"Des, apa yang akan kita lakukan di sini?" Rey bertanya kepadanya karena ia terkejut melihat Desy telah mengunci pintu kamar. Kini hanya tinggal mereka berdua yang berada di dalam kamar.
"Jangan khawatir Rey," kata Desy lembut kepada Rey dengan senyum yang menenangkan.
Rey duduk di tepi tempat tidur berukuran sedang dan Desy duduk di sebelahnya. Ia menatap Rey yang duduk di sana dengan kemeja lengan pendek putih dan celana jeans hitam panjang.
Desy mencoba berkonsentrasi pada tubuh berotot Rey dan menatapnya seperti seorang pria jantan, tetapi itu tidak berhasil baginya dan tidak seperti minggu-minggu sebelumnya. Rasa ragu muncul dalam dirinya.
"Desy?" kata Rey sambil masih menatapnya dengan heran.
"Ya, maaf, Sayang," kata Desy sambil menggelengkan kepalanya sebentar. "Kamu pasti bertanya-tanya mengapa aku ada di sini ya?" Ucap Desy. "Fahri dan aku udah membicarakan keadaanmu dan adik kembarmu. Kalian bertiga memang sangat cerdas dan begitu berbakat, aku yakin kalian akan baik-baik aja jika tinggal di kota besar." Desy memastikan untuk menyatakannya, "Tapi ada sesuatu yang Fahri dan aku rasa perlu haru di bicarakan langsung denganmu malam ini juga."
"Apa itu ? Ada apa, Des?" tanya Rey sambil memperhatikannya sedang menarik napas dalam-dalam dan sebentar memejamkan mata sebelum melanjutkan bicaranya.
"Seks." Desy berkata pada Rey dengan singkat. "Aku ingin mengajarimu cara berhubungan seks, sebelum kamu pergi ke kota besar." Desy berkata pada Rey dan merasakan jantungnya berdebar kencang dan wajahnya memerah saat mengatakan hal itu.
"Apa maksudmu dengan mengajariku seks, bagaimana caranya? Aku belum pernah melakukan hal itu." Rey bertanya padanya dan merasakan jantungnya mulai berdebar kencang saat dia melihat ekspresi di wajah Desy begitu menggoda. "Maksudmu, kamu dan aku?" Rey merasakan tenggorokannya kering. Dia yakin jika Desy salah paham akan kata-katanya itu.
"Betul sekali Rey, aku ingin kamu dan aku berhubungan seks malam ini, di kamar ini." Kata Desy membuat Rey tidak percaya. "Hanya dengan begitu aku bisa memastikan kamu akan siap untuk menjadi pejantan tangguh dan menaklukan setiap wanita yang kamu sukai dan cintai."
"Kamu yakin Des? Kamu sendiri yang akan mengajariku melakukan seks?" Rey bertanya setelah dirinya terdiam begitu lama dan wajahnya mulai memerah.
Rey masih belum yakin dan memahami kata-kata dari Desy, namun dia bisa merasakan darahnya mulai mengalir deras ke palkonnya dan membuat palkon itu mengeras di balik celana.
"Ya." Desy berkata pada Rey, "Bagaimana denganmu, apakah kamu setuju dengan rencanaku malam ini?" tanya Desy.
"Jika menurutmu itu akan bisa membantuku, maka, aku akan setuju dengan rencanamu." jawab Rey malu-malu, tanpa menatap mata Desy.
Mereka berdua duduk di sana dalam diam sejenak sebelum Desy berdiri. Ia segera melepas sepatunya, melangkah di depan Rey dan mulai membuka pakaian. Ia mulai melepaskan sweternya dan dirinya tidak mengenakan kemeja di baliknya dan setelah melepaskannya, ia melemparkannya ke tempat tidur.
Desy hanya tersenyum kecil kepada Rey, lalu membuka resleting sebelum menurunkan celana panjang. Kakinya yang jenjang membuat Rey berdegup kencang.
Rey terus menatap tubuh Desy dengan kagum dan tak berkedip, Desy hanya mengenakan bra renda merah dan celana dalam merah yang sama. Ia tersenyum lagi kepada Rey dan kedua matanya melihat tonjolan yang semakin besar di balik celana Rey, di saat Rey sedang mengamati belahan bukit kembar milik Desy yang besar, perut yang rata, dan kaki yang mulus.
"Apakah kamu ingin aku terus melepas semuanya Rey?" Desy bertanya kepada Rey setelah memberinya waktu untuk mencerna ucapan darinya. Ia merasa tidak nyaman berdiri di sana dengan bra dan celana dalam di hadapan Rey.
"Lepas semua, aku ingin melihat tubuh indahmu," kata Rey sambil mengangguk dan terus menatap Desy yang terus membuka pakaiannya.
Desy menarik napas dalam-dalam dan mengabaikan ketidaknyamanan yang dirasakannya saat membuka bra dan perlahan melepaskannya, kini ia telah memperlihatkan bukit kembar yang besar kepada Rey.
Mata Rey langsung terbelalak saat melihat dada telanjang Desy. Desy memiliki bukit kembar besar dan bulat dengan puting yang berwarna merah muda kecil dan puting kecil itu mulai keras. Itu adalah bukit kembar pertama yang pernah di lihat Rey secara langsung, dan menurutnya bukit kembar itu lebih indah daripada bukit kembar mana pun yang di lihatnya secara langsung.
Rey terus memandangi bukit kembar Desy dengan penuh rasa kagum, kedua mata terus memperhatikan bukit kembar itu sedikit bergoyang saat Desy melipat bra dan meletakkannya dengan rapi di meja sebelum ia berdiri kembali di hadapan Rey.
Desy sangat menyadari Rey sedang mengamati lekuk tubuhnya. Rey tampak terpesona pada bukit kembar dan tonjolan di celana Rey semakin besar, Desy dapat melihat bahwa Rey sedang tegang berat. Ia mencoba berkonsentrasi, mengalihkan pandangannya dari celana Rey. Kemudian, ia meletakkan kedua tangan di pinggangnya dan menarik celana dalamnya ke bawah, hingga terlihat jelas kememnya yang putih mulus tanpa bulu.
Pandangan Rey langsung beralih saat Desy menarik celana dalamnya. Ia menunduk dan di sambut oleh kemem Desy yang sudah dicukur habis hingga licin. Rey harus bisa menahan diri untuk tidak menarik palkonnya keluar dari celana.
"Bagaimana menurutmu Rey? Kamu tertarik?" Desy bertanya kepada Rey saat ia menelanjangi dirinya di hadapan Rey. Ia telah mencukur bulu kememnya khusus untuk Rey, dan saat ia melihatnya, Rey memasang ekspresi hasrat liar yang tinggi di wajahnya yang membuatnya senang sekaligus takut.
"Wah, kamu cantik sekali, kapan kita akan memulainya," kata Rey sambil memandangi tubuh telanjang Desy.
Desy langsung tersipu malu mendengar kata-kata dari Rey, lalu berbalik perlahan, memastikan Rey melihat setiap lekuk tubuh telanjangnya sebelum duduk di sebelah Rey.
"Giliranmu," kata Desy dengan santai dan menatap Rey.
"Aku malu Des,"
"Gak usah malu, ayo sekarang lepas semuanya." Pinta Desy.
Rey bangkit berdiri dengan canggung di depan Desy. Wajahnya terlihat memerah dan masih menatap tubuh telanjang Desy sebelum mulai membuka pakaiannya.
Rey mulai dengan melepas bajunya dan melemparkannya ke tempat tidur, memperlihatkan tubuh bagian atasnya yang bugar kepada Desy, lalu dengan cepat melepaskan celananya dan terlihat palkon itu sudah berdiri di sana hanya dengan celana dalam hitamnya, palkonnya terlihat jelas menekan kain ketat celana dalam tersebut.
Desy bisa merasakan dirinya sudah basah saat melihat Rey membuka pakaian. Dia memeriksa dada dan perut Rey yang berotot, di saat Rey melepas bajunya, terlihat kakinya yang kuat saat Rey sedang menurunkan celananya dan melihat palkon Rey saat mendorong celana dalamnya ke bawah sebelum Rey membalikan tubuhnya.
Desy sedikit terkejut, karena Rey langsung berbalik setelah melepas celana dalamnya, tetapi Rey tidak mengatakan apa-apa padanya. Ia tersenyum sendiri melihat rasa malu Rey. Hal itu membuatnya semakin yakin dengan keputusannya untuk melakukan ini dengan Rey.
Rey menatap bokong Desy yang kencang saat dia selesai melepaskan celana dalamnya dan melemparkannya ke lantai. Ia berdiri di sana dengan punggung menghadap Desy. Dia sedang mengumpulkan keberanian untuk berbalik ke arah Desy sebelum akhirnya melakukannya dan menatap Desy dengan kagum.
Palkonnya sudah berdiri tegak dan keras, dia melihat reaksi Desy saat mengamati kejantanannya.
"Bagaimana menurutmu Des?" Rey bertanya kepada Desy dengan gugup saat dia terus mengamati tubuh telanjang milik Desy.
"Kamu terlihat sangat tampan Rey," kata Desy kepadanya, ia merasakan kehadiran Rey telah merasukinya.
"Bagaimana dengan cara melakukannya?" Rey mulai bergumam dan wajahnya memerah.
"Palkonmu sangat bagus, besar dan panjang, aku pasti puas jika bermain sana kamu," kata Desy kepada Rey dengan jujur dan ia tersipu malu saat mengatakannya.
Palkon Rey begitu besar dan panjang, hingga besarnya mengalahkan milik Fahri. Desy terus menatap palkon Rey sebelum ia mengajaknya ke tempat tidur, ia memberi isyarat kepada Rey untuk segera melakukannya.
"Bagaimana kalau kita mulai sekarang Rey," kata Desy setelah dia duduk dan bergerak mendekati Rey. Ia sudah tak sabar ingin merasakan palkon milik Rey.
Desy mendekatkan jarak di antara mereka, hingga kulit paha mereka berdua yang telanjang saling bersentuhan. Ia kemudian melingkarkan tangan di leher Rey dan memberinya ciuman di bibir Rey dengan lembut.
Rey terkejut dengan ciuman dari Desy, tetapi dia dengan cepat menyesuaikan diri dan membalas menciumnya. Bibir Desy yang lembut dan hangat, terasa luar biasa olehnya, dan dia terus membalas menciumnya dengan penuh hasrat liar.
Mereka berdua terus berciuman, seketika Rey merasakan lidah Desy masuk ke dalam mulutnya dan bergerak-gerak dengan liar dan nakal, hingga Rey mengerang dalam kenikmatan merasakan sensasi bermain lidah.
Mereka berdua terus berciuman, lidah dan bibir mereka saling pagut dengan kuat, hingga Desy melepaskannya. Mereka berdua kini terengah-engah dan saling menatap.
"Apakah kamu menyukai permainan ini?" Desy bertanya kepadanya setelah ia memergoki Rey sedang memandangi bukit kembar untuk kesekian kalinya.
"Apa?" tanya Rey sambil cepat-cepat mengalihkan pandangan dari bukit kembar Desy dan tersipu malu.
"Payudaraku, kamu mau ini kan," kata Desy sambil tersenyum sendiri, "Apakah kamu menyukainya?" tanya Desy sekali lagi kepada Rey dan tangannya mulai memainkan bukit kembar dengan hasrat liarnya.
Desy langsung mengusap-usap bukit kembar yang besar dengan sangat bergairah, lalu mulai mencubit putingnya dengan lembut, sementara Rey hanya menyaksikannya dengan takjub.
"Ya," kata Rey dengan suara yang lemah dan tidak bisa menahan diri untuk tidak menyentuh palkonnya yang sudah keras.
"Kamu bisa menyentuhnya Rey," kata Desy kepadanya.
Desy memberikan dadanya agar Rey memegangnya, tetapi saat ia melihat keengganan di wajah Rey, ia meraih tangan kanan Rey dan meletakkannya di bukit kembar sebelah kirinya. Ia meletakkan tangannya di atas tangan Rey dan mulai menggerakkannya.
"Lakukanlah Rey..."
Rey dengan perlahan mendekatkan tangannya yang lain ke bukit kembar Desy dan ia mulai meremas bukit kembar yang indah itu. Ia tidak percaya bahwa ia sedang menyentuh bukit kembar Desy yang bulat dan kenyal.
Rey sering membayangkan tentang tubuh Desy setiap malam sambil mengocok palkonnya, tetapi ia tidak pernah berpikir bahwa ia akan benar-benar melihat tubuh Desy telanjang, apalagi untuk menyentuhnya.
Sensasi bukit kembar Desy sungguh menakjubkan, dan ia memainkannya, meremas dan membelainya sampai ia tidak dapat menahan diri. Mulut Rey berada di sekitar puting kiri Desy, dan ia mulai mengisapnya seperti bayi kecil yang rakus dan sesekali menggigit putingnya pelan.
Desy terus mengerang saat Rey menempelkan mulutnya ke putingnya dan mulai mengisapnya dengan rakus. Dia menatap Rey dengan penuh gairah, saat Rey terus melakukannya dan berputar di antara kedua bukit kembar, Rey memegang bukit kembar itu sambil menggunakan tangan untuk mengusap dan memainkan bukit kembar yang tidak di hisap olehnya. Ia benar-benar telah tenggelam dalam bukit kembar Desy dan akan terus melakukannya selama satu jam ke depan jika saja Desy tidak memberi isyarat kepada Rey untuk berhenti.
Desy dengan lembut menarik mulut Rey dari bukit kembarnya untuk menjauh dan menyudahinya
Palkon Rey masih keras seperti batu, setelah menjauh dari bukit kembar Desy. Desy melingkarkan tangan di sekitar palkonnya dan mulai menggenggamnya dengan kuat.
"Oh, Des," kata Rey sambil terkesiap saat Desy meraih palkonnya.
Desy kemudian berlutut di depan Rey dan ia mulai membelai palkon keras itu dengan perlahan. Rey terus menatap Desy yang telanjang dan mulut Rey mengerang lembut saat dia menggerakkan tangannya yang hangat di sepanjang batangnya. Ia terus membelainya, membuat Rey terus-terusan mengerang dalam kenikmatan sebelum menundukkan kepalanya dan ia mulai memasukkan palkon Rey ke dalam mulutnya.
"Oh, sialan Des," seru Rey saat Desy memasukan kejantanan Rey ke dalam mulutnya, "Rasanya sangat nikmat. Terus des... ooouh..." kata Rey sambil mengerang dan menatap Desy dengan takjub saat mengisap palkonnya dengan penuh semangat.
Desy mulai bermain dengan ujung palkonnya, lalu menjilati dan mengisapnya hingga Rey mengerang, lalu terus memasukkan lebih dalam ke dalam mulutnya. Dia menggoyangkan kepalanya ke atas dan ke bawah sambil mengeluarkan suara hisapan yang keras dan nikmat saat dia memberikan sepongan pertama untuk Rey.
Desy begitu terkejut melihat Rey begitu menikmati, saat dirinya sedang mengisap palkon milik Rey. Rey sangat menyukai rasa hisapan dari Desy yang begitu lembut dan halus.
Palkon Rey di lumat dan kedua bibir Desy segera membungkus palkonnya dan menggerakkan lidah ke seluruh palkon itu. Desy sangat menyukai betapa panjang dan besar palkon milik Rey dibandingkan dengan palkon suaminya yang sangat kecil. Namun, yang paling dia sukai dari Rey adalah, betapa banyak kenikmatan yang dia berikan kepada Rey saat dia terus mengisapnya.
Tidak butuh waktu lama bagi Rey untuk menyelesaikannya. Desy terus mengisapnya, membelai pangkal palkonnya dan menggerakkan mulutnya di sepanjang batang besar palkon Rey, ketika dia mendengar erangan Rey semakin keras dan napasnya semakin tajam.
"Ya terus, oh sial, Desy. Enaakkk!" seru Rey dan mulai menyemprotkan cairannya ke mulut Desy begitu banyak hingga blepotan kemana-mana.
Rey merasakan gelombang kenikmatan sedang menguasai tubuhnya dan sedikit menggigil dan mengejang saat cairan yang hangat keluar dari palkonnya masih berada di dalam mulut Desy.
Desy menutup mulutnya di sekitar palkon Rey dan ia terus mengisapnya saat mulutnya terisi cairan lengket yang hangat. Awalnya dia sedikit terkejut melihat seberapa cepat Rey berejakulasi dan sedikit kesal karena Rey tidak memperingatkannya sebelumnya. Dia tidak bermaksud membiarkan Rey ejakulasi di mulutnya, tetapi begitu dia mulai, dia tidak ingin merusaknya.
Desy menunggu Rey selesai mengeluarkan cairan hangat, lalu ia membuka mulutnya dan membiarkan cairan itu mengalir ke palkon. Dia menelan sisa cairan yang masih ada di mulutnya, lalu berdiri.
"Itu luar biasa, Des, aku menyukainya," kata Rey kepada Desy dengan napas yang sudah terengah-engah.
"Aku senang kalau kamu suka Rey," kata Desy sambil tersenyum kecil padanya. Ia mengambil handuk kecil dari lemari dan menyeka wajahnya, lalu ia melemparkannya ke arah Rey.
"Rey, Sayang," kata Desy dengan nada keibuan, "Ketika seorang gadis memberimu sepongan seperti tadi, kamu harus memberitaunya sebelum kamu mengeluarkan cairan itu. Kebanyakan gadis, atau setidaknya beberapa gadis, gak suka saat kamu ejakulasi di mulut mereka. Kamu harus ingat itu." Desy memberikan pelajaran pertama yang paling berharga tentang seks.
"Oh begitu ya, maaf Des," kata Rey sedikit malu.
"Gak apa-apa, Sayang, itu sebabnya aku melakukan ini, jadi kamu akan belajar banyak." Kata Desy kepada Rey dan ia memperhatikannya saat ia menyeka palkon Rey yang mulai mengecil.
Bayangan palkon Rey yang masih berlumuran cairan benar-benar membuat Desy memiliki hasrat liar dan ia memperhatikannya dengan saksama hingga ia selesai.
Bersambung...
"Sekarang, aku ingin kamu berlutut," kata Desy kepada Rey setelah ia membersihkan diri dan ia duduk di tepi tempat tidur lagi.
"Baiklah, Des," kata Rey begitu patuh dan berlutut di depan Desy seperti yang ia lakukan beberapa menit yang lalu.
"Bagus, sayang," kata Desy kepada Rey dan merentangkan kedua kaki untuknya. "Kamu bisa lebih dekat," kata Desy kepadanya saat dia menatap dengan kagum ke arah kemem yang merah mudanya dan sudah basah. "Seperti inilah bentuk kemem wanita," kata Desy kepada Rey dan mengusap celah kemem dengan jempol.
Desy kemudian menunjukkan dan menjelaskan tentang berbagai bagian kemem. Sambil melakukannya, Rey merentangkan bibir kemem untuknya dan menunjukkan di mana klitorisnya berada.
"Kamu bisa menyentuhnya Rey," kata Desy kepada Rey setelah dia selesai menjelaskan.
Rey mendekatkan telapak tangan kanannya ke lipatan tubuh Desy dan ia menyentuhnya dengan lembut. Dia mengusap jempol perlahan ke celah klitorisnya dan Desy hanya memejamkan mata saat Rey sudah melakukannya. Desy mengeluarkan erangan kecil saat Rey membelai daerah intimnya dengan lembut.
"Kamu gak apa-apa Des?" Rey bertanya kepada Desy saat mengusap kemem yang indah.
"Ya, Sayang, itu hebat." kata Desy kepada Rey sambil menahan erangan. Dia semakin panas dan basah setiap detik saat Rey terus menyentuhnya. "Sekarang Sayang, aku ingin kamu mulai menjilati kememku," pinta Desy kepada Rey dan ia segera memperhatikan Rey dari atas.
"Tentu saja, Des, aku akan membuatmu puas," kata Rey dengan nada menantang.
Rey melepaskan tangannya dari kemem Desy dan tubuhnya segera membungkuk. Desy bisa merasakan napas hangat Rey di vulvanya saat dia berhenti untuk menghirup aroma memabukkannya lalu menempelkan lidahnya di kememnya dan menjilatnya.
"Sayang, tunggu sebentar," kata Desy kepada Rey setelah dia menjilatinya dua kali dengan cara yang tidak berpengalaman dan tidak menyenangkan.
"Ada apa, Des?" tanya Rey menghentikannya, lalu menatap Desy.
"Saat kamu menjilati kemem wanita, kamu harus lebih lembut. Kamu bukan sedang menjilati permen lolipop." Kata Desy kepada Rey yang sedikit tersipu. "Gak apa-apa, aku akan menjelaskan dengan tepat bagaimana kamu harus melakukannya," tambahnya. "Aku ingin kamu mulai dengan menjilatnya pelan-pelan, lalu lakukan persis seperti yang aku perintahkan, oke?"
"Ya, oke, Des," kata Rey malu dan mulai menjilat pelan-pelan kemem milik Desy.
"Ya, seperti itu." kata Desy menyemangati Rey. "Sekarang, aku ingin kamu mulai mencium kememku di sana, ciuman lembut di seluruh kemem," kata Desy dan memperhatikan Rey saat ia melakukan apa yang diperintahkannya.
Rey mencium di celah kemem, di lipatan luar kememnya, di sekitar dan di atas klitorisnya dan bahkan mencium gundukan kememnya yang baru dicukur.
"Kamu melakukannya dengan hebat, Sayang," kata Desy di sela-sela erangannya, "Sekarang aku ingin kamu mulai menjilatiku, tetapi gunakan hanya ujung lidahmu. Aku ingin kamu menelusurinya di sepanjang celah kememku dan di sekitar bibir kememku."
Rey mendengarkan Desy dan ia mengikuti instruksinya, saat ia mulai menjilatinya. Ia mulai dari bawah dan menelusuri ujung lidahnya di celah kemem, mengusapnya ke atas dan ke bawah sebelum menggerakkan lidahnya dan menelusurinya di sekitar bibir kemem, lalu kembali ke celah kememnya. Ia memperhatikan celah kememnya menjadi lebih licin saat ia terus melakukannya dan merasakan sedikit rasa asam saat cairan Desy berkilauan di bibirnya yang basah.
"Ouuhh, kamu hebat sekali, Rey," ucap Desy kepada Rey saat dia melakukan apa yang diperintahkan. "Sekarang aku ingin kamu menggunakan lidahmu untuk melingkari klitorisku dan setiap menjilatinya, kamu harus terlihat menggoda," kata Desy kepada Rey dan memperhatikan lidahnya saat dia melakukan hal yang sama, ia menjilati dan menggoda klitorisnya. "Sialan, Sayang, ya seperti itu, ooh no....!" seru Desy sambil mengerang, di saat Rey membuatn tubuhnya menggila dengan lidahnya. "Sekarang masukkan lidahmu ke dalam kememku sedalam mungkin dan melengkung ke atas."
Rey menatap Desy yang mengerang dengan puas. Dia melihat kenikmatan di wajahnya saat dia terus menjilati kememnya dan merasakan darah mengalir kembali ke palkon. Dia benar-benar menikmati menjilati Desy dan melakukan apa yang diperintahkan Desy. Dia menjilati ujung kecil sensitif Desy sebentar lalu atas permintaan Desy, dia mendorong lidahnya sedalam mungkin ke dalam dirinya. Dia merasakan rasa kewanitaannya yang luar biasa dan menyukainya.
"Hebat, Rey!" kata Desy saat Rey mendorong lidahnya ke dalam kemem. Dia kesulitan berbicara di antara erangan dan gerutuannya yang semakin kuat, ketegangan di dalam dirinya meningkat. "Sekarang, Sayang," kata Desy sambil terkesiap, "Aku ingin kau... oh mantap... Aku ingin kamu... menutup mulutmu di sekitar klitorisku... dan mengisapnya sekuat tenaga," Desy nyaris tak bisa berkata lagi. Dia memperhatikan Rey saat dia menarik lidahnya keluar dari kemem, Rey bermain di klitorisnya dan dia merasakan sensasi luar biasa saat mengisap klitoris hingga berdenyut-denyut hingga mencapai orgasme.
"Ya, ya, YA!" Desy menjerit dan mendongakkan kepalanya, menutup matanya saat tubuhnya mengejang hebat.
Desy merasakan hal yang sangat luar biasa dan itu mengalir melalui tubuhnya saat dia menjerit karena kenikmatan, menghentakkan pinggulnya ke arah Rey dan mengejang saat dia terus menempelkan mulutnya ke klitorisnya dan mengisapnya sampai orgasmenya. Ketika kenikmatan terakhir berlalu, Desy jatuh terlentang. Baru setelah itu Rey melepaskan klitorisnya dan berdiri.
"Kamu gak apa-apa, Des?" tanya Rey setelah berdiri.
"Sayang, kamu luar biasa sekali. Aku gak nyangka kamu akan membuatku cepat keluar, tapi kamu berhasil menaklukan aku Rey." Ucap Desy bangga kepada Rey yang masih terengah-engah.
"Terima kasih, Des," kata Rey dengan rasa bangga dan malu sambil menatap Desy yang telanjang dengan penuh nafsu.
Desy kembali menatap Rey yang masih muda dan seksi, dia masih sedikit terkejut karena Rey telah berhasil membuat Desy keluar untuk pertama kalinya, bahkan dengan bimbingannya.
"Beri aku waktu untuk mengatur napas," kata Desy kepada Rey saat dia menyadari palkon Rey sudah kembali mengeras dan menegang. "Kita akan melanjutkannya." Kata Desy sambil menunjuk ketegangan palkon Rey. "Kurasa sudah waktunya untuk hal yang nyata Rey." Ucap Desy dan melihat palkon Rey sudah berkedut karena kegembiraan.
Kata-kata dari Desy begitu bergema di kepalanya saat Rey berdiri di sana. Sejak Rey mulai tertarik pada wanita, dia menganggap Desy sangat menarik perhatiannya. Dia akan terus menatapnya saat Desy berjalan di sekitar rumah dengan pakaian pendek, dan dia akan meliriknya ketika mereka pergi berenang, melihat tubuh seksinya yang hanya ditutupi bikini kecil, tetapi tidak pernah dalam mimpinya yang mempunyai hasrat liar, dia berpikir akan kehilangan keperjakaannya padanya.
Palkon itu terus berdenyut saat melihat tubuh cantiknya yang beristirahat di tempat tidur dan menunggunya untuk menjadikannya seorang pejantan tangguh bagi para wanita. Desy akhirnya duduk di sisi tempat tidur. Dia membuka laci di meja samping tempat tidur dan mengeluarkan bungkus plastik kecil.
"Duduklah di sebelahku, Rey," kata Desy kepada Rey yang segera melakukannya. "Kamu tau apa itu kondom, kan?" tanya Desy, dan Rey mengangguk. "Bagus." kata Desy dan ia merobek bungkusnya. "Sekarang kamu gak perlu ini denganku karena aku menggunakan alat kontrasepsi, tetapi kamu harus memakainya jika dengan gadis-gadis yang ingin berhubungan seks denganmu, jadi aku ingin menunjukkan kepadamu cara memakainya." Desy menjelaskan sambil menarik karetnya.
Desy memegang palkon Rey yang besar dan panjang, ia mengusapnya sekali, lalu menunjukkan cara memasang kondom di ujung palkonnya dan perlahan membuka gulungannya di sepanjang batang.
"Apakah kamu sudah siap untuk melakukannya Rey?" tanya Desy setelah ia melepaskan kondom. Ia ingin pengalaman pertama Rey senyaman mungkin tanpa menggunakan kondom. Selain itu, ia membayangkan palkon Rey segera meluncur ke dalam dirinya begitu menggairahkan.
"Uuuh... ooouh," kata Rey dan mengusap palkonnya beberapa kali.
"Oke, sabar Rey," kata Desy sambil naik ke tempat tidur dan menyingkirkan pakaiannya. Ia mengambil bantal besar dan meletakkannya di bawah punggung bawahnya. "Aku ingin kamu mulai dari atas." Kata Desy sambil meletakkan bantal besar di bawah kepalanya juga dan setelah berbaring telentang, merentangkan kedua kakinya. "Setelah kamu bisa, kita bisa bertukar posisi, dan aku akan berada di atas," kata Desy, meskipun ia tidak yakin apakah Rey akan bertahan cukup lama untuk bertukar posisi.
Rey tidak bisa menyembunyikan rasa puasnya saat Desy membuat dirinya nyaman di tempat tidur, menawarkan dirinya kepadanya dengan cara yang tidak seharusnya dilakukan. Tetap saja, Rey tidak peduli, yang di lihatnya hanyalah seorang wanita cantik telanjang, yang bersedia membiarkannya masuk ke dalam dirinya dan membuatnya menjadi seorang pejantan tangguh. Dia mulai naik ke tempat tidur dan berjalan di antara kedua kaki Desy yang sudah terbuka lebar. Ia menatap kemem Desy yang terus menggoda dan menempatkan palkonnya yang sudah berada di pintu masuk.
Desy hanya memperhatikan Rey dengan teliti. Dia melihat hasrat liar di wajah Rey saat dia mempersiapkan diri untuk kehilangan kepolosannya. Dia tetap diam di saat Rey sudah menempelkan palkon di sela kemem miliknya.
"Oouuuhh..."
Getaran mengalir melalui tubuhnya saat ujung kejantanan Rey sudah bertemu dengan lipatan intimnya dan sedetik kemudian, kenikmatan itu telah menguasainya saat Rey sudah bisa menembus lubang sucinya lebih dalam.
"Oh, Des nikmat. Ouuhh... yaa..." Rey menjerit dan mengeluarkan gerutuan saat ia menerobos kemem Desy dengan penuh gairah.
Rey tak percaya betapa nikmat rasanya saat batangnya dengan mudah meluncur masuk ke dalam kemem Desy. Ia mengeluarkan erangan lagi dan melihat bagaimana Desy telah menerima seluruh batang besar dan panjang masuk ke dalam kememnya yang hangat. Ia mengerang karena sensasi kenikmatan yang tak terlukiskan saat palkon itu menghilang di dalam. Ia bisa merasakan dan mencoba untuk bergerak perlahan
"Oh, ya, Sayang!" Desy mengerang saat Rey mendorong palkon ke dalam kemem untuk yang kedua kalinya.
Desy melihat tubuh Rey yang kuat dan mengamatinya saat Rey mulai memegang pahanya yang terbuka lebar dan mulai mendorong dirinya dengan gerakan lambat.
Plok plok plok plok...
Plok plok plok plok...
"Rey, aku suka... terus Rey yang kuat..."
Rey terus mendengarkan erangan Desy yang semakin keras. Ia mulai dengan sangat pelan, khawatir ia akan selesai terlalu cepat, tetapi setelah melakukannya dengan pelan, ia menyadari bahwa ia sama sekali tidak akan ejakulasi dan mempercepat gerakannya.
"Oh, ya, Sayang!" panggil Desy penuh hasrat liar saat Rey mulai memompa kememnya yang basah dengan irama begitu cepat, hingga terdengar benturan kedua tubuh.
Desy terkejut karena Rey masih terus melakukannya dan mulai mengerang lebih keras saat Rey menghentak kemem dengan keras. "Ya sayang, teruskan aja, jangan malu-malu!" teriak Desy dan mengeluarkan erangan keras lainnya, sementara suara buah zakar Rey yang menghantam pantatnya mencapai telinganya dengan setiap dorongan pinggulnya yang kuat.
"Ya ampun Des, ini terasa sangat nikmat," kata Rey sambil terus mendorong palkonnya ke dalam kemem dengan penuh semangat.
Rey mendengarkan erangan dan panggilan kenikmatan Desy dan menyaksikan dengan terpesona saat bukit kembar memantul ke mana-mana, bergoyang ke segala arah saat Rey mendorong palkon ke dalam kemem dengan kuat.
"Sayang, kamu ingin berganti posisi?" Desy bertanya ketika menyadari bahwa Rey mulai lelah dan mulai memperlambat dorongannya. Dia berharap Rey tidak memperlambatnya karena dia akan segera mencapai klimaks.
Desy sangat ingin naik ke atasnya dan menunggangi Rey, ia ingin Rey menjadi pejantan tangguh hingga mencapai klimaks.
"Ya," kata Rey dan melepaskan palkon dari kemem Desy. Dia terengah-engah dan memperhatikan Desy saat duduk dan menggeser bantal tempat dia duduk.
"Berbaringlah," kata Desy dan Rey segera menggantikannya.
Desy membungkuk, meraih palkonnya dan menjilatnya dengan cepat. Dia menikmati rasa cairannya di palkon dan terhibur oleh ekspresi di wajahnya. Dia kemudian naik ke atas tubuh Rey dan duduk di pinggangnya. Ia meraih palkon Rey, menekannya ke vulvanya sambil menatapnya, lalu mengangkat pinggangnya sedikit.
Desy menggunakan tangannya untuk menuntun palkon Rey ke arah lubangnya dan sambil menatap lurus kedua matanya, tangan menuntun palkon masuk ke dalam kemem dengan erangan yang saling keluar dari bibir mereka.
"Enak Des!" Rey merengek saat kejantanannya mulai masuk ke dalam kemem.
Rey mendongak ke atas ke arah wajah Desy yang luar biasa bermain di atasnya, palkon yang keras dan ia mengerang kala Desy sudah mulai menungganginya.
"Sial, rasanya luar biasa," Rey berteriak dengan gembira "tolong jangan berhenti," pintanya dan meraih pinggang Desy, kedua tangannya ikut naik turun seiring gerakan tubuh Desy.
Rey menunduk ke palkon, ia melihatnya sudah menghilang di dalam surga milik Desy, lalu menatap bukit kembar yang besar dan cara payudaranya yang menggoda saat ia menungganginya, dan akhirnya menatap wajah Desy, ia mencuri pandangan dengannya dan melihatnya mengerang dengan senang.
Bukit kembar ikut bergoyang-goyang dan Desy menatap wajah Rey di saat ia menghantamkan kemem ke palkon sekeras dan secepat yang ia bisa.
"Des, aku gak bisa bertahan lebih lama lagi." Kata Rey tergesa-gesa saat Desy memompa palkon Rey lebih keras dari yang pernah ia kira.
Rey menutup matanya agar tidak melihatnya dan mencoba memikirkan apa pun selain Desy yang telanjang menunggangi, semua ini dilakukannya dalam upaya yang sia-sia untuk menunda klimaksnya.
"Des, aku akan keluar," kata Rey dengan suara gugup beberapa detik kemudian tubuh Rey mulai mengerang liar.
"Silakan sayang, keluarkan untuk aku! Keluarkan aja di dalam kememku," kata Desy yang terus menungganginya dengan penuh gairah dan terus memompanya.
Desy merenungkan kalimat yang baru saja keluar dari mulutnya dan menyaksikan Rey yang sudah orgasme.
"Des, aku keluaaarr.....!" Rey berteriak dan mulai menyemprotkan mayones dalam kemem Desy.
Desy bisa merasakan palkon Rey menyemprotkan cairan ke dalam dirinya dan menunduk melihat wajah Rey yang berubah karena kenikmatan. Ia menatap Rey dengan takjub saat dia mulai menangis sambil menyemprotkan cairan hangat yang banyak sekali ke dalam kemem yang basah. Dia mendengar kabar bahwa ada beberapa pria menangis saat mereka mengeluarkannya di dalam, tetapi dia tidak yakin itu nyata, sampai dia melihat sendiri jika Rey menangis tersedu-sedu saat dia memenuhi kemem yang sudah penuh cairan hangat.
"Des, bagaimana kalau kamu hamil?" tanya Rey.
"Aku kan tadi udah bilang, kamu tenang aja. Nikmati aja permainan ini."
Desy masih terus menungganginya sepanjang klimaksnya, menyaksikan air kenikmatan yang mengalir di kememnya sampai orgasmenya mereda dan palkon Rey mulai lemas. Dia begitu dekat dengan orgasmenya sendiri sehingga tanpa memikirkannya, Desy mulai menggosok klitorisnya dengan hasrat liar sampai tubuhnya mengejang hebat.
"Gila banget Rey!" Desy menjerit saat dia sudah mencapai puncaknya.
Kedua kaki Desy bergetar tak terkendali, di ikuti oleh pinggang dan tangannya saat tubuhnya melonjak karena kenikmatan. Dia merasa seperti tersengat listrik, tetapi alih-alih rasa sakit, yang ada adalah rasa kenikmatan yang luar biasa.
Desy mendengar erangan seperti binatang keluar dari mulutnya dan berusaha sekuat tenaga untuk terus mengusap klitorisnya. Itu adalah salah satu orgasme terlama dan terkuat yang pernah di alaminya. Rasanya seperti berlangsung selama satu jam lebih mereka bermain sebelum akhirnya dia merasakan keluar untuk yang ketiga kalinya.
Rey kagum pada Desy, saat dia mencapai puncaknya, Desy saat itu masih berada di atasnya. Dia malu dan menerima kenyataan, bahwa dia menangis seperti bayi kecil ketika mengeluarkan mayones di dalam. Itu adalah hal pertama kali bagi Rey dan hal itu terjadi padanya, dia melupakan semuanya ketika Desy mulai mengejang di atasnya.
Rey melihat beberapa video wanita yang mencapai puncaknya, tetapi tidak ada yang seekstrem yang baru saja di alami oleh Desy. Begitu selesai, ia menangkap tubuh Desy dengan kedua tangan dan menurunkan ke dadanya, beberapa getaran terakhir mengalir melalui tubuh Desy saat ia berbaring di atasnya.
Desy merasakan palkon milik Rey sudah menciut dan keluar dari kememnya, saat ia merasakan cairan mereka mengalir keluar darinya dan jatuh ke seprai. Dia sangat lelah karena kenikmatan itu, ia hanya berbaring di pelukan Rey, kepalanya bersandar di dada Rey, sementara bukit kembar yang besar bersandar di perut bagian bawah.
"Rey, kamu gak kenapa-napa kan?" Desy bertanya setelah mereka berbaring tak bergerak selama lebih dari setengah jam, memikirkan apa yang baru saja mereka lakukan.
"Aku baik-baik aja." Rey berkata dengan suara lelah. "Bagaimana denganmu?" tanyanya.
"Aku pun baik-baik aja, Sayang," kata Desy mengangkat kepalanya untuk menatapnya. "Bagaimana perasaanmu tentang apa yang baru aja kita lakukan?" Desy bertanya kepada sambil masih menatapnya.
"Aku gak yakin," kata Rey sambil memikirkannya. "Aku sama sekali gak menyesalinya," katanya yang membuat Desy lega.
"Permainan kamu benar-benar panas dan luar biasa yang pernah aku rasakan selama ini, dan itu benar-benar membuatku ingin terus melakukannya denganmu." Kata Desy. "Aku senang, Rey," Desy mencium dada Rey sebelum duduk.
Desy berjalan ke lemari, mengambil handuk yang lain dan menggunakannya untuk membersihkan kemem, ia menyeka sisa-sisa cairan Rey yang masih menempel di kememnya sebelum menyerahkan handuk itu kepadanya. Dia masih memperhatikan Rey, tangan masih menyeka palkon saat dia mengenakan kembali bra dan celana dalamnya, di ikuti oleh celana dan sweternya.
Saat Rey berpakaian, Desy membuka jendela dan membiarkan udara dingin mengalir ke dalam ruangan, mengeluarkan bau mayones yang kuat.
"Siap?" Desy bertanya setelah ia selesai berpakaian dan mengulurkan tangannya.
"Siap untuk apa Des," kata Rey dengan percaya diri dan meraih tangannya. Ia menariknya ke pintu dan membukanya dengan pelan.
"Sekarang mari kita lihat bagaimana kamu akan melakukannya dengan si kembar." Kata Desy sambil membuka pintu dan melangkah keluar dengan Rey di belakangnya.
Bersambung...