Bab 1

Shakila masih tetap sebagai perawan suci, padahal sudah lima tahun menikah dengan suami yang dicintainya.

Ada apa gerangan?

Apakah Shakila terlalu kuat membentengi dirinya, sehingga suaminya pun sampai tidak mampu menjembol keperawanannya di malam pertama, atau karena adanya faktor lain.

Apakah Justin sebagai suaminya terlalu lemah? Tentu saja tidak. Justin bahkan teramat perkasa untuk ukuran seorang lelaki muda yang mapan.

Tentu saja itu akan menimbulkan pertanyaan bagi banyak orang, tidak terkecuali dari keluarganya, terutama mertuanya.

Atau jangan-jangan ada pihak ketiga yang turut campur dalam pernikahan mereka?

Lantas bagaimana Shakila dan Justin bisa menjelaskan semua itu?

Inilah sebuah kisah yang akan membuatmu nyaman dalam membacanya, merenung dan mengambil keputusan bijak. Banyak hal yang terjadi akibat kesalahan pengambilan keputusan di masa lalu, berakibat fatal di masa kini. Bahkan jika keputusan itu bukan diambil oleh kita sendiri.

Bacalah dengan hati lapang, jangan tergesa-gesa dan yakinkan, kamu telah siap mental untuk menerima kenyataan jika kisah ini memang sangat berbeda dengan kisah-kisah yang lainnya.

Cerita ini tidak panjang, tapi kamu akan selalu mengenangnya, bahkan mungkin ingin berulang-ulang membacanya hingga TAMAT.

^*^

^*^

Nabila menggosok-gosokkan kedua tangan ketika dirasanya udara malam itu mulai mendingin. Lengan kemeja yang awalnya dia gulung tadi, sudah dia panjangkan kembali agar udara dingin malam itu tak masuk lebih dalam menembus kulitnya.

Mata coklatnya melirik arloji di tangan kiri. Pukul sepuluh malam. Itu berarti sudah hampir satu jam lamanya Nabila berdiri di depan kafe, menunggu seseorang datang. Tapi, sosok yang ditunggunya sejak tadi masih belum menampakkan diri.

Nabila menghela napas panjang, dia melakukannya bukan tanpa alasan. Dia rela menghabiskan waktu hampir satu jam lamanya hanya untuk menanti seorang pria yang berjanji akan menjemput dan pulang bersamanya.

“Nabila!”

Suara berat itu membuat si gadis menoleh. Dia agak menengadah dan mendapati sesosok lelaki yang sejak tadi ditunggunya keluar dari mobil dengan terburu-buru.

“Sorry, aku terlambat.”

Lelaki itu tersenyum sedikit, menciptakan dua lesung pipi di wajahnya. Dia mengenakan setelan yang sederhana, tapi entah kenapa membuat aura ketampanannya makin terasa. Hanya kemeja dibalut jas hitam, celana kain dan rambut yang sedikit berantakan.

“Ayo kita pulang, hujannya semakin deras nanti,” ajak pria itu yang langsung membuat senyuman Nabila merekah sempurna.

*^*

“Di kantor lagi sibuk, ya? Lama banget jemputnya.”

Nabila bertanya di tengah keheningan yang menyelimuti. Pria di sebelahnya langsung mengangguk, fokus menyetir. Malam ini Bandung tengah diguyur hujan lebat, untung saja Nabila pulang tepat waktu.

Mendengar tanggapan singkat lelaki itu, Nabila mengangguk mengerti. “Tidak apa-apa, aku mengerti kok.”

“Kalau begitu Mas akan sering ngajak kamu jalan.”

“Aku harus kerja, Mas.”

Pria itu terkekeh mendengar jawaban Nabila, sementara itu si gadis menatap ke luar kaca mobil. Hujan mulai turun semakin deras saja.

Sebenarnya Nabila ingin menghabiskan waktu lebih lama dengan pria itu. Namun, obrolan mereka tidak berlanjut karena suara ponsel miliknya terdengar, bersaing dengan keramaian jalan raya di jam sepuluh malam.

Nabila mengecek ponselnya lalu beralih menatap pria di sampingnya. “Papaku telepon.” Nabila memberitahu.

“Angkat saja dulu.”

Nabila langsung menjawab telepon yang masuk. “Halo, Pah? Iya, aku lagi di perjalanan pulang. Tidak kok, langsung pulang, iya … tidak apa-apa sih.”

Justin Pratama, atau biasa dipanggil Justin hanya bisa mendengarkan sekilas percakapan antara ayah dan anak tersebut. Semoga saja Nabila tidak dimarahi karena malam-malam begini dia baru bisa mengangkat telepon ayahnya.

“Baik, Pah. Nanti aku langsung pulang.”

Begitu pembicaraan mereka selesai, Justin langsung memburu dengan tanya seusai telepon pendek itu terselesaikan dalam waktu yang amat singkat.

“Apa kata papa tadi?”

“Cuma nanya sudah sampai mana. Papa suka wanti-wanti buat jangan pulang kemaleman. Padahal, ya, aku juga udah gede gitu loh? Dari mana rumusannya jam sepuluh malam tuh udah kemaleman?”

Justin terkekeh mendengar ucapan Nabila. “Namanya juga orang tua. Papa kayak gitu karena dia sayang kamu.”

Nabila merasa apa yang Justin katakan memang benar adanya. Mereka lanjut bercerita. Namanya juga perempuan, pasti selalu ingin didengarkan, meski tak selalu menggunjingkan orang lain secara negatif, ya, tetap saja kalau ngobrol, lebih banyak membicarakan orang lain. Mau itu temannya yang baru didaulat sebagai asisten bos di tempat bekerja. Sampai perkara pemotongan gaji akibat teledor menulis pesanan.

Justin menanggapinya dengan senyum. Nabila adalah wanita mandiri yang selalu bersemangat dan rajin bekerja. Mungkin itulah salah satu alasannya enggan putus, sekalipun ada wanita lain yang tengah menunggu kepulangannya di rumah.

“Kamu udah makan? Sebelum pulang mau makan dulu, gak? Mampir ke restoran apa gitu biar kamu bisa istirahat nanti lanjut pulang?”

Justin menawari Nabila mampir ke salah satu restoran untuk makan malam. Tapi, Nabila dengan cepat menolak.

“Nggak dulu, deh. Ini udah malem, kan? Aku juga butuh istirahat karena besok ada mata kuliah yang tak bisa ditinggalkan.”

“Ya udah, tapi kamu sudah makan?”

Nabila mengangguk, dia masih kenyang. Sekarang suasana di dalam mobil itu kembali hening. Entah kenapa, merasa ada secercah perasaan tidak enak yang menyusupi batinnya.

“Mas Justin, kapan mau ketemu papa? Aku pengen banget ngenalin Mas sama papaku.”

Kalimat Nabila yang tiba-tiba membuat fokus Justin mendadak ambyar. Justin sempat menoleh sekilas pada gadis itu, tapi dia buru-buru menepis keterkejutannya. Ingat, dia sedang menyetir. Jangan sampai oleng!

Kalau dipikir-pikir, setahun hubungan mereka berjalan, Justin belum pernah bertemu dengan orang tua Nabila secara langsung. Gadis itu sering sekali mengajak Justin untuk bertemu.

Kadang pria itu hanya menjawab seadanya jika Nabila melontarkan pertanyaan itu, paling tidak Justin akan menjawab belum sempat karena masih banyak pekerjaan di kantor, tapi sekarang dia bingung harus menjawab apa. Terlalu sering dirinya menjawab nanti, sekarang pun Nabila sudah pasti bosan dengan jawaban itu.

Bukannya Justin tidak peduli pada Nabila, dia hanya bingung dengan posisinya sekarang, dia juga harus memikirkan segala kemungkinan. Tapi, setelah Justin pikir lagi, selama setahun belakangan ini, dia lebih sibuk dari tahun-tahun sebelumnya. Ada banyak urusan di kantor yang mesti dibereskan, terutama karena Justin yang memegang perusahaan.

Hal itu yang membuatnya belum bisa memikirkan tentang kepastian. Dia hanya bisa meminta Nabila untuk menunggu.

“Tenang saja. Nanti akan kuatur waktu agar kami bisa bertemu.”

Justin tersenyum pada gadis itu. Mungkin ada setitik rasa kecewa di hati Nabila karena jawaban Justin masih sama, tapi pria itu benar-benar akan mengusahakan supaya Nabila tidak lagi bertanya tentang hal itu.

*^*

Kisah lain yang teramat layak untuk dibaca KETAGIHAN MAMA TEMANKU. Kisah perjuangan anak muda masa kini yang terjebak dalam permainan seks orang-orang dewasa. Dia pun berusaha mati-matian membangun kembali kehidupan keluarga orang tuanya yang sudah hancur berantakan.

Bab 2

Shakila sedang duduk santai di ruang tengah seraya menonton televisi, dia langsung menoleh ketika mendengar suara denting khas dari pintu depan yang terbuka, disusul bunyi langkah yang berat. Samar, tapi masih bisa dia dengar. Sontak, perempuan itu mengangkat alis.

“Mas Justin?” Shakila memanggil, tapi sama sekali tak ada jawaban.

Perempuan itu berdecak, berniat beranjak untuk mengambil ponselnya yang berada di meja. Namun, belum sampai Shakila memainkan ponselnya, Justin tiba-tiba saja masuk ke ruang tengah dengan ekspresi yang bisa Shakila tebak; bermasalah.

Kali ini masalah apa lagi yang sedang dialami oleh pria itu?

Justin berdiri di sana, terlihat lelah, juga agak marah. Shakila batal untuk memainkan ponselnya, dia lanjut duduk seraya meluruskan kakinya di bawah meja dan menatap Justin dengan tatapan bertanya.

“Udah pulang?”

“Jelas, kan aku udah di rumah.”

Shakila tertawa menanggapi jawaban ketus itu, dia meraih gelas berisi jus buah. Justin mendekat, lantas duduk begitu saja di samping Shakila. Perempuan itu tidak protes meskipun bau yang tercium dari badan suaminya terasa berbeda dari pertama kali Justin ke luar.

“Kayaknya kamu capek banget, kenapa gak langsung mandi aja? Berendam di bathtub gitu. Biar rileks,” kata Shakila seraya mencomot brownies yang terhidang di depannya.

“Jangan banyak tanya, aku capek.” Justin memejamkan mata. Punggungnya menempel pada sandaran sofa. “Kalau kamu nyuruh aku mandi sekarang, siapkan air panas untukku.”

“Gak sekalian minta mandiin?” tanya Shakila sarkastik.

Justin tidak banyak tanya, dia membiarkannya. Tidak protes ataupun melarang. Mereka telah menyandang status sebagai suami-istri selama hampir empat tahun, jadi melihat satu sama lain telanjang bukan sesuatu yang baru.

^*^

“Kalau marah sama pacar kamu, jangan dilampiasin ke aku.”

Shakila memainkan gelas berisi jus buah di tangannya. Dia melirik sang suami lewat sudut mata. Justin tampak mengembuskan napas panjang, kemudian meraih gelas dari tangan Shakila. Dia menyesap isinya.

“Ini jus dari buah-buahan yang kubeli waktu itu?”

“Yang mana lagi?”

“Suka nggak?”

Shakila mengernyitkan dahi. Sejak kapan apa yang Shakila suka atau tidak suka jadi penting untuk Justin? Shakila tidak mengerti, dia pikir suaminya tidak akan pulang malam ini seperti malam-malam sebelumnya.

Justin melepas jas hitam miliknya. Seluruh tubuhnya pegal seharian ini, ditambah harus menjemput Nabila yang notabenenya adalah kekasih Justin. Lalu Shakila? Dia istri sah, tapi keduanya sama sekali tak saling menginginkan.

Mereka menikah karena perjodohan semata. Meskipun begitu, mereka sepakat untuk tidak bercerai, saling membebaskan satu sama lain. Sejauh ini, hanya Justin yang membagi hatinya dengan wanita lain,

Shakila? Tentu saja tidak.

“Kenapa menatapku begitu? Kamu jangan ikut-ikutan rese. Aku lagi gak minat buat ribut sama kamu. Hari ini aku bener-bener capek.”

Bukan hal baru kalau Justin dan Shakila bertengkar.

Empat tahun hidup bersama, hanya pertengkaran dan amarah yang mendominasi rumah tersebut. Tak ada cinta dan kebahagiaan, tapi anehnya, Shakila masih tetap bertahan.

Justin sempat berpikir kalau Shakila bertahan dengannya karena menginginkan harta semata. Padahal tanpa menikahi Justin pun, Shakila sudah kaya raya sejak lahir.

“Benar, pernikahan itu butuh ilmu. Ilmu untuk memahami, ilmu untuk mengelola ego, ilmu untuk tidak banyak menuntut, tapi bagaimana jika dia yang kamu nikahi enggan untuk berjalan bersamamu?”

“Kenapa lagi? Kamu berantem sama dia? Bukankah ini bukan pertama kalinya? Kalau dia ngajak kamu berantem mendadak pasti ada sebabnya.”

“Dia nyuruh aku ketemu orang tuanya. Kamu sendiri juga tahu, Sha. Posisiku sekarang gimana, aku cuma belum bisa ngebuktiin aja. Terus kayaknya dia kecewa.”

Shakila menganggukkan kepala, seolah mengerti ke mana arah pembicaraan pria itu. Justin dan Shakila tidak terlihat seperti suami istri, tapi teman yang menumpang hidup.

“Dia bilang, kalau aku gak mau datengin orang tuanya, berarti aku gak peduli sama hubungan ini. Apakah aku peduli atau nggak sama perasaan dia. Coba kamu pikir, ya, kalau aku nggak peduli sama dia, aku nggak akan bertahan satu tahun ini sama dia?”

Justin bercerita tanpa merasa bersalah ataupun risih. Shakila pun sudah begitu terbiasa mendengar suaminya membahas hubungannya dengan wanita lain.

“Kalau aku jadi dia, sih, sudah dari lama aku buang kamu,” kata Shakila cepat.

“Shakila!”

“Aku mau nyiapin air buat kamu mandi dulu.” Shakila mengotong ucapan Justin seraya bangun sofa yang sejak tadi dia tempati. Padahal kalau bisa memilih, lebih baik Shakila bersantai saja ketimbang melayani Justin.

Dia santai saja melangkah menuju kamar mandi, di sana dia menghidupkan kran air panas dan menampungnya pada bathtub. Hanya sekejap, tidak sampai dua menit, bathtub tersebut sudah terisi oleh air hangat. Tidak lupa Shakila menambahkan busa khusus dan menyalakan lilin aromaterapi.

“Maksud kata-kata kamu tadi apa?” Justin akhirnya bertanya, pria itu membuntuti istrinya ke kamar mandi.

“Menurutmu apa?”

Justin tak tahan lagi. Setiap kali berdebat dengan Shakila, wanita itu akan dengan cepat membalikkan ucapannya. Dia sama sekali tak merasa bersalah sudah menyinggung perasaan Justin.

“Menurutku, wajar kalau dia ngerasa kamu nggak peduli sama perasaannya.” Shakila meraih handuk di gantungan khusus dan menyodorkannya pada Justin. “Kalau kamu peduli sama perasaannya, kamu nggak akan menempatkan dia dalam posisinya yang sekarang.”

Justin tidak menjawab pun tidak menerima uluran handuk Shakila, akhirnya Shakila melipat tangan di dada, memandang dengan sorot mata menusuk.

“Tumben nggak jawab. Baru sadar kalau kata-kataku benar?” Shakila mulai menyudutkan Justin. “Kamu ngerti nggak, posisinya yang sekarang yang kumaksud tuh apa?”

“Kurasa aku nggak mau ngomongin ini lebih jauh sama kamu.”

“Posisi yang kumaksud ya itu, jadi orang ketiga dalam pernikahan orang lain. Kalau mau diibaratin pake kasta, buat sebagian besar perempuan, dia ada di kasta terendah, kasta paling hina. Sebab mana ada perempuan baik-baik yang pacaran sama suami orang?”

Emosi Justin jelas tersulut saat Shakila dengan lantang mengatai kekasihnya sebagai orang paling hina. Pria itu jelas tidak terima jika ada orang yang menghina kekasihnya, sekalipun itu istrinya sendiri.

“Kamu jelas tau gimana situasinya buat kita. Semuanya rumit. Makanya kita sepakat soal ini kan? Aku bebas mau jalan sama siapa pun sesukaku, dan kamu juga bebas mau jalan sama siapa pun sesukamu. Selama ini nggak pernah ada masalah. Kenapa sekarang tiba-tiba kamu ikut marah sama aku?” Justin menaikkan oktaf.

“Dulu memang aku percaya sama kata-kata kamu itu, tapi sekarang, kayaknya tidak lagi masuk akal.”

Shakila berdecih, menatap suaminya dengan tatapan tajam. Mansion ini mulai terasa bagai neraka. Sang Nyonya tak lagi merasa betah tinggal di dalam bangunan yang hampir menyerupai penjara, tempat di mana ia mesti menahan diri dan berpura-pura terlihat baik dalam kondisi hati yang berantakan.

Mahira Shakila, nyonya sekaligus istri Justin yang menjadi satu-satunya ratu di mansion itu nyaris ingin melarikan diri. Empat tahun usia pernikahannya sama sekali tidak meninggalkan kesan yang baik. Dia harus menghadapi suatu kerumitan yang mau tidak mau harus dilewati sendirian.

Shakila dan Justin memang sepakat untuk tidak melibatkan perasaan apa pun. Jangankan memiliki anak, berpelukan saja mereka tak pernah. Justin begitu menjaga jarak darinya, tidak seperti Nabila yang bebas memeluk pria itu kapan saja.

Sebagai seorang istri, sebenarnya Shakila bisa saja membeberkan fakta busuk yang selama ini Justin lakukan di belakangnya. Namun saat ini, wanita itu memilih untuk diam sejenak sambil menikmati permainan.

“Kamu masih sepengecut itu, karenanya kamu nggak punya cukup kebeNabilan buat memperjuangkan orang yang kamu sayang, nggak punya cukup kebeNabilan untuk nemuin orang tuaku dan orang tuamu, terus bilang kalau selama ini kita nggak pernah hidup dalam rumah tangga yang normal, dan karenanya aku ngerasa lebih baik kalau kita pisah aja.”

Justin meminta Shakila untuk berhenti mempermasalahkan hal ini, sampai kapan pun Justin tidak akan pernah menceraikan Shakila. Dia juga yakin bahwa wanita itu tidak akan berani mengatakan keretakan rumah tangga mereka pada orang tuanya, tapi Mahira Shakila, tidak semudah itu mengalah untuk sesuatu yang menurutnya tidak adil.

Melihat keterdiaman Justin. Akhirnya Shakila menghela napas. “Oke, kamu gak mau pisah sama aku, berarti selama ini kamu mulai jatuh cinta padaku. Makanya kamu tidak bisa memaksa dirimu untuk melepaskanku.”

Shakila menatap Justin dengan tatapan mengintimidasi. Empat tahun jelas bukan waktu yang sebentar bagi keduanya membangun rumah tangga. Setidaknya Shakila berharap ada setitik rasa di hati Justin, meskipun hanya sedikit saja.

Spontan, Justin langsung terbungkam. Shakila mendekat, kali ini tubuh mereka saling berhadapan.

“Jadi yang mana kemungkinan yang benar, Mas Justin?”

^*^

Bab 3

Shakila mengerjap sedikit kaget ketika sebuah lagu mengalun dari atas nakas tempat tidur. Ia sedang menyisir rambutnya di depan kaca rias, sedangkan si empunya ponsel masih melakukan ritual mandi.

“Mas Justin, ponselmu bunyi!”

Tak ada sahutan apa pun dari arah kamar mandi. Shakila mengedikkan bahu, tidak mau ikut campur dengan urusan suaminya, tapi semakin lama bunyi dering ponsel itu semakin mengganggu. Shakila tidak tahan lagi dan meraih ponsel milik Justin yang terus-menerus berbunyi.

‘Summer’ tertulis di sana. Wow, ini pasti Nabila yang menelepon, pikir Shakila. Nama kontaknya sendiri di ponsel Justin saja tidak semanis ini.

Shakila menggeser tanda hijau di layar ponsel sebelum mendekatkannya ke telinga kiri. Terdengar suara manja begitu telepon diangkat.

“Mas Justin, kenapa lama sekali menjawabnya? Aku kangen. Kamu udah sampai di rumah?”

Shakila mengerjap dua kali ketika suara melengking seorang perempuan terdengar dari seberang sana. Begitu manja, begitu manis.

Jantung Shakila berpacu dua kali lebih cepat dari sebelumnya. Lidahnya kelu, otaknya gagal memproses informasi. Selama beberapa saat ia mematung sebelum berdehem singkat mengenyahkan sesuatu yang mengganjal di tenggorokan.

Nabila tidak mengenal Shakila, gadis itu sama sekali tidak tahu bahwa Justin sudah beristri, yang gadis itu tahu; Justin dijodohkan oleh orang tuanya, tapi dia menolak.

Sebenarnya Shakila ingin sekali melabrak perempuan itu, tapi rasanya percuma saja. Suaminya akan marah besar.

Shakila jelas tahu sesayang apa Justin pada perempuan simpanannya.

“Justin sedang mandi,” kata Shakila akhirnya diiringi nada ketus.

Bisa Shakila tebak, gadis yang sedang meneleponnya saat ini pasti terkejut setelah mendengar suaranya. Shakila tidak peduli kalau Justin akan marah karena gadis itu sudah lancang menyentuh ponselnya.

Terdengar lagi suara Nabila dari seberang sana. Sedikit gugupm “Ma-maaf, i-ini siapa, ya?”

“Saya adalah–”

Satu sentakkan kasar membuat ponsel yang menempel di telinga Shakila beralih tangan. Wanita itu terkejut saat melihat Justin berdiri di belakangnya dengan mengenakan sehelai handuk yang menutupi pinggang sampai lutut. Tetes-tetes air yang mengucur dari badannya mengindikasikan kalau ia keluar kamar mandi dengan terburu tanpa mengeringkan tubuh dengan benar.

“Maafkan aku, tadi itu bibiku.”

Shakila membulatkan mata saat Justin mengatakan hal itu pada wanita di seberang sana. Bisa-bisanya pria itu menganggapnya sebagai bibi.

Justin berbalik menatap istrinya lembut tapi menusuk. Tatapan matanya lebih dingin dari yang Shakila biasa lihat. Pria itu kesal padanya.

“Ya aku juga kangen. Aku sudah sampai rumah tadi. Oke sekarang tidurlah, kamu pasti lelah karena sudah bekerja seharian ini.”

Shakila muak sekali melihat tingkah sok perhatian Justin. Selalu, Justin selalu saja begini. Dingin pada dirinya, tapi hangat ke wanita lain, tak ingin membahas lebih lanjut. Wanita itu memilih untuk kembali duduk di kursi rias, melanjutkan kegiatannya yang tertunda.

Tak dihiraukannya suara dengkusan Justin di belakang. Tidak lama lagi mereka akan bertengkar. Shakila sudah kebal dengan teriakan Justin yang seperti orang kesetanan.

“Sha, berhenti ikut campur!”

Sudah Shakila duga, Justin bersuara lantang saat panggilannya dengan Nabila berakhir.

Shakila menoleh pada Justin yang masih memaku dirinya di dekat nakas tempat tidur. Ekspresi pria itu sudah tak sedingin tadi, tapi tetap saja. Aura mengintimidasi itu masih terasa.

“Aku sudah manggil Mas sejak tadi, tapi gak ada jawaban. Cewekmu berisik banget, Mas. Lain kali bawa saja ponsel itu ke kamar mandi.”

Shakila ikut menatap Justin dengan tajam, menantang, dia menarik napas panjang ketika mendadak oksigen terasa menyusut di sekitarnya.

“Kita udah sepakat. Kamu juga bilang gak akan ikut campur, kan? Jadi jangan coba-coba memberitahu dia soal apa pun.”

“Tentu.”

Keadaan kembali hening. Shakila memilih untuk menghiraukan Justin. Sampai kapan pun, berdebat dengan pria itu tidak akan ada ujungnya. Justin tidak akan mudah mengalah secepat itu.

Biarlah Shakila yang mengalah kali ini, pria pengecut memang cocok dengan wanita murahan, begitu katanya.

“Terus, apa yang kamu lakukan tadi gak keterlaluan? Aku udah memperingatkan kamu dari awal untuk gak menyentuh ponselku.”

“Kalau begitu, bawa saja ponselmu itu ke mana-mana. Aku tidak peduli dengan perempuan yang kau namai Summer itu, aku lebih terganggu dengan suara berisik di kamar ini!”

Bagi sebagian orang, pernikahan adalah hal sakral yang keutuhannya harus dipertahankan. Jangan membiarkan orang lain masuk dengan mudah dan menghancurkan ikatan itu.

Rumah tangganya dengan Justin adalah salah satu hal yang sempurna di mata banyak orang. Terlebih di mata keluarga besarnya, semuanya selalu membanggakan mereka adalah pasangan serasi yang sudah berjodoh sejak lahir.

Mungkin begitulah yang orang lain lihat, terlihat utuh dan harmonis, tapi kenyataannya mereka hanyalah dua orang asing yang hidup satu atap selama bertahun-tahun.

*^*

Waktu mendengar suara perempuan lain di seberang sana. Ekspresi wajah Nabila langsung berubah, dia terus kepikiran sampai telepon singkat dari Justin berakhir, dia sudah menebak pasti ada yang tidak beres.

Nabila langsung mengenyahkan pikiran aneh itu. Meskipun Nabila sudah berusaha untuk berpikir positif, tetap saja dia takut kalau Justin menyembunyikan sesuatu di belakangnya. Tapi, selama ini perasaan Justin pada gadis itu cukup besar. Mustahil dia bermain-main di belakangnya.

Karena ia percaya kalau hubungannya dengan Justintama baik-baik saja. Lagipula kalaupun pria itu benar-benar punya perempuan lain di luar sana, bukankah sekarang ia harusnya sudah meninggalkan Nabila untuk perempuan itu?

Tidak, Nabila menggeleng. Ia adalah satu-satunya perempuan yang Justin cintai, dan itu adalah mutlak. Terlihat dari bagaimana Justin memperlakukannya, dia memperlakukan Nabila seperti ratu. Membelikan apa pun barang kesukaannya, sama seperti waktu mereka pacaran dulu.

“Aku menyukaimu.”

Itu adalah kalimat yang diucapkan Justin setahun yang lalu saat mereka bertemu di salah satu taman kota untuk pertama kalinya.

Waktu itu Justin sedang ada urusan bisnis ke luar kota, mereka bertemu karena suatu insiden. Justin tersesat dan justru Nabila yang menjadi penolongnya. Dia membantu pria itu dan menghantarkannya sampai ke hotel di mana Justin menginap.

Nabila pun dengan polosnya menerima setelah melihat segala ketulusan Justin. Awalnya dia tidak tahu bahwa pria yang menembaknya itu ternyata adalah sosok pria kaya raya. Berbeda dari dirinya.

Kekayaan Justin yang tinggal diumpamakan uangnya cukup untuk membeli tiga gedung, itu juga masih kembalian kayaknya. Nabila masih tidak menyangka. Bahkan untuk urusan beli saham mall besar di ibukota adalah hal kecil untuk seorang Justin.

Dia merantau ke kota ini untuk kuliah sekaligus mendapatkan pekerjaan demi membantu perekonomian keluarga. Siapa sangka Justin justru membantunya. Sempat pria itu menawari Nabila untuk bekerja di salah satu cabang perusahaan miliknya yang ada di kota kelahiran Nabila. Namun, gadis itu menolak.

Nabila diberi supir sendiri juga kartu ATM dari berbagai bank berikut black card sakti, tapi Nabila jarang memakai semua fasilitas yang diberi Justin. Dia lebih sering naik taksi online atau bus. Setiap hendak berangkat kerja maupun ke kampus. Bukannya tak menghargai, kadang dia tahu diri untuk tidak terlalu bergantung pada pria itu.

Karena itulah Nabila langsung down ketika mendengar suara wanita lain di rumah kekasihnya, meski Justin berdalih bahwa itu adalah suara bibinya. Tetap saja … Nabila jadi kepikiran.

^*^

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED