Bab 1

Zhea terlentang diatas tempat tidur dalam keadaan tanpa memakai busana apapun. Kedua kakinya dilebarkan dan kedua tangannya diletakkan diatas kasur dengan posisi sejajar dengan kepala. Matanya sendu, penuh birahi dan hasrat yang menanti untuk dipuaskan oleh seorang laki-laki bertubuh kekar dan berwajah tampan, Muchlis, yang hanya mampu menggesek-gesekkan penisnya diatas vagina Zhea yang benar benar telah basah.

"Masukin kak... Aahhh... Aku sudah gak tahan..." Zhea mengerang. Kedua tangannya telah berpindah ke atas kedua payudaranya yang berukuran 34B dengan puting berwarna merah muda yang nampak menggemaskan ditambah dengan kulitnya yang putih mulus. Kedua tangan Zhea meremas-remas payudaranya menantikan vaginanya diterobos oleh penis milik suaminya tersebut.

Permintaan tersebut tak juga digubris oleh pria yang berstatus sebagai suami dari seorang wanita yang sedang terlentang pasrah menunggu hujaman penis 10cm nya. Pria itu tetap sibuk menggesekkan penisnya yang tak kunjung berdiri sedangkan vagina milik istrinya telah sangat menantikan hujaman dari penis miliknya.

"Gak berdiri lagi ya kak?" Tanya Zhea.

"Gak tau nih, kok gak bisa berdiri sih" jawab Muchlis.

"Ya sudah, gesek gesek saja kak.. yang penting kakak puas" ujar Zhea kepada pria berusia 34 tahun itu.

Tanpa menjawab, Muchlis memposisikan penisnya tepat diatas klitoris milik Zhea yang timbul seperti kacang. Zhea hanya bisa mengerang, nikmat, namun bukan kenikmatan seperti ini yang ia harapkan. Akan tetapi, sebagai seorang istri yang baik dan berwajah polos, ia tahu bahwa ia harus berpura-pura menikmati kenikmatan yang nanggung seperti ini. Sehingga ia hanya terus mendesah sambil meremasi kedua payudaranya yang berukuran 34B seiring gesekan-gesekan antara vaginanya dan penis suaminya.

"Aku mau keluar... Aaahhhhhhhh" Muchlis melenguh bersamaan dengan tiga semburan sperma mengenai perut istrinya.

Pinggulnya berhenti bergerak, nafasnya pun terengah-engah, ia merasakan kepuasan namun tidak dengan istrinya yang memperlihatkan senyuman palsu seakan ikut merasakan kepuasan yang sama.

Muchlis berbaring disamping kiri Zhea, nafasnya masih belum stabil. Sedangkan Zhea menoleh kearahnya memperlihatkan senyuman manis dari wajahnya yang tanpa diketahui oleh Muchlis bahwa itu adalah senyuman yang menyembunyikan kekecewaan. Diusianya yang menginjak angka 26 tahun, kebutuhan pemuas syahwat adalah salah satu hal yang amat ia inginkan.

Muchlis tak berkata apapun, ia pun menoleh kearah Zhea dan membalas senyuman nya dengan senyuman juga tanpa merasa bersalah atas ketidakmampuannya dalam memberikan kepuasan seksual kepada istrinya. Kemudian dengan segera ia bangun dan berjalan menuju kamar mandi yang ada didalam kamar tidur mereka.

Zhea menghela nafas, kecewa dan sedih selalu ia rasakan tiap berhubungan intim selama satu tahun ini. Di usia pernikahan nya yang baru menginjak usia dua tahun ini ia hampir tidak pernah mendapatkan kepuasan batin yang selayaknya, kecuali hanya saat malam pertama dimana selaput daranya pertama kali diterobos oleh penis milik suaminya.

Dering notifikasi ponsel yang singkat terdengar membuat matanya yang semula menatap kearah langit-langit rumah tertuju kepada ponselnya yang ia letakkan disebelah kotak tisu yang terbuat dari manik manik berwarna biru dan putih, warna kesukaannya. Zhea meraih kotak tisu dan mengabaikan HP nya lalu mengambil beberapa lembar tisu kemudian membersihkan sperma suaminya yang berserakan diatas perutnya yang rata dan terawat.

Zhea memiringkan badannya kearah kanan. Masih dalam keadaan tak berbusana. Ia meraih ponselnya dan melihat sebuah notifikasi dari aplikasi Facebook yang memberitahu bahwa seseorang ingin menambahkannya sebagai teman. Mata Zhea terbelalak dan tubuhnya terasa bergidik melihat akun tersebut menggunakan foto profil sebuah penis yang berdiri tegak dengan gagah perkasa yang sangat berbeda jauh dengan milik suaminya yang tak pernah lagi ia melihatnya berdiri selama hampir dua tahun ini.

Zhea menoleh kearah kamar mandi dan masih terdengar suara guyuran shower. Zhea kembali menatap foto profil dari akun Facebook tersebut. Nafasnya terasa berat dan ia merasa vaginanya berkedut membuat tangan Zhea mulai menyentuh ujung klitorisnya yang seakan menciptakan aliran listrik yang membuat tubuhnya bergetar. Namun secepat itu Zhea menyadari bahwa ia sedang melakukan sebuah kesalahan bagi seorang istri. Zhea akhirnya memblokir akun tersebut dan kembali meletakkan HP nya diatas meja kecil disamping tempat tidurnya.

*****

Zhea dan Muchlis telah berencana untuk berjalan jalan ke sebuah taman wisata yang sedang jadi pembicaraan oleh banyak masyarakat disana. Zhea mengajak Muchlis pergi ke taman tersebut setelah ia mendengar pembicaraan dari ibu ibu di kompleknya saat mereka sedang belanja sayur dari gerobak Mang Bejo, si penjual sayur keliling.

Mereka berdua telah berada di sebuah stasiun kareta yang cukup megah. Perjalanan dari rumah mereka ke tempat yang mereka tuju memakan waktu yang lebih singkat apabila ditempuh dengan kereta listrik yang melintas ditengah kota. Namun tanpa mereka duga, hari ini terjadi peningkatan penumpang sehingga mereka harus berdesak-desakan untuk mengantri masuk kedalam gerbong kereta.

"Pokoknya kalau kita terpisah, tetap turun di stasiun Biji Rambutan ya." Muchlis berkata dengan mendekatkan bibir ke telinga Zhea yang tertutup oleh jilbab pashmina. Zhea hanya mengangguk, matanya menjelajah ke seluruh sudut yang ia bisa jangkau dan melihat betapa penuhnya gerbong kereta nanti. Tangan Zhea menggenggam erat tangan suaminya, berharap ia tak terpisah dengan suaminya ketika didalam gerbong kereta nanti.

Beberapa menit kemudian, kereta yang mereka tunggu pun tiba. Mereka bergegas untuk masuk kedalam gerbong namun desakan penumpang dari arah belakang dan samping membuat genggaman tangan mereka terpisah hingga Zhea yang telah menginjakkan kakinya kedalam gerbong kereta terpisah dengan Muchlis yang kemungkinan masih berada diluar. Penumpang gerbong kereta yang padat membuat Muchlis tidak bisa menjangkau Zhea, begitupun sebaliknya. Ditambah tubuh Zhea yang tingginya hanya 156cm membuatnya semakin tenggelam dalam kerumunan penumpang yang saling berdesakan.

Zhea merasa kebingungan, semua handgrip diatas kepalanya telah dipenuhi oleh tangan tangan penumpang lain, sedangkan ia berada diantara pria yang sama sama mengapitnya. Penumpang kereta makin sesak, Zhea makin tenggelam dalam kerumunan penumpang yang mayoritas nya adalah laki-laki.

Kereta mulai berjalan. Akibat tidak berpegangan pada handgrip, Zhea hampir terjatuh dan tubuhnya tersandar pada tubuh kekar seorang pria dibelakangnya hingga ia benar benar menempel pada tubuh pada pria tersebut. Didepan Zhea, dua orang laki laki yang memunggunginya yang juga mundur dan membuat Zhea makin terdesak bahkan kedua payudara Zhea yang tersembunyi dibalik jilbab pashmina nya terasa menyentuh punggung pria didepannya.

Gerakan gerbong kereta membuat tubuh Zhea tidak bisa berdiri dengan stabil karena ia tidak memiliki tempat untuk berpegangan. Zhea menyadari bahwa tubuhnya benar benar bersentuhan dengan tubuh besar pria dibelakangnya dan didepannya. Sesekali Zhea merasakan tangan pria tersebut menyentuh pantatnya yang tertutup oleh gamis. Zhea menganggap itu hanyalah sebuah ketidaksengajaan sehingga ia tidak mempermasalahkan hal tersebut. Melihat tidak adanya reaksi protes ataupun perlawanan dari wanita didepannya, pria tersebut semakin intens menyentuh pantat Zhea bahkan tanpa Zhea sadari, ia membuka resletingnya dan mengeluarkan penisnya lalu menempelkannya ke pantat Zhea dari luar gamisnya. Zhea mulai risih dengan suasana tersebut, namun ia tidak berani untuk memberi perlawanan. Ia mengetahui bahwa yang ada dibelakangnya adalah seorang pria yang bertubuh besar dan perkiraan Zhea pria tersebut adalah seorang preman ataupun pria yang jahat. Zhea hanya berharap ia bisa menemukan suaminya dan berusaha menyelinap melewati kerumunan penumpang menuju tempat suaminya berada.

Zhea berjinjit untuk mencari keberadaan suaminya, namun ia membuat penis pria dibelakangnya makin terasa seperti digesek oleh pantat sekal wanita tersebut begitupun payudaranya yang juga terasa naik turun dipunggung pria didepannya. Zhea menyadari ada tonjolan yang keras yang menempel di bongkahan pantatnya dan membuat Zhea menoleh sedikit kebelakang. Ia melihat seorang pria berusia 40 tahunan berkulit putih dengan wajah yang sangar dan rambut model uppercut. Pria tersebut mengeluarkan sebilah pisau lipat dan menodongkan nya ke pinggang Zhea.

"Lu ngelawan, baju lu gua sobek" bisik pria tersebut.

Nyali Zhea menjadi ciut. Ia hanya mengangguk ketakutan dan memalingkan wajahnya kearah depan. Penis pria tersebut masih menempel di pantat Zhea dan goyangan gerbong kereta membuat penisnya seakan akan digesek oleh pantat Zhea. Beberapa kali tubuh Zhea hampir terjatuh karena ia tidak berpegangan sama sekali. Tiap kali tubuhnya terdorong kebelakang, pantatnya semakin tertekan pada penis pria dibelakangnya, dan tiap kali tubuhnya terdorong kedepan, payudaranya semakin menempel pada punggung pria didepannya. Hal ini tanpa Zhea sadari memancing birahinya.

"Aahhh" refleks, Zhea mendesah.

Bersambung

Bab 2

Pria tersebut menyadari Zhea yang mulai tersulut birahinya dan membuat ia tersenyum penuh kemenangan. Ia pun mulai berani melingkarkan tangan berbulu nya ke perut Zhea dan masuk kedalam jilbabnya. Tangannya mulai bergerilya, meraba perut dan perlahan menyentuh payudaranya.

Pria itu menarik tubuh Zhea lebih dekat kearahnya sehingga tubuh keduanya benar benar saling menempel satu sama lain. Zhea menggigit bibirnya. Ia tidak terima diperlakukan seperti ini, namun ia merasa takut dengan ancaman yang ia dapatkan, selain itu ia semakin tubuhnya bergetar menerima rangsangan birahi yang tak mampu ia tahan.

Tangan pria tersebut semakin berani menjamah tubuh Zhea dan meraba raba bagian dada gamis hitam yang Zhea kenakan. Seketika ia menemukan resleting gamis yang terletak dibagian dada Zhea, pria tersebut menurunkannya. Sempat ada penolakan dari Zhea namun pria tersebut tak menanggapinya.

Akhirnya, resleting tersebut turun sebatas perut. Tangan pria tersebut semakin bebas meraba bagian depan tubuh Zhea mulai dari perut hingga payudara yang masih tertutup oleh bra. Perbuatan pria itu semakin membuat Zhea terangsang walaupun ia sangat ingin keluar dari situasi tersebut. Bahkan kini Zhea benar benar menyesal memakai bra yang kaitannya berada didepan sehingga dengan sekali gerakan kecil, kaitan tersebut terlepas dan membuat tangan pria dibelakangnya semakin bebas menjamah payudara yang berukuran 34B tersebut.

Zhea semakin tak kuat, ia kini berharap suaminya tidak melihatnya dalam keadaan seperti ini. Tubuhnya makin terasa lemah akibat rangsangan syahwat yang ia dapatkan. Kini salah satu pria didepannya pun berbalik menghadap Zhea dan membuka resleting celananya. Zhea segera memejamkan matanya, menolak untuk melihat penis yang berdiri tegang setelah sekian lama ia tidak melihat penis suaminya berdiri seperti itu. Namun tanpa menyerah, pria didepannya menuntun tangan Zhea agar menggenggam penisnya dan menggerakkan tangan Zhea maju dan mundur. Zhea pun pasrah menuruti keinginan pria tersebut tanpa memberikan perlawanan sedikitpun.

Zhea kini diserang oleh dua penis yang sama sama berdiri tegang. Berbeda dengan penis milik suaminya yang selalu ia lihat dalam keadaan loyo. Hal ini membuat Zhea semakin merasa terangsang dan membayangkan bagaimana jika vaginanya ditusuk oleh penis yang tegang seperti milik mereka. Bagaimanapun, walaupun Zhea adalah seorang istri yang menutup auratnya, ia pun hanyalah seorang manusia yang memiliki nafsu yang butuh untuk dipuaskan.

Pria didepan Zhea mulai melepaskan tangan Zhea dan membiarkan Zhea mengocok penisnya. Pria tersebut menggunakan tangannya untuk meraba bagian kewanitaan Zhea dari luar gamisnya.

"Aaahhhh" Zhea lagi lagi mendesah saat tangan pria tersebut menekan vaginanya dengan tangannya. Vagina Zhea makin terasa basah dan ia mulai merasa kedua kakinya terasa lemas. Zhea tentu akan jatuh apabila pria dibelakangnya tidak menahan tubuhnya dengan memegang payudaranya dari balik jilbabnya. Bahkan remasan dari pria tersebut terasa makin kasar, begitu juga dengan vagina Zhea yang ditekan makin kuat.

Kereta pun tiba di stasiun berikutnya namun ini bukanlah stasiun yang dikatakan oleh Muchlis sebelumnya. Beberapa penumpang turun dan Zhea yang seharusnya bisa melarikan diri malah diam tak bergerak. Setengah hati ia berharap suaminya berada didalam gerbong kereta yang sama dan menemukannya dan setengah hati ia justru berharap dapat merasakan kembali sensasi yang baru ia alami.

Setelah beberapa penumpang turun, penumpang yang lain pun masuk kedalam gerbong dan malah membuat kereta semakin sempit. Zhea benar benar telah dihimpit oleh dua laki laki. Kini tangannya tak lagi memegang penis pria didepannya. Namun pria didepannya telah berdiri menghadapnya sehingga Zhea benar benar seperti daging yang diapit oleh dua roti. Parahnya, penis pria tersebut tepat berada didepan vagina Zhea dan penis pria dibelakangnya masih tetap menikmati pantat Zhea.

Pria didepan Zhea menarik gamis Zhea keatas dan ternyata Zhea tidak memakai celana panjang lagi didalam gamisnya sehingga penis pria tersebut dan vagina Zhea hanya dihalangi oleh sehelai celana dalam pink berenda. Mata Zhea terpejam, sesekali ia melihat wajah pria didepannya yang menurutnya cukup tampan. Merasakan vagina Zhea basah, pria tersebut semakin bersemangat menggesek vagina Zhea. Bahkan tangannya mencoba menurunkan celana dalam Zhea namun Zhea menahannya. Ia memberi isyarat agar pria tersebut tidak melakukannya dengan menggelengkan kepalanya. Akan tetapi hal itu tidak mengurungkan niat jahat pria tersebut. Ia tetap menurunkan celana dalam Zhea hingga meluncur kebawah melewati betis yang setengahnya tertutup oleh kaos kaki hitam dan membuat batang penis pria tersebut bersentuhan dengan bibir vagina nya yang basah. Begitu pula dengan pria dibelakangnya, gamis dibagian belakangnya pun telah terangkat dan membuat ia leluasa menempelkan dan menggesekkan penisnya ditengah tengah bongkahan pantat Zhea. Kedua payudara Zhea tetap tertutup oleh jilbab namun kedua pria tersebut memainkan payudara Zhea dengan memasukan tangan mereka kedalam jilbabnya.

Zhea menahan desahannya dengan menggigit bibirnya, ia merasakan nikmat dan sensasi luar biasa dari aksi pencabulan ini. Matanya terpejam, kepalanya mendongak. Kakinya seakan tak mampu menahan tubuhnya hingga tubuhnya bersandar pada pria kekar dibelakangnya. Ia tak menyadari bahwa beberapa pasang mata melihat dan menghujat dalam hati aksinya yang menikmati menjadi korban pelecehan dalam kereta. Bahkan Zhea seakan melupakan bahwa bisa saja suaminya melihat dirinya yang menikmati pelecehan tersebut.

Kedua pria tersebut makin kasar dalam mencabuli Zhea. Pria yang ada dibelakang Zhea menarik penisnya dan mengeluarkan sperma nya ke ujung Jilbab Zhea. Sedangkan pria didepannya terus menggesek penisnya dan tak selang begitu lama, penisnya pun mengeluarkan sperma yang mengenai bibir vagina Zhea.

Kedua pria tersebut melepaskan Zhea dan membuat Zhea hampir terjatuh. Namun ia segera menangkap handgrip yang tadi digunakan oleh pria dibelakangnya. Kedua pria tersebut berjalan menerobos kerumunan penumpang dan meninggalkan Zhea.

Tiba tiba Zhea kembali dikagetkan oleh sentuhan tangan tepat dipundaknya. Namun seketika ia menoleh untuk melihat wajah orang tersebut, rasa kaget dan takutnya menghilang ketika yang ia lihat adalah wajah suaminya sendiri dengan brewok tipis di pipinya.

"Kak.. jangan jauh jauh lagi..." Kata Zhea, dengan suara pelan.

"Tadi aku dibelakang, mau mendekati kamu tapi ada laki laki disini tadi jadi gak bisa" kata Muchlis, Zhea terkejut mendengarnya. Ia berpikir jangan jangan suaminya mengetahui ia baru saja menjadi korban pelecehan dan ia pun menikmati perlakukan dua orang tersebut.

Muchlis pun menuntun tangan kanan Zhea dan mengarahkannya ke penis Muchlis yang sudah mengeras.

"Kok...???" Tanya Zhea, heran.

"Sudah lama kan?" Muchlis berbisik ditelinga Zhea. Ia dengan sengaja sesekali menyentuh wajah Zhea dengan dagu atau bibirnya.

"Tapi gak tepat tempat dan waktunya" jawab Zhea dengan pelan.

"Kalau begitu puasin aku saja disini" kata Muchlis. Zhea refleks menoleh wajah Muchlis.

"Janganlah, nanti dilihat orang" jawab Zhea.

Tanpa memberi jawaban, Muchlis menyentuh pantat Zhea dari luar gamisnya. Ia merasakan bahwa posisi celana dalam istrinya masih tak berada pada tempat yang seharusnya.

Zhea hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saja tangan suaminya dengan pelan meraba raba pantatnya. Selain Zhea khawatir perbuatan mereka akan dilihat oleh orang lain, ia juga khawatir suaminya mengetahui bahwa celana dalamnya belum terpasang dengan benar bahkan kaitan bra nya pun masih terlepas.

Kemudian kereta berhenti pertanda telah sampai di stasiun yang mereka tuju. Mau tak mau, Muchlis harus mengurungkan niatnya untuk melecehkan istrinya ditempat umum tersebut. Namun, bibirnya melengkung tersenyum apalagi saat ia menoleh kebelakang dimana celana dalam Zhea tertinggal dilantai gerbong kereta.

BERSAMBUNG...

Bab 3

Sepasang suami istri tengah berbaring bersama diatas tempat tidur dengan cahaya kamar yang remang remang. Tubuh kedua insan tersebut berada dibalik satu selimut putih yang sama. Zhea mengenakan sebuah piyama ungu dengan gambar Cinnamorol yang besar dibagian depannya. Sedangkan Muchlis mengenakan sebuah piyama berwarna navy polos tanpa motif.

Keduanya menatapi langit-langit dan tengah membicarakan tentang keseruan mereka saat bertamasya siang tadi. Namun, Muchlis mulai mengalihkan topik pembicaraan.

"Pas di kereta tadi, aku lihat kamu diapit oleh dua cowok.." kata Muchlis.

"Ohhh... Hmmmm.. itu.. kan wajar.. kita ada di kereta yang isinya bercampur.. lagian.. tadi ituuuu... Gak terlalu berdempetan kok..." Jawab Zhea.

"Iyakah? Tadi aku lihat cowok didepan kamu sambil berbalik menghadap kamu dan tubuhnya gerak gerak gitu. Yang dibelakang juga.." Kata Muchlis.

"Hhmmm... Itu.. ya kan di kereta pasti badan kita gerak gerak.. iya... Gerbongnya kan gerak juga..." Zhea memalingkan tubuhnya dan meraih Hp nya diatas meja kecil.

"Tapi gerakan nya kok kayak menikmati begitu. Aku juga lihat kamu kok, bahkan kalian bener bener dempetan" kata Muchlis.

"Sudah ahh, aku capek.. mau tidur. Hal seperti itu gak perlu dibahas" Zhea memiringkan tubuhnya kearah kanan yang dengan cepat diraih oleh Muchlis dan ia pun menyambar bibir Zhea disertai meremas payudaranya.

"Kok tiba tiba?" Kata Zhea.

Sekarang wajah Muchlis berada diatas wajah Zhea dengan jarak hanya sejengkal.

"Kamu tadi habis ngapain dengan mereka berdua?" Tanya Muchlis dengan nada suara tinggi.

"Ng...nggak... Aku gak ngapa-ngapain kaakk... Kakak kenapa sihh? Sudah aku bilang aku capek kaakkk" Zhea memberontak, berusaha menyingkirkan tubuh Muchlis yang menindih tubuhnya.

"Nggak ngapa-ngapain tapi ada sperma dibelakang gamis mu? Dan celana dalam mu posisinya turun ke lantai kereta? Kamu kira aku gak tau? Mmmmpppphhhhhh" Muchlis makin terdengar emosi, namun ia mengakhirinya dengan lumatan pada bibir Zhea.

"Mmmppphhhhhh mmmhhhhh" Zhea menggelengkan kepalanya seraya berusaha mendorong tubuh Muchlis dari atas tubuhnya.

"Kamu kenapa sih kak???" Zhea berteriak dan tetap berusaha menahan tubuh suaminya yang kekar tersebut.

Muchlis berhenti, nafasnya berdengus seperti banteng yang melihat warna merah. Perlahan, tempo nafasnya mulai kembali normal.

"Bener tadi gak ngapa-ngapain?" Kata Muchlis.

"Maafin aku, kakk... Tadi memang ada dua laki-laki yang..." Kata Zhea, namun ia tak mampu melanjutkan kalimatnya.

"Yang apa?" Nafas Muchlis kembali cepat. Zhea terdiam, dia tak mampu mengatakan apa yang terjadi sebenarnya. Ia khawatir jika suaminya akan marah lantaran ia membiarkan hal itu terjadi padanya.

"Tadi... aku... dilecehin oleh... dua orang itu kak" kata Zhea dengan pelan dan takut.

"Dilecehin bagaimana?" Muchlis yang masih berada diatas tubuh Zhea kemudian menekan penisnya yang masih berada dalam celana ke paha kiri Zhea.

"Yaa.. gitu..." Jawab Zhea dengan raut muka yang menunjukkan ketakutan.

"Ceritakan detailnya atau aku marah" kata Muchlis.

"Sebelumnya, kakak jangan marah... Aku gak bermaksud menikmati.. aku sudah melawan kok tapi aku diancam pisau.." Kata Zhea, air mata pun mengalir dari sudut matanya.

"Lalu bagaimana mereka melakukannya?" Tanya Muchlis, dengan dingin.

"Mereka... Ah bukan, yang pertama pria dibelakang ku yang menempelkan badannya ke punggung aku.. awalnya kan aku ngerasa itu biasa karena di kereta tadi sempit banget tapi rupanya dia mulai meraba-raba pantat aku dan aku bisa ngerasain kalo dia ngeluarin penisnya..." Ujar Zhea.

"Ohhh.. lalu?" Muchlis malah semakin menekan penisnya ke paha Zhea.

"Lalu... Resleting gamis aku diturunin nya..." Lanjut Zhea.

"Ohh jadi dia megang toket kamu? Kayak ini????" Dengan cepat tangan Muchlis masuk kedalam piyama Zhea dari bawah dan meremas payudara kirinya.

"Aahhhhh... Iya...." Zhea mengerang, ia merasakan kebingungan antara suaminya sedang marah atau nafsu.

"Lalu, apa lagi?" Lanjut Muchlis, tangannya terus meremas payudara Zhea.

"Aahhhhh... Pria didepanh akuhh... Ahhh stop dulu kakkhhh... Diahh berbalikkhh dan ngeluarinhh...." Lanjut Zhea, namun ia kesulitan untuk bercerita saat puting payudara nya yang merupakan area paling sensitifnya ditubuhnya dipelintir oleh Muchlis.

"Ngeluarin apa???" Muchlis makin memelintir puting payudara Zhea dengan lebih kasar.

"Peeehhhh... Aaahhh kaakkkhhhh... Stop duluuhhh ahhhh" Zhea mengeluh, tubuhnya telah berhasil dirangsang oleh Muchlis yang malam ini tiba tiba mengganas.

"Gak, pokoknya kamu harus terus cerita!!!" Tegas Muchlis.

"Katakan, apa yang dia keluarin" Muchlis semakin menekan penisnya dan meremas payudara Zhea dengan kasar.

"Peeehhhh... Nii..sss..." Jawab Zhea dengan gugup.

"Penis? Bukan penis, yang benar itu kontol?" Tegas Muchlis yang semakin kasar mencabuli istrinya sendiri.

Zhea tak percaya mendengar suaminya yang selama ini santun dan baik mengucapkan kata kotor seperti itu. Bahkan lebih tak percaya lagi, Muchlis malah mengajarkan dirinya, istrinya sendiri, berkata seperti itu.

"Coba katakan kontol" kata Muchlis dengan mulai menekan vagina Zhea.

"Nggakhhh... Kaakkkhhh.. akuhh gakh bisssahhh" Zhea menolak.

"Kamu lihat kontolnya? Besar? Keras?" Tanya Muchlis. Yang hanya dijawab dengan anggukan oleh Zhea.

"Baiklah, lalu apa yang mereka lakukan?" kata Muchlis yang makin memperlihatkan birahinya telah memanas.

"Merekaahhh... menurunkanhhh celanahhh dalammhhh akuhhhh... Laluhhh menggesek-gesekkanhhh pehhh... nishhhh" kata Zhea.

"Kamu keenakan?" Muchlis kembali meremas payudara Zhea dengan sekasar yang ia bisa.

"Maaafhhhh..." Jawab Zhea dengan mengangguk.

"Istri binal.. dikasih kontol pria lain malah keenakan" Muchlis menekan vagina Zhea dari luar celana piyama nya..

"Ahhhhh.. enaakkhhhh kakkhhh" Zhea mendesah, merespon perlakuan suaminya pada vaginanya yang mulai basah.

"Kamu suka kontol yang keras kan, istri binal?" Kata Muchlis dengan makin menekan nekan vagina Zhea.

"Iyaaahhhh..." Jawab Zhea.

"Seperti ini?" Muchlis menurunkan celana piyama nya dan memperlihatkan sebuah penis berukuran 13cm yang berdiri tegang.

"Kok? Akhirnya bisa berdiri lagi" kata Zhea dengan keheranan sekaligus takjub setelah sekian lama ia tak melihat penis suaminya berdiri seperti itu.

"Aku tahu kok kamu dilecehkan tadi, dan itu yang buat kontol aku berdiri. Dan waktu kamu cerita tadi, aku ngerasa excited, cemburu sekaligus terangsang." Ujar Muchlis.

"Plaaak" sebuah tamparan pelan menghantam pipi Muchlis.

"Dasar suami mesum. Istrinya dilecehin malah terangsang." Protes Zhea, dengan sebal.

"Tapi kamu suka kan dilecehin tadi?" Tanya Muchlis.

"Suka gak suka sih..." Kata Zhea.

"Penis kamu sudah berdiri, apa kamu gak mau muasin istri kamu?" Lanjut Zhea.

"Memek istriku sudah kangen sama kontol ku ya?" Kata Muchlis, menggoda Zhea.

Mulut Muchlis ditampar pelan oleh Zhea.

"Ngomongnya ihhh..." Protes Zhea.

Tanpa menjawab, Muchlis membuka semua pakaian Zhea hingga istrinya benar benar telanjang diatas ranjang pengantinnya. Tubuh Zhea masih menarik bagi Muchlis, bahkan memang sejak dulu Muchlis sudah sering membayangkan tubuh istrinya dinikmati oleh pria lain.

"Kamu mau aku kayak tadi? Yang kasar?" Tanya Muchlis, tangannya kembali meremas payudara Zhea dan hanya dijawab Zhea dengan anggukan.

"Kalau begitu, buat aku cemburu lagi" kata Muchlis.

"Mau aku ceritain lagi tentang di kereta tadi?" Tanya Zhea.

"Yang lain.." jawab Muchlis.

"Aku gak pernah ngapa-ngapain sama pria lain" kata Zhea.

"Cukup kamu ngebayangin ngentot sama laki laki lain, aku sudah cemburu kok" kata Muchlis.

"Sama siapa? Song Kang? Hae Chan?" Tanya Zhea.

"Janganlah.. kamu gak mungkin ketemu sama mereka juga. Gimana kalo mang Bejo" kata Muchlis.

"Masa aku ngebayangin HS sama mang Bejo sih?" Zhea protes.

"Ya kan cuma ngebayangin, lagian pasti kontol ku tegang banget kalo kamu cerita ngentot sama orang kayak mang Bejo." Kata Muchlis.

"Ohh jadi kamu suka aku HS sama mang Bejo nih?" Tanya Zhea, menggoda Muchlis

"Bukan HS, tapi ngentot" jawab Muchlis.

"Ahh, ya sudah, kamu suka aku digituin sama mang Bejo?" Zhea kembali menggoda, namun tetap mempertahankan prinsipnya untuk tidak mengatakan kata kata yang vulgar.

"Suka banget.." jawab Muchlis sambil memegang penisnya.

Zhea bangkit dan duduk didepan Muchlis.

"Aku suka loh ngocokin penis mang Bejo begini" Zhea meraih penis Muchlis yang masih berdiri dan mengocoknya pelan.

"Aahhh.. sebut kontol, aku lebih excited kamu bilang begitu" kata Muchlis, namun dibalas gelengan kepala oleh Zhea.

"Ah, iya.. kamu tau gak, tiap kamu kerja, mang Bejo selalu minta aku kocokin penis nya begini..." Zhea masih menolak menyebut kata yang ia anggap sangat vulgar tersebut.

"Dasarhhh... kamu istri jalang, mau maunya disuruh ngocok kontol orang lain" kini Muchlis makin merasa birahi meningkat.

"Lagian penis kamu gak pernah berdiri, jadi aku cari penis lain.. kan vagina aku, juga pengen dimasukin penis" Zhea terus mengocok penis suaminya dan kini temponya lebih dipercepat.

"Kamu mau tau gak, aku ngapain lagi sama mang Bejo?" Tanya Zhea bediri diatas lututnya hingga posisi dadanya tepat berada didepan wajah Muchlis.

"Mang Bejo selalu minta susu, jadi aku kasih.. hitung hitung sedekah kan" kata Zhea dengan mendekatkan payudaranya ke bibir suaminya dan tanpa diberi perintah, Muchlis segera melahap puting payudara Istrinya.

"Aaahhhhhh... Geli.. enak banget... Terus kaakkk..." Zhea mendesah.

Bersambung

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED