Bab 1

Hasrat Poligami

Part 1

Jam dinding menunjukkan pukul 17.30. Sofia mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang dari rumahnya di area Halim menuju Stasiun Senen, ia akan menjemput keluarga Farhan yang baru saja tiba di Jakarta. Sebelumnya, Farhan telah mengirimkan pesan ke Sofia bahwa ia tengah dalam perjalanan ke Jakarta dengan kereta pagi dari Semarang.

Setelah mengantar Rania ke rumah neneknya, Sofia segera bersiap menuju ke stasiun sore itu.

Meski Farhan menolak tawaran Sofia untuk menginap di rumahnya, tetap saja Sofia memaksa agar Farhan menuruti keinginannya.

Sofia pun menyebutkan akan menjemput keluarga Farhan di stasiun dan akan menunggu di pintu keluar.

Mengetahui sang suami akan datang, Sofia telah menyiapkan hal yang spesial, ia menghabiskan waktunya sepulang kantor untuk ke salon. Ia tahu suaminya suka bila dirinya wangi, cantik dan seksi tentunya.

Ia memesan kamar hotel khusus untuk menyambut suaminya.

"Hai Farhan!" seru Sofia saat melihat sosok Farhan di pintu keluar. Ia terpaksa berpura-pura di depan Salma, meski ia ingin sekali memanggil Farhan dengan panggilan sayang dan memeluknya.

Farhan segera mendekat ke arah Sofia. Farhan memperkenalkan Salma pada Sofia.

"Salma, kenalkan ini Sofia,"ujar Farhan memperkenalkan teman kecilnya itu pada istrinya. Meski Salma sering mendengar nama Sofia, tapi baru kali ini keduanya bertemu.

Sofia yang ramah dan mudah akrab dengan orang lain mencoba membuka percakapan.

"Jam berapa dari Semarang, Mbak?"

"Jam 09.00 tadi, Mbak."

Sofia lalu membawa keluarga Farhan untuk makan di restoran seafood.

Sepanjang perjalanan menuju restoran kedua perempuan yang duduk di jok depan ini saling membuka diri dan membahas banyak hal.

Salma juga menyerahkan lumpia titipan ibu mertuanya untuk Sofia.

Melihat kedua perempuan itu asyik mengobrol, Farhan hanya mengamati sambil tersenyum. Ia mengambil foto kedua istrinya itu diam- diam.

"Alhamdulillah, yang akur ya dua istriku," kata batin Farhan.

Farhan menyembunyikan senyum bahagianya di balik masker yang ia pakai.

Sesampainya di restoran yang menyediakan berbagai menu aneka olahan seafood juga tersedia kolam ikan dan beberapa akuarium, hingga membuat kedua putri Farhan antusias.

Sasa dan Sisi pun terlihat asyik mengamati ikan- ikan besar yang berada di kolam ikan yang berada di dekat tempat duduk mereka.

Kedua putri Farhan itu sangat menikmati suasana restauran seafood yang bernuansa alam terbuka.

Sasa dan Sisi sangat senang, keinginan mereka untuk liburan ke Jakarta akhirnya terwujud. Farhan mengikuti pelatihan di Jakarta saat jadwal kedua anaknya libur sekolah, ia membawa serta keluarganya sekaligus untuk mewujudkan keinginan kedua putrinya.

Setelah makan malam, Sofia mengantar keluarga Farhan untuk menginap di rumahnya. Sesampai di rumah Sofia.

Sasa dan Sisi tercengang.

"Wah besar banget rumahnya Tante!"

"Wah ada kolam renangnya juga,"seru keduanya ssaat memasuki rumah Sofia.

"Kalian kalau mau berenang, silahkan."

"Boleh Tante?asyiiik!" ucap keduanya.

"Besok pagi Aku berenang ya Bu, Yah?"

"Iya, sekarang mandi dulu terus istirahat ya."

"Iya Yah." Keduanya patuh menuruti perintah Farhan.

Selama menunggu Farhan pelatihan, Salma dan kedua putrinya rencananya akan menginap di rumah Sofia. Farhan berencana setelah pelatihan selama dua hari, Farhan akan membawa keluarganya keliling Kota Jakarta.

Sofia yang sangat merindukan suaminya, harus berbesar hati melihat kebahagiaan keluarga kecil Farhan bersama istri pertamanya selama menginap di rumahnya.

Pelatihan versi Farhan bukanlah pelatihan yang sebenarnya. Hal itu adalah kedok untuk menutupi kebohongannya. Selama dua hari, Farhan menghabiskan waktunya pagi hingga sore bersama Sofia, istri mudanya di hotel. Hal itu keduanya lakukan agar Salma tak curiga.

Sesuai janjinya, setelah pelatihan selama dua hari, Farhan membawa keluarganya untuk mengunjungi Museum Fatahillah, Monas dan Dufan.

Farhan memilih menggunakan transportasi bus Transjakarta untuk mengunjungi tempat-tempat itu. Kedua putri Farhan sangat menikmati perjalanan, keduanya berdecak kagum saat melihat berbagai bentuk gedung-gedung pencakar langit di Jakarta.

Di Kota Tua Jakarta mereka melihat berbagai objek sejarah. Mereka juga berfoto dan menikmati kerak telor, kedua buah hati Farhan sangat menikmati liburan kali ini. Setelah dari museum, Farhan sekeluarga mengunjungi Monas.

Monumen yang berada di tengah Kota Jakarta itu pada ujungnya berlapis emas, mereka naik ke ujung monumen dengan menggunakan lift. Sesampai di atas kedua putri Farhan sangat senang karena bisa melihat Kota Jakarta dari atas, keduanya mencoba melihat dengan menggunakan teleskop.

Hari kedua pasca pelatihan Farhan membawa keluarganya mengunjungi Dufan. Di area ini berbagai macam atraksi dan tempat permainan tersedia. Mulai dari tornado, istana boneka hingga wahana misteri tersedia disini.

Setelah puas bermain, mereka makan di restoran.

"Terima kasih ya Yah udah bawa kita liburan,"ucap Sasa dan Sisi kompak. Keduanya lalu memeluk Farhan.

"Nanti kita liburan lagi ya, Yah... kalau Ayah libur," pinta si adik.

"Iya, insyaallah."

Melihat wajah senang di wajah kedua putrinya membuat Farhan dan Salma ikut merasa bahagia.

***

Salma tak pernah curiga dengan sikap baik Sofia, ia telah mengetahui tentang Sofia sebelumnya. Dahulu, Sofia adalah tetangga Farhan di Semarang, keluarga Farhan pun telah menganggap Sofia bagai anak mereka sendiri.

Salma pun juga tahu Sofia telah menjanda dengan satu putri, suaminya meninggal dalam kecelakaan pesawat. Tanpa pernah Salma ketahui, Sofia pun kini juga memiliki status yang sama sepertinya yaitu menjadi istri Farhan.

Farhan tak pernah menceritakan perihal itu pada Salma. Pun keluarga Farhan, hanya Ibu Farhan yang mengetahui kejadian ini, keluarga Farhan yang lain tak tahu- menahu akan hal itu.

Sebaliknya, keluarga Sofia sudah mengetahui hal ini sebelumnya, tapi mereka memilih untuk merahasiakan hal ini dari adik-adik Farhan.

Pagi hari saat Farhan bersiap untuk mengikuti pelatihan. Kedua putrinya telah bersiap berenang. Menggunakan kaos dan celana pendek, keduanya tak sabar ingin segera berenang.

Farhan sarapan bersama dengan kedua istrinya. Sembari menatap kedua putrinya yang tengah berenang, Farhan tersenyum bahagia.

"Sungguh, nikmat TuhanMu mana lagikah yang kau dustakan," ucap batin Farhan.

Sarapan yang diselingi obrolan ringan itu terasa hangat. Sofia yang telah bersiap berangkat bekerja itu hanya menghabiskan roti bakar dan teh hangat sebagai menu sarapannya.

Sofia berpura-pura sakit perut setelah sarapan. Ia berencana berangkat setelah Farhan berangkat.

Di dalam kamarnya, Sofia mengirimkan pesan pada sang suami.

[Ketemu di hotel ya sayang, love you]

Ia sangat merindukan suaminya setelah tiga bulan tak bertemu.

Bab 2

Pagi hari Farhan telah bersiap menuju ke tempat pelatihan setelah menyelesaikan sarapannya. Ia mengecup kening Salma saat akan meninggalkan rumah Sofia.

Untuk menutupi kebohongannya, Farhan menggunakan taksi menuju hotel tempat ia menghabiskan waktu bersama istri mudanya.

Saat berada dalam taksi, sebuah pesan dari Sofia masuk ke ponselnya.

[Tunggu Aku ya sayang, love you]

Farhan segera membalas pesan itu

[Love you too honey] disertai dengan emotikon hati. Hati Farhan bahagia. Selain liburan, ia pun dapat bertemu dengan istri mudanya.

Sofia tak ingin membuat Salma curiga, ia memilih berangkat ke kantor satu jam kemudian. Sofia membawa mobilnya menuju hotel yang telah ia booking sebelumnya.

Farhan tak ingin Sofia cemburu melihat kemesraannya dengan Salma, untuk itulah Farhan memenuhi keinginan Sofia agar bertemu di hotel.

Keduanya meluapkan kerinduannya setelah tiga bulan tak bertemu. Sofia memesan hotel itu selama 2 hari. Pagi hingga sore keduanya menghabiskan waktu bersama.

Sore hari keduanya pulang bersama, senyum bahagia menghiasi wajah keduanya. Farhan memilih berjalan kaki 200 m dari rumah Sofia, sementara Sofia memutuskan untuk ke supermarket untuk berbelanja kebutuhan rumahnya.

Sofia masuk ke rumahnya dengan membawa tas belanja yang penuh dengan es krim dan jajanan untuk menyenangkan hati anak kakak madunya.

"Sasa, Sisi, sini, Nak! Tante bawa es krim nih buat kalian."

Sasa dan Sisi segera menghampiri Sofia yang tengah duduk di rumah tamu rumahnya.

Kedua gadis kecil itu lalu makan es krim sembari menonton kartun gundul kembar dari negeri Jiran.

****

Salma tak pernah curiga dengan sikap baik Sofia, ia telah mengetahui tentang Sofia sebelumnya. Dahulu, Sofia adalah tetangga Farhan di Semarang, keluarga Farhan pun telah menganggap Sofia bagai anak mereka sendiri.

Sofia kecil seringkali bermain di rumah Farhan, orangtua Sofia pun seringkali menitipkan Sofia pada keluarga Farhan. Bahkan ibu Farhan menitipkan lunpia sebagai oleh- oleh untuk Sofia.

Setiap Lebaran, keluarga Sofia pun mudik ke Semarang tak lupa mereka pun berkunjung ke rumah orang tua Farhan. Akan tetapi, tiap kali Sofia berkunjung, Farhan dan Salma seringkali tidak bertemu karena keluarga kecil itu mudik ke Solo sebelum lebaran.

Saat SMU, Sofia pindah ke Jakarta mengikuti orang tuanya yang dimutasi kesana. Ia kini telah menjadi dosen di suatu kampus swasta setelah menyelesaikan pendidikan doktoralnya, suaminya meninggal dalam kecelakaan pesawat setahun yang lalu. Kala itu Rania, putrinya tengah berusia tiga tahun saat papanya meninggal.

Dalam suatu pelatihan yang diadakan di Jakarta setahun yang lalu, Sofia bertemu dengan Farhan. Keduanya seolah reuni. Keakraban keduanya tak berkurang meski keduanya telah berkeluarga.

Setelah pelatihan sore itu, Sofia dan Farhan menikmati senja di salah satu kafe. Sembari menikmati kopi disertai alunan musik, Sofia mencurahkan isi hatinya mengenai kehidupan rumah tangganya pada teman kecilnya itu.

"Aku sedih, Han, Mas Ryan meninggal kecelakaan, Rania masih kecil, Aku stres Han," keluh Sofia pada Farhan, ia menangis tersedu-sedu, punggung Sofia berguncang, iFarhan yang tak tega melihat hal itu, memeluk Sofia.

"Aku kesepian Han, enggak punya sandaran hidup," atauir mata Sofia terus bercucuran

"Sabar ya Sof, sabar."

"Kamu harus kuat demi Rania!"

"Kamu boleh curhat sama Aku kalau Kamu butuh temen curhat."

Farhan lalu memeluk Sofia. Memberikan kekuatan pada teman kecilnya itu.

Saat itulah Sofia yang kesepian karena telah setahun menjanda merasa mendapatkan teman berbagi yang nyaman.

Berawal dari pelatihan itulah, keduanya semakin dekat. Sofia seringkali mengirimkan pesan dan menelepon Farhan untuk curhat.

Pembawaan Farhan yang tenang dan komunikatif membuat Sofia semakin menemukan kenyamanan dalam suatu hubungan. Keduanya pun seringkali bertemu secara diam-diam.

Bertemu dengan Farhan seolah membangkitkan kembali kenangan keduanya saat masih bersekolah, Farhan yang humoris mampu membuat Sofia tak lagi berduka, gelak tawa muncul diantara keduanya.

"Kamu tuh ya dulu ingusan, Ya Allah sekarang, duh beda banget sih," ucap Sofia kala pertama bertemu.

"Makin jelek atau makin ganteng nih?"

"Kira- kira? menurutmu?"

"Makin tampan ya, pastinya, Farhan gitu," ucap Farhan dengan bangganya.

"Narsis narsis," olok Sofia.

"Iya sih, memang sekarang makin tampan ... tampan banget sih,"batin Sofia mengakui hal itu.

Farhan selalu beralasan pergi pelatihan keluar kota pada keluarganya demi meluapkan rindunya pada Sofia.

Akhir pekan di awal bulan adalah waktu yang ditunggu keluarga Farhan untuk refreshing, tapi rencana itu terpaksa gagal, karena Farhan memilih mengikuti pelatihan di kota Yogyakarta.

Pelatihan adalah alasan Farhan untuk menutupi kebohongannya. Ia berangkat ke Yogyakarta untuk menghabiskan waktu berdua bersama Sofia.

Keduanya bertemu di salah satu hotel di sekitar Malioboro. Layaknya anak muda yang tengah kasmaran, Farhan memperlakukan Sofia bagai kekasih hatinya.

Keduanya makan malam dalam suasana romantis di suatu restoran ditemani malam bertabur bintang.

Malam itu Farhan melamar Sofia untuk menjadi istrinya. Sofia yang mengetahui Farhan telah berkeluarga rela meski menjadi istri kedua Farhan.

"Sof, maukah kau menikah denganku?"

"Meski menjadi yang kedua, tapi Aku tetap mencintaimu."

Lamaran itu tentu saja membuat Sofia bahagia. Menikah dengan Farhan adalah impiannya setelah menjanda. Sofia menerima lamaran Farhan saat itu juga.

Setelah Sofia menerima lamaran itu, Farhan lalu memberikan cincin emas dan memasangkan cincin itu di jari Sofia. Setelah terpasang, Farhan mencium tangan Sofia.

Sofia merasa menjadi wanita paling bahagia. Keduanya lalu berpelukan, Farhan mencium kening Sofia.

Senyum bahagia menghiasi bibir keduanya. Farhan dan Sofia tak sabar menyambut hari bahagia itu. Sepanjang perjalanan pulang ke hotel, Farhan tak melepaskan genggaman tangannya pada Sofia.

Farhan yang menginginkan menikah lagi demi mendapatkan anak laki-laki serta Sofia yang menginginkan suami membuat keduanya memutuskan untuk menjalin hubungan yang serius.

Dua bulan setelah lamaran itu, Farhan dan Sofia melangsungkan pernikahan yang dilakukan secara agama, profesi keduanya yang berlatar belakang aparat negara tidak memperkenankan keduanya menikah kantor.

Sofia akhirnya mengakhiri masa jandanya selama setahun terakhir dengan menerima pinangan dari Farhan.

Bukan hanya Sofia yang merasa bahagia karena impiannya menikah dengan Farhan terwujud. Rania, putri Sofia pun sangat senang karena ia memiliki ayah. Bahkan Rania sangat manja pada Farhan. Rania yang haus akan kasih sayang seorang ayah langsung akrab dengan Farhan.

Keluarga Farhan merahasiakan hal ini dari Salma. Kedua orangtua Sofia sangat senang karena Farhan menjadi anak menantu mereka. Bahkan orang tua Sofia dan Farhan mendukung pernikahan ini karena semakin mempererat jalinan persahabatan antar dua keluarga.

Papa Sofia pun percaya Farhan dapat membahagiakan Sofia.

Meski pernikahannya tercatat sah secara agama, tapi keluarga Sofia tetap mengadakan resepsi mewah untuk putri mereka Sofia. Resepsi itu digelar secara tertutup di hotel bintang lima, hanya dihadiri oleh keluarga terdekat mereka, mengingat ini adalah pernikahan kedua bagi kedua mempelai.

"Terima kasih Sayang, sudah memilihku menjadi istrimu," ucap Sofia mesra saat keduanya tengah berada di pelaminan.

Farhan pun mengecup tangan Sofia berkali-kali. Keinginan Farhan untuk menikah lagi akhirnya terwujud. Bersama Sofia, Farhan merasa jatuh cinta lagi.

Seusai resepsi, keduanya melanjutkan acara bulan madu ke Pulau Bali. Sofia sangat menyukai pantai, untuk itulah ia memilih Bali karena memiliki banyak pantai. Pasangan baru itu memilih salah satu resort yang berada di pinggir pantai.

Farhan berharap sepulang berbulan madu, Sofia dapat hamil anak laki-laki sebagai penerus di keluarganya.

Farhan menyimpan rapat-rapat rahasia mengenai pernikahan keduanya ini dari Salma.

Bab 3

Selain memilih ke hotel, Sofia tak lupa menitipkan Rania ke rumah orang tuanya agar rencananya dapat berjalan mulus. Sofia berharap, Rania betah menginap di rumah kakek neneknya sehingga Rania tidak bertemu dengan Farhan.

Rencana tinggallah rencana, saat keluarga Farhan tengah menunggu mobil tranportasi online untuk mengantar mereka ke stasiun pagi itu, Rania datang dengan diantar neneknya.

"Ayaah!" Pekik Rania saat melihat sosok Farhan berada di rumahnya.

Gadis kecil itu segera menghambur ke pelukan Farhan.

"Ayah?" gumam Salma saat mendengar hal itu. Ia kaget setengah mati.

Putri dari Sofia memanggil suaminya dengan panggilan ayah.

"Maaf Sal, Rania ini merindukan sosok ayahnya yang udah meninggal, jadi kalau ada om- nya atau laki- laki dewasa yang akrab sama dia itu seringkali dianggapnya ayahnya,"ungkap Sofia menutupi kebohongannya.

Ekspresi Farhan menegang, ia tak menyangka Rania akan pulang pagi itu dan hampir membongkar rahasianya.

Bukan hanya Salma yang kaget, Sasa dan Sisi pun juga tak terima Farhan diakui ayah oleh orang lain. Keduanya lalu mendekati Rania dengan ekspresi marah.

Sasa segera menyentak tangan Rania yang tengah memeluk Farhan.

"Ini Ayahku! bukan Ayahmu!" bentak Sasa.

Sisi pun tak kalah marah karena ayahnya diakui oleh Rania, ia memperlihatkan perlawanan pada Rania, matanya melotot, ia berkacak pinggang di depan gadis gembil di hadapannya.

Mendapatkan perlakuan seperti itu, membuat Rania menangis kencang. Ia tak mengerti bahwa ayah Farhannya juga ayah Sasa dan Sisi.

Merasa tak enak hati. Sofia segera membujuk Rania agar putrinya bisa segera menghentikan tangisnya.

Setelah mobil itu datang, Farhan dan keluarganya berpamitan dan segera naik ke mobil

Tak tahan dengan pikiran - pikiran negatifnya mengenai hubungan suaminya dan Sofia. Salma pun mengungkapkan penasarannya di mobil online yang mereka tumpangi.

Firasatnya menyebutkan Farhan telah menduakan hatinya.

"Mas, bisa tolong Mas jelaskan ada hubungan apa Mas dengan Sofia?"

Mendapat pertanyaan tak terduga dari istrinya, Farhan pun mencoba menjelaskan secara lembut agar istri pertamanya itu tidak emosi.

"Apa Kamu siap mendengar jawaban Mas?"

"Iya Aku siap."

"Apapun?"

"Iya, apapun." Salma menyiapkan hatinya jika memang firasatnya benar.

"Mas telah menikah dengan Sofia enam bulan yang lalu."

Kejujuran yang Farhan ungkapkan, bagai sengatan lebah di telinganya. Menyentak pikiran dan membuatnya emosi.

"Apa!"

"Enam bulan yang lalu?" tanya Salma tak percaya. Firasatnya benar, Farhan telah mengkhianatinya.

Dadanya bergemuruh, emosi menguasai diri Salma. Napasnya memburu, suami terkasihnya telah menduakannya. Salma memutuskan untuk menjauh dari Farhan sejenak agar tetap terjaga kewarasannya, meski hal ini sangat membuatnya terguncang.

"Ok, pulangkan Aku ke rumah orang tuaku, jemput Aku saat Kamu bisa memilih Aku atau dia!"

"Tidak! Aku tidak akan menceraikanmu Salma!"

"Pilih Aku atau dia!" teriak Salma.

Merasa tak enak hati dengan sopir mobil itu, Farhan mencoba menenangkan istrinya.

"Nanti kita bicarakan ya di rumah, please, please, malu sayang diliatin orang."

Melihat perdebatan kedua orang tuanya di dalam mobil, Sasa dan Sisi menangis, kedua balita itu ketakutan.

"Tinggalkan Kami, Mas! Aku akan pulang ke Solo."

"Tapi?"

Salma tak lagi mendebatnya. Wajah istri pertama Farhan itu tengah menahan tangisnya agar tak menangis di depan kedua putrinya. Salma memandang ke luar jendela, ia ingin mengurangi sesak batinnya.

"Baik, aku akan segera menjemputmu di Solo."

"Hati- hati di jalan ya, Bu."

"Sasa, Sisi, pulangnya naik kereta sama Ibu ya, Nak."

Tangis kedua putri Farhan tak lagi terdengar, ia mengecup kening dan mengusap kepala kedua putrinya.

"Iya, Yah."

"Kok Ayah enggak pulang bareng Kita naik kereta?" tanya Sisi.

"Ayah masih ada pekerjaan, Nak."

Farhan segera keluar dari mobil itu. Ia memilih pulang ke Semarang dengan menggunakan bus.

Kedua putri Farhan melihat kepergian Farhan dengan pandangan sedih.

Di dalam kereta, Sasa dan Sisi melihat pemandangan alam yang tersaji melalui jendela. Salma ingin segera menumpahkan tangisnya, tapi ia malu masih berada di tempat umum.

Tetes air matanya tak mampu ia tahan. Ia menangis, hatinya sedih, ia merasa suaminya telah mengkhianati cintanya. Ia yang mengetahui bahwa suaminya adalah pria setia, ternyata telah menduakan hatinya.

Dalam agama yang ia yakini, lelaki memang diperbolehkan menambah istri hingga berjumlah empat, tapi ada syaratnya. Bila syaratnya adalah ketiadaan anak, bagi Salma tak ada masalah. Kedua putri cantik telah Allah titipkan padanya, entah apa motif Farhan melakukan poligami. Salma tak mengerti alasannya.

***

Sore hari Salma dan kedua putrinya tiba di Solo, ia menggunakan mobil online untuk pulang ke rumah orang tuanya.

"Sasa, Sisi." Ibu Salma menyambut kedua cucu cantiknya dengan pelukan dan ciuman.

"Sendirian?" tanya Ibu Salma saat mendapati Salma datang tanpa Farhan.

"Iya, Bu, Mas Farhan masih ada pekerjaan, Bu."

Saat makan malam, Sasa dan Sisi sibuk menceritakan pengalaman liburannya di Jakarta.

"Nenek, kemarin Sisi naik ke Monas lho," ujar Sisi.

"Iya Sasa juga, Nek."

"Nek, kemarin Ayah sama Ibu bertengkar di mobil."

"Apa!"

"Ayah sama ibu kemarin juga teriak - teriak di mobil, Nek."

"Iyakah?"

"Iya Nek, Ibu aja nangis terus kemarin di kereta."

Mendengar pengakuan jujur dari kedua cucunya, Ibu Salma menduga ada permasalahan serius dalam rumah tangga anak dan menantunya.

Pantang bagi Ibu Salma untuk mencampuri urusan rumah tangga putrinya.

Di rumah orang tuanya Salma melakukan introspeksi diri, ia mengorek kekurangan pada dirinya yang menyebabkan suaminya berpaling. Tubuhnya meski telah melahirkan dua anak tetap langsing dengan berat lima puluh lima kilogram dengan tinggi seratus enam puluh centimeter.

Meski bertubuh ideal, Salma tak pernah menyempatkan merawat dirinya ke salon, berbeda dengan Sofia yang rutin ke salon untuk perawatan tubuh dan wajahnya.

Ia mengamati wajahnya di depan cermin, apakah ia semakin terlihat tua dan keriputnya semakin banyak, hingga terlihat jelek di mata suaminya. Ia merasa tak ada yang berubah banyak di wajahnya, meski tidak seputih Sofia, tapi wajahnya tidak berjerawat.

Dari segi penampilan, ia selalu menutup tubuhnya dengan hijab. Sementara Sofia justru berpenampilan seksi.

Dari segi ekonomi, Sofia jauh diatasnya. Kedua orang tua Sofia adalah pengusaha, rumah yang ditempati Sofia pun tergolong mewah, sehingga bukan motif uang yang mendasari pernikahannya dengan Farhan.

Salma terpikir mengenai hal- hal yang negatif terkait alasan poligami suaminya.

"Apa Mas Farhan dipelet ya?"

"Apa Mas Farhan udah mulai ya puber keduanya?"

"Apa Aku kurang seksi dan kurang memuaskan dalam memberikan pelayanan untuk Mas Farhan?"

Berbagai pertanyaan berkecamuk dalam pikiran Salma. Ia memilih tidak merespon semua panggilan dan pesan dari Farhan.

Ia stres berat, setiap hari menangis, hingga tak nafsu makan. Saat Farhan melakukan panggilan video dengan kedua anaknya, Salma memilih untuk menghindari Farhan.

Ia masih sangat kesal dan sakit hati dengan sikap suaminya yang diam- diam telah menikah lagi.

Pikiran buruk mengenai perceraian juga terlintas dalam pikiran Salma. Dalam keluarganya perceraian dan poligami adalah aib, sehingga ia tak ingin keluarga kecilnya mengalami hal itu. Tapi, takdir tak bisa ditolak, Salma kini tengah diuji poligami dalam pernikahannya.

Masalah poligami Farhan selain membuat Salma tak nafsu makan, juga membuat Salma sulit tidur, kedua matanya bengkak karena sering menangis.

Mengingat perilaku suaminya yang tampak seperti biasanya, Salma menduga suaminya telah menyembunyikan hal itu dengan rapi di hadapannya, hingga ia tak menyadari bahwa suaminya telah menjalin hubungan khusus dengan wanita lain.

Ia menyadari, bahwa Sofia cantik, seksi, badannya berisi, berharta banyak dan memiliki karir yang bagus. Hal ini membuat Salma menjadi kian minder.

Salma yang memutuskan menjadi ibu rumah tangga sejak menikah hanya berfokus pada keluarganya, ia tak pernah berpenghasilan. Hingga badai ini melanda, ia bingung. Tak tahu harus bekerja apa karena usianya telah mendekati empat puluh tahun, sehingga sulit untuknya melamar kerja, selain itu ia hanya lulusan SMK.

Bila perceraian itu terjadi, bagaimana dengan nasib kedua putrinya, sanggupkah ia membiayai pendidikan dan kebutuhan harian putrinya.

Bila poligami ini terus berlanjut, Salma pun tak sanggup harus berbagi suami dengan wanita lain.

"Aku tak sanggup dimadu, pun Aku tak sanggup bercerai Ya Allah," gumam Salma lirih.

Ibu Salma prihatin dengan kondisi putrinya. Ia pun juga tak sanggup bila berada di posisi anaknya.

"Salma, makanlah Nak...berhari- hari tak makan, kasihan putrimu bila Kau sakit Nak."

"Aku tak selera makan, Bu."

Kondisi Salma tak ayal memicu menurunkan daya tahan tubuhnya.

Ia mengalami mual, asmanya kambuh hingga tak sadarkan diri.

Ibu Salma menemukan Salma tak sadarkan diri malam itu saat akan mengantarkan makan malam di kamarnya.

"Salmaaaa!"

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED