Akhirnya sirine yang kutunggu itupun berbunyi. Dengan iramanya yang khas, sirine itu menjadi sinyal untuk kami agar segera melaksanakan apel sore dan bersiap untuk pulang ke asrama.
“Jaga kondusifitas keamanan sekitar dan setiap anggota wajib memberi tahuladan yang baik kepada masyarakat.” kata komandan regu kami mengakhiri amanatnya pada sore hari yang mendung itu.
Akhirnya setelah rutinitas mengisi daftar hadir, aku segera berlari kecil untuk bergegas ke parkiran motor, mengambil kendaraanku. Rasanya birahiku sudah sampai di ubun-ubun ingin segera menyalurkan hasrat bilogisku yang begitu bergelora.
Namaku Tantri seorang Polisi Wanita yang bertugas di sebuah kabupaten kecil di negeri ini. Seperti layaknya anggota polwan, tubuhku langsing dan kencang karena hasil latihan fisik rutin yang selalu dilakukan setiap hari. Warna kulitku kecoklatan khas negeri ini, banyak orang yang mengatakan warna kulit eksotis. Tinggiku 169 dan tergolong tinggi semampai, rambutku tentu saja pendek sampai ke tengkuk.
Banyak orang yang bilang, semula tidak kupercayai, bahwa aku tergolong wanita dengan hasrat seksual yang besar. Mereka mengatakan ini karena sosok tubuhku agak bungkuk seperti bongkok udang. Tentu semua omongan ini hanya kuanggap omong kosong. Namun perlahan aku seperti membuktikan sendiri kebenaran omongan ini.
Tanda getar di ponsel menandakan ada sinyal pesan masuk. Sambil duduk di jok motor aku buka ponsel dan membaca isinya.
[Hai Mbak seksi aku tunggu kamu di kontrakkan. Sudah aku siapkan kejutan yang manis buat kamu]
Itu pesan dari laki-laki misterius yang telah berhasil membuatku jatuh hati dan menyerahkan segalanya. Naluri kewanitaanku secara alamiah bangkit bahkan hanya dengan membaca pesan darinya ini. Betapa mahirnya laki-laki yang bernama Bryan ini membuatku ketagihan secara seksual.
Dengan hati yang berdegup secara kencang, aku pacu sepeda motorku untuk menuju kontrakan Bryan yang terletak tidak jauh dari asrama tempatku tinggal.
Sebagai wanita, kami dibudayakan tertutup secara seksualitas. Bahkan kami tidak diajarkan oleh leluhur kami untuk menikmati aktifitas bersenggama dan berhak memperoleh kenikmatan yang sama seperti halnya laki-laki. Namun Bryan, perlahan telah mengajarkan arti nikmatnya berhubungan badan kepadaku.
Sepuluh menit kemudian sampailah aku di kediaman Bryan yang cukup mewah untuk ukuran warga kabupaten ini.
Bryan sendiri adalah seorang mahasiswa anak dari orang tua yang cukup berada. Tubuhnya hanya sedikit lebih tinggi dariku dan dia berkulit putih. Usianya beberapa tahun di bawahku. Posturnya sangat terjaga karena dia rajin berolahraga yang menjadi awal pertemuan kami. Ya kami bertemu di tempat olah raga.
Awal pertemuanku dengan Bryan Mahendra Irwansyah.
Sebagai anggota polisi kami diharuskan untuk menjaga bentuk tubuh. Apalagi untuk wanita, bulliying dari senior akan sangat sadis bila kedapatan tubuh kami sedikit berlemak. Sejak lulus dari asrama, olahraga pagi adalah makanan sehari-hari.
Secara rutin aku berlari, fitness dan mengikuti aerobik yang diadakan di gor olah raga atau pun stadion kabupaten. Tempat fitnes Jos Gym yang menjadi saksi awal pertemuan aku dengan Bryan. Saat itu, di tengah keasyikan berlatih ada seorang laki-laki yang mendatangi dan menyapaku.
“Halo, selamat sore, maaf mengganggu. Mbak ini aparat ya?” tanyanya dengan sikap dan bahasa yang sangat santun.
“Iya benar, Mas siapa ya?” jawabku dengan nada tegas dan ketus karena kami memang dilatih demikian.
“Perkenalkan nama saya Bryan,” balasnya sambil menghulurkan tangan, tanda dia ingin berkenalan denganku.
“Tantri,” jawabku sambil menjabat tangan Bryan.
“Mbak maaf, ya. Gerakannya sudah bagus kok, tapi kurang tepat, boleh saya tunjukkan gerakan yang benar?” tawarnya. Lalu tanpa basa-basi dia pun mengambil dumbel tersebut dan mencontohkan gerakan yang tepat dibandingkan gerakan yang tadi aku lakukan.
“Untuk latihan kaki, gerakan yang benar seperti ini, Mbak. Harus jongkok sampai ke bawah ,dengan ini, Mbak bisa membentuk pantat, betis, tungkai dan tumit sekaligus,” terangkan sambil mencontohkan.
Aku memperhatikan dengan seksama, sambil menaruh kesan awal yang baik kepada pemuda ini. Bahasanya baik, sopan, tempangnya juga sangat ganteng, bukan lumayan. Dan yang terpenting dia berani untuk mengajakku ngobrol seorang anggota polwan.
Bukan rahasia umum, banyak laki-laki yang selalu melirik atau terpesona dengan kecantikan maupun keseksian polwan yang biasa berbalut busana kerja ketat, namun sayang tidak mempunyai keberanian untuk mendekati kami. Itulah yang membuat beberapa di antara kami kesulitan untuk menemukan pasangan hidup. Tapi pemuda bernama Bryan ini sangat berbeda. Dia bisa mendekatiku dengan lembut dan sopan seperti seorang gentleman. Mungkin itu alasan dia segera mendapatkan tempat di hatiku.
Sore itu kami lalui dengan penuh senyum dan canda. Obrolan di antara kami begitu cair dan akrab. Kuperhatikan dari kaca yang bertebaran di tempat fitnes ini, bagaimana Bryan mencuri-curi pandang terhadap kesintalan tubuhku. Padahal hari itu sebenarnya aku mengenakan pakaian yang biasa-biasa saja. Tidak terlalu seksi kalau menurutku.
Aku mengenakan kaos ketat tanpa lengan warna merah yang menampilkan keeksotisan warna kulitku. Mungkin karena ketatnya kaos yang kukenakan, buah dadaku yang tergolong cukup berisi, juga terekspose secara maksimal. Untuk bawahan aku kenakan celana training panjang yang menutup rapat sampai mata kaki.
“Sekarang kita latihan trisep ya, Mabak Tantri” Bryan berkata sambil mengambil barbell ukuran 4 kilo yang berada di rak.
“Bagaimana gerakannya?” tanyaku.
Jujur olah raga fitnes memang baru buatku. Di asrama aku biasa olahraga lari mengelilingi asrama, push up, sit up, atau berlatih bela diri karate yang memang diajarkan malah diwajibkan.
“Pegang barbell dengan kedua telapak tangan Mbak di ujungnya, seperti ini! Kemudian angkat kedua tangan Mbak rapat di kepala, terus lengan ditahan. Barbell diturunkan ke belakang kepala, satu set hitungan 10 kali,” terang Bryan laksana instruktur profesional.
Gerakan ini aku lakukan menghadap kaca besar di salah satu sudut gym. Pada pantulan kaca aku bisa melihat kedua tanganku terangkat. Kaos tanpa lengan yang kukenakan pun membuat ketiakku dapat terlihat jelas oleh Bryan.
Bryan berdiri tepat di belakangku untuk menahan kedua lenganku agar tetap lurus. Bryan terlihat sangat terpesona dengan kedua ketiakku yang mulus tanpa bulu itu. Selain itu posisi ini membuat bulatnya dadaku semakin menonjol karena kedua tanganku terangkat tinggi ke atas.
“Ayo mulai Mbak. Satu…. dua…. tiga….!”
Gerakan latihan trisep itu pun dimulai dengan sebuah pantulan cermin yang cukup membuat jantungku berdebar. Posisi kami benar-benar menempel. Dapat kurasakan napas Bryan yang berderu lebih cepat. Bahkan tanpa dia sadari ada benda yang tiba-tiba menonjol di bawah celana trainingnya.
‘Bryan sepertinya mulai terangsang oleh kemolekan tubuhku,’ batinku tiba-tiba sambil menahan geli.
“Mbak Tantri harum, aku suka wangi tubuhmy, Mbak. Ya udah sepuluh juga cukup,” bisik Bryan di telingaku sambil mengambil barbell yang cukup berat untuk kuangkat.
Sambil mengambil napas karena kelelahan dan sedikit horny, kami lanjut ngobrol. Entah kenapa aku mudah sekali horny, telebih lagi saat melihat tonojolan di selangkang Bryan yang tampak makin besar. Dan seketika itu pun wajahku terasa panas yang mungkin saja bersemu merah.
Orang awam pasti melihat wajar wajahku merah karena habis olahraga, tapi jujur sebenarnya aku sangat terangsang dengan birahiku.
Mungkin karena melihat seorang pria tampan yang berdiri tepat di belakangku sambil pandangannya sangat mengagumi kemolekan tubuhku, hingga membuatku sangat terangsang. Atau juga karena tingkat stress di lingkungan kerjaku yang sangat tinggi yang membuatku mudah terangsang, entahlah.
“Mbak kenapa ikut fitnes di sini?” tanya Bryan.
“Iya biar badanku gak gemuk,” jawabku santai.
“Badan udah seksi gini kok dibilang gemuk.”
“Hush badan semok gini kalau diliat seniorku masih dibilang gemuk tahu!”
“Berat ya pekerjaan Mbak.”
“Iya makanya jarang ada cowok yang deketin aku.” Tanpa sadar aku mengucapkan pikiran negatif yang timbul sendiri. Mungkin karena perasaan bahwa kami ini karena tugas menjadi bukan seperti wanita normal.
“Ada kok yang mau sama Mbak Tantri, namanya Bryan, hehe,” kata Bryan sambil bercanda.
“Halah, nanti juga kamu ketakutan sama aku, kayak cowok kebanyakan yang lainnya,” timpalku sambil melangkah ke ruang ganti untuk berganti baju.
Pertemuan kami hari itu diakhiri tanpa ada yang spesial. Kami melangkah pulang ke rumah masing-masing untuk kembali beraktifitas keesokan harinya.
Mungkin karena pertemuanku yang pertama itu dengan Bryan, fitnes akhirnya menjadi semakin rutin aku lakukan. Setiap sore aku datangi Jos Gym untuk berlatih. Bryan juga demikian, dia selalu ada di tempat latihan setiap aku ada di sana.
Setelah kurang lebih dua mingguan rutin belatih, kami baru tahu kalau sebenarnya rumah kami berdekatan. Jarak rumah kontarakan Bryan hanya sekitar tujuh menitan dari asramaku.
Selama dua minggu itu entah kenapa aku selalu ingin tampil seksi di hadapan Bryan. Aku selalu mengenakan baju ketat tanpa lengan yang membuat lekuk tubuhku terlihat. Bahkan yang juga membuatku malu, aku mengenakan training panjang ketat yang bahkan membuat celana dalamku kadang-kadang terlihat.
Penampilanku yang demikian rupanya membuat Bryan juga semakin berbinar-binar matanya. Sering ketika kami sedang berdua santai, Bryan tiba-tiba ijin untuk ke kamar mandi, katanya kebelet ingin buang air.
Hanya dalam dua minggu perubahan telah tampak di tubuhku. Pantatku semakin kencang, dan mungkin yang membuat Bryan semakin berbinar adalah dadaku terlihat semakin berisi akibat latihan yang rutin. Gairah dan libidoku rupanya ikut berubah setelah latihan yang rutin.
Kurasakan tubuhku begitu bergairah, namun sebagai wanita yang tidak tahu cara melampiaskannya, gairah ini kupendam sebisanya. Sering terjadi ketika di asrama, gairahku meninggi kususnya pada malam hari. Biasanya menjelang tidur dengan libido seperti ini, kulepas seluruh busana yang melekat di tubuhku. Kadang celana dalam tetap kekenakan kadang juga kulepasakan.
Sering teman-teman kamar yang tinggal seasrama terkejut ketika bangun dan menyadari bahwa sahabatnya tidur tanpa sehelai benang pun. Buatku pribadi pengalaman tidur telanjang merupakan salah satu bentuk pelampiasan terhadap gairah yang begitu memuncak.
Sering aku tidur tengkurap agar putingku yang tanpa penghalang bergesekan dengan seprei kasur dan sensaninya luar biasa. Celana dalam yang melekat di daerah kewanitaanku sering kulepas dan tanganku yang nakal sering menggeseknya dengan guling atau selimut.
Aku termasuk wanita yang pembersih. Setiap seminggu sekali selalu kucukur rambut-rambut yang tumbuh di arena intim dan ketiakku, dan melumurinya dengan ramuan tradisional yang mampu membuatnya bersih dan wangi.
Pengaruh libido dan hormon seksual jelas mempengaruhiku, dan jujur aku pun telah melakukan eksperimen seperti tidur telanjang untuk menyalurkannya, namun hingga detik itu aku masih belum tahu artinya sebuah kenikmatan seksual, sampai pagi itu Bryan mengajakku untuk aerobik pagi bersama.
[Mbak Tantri besok aerobic pagi bareng yuk] Bunyi pesan Bryan pada saat aku sedang bersiap tidur.
[Ayo kebetulan besok hari sabtu, kantor libur, jadi gak terburu-buru untuk apel pagi] balasku.
[Horeeee, o ya boleh request gak Mbak Tantri?]
[Request apa ya, Bry?]
[Besok Mbak pake kaos merah yang seksi itu ya!]
[Emang kenapa Bry?]
[Gak apa Mbak , Bryan senaeng aja kal liat Mbak pake baju itu.]
[Ya udah besok Mbak pake baju itu deh.]
[Makasih ya Mbak, besok jam lima ditunggu ya deket stadion asrama.]
[Haa jam lima? Gak kepagian tuh Bry?]
[Enggak Mbak udah rame kok jam segitu.]
[Ya uda jam lima teng mbak sudah di situ, awas kamunya jangan telat ya, mbak push up nanti.]
[Siap Komandan!]
Setelah tidur yang singkat, aku pun bangun untuk kemudian sebentar menggosok gigi dan mengenakan pewangi tubuh, aku berangkat menuju stadion dekat asrama tepat jam lima pagi. Betapa terkejutnya aku karena stadion masih sepi sekali. Bahkan suasanapun masih gelap.
“Pagi Mbak Tantri, mari masuk!” seru Bryan menyambutku di parkiran. Sikapnya masih gentel seperti biasa.
“Bryan kamu hebat tepat waktu, tadinya mbak udah mau ngepush kamu. tapi ini masih sepi sekali, katamu udah rame?”
“Hush sini deh Mbak ada yang Bryan mau omongin sama Mbak.”
Kami kemudian masuk ke stadion. Dengan lapangan yang biasa mementaskan pertandingan tim daerah kami yang berlaga di divisi 2. Tribun penonton yang kosong. Lampu sorot yang berfokus menyorot ke lapangan. Sitambah udara pagi. Tentu suasana agak horror dan menyeramkan.
Bryan kemudian terus berjalan mengajakku ke sebuah sudut stadion yang remang-remang.
“Bryan awas ya jangan macem-macam. Kamu kan tahu siapa aku?” Kataku dengan nada tegas karena naluri polisi yang lekas curiga dengan modus Bryan yang sangat mencurigakan ini.
“Nggak deh Mbak, Bryan toh tahu Mbak jago karate, bisa bonyok nantinya. Apalagi kalau dipenjara takut banget deh, Mbak. Ini Bryan cuma mau jujur aja…..”
“Jujur apa Bryan? cepet dong ngomongnya!!! Atau mbak panggil temen-temen mbak yang lagi patroli sekarang!” ancamku
“Ampun Mbak jangan dong, Bryan Cuma beliin ini kok buat Mbak,” kata Bryan sambil menyodorkan satu bungkusan kado warna pink yang terbungkus sangat indah.
“Ya ampun, Bryan kejutan apa ini? kamu baik sekali sama Mbak, jadi malu nih.”
“Dibuka dong Mbak kadonya,” kata Bryan
Dalam hati aku sangat bersyukur, akhirnya dapat juga kado dari seorang pria. Sudah lama aku memendam rasa iri ketika ada hari valentine, para pasangan saling berbagi kado, aku hanya merayakannya dengan teman sesama wanita di asrama.
Ketika kubuka kado yang terbungkus indah itu, betapa terkejutnya ketika melihat kado ini adalah sebuah kalung emas berbandulkan tanda cinta, dan sebuah coklat import yang pastinya mahal.
“Bryan inikan mahal. Kamu yakin ini buat Mbak?”
“iya Mbak sejak pertemuan pertama Bryan sudah jatuh cinta sama Mbak, kalung sama coklat itu hanya wujud cinta sama sayang Bryan sama mbak kok”
“Kamu baik banget Bryan.” Kataku sambil sedikit menitikkan air mata karena terharu.
“Sini mbak Bryan pakein kalungnya, Bryan sengaja minta Mbak pake baju merah ini biar leher Mabak yang jenjang bisa dipasangin kalung cinta ini. “
Masih bergetar rasanya perasaan ini melihat sebuah kejutan dari pria tampan dihadapanku. Begitu romantis dirinya untuk membuatka terdiam ketika tangannya yang kokoh mengalungkan sebuah kalung di leherku. Sangat lembut dan telaten dirinya untuk memasang kalung cinta di leherku.
Masih dalam suasana spechless dan terpesona, aku terlambat menyadari dan begitu pasrah bahkan tanpa perlawanan ketika Bryan mulai memelukku dan langsung mendaratkan ciuman di bibirku. Ini adalah ciuman pertama yang kualami dan rasanya begitu menggairahkan.
Bryan memelukku demikian erat, bibir kami berciuman dengan begitu bergelora. Kunikmati setiap momen ini, saat-saat dimana bibir kami saling bertemu, saling menghisap, saling menjilat. Dengan lihainya Bryan mendaratkan ciuman yang begitu dalam, sangat intim, sampai membawaku terbang langsung ke awang-awang.
Mungkin sekitar 5 menitan kami saling berpagut. Tanga kanan Bryan memegang kepalaku dengan lembut, untuk kemudian menatapku dengan pancaran penuh dan cinta menggelora.
“Mbak Tantri aku cinta banget sama Mbak.” Kata Bryan singkat untuk kemudian memagut mulutku dan kami kembali tenggelam dalam perciuman yang begitu panas, mengalahkan dinginnya udara pagi hari itu.
Dengan sabar Bryan memanduku yang masih hijau dalam masalah ciuman ini. Lidahnya membuka perlahan mulutku dan mengundang lidahku untuk saling berbagi cairan kenikmatan. Dengan ragu kujulurkan lidahku ke dalam mulutnya dan disambut dengan hisapan yang begitu sensasional.
Bryan sangat mahir berciuman dia bisa membuatku begitu terangsang padahal tangannya tetap memeluk tubuhku tanpa beranjak kemana-mana. Perlahan lidahku dikulumnya, untuk kemudian aku ganti mengulum lidahnya. Begitu panasnya kami berciuman.
Dengan begitu mahir, Bryan melepas pagutannya untuk kemudian berbisik di telingaku, “Mbak percaya sama Bryan ya. Bryan mau bawa Mbak ke langit ke tujuh.”
Bryan membisikkan kalimat itu sambil menatap wajahku yang telah merah padam karena malu. Anggukan mungkin jawaban terbaik yang bisa kuberikan padnya karena bibirku sudah terbisu tidak mampu mengucap satu kata pun.
Bryan melanjutkan dengan membimbingku untuk berdiri bersandar di sudut kecil stadion. Dalam posisi ini Bryan langsung menyusur pori-pori leherku. Menghirup aromanya pelan, untuk kemudian memberikan ciuman-ciuman kecil yang intens di sekitarnya.
Ciumannya benar-benar merangsang libidoku. Tangan kirinya menengadahkan daguku untuk memudahkannya mencium dan menghisap keindahan leherku. Posisiku saat ini mendongak sambil berdiri dan seorang pria yang lebih muda dariku, asyik mengoral leherku yang jenjang.
“Aaaarrrgggghhhhh.” Hanya itu yang dapat keluar dari bibirku.
Sambil tanganku mengepal di balik bahu Bryan berusaha mengendalikan ledakan-ledakan syahwat yang mendesak keluar untuk dipuaskan. Tangan kanan Bryan mulai bergeriliya menyentuh bahuku yang tanpa pelindung. Mengelusnya perlahan centi demi centi.
Bryan kemudian menghentikan hisapannya, meninggalkanku dengan penasaran dan wajah yang merah padam ingin dipuaskan. Bryan tersenyum melihat wajahku sambil berucap, “Mbak semakin cantik saja kalau begini”
Kutampar pelan dirinya untuk menyembunyikan kemaluanku akan wajahku yang begitu bergairah. Dengan perlahan Bryan memasukkan kedua tangannya masuk ke sela ketiakku dan mengangkatnya ke atas rapat disisi kepalaku.
“Pegang besinya, Mbak!” kata Bryan sambil meletakkan tanganku untuk memegang besi yang menggantung 10 centi meter di atasku.
Dalam postur berdiri menyandar, dan kedua tangan terangkat tinggi ke atas, ditambah balutan baju ketat merah, Bryan secara perlahan mulai menempatkan kedua tangannya di sekitar buah dadaku yang masih terbungkus bra.
Dia sisir perlahan tepi luar dadaku untuk kemudian membuat gerakan berputar di sekiitar putingku yang telah mengacung tegak. Kupegang erat besi yang ada di atas kepalaku, sambil mataku terpejam dan dan kedua bibirku tertahan.
“Hgh” Aku tak tahu apa yang terjadi Tapi rasanya organ intimku berdenyut kemudian menyemburkan cairan yang membuat semua tubuhku bergetar, darah seperti sampai di ubun-ubun, dan semua pikiranku kosong terbawa dengan erotisnya permainan Bryan.
Ini adalah orgasmeku yang pertama. Padahal Bryan baru memainkan putingku dari luar. Bryan memelukku erat sambil memberiku kesempatan meredakan orgasmeku.
Setelah badai nikmat itu reda. Bryan memulai kembali geriliyanya terhadap tubuhku dengan mengangkat kaosku sampai ke atas dadaku.
“Jangan dilawan ya Mbak, tetap pegang aja besi itu Bryan mau buat Mbak mabuk kenikmatan,” bisiknya. Kuturuti permintaannya. mungkin benar karena sensasi orgasme yang baru saja kualami membuatku mabuk kenikmatan.
Bryan turun ke perutku yang telah terbuka menghirup aromanya, “Aroma Mbak membuatku tergila-gila,” katanya untuk kemudian dengan rakus menyerbu pusarku dan memainkan lidahnya menari-nari di sana.
Rasanya geli namun nikmat. Kembali kutengadahkan wajahku ke langit-langit sambil menggenggam erat besi yang melintang di atasku.
Sambil menjilat pusarku tangan Bryan turun untuk membuka celana trainingku. Dalam posisi tertengadah aku tidak menyadari ketika celanaku sudah terlepas meninggalkan cd warna merah yang masih melekat menjadi pertahanan terakhirku. Bryan menyentuh pahaku sebelah luar dan sejenak kembali mengembalikan kesadaranku. Kulepas peganganku di palang dan kubangunkan Bryan untuk berdiri berhadapan denganku.
“Jangan Bryan. Mbak malu!” cegahku.
“Gak apa Mbak, percaya aja sama Bryan,” sanggahnya.
“Sudah kamu di sini saja jangan lihat kemaluan Mbak, malu.”
“iya Mbak.”
Bryan kemudian menurut. Tapi dia kembali menciumiku dan kami saling berpagutan mesra. Aku masih berdiri hanya dengan celan dalam merah yang menutupi bagian bawah tubuhku.
Kembali kedua tangan Bryan membuka sela-sela ketiakku dan membawanya ke atas kepalaku untuk memegang palang. Kuciumi dia di bibirnya dengan sedotan-sedotan dan permainan lidah yang membara . Di tengah pagutan itu, tangan Bryan tiba-tiba masuk ke dalam celana dalamku dan menyentuhnya dari perbatasan anus sampai ke pangkal klitorisku.
“You‘r shaved Mbak, betapa beruntungnya aku,” desahnya sambil naik menaik turunkan tangannya membelai daerah vagina dari dalam celana dalam merahku.
Ini juga pengalaman pertama daerah kewanitaanku disentuh oleh seorang laki-laki yang diam-diam aku cintai dan rasanya begitu luar biasa. Kulepas ciuman kami, dikarenakan desakan rangsangan dari bawah tak mampu kutanggung kembali, smpai harus kutengadahkan lagi wajahku ke atas memandang langit.
“Kamu cantik Mbak Tantri, kamu seksi sekali.”
“Hgg..” Tidak mampu kutahan. Dengan tangan Bryan yang masih di vaginaku kujepeit tangan itu saat orgasme.
Semua aliran darah dalam tubuhku seolah berkumpul di satu titik vagina dan meledak di sana. “Oooooow nikmatnya.” Begitu nikamatnya. Tangan Bryan tetap mengocok cepat meskipun kujepit erat.
“Ayo Mbak jangan ada yang ditahan nikmati sepenuhnya!” bisik Bryan kepadaku.
“Hahhhh.” Begitu nikmatnya, pikiranku seolah sudah sampai di kahyangan.
Sensasi ini begitu dahsyat. Membuatku melepas pegangan palang dan terjatuh di pelukan Bryan, “Heh…..heh….hehhh…… Bryan… aaaahssst..”
“Ya Mbak,” jawab Bryan sambil memeluk tubuhku.
“Nikmat banget, Bryan!”
“Bener Mbak?” tanyanya.
Aku mengangguk. ‘Kenapa bisa senikmat ini,’ batinku.
“Bryan akan terus member kenikmatan buat Mbak, yang penting Mbak percaya sama Bryan.”
Aku kembali mengangguk.
Pagi itu merupakan petting awal yang akan memulai petualangan seksualku yang luar biasa bersama Bryan. Tentu tidak ada olah raga hari ini. Lututku kopong seperti kehilangan kekuatan. Namun Bryan setia menemaniku sampai aku beranjak dari parkiran stadion menuju asramaku kembali.
^*^
Setibanya di asrama sejuta pikiran dan perasaan menyerbuku. Aku menikmatinya, sangat menikmatinya. Dengan tingkat stress yang begitu menekan, kenikmatan yang diberikan Bryan di stadion ibarat menjadi candu yang membuat semua persoalan itu fly terbang lenyap, menghilang ditelan ledakan orgasme. Namun disisi lain, aku adalah gadis yang masih memegang tradisi timur yang menjunjung rasa malu.
Di samping itu pendidikan keras di asrama menekankan pentingnya harga diri. Wajarkah seorang gadis anggota kepolisian yang masih perawan, begitu menjunjung harga diri, merelakan dirinya lepas kendali dalam kemabukan kenikmatan?
Wajarkah aku yang biasa menilang pengendara di jalan, menghardik masyarakat yang kurang disiplin, kehilangan kendali di tangan seorang warga masyarakat biasa? Semua pertanyaan ini berkecamuk hebat di pikiranku.
‘Brigadir Tantri, benarkah perbuatanmu pagi hari ini?’ Itulah penggalan pertanyaan yang terus menggumuliku sepanjang akhir pekan, pasca Bryan memberikanku kenikmatan yang tiada tara.
Memberi Kenikmatan? Dengan insting aparat yang dinaungi perasaan bersalah, aku menyebut peristiwa itu kini pelecehan. Ya buatku Bryan telah melecehkanku di stadion itu. Tapi apakah aku akan menangkapnya? Ah jangan, aku terlalu mencintai dirinya. Aku terlalu menikmati apa yang telah dia perkenalkan di stadion itu.
Sudah dua minggu berlalu sejak peristiwa itu. Setiap pesan atau telpon dari Bryan tidak pernah kujawab. Aku tahu dia pasti kehilangan diriku, karena aktifitas fitnespun kuhentikan. Perasaaan dan pikiran dalam diriku berangsur pulih. Kegalaua kemarin mungkin dipicu oleh sindrom datang bulan yang membuat perasaan wanita jadi tidak karuan.
Aku sudah bersih sekarang, tapi Bryan tetap menjadi tersangka yang belum mendapat ijin untuk melintasi kehidupanku.
[Mbak Tantri kemana aja? Bryan jadi khawatir nih. Maafin Bryan atas peristiwa di stadion. Sumpah Mbak, Bryan tidak ada niat ingin mempermainkan Mbak. Bryan hanya terbawa suasana karena cintanya Bryan sama Mbak.] Itu pesan darinya.
Kumatikan hape yang kupegang, tidak mau kujawab chat yang dikirimkannya malam ini. Kupandangi diriku di depan cermin kamar, masih berseragam lengkap, baru saja kutunaikan tugas mengabdi kepada Negara.
‘Kamu cantiik Mbak Tantri, kamu seksi sekali.’ Terngiang bisikan mesra Bryan di sudut stadion pagi itu.
Kupandangi lekat-lekat wajahku di hadapan cermin, rambut pendek yang menghiasi tubuhku, mancungnya hidung yang diberikan Tuhan kepadaku, bibir eksotis yang hadir menemaniku.
Banyak orang bilang dengan wajah cantik ini aku layak memandu acara terkenal di televisi yang memberikan laporan kondisi lalu lintas terkini. Namun aku bertugas di sebuah kabupaten kecil jauh dari sorotan para petinggi kesatuan, tentu hal itu hanya mimpi.
Turun ke bawah aku melihat di cermin pantulan tubuhku yang kata Bryan sangan seksi. Di bahuku masih menempel pangkat yang memberiku nafkah sehari-hari, lencana , papan nama dan tanda korps, masih menempel lengkap di beberapa bagian baju dinasku. Kulihat dadaku yang begitu dipuja Bryan tampak begitu penuh, bulat dan menggairahkan.
Perlahan kucopot satu per satu kancing bajuku sampai terlepas semua. Mulai terlihat belahan dadaku yang ranum dibalut BH berwarna putih. Perutku yang ramping dan seksi mulai terekspose. Teringat perlahan bagaimana Bryan mempermainkan pusarku dengan lidahnya yang menari seperti penari balet. Berputar putar memicu gairah pada organ intimku.
Kulepas bajuku, kuletakkan rapi di hanger baju yang telah disiapkan. Kini hanya dengan BH dan rok kerja setinggi lutut aku berdiri menghadap cermin. Kuturunkan restleting rokku yang ada di samping kanan pinggul dan kujatuhkan saja di bawah kakiku, meninggalkan celan dalam warna putih yang setia menjadi penutup liang kewanitaanku.
‘Tantri…Tantri memang dirimu benar-benar seksi,’ kataku dalam hati sambil mengagumi tubuhku sendiri yang hanya berbalut beha dan celana dalam warna putihku.
Kulitku yang coklat eksotis tampak kontras berbalut daleman putih. Sangat menggairahkan. Pelan kudengar lantunan lagu romantis beralun dari kamar sahabatku yang tidur di kamar sebelah. Kupejamkan mataku sambil berusaha tenggelam dalam irama musik.
Indahnya suara penyanyi lagu ini membuat kepalaku bergoyang perlahan ,sejenak berusaha menghilangkan permasalahn hidup. Ritmis, bertempo, perlahan kepala ini mulai bergoyang seirama alunan melodi.
Goyangnya kepala terasa hambar tanpa gerakan bagian lain tubuhku. Mulai kugoyangkan bahuku yang kanan naik turun sesuai melodi, berganti bahuku yang kiri. Kepala dan bahu kini bergoyang begitu ritmis membawaku relax tanpa memikirkan apa-apa.
Ddum…dum…la….la….la…la…tra…tra..traa
Bunyi aransemen lagu itu. Merangsang pinggulkupun bergerak kanan kiri seirama. Kubuka membali mataku menghadap cermin, melihat diriku yang begitu menikmati irama musik, berbalut busana yang sangat minim.
‘Oohhh kenapa aku jadi bergairah,’ batinku.
Kuangkat tinggi tanganku rapat ke langit-langit. Ketiakku terlihat jelas, sangat seksi, bersih dan terawat terus goyang Tantri goyang. “Oooh aku mulai merasa begitu horny melihat tubuhku sendiri. Entah apakah ini masa suburku sehingga aku begitu terangsang?”
Tanganku yang terangkat tinggi membuatku kembali flash back ke peristiwa hari sabtu yang begitu panas. Sepertinya palang besi stadion itu hadir secara nyata di atas kepalaku. Ooh tidak, ternyata bukan hanya palang besi itu yang hadir, tapi sosok Bryan perlahan mulai muncul, hadir secara nyata, lengkap dengan aroma tubuh dan deru napasnya.
Di hadapan cermin rias seolah kulihat diriku yang hanya mengenakan celana dalam dan beha putih berhadapan menempal erat dengan tubuh Bryan di depanku.
“Bryan gantengku cium aku, Sayang….” Fantasiku sambil memejamkan mata dan menggoyangkan tubuh.
“Oooooooh… Kenapa bisa Tantri!’ kutuk diriku. ‘Kamu mendesah-desah di kamarmu sendiri.’ Begitu panas rasaku. Begitu bergelora jiwaku, lalu kubuka kaitan beha yang mengait di punggung dan kubebaskan payudaraku merasakan atmosfer kenikmatan ini.
Sudah lebih 12 jam payudaraku terpenjara di dalam beha. Sudah saatnya dia menghirup udara segar. Di cermin kulihat sepasang payudara montok yang pasti membuat Bryan penasaran. Dengan warna putingnya yang kehitaman namun mungil dan menggemaskan. Menanti untuk dihisapnya.
‘Kamu belum pernah melihat ini kan, Bryan?’ batinku. Gimana bila kamu melihat ini? kamu akan terangsang, Bryan?’ Aku semakin meracau.
Udara yang cukup panas di kamar, diiringi hentakan music lembut, mulai membuatku fly. Kuangkat tinggi tanganku pemandangan yang kulihat di cermin begitu erotis. Wajahku yang terpantul begitu binal, sangat mendambakan kepuasan. Kututup lagi mataku. Kubebaskan fantasiku membumbung semakin liar.
“Kulum putting susuku, Bryan… Hisap, hisap sesukamu, buat aku puas, Bryaaan, Oooooooooooooooh…” jeritku tak tertahan. Rasanya ada sesuatu yang mau meledak di rahimku. Sesuatu yang menuntut untuk dimuncaratkan seperti di stadion.
Segera aku rebah ke ranjang. Kumasukkan tanganku kiriku ke dalam celana dalam. Mulai kugesek perlahan persis seperti yang diajarkan guru seksualku Bryan. Kukangkangkan kedua kaki selebar-lebarnya. Kutelusuri licinnya vaginaku yang baru tercukur.
Lalu aku angkat tangan kananku untuk mengacak acak rambutku untuk menambah kesan binal, aroma tubuhku yang memancarkan gairah seksual kuhirup sepuasnya melalui ketiak tangan kanan yang terangkat ke atas.
Perlahan kugesekkan jari telunjukku ke bibir vagina. Kunaik turunkan perlahan sampai ke perbatasan anus. Stimulasi trus diberikan secara ritmis. Dimulai perlahan beranjak semakin cepat. Semua kulakukan sambil membayangkan Bryan hadir di sana sedang asyik menyusui payudaraku dengan penuh gairah, menjilati keringat yang hadir di sana dengan rakus.
Tangan-tangan nakalku berusaha membuka lubang organ intim yang gundul itu perlahan. Melakukan gerakan-gerakan provokasi menusuk ke sela-sela hymen keperawananku. Seperti wanita nakal aku berfantasi cela vagina itu ditembus oleh Bryan, pria tampan yang menerbitkan cinta di hatiku. Gerakan menusuk ini kulakukan perlahan tapi berulang ulang pada pintu liang kenikmatan yang telah bersemu merah.
Tiba-tiba semuanya lenyap, seolah semua dunia ini menghilang, aku seperti memasuki dimensi lain yang berbeda, penuh bintang, penuh cahaya, seperti surga. Kakiku yang terkangkang lebar seperti kesetrum. Diawali dari pantat yang terangkat tinggi, meninggalkan tumit kedua kakiku menyangga seluruh beban tubuhku bagian bawah.
Punggungku terungkit dengan kepala tertengadah maksimal ke atas. tangan kananku refleks menjambak untaian rambut sebagai pelampiasan kenikmatan. Bagian bawah tubuhku memberikan reaksi yang tak kalah sensasional. Dalam posisi pangkat terangkat. Vaginaku seperti mengempot, tertutup rapat, untuk bersiap memuntahkan isinya. Tekanan diawali dari perut. Mendadak ada perasaan mengeden seperti hendak buang air, tapi bukan pada organ pencernaan, melainkan pada rahim.
“Hggggggh!” Aku mengeden untuk mendorong hasrat apapun ini yang mendesak ingin keluar
“Aaaaggggggh…!” Orgasme itu meledak. Vagina yang tadi mengempot tertutup, seperti terbuka dan mengeluarkan klimaksnya. Dalam posisi tubuh terangkat aku terbujur kaku. Aku kehilangan napas, tidak sanggup bernapas, semua lenyap. Oooh begitu sulit tergambar kenikmatan ini.
“Huhhhhhhhh” Sepuluh detik kemudian kembali kudapatkan nasfasku.
“Hah…hahhhhh…hahhhhhhhhhh…” Aku ngos-ngosan sejenak. tangan kiriku terus bergeriliya. Pantatku yang terangkat mulai bisa rebah kembali ke kasur, kaki tetap kukangkangkan lebar. Jari-jariku terus menyisir lender-lendir lengket yang bertebaran di sana. Hasil dari semburan yang pertama.
Tak kuduga, “Ahhhhhhhh ya Tuhann…….” Badai itu datang lagi untuk kedua kalinya dalam waktu yang hanya sepersekian detik.
“Aaaaaah Bryaaaan…” Kembali aku mengeden dengan mengangkat pantatku tinggi untuk menumpahkan orgasme keduaku.
“Aaaaaaaaaa, nikmaaaat Bryaaaan….” Mataku sama sekali tak bisa melihat menandakan aku mencapai ekstase. Aku mabuk “Huuuuuuuuuh” Ledakan kedua ini bertahan lebih lama. Sekilas kulihat dicermin bagaimana tubuhku tersetrum bergetar getar dalam posisi kayang dalam waktu yang cukup lama.
“Ooooh..” Akhirnya badai kedua itu berlalu. Aku kembali rebah seperti atlet lompat galah yang baru jatuh ke matras.
Kurapatkan pahaku. Berusaha kuambil napasku kembali. Tapi tangan kiri belum mau kuangkat dari liang vagina. Aku ingin menikmati lendir yang kuhasilkan. Ingin kurasakan bagaimana rasanya. Terus kueksplore bagian yang sangat sensitive itu. Puting susuku berdenyut denyut sangat tegang. Rupanya putting juga bisa ereksi.
“Huhhhh……huhhhh..huuhhhhh…” Aku berusaha mengambil napas lewat hidung dan menghembuskannya lewat mulut.
“Bryan ….Bryan …Bryan belai Mbakmu ini, Sayang.” Kubayangkan tangan ini adalah tangannya yang asyik mendapat mainan baru mengobok-obok organ sensiku.
Tangan Bryan yang kubayangkan kemudian kuarahkan agak ke arah pantat, untuk juga mengeksplore anusku yang tadi turut membuka menutup tak beraturan. Ritmis dengan nakal kudorong-dorong jari tengahku masuk ke lubang analku.
“Bryan itu lubang pantatku, oooh nikmatnya, Sayaaaaangku…”
Aku membayangkan terus kehadiran Bryan dengan gerakan perlahan di pintu anusku. Betapa terkejutnya aku ketika asyik menusuk-nusuk liang itu. Desakan kenikmatan kembali hadir, “Oooooh apa yang terjadi?”
“Ooooo my God, jangan lagi…….” Ledakan itu datang lagi kembali. Lebih dahsyat. aku tersetrum kehilangan napas.
“Huuuuuu ooooooooooooooh.” Crot crot crot rasanya seperti ada pengeluaran cairan besar-besaran dari arah rahimku yang begitu deras seperti air bah.
Kugigit bantal yang ada di samping kepalaku. Untuk menetralkan makhluk nikmat bernama orgasme ini. Oooough kurapatkan gigiku. Bahkan nikmat itupun dapat terdengar melalui gemeretak gigi yang bersyukur menerima limpahan lahar cairan nikmat. Kupelintir keras putting susuku dengan tangan kanan. Untuk menyalurkan kenikmatan ini sampai kedua bukit kembarku.
“Uuuuuuh Bryan,” Kutusuk jari tengahku masuk sampai ke anus. Kudorong tajam untuk semakin meledakkan orgasme.
“Aaaaghhhhhhhhhh..” Melenting kembali tubuhku dengan tangan kiri yang terhisap masuk kedalam lubang anal 20 detik rasanya keadaan ini terjadi sebelum akhirnya aku benar-benar ambruk.
Kuballikkan tubuhku dalam posisi tengkurap untuk menyalurkan energi rangsangan yang masih bergumuruh di sekitar aerola putting susuku. Kugesek gesek permukaan seprei putih yang telah acak-acakan tak beraturan.
“Hahh….hah……hahhhhh…” Berusaha kukembalikan napasku agar normal kembali.
Tiga ledakan dahsyat. “Hah hahhh…….Bryan…..,” lanturku sebelum kesadaranku hilang dan terbang ke alam mimpi yang indah.
^*^