruang kerjanya, menghabiskan waktu berjam-jam di sana, atau pergi tidur di kamar tamu yang sudah lama ia jadikan "ruang pribadi". Kirana mencoba mendekat, mencoba bicara. Pernah ia membawakan secangkir kopi panas ke ruang kerja Revan.
"Revan, ini kopi panas," ucap Kirana pelan, meletakkan cangkir di meja.
Revan bahkan tidak mengangkat kepalanya dari layar laptopnya. "Terima kasih."
"Kau sudah makan malam?"
"Sudah."
Percakapan singkat, datar, dan tanpa emosi. Kirana merasa seperti sedang berbicara dengan dinding. Ia mundur perlahan, meninggalkan Revan sendirian dengan pekerjaannya. Atau mungkin, dengan pikirannya. Pikirannya tentang siapa?
Pagi itu, mentari bersinar cerah, namun hati Kirana terasa sekelam malam. Ia sedang mempersiapkan sarapan di dapur, menuangkan jus jeruk ke dalam gelas ketika ponsel Revan yang tergeletak di meja berdering. Nama "Sekar" terpampang jelas di layar. Sebuah pesan masuk.
"Sudah bangun, sayang? Jangan lupa nanti malam ada acara penting, ya. Aku akan menunggumu."
Darah Kirana berdesir, seluruh tubuhnya membeku. Sayang? Acara penting? Jantungnya berdegup kencang, memukul-mukul dadanya dengan irama tak beraturan. Matanya terpaku pada layar ponsel itu. Rasa mual menjalar dari perutnya hingga kerongkongan. Ia hampir saja menjatuhkan gelas di tangannya.
Ia meraih ponsel itu, tangannya gemetar. Otaknya berteriak untuk tidak membukanya, tapi rasa penasaran yang bercampur ketakutan lebih mendominasi. Ia membuka pesan itu, lalu tanpa sadar, ia membuka semua pesan sebelumnya. Rentetan pesan yang tak bisa disangkal lagi. Foto-foto mereka berdua, selfie romantis di berbagai tempat, bahkan ada foto Revan mencium kening Sekar dengan latar belakang pantai. Kirana mengenali pantai itu, itu adalah pantai pribadi di Bali yang pernah ia ajak Revan pergi. Pantas saja Revan menolak. Ia sudah pergi ke sana dengan wanita lain. Dengan Sekar.
Nafas Kirana tercekat. Rasanya seperti ada tangan tak kasat mata yang meremas jantungnya, lalu menghancurkannya berkeping-keping. Dunia di sekelilingnya mendadak sunyi, hanya suara detak jantungnya sendiri yang menggema di telinganya. Kakinya lemas, ia terduduk di lantai dapur, ponsel masih tergenggam erat di tangannya.
"Tidak... tidak mungkin..." bisiknya, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
Bagaimana bisa? Sekar, sepupu yang selalu ia anggap seperti adiknya sendiri. Sekar, yang sering datang ke rumah mereka, bahkan menginap. Sekar, yang selalu memberikan saran-saran tentang bagaimana mendekati Revan. Semua itu hanyalah tipuan? Sebuah permainan licik?
Suara langkah kaki terdengar mendekat. Revan. Ia baru saja turun dari kamar. Kirana buru-buru menyeka air matanya, berusaha menyembunyikan ponsel. Tapi terlambat. Revan melihatnya.
"Apa yang kau lakukan dengan ponselku?" Revan bertanya, suaranya datar, tanpa emosi, namun ada sedikit ketegasan yang menunjukkan ia tidak suka privasinya dilanggar.
Kirana tidak bisa menjawab. Air mata yang sudah ia tahan akhirnya tumpah, mengalir deras membasahi pipinya. Ia mengangkat ponsel itu, memperlihatkan layar yang masih menampilkan pesan-pesan Sekar. Revan melihatnya, dan wajahnya tidak menunjukkan terkejut sama sekali. Hanya kelegaan samar, seolah beban yang selama ini ia pikul akhirnya terangkat.
"Jadi... ini alasannya?" Suara Kirana bergetar, nyaris tak terdengar. "Ini alasan kenapa kau tidak pernah membuka hati untukku? Karena kau sudah memiliki wanita lain? Dan wanita itu... Sekar?"
Revan menghela napas, mengusap wajahnya dengan kasar. "Kirana, dengarkan aku..."
"Dengarkan apa, Revan?" Kirana menyela, suaranya meninggi, dipenuhi rasa sakit dan pengkhianatan yang mendalam. "Dengarkan bagaimana kalian menipuku? Bagaimana kalian bersandiwara di depanku? Kalian berdua!"
Pengkhianatan itu terjadi di depan mata Kirana. Revan berdiri di sana, dengan ekspresi datar yang tidak menunjukkan penyesalan sedikit pun. Kenyataan itu menghantam Kirana dengan keras, jauh lebih sakit daripada yang ia bayangkan. Suami yang seharusnya mencintainya, ternyata mencintai wanita lain. Wanita itu adalah sepupunya sendiri.
"Kami tidak bermaksud menyakitimu, Kirana," Revan berkata, nadanya lebih lunak, tapi tetap saja, tidak ada empati yang Kirana harapkan. "Ini hanya... terjadi begitu saja."
"Terjadi begitu saja?!" Kirana bangkit berdiri, air mata terus mengalir. "Apa kalian pikir aku bodoh?! Apa kalian pikir aku tidak memiliki perasaan?! Aku istrimu, Revan! Aku adalah wanita yang kau nikahi! Dan kalian berdua... kalian bermain di belakangku?!"
Revan diam. Keheningan itu jauh lebih menyakitkan daripada kata-kata. Keheningan itu adalah pengakuan tanpa suara, sebuah konfirmasi atas semua ketakutan Kirana.
"Rumah tangga yang dingin itu mulai berada dalam ambang kehancuran," batin Kirana. Ini bukan lagi sekadar dingin. Ini sudah hancur. Hancur berkeping-keping.
"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Revan, nadanya kini terdengar pasrah.
"Melakukan apa?" Kirana tertawa pahit, air mata membanjiri wajahnya. "Apa yang harus kulakukan? Haruskah aku tetap di sini, menjadi boneka dalam pernikahan palsu ini? Menonton kalian berdua, sementara aku mati perlahan-lahan?"
"Kita bisa bicara baik-baik..."
"Baik-baik?" Kirana menggelengkan kepalanya. "Tidak ada lagi yang bisa dibicarakan, Revan. Semua sudah jelas."
Ia mengambil langkah mundur, menjauh dari Revan, menjauh dari kenyataan pahit yang kini menghantamnya. Kirana tidak tahu harus pergi ke mana. Rumah ini, yang seharusnya menjadi surga, kini terasa seperti neraka.
Saat hati Kirana hancur berkeping-keping, saat ia merasa dunianya runtuh tak bersisa, sebuah gema dari masa lalu mendadak muncul dalam benaknya. Sebuah nama, sebuah wajah, sebuah janji yang pernah terucap. Sebuah kenangan yang selama ini ia kubur dalam-dalam, kini muncul kembali dengan begitu jelas.
Bara Mahendra.
Nama itu terucap di bibirnya tanpa sadar, sebuah desahan, sebuah harapan kecil yang entah bagaimana masih bersembunyi di sudut hatinya yang hancur. Bara. Sahabat masa kecilnya, cinta monyetnya, orang yang pernah berjanji akan selalu ada untuknya. Orang yang ia kira sudah lama menghilang dari hidupnya.
Kirana ingat saat mereka masih remaja, duduk di bawah pohon mangga di halaman belakang rumahnya. Bara, dengan rambut acak-acakan dan senyum lebarnya, berjanji akan selalu melindunginya.
"Nanti kalau Kirana sudah besar, kalau ada yang jahatin Kirana, Bara yang akan lindungi!" janji Bara dengan lantang, mengepalkan tinjunya seolah-olah ia adalah pahlawan super.
Kirana saat itu hanya tertawa, menganggapnya sebagai janji kekanak-kanakan. Tapi sekarang, janji itu terngiang-ngiang di telinganya. Ia membutuhkan Bara. Ia membutuhkan seseorang yang bisa melindunginya dari rasa sakit ini.
Bagaimana kabar Bara sekarang? Apakah ia masih mengingatnya? Apakah ia masih menjadi Bara yang sama, yang selalu ada untuknya? Kirana tidak tahu. Tapi di tengah kekosongan dan kepedihan ini, nama Bara Mahendra adalah satu-satunya cahaya, satu-satunya jangkar yang bisa ia genggam.
Kirana berjalan sempoyongan menuju kamarnya, mengambil tas selempang kecil dan memasukkan beberapa barang penting. Ponselnya, dompet, dan kunci mobil. Ia tidak tahu akan pergi ke mana, tapi ia tahu ia tidak bisa tinggal di sini lagi. Ia tidak bisa bernapas di ruangan yang dipenuhi kebohongan dan pengkhianatan ini.
"Kirana, mau ke mana?" Revan bertanya, suaranya kini terdengar sedikit panik.
Kirana menatap Revan, matanya merah dan bengkak. "Ke mana pun. Asalkan tidak di sini bersamamu dan kebohonganmu."
Ia berbalik, melangkah keluar dari kamar, dari rumah itu, tanpa menoleh lagi. Pintu tertutup di belakangnya, mengakhiri dua tahun sandiwara, dua tahun harapan yang sia-sia, dan memulai babak baru dalam hidupnya. Babak yang penuh ketidakpastian, namun juga mungkin, sebuah babak yang akan membawa kembali potongan-potongan hatinya yang hancur.
Udara malam Jakarta terasa dingin menusuk, seolah ikut merasakan kebekuan di hati Kirana. Ia mengemudikan mobilnya tanpa arah, air mata terus mengalir tanpa henti, membasahi pipinya yang sudah terasa lengket. Kemana ia harus pergi? Rumah ini, rumah orang tuanya yang dulu terasa begitu hangat, kini terasa asing. Ia tak ingin menambah beban pikiran kedua orang tuanya yang pasti akan terpukul mengetahui kebeningan pernikahan Kirana dan Revan hanyalah ilusi. Teman-temannya? Ia tidak punya cukup keberanian untuk menceritakan rasa malu dan sakit hati ini.
Pikirannya kosong, namun pada saat yang sama, dipenuhi oleh kilasan-kilasan pengkhianatan. Wajah Revan yang datar, senyum Sekar yang licik, tawa mereka yang dulu ia anggap persahabatan, kini menjelma menjadi belati yang menusuk ulu hatinya. Ia merasa bodoh, begitu naif karena terlalu percaya pada janji kosong dan senyuman palsu.
Jalanan tol yang ramai seolah ikut berpacu dengan denyut nadinya yang tak beraturan. Kirana mencoba menenangkan diri, menarik napas dalam-dalam, berharap oksigen bisa membersihkan paru-parunya dari sesak yang menyesakkan. Namun, rasa sakit itu terlalu nyata, terlalu dalam.
"Bara..." Nama itu kembali terucap, kali ini bukan desahan, melainkan sebuah bisikan penuh harap.
Kenangan tentang Bara Mahendra bagai mercusuar di tengah badai. Bara, si anak laki-laki berandal dengan senyum yang selalu tulus. Sahabat masa kecilnya yang paling setia, yang selalu melindunginya dari kenakalan anak-anak lain. Kirana ingat betul bagaimana Bara akan selalu berdiri di garis depan setiap kali Kirana diejek karena rambutnya yang keriting atau kacamatanya yang tebal.
Mereka terpisah saat Kirana masuk SMP dan Bara harus ikut orang tuanya pindah ke luar kota. Kontak mereka sempat terjalin melalui surat dan telepon rumah, namun seiring berjalannya waktu, kesibukan sekolah menengah membuat komunikasi mereka merenggang, hingga akhirnya terputus sama sekali. Kirana pernah mencoba mencarinya melalui media sosial, namun nama Bara Mahendra terlalu umum, dan ia tak menemukan jejak pasti. Ia mengira Bara sudah benar-benar hilang dari kehidupannya.
Sekarang, di titik terendah dalam hidupnya, sosok Bara kembali muncul, bagai penyelamat di ambang kegelapan. Ia tidak tahu mengapa, tapi ada dorongan kuat untuk menemukan Bara. Mungkin hanya untuk sekadar nostalgia, atau mungkin ia membutuhkan pengingat bahwa ada kebaikan tulus yang pernah ada dalam hidupnya.
Kirana menghentikan mobilnya di bahu jalan tol, menepikan kendaraannya di tempat yang agak sepi. Ia menarik napas dalam-dalam, mengaktifkan GPS di ponselnya. Tujuannya adalah sebuah kota kecil di Jawa Tengah, tempat di mana Bara dan keluarganya dulu pindah: Magelang. Sebuah kota yang menyimpan begitu banyak kenangan masa kecilnya bersama Bara.
Tanpa pikir panjang, ia memutar kemudi, mengubah arah mobilnya. Keputusan ini terasa spontan, namun juga tak terelakkan. Kirana merasa ini adalah satu-satunya cara untuk melarikan diri dari bayang-bayang pengkhianatan yang menghantuinya.
Perjalanan malam itu terasa sangat panjang. Kirana mengemudi dalam diam, sesekali air mata kembali membasahi pipinya. Pikirannya melayang, kembali ke masa lalu, ke saat-saat polos bersama Bara.
Ia ingat bagaimana Bara akan selalu datang ke rumahnya setiap sore setelah pulang sekolah, membawa jajan pasar favorit Kirana. Mereka akan bermain petak umpet di taman belakang, atau membangun istana pasir di kotak pasir buatan Ayah Kirana. Bara selalu punya cara untuk membuat Kirana tertawa, bahkan saat ia merajuk.
Pernah suatu kali, Kirana jatuh dari sepeda. Lututnya berdarah dan ia mulai menangis. Bara, meskipun lebih kecil darinya, langsung menghampiri, mengobati lukanya dengan plester kartun kesukaan Kirana, lalu menggendongnya pulang.
"Nanti kalau Kirana sudah besar, kalau ada yang jahatin Kirana, Bara yang akan lindungi!" janji Bara dengan lantang, mengepalkan tinjunya seolah-olah ia adalah pahlawan super. Kirana saat itu hanya tertawa, menganggapnya sebagai janji kekanak-kanakan. Tapi sekarang, janji itu terngiang-ngiang di telinganya. Ia membutuhkan Bara. Ia membutuhkan seseorang yang bisa melindunginya dari rasa sakit ini.
Kenangan itu membawa senyum tipis di bibir Kirana, senyum yang sudah lama tidak muncul di wajahnya. Namun, senyum itu cepat menghilang, digantikan oleh bayangan Revan dan Sekar.
Bagaimana bisa Sekar melakukan ini padanya? Sepupu yang ia percayai, yang ia anggap saudara kandung. Kirana mengingat bagaimana Sekar akan datang ke rumah mereka, tersenyum manis, memuji Kirana. "Kak Kirana cantik sekali hari ini," atau "Gaun Kak Kirana indah sekali, cocok untuk Kakak." Sekarang, Kirana melihat senyum itu sebagai topeng, pujian itu sebagai racun.
Sekar bahkan seringkali menjadi 'tempat curhat' Kirana tentang Revan. Kirana pernah mengeluh pada Sekar betapa dinginnya Revan, betapa sulitnya meluluhkan hati suaminya. Dan Sekar akan mendengarkan dengan penuh perhatian, memberikan saran-saran "bijak" tentang bagaimana menjadi istri yang lebih baik, bagaimana "memenangkan" hati Revan.
"Mungkin Kak Kirana harus lebih sabar," kata Sekar kala itu. "Pria memang butuh waktu untuk membuka hati."
"Revan mungkin punya beban pikiran, Kak. Coba Kakak lebih pengertian."
Kata-kata itu terngiang di telinga Kirana, kini terdengar seperti ejekan, seperti bensin yang disiramkan ke api yang membara di hatinya. Betapa bodohnya ia tidak melihat kebenaran yang terpampang jelas di depan matanya. Sekar adalah serigala berbulu domba. Ia adalah orang yang menari di atas penderitaan Kirana, sambil tersenyum manis.
Matahari mulai mengintip dari balik cakrawala timur saat Kirana memasuki gerbang kota Magelang. Udara pagi yang sejuk dan segar menyambutnya, jauh berbeda dengan udara Jakarta yang selalu panas dan bising. Pemandangan pedesaan yang hijau terhampar di sepanjang jalan, sawah-sawah yang membentang luas, dan gunung-gunung menjulang tinggi di kejauhan.
Magelang. Sebuah kota kecil yang menyimpan begitu banyak memori. Kirana mengemudikan mobilnya perlahan, mencoba mengingat jalan-jalan kecil yang dulu sering ia lalui bersama Bara. Ia mencoba mengingat alamat rumah Bara, atau setidaknya lingkungan tempat tinggal mereka.
Ia parkir di dekat sebuah toko kelontong tua yang masih terlihat sama seperti puluhan tahun yang lalu. Kirana keluar dari mobil, matanya menyapu sekeliling. Toko itu, warnanya yang pudar, papan nama yang hampir usang, semua terasa familiar. Di seberang jalan, ada sebuah pohon beringin besar yang dulu sering menjadi tempat mereka bermain. Semua terasa begitu nyata, seperti ia kembali ke masa kecilnya.
Kirana memberanikan diri masuk ke dalam toko. Aroma kopi bubuk dan rempah-rempah langsung menyeruak, aroma yang sama seperti dulu. Seorang wanita paruh baya dengan rambut yang mulai memutih menyambutnya dengan senyuman.
"Selamat pagi, Mbak. Ada yang bisa saya bantu?" sapa wanita itu ramah.
Kirana merasa sedikit gugup. "Selamat pagi, Bu. Maaf, saya... saya sedang mencari seseorang."
"Siapa, Mbak? Mungkin saya kenal," jawab wanita itu, tersenyum.
"Saya mencari keluarga Mahendra, Bu. Dulu mereka tinggal di daerah sini." Kirana mencoba mengingat nama jalan, tapi otaknya terasa buntu.
Wanita itu mengerutkan kening, mencoba mengingat. "Mahendra... Oh, keluarga Pak Budi Mahendra yang dulu punya bengkel kecil di ujung jalan itu ya?"
Jantung Kirana berdebar. "Iya, Bu! Betul sekali! Pak Budi dan istrinya, Bu Lastri, dan... anaknya, Bara."
Senyum di wajah wanita itu mengembang. "Oh, Bara! Tentu saja. Dia anak yang baik, dulu sering bantu ibunya belanja di sini." Wanita itu terdiam sejenak, sorot matanya berubah menjadi sedikit sendu. "Sayangnya, mereka sudah tidak tinggal di sini lagi, Mbak."
Dunia Kirana seolah runtuh lagi. "Tidak tinggal lagi? Lalu... kemana mereka pindah, Bu?"
"Beberapa tahun yang lalu, setelah Pak Budi meninggal, Bu Lastri memutuskan untuk ikut Bara pindah ke Yogyakarta. Katanya Bara bekerja di sana, di bidang arsitek," jelas wanita itu. "Bu Lastri sering berkunjung ke sini, tapi sudah lama juga tidak terlihat."
Yogyakarta. Harapan yang baru saja tumbuh di hati Kirana kini terasa memudar. Yogyakarta adalah kota besar, bahkan lebih besar dari Magelang. Mencari seseorang bernama Bara Mahendra di sana, tanpa alamat pasti, tanpa nomor telepon, akan seperti mencari jarum di tumpukan jerami.
Kirana mengucapkan terima kasih kepada ibu pemilik toko, lalu keluar dengan perasaan hampa. Perjalanan panjangnya seolah sia-sia. Ia duduk di bangku di bawah pohon beringin, menatap jalanan yang masih sepi. Rasa lelah dan putus asa menyelimuti dirinya. Ia merasa seperti pecundang. Segala usahanya sia-sia.
Apakah ini takdirnya? Selalu berlari dari satu kekecewaan ke kekecewaan lain?
Ia mengeluarkan ponselnya, menatap layar yang menampilkan pesan terakhir dari Revan. Pesan yang penuh pengkhianatan. Ia ingin melempar ponsel itu, menghancurkannya, tapi ia tahu itu tidak akan mengubah apa pun.
Tiba-tiba, sebuah ide melintas di benaknya. Bara bekerja sebagai arsitek. Bidang itu adalah dunia yang ia kenal. Keluarga Wijaya, keluarganya sendiri, memiliki banyak proyek properti. Mungkin, hanya mungkin, ia bisa menemukan Bara melalui koneksi bisnis. Ini adalah harapan terakhirnya.
Kirana memutuskan untuk tidak kembali ke Jakarta sekarang. Ia membutuhkan waktu untuk sendiri, untuk menyembuhkan luka-luka hatinya. Ia mencari penginapan terdekat, sebuah hotel kecil yang tenang, dan memutuskan untuk menghabiskan beberapa hari di Magelang, mencoba menenangkan diri sebelum menghadapi badai yang lebih besar di Jakarta.
Beberapa hari di Magelang berlalu dengan lambat. Kirana menghabiskan waktunya dengan berjalan-jalan di sekitar kota, mengunjungi tempat-tempat yang menyimpan kenangan masa kecilnya bersama Bara. Candi Borobudur, yang dulu selalu menjadi tempat favorit mereka untuk bermain petak umpet di antara stupa-stupa. Pasar tradisional, tempat mereka sering membeli permen kapas dan jajan pasar. Setiap sudut kota seolah menyimpan gema tawa dan janji-janji masa lalu.
Namun, setiap kenangan indah itu selalu berakhir dengan bayangan Revan dan Sekar, menghancurkan ketenangan yang baru saja ia rasakan. Luka itu masih terlalu dalam, terlalu basah.
Pada hari ketiga, Kirana memutuskan untuk mengambil tindakan. Ia menghubungi sekretaris Ayahnya, memintanya untuk mencari informasi tentang arsitek bernama Bara Mahendra di Yogyakarta. Ia tahu ini mungkin terdengar gila, tapi ia tidak punya pilihan lain. Ini adalah satu-satunya jalan.
"Nama lengkapnya Bara Mahendra, Bu. Dia lulusan Universitas Gadjah Mada, jurusan arsitektur," Kirana memberikan informasi yang ia ingat dari cerita ibu pemilik toko. Ia tahu itu tidak banyak, tapi itu permulaan.
Sekretarisnya, Ibu Rina, seorang wanita paruh baya yang sangat loyal, terdengar sedikit terkejut dengan permintaan mendadak ini, namun ia profesional dan tidak banyak bertanya. "Baik, Nona Kirana. Akan saya coba carikan informasinya. Mohon beri saya waktu."
Kirana menutup telepon, menarik napas lega. Setidaknya, ia sudah melakukan sesuatu. Ia tidak lagi pasif, tidak lagi hanya meratapi nasibnya.
Sore harinya, Kirana duduk di teras hotel, menyeruput teh hangat, matanya menatap siluet senja yang memudar di balik gunung. Ponselnya berdering. Nama Ibu Rina tertera di layar. Jantung Kirana berdebar kencang.
"Nona Kirana, saya sudah menemukan beberapa informasi," suara Ibu Rina terdengar jelas. "Ada beberapa Bara Mahendra yang lulusan arsitektur UGM. Tapi yang paling menonjol adalah seorang Bara Mahendra yang kini menjabat sebagai direktur utama di sebuah firma arsitektur besar di Yogyakarta. Namanya 'Adiwangsa Arsitek'. Dia cukup terkenal, Nona. Banyak proyek besar di sana yang dia tangani."
Darah Kirana berdesir. Adiwangsa Arsitek. Sebuah nama yang tidak asing di telinganya. Firma itu memang cukup dikenal di kalangan pengembang properti. Apakah ini Bara-nya? Apakah ini sahabat masa kecilnya?
"Apakah ada foto atau informasi lain, Bu Rina?" Kirana bertanya, suaranya sedikit bergetar karena antusiasme yang membuncah.
"Ada foto profilnya di situs web perusahaan, Nona. Saya bisa kirimkan link-nya."
"Tolong kirimkan, Bu Rina. Sekarang juga!"
Beberapa detik kemudian, notifikasi pesan masuk terdengar. Kirana dengan cepat membuka tautan yang dikirimkan Ibu Rina. Layar ponselnya menampilkan sebuah foto.
Seorang pria dengan rahang tegas, rambut hitam sedikit berantakan namun tertata rapi, dan sepasang mata cokelat yang teduh. Senyum tipisnya, meskipun dewasa, masih menyisakan jejak senyum lebar yang Kirana kenal dulu. Ada kerutan halus di sudut matanya, menunjukkan usianya yang bertambah. Tapi tidak salah lagi. Itu dia. Bara Mahendra.
Rasa campur aduk menyeruak di dada Kirana. Lega, haru, sekaligus kerinduan yang mendalam. Ia masih sama. Bara-nya. Pahlawan masa kecilnya. Sebuah rasa aman yang sudah lama hilang, kini kembali terasa.
Tapi, apa yang akan ia katakan pada Bara? Setelah bertahun-tahun terputus kontak, tiba-tiba muncul lagi dengan kondisi hancur seperti ini? Kirana merasa ragu. Ia adalah putri dari keluarga Wijaya, seorang wanita yang seharusnya selalu tampil sempurna dan kuat. Kini, ia hanya seorang wanita yang patah hati, mencari perlindungan di masa lalu.
Namun, keraguan itu cepat menguap, digantikan oleh dorongan yang lebih kuat. Ia harus bertemu Bara. Ia harus mencari tahu.
"Terima kasih banyak, Bu Rina," ucap Kirana, suaranya penuh kelegaan.
"Sama-sama, Nona. Ada lagi yang bisa saya bantu?"
"Tidak, Bu Rina. Cukup ini saja. Jangan beri tahu siapa pun tentang pencarian ini, ya," pinta Kirana, teringat bahwa ia masih belum ingin orang tuanya tahu tentang keretakan pernikahannya.
"Baik, Nona. Saya mengerti," jawab Ibu Rina.
Kirana menutup telepon. Sebuah keputusan besar sudah ia ambil. Ia akan pergi ke Yogyakarta. Ia akan mencari Bara. Mungkin, hanya mungkin, dengan kembalinya Bara Mahendra, ia bisa menemukan kembali potongan-potongan dirinya yang hancur. Mungkin, ia bisa menemukan kembali kekuatan untuk menghadapi kenyataan yang menyakitkan di Jakarta. Atau mungkin, ia bisa menemukan awal yang baru.
Kirana tiba di Yogyakarta menjelang siang. Kota pelajar ini menyambutnya dengan keramaian yang berbeda dari Jakarta; lebih santai, namun tetap menyimpan denyut kehidupan yang kental. Setelah check-in di sebuah hotel di pusat kota, ia segera merencanakan langkah selanjutnya. Menghubungi Bara secara langsung terasa terlalu mendadak setelah bertahun-tahun tanpa kabar. Kirana memutuskan untuk mencoba cara lain: pura-pura menjalin kerja sama profesional. Itu akan memberinya alasan yang sah untuk bertemu Bara, tanpa harus mengungkapkan seluruh kerapuhan hatinya.
Ia menghubungi sekretarisnya lagi, Ibu Rina.
"Ibu Rina, saya ingin Anda menyiapkan proposal kerja sama untuk Adiwangsa Arsitek. Buat proposal yang sangat menarik, seolah-olah kami tertarik untuk menggunakan jasa mereka dalam proyek pengembangan properti terbaru keluarga," pinta Kirana, mencoba terdengar profesional dan percaya diri.
"Baik, Nona Kirana. Proyek yang mana yang harus saya cantumkan?" tanya Ibu Rina.
Kirana berpikir cepat. "Gunakan saja proyek apartemen mewah di Senopati. Itu proyek yang sedang berjalan, jadi tidak akan terlalu mencurigakan jika kita mengajukan kerja sama arsitektur internal." Proyek itu memang nyata, meskipun niat Kirana jauh dari sekadar kerja sama bisnis.
"Baik, Nona. Akan segera saya siapkan. Siapa yang harus saya hubungi di Adiwangsa Arsitek?"
"Direktur utamanya, Bara Mahendra. Sampaikan bahwa saya, Kirana Wijaya, ingin bertemu dengannya secara pribadi untuk membahas potensi kerja sama ini." Kirana sengaja menekankan namanya, berharap Bara akan mengenali nama itu, bahkan setelah sekian lama.
"Siap, Nona. Ada lagi?"
"Tidak, cukup itu saja. Segera hubungi saya jika sudah ada kabar," Kirana mengakhiri panggilan.
Ia meletakkan ponselnya di meja, menarik napas panjang. Jantungnya berdebar kencang. Ia tahu ini adalah sebuah perjudian. Bagaimana jika Bara tidak mengingatnya? Bagaimana jika ia sudah sangat berbeda? Atau lebih buruk lagi, bagaimana jika ia menolaknya? Keraguan itu menusuk, namun harapan untuk bertemu Bara lebih besar.
Sore harinya, saat Kirana sedang menikmati secangkir kopi di kafe hotel, ponselnya berdering. Nama Ibu Rina tertera di layar. Kirana langsung mengangkatnya.
"Nona Kirana, saya sudah berhasil menghubungi Adiwangsa Arsitek," suara Ibu Rina terdengar antusias. "Pak Bara Mahendra bersedia bertemu dengan Anda besok pagi, pukul sembilan, di kantornya."
Napas Kirana tercekat. Besok pagi. Secepat ini? Ia merasa gelombang kegugupan melandanya. "Baik, Ibu Rina. Terima kasih banyak. Bisakah Anda mengirimkan alamat lengkapnya?"
"Sudah saya kirimkan via email, Nona. Ada lagi yang bisa saya bantu?"
"Tidak, terima kasih, Ibu Rina."
Kirana menutup telepon, matanya terpaku pada layar ponsel yang menampilkan alamat kantor Adiwangsa Arsitek. Ia akan bertemu Bara. Setelah bertahun-tahun. Perutnya terasa mulas, kombinasi antara kegugupan dan antisipasi.
Malam itu, Kirana tidak bisa tidur nyenyak. Pikirannya melayang, membayangkan pertemuan besok. Apa yang harus ia kenakan? Apa yang harus ia katakan? Apakah Bara akan mengenali dirinya yang sekarang? Ia bukan lagi Kirana kecil yang polos, bukan lagi remaja yang mudah tertawa. Ia adalah wanita yang patah hati, membawa beban pengkhianatan yang berat.
Ia berdiri di depan cermin, menatap pantulan dirinya. Ada lingkaran hitam samar di bawah matanya, sisa dari malam-malam tanpa tidur dan tangisan. Wajahnya terlihat lebih tirus, dan senyumnya... senyumnya seolah telah hilang ditelan kepedihan. Ia merindukan Kirana yang dulu, Kirana yang bahagia.
Kirana mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa ini adalah demi bisnis. Ia harus tetap profesional. Namun, jauh di lubuk hatinya, ia tahu bahwa ini lebih dari sekadar bisnis. Ini adalah upaya terakhirnya untuk mencari pijakan, untuk menemukan kembali dirinya di tengah puing-puing kehidupannya yang hancur.
Pagi hari itu, Kirana memilih setelan blazer berwarna navy dengan blus putih yang rapi. Ia berusaha tampil sesempurna mungkin, menutupi jejak-jejak luka di hatinya. Setelah sarapan ringan, ia memanggil taksi daring menuju kantor Adiwangsa Arsitek.
Jalanan Yogyakarta mulai ramai. Gedung-gedung modern berpadu harmonis dengan bangunan-bangunan tua peninggalan Belanda, menciptakan pemandangan yang unik. Kirana merasa sedikit tenang melihat hiruk pikuk kota, mencoba mengalihkan pikirannya dari kegugupan yang melanda.
Akhirnya, taksi berhenti di depan sebuah gedung megah dengan desain modern minimalis. Plakat bertuliskan "Adiwangsa Arsitek" terpampang jelas di dinding. Kirana menarik napas dalam, menghembuskannya perlahan. Ini dia.
Ia melangkah masuk, disambut oleh lobi yang elegan dan kesan profesional. Seorang resepsionis muda menyambutnya dengan ramah.
"Selamat pagi, Ibu. Ada yang bisa saya bantu?"
"Selamat pagi. Saya Kirana Wijaya. Saya ada janji dengan Bapak Bara Mahendra pukul sembilan."
Resepsionis itu tersenyum. "Ah, Ibu Kirana. Silakan naik ke lantai tiga. Ruangan Bapak Bara ada di sana. Anda bisa langsung masuk ke ruang tunggu, nanti asisten Bapak Bara akan menjemput Anda."
Kirana mengangguk, mengucapkan terima kasih, lalu berjalan menuju lift. Setiap langkah yang ia ambil terasa berat, namun juga penuh antisipasi. Jantungnya berdegup semakin kencang saat lift bergerak naik.
Pintu lift terbuka di lantai tiga. Sebuah lorong panjang dengan dinding kaca yang memperlihatkan pemandangan kota. Kirana berjalan menuju ruang tunggu yang disebutkan resepsionis.
Di sana, sudah ada seorang pria yang duduk membelakanginya, membaca majalah arsitektur. Punggungnya tegap, rambutnya hitam, dan siluetnya terasa begitu familiar. Kirana mengenali bahu lebar itu, postur tubuh yang kekar namun tetap elegan.
Ia tahu itu Bara.
Bara Mahendra.
Jantung Kirana serasa berhenti berdetak. Ia berdiri mematung di ambang pintu, tak berani melangkah lebih jauh. Ia takut. Takut akan kecewa, takut Bara sudah melupakannya, takut ia hanya akan menjadi bayangan dari masa lalu yang tak relevan lagi.
Pria itu kemudian menutup majalahnya, meletakkannya di meja, lalu berbalik.
Mata mereka bertemu.
Sorot mata cokelat itu, yang dulu penuh kenakalan dan tawa, kini memancarkan kebijaksanaan dan ketenangan. Rahang tegasnya, hidung mancung, bibir yang tipis, semua sama seperti yang Kirana ingat, namun kini dihiasi dengan garis-garis kedewasaan. Ada senyum tipis di bibirnya, senyum yang Kirana rindukan.
"Kirana?" Suara Bara terdengar dalam, serak, namun begitu familiar. Sebuah pertanyaan yang bercampur dengan keterkejutan.
Air mata Kirana langsung menetes. Tanpa sadar, ia mengangguk. "Bara..."
Bara bangkit dari duduknya, berjalan perlahan mendekati Kirana. Matanya menatap Kirana lekat-lekat, seolah ingin memastikan bahwa yang di depannya ini adalah Kirana yang ia kenal. Ada keraguan, namun juga kelegaan yang terpancar dari sorot matanya.
"Kau... Kirana Wijaya?" Bara bertanya lagi, seolah masih tidak percaya.
"Iya, ini aku, Bara," jawab Kirana, suaranya tercekat oleh tangis haru.
Bara tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya membuka lengannya lebar-lebar. Tanpa ragu, Kirana menerjang ke dalam pelukan Bara. Pelukan itu terasa hangat, menenangkan, dan penuh kerinduan yang mendalam. Ia menghirup aroma maskulin Bara, aroma yang sama seperti dulu, aroma yang terasa seperti rumah.
Kirana menangis tersedu-sedu di dada Bara, semua emosi yang selama ini ia pendam akhirnya pecah. Rasa sakit karena pengkhianatan Revan, kebingungan akan masa depannya, dan kelegaan karena akhirnya menemukan Bara, semuanya tumpah ruah.
Bara mengusap lembut punggung Kirana, membiarkannya menangis. Ia tidak bertanya apa pun, hanya memeluknya erat, seolah ingin meyakinkan Kirana bahwa ia ada di sana, persis seperti janji masa kecilnya.
"Kau baik-baik saja?" Bara berbisik, suaranya penuh kekhawatiran.
Kirana menggelengkan kepalanya di dada Bara. "Tidak, Bara. Aku tidak baik-baik saja."
Bara menarik diri sedikit dari pelukan, menangkup wajah Kirana dengan kedua tangannya, ibu jarinya menyeka air mata Kirana. "Apa yang terjadi?"
Kirana ingin menceritakan semuanya, tentang Revan, tentang Sekar, tentang pernikahan palsu itu. Tapi ia tidak bisa. Tenggorokannya tercekat, kata-kata tak bisa keluar.
"Kita masuk ke ruanganku dulu ya," ajak Bara, suaranya lembut. Ia menggenggam tangan Kirana, menuntunnya ke sebuah ruangan yang tidak jauh dari ruang tunggu.
Ruangan Bara adalah cerminan dirinya: rapi, modern, dengan sentuhan hangat. Ada beberapa maket bangunan di meja, sketsa-sketsa arsitektur di dinding, dan pemandangan kota dari jendela besar. Bara mempersilakan Kirana duduk di sofa.
"Mau minum apa?" tawar Bara.
"Air putih saja, Bara. Terima kasih," jawab Kirana, mencoba menenangkan dirinya.
Bara menuangkan segelas air putih dan memberikannya kepada Kirana. Kirana meminumnya perlahan, mencoba mengendalikan emosinya. Ia menatap Bara, yang kini duduk di depannya, menatapnya dengan tatapan penuh perhatian.
"Kau terlihat sangat... berbeda, Kirana," ucap Bara, nadanya lembut. "Ada apa? Kau tidak datang ke sini hanya untuk menawarkan proyek, kan?"
Kirana menghela napas. Ia tahu ia tidak bisa berbohong pada Bara. Ia tidak pernah bisa berbohong padanya.
"Tidak, Bara. Aku... aku datang mencarimu." Kirana mengakui, suaranya masih serak. "Aku tidak tahu harus pergi ke mana lagi."
Ia mulai menceritakan semuanya. Tentang perjodohan, tentang Revan yang dingin, tentang usahanya yang sia-sia untuk mengambil hati Revan. Dan kemudian, tentang kenyataan pahit itu. Tentang Revan dan Sekar. Pengkhianatan yang terjadi tepat di depan matanya.
Bara mendengarkan dengan seksama, ekspresinya berubah dari perhatian menjadi kemarahan yang samar saat Kirana menceritakan tentang Revan dan Sekar. Matanya yang teduh kini memancarkan api. Rahangnya mengeras.
"Jadi... pria itu... dia bermain di belakangmu dengan sepupumu sendiri?" Bara bertanya, suaranya rendah dan penuh amarah.
Kirana mengangguk, air mata kembali menggenang. "Mereka... mereka sudah lama, Bara. Aku tidak tahu berapa lama. Aku merasa bodoh, begitu naif."
Bara mengulurkan tangannya, menggenggam tangan Kirana erat-erat. "Kau tidak bodoh, Kirana. Kau hanya terlalu tulus. Mereka yang busuk."
Kata-kata Bara menenangkan hati Kirana yang hancur. Sebuah kehangatan merambat dari genggaman tangan Bara, seolah menyalurkan kekuatan.
"Aku... aku tidak tahu harus bagaimana sekarang, Bara," Kirana berbisik. "Rumah tanggaku hancur. Aku tidak bisa pulang ke rumah itu. Aku tidak bisa menghadapinya."
"Kau tidak perlu menghadapinya sendirian, Kirana," kata Bara, tatapannya tegas. "Aku di sini. Aku akan melindungimu."
Janji itu. Janji yang sama seperti dulu. Janji yang kini terasa jauh lebih berarti. Bara masih Bara yang sama, pahlawan kecilnya.
"Tapi... kau sudah bertahun-tahun tidak ada, Bara," ucap Kirana, ragu. "Aku tidak ingin merepotkanmu. Kau punya hidupmu sendiri sekarang."
Bara tersenyum, senyum yang menenangkan. "Hidupku selalu ada untukmu, Kirana. Aku tidak pernah melupakanmu. Aku selalu mencari cara untuk menghubungimu. Tapi setelah kau menikah dengan Revan, aku berpikir... mungkin kau sudah bahagia."
Hati Kirana teriris mendengar perkataan Bara. Ia merasa bersalah. "Maafkan aku, Bara. Aku... aku hanya tidak tahu harus bagaimana."
"Tidak apa-apa, Kirana. Yang penting kau ada di sini sekarang." Bara menghela napas, sorot matanya kembali melembut. "Jadi, apa rencanamu sekarang?"
"Aku tidak tahu," Kirana menggelengkan kepalanya. "Aku hanya ingin menjauh dari Jakarta sebentar. Menenangkan diri. Mencoba mencari tahu apa yang harus kulakukan."
"Kalau begitu, tinggallah di sini dulu. Di Yogyakarta," Bara menawarkan, nadanya mantap. "Kau bisa menginap di apartemenku. Ada kamar kosong. Atau aku akan carikan tempat tinggal yang nyaman untukmu."
Kirana menatap Bara, terkejut. "Apartemenmu? Tidak, Bara. Aku tidak mau merepotkanmu."
"Kau tidak merepotkan sama sekali, Kirana," Bara bersikeras. "Anggap saja ini balasan karena kau mau datang dan mencariku. Aku senang kau datang."
Ada ketulusan dalam ucapan Bara yang membuat Kirana tidak bisa menolak. Ia merasa aman di dekat Bara, sebuah perasaan yang sudah lama tidak ia rasakan.
"Terima kasih, Bara," ucap Kirana, air matanya kembali mengalir, kali ini air mata kelegaan. "Terima kasih banyak."
Bara tersenyum, mengusap lembut kepala Kirana. "Sama-sama, Kirana. Sekarang, jangan menangis lagi. Kau aman di sini."
Di tengah kehancuran hatinya, Kirana akhirnya menemukan sebuah jangkar. Sebuah harapan baru. Bara Mahendra, sosok dari masa lalu yang kembali hadir, membawa serta kehangatan dan janji perlindungan yang selama ini ia rindukan. Yogyakarta, kota yang dulunya hanya sekadar tujuan pencarian, kini terasa seperti tempat singgah, tempat di mana ia bisa mulai menyembuhkan diri, dan mungkin, menemukan kembali arti kebahagiaan. Jalan di depannya masih panjang dan penuh ketidakpastian, namun Kirana tahu, dengan Bara di sisinya, ia tidak akan sendirian.